X.

"Friendship is like a violin; the music may stop now and then,
but the strings will last forever."

"Seifer."

"JDUG!"

Kepala Seifer langsung terbentur meja saat hendak mengambil ponsel yang tadi jatuh ke lantai.

Suara tawa kecil yang khas... terdengar dari balkon kamar,

Seifer menoleh, kemudian memicing sewaktu melihat sosok temannya; teman sepermainan Blitz, berperawakan tinggi semampai mirip model walau tampilan bisep memberikan potongan berotot yang atletis... dan rambut perak yang mengalun pelan diterpa angin malam itu, nyaris bercahaya.

Definisinya satu,

Cantik.

"Hei," salam Riku, lalu melanjutkan,

"Aku... mencari Sora. Kupikir kamu mengetahui kabarnya setelah- uh, kamu tahu... kota Radiant Garden lumayan berantakan. Aku juga tidak menemukan Kairi."

Seifer mengambil ponsel, berdiri dan memandang seksama dari ujung rambut sampai ujung sepatu boot, mencari dimana perbedaan disana yang sekilas membuatnya beralih orientasi seksual... kemudian mengembalikan pertanyaan,

"Kamu bisa menelpon mereka, kan?"

Riku mendesah, namun menjawab, "Ponsel-ku tertinggal di kamar."

"Kalau begitu gunakan ponsel-ku." Ucap Seifer sembari meletakkan ponsel-nya di atas meja, lalu menyandar pada pinggir meja dan menyilangkan kedua tangan di depan dada.

Riku mengerutkan kedua alisnya atas cara temannya seolah-olah... menantinya.

"Kenapa?" Tanya si pemilik kamar tiba-tiba, diteruskan, "Kamu menunggu undangan?"

"..." Riku menatap lantai kamar. Entah kenapa, permukaan itu terlihat... seperti air lautan, berombak dan beriak. Cukup menyeramkan... seakan-akan sesuatu akan muncul dan menangkapnya jika kedua kakinya menapak disana.

Mungkin ilusi... Mungkin pengelihatannya yang terlalu- berimajinatif semenjak "jalan" Kegelapan sedikit demi sedikit mulai diterimanya. Tapi ia tidak mengerti karena saat ini instingnya menyebutkan bahwa temannya sengaja menekankan kata undangan.

Seifer masih tidak bergerak saat mengucapkan, "Kamu sepertinya tidak tahu... kalau aku memiliki separuh darah dari keluarga Villiers."

"...!" Riku kini terhenyak. Nama keluarga itu pernah... terbesit dalam memori milik Noctis.

Seifer menggeleng diikuti gumanan, "Tidak kusangka... temanku sendiri..." Lalu mengucap kembali, "Masuklah."

Seketika itu, lantai kamar beralih menjadi... lantai senormalnya. Riku sekarang mengerti kenapa Vampir menginginkan kata undangan. Meski tersebut "aturan"... sepertinya bukanlah "ketentuan". Melanggar atau tidaknya, sama sekali tidak terpaut dengan kaidah norma... melainkan resiko per individu.

Seifer mengambil ponsel dan menyodorkannya.

Riku berjalan terlalu cepat, namun temannya tidak memberikan komentar apapun. Iapun mengharapkan alasan saat berada di hadapan temannya, "Bagaimana..." walau akhirnya kalimat yang sudah terangkai di kepala, urung diutarakan.

"Bagaimana aku tahu?" Pertanyaan temannya itu memiliki intonasi sedikit terdengar menggoda... apalagi saat melanjutkan,

"Kamu... semakin cantik."

Riku hendak membalas dengan komentar sarkastis, namun katup mulutnya dirapatkan kembali. Tangan kirinya menerima ponsel dan membuka aplikasi internet. Ia sendiri sebenarnya bingung kenapa memilih tempat Seifer dari semua jajaran teman yang ada di kota Twilight ini... Tapi ada rasa kerinduan untuk teman sepermainan Blitz yang selalu mengerti sisinya... Mungkin pengaruh melankolis juga.

Selama mengecek kotak surat Surel, sorot kedua mata milik Seifer tidak pernah lepas mengamatinya penuh... pertimbangan.

Riku belum mempelajari sempurna tentang teknik "menyelami" selain "intimidasi". Lagipula... ia berusaha untuk menghargai ruang pemikiran orang lain.

Sewaktu desahan keluar dari katup mulut milik temannya, Riku memandang wajah Seifer dari bibir, tulang rahang, batang hidung, dan terakhir... mengadukan kontak pandangan dengan kedua iris biru yang sepucat mayat.

Seifer Almasy, temannya ini... sama sekali tidak buruk, hanya "keras" saja. Baru tahu kalau temannya memiliki separuh darah dari keluarga Villiers. Pantas saja, pria yang dipanggil "Snow" oleh Axel tadi... sedikit mengingatkannya dengan Seifer.

"Teruskan begitu... kamu akan memancingku, Seifer." Ucapnya, menggoda iseng-iseng saja sesuai khas lamanya sebagai manusia.

Seifer tersenyum, dan membalas, "Dan kamu sekarang berdiri disini, menggodaku."

Belum Riku sempat mengembalikan fase, Seifer sudah mengambil pak rokok dan korek, kemudian berjalan menuju balkon. Pandangan Riku menjadi sayu... bicara tentang menggoda, temannya selalu lebih ahli mempermainkan situasi.

Hal yang aneh bagi sisi Vampir-nya, darah Seifer tercium... datar. Tidak sewangi manusia-manusia pada umumnya. Entah mungkin dikarenakan "warna" dari kaum Pemburu, atau... Riku yang tidak bisa mengklasifikasikan banyak diakibatkan dari kendali pikirannya yang masih lemah gara-gara pertarungan tadi?

"Tebakan terbaikku..." Suara Seifer menyela, "Sora dan keluarga Shinra telah mengungsi ke negara Valhalla." Pemaparan itu dikatakan tanpa menoleh saat suara metal terdengar disambung pematik yang dinyalakan.

Pakaian yang dipakai Seifer berupa kaos tipis berkerah "V" tanpa lengan bervariasi biru bercorak garis putih, berpasang celana jeans baggy hitam. Kedua telapak kaki tidak memakai alas. Keseluruhannya bisa dibilang... sempurna bagi Riku.

Kontraksi tulang belikat, juga otot-otot bagian sayap punggung dan garis tulang punggung yang menyeplak pada kain kaos...

"..." Riku membasahi bibirnya seketika mengalihkan fokusnya pada layar ponsel kembali.

"Ri," panggil Seifer,

Riku tidak berkonsentrasi memilah nama-nama yang ada dalam kotak surat Surel, dan menatap bibir itu bergerak disertai suara,

"Aku turut berduka cita atas... keluargamu."

Sangat prihatin dan sesuai penyampaian arti bela sungkawa. Itu mengingatkan rencananya untuk mengecek balai utama Shinra.

Sewaktu Seifer membalikkan badan dan memperhatikan suasana kota yang sepi sembari hendak menghisap rokok,

Apit dari dua jari Riku sudah menahan pada perbatasan filter.

Seifer tidak komentar saat Riku menghisap rokok dari filter yang terdapat bekas dari bibirnya.

Kepul asap rokok menciptakan ilustrasi... Tapi Seifer tidak pernah menyalahkan pengelihatannya.

Seifer sudah menyaksikan beraneka ragam makhluk, kelas "Vampir" salah satunya. Riku, teman sepermainan Blitz ini memang "cantik" sesuai khas keluarga Xehanort, namun daya tarik disana bukanlah gravitasi selayaknya keelokan para Vampir kebanyakan. Kualitas disana justru menjauhkan, menakut-nakuti, dan...

Kesepian.

Jemari tangan kirinya meraih rambut pemuda di sebelahnya, menyibak perlahan setiap kumpulan helai perak. Temannya masih merokok seolah-olah mengacuhkan, atau mungkin... menahan diri.

Seifer kini mendekat, jemari tangan kanan menumpu metal penahan balkon saat mengisi ruang privasi dari belakang, dan mengecup sisi dari jenjang leher.

Terdapat reaksi desah, antara kenikmatan dan... "pengakuan".

Seifer membalikkan tubuh temannya secara intimasi, kemudian mengecup sisi kanan rahang, dan membisik,

"Aku akan menenangkanmu, untuk malam ini." Lalu mengecup jenjang leher... dan turun berlutut,

Pandangan Riku semakin sayu saat kedua tangan Seifer menaikkan retsleting jaket, berikutnya membuka sabuk celana... membuka kait dan menurunkan retsleting celana.

Sepanjang deret jari tangan kanan itu menyusuri sembul dari barang kepemilikannya yang berada di balik kain celana dalam hitam... Seifer tidak melepaskan kontak pandangan.

Dan baru memutus kontak pandangan sewaktu kedua celananya diturunkan sebatas pinggul, dan permukaan lidah yang mirip kertas pasir menyusuri ukuran yang masih setengah keras.

Riku menyandarkan kedua tangannya pada metal penahan balkon saat rongga mulut yang hangat melingkupi dan menelannya. Rokok yang telah terbakar separuh dibiarkan terseduh angin malam selama dirinya hanyut dalam permainan oral dari Seifer; temannya; teman sepermainan Blitz.

Kedua matanya mulai memejam bertepatan jemari kedua tangan milik Seifer merayapi pak otot perutnya, menguak jaket hingga dada... selanjutnya turun dan meremas perlahan kedua bokongnya, berikutnya turun kembali... menyelingi dengan kocokan pelan saat lidah melulur dan merotasi... sampai rongga mulut menelannya kembali, mengembalikannya jatuh ke dunia...

...Manusia,

Jati dirinya... dulu.

"...Ahhh..."

Desah kenikmatan dari mulut Riku terdengar mirip nyanyian dari mitos putri duyung... Seifer menyukainya dikarenakan tidak adanya pengaruh hipnotis, semuanya ini murni secara kesadaran, dan dirinya berusaha menyajikan "tingkat" terbaik untuk memperoleh desahan yang lebih memukau.

Sejak kapan "kesedihan" menjadi titik balik bak pendulum yang mendorong dan terpental, lalu kembali, mendorong dan terpental lagi, dan lagi, dan lagi...?

Seifer berharap dulu... kalau dulu mengetahui Riku akan berterus-terang begini padanya...

"...Ohhh... Sei- Ohh-h..."

Seifer memejamkan kedua mata dan semakin menikmati, menekankan ujung dari kepala... sampai pangkal kerongkong, menelan keseluruhan utuh, lalu menarik dan mengulur sesuai irama, kemudian mengulanginya kembali... terus, dan terus, dan terus...

Jemari yang meremas rambutnya... dan pinggul yang menekankan dalam... menghujam mengikuti alur...

Sayangnya, limit adalah limit.

"...N-ahh- Sei- Seifer- Seifer... Ahhh!"

Di detik Riku menengadah... Seifer membuka kedua matanya dan menyaksikan bagaimana "cantiknya" makhluk bernama "Riku" ini. Miasma hitam yang merembes dari sekujur tubuh itu menciptakan keindahan tersendiri,

Selayaknya berdiri dalam dunia cerita kitab suci...

Dan Riku... adalah "Fallen Angel".

Cairan orgasme yang mengalir ke dalam tenggorokannya terasa bak bara api. Seifer tidak seharusnya menelan bagian "jiwa" ini. Tapi ia dapat merasakan... Riku tidak akan pernah muncul lagi di balkonnya seperti ini.

Dan ini...

Ini adalah lambang perpisahan,

Selamanya.

"...Hhh-h...ahh-h..." Sengal Riku masih memburu. Kenikmatan ini...

Riku merindukannya.

Temannya menjanjikannya ketenangan, untuk malam ini. Tapi malamnya... akan sangat panjang. Riku tidak mau melibatkan Seifer dalam permasalahan pribadinya.

Mulut dan lidah milik Seifer masih bekerja mengeringkan sisa bagian "jiwa"... hingga akhirnya Seifer menatapnya... dalam dan... mengharapkannya seolah-olah memintanya...

Jangan pergi.

"Seifer... aku sudah membuang sebuah hati dan sebuah cinta untuk kedua bersaudara... apa kamu mengharapkan aku membuang jiwaku untukmu?" Utaraannya, semanis dan sepuitis selayaknya sedang memerankan sebuah karakter cerita dari kisah tragedi "Romeo dan Juliet".

Seifer kini tersenyum, dan menjawab seraya berdiri,

"Jika kamu selesai dengan urusanmu... Aku akan menerima kehormatan itu."

Riku menyamai senyum saat membuang rokok yang sedari tadi telah mencapai perbatasan filter. Lalu memandang wajah temannya, dan mengucap bernada guyon,

"Jangan lupa pilihkan aku liang kubur terbaik."

Seifer tidak menghilangkan senyum kala menjawab, "Peti, dan himne untukmu, sekaligus rangkaian bunga mawar hitam. Aku pasti menemanimu ke Neraka."

Riku tidak tahu apakah perkataan tadi serius, ataukah sekedar balasan canda... Tapi...

Ya. Seifer benar-benar menenangkannya.


TBC...


A/N:
Aw, sedikit bab untuk Riku. Pemuda ganteng itu sudah melalui banyak penderitaan di fic saya, setidaknya sedikit "ketenangan" tidak buruk ^^ *elus-elus punggung Riku*

Bab selanjutnya, badai-badai-badaiiiiiii! *kunci pintu, kunci jendela, masuk di bawah selimut*

Jangan lupa reviewnya ^^