Kulit putih seputih porselen, dan wajah seputih kertas, Kuroko Tetsuya yang begitu lulus SMA ia langsung kerja part time dari satu tempat ke tempat lain
Ia terlalu miskin untuk kuliah.
.
Di tempat lain, pria bermata heterokrom bersama dengan 5 orang bertubuh besar lainnya tampak berkelas.
"Eh?" pria itu berlari tiba tiba membuat, para pria lainnya langsung mengikutinya.
"Ada apa? Akashi?" ucap pria berambut emerald.
"Tetsuya?" suara seperti berbisik.
"?" semua masuk kedalam restoran cepat saji.
"Kalian duduklah, aku yang akan memesan" ucap Akashi tanpa memandang belakangnya.
"Ada apa dengan Akashicchi?"ucap pria tampan berambut blonde.
"Ya, sudah sejak ribuan tahun ia tak pernah se semangat ini" ucap pria kasar berkulit gelap dengan baju terbukanya.
.
.
"Anno, tuan ingin pesan-" ucap pria berambut baby blue. Namun tiba tiba pria di depannya merintihkan air mata.
"Tetsuya, akhirnya kita bisa bertemu kembali" ucap Akashi dengan suara sekecil hembusan angin.
"Eh?! Anno daijoubu desuka?" ucap Kuroko tampak panik.
"Ah apa mereka yang datang bersamamu, memaksa membawakan makanan mereka!?" ucap Kuroko sedikit khawatir.
"Ah, bukan bukan. Mereka semua temanku" ucap Akashi menjelaskan.
"Jadi tuan ingin pesan?" ucap Kuroko.
"Ah, aku pesan untuk 6 orang" ucap Akashi mulai tersenyum.
"Eh?"
Deg deg deg
"Aku Akashi Seijuuro, salam kenal"
"Salam kenal, saya Kuroko Tetsuya" ucap Kuroko memegangi, dadanya merasa aneh.
.
.
Pulang kerja, tampak hujan mulai turun dengan deras.
". . ." Kuroko mau berjalan ke tengah derasnya hujan, tapi tiba tiba ada yang menahan tangan Kuroko.
"Etto, jangan bilang kau mau menerjang hujan deras seperti ini, kalau kau sakit gimana, Tetsuya"
"Eh, Akashi-kun?" Kuroko terkejut.
"Yo, Tetsuya. Biarkan aku mengantarmu, walau hanya dengan sebuah payung" ucap Akashi.
"Eh?"
"Takutkah? Kalau kau pikir aku akan berbuat jahat padamu, kau bisa lari. Jadi biarkan aku mengantar mu setidaknya jangan sampai kehujanna ya" ucap Akashi, saat itu Kuroko tidak merasa ada niat jahat sedikitpun.
"A-Arigatou Akashi-kun"
Mereka berjalan dari satu blok ke blok lain, namun semakin mereka berjalan, semakin deras hujan yang menerpa.
Namun karena payung yang di pegang Akashi lebih condong ke arah Kuroko, mau gak mau baju Akashi tampak basah sebelah, hingga sampailah di tempat tinggal sederhana milik Kuroko.
"Kalau begitu ak-" ucap Akashi puas, setelah melihat Kuroko pulang, dengan selamat.
"Anno, Akashi-kun, bajumu basah. keringkan dulu bajumu baru pergi" ucap Kuroko, dengan wajah sedikit memerah.
"Eh? Daijoubu desuka, kowakunai?" Ucap Akashi lagi.
"Eh? Emp daijoubu"
Lalu setelah itu Akashi mampir dan mengeringkan pakaiannya, sembari menunggu pakaiannya kering mereka berbincang kecil, sembari meminum teh pahit hangat.
"Akashi-kun, baju- eh?" ucap Kuroko sadar kalau si pemilik rambut Crimson itu, sudah tertidur.
Tok tok tok
"Eh siapa yang bertamu, pada jam segini?" ucap Kuroko membuka pintu, dengan merasa aneh. Karena ia tak pernah memiliki tamu.
"Kami datang menjemput pria bernama Akashi Seijuuro" ucap Pria berambut merah dengan gradasi hitam, bersama dengan pria kasar berkulit gelap, mereka berdua adalah teman Akashi, yang di bilang tadi saat makan.
"Eh, Akashi sedang tertidur"
"Tidur?" tampak pria berkulit gelap itu, dengan ekspresi aneh.
"Eh?"
"Akashi, selama ribuuan tahun ini, tak pernah bisa tidur!" ucap pria berambut merah gradasi hitam itu.
"Eh? Rib-?" merasa rancu dengan, kalimat tadi.
"Cukup! Aku sudah bangun, jadi ayo pulang" Akashi tiba tiba sudah berpakaian, di belakang Kuroko.
"A-Akashi-kun?"
"Tetsuya, aku pamit pulang kalau begitu" ucap Akashi tersenyum pahit, lalu berjalan melewati Kuroko mengikuti Kagami dan Aomine.
"Eh?"
.
Semenjak hari itu, Kuroko tetap bekerja seperti biasa, namun belum sekalipun ia bertemu lagi dengan Akashi.
Bertahun tahun hari terus di lewati Kuroko, berpindah dari pekerjaan satu ke pekerjaan lain, namun semakin usia bertambah semakin sulit ia mencari pekerjaan.
Di umurnya yang sudah 20an ini sangat sulit mencari pekerjaan part time, karena itu sering ia pulang dengan keadaan mabuk.
Pagi mencari pekerjaan, malamnya mengalihkan kerasnya hidup, dengan alkohol.
Hingga dengan keadaan mabuk, tanpa arah yang jelas ia berjalan, dan terus berjalan.
"Sampai kapan aku harus berjalan?
Kemana aku harus pergi?
Kenapa aku jadi-?"
"Tetsuya? Tetsuya kah?" ucap suara yang samar, namun Kuroko yakin mengenal suara ini, namun ia lupa dimana.
"Eh?" mencoba mencari dari mana asal suara itu, namun yang ia lihat hanya gelapnya hutan, dan tingginya pohon yang menembus langit.
"Alkohol? Apa kau minum alkohol?" ucap suara itu semakin dekat.
"Siapa? Berhentilah, mempermainkan orang dewasa, keluarlah!?" gerutu Kuroko yang dalam keadaan mabuk.
"Orang dewasa?" ucap suara itu lagi, terkikik geli.
"!" lalu Akashipun muncul di hadapan Kuroko, Akashi yang dulu ia temui. Dalam wujud remaja, bahkan tingginya sama dengan terakhir ia temui.
"A-Akashi-kun? Kau-?"
Kuroko kebingungan,
bagaimana bisa wujud Akashi tidak berubah sedikitpun sejak saat itu?
Semakin di pikirkan, kepala Kuroko semakin sakit.
Brukkk
"Otto!?" Akashi menangkap tubuh Kuroko, yang tumbang.
". . ." Kurokopun tak sadarkan diri.
"Selamat datang kembali, watashi no yome" ucap Akashi berbisik, namun apa daya Kuroko sudah tak bisa, mendengar apapun karena pingsan.
.
.
Sinar matahari hangat, memasuki celah kaca transparan.
Bau khas kayu kuno tersebar di seluruh ruangan, udara bersih dan wangi makanan pagi membangunkan Kuroko.
"Egh?" Karena habis minum, paginya ia mengalami sakit kepala hebat.
"Minumlah obat ini nodayo, kurasa manjur untuk menghilangkan sakit kepalamu nodayo" pemilik rambut emerald berdiri di samping, sembari menyerahkan serbuk obat dengan air mineral, tanpa siapapun kecuali Kuroko dan dirinya.
"Eh?
I-ini di?
A-Anda siapa?" ucap Kuroko tampaknya tidak sampai mengingat, teman teman Akashi waktu itu.
"Kau sudah sadar Tetsuya?" tiba tiba, pria bertubuh sama dengan Kuroko muncul, wajah yang tak mungkin di lupakan sejak malam itu, Akashi Seijuuro.
"A-Akashi-kun?"
'Tadi malam apa aku berkhayal, kalau Akashi menemui dengan wujud masih remaja?' dalam hati.
Karena Akashi yang di depannya sudah dewasa sama, dengan dirinya.
"Ada apa? Apa yang kau pikirkan?" ucap Akashi mulai tersenyum lagi.
"Ah, bukan apa apa?"
"Shintaro, kau bisa kembali" ucap Akashi meminta Midorima untuk meninggalkan ruangan.
"Anno?"ucap Kuroko lagi.
"Ya Kuroko ada apa?" senyum yang sama, tatapan lembut tapi dingin, hangat tapi tidak.
Itu yang Kuroko rasakan baik dulu, saat pertama kali bertemu dan sekarang.
"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi, Tetsuya. Aitakata" ucap Akashi memeluk Kuroko, membuat Kuroko bingung harus bagaimana, namun ada perasaan kuat, kalau ia tidak boleh melepaskan pelukan Akashi.
"Anno, Akashi-kun. Bisa lepaskan aku? Sepertinya aku belum mandi dan pasti sangat bau alkohol bukan?" ucap Kuroko akhirnya.
"Ahh, kau benar. Sebaiknya mandilah dulu, lalu kita sarapan bersama dengan yang lain"
"Anno Akashi-kun?" Kuroko seperti hendak bertanya, namun begitu melihat wajah Akashi ia seakan menutup mulutnya rapat rapat.
"Ada apa Tetsuya?"
"Iie, nani mo" ucap Kuroko menyangkal.
"Begitukah? Kalau begitu aku tunggu di ruang makan" ucap Akashi berjalan keluar ruangan.
"Hai, arigatou gozaimasu"
Apa yang ingin di tanyakan?
Kenapa Akashi selalu memasang senyum palsu?
Kenapa ia selalu menatap hangat Kuroko, yang notabennya orang asing?
Apa yang Akashi-kun rahasiakan, di depan Kuroko?
Gak mungkin orang luar seperti Kuroko, berani untuk bertanya hal se intens itu.
"Kalau kau ingin bertanya semua itu, kenapa gak langsung bertanya padanya saja?" ucap pria entah muncul dari mana, mata kosong bagai kabut, warna rambut kelabu yang menutupi mata dan aura keberadaan, yang membuat Kuroko merasa nyaman berada di dekatnya.
"Anno?"
"Ah aku? Aku Mayuzumi Chihiro, peri bumi. Atau manusia bisa bilang, kami roh hutan"
"Roh? Ha-hantu?"
"Ahhh sedikit berbeda, berbeda dengan hantu, makhluk seperti ku memiliki tubuh dan umur, meskipun di bilang roh, kami bisa mati, hanya saja umur kami sangat panjang, walau tak sepanjang Akashi Seijuuro"
"Eh? Akashi-kun? Apa maksudnya?" ucap Kuroko tampak sangat terkejut.
"Ara? Apa aku membuka hal yang harusnya tidak di buka?" ucap pria berambut kelabu itu, tampak panik.
"Apa maksudnya, Akashi-kun-"
"Maksudnya adalah ia memiliki umur panjang sampai dia sendiri lupa, berapa umurnya sekarang!" tiba tiba ada yang memasuki ruangan, dengan wajah kesal.
"Nijimura-san?" ucap Mayuzumi tampak mengenal pria itu, pria berambut sehitam bingkai jendela di musim salju, mata lurus kedepan dan tubuh yang tegap.
"Akashi-kun, abadi?"
"Haha, bukan abadi. Diapun bisa mati, hanya saja ada alasan ia tidak boleh mati, sampai ia bertemu kembali dengan pasangannya, yang ia temui di kehidupan sebelumnya. Seperti itulah rumor yang ku dengar" ucap pria itu tampak tahu banyak hal.
"Anda?"
"Aku adalah Nijimura Shuzo, campuran ware tiger dan vampir kuno yang baru saja terbangun ratusan tahun belakangan ini" ucap pria itu memperkenalkan diri.
"Baru terbangun?"
"Ah, berbeda dengan Akashi. Ia bahkan tidak bisa tidur selama berabad abad ini, ia tak ingin melewatkan hari saat pengantinnya kembali padanya" ucap Nijimura.
"Akashi-kun dan Nijimura-san memiliki aura yang sama" bisik Kuroko namun terdengar olah satu ruangan.
"Eh?" Mayuzumi Chihiro, cukup terkejut.
"Ah, mungkin karena kami merupakan saudara sepupu, kayaknya" ucap Nijimura sendiri meragukan.
"Se-sepupu?"
"Sudahlah, sebaiknya kau mandi, Kuroko Tetsuya. Sebelum Akashi sendiri yang menjemputmu, karena tak kunjung keluar ruangan ini!?" ucap Chihiro mendorong Kuroko agar segera mandi.
"Eh, Hai"
.
15menit kemudian, Kuroko keluar ruangan di temani pelayan yang berjalan di depannya, agar menunjukan jalan dimana ruang makan berada.
"Tetsuya, syukurlah wajahmu sudah tak sepucat semalam" ucap Akashi orang pertama yang menyadari keberadaannya.
"Ha-hai, arigatou gozaimasu" ucap Kuroko.
"Kuro-chin, aku buat ka bubur lobak. Bagus untuk manusia yang baru minum alkohol" ucap pria bertubuh bak raksasa.
"A-arigagou" Kuroko melihat Akashi, seperti hendak bertanya.
"Ada apa, kau bisa bertanya hal yang ingin kau tanyakan, Tetsuya" ucap Akashi yanh menggunakan baju kemeja rapih bagai orang kaya raya lainnya.
"Anno, benarkah Akashi-kun sudah hidup ribuan tahun?" ucap Kuroko, namun.
". . ."tiba tiba ekspresi Akashi menjadi berbeda.
"Aka-" belum sempat Kuroko menyebut namanya, Akashi langsung menempelkan tangannya ke kening Kuroko.
"Itu adalah hal yang tak perlu kau ingat, karena itu lu-" ucap Akashi dingin.
"Tidak!" spontan Kuroko menangkis tangan yang ada di dahinya.
"Te-tsuya?"
"Aku gak tahu kenapa, entah kenapa aku merasa tidak ingin menghapusnya" ucap Kuroko meraih baju Akashi, di genggamnya keras dengan tangan gemetar, alhasil baju Akashi kembali kusut.
"A-Akashi-kun?"
"Kalau begitu ayo kita sarapan dulu, Tetsuya" ucap Akashi masih, dengan senyum yang sama dengan sebelum nya.
"Eh ha-hai" ucap Kuroko.
.
.
Begitu selesai sarapan, Akashi menyuruh Kise Ryouta untuk mengajak Kuroko berkeliling.
Rumah yang bagai istana, kebun bunga yang begitu luas, walau belum ada bunganya dan labirin tanaman yang menjadi pemanis.
"Kurokocchi, mau lihat danau paling indah di tempat ini- ssu?" ucap pria tampan berambut blonde itu, sangat bersemangat.
"Eh, emp hai" ucap Kuroko. Entah kenapa wajah Kuroko tidak menampakkan, kalau jiwanya ada di raga.
Bahkan sampai di danau bening, sehingga memantulkan sinar, bak kilauan perhiasan dari alam.
"Kurokocchi! Kurokocchi!?"
"Eh? Ah ada apa Kise-kun?"
"Perhiasan terbentang di depan mata, tapi pikiranmu terbang entah kemana ssu" ucap Kise bagai melantunkan sajak.
"Ah, gomennasai" Kuroko merasa bersalah.
"Jadi apa yang Kurokocchi pikirkan?"
"Akashi-kun"
"Akashicchi? Ada apa Akashicchi" ucap Kise merasa penasaran.
"Akashi-kun, mencari pengantinnya terus dan terus mencari hingga akhirnya bertemu, yaitu aku" ucap Kuroko.
"Hai-ssu"
"Tapi aku merasa, Akashi-kun tak membutuhkan ku disini.
Akashi-kun tersenyum dan selalu tersenyum padaku tapi,
aku merasa senyum nya begitu dingin dan hanya formalitas untuk orang asing" ucap Kuroko semakin murung.
"Kurokocchi, ayo" Kise menarik lembut tangan Kuroko, ke arah danau.
"Eh? Kemana Kise-kun?"
"Kita lihat indahnya danau dari dalam air"
"Eh?!"
BYURRRRR!
.
.
Pada akhirnya mereka menyelam juga, baju Kise yang tadi di kenakan berubah menjadi sisik keemasan, begitu indah saat terkena sinar mentari, sedang Kuroko di bagikan gelembung yang menahan udara di dalamnya oleh Kise, agar Kuroko juga bisa tetap bernapas meski berada di bawah air.
Ikan berwarna warni berenang, dari sana ke sini. Banyak batu batu sungai yang indah, airnya begitu bening hampir menyerupai kaca, namun karena hari masih pagi, suhu air pun masih terasa sangat dingin bagi manusia, berbeda dengan ketahanan seorang duyung.
Kise yang merasa Kuroko gemetar dan menggigil, langsung ia bawa kembali ke daratan.
"Ku-kurokocchi, daijoubu-ssuka?" ucap Kise seketika berubah kembali, ke wujud semula tidak lagi menjadi duyung.
"Ha-hatchiii! Ha-hai dai-joubu" tampak sangat menggigil.
"Waaaa! Kita harus cepat kembali!" ucap Kise langsung melepas bajunya, yang secara aneh tidak basah seperti milik Kuroko. Ia melepaskan baju luarnya dan di selimuti ke tubuh Kuroko.
Ia langsung mengendong Kuroko, berlari agar segera sampai, agar Midorima bisa memastikan Kuroko baik baik saja.
.
.
"Hatchi! Hatchii! Hatchiiiii!" Begitu sampai, Kise langsung membawa Kuroko ke ruangannya, dan segera memanggil Midorima untuk memeriksa.
"Kurokocchi gomen~ ssu"
"Bodoh! Bagaimana bisa kau mengajaknya menyelam di pagi hari seperti ini nodayo! ketahanan kita dan manusia itu berbeda nodayo!" Midorima memarahi Kise, sembari mengobati Kuroko.
"Iie, justru aku yang harusnya berterima kasih, Kise-kun mencoba menghiburku, hatchiii!" ucap Kuroko membela Kise.
"Ahhh, jangan bicara dulu nodayo! Minum obat ini lalu tidurlah" ucap Midorima yang merupakan penyihir muda yang di tuai oleh para penyihir kuno sekalipun, karena ke ahliannya.
"Emp, arigatou Midorima-kun"
'Akashi-kun tidak datang~,
Tentu saja aku di sini pun tak tahu untuk apa' ucap Kuroko dalam hati.
". . ." Midorima tiba tiba memandang Kuroko dengan tatapan seribu bahasa.
"?"Kuroko pun menatap balik, namun mata tiba tiba sangat berat hingga ia sadar, betapa nyamannya kasur yang ia tiduri ini.
"Kise, ayo kira keluar nodayo. Biarkan pengantin raja beristirahat nodayo" ucap Midorima berjalan keluar di ikuti Kise.
"Hai-ssu~" .
.
'Egh, kepalaku pusing, berat' Kuroko mencoba untuk tidur namun tidak bisa, jadi ia hanya memandang langit langit kamar.
BRUKK!
Suara pintu di buka keras, namun Kuroko tak mampu mengangkat kepalanya karena pusing.
"Si-apa?"
"Tetsuya, Kudengar kau sakit?" ucap Akashi dengan tatapan dingin seperti biasa, Kuroko memandang Akashi sedikit sedih.
"Anno Akashi-kun, tolong hentikan" ucap Kuroko memberanikan diri.
"Akashi-kun seperti matahari, tapi dingin seperti es.
Akashi-kun memungutku, tapi aku merasa sesungguhnya
Akashi-kun tak menginginkan keberadaanku" ucap Kuroko membelakangi Akashi, menutupi air matanya yang mengalir.
"Tetsuya~,
Kematian takkan memisahkan cinta kita,
Aku berjanji, bila kita bertemu lagi,
Akan ku ucapkan,
Betapa aku 'Mencintaimu, Tetsuya', apakah kau bisa mengingat ku? " ucap Akashi memeluk Kuroko dari belakang.
"Tolong beri tahu aku, apa yang harus aku lakukan, agar kau tetap di sisiku selamanya" ucap Akashi seperti merasa tertekan.
"A-Akashi-kun, kau bilang aku adalah pengantinmu, sejak di kehidupan sebelumnya. Tapi aku merasa, Akashi-kun seakan menyembunyikan segalanya dariku-" ucap Kuroko seperti pertengkaran suami istri.
"Walaupun aku mencintaimu, aku tak bisa mengatakannya.
Apa kau tak bisa melihat api cintaku, yang tebakar.
Seperti rumput sashimi di gunung Ibuki?
Ah, untuk mengatakan, tidak.
Tapi aku tak bisa sembunyi dari api yang besar dan panas.
Seperti rumput sashimi dari ibuki" Ucap Akashi begitu romantis, mengambil puisi dari hyakuni issu.
"Akashi-kun, aku tak mengerti lagi-"
"Aku, sangat mencintai mu. Bahkan sebelum kau terlahir di kehidupan ini. Aku menahan rasa hauskun akan darah, agar aku tak menyerangmu dan membuatmu takut-"
"Bakkashi! Bakkashi! Bakkashi!"
"Te-Tetsuya? Tolong jangan marah lagi" ucap Akashi masih menahan diri.
"Aku ingin melihat Akashi-kun yang sebenarnya. Jadi-"
"Kau akan menyesali nya" ucap Akashi.
"Lebih baik aku menyesalinya setelah tahu semua, daripada menyesalinya tanpa tahu apapun" ucap Kuroko tiba tiba berbalik menghadap langsung wajah Akashi.
"Hahahahahaha, Tetsuya kau benar benar, sungguh tak bisa ku tebak" ucap Akashi memeluk erat Kuroko, membuat tubuh Kuroko panas dingin seperti rollcoaster.
"A-akashi-kun?" wajah Kuroko tampak merah padam.
"Tetsuya~" mata Akashi berbeda dari yang pertama ia lihat, mata Akashi begitu berapi api, taring yang tak pernah menyentuh darah selama berabad abad ini, kini haus minta di hilangkan dahaganya.
.
.
TBC
