My Caddy Girl
Cast:
Kyuhyun - Sungmin – Other SJ members
Genre : Romance, Drama, Hurt
Rate : T + (Bisa berubah sewaktu-waktu)
Warning : GS, Typos, Flat and Multichapter
Copycat and plagiarism is not allowed
.
.
.
Kata orang cinta adalah media paling suci yang bisa menyatukan apapun dan memberi kebahagiaan pada setiap orang yang mempercayainya. Aku percaya cinta, aku menjunjung tinggi cinta, tapi apa yang aku dapat? Status sosial memisahkan cinta kami. Kami yang sudah bersatu harus terpisah karena perbedaan yang menjijikan itu. Bolehkan aku memilih untuk jatuh miskin dan hidup bahagia bersama dengan cintaku?
.
.
.
"Kyuhyun~ aku mohon kau pikirkan hal ini baik-baik. Menikah bukan hanya perkara restu orang tua kemudian mengucap janji di hadapan Tuhan, berpesta dan semuanya selesai. Kita juga harus memikirkan bagaimana kedepannya nanti." Kata Sungmin mencari alasan untuk menghindari lamaran Kyuhyun yang tiba-tiba.
"Aku tahu, sayang. Aku sangat tahu." Jawab Kyuhyun yang masih berlutut di hadapan Sungmin.
"Aku tidak ingin kau menyesal." Sungmin berkata lirih menundukkan kepalanya.
"Apa yang perlu disesalkan? Aku mencintaimu dan kau juga mencintaiku."
"Tapi restu dari ibumu-"
Kyuhyun mencengkram bahu Sungmin menatap mata gadisnya penuh keseriusan. "Sayang, dengar! Aku bahkan sangat yakin kalau eomma sudah merestui kita. Aku tahu bagaimana ibuku. Aku tahu bagaimana sifatnya yang akan selalu menjunjung tinggi harga diri. Tapi di balik itu semua aku bisa melihat ketulusan di matanya." Kata Kyuhyun meyakinkan.
"Kyuhyun aku mohon~"
Kyuhyun semakin menggenggam erat jemari Sungmin. "Percaya padaku. Cepat atau lambat eomma pasti akan memberikan restunya. Dia menyayangimu."
"Bagaimana kau bisa seyakin itu?" Tanya Sungmin semakin geram.
"Cukup pegang kata-kataku. Atau kau bisa menceraikanku kalau kau mau." Jawab Kyuhyun yakin.
Sungmin menundukkan kepalanya. Gadis kelinci itu juga semakin frustasi dengan kegigihan kekasihnya. "Bagaimana aku bisa menceraikanmu? Aku saja terlalu mencintaimu." Ucap Sungmin sangat pelan namun kata-katanya masih bisa tertangkap dengan baik di telinga Kyuhyun.
Kyuhyun terkekeh mendengar ucapan kekasihnya. "Benarkah? Sepertinya lima belas menit yang lalu ada seorang wanita cantik yang mengatakan kalau dia sudah tidak mencintaiku lagi." Sindir Kyuhyun.
"Aku berbohong. Kau puas?" Mata Sungmin menyalang kesal. Bibirnya mengerucut manis seperti anak kecil.
Kyuhyun bangkit dari berlututnya dan beranjak memeluk gadisnya. "Jangan pernah mengucapkan hal itu lagi. Hatiku sakit."
"Maaf~"
"Jadi bagaimana? Menikah denganku ya?" Tanya Kyuhyun lagi.
Lamaran Kyuhyun ini sangatlah tiba-tiba, sama halnya pada saat pria itu menyatakan cinta ke Sungmin dulu.
"Kau tahu? Kau selalu berhasil membuat jantungku berhenti tiba-tiba." Ucap Sungmin. Matanya menatap dalam Kyuhyun yang memberikan senyum tulusnya. "Dulu, tidak ada angin badai kau menyatakan cinta padaku. Dan sekarang bahkan di saat cuaca sangat cerah, kau melamarku di sini. Di rumah sakit. Di hadapan orang koma." Lanjut Sungmin.
"Salah kau sendiri mengatakan jika kau sudah tidak mencintaiku. Kau pikir aku baik-baik saja saat mendengarnya?" Kyuhyun membela diri, sangat kesal dengan tingkah Sungmin yang menjauhinya beberapa hari terakhir ini.
"Hufftt... Padahal dulu aku bermimpi kalau calon suamiku nanti akan melamarku dengan romantis. Berkeliling dengan kapal pesiar, menikmati cahaya bulan di atas dek kapal, candle light dinner, dia yang memainkan piano dan lalu melamarku." Sungmin mempoutkan bibirnya kesal. Impian masa remajanya harus pupus di tangan Kyuhyun.
Kyuhyun menarik dagu Sungmin, mata mereka saling memandang dengan pandangan berbeda. Sungmin yang terlihat bingung dan Kyuhyun yang entahlah sedikit terpancar rasa bersalah dari kedua mata indahnya. "Sayang, maaf kalau aku bukan calon suami yang baik untukmu. Aku tidak bisa memenuhi impianmu tentang lamaran romantis itu. Tapi aku bersumpah. Aku akan berusaha untuk memenuhi mimpimu yang lain. Menjagamu, menjaga anak-anak kita. Aku akan membahagiakan kalian. Aku mencintaimu Lee Sungmin. Aku mohon menikahlah denganku."
Sungmin membatu. Setitik butiran air keluar dari sudut mata indahnya. Tidak, ia tidak mempermasalahkan bagaimana Kyuhyun melamarnya. Ia tidak peduli jika harus mengubur mimpi masa remajanya. Tidak masalah dilamar di sebuah kapal pesiar atau di dalam ruangan rumah sakit. Asalkan itu Kyuhyun, asalkan itu pria yang dicintainya maka Sungmin tidak akan pernah ragu. "Iya Kyuhyun, aku mau. Aku mau menikah denganmu." Jawaban itu meluncur dengan indah dari mukut Sungmin.
Kyuhyun tersenyum tulus mendengar jawaban gadisnya. Ini artinya lamaran pria itu diterima, bukan? "Kau.. Boleh ulangi sekali lagi? Kau benar-benar menerimaku, Ming? Kau setuju untuk menikah denganku?" Tanya Kyuhyun memastikan. Pria ini sedang berada di antara fase percaya dan tidak percaya.
Sungmin mengangguk. Mengusap air matanya yang entah kenapa terus keluar di tengah rasa bahagianya. "Iya Kyuhyun. Aku mau menikah denganmu. Aku percayakan sisa hidupku padamu. Buat aku bahagia ya?" Sungmin menangis haru memeluk Kyuhyun seerat yang ia bisa.
"Pasti sayang. Tanpa kau mintapun aku akan membahagiakanmu. Terima kasih sudah memilihku." Kata Kyuhyun balas memeluk Sungmin.
.
~oOo~
.
Mereka berempat - Kyuhyun, Sungmin, Yunho dan Jaejong - tengah menikmati makan siang bersama di ruang perawatan Leeteuk. Kedua orang tua itu sedari tadi hanya bertukar pandang, merasa heran melihat tingkah sang anak dan kekasihnya yang terus menerus tersenyum tanpa arti.
"Kalian sudah berbaikan?" Tanya Jaejong mengernyitkan keningnya.
"Kami tidak bertengkar eomma, kenapa harus berbaikan?" Balas Sungmin sambil memakan ramyun yang dibelikan orang tuanya.
Jaejong tersenyum menyindir ke arah sang putri. "Aigo~ sudah pintar berbohong rupanya anak eomma. Bahkan kemarin ada yang ingin memutuskan hubungannya dengan seorang Cho Kyuhyun."
"Itu tidak akan mungkin terjadi, ahjumma. Bahkan kami akan menikah sebentar lagi." Dengan spontan Kyuhyun mengatakan hal itu tanpa berpikir lebih dulu.
"Uhuk..." Jaejong tersedak makanannya saat mendengar jawaban Kyuhyun. "Yunho-ya tolong ambilkan aku minum." Lanjutnya seraya mengulurkan tangan mengambil gelas yang diberikan suaminya.
Trak
"Aww... Kenapa kau menginjak kakiku?" Tanya Kyuhyun kesal saat Sungmin menginjak kakinya dan memberikan tatapan membunuh.
"Kenapa kau bicara seperti itu pada eomma." Kesal Sungmin sambil berbisik.
Kyuhyun mengendikan kedua bahunya, dia memang tidak memiliki alasan khusus saat mengatakannya. "Biar saja. Memang begitu kenyataannya." Jawab Kyuhyun tanpa rasa bersalah.
"Sekarang jelaskan pada kami apa maksud ucapanmu, Tuan Muda Cho?" Tanya Jaejong mengabaikan makanannya dan memilih fokus pada dua manusia di depannya.
Kyuhyun menghela napas sebelum berkata. Masih terlalu ragu sebenarnya. "Aku berniat untuk menikahi Sungmin, ahjumma. Untuk itu aku ingin meminta restu ahjumma dan ahjusshi." Kata Kyuhyun dengan nada mantap pada akhirnya.
Kyuhyun dan Sungmin terdiam, mereka mengamati perubahan raut wajah Jaejong dan Yunho. Tubuh Kyuhyun sedikit menegang menanti reaksi kedua orang tua Sungmin, tiba-tiba sebuah perasaan takut ditolak menyeruak di hati pria pecinta game itu.
"Kau serius dengan ucapanmu, Cho?" Kali ini nada serius terucap dari mulut Yunho.
Kyuhyun menatap Yunho. "Aku bahkan tidak pernah seyakin ini, ahjusshi. Aku mencintai putrimu dan aku ingin dia menjadi pendamping hidupku. Dan lagi hanya dengan cara ini aku bisa melindungi Sungmin dari kegilaan Zhoumi. Jadi aku mohon berikan kami restu."
"Lalu bagaimana dengan keluargamu sendiri?" Sindir Jaejong. Wanita paruh baya ini sangat tahu bahwa ibu Kyuhyun tidak menyukai putrinya.
Sungmin memeluk lengan kanan Kyuhyun memberikan signal kekhawatirannya. "Mungkin eommaku belum bisa menerima Sungmin untuk saat ini. Kami akan berusaha meyakinkannya. Tetapi appa sudah menyerahkan semua keputusan padaku. Bahkan ia sangat mendukung hubungan kami."
"Bagaimana denganmu, Minnie? Kau setuju dengan rencana pernikahan ini?" Kali ini mata tajam Yunho tertuju pada Sungmin. Mencari keseriusan di mata anaknya.
"Iya Appa aku setuju." Lirih Sungmin.
"Kau yakin?" Tanya Yunho lagi memastikan.
"Aku yakin appa. Aku mencintai Kyuhyun. Aku akan berusaha mendekatkan diri dengan ibu Kyuhyun. Meskipun sepertinya sangat sulit tapi aku masih berharap jika ibu Kyuhyun bisa menerimaku" Jawab Sungmin.
"Baiklah, kalau kalian sudah setuju kami juga pasti akan merestui kalian. Tetapi memang ada baiknya kalian selesaikan masalah ini secepatnya." Ucap Yunho tersenyum.
Kyuhyun terbelalak tak percaya. Ingin rasanya pria pewaris tunggal kekayaan Cho itu berlari keliling rumah sakit sambil berteriak. Tapi sekali lagi, satu hal yang diagung-agungkan Kyuhyun adalah harga diri. Tidak mungkin lelaki itu mempermalukan dirinya sendiri. "Benarkah? Ahujsshi benar-benar merestui kami?" Tanya Kyuhyun sedikit berteriak. Untuk sekarang mungkin hanya hal ini yang bisa dilakukannya.
"Aku percayakan putriku padamu, Kyu. Jaga dia baik-baik. Jangan pernah menyakitinya." Yunho berdiri dari duduknya untuk kemudian menepuk bahu Kyuhyun. Ia mengamanatkan Kyuhyun untuk menjaga putri tercintanya.
"Iya ahjussi, pasti aku akan menjaga Sungmin." Kata Kyuhyun kemudian memeluk tubuh wibawa calon mertuanya.
Sungmin bangkit dari duduknya dan memeluk sang ayah dengan erat. "Terima kasih, appa. Aku menyayagimu." Yunho membelai punggung Sungmin, ia ikut merasa bahagia melihat putrinya saat ini.
Jaejong terharu dengan suasana saat ini. Anak gadisnya sudah menentukan pilihan akan siapa yang menjadi calon suaminya nanti. Tidak pernah terbesit sedikitpun keraguan untuk melepas Sungmin pada Kyuhyun. Jaejong tahu Kyuhyun sangat mencintai putrinya, diluar permasalahan restu dari Cho Heechul wanita cantik itu sangat mendukung hubungan anaknya. "Aigo~ selamat Minnie. Sebentar lagi kau akan dibawa oleh pria mesum itu. Eomma pasti akan sangat merindukanmu." Kali ini Jaejong yang memeluk Sungmin.
Gadis kelinci itu terdiam sebentar memikirkan kata-kata sang ibu. "Kyu, kita akan tetap tinggal di Seoul, bukan? Aku tetap boleh mengunjungi eomma setiap hari 'kan?" Tanya Sungmin memastikan.
Kyuhyun tersenyum. "Iya sayang. Kita akan tetap tinggal di Seoul dan kau tetap boleh mengunjungi Jaejong ahjumma kapanpun kau mau. Atau kalau perlu kita ajak kedua orang tuamu untuk tinggal bersama kita." Jawab Kyuhyun.
Sungmin senang bukan main. Kyuhyunnya sangat mengerti kalau dirinya masih ingin bermanja-manja pada sang ibu. Entahlah, rasanya sehari saja tidak melihat Jaejong semangatnya ikut menguap bersama rasa rindunya. Tapi apa ibunya ini mau tinggal bersamanya?
"Eomma mau 'kan tinggal bersamaku dan Kyuhyun?" Tanya Sungmin dengan wajah sendu.
"Dan menjadi saksi hidup atas kemesuman kalian berdua? Tidak Minnie, terima kasih." Canda Jaejong.
"Ya! Ahjumma jangan berkata begitu." Protes Kyuhyun memberikan death glarenya.
Jaejong menahan tawa saat mendengar protes Kyuhyun. "Memang benar Kyu. Aku belum siap mendengar desahan kalian berdua setiap malam."
"Eomma~! Kau dan Kyuhyun sama saja, selalu berpikiran mesum." Sungmin merengek seperti anak kecil mendengar ucapan Jaejong.
Mereka berempat tertawa bahagia. Rasanya seperti memiliki keluarga baru, Kyuhyun begitu perhatian pada keluarga kekasihnya itu sedangkan orang tua Sungmin juga sepertinya sangat bisa menerima Kyuhyun. Jaejong memeluk sang calon menantu dengan sayang. "Tolong jaga Sungmin. Aku percayakan putriku padamu, Kyuhyun."Kata Jaejong menirukan apa yang diucapkan suaminya.
"Pasti ahjumma. Kau tidak perlu khawatir."
"Bisakah kau berhenti memanggil kami ahjusshi dan ahjumma? Tidak sopan sekali memanggil calon mertua seperti itu." Potong Yunho mengutarakan protesnya.
"Ne, baiklah appa mertua."
Dan lagi-lagi tawa bahagia menguar dari bibir keempatnya. Seakan suara tawa itu memberi kekuatan tersendiri bagi seseorang yang tengah berbaring lemah di atas ranjang rumah sakit sana untuk membuka matanya.
"Eunnghhh..."
"Eh? Suara lenguhan siapa itu?" Tanya Sungmin mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Ya Tuhan, Eonnie~" Teriak Jaejong menghampiri sosok paruh baya yang bergerak-gerak gelisah di atas ranjang.
"Kyuhyun, cepat panggil dokter." Yunho berujar panik.
Kyuhyun menganggukkan kepalanya dan melesat pergi dari ruangan serba putih itu.
"Eungghhhh..." Lagi-lagi suara lenguhan itu terdengar. Sungmin hanya berdiam diri memperhatikan wanita cantik itu. Leeteuk, sosok kesayangan ibunya yang selama ini memejamkan mata akibat tidur panjangnya.
"Eonnie... Apa yang kau rasakan? Yang mana yang sakit? Katakan! Biar aku panggil dokter sekarang." Yunho mengelus punggung Jaejong saat melihat sang istri yang tengah panik.
"Ke-pa-la-ku." Ucap Leeteuk terbata-bata.
"Kepalamu kenapa eonnie? Ya Tuhan Kyuhyun, cepat panggil dokter." Teriak Jaejong. Ia tidak tega melihat sosok yang sudah dianggap kakaknya ini terus meringis kesakitan.
"Yeobo, bersabarlah. Jangan buat keadaan semakin panik." Ucap Yunho menenangkan istrinya.
Tak lama berselang sosok Kyuhyun datang bersama satu orang dokter dan perawat.
"Maaf bisakah anda semua menunggu di luar? Saya akan memeriksa Nyonya Lee."
Kyuhyun mengenggam tangan Sungmin yang terus gemetar melihat kejadian ini, sementara Yunho harus bersabar membujuk sang istri yang memaksa tetap ingin didalam.
"Kyu, apa Teukie ahjumma akan baik-baik saja?" Tanya Sungmin. Saat ini keduanya sedang berada di ruang tunggu.
"Molla! Kita berdoa saja ya."
"Aku takut. Dia kelihatan sangat kesakitan."
Kyuhyun memeluk gadisnya, mengusap lembut punggung wanita bergigi kelinci itu. "Sayang, itu wajar. Ahjumma tertidur hampir dua puluh lima tahun. Aku tidak bisa membayangkan dia bisa sekuat itu."
"Ya kau benar. Mungkin tanpa bantuan alat medis itu Ahjumma sudah pergi sejak dulu."
"Sudahlah, kau harus kuat untuk Jaejong eomma.". Sungmin menganggukan kepalanya mendengar nasihat Kyuhyun.
"Keluarga Nyonya Lee." Seorang dokter keluar dari ruang rawat Leeteuk dengan ekspresi wajah yang sulit dibaca.
Jaejong berjalan tergesa menghampiri dokter itu. "Bagaimana keadaan kakak saya, dokter?"
"Ada dua hal yang sangat bertolak belakang yang ingin saya sampaikan. Jadi saya mohon anda bisa dengan bijak memahami keadaan Nyonya Lee saat ini." Kata dokter itu.
Sungmin melepas pelukan Kyuhyun dan menghampiri ibunya, merangkul bahu kanan wanita paruh baya itu dan sesekali mengusapnya. "Eomma, kita dengarkan apa penjelasan dokter terlebih dahulu ya? Eomma harus kuat."
Jaejong menganggukan kepalanya mengerti. "Saya sudah siap dengan apapun, dokter. Jadi bicaralah."
"Begini, keadaan Nyonya Leeteuk sudah membaik. Saya baru saja memberinya obat penenang sehingga ia bisa istirahat. Masalah sakit di kepalanya itu bukan suatu hal yang serius, hanya perlu beradaptasi saja karena terlalu lama tidak sadarkan diri." Jaejong, Yunho, Sungmin dan Kyuhyun menghembuskan napas lega mereka. Setidaknya Leeteuk sudah sadar saat ini.
"Tapi..."
"Tapi kenapa dokter?" Tanya Jaejong khawatir.
"Kemungkinan besar Nyonya Lee belum bisa berjalan dulu. Saraf-saraf kakinya sedikit bermasalah entah karena benturan hebat saat kecelakaan atau karena memang sudah lama tidak digerakkan. Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut."
Tubuh Jaejong menegang mendengar penjelasan dokter itu. Yunho yang menyadari istrinya sedang tidak baik-baik saja segera memeluknya.
"Jadi maksud dokter ahjummaku akan lumpuh?" Tanya Sungmin menyimpulkan penjelasan dokter tadi.
"Benar Nona Lee." Jaejong dan Sungmin sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. Mereka saling berpelukan mencoba menguatkan hati masing-masing.
"Apa masih ada kemungkinan untuk disembuhkan?" Kali ini Kyuhyun yang bertanya.
"Kemungkinan untuk sembuh tentunya masih ada Tuan Cho. Kami bukan Tuhan, jadi vonis itu bukan akhir dari segalanya. Jika Nyonya Lee memiliki keinginan yang kuat untuk kembali berjalan dan melakukan terapi rutin pasti beliau bisa sembuh." Dokter itu mengarahkan pandangannya pada Jaejong dan Yunho sebelum kembali melanjutkan kata-katanya. "Hanya saja terapi itu harus rutin dilakukan dan tentu biayanya cukup besar."
"Kapan terapi itu harus dilakukan?" Tanya Yunho.
"Secepatnya Tuan."
Kaki Jaejong semakin melemas, ini sudah ada dalam pikirannya. Biaya yang tidak sedikit, itulah hal yang seakan menjadi monster bagi Jaejong. "Akan kami pikirkan kembali, dokter." Jawab Jaejong lemah.
Dokter itu tersenyum dan tak lama setelahnya mencoba berpamitan. "Baiklah, saya permisi dulu. Silahkan untuk menemui Nyonya Leeteuk, mungkin beliau masih tertidur."
"Ne, terima kasih." Jawab Yunho.
"Tunggu dokter!" Panggil Kyuhyun saat dokter itu akan melangkahkan kakinya.
"Ya Tuan?"
"Lakukan terapi itu secepatnya. Aku akan segera mengurus segala keperluan administrasinya. Dan untuk biaya terapi itu, aku yang akan bertanggung jawab." Kata Kyuhyun membuat ketiga orang disana menatap tidak percaya.
.
~oOo~
.
Kyuhyun saat ini sedang duduk di ruang tamu di rumah Sungmin. Gadis kelinci itu memutuskan untuk pulang terlebih dahulu untuk mengambil semua keperluan Leeteuk dan kembali lagi ke rumah sakit sore nanti. Tapi salahkan saja calon suaminya itu yang memaksa mengantar dirinya. Sungmin sudah mati-matian melarang Kyuhyun, ia hanya ingin sendiri, menenangkan hatinya dan entahlah Sungmin masih merasa kesal dengan kekasihnya itu.
"Kau mau minum apa?" Tanya Sungmin seraya meletakkan tasnya di atas meja.
"Aku bisa mangambil sendiri nanti. Duduklah." Kyuhyun menepuk sofa disampingnya, Sungmin menurut, duduk di sampingnya dengan pandangan lurus ke depan.
"Kau marah?" Tanya Kyuhyun.
"Tidak. Untuk apa marah?" Sungmin hanya menjawab singkat.
"Karena aku membiayai terapi ahjumma. Kau 'kan sangat membenciku kalau aku ingin menolong keluargamu."
"Bukan benci Kyuhyun. Hanya tidak suka." Protes Sungmin.
"Kenapa? Takut hutang budi? Takut dengan anggapan orang yang akan mengataimu gadis matrealistis?" Kyuhyun berucap dengan nada sarkastiknya, membuat Sungmin bertambah kesal mendengarnya.
"Cukup! Kau baru saja melamarku dan aku baru setuju untuk menikah denganmu, jadi aku mohon jangan buat aku berubah pikiran. Aku tidak ingin berdebat denganmu, Kyu." Jawab Sungmin tidak suka.
Kyuhyun tersenyum miris mendengar jawaban Sungmin. "Sampai kapan kau akan seperti ini, Ming? Menganggapku sebagai orang asing di keluargamu. Ketika kau sudah setuju untuk menikah denganku harusnya kau juga bisa memberikan tempat untukku. Aku juga ingin menjadikan keluargamu sebagai keluargaku."
Sungmin menatap calon suaminya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia sungguh tidak bermaksud menjauhkan Kyuhyun dari keluarganya tapi Sungmin merasa sikap Kyuhyun pada Leeteuk memang terlalu berlebihan. "Kyuhyun, kau bahkan sudah memiliki keluargaku. Appa dan eommaku sudah menerimamu dengan baik." Sungmin mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Bahkan aku juga sangat yakin kalau sebentar lagi ahjumma akan menyayangimu."
Kyuhyun mengernyit tidak suka, ia yakin pasti ada sesuatu yang disembunyikan Sungmin. "Sayang, sebenarnya kau kenapa? Sepertinya kau tidak suka ahjumma siuman?"
Sungmin menyandarkan kepalanya ke dada Kyuhyun, kedua tangannya memeluk Kyuhyun posesif. "Entahlah, perasaanku sangat tidak mengenakkan. Aku merasa dengan hadirnya Leeteuk ahjumma membuatku terancam kehilangan orang-orang yang aku cintai." Jawab Sungmin jujur,
"Maksudmu?" Kyuhyun bukan orang bodoh yang tidak mengerti apa maksud dari kata-kata Sungmin. Calon istrinya ini sedang cemburu karena perhatian semua orang sedang tertuju pada Leeteuk sekarang.
"Kyu, aku merasa Leeteuk ahjumma akan menjauhkanku dari eomma dan appa."
.
~oOo~
.
Dua minggu sudah berlalu dan keadaan Leeteuk sudah semakin membaik. Jaejong mengurusnya dengan telaten, sementara Yunho selalu menjaga wanita cantik itu setiap malam bergantian dengan Kyuhyun. Leeteuk menjalani terapinya dengan rutin, perubahan positif pun mulai terlihat walau ia masih harus menggunakan bantuan kursi roda tetapi kakinya sudah bisa digerakkan. Wanita itu benar-benar bersyukur hidup di tengah-tengah orang yang sangat mendukungnya untuk sembuh. Jaejong, Yunho, dan Juga Kyuhyun, Bahkan Kyuhyun pernah mengancamnya jika ia tidak mau membiayai terapi Leeteuk jika wanita cantik itu masih belum bisa berjalan di hari pernikahannya dengan Sungmin nanti. Tentu saja itu hanya gertakan si Tuan Muda Cho agar Leeteuk memiliki motivasi untuk sembuh.
Namun ada satu hal yang sebenarnya mengganjal di hati Leeteuk. Sungmin, putri dari sahabatnya itu terus bersikap dingin padanya. Sesekali Sungmin memang mengunjunginya entah sendiri ataupun bersama Kyuhyun. Namun setiap kali Sungmin bersamanya Sungmin selalu menampilkan wajah datarnya, hanya menanggapi ucapan Leeteuk saat dirinya bertanya dan selebihnya Sungmin hanya akan bungkam. Sangat iri rasanya melihat Sungmin yang selalu ceria, bercanda bersama Jaejong dan tertawa lepas. Ia semakin merindukan anaknya, pernah ia bertanya tentang keberadaan anaknya pada Jaejong dan sahabatnya itu hanya tersenyum dan mengatakan kalau keadaan anak Leeteuk baik-baik saja dan tumbuh dengan baik. Namun saat Leeteuk meminta untuk bertemu, Jaejong hanya akan berkata "Nanti kalau kau sudah sembuh. Kita buat kejutan untuknya." Dan Leeteuk hanya bisa pasrah karena ia sangat mempercayai Jaejong. Untuk itu ia bertekad untuk sembuh karena ada dua keinginan terbesar dalam hatinya yang mewajibkannya untuk cepat kembali berjalan normal. Pertama ia ingin bertemu anak kandungnya dan yang kedua untuk menghadiri pernikahan Kyuhyun dan Sungmin.
Bicara soal pernikahan, Kyuhyun dan Sungmin memang sudah sepakat untuk menikah bulan depan. Mereka memutuskan untuk menyelenggarakan acara pernikahan di Jeju. Pulau indah ini menjadi pilihan karena mereka hanya akan mengadakan acara pernikahan sederhana. Mereka harus menghindar dari kejaran pers dan juga Heechul. Hangeng sudah secara resmi melamar Sungmin untuk putranya dan meminta maaf pada keluarga Lee kalau mereka terpaksa harus menyelenggarakan pernikahan secara sembunyi-sembunyi.
Sungmin menolak keras untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya, namun ia tidak bisa mengelak saat Kyuhyun memintanya untuk mengambil cuti demi untuk mempersiapkan pernikahan mereka. Seperti saat ini, kedua insan yang tengah berdebat kecil soal cincin pernikahan cukup menarik perhatian beberapa pengunjung toko perhiasan itu.
"Yang itu terlalu besar berliannya, Kyu. Jariku bisa patah saat memakainya." Sungmin terus menolak saat Kyuhyun menunjukkan padanya sebuah cincin cantik dengan berlian yang sangat berkilau.
"Tidak sayang ini cocok untukmu. Terlihat sangat elegant." Kyuhyun memasukkan cincin itu ke jari manis Sungmin dan menatapnya.
Sungmin menatap horor cincin itu dan dengan segera ia melepaskannya. "No way! Tidak bisakah carikan yang lebih sederhana? Tidak perlu menghamburkan uang hanya untuk sebuah cincin pernikahan, Kyu."
"Tidak! Kau boleh mencari model lain yang lebih sederhana, terserah kau saja pilih yang kau suka tapi jangan pernah beranjak dari toko perhiasan ini. Kita harus membelinya di sini." Jawab Kyuhyun lantang. Toko perhiasan yang sedang mereka kunjungi sekarang memang salah satu yang terbaik di Seoul.
"Bisa aku lihat yang itu." Tunjuk Sungmin pada sepasang cincin indah bermata berlian sapphire blue. "Bagaimana Kyu, bagus tidak?" Sungmin menanyakan pendapat Kyuhyun sambil memamerkan cincin di tangannya itu.
"Sangat bagus Ming, tapi tidak kah itu aneh? Cincin untuk pernikahan seharusnya berwarna putih bukan biru." Kyuhyun memandang cincin itu lagi sebelum melanjutkan kata-katanya. "Kau tetap boleh membeli cincin itu tapi tidak untuk cincin pernikahan kita."
"Kyu~" Sungmin kembali merengek membuat penjaga toko di depannya tersenyum geli, hampir dua jam mereka memilih-milih tetapi sejak tadi hanya berdebat. "Dengar, warna biru itu melambangkan perasaan yang mendalam dan juga kepercayaan. Aku ingin membangun keluarga kecil bersamamu atas dasar kepercayaan dan menjalankannya dengan perasaan paling tulus. Kalau dua hal itu sudah kita lakukan maka aku yakin kita bisa membina pernikahan ini untuk selamanya." Kata Sungmin panjang lebar saat Kyuhyun meremehkan pilihannya.
"Baik... Baik... Terserah kau saja. Aku suka dengan pilihanmu." Kyuhyun akhirnya mengalah. "Aku ambil yang ini." Kata Kyuhyun pada penjaga toko. Membuat mata Sungmin berbinar-binar mendengarnya.
Setelah mencari cincin pernikahan, Kyuhyun kembali mengajak Sungmin ke butik milik Ryeowook. Mereka sudah memesan baju pengantin pada wanita mungil itu beberapa minggu lalu jadi sekarang mereka datang untuk melihatnya.
"Noona, ini undangan untukmu dan Yesung hyung." Kyuhyun memberikan secarik kertas berwarna merah muda - undangan pernikahan yang dipilih oleh Sungmin - kepada Ryeowook. Sungmin yang masih fitting baju tiba-tiba keluar dengan anggunnya. Kyuhyun terbelalak kaget, Sungminnya sangat cantik.
"Kenapa kalian memandangku seperti itu? Apa ada yang aneh?" Tanya Sungmin seraya mengecek gaunnya.
"Kau sangat cantik, sayang." Puji Kyuhyun membuat semburat merah muncul di wajah Sungmin.
"Aigo~ aku tidak menyangka jika gaun itu sangat cocok di tubuhmu, Minnie." Ryeowook berjalan mendekat merapihkan sedikit bagian yang berantakan. "Pantas saja evil itu tidak bisa berpaling darimu, Min. Kau sangat cantik."
"Eonni, jangan berlebihan. Gaunnya yang cantik."
Kyuhyun berjalan mendekat dan mengecup singkat pipi Sungmin. "Mulai sekarang kau harus dengan ikhlas menerima takdirmu, sayang. Kau cantik. Sangat cantik. Wajahmu yang cantik. Gaunnya juga tapi itu tidak akan berarti apapun kalau yang memakainya tidak cantik."
.
~oOo~
.
Dua wanita paruh baya terlihat sedang berbincang hangat di salah satu kamar rumah sakit. Jaejong sedang menyuapi Leeteuk karena ini sudah waktunya makan siang. "Jae-ah, mana putrimu?" Tanya Leeteuk setelah menelan sup yang dibawakan sahabatnya.
"Dia sedang membeli cincin pernikahan dengan Kyuhyun, mungkin nanti mereka akan mampir kesini."
"Bagaimana keadaan Kangin? Apa anakku ada bersamanya?" Jaejong seketika menegang perasaan bersalah terus menghantuinya. Haruskah ia jujur sekarang?
"Eonnie, bisakah nanti saja kita membahasnya? Kau harus makan dan melakukan terapi setelahnya." Jaejong kembali menyuapi sup itu namun Jaejong menengokkan wajahnya.
"Aku merasa kau sedang menyembunyikan sesuatu padaku, Jae. Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaan anakku? Apa dia laki-laki atau perempuan? Apa dia sehat atau lahir dalam keadaan tidak normal? Apa dia bersama appa kandungnya atau tinggal di panti asuhan? Aku hanya ingin tau Jae." Leeteuk terisak, matanya menatap penuh intimidasi. Jaejong belum siap menceritakannya tetapi ia juga tidak tega saat melihat Leeteuk seperti ini.
"Eonnie aku mohon jangan mendesakku." Air mata meluncur hebat dari kedua mata indah Jaejong.
"Apa Kangin masih bersama wanita yang aku lihat di televisi itu?" Tanya Leeteuk dingin.
"Iya. Kangin oppa menikah dengan Kim Taeyon. Mereka sudah memiliki seorang putri bernama Kim Zhoumi." Jawab Jaejong lirih.
"Apa dia anakku? Kim Zhoumi putriku dengan Kangin? Bagaimana keadaannya? Bisa kau antarkan aku bertemu dengannya?"
"Bukan eonnie. Zhoumi adalah anak Kangin dengan Taeyon. Dan dia memiliki hubungan yang tidak baik dengan Sungmin. Dia hampir menghancurkan toko bungaku bahkan lebih parahnya dia pernah mencoba membunuhmu." Jaejong tidak bisa menghindar lagi. Sejujurnya ia hanya berpura-pura untuk tidak mengenal Zhoumi di depan Sungmin dan Kyuhyun.
"Apa? Apa Kangin tidak bisa mengajarkan hal baik pada anaknya? Untuk alasan apa Zhoumi melakukan itu pada putrimu?" Jaejong tersenyum miris saat mendengar Leeteuk mengucapkan kata "putrimu".
"Dia dan Sungmin mencintai satu orang yang sama. Kyuhyun. Zhoumi murka karena Kyuhyun lebih memilih Sungmin."
"Ck.. Anakmu memang cantik Jae-ah. Lalu kapan aku bisa menemui anakku? Apa anakku laki-laki? Harusnya kita menjodohkan dia dengan Sungmin. Jadi kita bi-"
"Cukup eonnie! Cukup!" Jaejong menangis, hatinya serasa teriris mendengar harapan-harapan Leeteuk. Ia tidak mungkin menyembunyikannya lagi. Ia harus menceritakan semuanya. Ia sudah pasrah dengan apa yang terjadi nanti.
"Kau memiliki putri eonni. Putri yang sangat cantik. Dan sebenarnya putrimu itu adalah... Hikss... Putrimu..."
.
~oOo~
.
Kyuhyun dan Sungmin baru saja keluar dari butik Ryeowook saat tiba-tiba handphone Kyuhyun bergetar di sakunya.
"Yeoboseo."
"..."
"Bisakah kau menundanya sampai besok? Aku sedang ada urusan penting."
"..."
"Baiklah suruh mereka menungguku, aku akan kembali satu jam lagi." Kata Kyuhyun mengakhiri perbincangannya.
Kyuhyun menarik Sungmin untuk berjalan cepat dan membuka pintu mobilnya. "Sayang, aku akan kembali ke kantor karena investor yang cukup berpengaruh bagi perusahaan sudah menunggu. Maaf tidak bisa menemanimu ke rumah sakit. Kau ingin tetap kesana atau kembali ke rumah? Aku akan mengantarmu."
Sungmin tersenyum ke arah Kyuhyun. Calon suaminya ini memang yang terhebat, dia tetap memikirkan Sungmin di tengah kesibukannya. "Kau kembali ke kantor saja, Kyu. Aku akan ke rumah sakit. Tapi biar nanti aku naik bis saja."
"Tidak Mig. Ayo cepat masuk."
"Kyu~ aku bukan anak kecil lagi. Sudah sana kasihan rekan bisnismu menunggu terlalu lama."
"Baiklah, tapi kau gunakan taxi saja. Jangan naik bis." Kyuhyun melarang protektif.
"Ne, baiklah Cho sajangnim. Aku akan menuruti perintahmu." Kyuhyun mengecup singkat bibir Sungmin dan segera melesat pergi.
.
~oOo~
.
Sungmin berjalan santai di koridor rumah sakit sambil membawa sekeranjang buah segar yang dibelinya. Ia sudah berniat untuk menghabiskan waktu siangnya dengan sang eomma tercinta dan mungkin dengan ahjumma kesayangannya Leeteuk. Tapi entah mengapa Sungmin merasa kalau ia agak keterlaluan belakangan ini. Ia selalu bersikap dingin pada bibinya itu, tidak ada alasan tertentu hanya merasa sedikit cemburu saat orang-orang tercintanya sedikit mengabaikannya.
Gadis kelinci itu membuka knop pintu berwarna coklat, namun pergerakannya sedikit terhenti saat mendengar perbincangan ibunya dengan sang ahjumma.
"Kau memiliki putri eonni. Putri yang sangat cantik. Dan sebenarnya putrimu itu adalah... Hikss... Putrimu..." Sungmin makin menempelkan telinganya ke arah pintu, bukan bermaksud mencuri dengar hanya saja dirinya juga penasaran dengan perbincangan eommanya. Pertanyaan yang sebenarnya adalah pertanyaannya juga sejak dulu.
"Putrimu... Dia... Dia adalah... Sungmin." Sungmin meremas kuat knop pintu itu, sesekali terdengar isakan yang lolos dari bibir Leeteuk.
"Maaf aku terpaksa melakukannya, aku terpaksa menggunakan nama Lee di depan nama Sungmin karena aku ingin ia tumbuh seperti layaknya anak lainnya. Aku menyayangi Sungmin seperti anak kandungku sendiri. Maaf." Leeteuk terkejut, ia menangis sekeras-kerasnya.
BRUK
Sungmin menjatuhkan keranjang buah yang ia bawa, matanya sudah penuh dengan air yang turun dengan derasnya. Ia menangkupkan kedua tangannya untuk menahan isakannya.
"Sungmin." Mata Jaejong membelalak tak percaya ia merutuki mulut bodohnya yang mengungkapkan semua hal ini tanpa melihat keadaan sekitar.
"Apa maksud ini semua eomma? Apa benar aku bukan anak kandung eomma dan appa?" Sungmin menatap sendu ke arah Jaejong, kekecewaan jelas terlihat di mata Sungmin.
"Minnie... Dengarkan dulu penjelasan eomma nak."
"Cukup katakan apa semua yang aku dengar ini memang benar?" Sungmin berteriak menahan marah pada Jaejong dan Leeteuk.
Jaejong bangun menghampiri gadis yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri. "Sungmin... Sayang kau dengarkan dulu penjelasan eomma. Eomma memiliki alasan kenapa eomma melakukan ini semua. Percayalah nak, eomma mencintaimu." Sungmin menepis kasar tangan Jaejong saat wanita paruh baya itu ingin mengelus pipinya.
"Tidak eomma! Kau sudah membohongiku. Aku sudah mencintaimu dan appa, lalu apa sekarang? Eomma menghadapkanku pada kenyataan kalau aku juga harus mencintai orang asing itu." Jawab Sungmin menatap Leeteuk dengan mata menyalang. Leeteuk menangis, pertahanannya runtuh saat Sungmin menolaknya.
"Sungmin! Kau mau kemana nak?" Jaejong mengejar Sungmin yang pergi begitu saja. "Sungmin, tunggu eomma! Kau jangan pergi dalam keadaan seperti ini." Jaejong menyerah. Langkah kakinya terhenti saat tubuh Sungmin sudah hilang di persimpangan koridor rumah sakit. Ia duduk di kursi tunggu, menangis dan memegang dadanya yang terasa sesak. "Minnie mianhe. Jangan benci eomma. Eomma mencintaimu, nak. Yunho-ya aku membutuhkanmu sekarang."
.
~oOo~
.
BRAK
Kyuhyun tersentak kaget saat pintu di ruangan kantornya dibuka dengan kasar. Baru saja ia akan mengumpat pada si pelaku namun urung ia lakukan saat melihat seorang gadis dengan wajah kasar berlari dan menubrukny kasar tubuhnya. Gadis itu memeluknya erat tapi...
Tunggu... Kemejanya terasa basah. Gadis itu pun terisak di pelukannya. "Hei... Hei... Sayang kenapa kau menangis?" Tanya Kyuhyun mencoba melepaskan pelukan Sungmin, namun calon istrinya itu tidak bergeming. Terus memeluknya. Dan malah mengeratkan pelukannya.
"Hiks..." Hanya isakan yang terdengar dari gadisnya.
"Sungmin please! Ceritakan padaku apa yang terjadi? Apa Zhoumi berulah lagi?" Tanya Kyuhyun khawatir yang hanya dijawab dengan sebuah gelengan.
Kyuhyun menggiring Sungmin untuk duduk di sofa yang terdapat di ruang kerjanya. Sedikit frustasi saat Sungmin membungkam mulutnya. Ia mengusap lembut surai hitam Sungmin sesekali mengecup kepala gadis itu dan mengelus punggungnya. Lama mereka bertahan dengan posisi seperti itu sampai perlahan isakan Sungmin mereda. "Kyu~" Panggil Sungmin.
Kyuhyun menatap wajah Sungmin yang terlihat kacau. Bahkan lebih parah dari pada saat Leeteuk koma dulu. "Sayang, kau kenapa? Jangan buat aku khawatir."
"Kyuhyun, lebih baik kita batalkan saja acara pernikahan ini." Kyuhyun membeku. Wajahnya mengeras menahan amarah. Ada apa dengan Sungminnya? Baru beberapa jam lalu mereka membeli cincin pernikahan dan sekarang kembali Sungmin ingin memutuskan hubungan mereka?
.
.
.
.
.
TBC
Halloooooo...
Maaf lama update. Saya hangover ketupat dan selama bulan puasa kemarin bener-bener sibuk sama real life.
Siapa yang nebak Sungmin anak Leeteuk? Ciyeeee selamat jawaban anda benar. Dan maaf kalau saya kembali harus misahin Sungmin & Kyuhyun. Sebenernya ini sebagai bentuk kegalauan sih hehe :)
Jangan lupa untuk review ya teman ^^ Keep reading, review-ing and the next chapter will be updated soon.
Much love
Kyuhyuniverse
