Casts:
Min (Kim) Seokjin!GS – 39yo | Min Yoongi – 35yo | Kim Namjoon – 22yo
Min Yoonjin!OC – 5yo | Jeon Jungkook!GS – 19yo | Im Nayeon – 21yo
Kim Taehyung – 21yo | Park Jimin – 21yo | Jung Hoseok – 21yo | Jung Dawon – 18yo
Slight!Junhoe iKon, Mina and Sana Twice
All in Korean age
Other casts menyusul
©BTS, Twice, and iKON member belong to their parents and their agency
©character, plot, story belong to me
OOC, OC, AU!College Life, Marriage Life
Rated: M
.
.
ROUGHEST DESIRE
.
.
Chapter 9: Revealed
.
.
Seokjin semakin berani. Ia tidak hanya 'makan siang' bersama dengan Namjoon saja, tapi ia juga mengajak mahasiswinya, Jungkook, untuk bergabung. Pertanyaannya, kenapa?
Siang itu seharusnya Seokjin bertemu dengan Jungkook untuk membahas lomba artikel yang akan diikutsertai oleh Jungkook.
Tapi, untuk kesekian kalinya, Seokjin kelupaan. Dan penyebab Seokjin menjadi pelupa seperti ini tetap sama. Kim Namjoon.
"Namjoonie, benar tak apa aku ajak mahasiswi waliku?"
"Tentu saja tak apa, ssaem."
Tapi dia mengganggu kencan kita..—"Baiklah kalau tak apa. Aku akan menyuruh dia datang ke sini."
Namjoon mengulum senyum ketika melihat raut wajah Seokjin yang terlihat agak kecewa. Seakan mengerti apa yang membuat Seokjin kecewa, Namjoon berbicara lagi.
"Tenang saja, ssaem princess. Tidak ada satu wanita pun yang dapat membuat mataku berpaling dari wajah cantikmu."
Wajah Seokjin terlihat agak memerah. Dan yang ini tidak bisa dikontrol oleh Seokjin dengan detik-detiknya.
Tik.
Tik.
Tik.
Sial. Kenapa aku masih merasa wajahku memanas?!
"Jadi... Kau tak perlu sedih, ssaem.", lanjut Namjoon sambil mengusap pipi kemerahan Seokjin.
Ω
Pukul 14.10 Jungkook sampai di kafe Takeout Drawing. Waktu makan siang sudah lewat sehingga suasana kafe tak terlalu ramai. Jungkook mengedarkan pandangannya ke seluruh kafe, tapi ia tak menemukan wujud Seokjin di sana.
Seokjin ssaem ada di mana, ya? Apa di bagian belakang?
Seiring dengan pemikirannya, Jungkook melangkahkan kaki lebih dalam lagi ke bagian belakang kafe Takeout Drawing.
Ah, itu dia Seokjin ssaem!
Hm..? Ssaem bersama seseorang... namja?
Siapa dia?
Apa Min ajussi?
Jungkook terus berjalan mendekati meja Seokjin sambil bertanya-tanya sekiranya siapakah namja yang sedang bersama dengan dosen walinya itu. Jungkook tidak dapat melihat wajah namja itu karena posisi duduknya yang membelakanginya.
"Selamat siang, Seokjin ssaem.."
"Ah, Kookie, eoseo oseyo. Sini, duduk di sebelah ssaem.", kata Seokjin sambil menepuk-nepuk sofanya. Mungkin ia takut jika Jungkook memilih duduk di samping Namjoonnya.
"Ne.", kata Jungkook seraya mendaratkan pantatnya di samping Seokjin.
Barulah Jungkook dapat melihat wajah namja yang sedang bersama dengan dosen walinya itu.
Dia siapa?
Dia bukan Min ajussi..
Ya. Jungkook tahu namja yang sedang tersenyum di hadapannya itu bukan suami Seokjin. Ia tahu—berkat setiap weekend mampir ke kediaman Min—bahwa suami Seokjin adalah seseorang berkulit putih pucat, bermata sipit sekaligus sayu, dan jika tersenyum gusinya juga ikut terlihat.
Sedangkan namja di hadapannya ini berkulit agak tan, matanya sipit tapi tidak sayu, dan jika tersenyum menampakkan dua lubang di masing-masing pipinya.
Jadi, siapa namja itu?
"Perkenalkan, Kookie, ini Namjoon. Dia satu angkatan denganmu, tapi, bedanya, dia sudah mengambil skripsi. Kalau kamu belum.", kata Seokjin.
Sebenarnya Seokjin berniat mengenalkan mereka berdua atau merendahkan Jungkook, sih?
Jungkook mengulurkan tangan kanannya ke depan, "Annyeonghaseyo, Jeon Jungkook imnida. Bangapsimnida."
Namjoon menyambut tangan Jungkook dengan ramah, "Choneun Kim Namjoon imnida. Bangapsimnida, Jungkook-ssi."
Jungkook tidak menyadari tatapan mata tidak suka dari Seokjin, tapi Namjoon melihatnya. Walaupun detik berikutnya Seokjin tersenyum manis seperti biasa lalu berbicara lagi.
"Namjoon mahasiswa teknik komputer, tapi dia pintar bahasa Inggris juga tahu beberapa karya sastra. Hebat sekali, bukan?", kata Seokjin, memuji Namjoon lagi.
"Oh, ya? Karya siapa yang membuat hatimu bergetar, Namjoon-ssi?", Jungkook penasaran.
"Oh, aku suka sekali Hamlet, Machbet, Othello, Romeo and Juliet..."
Jungkook menunggu Namjoon menyelesaikan kalimatnya, tapi hanya itu saja yang diucapkan Namjoon.
Apaan, dia tahunya Shakespeare doang?! Benak Jungkook.
"...Ya, begitulah.", lanjut Namjoon.
"Wah, kamu hebat sekali, Namjoon.", ucap Seokjin, agak terlalu sumringah.
Apanya yang hebat, sih?! Dia tidak tahu Franz Kafka, Charles Dickens, Emily Brontë, Mark Twain, Jane Austen, Lewis Carroll, Virginia Woolf, Geoffrey Chaucer, atau Herman Melville? Yang benar saja.
Jungkook agak kesal karena Seokjin terus menerus memuji Namjoon yang—menurut Jungkook—tidak ada apa-apanya.
"Nah, sekarang, mana perbaikan artikel yang kuminta kemarin, Kookie?", tanya Seokjin sambil tersenyum—yang sudah Jungkook ketahui sebagai senyuman manipulatif.
Tapi, Seokjin tidak tahu kalau Jungkook dapat memanipulasi juga.
"Ne, ada di laptop saya, ssaem.", kata Jungkook sambil tersenyum—berpura-pura polos.
Ω
(Dua jam kemudian)
Jungkook izin ke kamar mandi karena ia sudah menghabiskan gelas besar lemon tea selama merevisi artikelnya.
Selain karena lelah berpikir, Jungkook juga lelah diacuhkan.
Selama dua jam ini, Seokjin lebih banyak mengobrol dengan Namjoon daripada membantu Jungkook memperbaiki artikelnya. Dan parahnya lagi, Seokjin meminta pendapat Namjoon tentang konten artikel Jungkook. Heol. Bahkan Namjoon tidak tahu apa-apa tentang sastra!
Jungkook sengaja berlama-lama di kamar mandi. Ia sebal pada Seokjin, apalagi pada Namjoon yang sudah mengalihkan atensi Seokjin dari beasiswanya—artikelnya.
Setelah mengira-ngira sudah lima belas menit di kamar mandi, Jungkook memutuskan untuk kembali ke meja mereka.
Tapi, baru berjalan lima langkah, Jungkook membatalkan niatnya dan berputar arah, kembali ke dalam kamar mandi. Ia merapatkan punggungnya ke dinding sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.
T-tadi itu.. Apa?
Seokjin ssaem.. dan Namjoon-ssi...
Saling bertatapan dengan intens.
Superego* Jungkook mengatakan tidak sopan jika ia mengintip dan penasaran dengan kehidupan pribadi dosennya. Tapi, id*-nya lebih kuat. Ego*-nya pun mengikuti id-nya kali ini. Sehingga, yang dilakukan Jungkook sekarang adalah memata-matai Seokjin dan Namjoon dari balik dinding kamar mandi. Ia komat-kamit dalam hati semoga dua sejoli itu tidak mendengar detak jantungnya yang riuh.
Sekarang, Seokjin sedang merengut tidak suka.
Mata Jungkook beralih dari wajah Seokjin ke bawah dan ia disuguhkan pemandangan tangan Seokjin dan Namjoon yang saling bertaut mesra.
Arah pandangan Jungkook beralih ke tangan Namjoon yang semakin mendekati pipi Seokjin. Boom. Sekarang tangan Namjoon mendarat di pipi Seokjin.
Jungkook terus memperhatikan dua insan manusia itu tanpa berkedip seakan-akan ia bakal ketinggalan sesuatu jika berkedip barang sekali saja.
Senyuman perlahan-lahan merambat di bibir Seokjin. Jungkook mengamati Seokjin mengangguk sedikit ketika Namjoon mengatakan sesuatu—yang tentu saja tidak dapat terdengar oleh Jungkook.
Setelah itu Namjoon berdiri lalu mencondongkan tubuhnya untuk mencium pipi Seokjin sekilas.
Dan pergilah Namjoon dari tempat itu.
Jungkook kembali merapatkan punggungnya ke dinding dan menepuk-nepuk pipinya sendiri.
Apakah aku bermimpi..?
Tidak. Ini nyata.
Tapi, kenapa.. Seokjin ssaem dan Namjoon-ssi... Melakukan itu?
Ω
Setelah menenangkan dirinya, Jungkook berjalan kembali ke meja yang tadi ditempatinya dengan Seokjin.
"Ssaem, Namjoon-ssi kok tidak ada?", Jungkook berpura-pura tidak tahu.
Seokjin mendongak menatap Jungkook, menampilkan senyuman andalannya, menutup flipcase ponselnya, menaruh ponselnya di meja, lalu membuka suaranya.
"Tadi Namjoon pamit pulang terlebih dulu karena ada urusan lain, Kookie."
Yeah. Karena urusannya di sini sudah selesai.
"Oh, begitu, ssaem.", kata Jungkook tak ambil pusing.
Seokjin menyodorkan laptop Jungkook, "Artikelmu sudah ssaem periksa. Ssaem pikir analisismu masih kurang. Mungkin karena kau hanya memakai satu teori. Bagaimana kalau ditambah teori mengenai budaya dan sosial?"
Jungkook menghela napas dalam imajinasinya. Gila. Ini hanya artikel, kenapa harus memakai berbagai macam teori? Jungkook rasa sewaktu di kampusnya yang dulu tidak sesulit ini untuk membuat artikel. Entah karena standar BigHit Institute atau jangan-jangan karena standar Seokjin yang terlalu tinggi.
"Baiklah, ssaem. Akan saya tambahkan."
"Sekarang kau mau melakukan apa, Kookie?"
"Saya akan pulang sekarang dan melanjutkan artikel saya, ssaem. Apartemen saya agak jauh dari sini, jadi saya berencana pulang sekarang agar tidak kemalaman.."
"Oh, begitu.. Kamu tidak pergi jalan-jalan?"
"Tidak, ssaem."—Apa dia gila? Mana bisa aku bermain saat deadline artikel tinggal seminggu lagi dan dia menyuruhku menambah dua teori!
"Ah.. Kalau begitu, temani ssaem di sini, ya. Ssaem malas pulang ke rumah."
Sepertinya Seokjin tidak menyimak ketika Jungkook berkata apartemennya jauh dari sana dan ingin segera pulang.
Entah tidak menyimak, entah tidak peduli.
"Hm? Memangnya ada apa, ssaem?", Jungkook refleks bertanya. Detik berikut kalimat itu meluncur dari mulutnya, ia menyesal karena raut wajah Seokjin berubah mengerut. "Ah, maaf, ssaem. Saya tidak bermaksud ikut campur..."
Seokjin tersenyum lagi, "Ani, Kookie, tidak apa. Ssaem hanya sedang bosan saja di rumah. Temani ssaem, ne?"
"Ne, seonsaengnim.."
"Apa Kookie punya pacar?"
Jungkook hampir tersedak lemon tea-nya yang kedua karena pertanyaan tiba-tiba Seokjin.
"Ne?! Ah, tidak, ssaem. Saya tidak sedang berpacaran dengan siapa-siapa. Saya sedang ingin fokus kuliah saja."
"Ah, begitu.. Tapi kudengar Kookie sedang dekat dengan Kim Taehyung."
Dia dengar dari mana?—"Oh.. Kalau itu, sih, kami memang dekat. Tapi sejauh ini kami berteman baik saja, ssaem, bersama dengan Im Nayeon dan Park Jimin."
"Begitu? Ssaem pikir kalian pacaran. Tapi kau pernah pacaran, kan?"
Jungkook mengangguk.
"Lalu, menurut Kookie, Namjoon itu orangnya seperti apa?"
Mwoya?! Seokjin ssaem tidak sedang berusaha menjodohkan aku dengan Namjoon-ssi, kan?!
Tenang saja, Jungkook. Tentu saja tidak. Mana mau Seokjin berbagi Namjoon dengan siapapun.
"Saya rasa Namjoon-ssi orang yang baik, ssaem.", kata Jungkook.
'Baik' adalah kata yang sangat luas.
'Baik' dapat berarti elok, patut, teratur, apik, rapi, berguna, tidak jahat, selayaknya, atau sepatutnya.
Dan entah makna yang mana yang dimaksud Jungkook ketika ia mengatakan Namjoon adalah orang yang baik.
'Baik' juga bisa menjadi jawaban pelarian ketika ditanya pertanyaan seperti itu oleh seseorang. 'Baik' adalah jawaban yang paling aman.
'Baik' adalah jawaban yang paling aman.
Disaat Jungkook mulai merutuki dirinya karena menjawab dengan terlalu general, Seokjin malah mengiyakan pendapat Jungkook.
"Benar. Namjoon memang orang yang baik. Dia sangat perhatian dan enak diajak mengobrol. Tidak seperti suami ssaem. Dia tidak mengerti sastra, jadi ssaem tidak punya bahan obrolan dengannya."
Obrolkan anakmu yang bermasalah itu, Seokjin.
"Oh, begitu, ssaem. Hehe.", Jungkook tertawa kikuk karena tidak tahu harus menjawab apa.
"Kookie, kalau seorang namja menyukaimu, tandanya seperti apa, sih?"
Mata Jungkook membelalak. Sedikit.
Jungkook tidak mau ketahuan terkejut... karena ia tahu arah pembicaraan ini akan ke mana.
"Jika seorang namja menyukai kita.. Dia akan lebih perhatian, lebih mementingkan kita di atas segalanya, sering mengajak bertemu, jika sedang bersama hanya fokus pada kita. Dan kalau mau lebih mudahnya, sih, kita bisa lihat dari sorot matanya. Karena mata bisa menunjukkan sesuatu yang mulut tidak bisa."
"Wah.. Aku tidak tahu kalau Kookie sedewasa ini.", gumam Seokjin.
"Ah, saya masih jauh dari kata dewasa, ssaem. Masih harus banyak belajar.."
"Namjoon juga seperti kamu. Dia dewasa sekali, loh, Kookie.."
"Oh, ya, ssaem?", tanya Jungkook sok penasaran.
Jungkook hanya bertanya pertanyaan retorik. Yang disambut oleh celotehan panjang selama berjam-jam oleh Seokjin.
"Iya.. Namjoon itu...—"
Dan obrolan dengan topik utama Namjoon pun berlanjut hingga tiga jam kemudian.
Sebenarnya Jungkook lelah sekali karena ia baru tiba dari Daegu dan langsung meluncur ke Takeout Drawing ketika Seokjin mengirim pesan singkat padanya. Tapi, tidak mungkin, dong, ia menolak permintaan Seokjin. Bisa membahayakan beasiswanya. Begitu pula dengan sekarang. Ia tidak berani menghentikan ocehan Seokjin tentang Namjoon walaupun sebenarnya ia sudah muak. Akhirnya, ketika dirasa sudah mendekati jam bis terakhir beroperasi, Jungkook punya alasan untuk kabur dari Seokjin. Ia pun pamit pulang.
Di dalam bis, sepulangnya dari Takeout Drawing, Jungkook yakin sekali kalau ada sesuatu yang tidak normal di antara Seokjin dan Namjoon.
.
.
.
.
"Kenapa tadi menggenggam tangan Jungkooknya lama sekali?"
"Apa kau cemburu, ssaem?"
Seokjin tidak menjawab dan hanya menatap Namjoon dengan raut wajah kesalnya.
Namjoon mengeratkan pegangan tangannya pada tangan Seokjin dan mengelus pipi Seokjin dengan tangan yang satunya lagi.
"Kau cemburu. Dan kau manis sekali kalau sedang cemburu."
Namjoon pun bangkit dari duduknya dan mencium pipi Seokjin.
"Tolong jangan cemburu pada Jungkook. Hanya kau satu-satunya wanita yang kuidam-idamkan."
Pipi Seokjin memerah.
"Aku harus pergi sekarang, akan ku chat saat aku sudah di mobil."
Seokjin mengangguk dan pergilah Namjoon dari kafe Takeout Drawing.
.
.
.
Ω
.
.
.
TBC
*NOTE: id, superego, dan ego adalah teori unconsciousness yang dibuat oleh Sigmund Freud. Silakan googling untuk lebih jelasnya.
Howaaa maafkan aku reader-nim. Updatenya kelamaan yaaa?
Awalnya aku agak mentok gitu sama cerita ini. Aku udah tau endingnya tp pengembangan konfliknya susaaah.. :(
Karakter seokjin terlalu ribet huhuhu /aku yang bikin aku yang kerepotan/
Terus sebenernya minggu kemarin udah beres aku ketik chapter yg ini. Tapi filenya crash. Jadi ilang. Dan aku bete. Hahaha
Untung saja moodku bisa kembali.
BTW. Masih pada nungguin ep ep ini ga? :')
