DESTINY
.
.
.
Gomenasaiiiiiiii…. Maaf update lama
Ini karena koneksi author ke fanfic terkena internet positif, entah karena apa author juga nggak tau. Hal ini sampai bikin author putus asa dan akhirnya menghapus file yang sudah author ketik. Tapi untunglah pada akhirnya author Gaje ini bisa mengakses fanfiction lagi dan memulai mengetik kembali fanfic ini.
Entah apakah para raders akan merasa ilfil dengan author yang satu ini dan apakah readers masih akan tetap membaca fanfic saya, saya tidak tahu jawabannya tapi author tak bertanggung jawab ini tetap ingin meminta maaf dan melanjutkan fanfic ini.
Gomenasaiiiiiiiii…..
.
.
.
Destiny by Elisa Yumi
Warning: Cerita Gaje, alur kecepetan, typo, OOC, dan lain-lain
Kuroko no Basuke is not mine, but this fanfic is my imagination.
So Happy reading
Chapter 10
Akashi terus menatap sayang pemuda yang sudah terlelap disampingnya sedari tadi. Ia bahkan tidak bergerak sama sekali dari posisinya saat menyadari pemuda disampingnya sudah terlelap dan kepalanya saat ini sedang bersandar di bahu sang surai merah.
"Wahhh, pasangan sesama jenis memang sudah eksis rupanya…" terdengar sebuah suara dari samping tempat duduk Akashi dan Kuroko. Akashi melirik ke arah orang tersebut, ternyata ada 2 orang wanita yang sudah lumayan berumur sedang menatap ke arah mereka.
"Kyaaa, mereka tampak serasi sekaliiiiiii." Kata teman dari ibu yang tadi berbicara.
"Menurutmu siapa yang berperan sebagai gadisnya?" ujar ibu yang pertama.
Akashi hanya menatap mereka dalam diam dan tampaknya mereka tidak akan berhenti membicarai Akashi dan Kuroko. Namun tetap saja pembicaraan ibu-ibu itu mengundang senyuman Akashi.
"Aku berani bertaruh kalau yang menjadi pihak dominan adalah si rambut merah, dan pihak yang menjadi gadisnya adalah yang berambut biru. Bagaimana menurutmu?"
"Bertaruh? Bagaimana mau bertaruh kalau kita bahkan tidak tau bagaimana membuktikannya? Lagipula aku juga berpikiran hal yang sama…"
Akashi kembali menatap Kuroko sambil tersenyum memperlihatkan rasa sayangnya pada pemuda yang masih terlelap di sampingnya. Ia tidak lagi memperdulikan orang-orang itu. 'Bahkan manusia yang sangat bodoh tahu bahwa aku memang sangat cocok denganmu…' ujar sang surai merah didalam hati.
Entah telah berapa lama ia memandang sang surai biru yang sedang tertidur dengan pulasnya, tiba-tiba terdengar suara dari speaker bus yang mereka tumpangi, memberi tahukan bahwa sebentar lagi mereka akan tiba di Okinawa.
Akashi sedikit menggerakkan badannya dan langsung membuat sang icy blue yang tadi terlelap sedikit bergerak, nampaknya dia sedikit terusik dengan pergerakan Akashi. Dengan lembut, Akashi membelai pipi mulus Kuroko. Belaian Akashi sangat lembut, seakan jika ia tidk selembut mungkin, ia akan merusak apa yang sedang ia sentuh.
"Tetsuya… kita sudah hampir sampai." Ujarnya lembut mencoba membangunkan Kuroko dengan penuh kasih sayang.
"Hmmm…" Kuroko masih tetap menutup matanya.
"Tetsuya…" Ujar Akashi lagi, masih dengan nada yang sangat lembut.
"Akashi-kun…" Kata Kuroko yang mulai terbangun. Ia mengusap matanya dan mulai menegakkan tubuhnya.
"Ayo kita siapkan barang-barang… sebentar lagi kita sampai." Ujar Akashi.
Kuroko mengangguk masih dengan mengusap matanya. Oh… Akashi langsung mengerahkan sekuat tenaganya untuk tidak memperlihatkan semburat merah di pipinya saat melihat Kuroko dengan gaya yang menggemaskan seperti saat ini.
Akashi segera bangkit dari duduknya dan mulai mempersiapkan barang-barang mereka dibantu dengan Kuroko yang baru saja bangun dari tidurnya. Tepat saat mereka selesai membereskan tas masing-masing, bus yang mereka tumpangi berhenti, pertanda bahwa mereka sudah sampai di tempat pemberhentian bus di Okinawa. Langsung saja Kuroko dan Akashi membawa tas mereka dan turun dari bus lalu mulai perjalanan selanjutnya menuju Tempat yang akan mereka tempati di Okinawa selama 3 hari.
{}
Kediaman Hoshino
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang ssu?" ujar Kise.
"Kita harus memikirkan rencana baru. Tidak mungkin menggunakan rencana sebelumnya jika Kuroko Tetsuya tidak berada di Tokyo…" Ujar Kagami.
"Berapa lama?" ujar Hoshino yang terdengar seperti orang yang putus asa. "Berapa lama Kuroko-kun akan berada di Okinawa?" lanjut gadis itu.
" 3 hari, itu yang ibu Tetsu katakan padaku." Kata Aomine.
"Baiklah kalau begitu… kita akan menyusul mereka ke Okinawa. 3 hari pasti akan menjadi hal yang sangat berharga untuk Akashi agar ia dapat melakukan sesuatu kepada Kuroko-kun." Kata Hoshino.
"Dan aku tidak ingin dia mendapatkan kemewahan seperti itu… Besok kita akan berangkat ke Okinawa untuk menyusul mereka." lanjut Hoshino.
"Tapi kita tidak tahu dimana Kuroko berada…" Kata Kagami lagi.
"Memang-nya aku tidak tahu kekuatanmu dapat membantuku dalam hal apa, Bakagami. Aku tahu… dan karena itu aku memintamu untuk membantuku." Ujar Hoshino sinis. Jika bukan karena Momoi yang memintanya, Kagami tidak mungkin berada disini untuk membantu Hoshino. 'Tch, menyebalkan' kata Kagami dalam hati.
{}
Di salah satu tempat di Okinawa
"Selamat datang, Kuroko-sama. Silahkan menikmati liburan anda selama berada disini. Tempat ini merupakat tempat pribadi anda yang sudah disiapkan khusus untuk anda dan juga pasangan anda, jadi tidak akan ada tamu lain yang menginap. Kami akan menjadi pelayan pribadi anda selama berada di sini. Namaku Kirin." Kata seorang gadis pelayan sambil tersenyum dengan sangat manis didepan Kuroko dan Akashi. Bahkan pelayanpun setuju jika Akashi dan Kuroko memang cocok menjadi pasangan, sungguh dunia benar-benar sudah mendukung mereka.
"Dan nama saya Shizuru. Anda bisa mengatakan pada kami jika anda membutuhkan bantuan, kami akan melakukan apapun yang anda katakan." Kata pelayan yang lain.
Awalnya Kuroko mengira bahwa mereka salah tempat, bagaimana tidak? Di depannya terdapat tempat penginapan yang bangunannya bergaya tradisional jepang namun sangat luas dan nampak mewah, lalu 2 orang berpakaian pelayan tiba-tiba datang dan mengatakan bahwa tempat seluas ini khusus untuknya dan juga Akashi. Memangnya berapa banyak uang yang otou-san dan juga okaa-sa nya keluarkan. Dan kalau begini, kenapa hanya diberikan 2 tiket menginap? Bukankah bisa langsung memberi tahu Kuroko agar dia bisa langsung saja mengajak Aomine dan Kise, juga meminta Akashi-kun mengajak temannya.
Setelah perkenalan dengan 2 orang yang mengaku sebagai pelayan Kuroko selama berada di tempat ini, mereka diajak untuk melihat-lihat tempat yang akan mereka tinggali. Beberapa kali Kuroko melirik ke arah Akashi yang sedari tadi tidak mengeluarkan suaranya. Namun Akashi nampak tenggelam didalam pikirannya sendiri sehingga Kuroko memilih tidak mengajak Akashi berbicara. 'Mungkin ada hal penting yang sedang Akashi-kun pikirkan.' Batin Kuroko.
"Dan ini adalah kamar yang dapat anda tempati, anda bisa memilih yang mana saja yang anda inginkan. Kami akan pergi. Jika anda ingin memanggil kami, didalam kamar terdapat bel yang akan langsung mengarah ke tempat kami sehingga kami akan secepat mungkin datang untuk menerima perintah. Selamat menikmati liburan anda." Kata Kirin lalu membungkuk dan diikuti oleh Shizuru. Kemudian mereka melangkah pergi.
"Akashi-kun akan memilih kamar yang mana?" Tanya Kuroko yang langsung membuyarkan lamunan Akashi.
"Hmmm?" gumam Akashi, jujur saja ia tidak mendengarkan Kuroko dengan baik.
"Akashi-kun ingin kamar yang mana?" Kata Kuroko lagi seakan mengerti maksud gumam-an Akashi tadi.
"Kau pilih saja deluan Tetsuya, aku akan memilih kamar tepat disampingmu. Karena aku disini sebagai pendampingmu…" Kata Akashi yang tersenyum sangat manis. Seketika semburat merah muncul di pipi putih Kuroko.
"Kalau begitu aku memilih kamar itu…" Kata Kuroko menunjuk sebuah pintu yang hanya sendiri di ujung lorong-lorong tempat mereka berada sekarang. Entah mengapa kamar itu sangat menarik perhatian sang icy blue.
Akashi membulatkan matanya, namun itu hanya sebentar karena dia telah memasang topeng poker face nya lagi. Dia tidak menyangka bangunan ini masih ada, bahkan dia tidak menyangka bahwa Kuroko akan memilih kamar itu. Memang benar bangunan ini sudah agak berubah, tetapi sebagian besar masih sama seperti yang Akashi ingat. Yah, rumah ini adalah rumah Tetsuya-nya dulu. Kembali ke tempat penuh kenangan bersama Tetsuya sungguh mengejutkan untuk Akashi. Disinilah ia bertemu dan mulai dekat dengan Tetsuya. Mungkin ini adalah takdir sehingga ia dan Tetsuya-nya kembali ke tempat ini.
"Kalau begitu, aku memilih kamar disana." Kata Akashi menunjuk kamar yang paling dekat dengan Kuroko. "Karena hanya kamar itu yang paling dekat denganmu" lanjutnya.
"B-baiklah Akashi-kun…" Kata Kuroko sambil membalikkan wajahnya ke arah lain agar Akashi tidak melihat wajahnya yang sudah memanas karena perkataan pemuda bersurai merah itu. Kuroko lalu membawa tasnya dan segera masuk ke dalam kamar, meninggalkan Akashi yang masih menatapnya.
Degh… Degh… Degh…
'Perasaan apa ini? Kenapa aku jadi begini?' batin Kuroko sambil memegangi dadanya setelah ia masuk ke kamarnya dan menutup pintu itu.
"Tetsuya…" terdengar suara Akashi tiba-tiba.
"…"
"Ayo ke pemandian air panas setelah selesai mengatur semua barang-barang. Aku akan menunggumu jadi kita dapat pergi bersama." Kata Akashi lagi.
"baiklah Akashi-kun…" Kata Kuroko setelah berhasil menata debaran di hatinya.
Terdengar langkah Akashi yang mulai menjauh. Saat langkah itu sudah tak terdengar lagi, Kuroko menekan tombol lampu dan yang ia lihat….
{}
Skip Time
Akashi sudah selesai merapihkan barang-barangnya dan sekarang sedang menunggu Tetsuya didepan kamar sang malaikat biru kesayangannya itu. Entah mengapa, Akashi merasakan ada firasat buruk. Sudah 30 menit dia menunggu, namun suara Kuroko sama sekali tidak didengar olehnya. Akhirnya Akashi memutuskan masuk ke dalam kamar itu dan pikirannya langsung ke masa yang sangat ingin ia lupakan.
Flash back
Saat itu Akashi berada di sebuah taman yang langsung terhubung dengan pintu kamar sang pujaan hati. Bunga sakura yang berguguran menemani Akashi yang sedang berdiri di depan pintu yang selalu ia masuki untuk bertemu Tetsuya-nya.
"Tetsuya…" panggil Akashi di depan pintu menuju kamar malaikatnya.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar, sungguh sesuatu yang bahkan tidak pernah terjadi. Biasanya Tetsuya akan langsung menjawab Akashi. Atau kalau tidak Tetsuya akan langsung menyambut kedatangan Akashi di depan pintu. Apalagi Akashi datang di waktu yang seperti biasa jadi tidak mungkin Tetsuya sudah terlelap.
Ada sebuah perasaan yang mengganjal di dada Akashi, membuat pemuda itu langsung melangkahkan kakinya ke arah pintu dan mendorongnya sampai pintu itu terbuka. Mata Akashi seketika membulat melihat pemandangan di depannya.
Tetsuya-kun… Suki
Kau milikku, Tetsuya-kun
Aku melihatmu bersama iblis bernama Akashi hari ini... Aku ingin, ingin, ingin membunuhnya karena merebutmu dariku….
Kamu milikku, Tetsuya-kun….
Kalau kau mau dia hidup, temui aku. Di tempat aku dulu membawamu…
Hontoni aishiteru, Tetsuya….
Semua kata itu tertulis menggunakan darah di dinding-dinding ruangan. Akashi langsung panic, ia segera mencari dimana Tetsuya-nya berada. Matanya menjelajahi setiap sudut ruangan yang sekarang nampak sangat menakutkan. Padahal Tetsuya selalu menjaga kamarnya agar terlihat sangat nyaman untuk ditempati. Dengan keadaan kamar Tetsuya yang seperti ini, tidak mungkin bagi Akashi untuk bisa tenang.
Saat Akashi tidak mendapatkan Tetsuya, segera ia berlari lalu mengembangkan sayapnya untuk mencari dimana Tetsuya berada.
End Flash Back
Sebuah pergerakan yang terlihat dari balik pintu tradisional jepang yang mengarah ke taman di luar kamar langsung menarik perhatian Akashi dari lamunannya. Segera ia berlari lalu menggeser pintu itu sampai terbuka. Diliriknya setiap bagian taman yang ada diluar namun tidak ada siapa-siapa yang tertangkap oleh matanya. Padahal ia sangat yakin bayangan yang tadi ia lihat merupakan bayangan manusia yang sedang berlari, namun dimana orang itu sekarang?
Tiba-tiba Akashi teringat sesuatu yang sangat penting yang ia lupakan. Bahkan lebih penting dari nyawanya sendiri. Bagaimana keadaan Tetsuya-nya? Segera Akashi kembali ke kamar tadi dan mendapati Tetsuya yang terikat dan dalam keadaan tidak sadarkan diri di sudut kiri ruangan tersebut. Segera Akashi berlari ke arah pemuda bersurai biru itu.
"Tetsuya… sadarlah." Ucap Akashi khawatir.
Tidak ada respon yang diberikan oleh pemuda itu. Segera Akashi membuka ikatan yang mengikat kedua tangan dan kaki Tetsuya lalu menarik salah satu dari dua tali yang cukup dekat dengan mereka. Tali untuk memanggil Kirin dan sizuru.
Tidak beberapa lama, kedua pelayan itu datang. Sama seperti Akashi, mereka terihat sangat kaget saat mendapati kamar itu nampak seperti saat ini.
"Dimana ruang kesehatan?!" Kata Akashi yang tidak dapat lagi menyembunyikan kepanikannya.
"Akan kami tunjukkan…" Kata Kirin dan Shizuru bersamaan, sama paniknya seperti Akashi.
Akashi lalu menggendong Tetsuya dan mengikuti Kirin dan juga Shizuru yang berlari didepannya. Sekarang perasaannya tidak dapat diutarakan dengan kata-kata. Panic, khawatir, gelisah, takut, semua perasaan itu seakan bercampur menjadi satu di dadanya saat ini. Ia bahkan sampai tidak merasakan ada seseorang sedang berseringai menatap mereka dari bayangan pohon sakura.
"You will like my next show for you…" ujar orang yang bersembunyi di balik bayangan.
To Be Continue
.
.
.
Ini nggak panjang, tapi saya harap readers menikmati.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya ^_^
