King's Cross, seperti yang selalu Tazaki dapati setiap kali berada di sana, gempita dengan lalu-lalang manusia hingga pada satu titik, ia hampir tidak bisa membedakan stasiun itu dengan bandara. Jujur saja, meski sering menemani Kaminaga pergi ke stasiun kereta atau tempat-tempat yang dipenuhi orang lainnya, ia tetaplah bukan pecinta keramaian. Memang tidak jarang ada hal menarik—ia telah belajar dari sahabatnya bahwa mengamati orang-orang yang lewat bisa jadi hiburan tersendiri—tapi kalau memang disuruh memilih, bersantai di tempat yang lebih tenang tetaplah preferensinya, seperti taman, misalnya. Taman yang banyak merpatinya, lebih tepatnya lagi.
Bangunan berbata merah yang ada di seberang stasiun memang mengingatkannya pada Stasiun Tokyo, tapi isi King's Cross sama sekali berbeda. Ada sesuatu yang lebih harmonis dari tiang-tiang besi futuristik serta susunan bata cokelat mudanya, dan ada yang lebih menarik dari penataan toko suvenir juga restorannya. Ditambah yang ia tahu pasti, tidak ada Peron 9¾ di Stasiun Tokyo, sementara atraksi pengunjung yang ada di King's Cross itu langganan didatangi penggemar Harry Potter untuk berfoto. Sembari berjalan ke salah satu kursi tunggu, ia ingat kalau hampir dua setengah tahun yang lalu, Kaminaga pernah menyeretnya ke titik yang sama. Mereka memang sudah melewati fase terobsesi serial magis itu, tapi kalau ada kesempatan, pasti tidak mau ketinggalan mengabadikan.
Ia mengembuskan napas panjang—padahal baru juga di stasiun, tapi ia sudah lagi-lagi teringat Kaminaga. Hanya ketika mereka sedang berjauhan Tazaki tersadar seberapa sering ia mengingat serta memikirkan pemuda itu, dan berakhir kasihan pada dirinya sendiri. Tidak punya kehidupan, ya, Tazaki, ia mengutuk, kerjamu kok cuma mengurusi Kaminaga saja? Diusahakannya untuk mengalihkan kepala ke hal acak lain—kumpulan orang lewat, trik-trik sulap yang mau ia tunjukkan pada para keponakannya nanti, juga nama semua merpati liar yang ia jadikan peliharan tidak resmi—lumayan berhasil, tapi sejujurnya ia merasa rela memberikan apa saja asalkan bisa melihat Kaminaga sekarang.
Memang sih yang namanya realita itu tidak sejalan dengan serial televisi. Tazaki hampir berharap kalaupun pemuda itu tidak datang sekarang, akan ada adegan kejar-kejaran dramatis nanti ketika ia hampir naik kereta. Bisa dibayangkannya kamera menyorot berbagai hal dengan cepat seperti sedang membuat montase, musik di latar belakang berubah cepat serta menegangkan, lalu fokus penonton diarahkan ke Kaminaga yang baru menyadari kalau ia ternyata mencintai sahabatnya balik. Warna bercampur, emosi beradu. Di antara deru napas serta gema jantung ia akan berlomba dengan detikan jam dan langkah kaki, mengejar Tazaki yang nyaris pergi, menghentikannya di saat-saat terakhir, meneriakkan namanya—
"Tazaki!"
Ia baru sampai di posisi setengah duduk ketika gerakan tubuhnya berhenti, alisnya berkerut; serindu itukah ia pada si Kaminaga sial itu? Pastinya iya, karena sekarang Tazaki benar-benar bisa mendengar suaranya di luar sekadar imajinasi.
"Tazaki—oi, Tazaki!"
Si rambut hitam menoleh ke asal suara, dan mulutnya seketika nyaris menganga, karena nyatanya, Kaminaga memang berada di sana, sedang berlari ke arahnya dengan kecepatan penuh. Beberapa orang sempat menoleh untuk melihat ada heboh-heboh apa, tidak lama, tapi membuat Tazaki ingin langsung pura-pura tidak kenal saja. Toh akhirnya, ia hanya berdiri di sana karena tidak yakin harus bagaimana.
Begitu tiba di hadapannya, Kaminaga menarik napas dengan berisik lalu menumpukan tangannya di kedua lutut, punggungnya naik-turun tidak keruan. Tazaki menunggu hingga paru-paru sahabatnya sedikit menenang sebelum akhirnya bertanya, "Kaminaga? Ada apa?"
Nyaris tanpa jeda, pemuda itu menegakkan badan dan mencengkeram kedua bahunya. "Jangan pergi!"
"Eh?"
"Jangan, pergi," Kaminaga mengulang dengan penekanan, "demi apa pun, jangan pergi."
"Tapi—"
"Sssh, dengar, aku tahu apa yang mau kau katakan, tapi dengar dulu," ia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "aku salah, oke?"
"Baiklah, kau salah." Tazaki membeo. "Salah apa?"
Kalau memang memungkinkan, ia pikir wajah Kaminaga tambah frustrasi saat itu juga. "Aku salah karena aku kira aku bisa hidup tanpamu, damn it!"
"Suaramu terlalu keras barusan."
"Oh ya, maaf—eh, kau tadi mendengarku tidak, sih?"
"Aku dengar kok," kata Tazaki, "kau tidak bisa hidup tanpaku. Aku juga tidak bisa hidup tanpamu. Sahabat memang sudah sewajarnya begitu, kan? Kalau kau repot-repot mengejar sampai ke sini cuma buat memberitahuku itu, sebenarnya lewat telepon kan juga bi—"
Tangan Kaminaga, yang sebelumnya bahkan tidak ia sadari masih berada di pundaknya, mendadak naik ke kedua sisi wajah Tazaki, memakunya di tempat ketika pemuda itu memutuskan untaian kalimat dari bibirnya dalam sebuah ciuman.
Dunia di sekeliling mereka seketika menghilang.
Tazaki telah memimpikannya sejak lama. Di antara angan-angan sambil lalu kala siang yang membosankan atau dalam mimpi-mimpi malam hari yang menyesakkan. Setelah ia hampir mencium sahabatnya di taman waktu itu, Tazaki memang tidak bisa melepaskan benaknya dari hal lain, tapi sesungguhnya ia telah membayangkannya sepanjang yang ia bisa ingat; tentang seberapa lembut bibir Kaminaga atau kehangatan napasnya ketika jarak di antara mereka habis, tentang tangan yang terasa begitu pas seakan memang diciptakan untuk saling menaut, tentang dunia yang menghilang—seperti sekarang—kala kulit bersentuhan dan tubuh melekat—oke, itu sudah agak terlalu jauh dan kadang ia merasa berdosa karena telah memikirkan. Namun sekarang, saat awal dari segala fantasi gilanya benar-benar kejadian, otaknya justru macet, gagal memproses, berhenti di tengah jalan. Ada sesuatu—banyak hal, sebenarnya—yang tidak Tazaki pahami dan sebelum ia selesai menyusun realita bersama logikanya, mimpi siang bolong itu berhenti.
Kaminaga menjauhkan wajahnya sedikit, tidak sampai sejengkal, tapi rasanya setiap saraf Tazaki berteriak ingin mereka bersama lagi. Pemuda itu terlihat berantakan, dan pipinya agak bersemu—entah hanya karena habis berlari atau tambah campuran malu juga—namun ketika bicara suaranya begitu rendah… dan apa itu posesif? Shit, Tazaki tahu ia sudah tidak akan bisa berbalik lagi begitu merasakan sesuatu jatuh ke dasar perutnya—entah apa itu, mungkin resolusinya selama hampir tiga minggu terakhir.
"Yang seperti ini tidak akan bisa lewat ponsel," ujar Kaminaga, matanya cokelatnya tidak mengedip, "paham maksudku, sekarang?"
"Keretaku kurang dari sejam lagi, Kaminaga," Tazaki melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanan, "tolong bilang padaku kalau ini tidak akan lama."
"Oh, diamlah." Si pemuda berambut cokelat menyorongkan segelas teh hangat lemon ke tangannya, lalu membawa pesanannya sendiri ke salah satu meja di ujung ruangan. Kafe itu lumayan penuh, tapi mereka masih bisa menemukan tempat untuk bicara tanpa merasa terlalu terekspos. "Biasanya kan kau yang selalu rela berlama-lama denganku."
"Biasanya juga kan, aku tidak harus naik kereta yang tiketnya tidak bisa ditukar."
"Kau mau pergi ke mana sih, omong-omong?"
"Kau sudah sampai sini pun masih tidak tahu aku sebenarnya ke mana?"
"Begini, waktunya mepet, aku tidak sempat bertanya soal itu," bela Kaminaga, "aku harus menyusul Jitsui dan segala macamnya dulu tadi, dan kita tahu dia itu orang yang seperti apa. Semakin dia lihat aku menderita, semakin iblis kecil itu bicara berputar-putar!"
"Ah," kata Tazaki, "kau tahu aku di sini dari Jitsui?"
"Ya, atau dengan kata lain, aku baru saja menjual jiwaku pada iblis demi informasi tentangmu," Kaminaga mengistirahatkan punggungnya di sandaran kursi, "setidaknya hargailah aku sedikit."
"Sebenarnya sih, kau selalu bisa pakai ponsel—"
Ia mengangkat tangan. "Oke, cukup sampai di situ, Tazaki. Kau membuatku merasa makin bebal saja."
Tazaki tersenyum, sungguh-sungguh kali ini. Ia masih belum bisa menyambungkan segala hal yang terjadi, tapi sedikit demi sedikit ia mungkin bisa menebak ke mana semuanya mengarah. Disesapnya teh lemon yang dibelikan Kaminaga untuknya, sementara matanya berlompatan ke kaca yang menjadi dinding kafe. Rasanya tidak ada yang berubah saja, seakan mereka hanya sedang duduk-duduk seperti biasa di salah satu tempat makan baru, mencoba menu dengan asal, mengomentari orang-orang yang datang, mengamati interior sementara Kaminaga mencari lusinan objek kecil untuk difoto.
"Aku hanya merasa tidak etis saja kalau tidak bicara langsung," kata Kaminaga, "karena sampai beberapa saat yang lalu kau masih tidak percaya pada… yah, tahulah, pada bagaimana perasaanku padamu, karena kita selalu terjebak di omong kosong bernama status sahabat atau apalah itu." Ia menenggak tehnya sendiri, hampir menandaskan setengah dari isi gelas sekaligus. "Jadi kupikir, perlu ada dramatisasi sedikit supaya kau yakin kalau aku sungguh-sungguh."
"Cara pikirmu itu… aneh, ya, Kaminaga—tapi unik sih, aku selalu terkesan."
"Aku tidak mau mendengar itu dari cowok yang bicara pada merpati."
"Kuanggap saja itu pujian."
"Terserah." Kaminaga tertawa pelan. "Jadi, kau mau ke mana?"
Meski terkesan gampang dialihkan, Kaminaga sesungguhnya jauh lebih keras kepala dari yang kebanyakan orang sangka. Ia bisa saja tertawa-tawa dan terlihat tidak peduli, tapi sekali ia memutuskan sesuatu, fokusnya tidak pernah bergeser. Tazaki tahu pemuda itu akan mendesaknya sampai ia diberitahu—yang tidak jadi masalah, sebenarnya, karena bukannya ia punya apa-apa juga untuk disembunyikan.
"Bristol."
"Huh, ada apa di Bristol?"
"Kau ingat bibiku yang pernah berkunjung di tahun pertama kita, yang tinggal di Birmingham?"
"Yang cantik itu, kan? Tentu."
"Apa cuma itu bagian yang menurutmu penting buat diingat?"
"Well…."
"Aku tidak akan berkomentar soal kebiasaanmu menggoda wanita-wanita bersuami—jangan menyangkal dulu, bukan itu inti pembicaraannya—jadi biar kuselesaikan," ujar Tazaki, "singkatnya, April lalu pamanku pindah kerja ke Bristol, termasuk bibi dan keponakan-keponakanku. Mereka sudah mengundangku berkunjung sejak awal, tapi sewaktu liburan musim panas kemarin aku batal ke sana." Ia tidak menyebutkan kalau alasannya tidak jadi pergi adalah karena persis di musim panas itu juga, sahabatnya sedang benar-benar patah hati karena Miyoshi baru saja berangkat pertukaran pelajar ke Jerman dan tentu saja, sama sekali tidak terpikirkan oleh Tazaki untuk meninggalkan Kaminaga sendirian meskipun itu hanya beberapa hari. "Tahun baru ini aku diundang lagi, tidak enak kan kalau menolak terus, jadi kupikir, ya sudah aku datang saja."
Kaminaga mendengarkan sembari menumpukan dagunya di kedua tangan, memandang Tazaki dengan tatapan yang hampir terlihat seperti petugas sedang menginterogasi. "Oh, jadi begitu."
"Ceritaku sebegitu menariknya, ya?" tanya Tazaki sarkastis, tapi sama sekali tidak ada nada tajam dalam suaranya, beda dengan Miyoshi ketika menyindir. Ia tidak bisa seketika membuat Kaminaga jengkel atau penasaran atau mencampuradukkan perasaannya seperti yang Miyoshi lakukan, karena pada dasarnya sifat mereka memang berbeda. Tazaki selalu tenang dan penuh kendali, mirip permukaan danau di hari tanpa angin. Mungkin karena itu juga Kaminaga tidak benar-benar menyadari perasaanya di awal, sebab ia adalah pemuda yang secara natural mencari tantangan, dan karenanya langsung tertarik pada Miyoshi yang lebih mirip lautan kala badai.
"Bukan begitu," kata Kaminaga, "maksudku, 'oh, begitu, jadi itu alasanmu pergi'. Bukan karena diundang makan-makan romantis di pinggir kanal oleh Amari atau yang semacam itu?"
"Tunggu," Tazaki mengerjap, "apa hubungannya semua ini dengan Amari?"
"Karena ini Amari?" Sebelah alis pemuda yang duduk di seberangnya terangkat, entah kenapa malah nada suaranya yang sekarang berubah sarkastis. "Amari lho, yang kerabatnya mengelola hotel di Bristol jadi dia selalu ke sana setiap liburan untuk penelitian?"
"Aku bahkan tidak tahu kalau Amari punya kerabat di Bristol."
"Kau tidak tahu? Well, sekarang kau tahu"—Kaminaga mengatupkan mulut, matanya terlihat sekaan ia baru saja menyadari sesuatu, lalu bibirnya kembali membuka—"sebentar, jadi kau pergi ini memang tidak ada hubungannya dengan Amari, ya?"
"… memang tidak. Sebenarnya ada apa sih, Kaminaga?"
"Ada apa?" Suara Kaminaga meninggi, bukan dalam nada marah, tapi lebih ke frustrasi. "Yang bebal di antara kita berdua sebenarnya siapa, sih? Apa masih kurang jelas kalau dari awal aku cemburu?"
"K-kau?"
"Siapa lagi?!"
Entah siapa yang lebih dulu memulai, tapi tahu-tahu tawa keduanya sudah meledak. Bersyukur meja mereka berada di pojok ruangan yang agak terhalang pot tanaman, Tazaki mati-matian menahan tawa hingga matanya berair, sementara Kaminaga sudah tidak tertolong. Semakin pemuda berambut cokelat itu tergelak, semakin juga ia tidak bisa berhenti menahan geli. Ada campuran jengkel dan sayang dalam setiap potongan tawanya, dan jujur saja Tazaki tidak yakin harus merasa bagaimana. Namun ia tahu kalau mulai sekarang hubungan mereka akan baik-baik saja, kembali normal (atau mungkin lebih, tapi ia tidak mau mengharap yang aneh-aneh dulu sebelum segalanya jadi pasti).
"Kalau pun ada yang bilang cemburu, itu harusnya aku, kan?"
"Siapa juga bisa cemburu, astaga," Kaminaga masih tertawa, "intinya kita sama-sama cemburu—jangan mengelak, pipimu sudah merah begitu!"
"Kau harusnya lihat wajahmu sendiri, Kaminaga." Tazaki terkekeh, merasa gembira sungguhan untuk yang pertama kalinya selama beberapa minggu terakhir.
"Jadi kembali ke pembicaraan awal," sahabatnya berdeham, "aku salah, bukan hanya karena aku pernah berpikir kita tidak ditakdirkan untuk bersama—"
"Itu bahasa dari opera sabun yang mana lagi?"
Kaminaga menendang kakinya main-main di bawah meja sebelum melanjutkan, "Bukan hanya karena aku mengira begitu, tapi juga karena aku tidak memikirkan perasaanmu. Jujur saja, aku tidak habis pikir bagaimana kau bisa tahan mendengarkanku setiap kali aku membicarakan Miyoshi, padahal cemburu itu benar-benar perasaan yang tidak tertahankan." Ketika sahabatnya hanya tersenyum sebagai tanggapan, ia melanjutkan, "Maaf ya, normalnya kan memang orang-orang yang cemburu saat aku sedang bersama yang lain—aku terlalu tampan sih—jadi aku tidak begitu paham cemburu itu rasanya bagaimana."
Si rambut hitam berpura-pura tidak mendengar bagian yang narsis dan menanyakan hal yang lebih penting, "Jadi, kau sudah sampai sini sekarang dan mengatakan apa yang mau kau katakan. Aku juga sudah mengerti. Lalu, mau bagaimana?"
"Bagaimana?" Kaminaga memiringkan kepalanya sedikit, sesaat terlihat bingung, sebelum senyumnya berubah nakal. "Aku maunya sih kau berlari ke pelukanku dan kita menangis berdua sambil menyatakan sumpah untuk bersama selamanya, tapi tidak usah yang sedramatis itu juga tidak masalah. Buat sekarang kau jadi pacarku saja sudah cukup kok—berjaga-jaga kalau ada, tahulah, yang benar-benar mengajakmu kencan di restoran romatis sewaktu di Bristol nanti atau apa."
"Kau kedengarannya sudah yakin sekali ya kalau aku bakal mau berpacaran denganmu."
"Tunggu, Tazaki," ia tertawa gugup, "jangan menakuti begitu, ah. Tidak mungkin hatimu sudah migrasi secepat itu—pembicaraan kita di supermarket waktu itu tidak berarti apa-apa… kan?"
"Well, normalnya kita pasti mencari tempat yang lebih hangat, kan." Tazaki mengerjap. "Secepat mungkin."
"Tazaki!"
Mereka tertawa bersamaan lagi, meski Kaminaga terus-terusan menatapnya dengan pandangan khawatir, tidak yakin kapan harus mengembalikan percakapan ke soal status mereka sekarang. Tazaki mau membiarkannya begitu dulu sementara, selagi ia menyortir perasaannya sendiri (dan mungkin sedikit "balas dendam", tapi tidak apa kan, orang seperti Kaminaga harus dibuat gundah juga kadang-kadang).
Sembari menyesap tehnya perlahan, ia menyusun potongan informasi yang ia punyai sejauh ini. Jadi Amari sering ke Bristol? Oke, itu hal baru karena ia tadinya sama sekali tidak pernah dengar, tapi kalau dipikir-pikir lagi rasanya lelaki muda itu memang pernah menyebutkan kalau jurusannya adalah manajemen pariwisata atau yang semacam itu, dan tesis masternya berhubungan dengan pelayaran… kapal pesiar, mungkin? Tazaki mencoba menggali apa yang ia tahu soal Bristol, tidak banyak, tapi ia ingat pernah membaca di suatu tempat kalau kota itu terkenal untuk sejarah maritimnya. Ah. Itu menjelaskan sebagian.
"Omong-omong, bagaimana kau bisa tahu Amari sering ke Bristol?" Sampai membuat kesimpulan seperti ini pula.
Kaminaga menandaskan minumnya sebelum menjawab, "Seperti yang kubilang, aku menjual jiwaku pada iblis."
"Dari Jitsui?" Ia mengerutkan alis. "Aku bahkan tidak pernah menyebutkan soal Amari di depannya, memangnya mereka saling kenal?"
Sahabatnya mengangkat wajah, pandangan mereka bertemu. Ada keheningan sejenak sementara roda gigi di dalam kepala mereka berputar hingga ke posisi yang pas, seperti sedang menyambungkan kepingan kesadaran ke puzzle imajiner raksasa. Tazaki mengedip, sekali, dua kali, mengulang kembali semua kejadian beberapa minggu terakhir yang sekiranya mempunyai hubungan. Kaminaga yang pernah melihat Amari di klub basket yang sama dengan Hatano, Hatano dan Jitsui yang baru saja kembali jadi sepasang kekasih, Jitsui yang memberitahu Kaminaga macam-macam. Sekilas memang tidak ada sangkut-pautnya, tapi terkadang hidup bekerja dengan plot twist yang lebih mengesalkan dari roman picisan mana pun.
Sementara mereka terdiam, dunia di sekeliling tetap berjalan; calon penumpang kereta yang berjalan cepat ke arah peron di sisi luar kaca, kasir yang menyerukan pesanan di balik counter, pengunjung kafe yang membawa nampan ke meja. Kaminaga tampak abai akan itu semua, memilih untuk hanya menatap ke depan hingga ada binar di matanya sendiri. Ia hampir bisa mendengar suara klik dari Kaminaga ketika akhirnya pemuda itu berkata, "Oh."
"Iya, oh."
"Kau memikirkan apa yang kupikirkan, kan Tazaki?"
"Kita coba saja," balas Tazaki, "kuhitung, ya. Satu, dua, tiga—"
Mereka berkata bersamaan—"Hatano."
"Hampir jam tiga," bahkan saat mengumumkan itu pun, Tazaki sudah setengah jalan berdiri dari kursinya, "aku benar-benar harus ke peron sekarang atau aku akan ketinggalan keretanya."
"Tunggu." Kaminaga menangkap ujung jemarinya, tidak erat, tapi Tazaki bisa merasakan beban setiap asa yang ia gantungkan di sana. "Kau masih belum menjawabku tadi, jadi sehabis ini, kita bakal bagaimana?"
Tidak akan butuh usaha banyak untuk menghancurkan seluruh harapan itu, dan ia tahu jika ditolak dengan tegas, Kaminaga akan berhenti berusaha dan mereka kembali seperti semula. Tazaki sendiri sesungguhnya masih sedikit meragu, karena kemungkinan Kaminaga hanya impulsif selalu ada dan setelah ini bisa saja berubah lagi, dan pada saat itu terjadi, bisa dipastikan kalau yang lebih sakit hati adalah dirinya sendiri. Namun, ia tidak pernah melihat Kaminaga setakut itu ataupun berusaha sekeras itu untuk sesuatu yang tidak sepenuhnya ia yakini. (Bahkan pada waktu itu pun, Kaminaga tidak nekat mengejar Miyoshi ke bandara di saat-saat terakhir atau menyatakan perasaannya sebelum pemuda itu berangkat, kan?)
Jadi, apakah semua risikonya sepadan?
Ketika manik mata mereka bertemu, ada pengertian yang terjalin lebih cepat dari lisan. Tazaki meremas tangannya.
"Tidak perlu khawatir," ia tersenyum, tulus dan lembut, seperti yang selalu diberikannya, "merpati kota kan tidak bermigrasi, Kaminaga."
