Ok, akhirnya chapter 10 terselesaikan hehehe...

Mengingat padatnya jadwal (hanya alasan :P), author berhasil menyelesaikan fic ini. Sebelumnya Gomen atas keterlambatannya yang amat sangat lama, padahal author bermaksud sebelum menginjak tahun 2012 fic Mobster's Wife sudah terselesaikan. Tetapi apa daya, ternyata di awal 2012 author masih menginjak pada chapter 10.

Meskipun begitu, semoga pada bulan-bulan awal sudah terselesaikan. Yosh, Ganbatte!

.

.

Selanjutnya, terimakasih atas review2x, dan berikut adalah balasan dari review2 sebelumnya:

CrazyApple3122: Arigatou, ditunggu lagi...

Snow: Ok, dah update,...

cherry snow: Yosh, ini dah update...

x: He3. Akting? Kya sinetron aja hehe. Mohon masukannya biar g aneh...

Chini VAN: Ah, Arigatou atas pujiannya, mohon masukannya...

d3rin: Gomen g bisa kilat. Sakura sapa ya kira-kira...?

baru muncul:Iy, Arigatou... Ikutin terus ya

Kamikaze Ayy: He3 kapan ya sarapan author kaya gitu (ngarep). Hmmm rumit ya? Sampai berapa chap author juga belum tahu hehehe

Kazuki Namikaze: Iya hehehe, tapi berhasil digagalkan kok

Me: Ok, ni dah update

Uchiharuno Poetrie: Author juga penasaran apa yang selanjutnya terjadi he3

AinOsaSUsaKu: Wah, makasih atas segala sanjungannya (pundung karna terharu). Soal panjangx akan author usahain he3

Eunike Yuen: Iy, Sai dan Yamato emang bukan Nii-san Sakura ^^ untuk kepastiannya tunggu chap selanjutnya ya...

arisu sashura: Arigatou dah review ^^ ditunggu lagi

Tabita Pinkybunny: Hmm apa ya he3... yang pasti untuk kepuasannya mbah Danzo sendiri (jadi ikut2an manggil mbah)

RestuChii SoraYama: Yah, Sakura udah dibilangin author kok, tapi tetep bandel he3 (dishannaro ma Saku)

Sindi 'Kucing Pink: slam knl jg. Makasih udh review, sebenernya author jg lebih sering jadi silent rider hehe. Habis bingung mau komen apa. N author baru tau baca fic bisa sampe ngefly hahaha

Rex: he3, authhor jg berharap akan happy ending. Arigatou, ini udh update lg.

.

Ok, selanjutnya selamat membaca, dan semoga semua reader dapat menikmatinya.^^

.

.

Disclaimer : Masashi Kisimoto

Pair : Sasuke & Sakura

Story : Artwing San

Genre : Romance & Drama

Rated : Semi M (masih bingung nentuinnya)

.

.

.

Chapter 10

"Enggh..." erang seorang gadis membuka kedua kelopak matanya memperlihatkan kedua pasang emerald yang banyak dikagumi orang-orang.

"Kau sudah bangun un?"

"Eh, an...anda siapa? Dan dimana aku?" tanya gadis yang diketahui bernama Sakura itu dengan wajah bingung dan sedikit takut.

"Aku Deidara un, yang telah meyelamatkanmu dari gerombolan orang-orang jahat tadi."

"Eh? Ja...jadi an... anda yang telah me.. menyelamatkan aku?"

"Ya, dan ada seorang lagi un."

.

.

Flashback on

"Kyaaaaa..." teriak Sakura melihat beberapa orang di dalam kamar mandi tergeletak tak sadarkan diri. Dan tampak beberapa orang berpakaian serba hitam layaknya ninja dalam ruangan itu membuat Sakura yang sudah ketakutan diam tidak melakukan apapun. Dan belum sempat ia melangkahkan kakinya barang sejengkal, salah seorang dari mereka sudah membekapnya dan membawa Sakura keluar kamar mandi dengan kecepatan yang luar biasa.

Dalam hati Sakura hanya bisa berharap ada seseorang yang menolongnya, dan dari sekian wajah yang dikenalnya wajah Sasukelah yang pertama kali muncul dalam benaknya.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba ada beberapa orang tepatnya dua orang yang berhasil menghentikan sekumpulan ninja itu. Dua orang itu adalah seorang berambut pirang panjang menutupi setengah wajahnya dan seorang lagi dengan surai merahnya. Kedua dengan mudah berhasil menumbangkan orang-orang berpakaian serba hitam itu tanpa perlawanan yang berarti.

"Cih, hanya teri-teri kecil yang pandai menghilangkan Chi nya saja un." Ucap salah seorang penyelamat Sakura. Dan seorangnya lagi hanya memandang Sakura dengan instens sontak membuat gadis itu salah tingkah dibuatnya.

"Kau menakutinya un."

"Kita pergi."

"Huh, dasar tukang perintah. Baiklah gadis kecil, kami pergi du.."

'Brukk' belum sempat pria berambut pirang itu menyelesaikan kalimatnya, Sakura sudah pingsan. Beruntung dengan impuls kecepatan dewa pria berambut merah itu berhasil meraih tubuh ringkih itu sebelum sukses membentur tanah.

"Huuffft... hampir saja un. Membuat kaget saja. Lalu ingin kau bawa kemana gadis itu?"

"Apartemen."

Flashback Off

.

.

.

Di sudut kota lain terlihat seorang paruh baya yang sedang memarahi anak buahnya.

"Apa yang sebenarnya kalian lakukan hah?" teriak orang tua aka Danzou, pimpinan Ne.

"Gomen ketua, kami lengah tidak menyangka akatsuki akan bertindak secepat ini."

"Akatsuki? Bagaimana bisa!"

"Setelah berhasil membawa tawanan menjauh dari Uchiha dan Haruno, kami dihadang oleh dua orang akatsuki melumpuhkan kami dalam sekejap."

"Cih, kalian pergilah dan cari tau keberadaan gadis itu!"

"Baik."

.

.

Di pihak lain terlihat dua orang yang sedang kalang kabut dan mengerahkan seluruh anak buahnya demi mencari seorang Haruno Sakura, mereka adalah Uchiha Sasuke dan Haruno Sai.

"Tak kusangka mereka sangat cepat, bahkan sang Uchiha bisa sampai kecolongan."

"Cih, kau sendiri apa yang kau lakukan. Seharusnya sebagai anggota Ne kau setidaknya tau pergerakan mereka." Cela Sasuke tidak terima.

Dari awal memang Sasuke sudah mendeteksi ada yang mengikutinya saat mereka pergi dari kediaman Haruno. Tetapi karena Sai muncul tiba-tiba kecurigaan Sasuke sedikit memudar dan tidak mau berpikir terlalu jauh tentang ketakutannya Sakura dalam incaran musuh.

"Apa maksudmu Uchiha?" tanya Sai dengan senyum dinginnya yang tentu saja tidak mempan pada Sasuke.

"Kau tau apa maksudku."

"Hmm, apa yang sudah kau ketahui?"

"Tidak banyak dan untuk sementara ini prioritasku adalah menemukan Sakura."

"Hm."

ᴥ ᴥ ᴥ ᴥ ᴥ

Kembali pada Sakura, saat ini gadis berambut sewarna dengan bunga sakura itu sedang menikmati teh hijau bersama seorang pemuda berambut pirang yang belum lama ini dikenalnya.

"Kau tidak lapar un?" tanya Deidara memecah keheningan.

"Eh? Ti..tidak. aku tidak lapar Dei-kun." Jelas Sakura yang sudah mulai akrab dengan pemuda pirang di hadapannya, terbukti dengan sufix kun yang dikatakan Sakura saat memanggil Deidara.

"Benarkah un? Sejak kami menyelamatkanmu kau belum makan un." Tambah Deidara menginterupsi.

"Sungguh, aku ti..."

kruyukk~~...

sebelum berhasil menyelesaikan kalimatnya, rupanya perut Sakura tidak mau bekerja sama dengan bibir Sakura.

"Hmmm... hahahahaha.." dan perbuatan Sakura sukses membuat pria pirang di depannya tertawa terpingkal-pingkal.

"Berhenti menertawakanku, Dei!" perintah Sakura sambil menggembungkan pipinya membuat tawa Deidara semakin membahana.

"Perutmu tidak pandai berbohong Sakura, hahahaha." Gelak Deidara pecah seiring rajukan Sakura yang memintanya untuk berhenti menertawakannya.

"Uh, baiklah aku lapar." Kata Sakura berusaha menyembunyikan rona wajahnya yang memerah akibat menahan malu dari Deidara.

"Kau lucu sekali un, hahaha." Canda Deidara masih dengan tawanya.

"Dei-kun, berhenti menertawakanku! Tidak ada yang lucu." Perintah Sakura dengan wajah serius yang dibuatnya, meski tidak mempan pada Deidara.

"Hahaha, tapi kau memang lucu un." Ssanggah Deidara.

"Dei!" pelotot Sakura membuat Deidara seketika menghentikan tawanya. Dalam pikirannya sepertinya Deidara akrab dengan wajah dan ekspresi seperti itu, tapi entah siapa. Dasar Deidara yang tidak mau ambil pusing, pada akhirnya ia tidak mempermasalahkan apa yang dipikirkannya itu.

"Baiklah un, kau mau makan apa un?" tanya Deidara sambil beranjak menuju sebuah intercom di sudut ruangan, sepertinya ingin memesan sesuatu. Yah berhubung apartemen yang ditempatinya tergolong apartemen mewah layaknya sebuah hotel jadi wajar-wajar saja jika semua yang dibutuhkannya tersedia termasuk makanan.

"Ehmm, aku mau sushi. " ucap Sakura

"Sushi un?" tanya Deidara meyakinkan. ' Kebetulan sekali makanan kesukaan mereka sama, dan jika mengingat ekspresi Sakura tadi... ehm juga sama dengannya. Hah... jangan sampai sifat menyebalkannya juga sama, apa jadinya aku jika harus menghadapi mereka. '

"Eh iya, kalo tidak ada tidak apa-apa. Ramenpun tidak masalah." Ucap Sakura tidak enak, bagaimanapun dia hanya menumpang pada penolongnya, bagaimana mungkin dia meminta yang aneh-aneh. Dan berhasil menyadarkan Deidara dari alam lamunannya.

"Jangan khawatir menu yang kau inginkan ada. Kami biasa memesannya." Kata Deidara sembari tersenyum tulus, membuat Sakura sedikit blushing. 'Benarkah Dei-kun seorang pria? Kenapa wajahnya cantik sekali, rambutnya juga indah, dan apa-apaan senyumannya itu, kenapa manis sekali. Daripada disebut kakak laki-laki, aku lebih suka menjadikan Dei-kun kakak perempuanku.' Pikir Sakura.

"Ada apa un? Kenapa memandangiku sampai seperti itu?" tanya Deidara penuh selidik.

"Eh, ti...tidak kok."jawab Sakura gugup ketahuan sedang memperhatikan wajah Deidara.

"Jangan katakan kau naksir pada ketampananku ini un."

"Cih, tidak mungkin. Aku sudah punya seseorang yang kusuka." Tolak Sakura sambil memandang arah lain menyembunyikan rona merah pada kedua pipinya.

'Apa-apaan itu, kenapa semakin kuperhatikan semakin mirip un. Jika Uchiha punya trademark hn, mereka punya cih. Tidak bagus sama sekali. Gawat, akan ada dua orang kepala batu dan seenaknya sendiri di kehidupanku. Demi dewa Jashi, tabahkanlah diriku.

.

.

.

Di lain tempat, Sasuke dan Sai telah menggerakkan pasukannya dan bersiap menyerang Ne. Meskipun Danzo selaku pimpinan mengetahui penyerangan terbuka ini, pria tua itu bertindak santai. Dia tau apa yang mereka cari dan kebetulan sekali mereka akan mengerahkan seluruh pasukan untuk menemukan gadis itu, dan Danzo tidak perlu susah-susah mengeluarkan tenaga untuk mencari gadis yang telah menjadi incarannya. Hanya sedikit memutar otak untuk meyakinkan Uchiha bungsu dan mantan anak buahnya bahwa dia tidak menahan gadis pink itu. Setelah menemukan gadis itu, dia akan mengambilnya dengan cara apapun.

"Lepaskan Sakura atau kau tau akibatnya berurusan denganku." Ucap sang Uchiha Sasuke dengan aura hitam yang menguar di sekeliling tubuhnya membuat siapapun merinding dibuatnya, jangan lupakan mata merah yang melengkapi amarah seorang Uchiha.

"Apa maksudmu Uchiha, meskipun kita bermusuhan tapi aku tidak sampai hati menculik gadismu." Ucap Danzo tenang, meskipun tidak dapat dipungkirinya bahwa Uchiha di depannya sungguh-sungguh akan menghabisinya kalau dirinya salah langkah.

"Jangan berkelit kakek tua, cepat katakan dimana Sakura-chan sekarang." Kata Naruto yang tidak kalah hitam dengan Sasuke. Sedangkan Sai hanya mengawasi mereka di belakang, merasa ada yang tidak beres dengan semua ini. Ia tahu mantan pimpinan dan gurunya tidak akan berbuat senekat ini. Menantang seorang Uchiha dan Namikaze secara langsung? Tidak akan mmungkin dilakukannya. Sai sangat tau tingkat kelicikan seorang pimpinan Ne ini.

"Bahkan seorang tuan muda Namikaze ikut datang. Gadis itu sangat beruntung memiliki pelindung-pelindung seperti kalian. Tapi asal kalian tau, aku tidak menyembunyikannya. Dan aku tidak bodoh, bertarung dengan kalian dengan tubuh tuaku ini." Ucap Danzo dengan seringai liciknya, lebih tepatnya mengarahkan pada seseorang yang tengah memasang senyum abadinya di belakang Sasuke dan Naruto.

"Geledah." Tak lebih dengan sebuah kata seluruh pasukan yang berjumlah ratusan itu bubar untuk melaksanakan perintah yang diberikan oleh sang pimpinan, mereka tidak akan segan-segan membunuh orang-orang yang menghalanginya.

Setelah mereka bergerak Sai menerima sebuah pesan jika Sakura tidak ada di markas-markas Ne yang lain. Mendengar hal itu Sai meremas kertas yang dibawanya hingga tak berbentuk, jika tidak berada di markas Ne lalu dimana Sakura disekap. Dan para informannya tidak akan salah mendeteksi orang-orang yang telah menculik Sakura saat di restoran itu. Betapa besar pengaruh seorang mantan ujung tombak Ne pada saat-saat seperti ini.

"Sasuke, Sakura tidak ada di markas Ne manapun." Ucap Sai pelan tetapi masih bisa didengar Sasuke.

"Hn."

"Tuan, sepertinya tanda keberadaan nona Sakura tidak diketemukan di tempat ini." Lapor Suigetsu selaku tangan kanan Sasuke.

"Terus cari!" perintah Sasuke lagi.

"Meskipun kalian menggeledah tempat ini sampai sudut ruang semutpun tidak akan ketemu, sudah kukatakan sebelumnya kalau gadis itu tidak berada disini." Ucap Danzo menyeringai membuat Uchiha bungsu itu naik pitam bosan dengan segala kelicikan pimpinan Ne di hadapannya.

"Teme, bagaimana ini? Laporan anak buahku tidak jauh beda dengan Suigetsu." Kata Naruto dengan raut khawatir yang tidak bisa disembunyikannya. Dirinya sangat tahu kalau sahabat di depannya ini mengkhawatirkan Sakura lebih dari siapapun.

Drtt..drt...drrrttt...

Di tengah-tengah suasana tegang ini HP Sasuke menerima sebuah pesan singkat yang sangat mengejutkan.

.

.

From: Itachi no Baka

Sakura sedang menikmati sushinya. Jadi jangan membuat keributan baka otouto ;P

.

.

Setelah memasukkan kembali handphone pada saku celana hitamnya, Sasuke kembali memberi kode pada anak buahnya untuk menghentikan penggeledahan yang mereka lakukan.

"Eh, ada apa Teme? Apa Sakura-chan sudah ketemu?" tanya Naruto bingung dengan keputusan tiba-tiba Sasuke.

"Hn." Setelah mengatakan itu Sasuke keluar menuju mobilnya.

"Tunggu Uchiha!" sebelum benar-benar keluar dari bangunan tua itu langkah Sasuke terhenti mendengar teriakan Danzo.

"Berani-beraninya kau pergi setelah menggeledah tempatku tanpa alasan jelas." Ucap Danzo sambil menatap tajam Sasuke yang tidak menoleh sedikitpun ke belakang.

"Hn, Naruto aku serahkan semua disini kepadamu." Ucap Sasuke sebelum benar-benar pergi meninggalkan bangunan tua markas Ne dengan mobil hitamnya.

"Ah sial, kenapa Teme selalu seenaknya sendiri." Teriak Naruto frustasi, dan sepertinya ini bukan pengalaman pertamanya bersama tingkah menyebalkan Uchiha bungsu mengingat mereka sudah bersahabat cukup lama.

"Kalau begitu aku juga harus pergi, pekerjaanku masih banyak. Bye Naruto." Ucap Sai sembari melenggang pergi meninggalkan Naruto yang makin mencak-mencak dengan sikap kedua sahabatnya itu, jika hubungan mereka bisa dikategoroikan sebagai sahabat. Poor Naruto.

"Dasar tidak punya perasaan, ttebayo..."

ᴥ ᴥ ᴥ ᴥ ᴥ

Sakura Pov

Entah apa rencana Kami-sama, sekarang aku berapa di sebuah apartemen mewah bersama orang-orang yang tidak aku kenal. Hawa disini sangat menusuk, apalagi tatapan seseorang bersurai merah yang Dei-kun kenalkan bernama Sasori, dia jugalah yang telah menyelamatkanku dan membawaku kemari pada seorang lagi berambut hitam panjang yang entah kenapa mirip sekali dengan Sasuke-kun, dan pria itu hanya memberikan wajah tenang menghadapi tatapan tajam Sasori.

"Hei, bisakah kalian menghentikan perang dingin kalian un? Lihat, Sakura-chan jadi ketakutan un." Kata Deidara yang barusan kembali dari dapur sembari meletakkan empat buah cangkir dengan teh hijau di dalamnya. Kedatangannya membuat diriku sedikit merasa lega.

"Seharusnya kau beritahu partnermu ini untuk tidak memberiku tatapan membunuh seperti itu Dei!" kata Itachi menanggapi ucapan Deidara.

"Cih, kau tahu penyebab aku melakukan ini Itachi." Ucap Sasori tidak mau kalah. Kalau dilihat-lihat, meskipun saling melempar deathglare yang mematikan tapi bisa dibilang mereka sangat akrab. Dan melihat kedekatan mereka aku jadi tersenyum sendiri.

"Kenapa kau tersenyum un?" tanya Deidara membuyarkan lamunanku.

"Eh, ti...tidak. Hanya teringat sesuatu." Jawabku kaku sambil melempar senyum gugupku.

"Benarkah?" tanya Dei-kun lagi.

"Hmm, jika melihat Sasori-san dan Itachi-san mengingatkanku pada Nii-chan dan Nii-san ku hehe." Sedang Ucapku seketika, memang benar mereka seperti Nii-chan dan Nii-san. Meskipun kelihatannya mereka tidak bersahabat, tetapi di dalamnya mereka saling membutuhkan dan memahami satu sama lain. Ngomong-ngomong soal Nii-san apakah dia tau tentang aku yang tidak sedang berada di rumah ya?

"Apa mereka memperlakukanmu dengan baik?" tanya Sasori tiba-tiba.

"Eh? Ya, mereka sangat baik kepadaku, meskipun aku belum mengingat semuanya tetapi kurasa aku sangat bahagia memiliki Nii-chan dan Nii-san, mereka juga berperan seperti kedua orang tua untukku. Meskipun Nii-san orangnya keras kepala, tetapi hal itu dilakukannya karena dia sangat menyayangiku dan entah kenapa Nii-san tidak suka dengan Sasuke-kun, tetapi sebaliknya Nii-chan selalu mendukungku. Seperti Tou-san dan Kaa-san bukan mereka? Nii-san yang keras seperti seorang Tou-san dan Nii-chan yang lembut layaknya seorang Kaa-san."

Sakura Pov end

.

.

Melihat Sakura yang sedang bercerita panjang lebar tentang kedua kakaknya membuat sosok Sasori memandang sosok Sakura dengan pandangan sayu. Entah apa yang sedang dia pikirkan, tiba-tiba Sasori berdiri dan menyeret Sakura keluar. Sakura yang bingung harus berbuat apa hanya bisa mengikuti pria yang dengan tanpa alasan menyeretnya keluar meninggalkan apartemen, sedangkan kedua orang lainnya hanya memandang mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.

Hari sudah pukul tengah malam semenjak Sasori menyeret Sakura untuk mengikutinya. Saat ini keduanya sudah kembali berada di loby apartemen Sasori, bersama Deidara dan Itachi.

"Orang yang kau tunggu sepertinya sudah datang." Ucap Itachi pada Sakura melihat otoutonya keluar dari mobil hitamnya dan bergegas berlari menuju tempat mereka menunggu.

Segera setelah mencapai Sakura, Sasuke langsung memeluk Sakura erat tak peduli dengan orang-orang lainnya.

"Kau tidak apa-apa? Mereka menyakitimu? Ada yang terasa sakit?" tanya Sasuke beruntun pada Sakura dengan raut cemas. Saat ini memang seorang Uchiha Sasuke sangat OOC membuat ketiga orang di belakang Sakura sedikit memicingkan mata mereka sedikit terkejut dengan sikap Sasuke yang biasanya seperti gunung es kutub selatan jadi mencair hanya karena berada di hadapan seorang Sakura. Memang Itachi tahu bahwa Sasuke sangat menyayangi gadis dalam pelukannya itu, tetapi Itachi tidak menyangka bahwa adik satu-satunya itu benar-benar serius mencintai Sakura.

Setelah pamit dan mengucapkan terimakasih Sakura pergi bersama dengan Sasuke. Saat ini mereka berada dalam mobil Sasuke. Berulang kali Sasuke melihat Sakura terantuk karena ketiduran dan berusaha untuk tersadar dengan membuka lebar matanya, tetapi tidak berlangsung lama karena ia kembali terseret dalam arus alam bawah sadarnya. Hal itu sudah berlangsung lebih dari lima kali membuat Sasuke khawatir melihat gadisnya itu.

"Sakura" panggil Sasuke memecah keheningan.

1 menit..

2 menit...

5 menit...

"Ehmmm, kau mengatakan sesuatu Sasu?" tanya Sakura kembali dan sukses meyakinkan Sasuke bahwa gadis di sampingnya sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.

"Hn." Setelah mengatakan kalimat andalannya, Sasuke kembali melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi menuju hotel terdekat mengingat keadaan Sakura yang seperti itu.

.

.

.

"Sasu, kenapa tidak pulang ke rumah?" tanya Sakura dengan mata memerah akibat menahan kantuk.

"Hn, kau sudah makan?"

"Iya."

"Minum obatnya dan segeralah tidur." Ucap Sasuke lagi dengan nada perintah membuat Sakura segera meminum obatnya tanpa berpikir dua kali.

Setelah membuat Sakura meminum obatnya, dengan sigap Sasuke segera membaringkan Sakura dan menyelimutinya hingga menutupi tubuh Sakura.

"Aku belum mengantuk ." Kata Sakura dengan suara lirih, tetapi masih bisa didengar Sasuke.

Sembari menghela nafas panjang Sasuke beranjak dari tempat duduknya semula untuk menghampiri Sakura.

"Apa maumu hm?" bisik Sasuke di telinga Sakura sontak membuat wajah gadis itu merona.

"A...aku...aku ..." ucap Sakura tergagap dan dalam hatinya gadis berambut bubble gum itu merutuki penyakit gagapnya jika berada di hadapan Sasuke. Melihat hal itu Sasuke hanya menyunggingkan senyum tipisnya, ternyata Sakura tetaplah Sakura, gadis yang sama yang dicintai Sasuke meski sekarang ingatannya belum kembali.

"Mau keluar melihat langit malam? Kudengar malam ini sedang cerah." Tawar Sasuke pada Sakura. Jika ditanya mengapa seorang Uchiha Sasuke peduli soal cuaca, maka jawabannya adalah karena Sakura. Meskipun sebenarnya pemuda jenius satu ini tau keadaan langit malam ini karena tidak sengaja mendengar rayuan seorang pria pada wanitanya saat di lift tadi. 'Cerahnya langit malam ini, tak secerah wajahmu saat tersenyum, honey.' Mendengar hal itu Sasuke hanya berdecih menganggap rayuannya kampungan sekali.

"Tidak apa-apa?" tanya Sakura ragu.

"Hn." Tidak banyak bicara Sasuke segera menggendong Sakura ala bridal style menuju balkon kamar mereka dengan keadaan Sakura masih terbalut selimut tebal, betapa Uchiha satu ini sangat protektif pada kekasihnya itu. Sakura yang memang tidak bisa melawan hanya mengalungkan tangannya ke leher kokoh sang Uchiha.

Sesampainya di luar Sasuke mendudukkan Sakura di sebuah sofa bewarna maroon dan kembali beranjak ke dalam lagi.

"Mau kemana?" tanya Sakura bingung. Bagaimana tidak, yang mengajaknya kan Sasuke tetapi kenapa sekarang dirinya ditinggal sendiri.

" Strawberry milk?"

"Eh?"

"Kau biasa meminumnya jika tidak bisa tidur." Tambah Sasuke dan kembali pada tujuannya semula.

.

.

.

Sakura Pov

Strawberry milk? Benarkah aku menyukainya. Mengapa Sasuke tahu segala tentangku? 'Dasar Sakura baka, tentu saja Sasuke tahu segalanya tentangmu, bagaimanapun juga dia kan calon suamimu' kata inner Sakura. Ya ya ya aku tau, tapi sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikiranku. Semua hal yang ada di sekelilingku sangat rumit. Sasuke yang mengaku tunanganku, Nii-san yang sangat menentang hubungaku dengan Sasuke, Sasori yang entah kenapa aku merasa sangat merindukannya, organisasi hitam yang mencoba menculikku, dan semua yang berhubungan denganku.

"Argghhhhhhhhhhhhhhh..." teriakku kencang sekedar untuk menghilangkan segala yang berputar-putar di kepalaku.

"Ada apa? Bagian mana yang sakit?" tanya Sasuke khawatir sembari mendekapku sukses menghentikan teriakanku. Entah kenapa selalu seperti ini, semuanya terasa berjalan baik-baik saja jika berada di dekatnya.

"Ti...tidak. Tidak ada Sasuke-kun." Ucapku mencoba meyakinkannyaa bahwa aku baik-baik saja.

"Jangan memaksakan diri." Ucapnya, apa dia tau apa yang sedang kurisaukan?

Sakura Pov end

.

.

.

Setelah adegan teriakan Sakura yang cukup memekakkan telinga dan sukses membuat Uchiha bungsu panik luar biasa, saat ini Sakura tengah meringkuk dalam dekapan hangat sang pangeran Uchiha. Benar apa yang telah dikatakan pemuda yang mendekapnya, setelah meminum strawberry milknya, gadis yang memiliki warna rambut seperti bunga Sakura merasa sedikit tenang dan tidak lagi berpikiran yang macam-macam.

"Sebelum kau tertidur, aku ingin kau memandang ke atas." Perintah Sasuke sembari mengeratkan dekapannya, mencegah angin malam mengusik gadisnya.

"Memangnya ada apa Sasuke-kun?" tanya Sakura bingung, padahal menurut gadis itu langit saat ini masih sama seperti yang tadi, cerah tetapi bintang-bintangnya tidak terlalu terlihat akibat lampu-lampu yang tersebar di seluruh penjuru kota.

"Hn."

Belum sempat melontarkan tanggapannya pada Sasuke, Sakura sudah dikejutkan oleh sebuah suara keras khas kembang api, seketika Sakura mendongakkan kepalanya. Dan benar apa yang didengarnya, saat ini di hadapannya tengah beraksi kumpulan kembang api beraneka warna yang sangat indah.

"Kau suka?" bisik Sasuke membuat Sakura memalingkan wajahnya dari atraksi kembang api yang saat ini masih beraksi membuat wajah keduanya sangat dekat sampai kedua hidung mereka bersentuhan membuat lagi-lagi wajah Sakura merona.

Tak perlu jawaban dari Sakura, karena Sasuke telah membungkam bibir gadis itu dengan lembut. Tanpa nafsu atau keinginan semata, melainkan untuk menunjukkan bahwa apapun akan pemuda itu lakukan hanya untuk gadis yang dicintainya.

.

.

To Be Continue...

.

.

.

Hai, minna lama tak berjumpa. Pada kesempatan kali ini ijinkan author mengucapkan Selamat tahun Baru pada seluruh reader dan author-author lain. Semoga di tahun yang baru ini, semangat demi memajukan fanfic lebih, lebih, dan lebih lagi.

Dan selanjutnya, tentu saja author ingin meminta masukan-masukan yang membangun untuk kelanjutan fic ini.

Akhir kata, Review please...!