.

.

.

"Baguslah namja itu sudah pergi."

Aku menoleh ke lokasi dimana seharusnya Henry berada, dan tepat seperti apa yang Jong Woonie-hyung katakan, namja itu sudah pergi. Hanya setangkai mawar yang sudah remuk itu saja yang terisa di tempat itu.

Mengingat namja itu, aku langsung menoleh ke arah Jong Woonie-hyung. Aku sudah membuka mulutku untuk memprotes ucapannya tadi, namun terhenti karena Jong Woonie-hyung meletakkan jarinya di bibirku, memintaku untuk diam.

Perlahan Jong Woonie-hyung mendekatkan wajahnya ke arahku, dan bibirnya ia sentuhkan di cuping telingaku, membuat tubuhku gemetaran karena sensasi yang menggelitik ini.

"Aku serius Wooke, kita akan menikah satu minggu lagi."

.

.

.

Perfect Life part 10

By : Ela-Kyuhyunnie

Pairing : Main=Yewook. Kim Yesung (Kim Jong Woon) X Kim Ryeowook

Slight KyuMin, HaeHyuk

Warning : YAOI! boyXboy, TYPOs, gaje, abal, alur membosankan

.

.

Ah, playlist di chappie ini

1. Coagulation - Suju K.R.Y

2. Believe - Super Junior

3. Marry You - Super Junior

.

.

.oOYeWookOo.

.

.

*Wookie PoV*

'Aku serius Wooke, kita akan menikah satu minggu lagi.'

Kata-kata Jong Woonie-hyung terus bergema di kepalaku seperti kaset rusak.

Saat pertama mendengar itu, aku tak merasakan apapun, kecuali perasaan shock dan amarah yang timbul karena Jong Woonie-hyung –lagi-lagi- memutuskan sesuatu dengan seenaknya. Namun kemudian, ketika Jong Woonie-hyung menciumku... semua berubah. Perasaan marah itu perlahan berubah menjadi rasa bahagia yang tak tertahankan. Kenyataan bahwa Jong Woonie-hyung berkata akan menikahiku membuat hatiku penuh dengan perasaan suka cita yang tak dapat kujelaskan.

...menikah.

Kenyataan itu membuatku merasa tertampar dengan keras. Seharusnya aku tak merasa senang kalau aku akan menikah dengan orang yang tak kusukai.

Apa itu artinya...

.

..

...aku menyukai Jong Woonie-hyung?

ANIYA!

...

Tapi... Tapi bohong kalau aku berkata aku membenci namja itu. Saat pertama kali bertemu namja itu, bahkan ketika aku belum mengenalinya sebagai Jong Woonie-hyung, aku sudah terpesona pada namja itu.

Tapi itu kan hanya sekedar perasaan kagum saja. Tak ada yang namanya love at the first sight di dunia ini! Apalagi aku ini normal! Tidak mungkin aku ini jatuh cinta pada namja, meskipun itu adalah Jong Woonie-hyung!

Tidak mungkin!

.

.

Kalau tak mungkin... kenapa aku bisa merasa sesenang ini karena akan menikah dengan Jong Woonie-hyung?

Aiisshhh!

.

'Lalu kenapa kau merasa tak suka saat hanya Hyukkie dan Hae yang di sapa oleh Jong Woonie-hyung sedangkan kau tidak, Wookie?'

.

"Ani... itu hanya..." gumamku pelan menjawab pertanyaan yang di lontarkan hati kecilku sendiri. "Itu... itu hanya... karena aku merasa... cemburu..."

'Cemburu? Aku cemburu karena Jong Woonie-hyung tak menyapaku?'

.

Bukankah cemburu hanya akan muncul karena adanya rasa cinta?

.

"Ani. Aku tak mungkin mencintai Jong Woonie-hyung..."

.

'Lalu kenapa saat pertama kali menyentuh tangan Jong Woonie-hyung...bagaimana mungkin kau sampai membayangkan betapa hangatnya berada dalam pelukan namja itu, Wookie?'

.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan cepat. Menghilangkan semua pemikiran aneh yang muncul dalam benakku.

.

"Ani. Itu hanya pikiran-pikiran bodoh, Wookie. . Woonie-hyung."

.

.

'Tapi kenapa tiap kali menatap Jong Woonie-hyung, jantungmu selalu berdetak kencang, Wookie?'

Aku memegang dada kiriku dengan cepat. Kedua alisku mengernyit saat merasakan kalau dadaku berdegup kencang.

"Tidak mungkin. Hanya dengan membayangkan Jong Woonie-hyung saja dadaku berdebar begini... Bagaimana bisa? Bagaimana bisa dadaku berdebar hanya karena aku membayangkan wajah seorang namja?"

'Kecupan itu...

Ciuman itu...

Pagutan itu...

Lumatan bibirnya pada bibirku...'

'BLUSH!'

Kusadari dengan pasti adanya kupu-kupu yang berterbangan di perutku, membuat jantungku berdetak dengan kencang, mengalirkan darah dengan cepat hingga membuat seluruh tubuhku memanas, dan semua darahku mengumpul di wajahku, membuatnya terasa panas dan memerah seperti kepiting rebus.

"A-andwae... b-benarkah ini...?" Aku menutupi seluruh wajahku dengan kedua tanganku. "Apakah aku benar-benar... mencintai Jong Woonie-hyung?"

.

.

'Tapi, apakah Jong Woonie-hyung benar-benar mencintaimu, Wookie?'

Aku terdiam. Tak sanggup menjawab pertanyaan dari hatiku sendiri.

.

'Apakah ia pernah berkata cinta padamu? Ataukah... pernahkah dia berkata kalau ia menyayangimu?'

"-kh.." aku tercekat. Seluruh neuron dalam otakku bekerja dengan cepat memutar ulang semua ucapan-ucapan Jong Woonie-hyung.

Tidak ada. Tidak ada satupun kata 'saranghae' atau ucapan sayang yang pernah terucap dari bibir Jong Woonie-hyung untukku. Tak ada satupun.

Sesak...

"Jong Woonie-hyung... apakah kau... tak mencintaiku...?" . Dan yang bisa kudengar saat itu adalah suara pecahan yang berasal dari dalam hatiku. Suara pecahan yang terdengar begitu nyaring dan terasa sakit seperti nyata.

.

.

'Kau tak akan tahu kapankah datangnya cinta... Hanya akan kau sadari ketika kau merasakan sakitnya...'

.

.oOYeWookOo.

.

"Wookie?"

Aku mengusap air mata yang tak kusadari telah mengalir, menenangkan diriku dan menoleh, mendapati Sungmin-hyung tengah menatapku dengan lembut. Berbanding terbalik dengan Kyu yang malah menyeringai yang entah apa maksud senyumnya itu.

"Ne, hyung?" tanyaku dengan suara lemah dan sedikit serak. Bagaimanapun, rasa sakit yang ada di hatiku masih begitu terasa.

"Wookie, bicaralah padaku, apa yang kau rasakan saat ini?" tanya Sungmin-hyung lembut, sambil duduk di atas tempat tidurku yang lama. Ya, saat ini aku menginap di tempat Sungmin-hyung dan Kyu, dan menempati kamar lamaku. Entah bagaimana, aku merasa cukup merindukan suasana kamar lamaku ini, namun tak bisa kupungkiri, kalau sekarang ini aku lebih merasa betah di kamarku yang berada di apartement Jong Woonie-hyung.

'Ini menyedihkan...'

"Wookie?" panggil Sungmin-hyung lagi karena aku belum menjawab pertanyaannya.

"N-ne hyung. Aku tak tahu Hyung. Aku bingung." Sahutku lemas, mengingat alasan kenapa malam ini aku menginap di tempat Sungmin-hyung.

"Kenapa kau harus bingung Wookie? Pernikahanmu sudah di tetepakan, so, tinggal jalani saja kan mudah." Sahut Kyu santai sambil memeluki pinggang Sungmin-hyung dengan possesive.

"Kalau memang semudah itu, aku juga tak akan pusing, Kyu!" seruku kesal mendapati Kyu yang malah mengentengkan masalah yang tengah kuhadapi. "Kalau aku Cuma sebuah robot tanpa hati, pasti tak akan sesulit ini. Tapi aku ini kan punya hati, Kyu! Aku tak ingin menikah dengan sembarang orang!"

"Lalu, kau ingin menikah dengan orang seperti apa, eoh?" tanya Kyu lagi. Ingin rasanya aku mengutuk si evil ini, yang benar-benar tak mengerti suasana hati orang!

"Y-yang pasti, dia harus yeoja!" jawabku gagap, yang menghasilkan gelak tawa dari Kyu. Aku sendiri merutuki jawabanku, mengingat aku tadi baru saja menangisi Jong Woonie-hyung. Dia itu namja, dan barusan aku menangisi seorang namja.

Yeah, so sarcastic, rite?

"Kenapa harus Yeoja. Kau lihat saja aku dan Sungmin-hyung. Juga Eunhyuk dan Donghae. Kami sama-sama namja, dan toh, semua merestui hubungan kami."jawab Kyu yang membuatku tak berkutik lagi.

Sebenarnya aku ingin berteriak bahwa aku bukan Gay seperti Kyuhyun itu, tapi disini ada Sungmin-hyung, dan aku tak mau perasaan Hyung-ku yang sensitif itu jadi terluka karena kata-kataku tadi. Selain itu... apakah aku berhak berkata kalau aku bukan gay mengingat...

"Aish! Se-selain itu, aku kan maunya menikah dengan orang yang mencintaiku, dan yang pasti,aku juga mencintainya!" sahutku tak mau kalah.

"He? Bukankah Yesung-hyung amat sangat mencintaimu, hmm? Dan memangnya, kau tak mencintai Yesung-hyung?" sahut Kyu yang membuatku makin terpojok. Sungguh, aku sangat tak ingin membicarakan ini semua dengan si EvilKyu itu!

"Huweee... Minnie-hyung..." aku pura-pura merengek dan memeluk Sungmin-hyung dari arah depan. Menghempaskan lengan Kyu yang tadinya melingkar indah di pinggang Sungmin-hyung dan menggantinya dengan tanganku sendiri. Kyu sudah akan menghempaskan tubuhku menjauhi Sungmin-hyung ketika suara tegas Sungmin-hyung menginterupsi kelakuan kekanakan kami.

"Hentikan, Wookie! Kyunnie!" seru Sungmin-hyung yang langsung membuatku dan Kyu terdiam. Sungmin-hyung itu setipe dengan Jung Soo-umma. Lembut, baik dan tak mudah marah. Akan tetapi, sekalinya marah...Hiiii~! Bahkan seorang evil seperti Kyu pun akan diam dan menuruti Sungmin-hyung saat ia marah.

"Wookie, aku diamlah dulu dan tak usah meladeni Kyu." Ucap Sungmin-hyung padaku, dan aku langsung melepaskan pelukanku pada Sungmin-hyung. Kulihat Kyu menyeringai menyebalkan di balik punggung Sungmin-hyung.

"Dan kau, Kyunnie. Jangan malah memojokkan Wookie seperti itu. Sekarang, kembalilah dulu ke kamar, dan nanti kalau urusan ini sudah selesai, aku akan menyusulmu ke kamar." Ucap Sungmin-hyung yang membuatnya merengut manja

"Ne, ne, Minnie. Tapi sebelumnya—"

Aku langsung menutup kedua mataku ketika kulihat Kyu meraih tengkuk Sungmin-hyung dan membawanya ke dalam ciuman panas yang berlangsung cukup lama.

"Nah, oke kalau begini. Kutunggu di kamar, Minnie."

Aku membuka mata mendengar suara Kyu yang begitu ceria, dan kudapati kalau namja yang sebenarnya lebih muda beberapa bulan dariku itu melenggang santai keluar kamar, meninggalkan aku bersama dengan Sungmin-hyung berdua saja di kamarku.

"Wookie, maafkan Kyu." Ucap Sungmin-hyung sambil duduk menggeser mendekat padaku.

"Ne, arrasseo, hyung. Aku juga mengerti seperti apa sifat evil Kyu, hyung." Ucapku sambil menyenderkan tubuhku ke kepala tempat tidur.

"Lalu, bagaimana menurutmu, mengenai perkataan Kyu tadi?"

"Eh? Yang mana Hyung?" tanyaku bingung. Bagian mana sih, yang ditanyakan Sungmin-hyung?

"Hemm.. Kau bilang, kau ingin menikah dengan orang yang mencintaimu, dan juga kau cintai kan?" . Aku mengangguk mengiyakan ucapan Sungmin-hyung. "Kau tahu, Yesung-hyung itu sangat mencintaimu, Wookie."

Aku menggeleng dalam kekalutan. Perasaan sedih dan sakit yang tadi sudah kutekan, kembali menyeruak keluar kala Sungmin-hyung menyebut nama Jong Woonie-hyung.

"Apa maksudmu, Wookie?"

"Aku tak tahu Hyung. Aku tak yakin kalau Yesung-hyung memang mencintaiku." Sahutku lirih

"Apa maksudmu,Wookie? Bagaimana mungkin kau bisa mengambil kesimpulan kalau Yesung-hyung tak mencintaimu? Dia jelas-jelas sangat mencintaimu, kau tahu?"

"Ani,hyung. Aku tak tahu apakah Jong Woonie-hyung mencintaiku atau tidak." Sahutku sambil memeluk bantal dan membenamkan wajahku.

"Pabboya Wookie!" . Aku langsung menengadahkan kepalaku menatap Sungmin-hyung yang baru saja meneriakiku. Aku menatapnya dengan pandangan penuh tanya, meski sedikit tertutup tirai air, karena tanpa kusadari, air mata sudah mulai tergenang di pelupuk mataku.

"Sungmin-hyung?"

"Bodoh kau Wookie! Bagaimana mungkin kau bisa berfikir kalau Yesung-hyung itu tak mencintaimu?" tuntut Sungmin-hyung padaku.

"Ku-kupikir... kupikir Jong Woonie-hyung hanya menganggapku sebagai dongsaeng. Dan lagi..." aku menghentikan kalimatku dan kembali menunduk.

"Dan lagi apa, Wookie?" tanya Sungmin-hyung sambil meraih daguku, membuatku kini menatap tepat ke sepasang mata foxy yang begitu lembut.

"Dan lagi... kau tahu hyung, dia.. Jong Woonie-hyung... dia... dia itu..." aku menarik nafas panjang. "Dan lagi, Jong Woonie-hyung tak pernah sekalipun berkata kalau dia mencintaiku!" Aku menarik nafas panjang setelah mengucpkan hal yang paling mengganjal dalam hatiku.

Ya, kalian tahu, Jong Woonie-hyung tak pernah sekalipun berkata kalau ia mencintaiku. Jadi, sudah jelas kan, kalau Jong Woonie-hyung itu tidak mencintaiku! Ia hanya menikahiku karena perjanjian konyol entah berisikan apa dan entah di buat antara siapa dengan siapa! Kalaupun mungkin Jong Woonie-hyung memiliki perasaan terhadapku, itu mungkin hanya perasaan sayang terhadap dongsaeng sekaligus teman masa kecilnya!

-NYUTT

"Wookie, kau mencintainya?" . Aku hanya diam dan tak menyahuti pertanyaan dari Sungmin-hyung. Kalau memikirkan Jong Woonie-hyung, dadaku terasa sesak. Apalagi dengan kenyataan kalau aku akan menikah dengannya, padahal aku tahu pasti kalau Jong Woonie-hyung tak mencintaiku sama sekali

Sesak.

Sangat menyesakkan.

Dadaku sakit dan sekarang ini sangat sulit bagiku untuk sekedar mengambil nafas.

"Kau benar-benar mencintainya, Wookie?" . Aku menggeleng menyahuti pertanyan Sungmin-hyung. Aku sangat tak ingin memiliki perasaan cinta kepada Jong Woonie-hyung yang tak mencintaiku sama sekali.

"A-ani—" aku tercekat dan kembali menggeleng karena tak sanggup lagi meneruskan ucapanku.

Sakit. Rasanya sungguh sangat menyakitkan.

"Kalau kau memang tak mencintainya, lalu mengapa kau menangis, Wookie?"

Kurasakan jemari Sungmin-hyung menyentuh kulit pipiku dan menghapus air mata yang entah sejak kapan sudah mengalir dengan derasnya dari kedua mataku.

"H-h-hyung..." . Aku menerjang Sungmin-hyung dan memeluknya erat. Membenamkan diriku kedalam pelukan hangatnya.

"Ternyata kau benar-benar mencintainya, Wookie." Ucap Sungmin-hyung sambil mengelus rambutku dengan lembut.

"A-aku tak tahu Hyung... hiks... A-aku bahkan... tak pernah mengira kalau aku...m-menyukainya.." Aku menyeka air mataku yang masih saja terus mengalir dengan punggung tanganku. "K-ku..kupikir.. hiks.. aku hanya terpesona saja..p-pada sosok Y-Yesung-hyung yang tampan.. T-tapi hyung.." Aku menegakkan tubuhku, melepaskan pelukanku pada tubuh Sungmin-hyung dan menatapnya dengan senyum mereka, meski air mataku masih saja belum bisa berhenti mengalir. "T-tapi hyung.. saat aku tahu kalau Y-yesung-hyung adalah..Jong Woonie-hyung..hiks.. Jong Woonie-hyungku..hiks.. yang dulu..P-perasaan kagum itu..hiks.. bertambah dengan rasa sayangku padanya..."

Kugigit bibirku dengan kuat agar air mataku tak mengalir semakin deras.

"Hyung..." kudongakkan kepalaku dan kukerjap-kerjapkan mataku menahan leleran air mata yang terus saja ingin menyeruak. "A-aku tak tahu hyung... a-aku tak tahu sejak kapan..perasaan ini berkembang seperti ini—" ucapanku terhenti ketika kurasakan sepasang lengan merengkuhku dalam kehangatannya.

"Sa-saat Jong Wooie-hyung bilang..kalau kami akan..m-menikah minggu depan..perasaanku langsung kacau hyung..apalagi..apalagi saat kusadari..hiks..saat kusadari kalau Jong Woonie-hyung..hiks... Jong woonie-hyung.. tak m-mencintaiku hyung..Huwaaaaa..." Kubenamkan seluruh kepalaku ke dada bidang Sungmin-hyung dan aku menangis keras dalam pelukannya. Kutumpahkan semua rasa kalutku dalam dekapan Hyungku yang hangat itu.

Tidak

Aku tak sanggup

Aku tak sanggup kalau harus menikah dengan Jong Woonie-hyung yang tak mencintaiku. Aku tak sanggup hidup bersama orang yang tak mencintaiku, meski aku sangat mencintainya. Amat sangat mencintainya, hingga kurasa aku akan mati kalau harus menghabiskan hidup bersamanya, namun ia hanya menganggapku sebagai dongsaeng.

"Haaaah... kau benar-benar beruntung Yesung-hyung. Wookie ternyata benar-benar mencintaimu, dan sepertinya sudah saatnya bagi kami untuk melepaskanmu." Ucapan lembut Sungmin-hyung tertangkap pendengaranku, membuatku mendongak menatap wajahnya yang memasang senyum manis.

"Percayalah padaku, Yesung-hyung itu mencintaimu. Amat sangat mencintaimu."

"Jinjjayo?" tanyaku dengan suara serak karena menangis begitu keras.

"Ne. Apa kau mau kuberitahu rahasia Yesung-hyung?" tanya Sungmin-hyung sambil tersenyum jahil, yang membuat wajah manisnya malah bertambah manis.

"Rahasia?" tanyaku bingung.

"Ne. Rahasia Yesung-hyung, yang pasti akan membuatmu berhenti menangis karena cintamu tak bertepuk sebelah tangan." Sahut Sungmin-hyung sambil tersenyum lebar.

Aku mengangguk dengan cepat, dan Sungmin-hyung mulai berbicara.

.

.

.oOYeWookOo.

.

.

*Author PoV*

"A-aku akan pulang sekarang, Sungmin-hyung!" ucap Ryeowook saat Sungmin selesai mengungkap semua rahasia Yesung—atau Jong Woon, bagi Ryeowook. Namja manis bersurai coklat itu segera melesat pergi, tak mempedulikan penampilannya yang hanya mengenakan celana selutut dan juga kaus lengan pendek yang cukup tipis.

"YA! Wookie, apa kau tak tahu sekarang ini jam 4 pagi?" teriak Sungmin yang melihat Ryeowook pergi begitu saja.

Sungmin hanya tersenyum melihat Ryeowook yang tak mempedulikannya dan terus berlari menuruni tangga dan melesat keluar rumahnya. Tujuan namja manis itu hanya satu, secepatnya bertemu dengan Yesung—atau Kim Jong Woon, baginya.

"Yoboseyo, Yesung-hyung?" ucap Sungmin pada namja yang tengah ia telepon.

"Aku hanya ingin mengucapkan selamat, karena usahamu berhasil. Wookie mencintaimu." Sungmin menjauhkan teleponnya saat mendengar sahutan –atau lebih tepatnya teriakan senang dan tak percaya- dari Yesung. "Ne. Aku tak berbohong. Dan bersiaplah, karena Wookie sedang berlari ke apartementmu. Sudah ya, aku titipkan Wookie padamu. Annyeong." Sungmin menutup teleponnya, dan beranjak menuju kamarnya bersama Kyuhyun.

"Bagaimana, Minnie?" sambut Kyuhyun, sambil membuka pintu kamarnya, bahkan sebelum Sungmin sempat menyentuh kenop pintu kamarnya.

"Ya Tuhan, Kyu! Kau mengagetkanku!" seru Sungmin yang melihat Kyu menyambutnya. "Lagipula, bagaimana kau tahu kalau aku sudah di depan pintu?" tanya Sungmin heran setelah ia bisa mengatasi kekagetannya.

"Aku mencintaimu, dan cintaku padamu membuatku tahu akan keberadaanmu, di manapun kau berada." Gombal Kyuhyun sambil merengkuh pinggang 'istrinya' itu.

"Belajar menggombal dari Hae, Kyu?" tanya Sungmin ketus sambil berkacak pinggang, memasang tampang kesal yang tetap saja tak akan bisa menyembunyikan semburat merah di kedua pipinya.

"Aniya. Aku menjadi seperti seorang penyair gila begini hanya karenamu, dan hanya untukmu." Sahut Kyuhyun sambil mengeratkan pelukannya. "Aku tahu kalau kau senang, Minnie. Dan aku meminta imbalan darimu." Ucap Kyuhyun seductive sambil mengarahkan bibirnya ke leher 'istri'nya itu, memberikan butterfly kiss yang membuat Sungmin melenguh lirih. Kyuhyun tersenyum mesum mendengar desahan Sungmin, dan mengangkat 'istri'nya dengan bridal style, lalu melemparkan Sungmin ke atas ranjang mereka, dan memulai 'malam panjang' mereka yang tertunda.

Malam panjang yang dimulai dari jam 4 pagi dan akan terus berlangsung sampai membuat Kyuhyun membolos sekolah, serta membuat Sungmin tak bisa turun dari tempat tidurnya, bahkan membuat bunny boy itu bersuara serak karena terlalu banyak mendesah dan mengerang.

Nah, mari kita tinggalkan kedua namja yang tengah memadu kasih dan kembali ke salah tokoh utama kita yang tengah tersenyum senang setelah menerima telepon dari Sungmin. Namja itu melihat jam, dan senyum yang terpasang di wajahnya itu semakin melebar, membuat author dan semua clouds meleleh melihatnya.

"Jam 4 pagi. Waktunya pas sekali." Ujar namja tampan itu sambil menelepon sesorang kemudian ia mengambil benda-benda yang ia butuhkan, dan bergegas turun kebawah, menantikan datangnya namja manis yang sangat ia cintai itu.

*Author PoV end*

.

*Wookie PoV*

"Hahh... hahh... hahh.. sebhentarh... lagih...sam..hahh...sampai..." gumamku dengan nafas tersengal karena terus berlari. Tapi aku tak peduli, yang kuinginkan sekarang hanyalah menemui Jong Woonie-hyung dan memeluknya dengan erat.

Sangat erat.

Karena aku sungguh-sungguh mencintai namja itu.

Amat sangat mencintainya!

"Wookie."

Aku menghentikan lariku yang sudah akan memasuki gedung apartement milik Jong Woonie-hyung, dan menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya aku saat kulihat sosok yang sudah sangat ingin kutemui itu bersandar santai di samping mobilnya yang kini terparkir di seberang jalan.

Pantas saja aku tak melihatnya tadi.

Senyumku langsung merekah saat melihatnya merentangkan tangan dengan senyum lebar, seakan memintaku untuk datang ke pelukannya. Dan sudah pasti, mendapat undangan seperti itu dari namja yang kucintai, aku segera berlari dan menghampiri Jong Woonie-hyung.

"Hyung!" seruku senang sambil menghambur ke dalam rengkuhan lengat hangat Jong Woonie-hyung.

Salah.

Ternyata aku salah. Jika dulu aku membayangkan betapa hangatnya pelukan namja di depanku ini, rasanya bayanganku tak ada yang sebanding dengan kenyataan yang kurasakan. Perasaan hangat, nyaman dan menyenangkan saat merasakan sepasang lengan Jong Woonie-hyung memeluk tubuhku terasa lebih dari yang aku bayangkan. Lengannya memelukku dengan kokoh, namun tetap terasa lembut bagiku.

Dapat kuhirup dengan jelas wangi khas yang menguar dari tubuh Jong Woonie-hyung. Wangi yang membuatku nyaman dan terbuai. Dan jangan lupakan betapa pasnya tubuhku berada di pelukan Jong Woonie-hyung, membuatku makin mengeratkan kedua lenganku yang memeluk pinggangnya.

"Ayo, ikut aku."

Kursakan Jong Woonie-hyung melepaskan pelukannya, dan menuntunku masuk ke dalam mobilnya. Aku hanya mengikuti apa kata Jong Woonie-hyung, dan memasuki mobilnya. Perasaanku makin berbunga ketika melihat betapa gentlenya sikap Jong Woonie-hyung, karena ia membukakan pintu mobilnya untukku! Jangan kira hanya yeoja saja yang suka di perlakukan begitu! Lagipula, mana ada orang yang tak senang, kalau orang yang kau cintai bersikap begitu gentle padamu?

"Hyung... kita mau kemana?" tanyaku begitu Jong Woonie-hyung melajukan mobilnya.

"Rahasia." Sahutnya singkat.

Aku hanya mengangguk dan kembali menyamankan diriku di jok mobil sambil bersenandung pelan. Kalian tanya, kenapa aku tak marah dengan sikap Jong Woonie-hyung yang kembali seenaknya itu? Hihihi... mulai sekarang aku tak akan marah atau apa, karena aku tahu,—belajar dari pengalaman- kalau Jong Woonie-hyung tak mungkin merencanakan atau melakukan sesuatu yang tak kusukai.

.

.oOYeWookOo.

.

"Kita sampai." Ucapan Jong Woonie-hyung menyentakkanku kembali ke alam nyata. Kulihat sekeliling, dan sungguh, aku tak bisa melihat di mana kami berada. Di tempat ini tak ada penerangan apapun, sedangkan Jong Woonie-hyung sudah terlanjur mematikan lampu mobilnya sebelum aku sempat melihat ke sekeliling.

"Kita di mana,hyung?"

"Keluarlah, dan kau akan langsung tahu kita berada di mana." Ucap Jong Woonie-hyung yang langsung melesat keluar dan membukakan pintu untukku.

Laut.

Pantai.

Tak perlu waktu lama bagiku untuk mengidentifikasi tempat ini, karena begitu aku menjejakkan kaki keluar, pendengaranku langsung di sambut dengan suara deburan ombak yang memecah keheningan, dan juga lautan pasir yang menyapa kedua kakiku yang hanya berbalut sandal tipis.

"Kemarilah, Wookie."

Aku mengikuti langkah Jong Woonie-hyung yang menggenggam tanganku, menuntunku berjalan mendekati bibir pantai. Aku terus tersenyum sepanjang perjalanan, menatap tangan kami yang saling bertautan erat. Seiring perjalanan kami, aku mulai bisa melihat jelas suasana pantai yang tenang itu. Langit sudah mulai terang, menandakan matahari akan mulai terbit.

"Kurasa waktunya sudah tepat."

Aku menolehkan wajahku mendengar gumaman pelan Jong Woonie-hyung. Ia tersenyum melihatku, dan satu tangannya menunjuk ke arah cakrawala.

"Lihatlah sunrise itu, Wookie."

Aku menoleh dan tersenyum mendapati matahari yang akhirnya muncul dari peraduannya. Membagi sinarnya kembali kepada seluruh dunia.

"Saranghae, Park Ryeowook."

Secepat kilat aku kembali menoleh ke arah Jong Woonie-hyung yang kini menatapku dengan senyum lembutnya. Sinar matahari yang mulai menerangi pantai itu membuat wajah Jong Woonie-hyung semakin tampan, dan nafasku tercekat saat melihatnya.

"Saranghae Park Ryeowook. Jeongmal Saranghae. Youngwonhi."

"H-hyung... a-aku..." sahutku tergagap karena perasaan bahagia yang begitu membuncah di dalam dadaku.

"Aku tahu, Wookie. Katakan saja 'na do saranghae,hyung'." Ucapnya yang dengan sukses memunculkan senyum di wajahku. Aku berdehem pelan, berusaha menemukan suaraku kembali.

"Ne. Na do saranghae, Kim Jong Woon hyung. Neomu-neomu saranghae." Sahutku dengan lancar sambil tersenyum manis.

Yang selanjutnya terjadi tak dapat kurekam jelas dalam ingatan karena tiba-tiba saja tanganku tertarik ke depan, daguku di angkat ke atas dan dalam sepersekian detik kemudian, kurasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirku.

Aku tersenyum sambil memejamkan mata ketika Jong Woonie-hyung mulai menggerakkan bibirnya di atas bibirku. Kulingkarkan tanganku di leher Jong Woonie-hyung dan mulai membalas ciumannya.

"Aahhnn.." desahku pelan saat Jong Woonie-hyung menggigit-gigit lembut bibirku. Rasaya geli, namun begitu meyenangkan, hingga membuatku terus mendesah ketika Jong Woonie-hyung kembali melumat bibir atas dan bawahku.

"Mmhh... hyuuung...hmmmp..." Aku membuka bibirku ketika merasakan lidah Jong Woonie-hyung yang terus bermain di pertengahan bibirku. Jariku meremas erat surai brunette Jong Woonie-hyung ketika ia mulai menyelipkan lidahnya ke dalam rongga mulutku.

"Aaahhh...mmmhhh..." aku mendesah tanpa henti karena Jong Woonie-hyung yang semakin liar memainkan lidahnya di dalam mulutku. Ia menjilati seluruh sudut mulutku, membuat tubuhku begitu lemas dan bergairah di saat yang bersamaan.

Dan kurasakan adanya jutaan kupu-kupu yang beterbangan di perutku ketika lidah lembut Jong Woonie-hyung menemukan lidahku, mulai merabanya lembut, kemudian melilitnya erat dan mengajakku bermain bersama.

Tanganku semakin kuat mencengkeram dan meremas helaian lembut milik Jong Woonie-hyung saat Jong Woonie-hyung semakin liar bermain dengan lidahku. Aku yang masih pemula tak sanggup lagi mengimbangi permainan lidah Jong Woonie-hyung, dan akhirnya aku hanya bisa terus mendesah merasakan lidah, bibir dan mulut Jong Woonie-hyung yang begitu menguasaiku.

"Sepertinya cukup untuk saat ini. Aku tak ingin kau kehabisan nafas sebelum acara puncaknya, Wookie." Ucap Jong Woonie-hyung setelah melepaskan cumbuannya padaku.

"Hahh... hahh..." aku tak bisa menjawab karena masih harus menstabilkan deru nafasku.

'BLUSH!'

Wajahku langsung memerah sempurna ketika Jong Woonie-hyung menjilat sudut bibirku dan menjilat saliva yang menetes di sana.

"Aku sangat suka melihat wajahmu yang terengah dengan saliva menetes dan wajah memerah sayu. Begitu sexy dan membuatku sungguh tak tahan untuk segera 'memakanmu' sekarang juga." Bisiknya menggoda dengan suara baritonnya yang membuat jantungku berdetak menggila.

"H-hyung~!" rengekku padanya yang telah membuatku sangat malu itu.

"Ahahahaha. Ne, ne. Aku tak ingin membuat semuanya menunggu. Jadi, ayo kita bergegas." Potongnya sambil kembali menarik tanganku dengan lembut dan membawaku kembali ke mobilnya.

"Siapa yang menunggu kita Hyung?" tanyaku bingung saat kami sudah sampai di mobil.

Ia hanya tersenyum dan aku langsung memotongnya sebelum ia sempat menjawab.

"Rahasia. Iya kan, Jong Woonie-hyung?"

"Ne. Itu kau tahu sendiri chagiya. Kenapa masih bertanya?" sahut Jong Woonie-hyung, yang membuat wajahku kembali memerah karena caranya memanggilku.

Chagiya, katanya? Aiiishhh...

"Ah, ah, ah. Wookie-chagiyaku wajahnya memerah. Wae? Kau malu karena kupanggil chagiya, hmm?" tanyannya jahil, yang membuat wajahku semakin memerah karena malu.

"H-hyung! H-hentikan... A-aku hanya tak terbiasa... dan rasanya memalukan sekali di panggil begitu..." sahutku lirih, sambil menutupi wajahku yang memerah.

Dan kali ini aku harus menahan debaran di dadaku karena suara tawa merdu Jong Woonie-hyung terus saja memanjakan telingaku.

.

.oOYeWookOo.

.

"Nah, kita sampai." Ucap Jong Woonie-hyung sambil menghentikan mobilnya di tepi sebah taman yang cukup familiar untukku. Aku melangkah keluar mobil –yang lagi-lagi pintunya di bukakan olah Jong Woonie-hyung—dan mengedarkan pandanganku ke sekeliling.

Jong Woonie-hyung –lagi-lagi— meraih tanganku dan menuntunku untuk mengikutinya. Kami berhenti di sebuah bangku taman yang menghadap ke arah kotak pasir yang –lagi-lagi— terasa familiar bagiku.

"Duduklah, chagiya." Ucap Jong Woonie-hyung sambil menarikku duduk di bangku taman itu. Aku hanya diam dan mengikuti instruksi darinya dan duduk diam.

Tak lama kemudian kudengar suara langkah kaki yang memasuki taman kecil itu. Aku terbelalak kecil melihat si kembar kecil yang harusnya berada di Sapphire Blue, melangkah memasuki taman dengan arah yang berbeda.

"Hiks..hiks... Jong Woonie-hyung..hiks..appo... hu-huweeee~ TT^TT " ucap namja cilik bersurai pirang yang seharusnya bernama Youngmin itu.

Aku mengerutkan kening melihat apa yang mereka lakukan dan menoleh menatap Jong Woonie-hyung meminta penjelasan.

"Diam dan lihat saja." Ucapnya lirih, yang membuatku kembali memfokuskan pada apa yang dongsaengdeulku lakukan.

"W-wae, Wookie-ah?" sahut namja kecil bersurai coklat yang harusnya bernama Kwangmin itu sambil menghampiri namja cilik satunya yang memegangi keningnya dan terisak kecil itu.

"Hiks..hyuung... tadi Wookie..hiks.. terbentur pintu.. T^T"

"Aigooo~ sakitkah Wookie?". Namja mungil yang masih terisak sambil memegangi keningnya yang terbentur itu mengangguk.

Namja cilik bersurai coklat itu menarik namja yang seharusnya adalah hyungnya itu mendekat. "Sakit, sakit pergilah, sembuh, sembuh datanglah." Dan setelah mengucapkan itu, namja kecil itu mengecup dahi namja mungil yang terlihat sedikit membiru.

Aku terbelalak meyaksikan adegan itu. Ingatanku langsung melayang ke masa kecilku.

Sama persis. Kejadian ini sama persis dengan yang waktu itu. Aku kembali menoleh ke arah Jong Woonie-hyung, dan ia hanya mengangguk sambil terus memperhatikan kedua anak kecil yang ternyata memerankan aku dan Jong Woonie-hyung sewaktu kami kecil.

"Uljima, sudah kuberi mantra tadi, pasti sakitnya akan segera menghilang." Kwangmin menarik Youngmin ke dalam pelukannya. Mengusap-usap surai pirang milik namja mungil tadi dengan penuh kelembutan. "Uljima, Wookie-ah."

Youngmin yang memerankan diriku itu menjadi sedikit tenang merasakan pelukan hangat dari Kwangmin yang memerankan Jong Woonie-hyungnya. Senyum mulai merekah menggantikan isak tangis yang tadi keluar.

"Jong Woonie-hyuuung~ Neomu, neomu joahae~"

Dan setelah itu kedua namja cilik itu pergi bersama keluar dari taman itu. Pergi entah kemana aku tak tahu, karena sekarang perhatianku tertuju pada Jong Woonie-hyung yang menggenggam erat tanganku.

"Hyung?"

"Kau tahu chagiya, saat itu meskipun waktu itu aku masih kecil, aku tahu kalau aku sangat tak suka melihatmu menangis. Aku ingin menjadi seseorang yang selalu bersamamu, agar dapat melindungimu." Ucapnya sambil terus memandang ke arah depan. "Apa kau tahu, kata-kata yang kuucapkan dalam hati ketika kau mengucapkan 'Jong Woonie-hyung, neomu-neomu joahae'?" tanyanya sambil masih tetap memandang ke depan.

Aku menggeleng mendengar ucapan dari Jong Woonie-hyung, dan terus menatapnya. Kulihat Jong Woonie-hyung tersenyum sedikit, dan menoleh ke arahku.

"Ne, Wookie-ah, neomu-neomu saranghae." Jawabnya sambil menatap lembut tepat ke kedua manik mataku.

"H-hyung..." . Suaraku bergetar karena rasa bahagia ini begitu membuncah. Bahkan aku tak tahu harus berkata apa untuk menanggapi seluruh kebahagiaan ini.

"Lihat." Ucap Jong Woonie-hyung yang kembali memfokuskan dirinya ke depan, yang kini sudah terdapat Minho dan Taemin di sana. Mereka berdua duduk dengan santai di tepi bak pasir, dengan Minho yang menggenggam tangan Taemin dengan erat.

"Hyung~ " panggil Taemin dengan suaranya yang imut. Sedangkan namja cilik yang ia panggil hyung tetap tak menoleh.

"Jong Woonie-hyuuung~~ " rengek Taemin yang kuduga sedang memerankanku lagi kali ini.

Namun lagi-lagi Minho –yang lagi-lagi juga memerankan Jong Woonie-hyung— tetap tak mau menatap Taemin. Bocah bersurai menyerupai jamur itu berdiri di depan Minho dan menarik-narik lengan Minho dengan bibir mengerucut lucu.

"Jong Woonie-hyung malah cama Wookie?" tanya Taemin dengan ucapan cadelnya, namun tetap saja Minho tak mau memandang bocah manis itu. Melihat reaksi yang sangat dingin dari hyungnya itu, perlahan mata namja manis itu berair dan akhirnya isakan lirih lolos dari bibirnya.

"Hiks... Jong Woonie-hyung..malah... hiks... cama Wookie... hu-huweeee TT^TT "

Aku menatap kaget melihat Taemin yang sepertinya benar-benar menangis. Apakah saeng kecilnya itu memang pintar berakting, atau akhirnya bocah itu terbawa suasana karena memang ia paling tak tahan di cueki oleh Minho?

"Ssshhhh... Wookie-ah..uljima..jangan menangis... hyung tak marah padamu kok ^o^ " akhirnya Minho yang melihat Taemin menangis pun menghilangkan sikap dinginnya dan membujuk Taemin agar berhenti menangis.

"J-jinjja? Jong Woonie-hyung tak malah cama Wookie?" tanya Taemin sambil mulai menyeka air matanya mendengar ucapan Minho itu.

"Ne. Aku tak marah padamu, asal kau mau berjanji satu hal pada hyung."

"Ne! Wookie mau! Tapi, Wookie halus janji apa Hyung?"

"Wookie ah, kalau kita sudah besar nanti, kau harus jadi istriku. Jadi kau tak boleh mengganti namamu, karena Kim dari namamu, adalah tanda kalau kau adalah milikKu. Arra?"

"Ne! Allacceo Jong Woonie-hyung!"

"A-a-a... Hyung... I-itu..." gagapku saat melihat adegan yang di tunjukkan kedua saengku itu. Ingatanku kembali ke masa itu. Masa dimana aku masih memakai marga Kim, yang sama dengan Jong Woonie-hyung.

Tapi sekarang, namau bukan lagi Kim Ryeowook, tapi Park Ryeowook. Aku... telah melanggar janjiku pada Jong Woonie-hyung. Dan, apakah itu yang ingin di tunjukkan pada Jong Woonie-hyung? Ia ingin aku meminta maaf karena telah melanggar janji itu?

"H-hyung... Mi-mian— " Ucapanku terhenti karena Jong Woonie-hyung meletakkan telunjukanya di bibirku. Isyarat untuk memintaku diam.

"Aku tak menunjukkan itu untuk membuatmu merasa bersalah dan meminta maaf, chagiya. Aku tahu yang kau lalui, dan aku bisa memaklumi semua yang terjadi. "

Jong Woonie-hyung kini merubah posisinya menjadi berlutut di depanku. Aku hanya menatap penuh tanya pada Jong Woonie-hyung yang tersenyum lembut padaku.

"Aku, waktu itu aku marah padamu karena kulihat kau berjalan berdua dengan seorang bocah tak kukenal sepulang sekolah. Aku mendengar dengan jelas ketika bocah itu berkata kalau ia ingin kau menjadi kekasihnya. Dan aku lebih marah lagi karena kau yang tak tahu apa artinya kekasih, mengiyakan begitu saja ajakan bocah itu."

"Eh? Benarkah? Kenapa aku tak bisa mengingatnya hyung?" tanyaku tak percaya.

"Ne. Kau tahu, saat itu aku begitu cemburu sampai-sampai aku langsung menarikmu kesini. Ke taman ini, dan di bak pasir itu."

Aku terperangah dan langsung melihat ke sekeliling. Benarkah? Benarkah ini taman yang dulu? Pantas saja aku merasa familiar dengan tempat ini.

"Ne, chagiya. Ini taman yang sama dengan yang waktu itu." . Aku kembali memfokuskan diriku pada Jong Woonie-hyung yang masih berlutut di depanku. Jantungku kembali berdebar ketika Jong Woon meraih tanganku dan menggenggamnya lembut.

"D taman yang sama dengan yang waktu itu, aku ingin kita berdua bisa memenuhi janji masa kecil kita, chagiya. Aku ingin kau menjadi seorang Kim Ryeowook. Bukan Kim Ryeowook yang dulu menyandang marga Kim karena keluarga lamanya. Tetapi Kim Ryeowook yang baru, dengan marga Kim yang berasal dari Kim Jong Woon." . Aku menutup kedua mulutku yang terbuka lebar mendengar ucapan Jong Woonie-hyung. Kulihat ia mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah, membukanya dan menyodorkanya padaku.

"Park Ryeowook, maukah kau menjadi seorang Kim Ryeowook karena mendampingi Kim Jong Woon?"

"pyongsaeng gyothe issulge... I do (For a lifetime I'll be by your side, I do)
nol saranghanun gol... I do (Loving you, I do)
nungwa bigawado akkyojumyonso.. I do (Cherishing you through the snow and rain, I do)
norul jikhyojulge... My love (I'll protect you, My love)"

Suara beriton lembut itu mengalun merdu menyanyikan lagu yang membuat hatiku bergetar mendengar arti dari lagunya.

"Na wa gyurhonhaejullae? (Would you marry me?)"

Tes.. Tes...Tes...

"I do, hyung... hiks... I do..." jawabku dengan isak tangis yang tak bisa kutahan lagi. Tapi kali ini aku tak ingin menghapus air mata ini. Ini adalah air mata kebahagiaan, dan aku tak ingin menghapusnya.

"Gomawo, chagiya. Saranghae. Jeongmal saranghae."

Kurasakan Jong Woonie-hyung meraih jemariku, dan memasangkan sebuah cincin yang bersinar indah dengan sebuah batu rubi kecil yang memantulkan warna biru di bagian tengahnya.

"Hyuuung~ " . Aku tak tahan lagi dengan semua ini dan langsung menghambur memeluknya. "Hyuuung... hiks... Hyuuung..." dan menangis dalam pelukan hangatnya.

"YA! Kenapa kau cengeng begitu Wookie! Crybaby!" sebuah suara yang familiar bagiku terdengar begitu jelas. Tapi bagaimana mungkin bisa...?

"Hush! Kyunnie, jangan begitu! Tak bisakah kau mengucapkan selamat kepada Wookie dengan biasa saja?" kali ini suara Sungmin-hyung terdengar juga.

Ya Tuhan, apakah ini semua hanya mimpi? Kalau bukan, bagaimana mungkin bisa kudengar suara Sungmin-hyung dan Kyu begitu jelas?

"Chukkae, Wookie~!"

"Chukkae~!"

Kali ini suara Hyukkie dan Hae juga terdengar, dan—

'BRUGH!'

"Ukh... appo..." lirihku sakit karena tiba-tiba saja kurasakan tubrukan dari tiga arah. Dari samping kanan-kiri dan juga dari belakang.

"Minnie, Hyukkie, Hae! Lepaskan Wookie! Kalian bisa memeluknya satu persatu nanti. Jangan memeluknya bersamaan dan membuatnya kesakitan begitu!"

Ya Tuhan, kali ini suara Jung Soo-umma juga ada! Apa benar kalau ini mimpi? Tapi kalau mimpi, kenapa sakitnya begitu terasa? Beban cincin yang melingkar di jari manisku juga terasa.

"Ini bukan mimpi, chagiya." Kudengar suara lembut Jong Woonie-hyung dan juga tarikan lembut pada daguku, membuatku kembali membuka mata dan kulihat semua orang yang kusayangi sudah berkumpul di taman itu.

"Ba-bagaimana..."

"Hyung tak cadal? Kami dicini dali tadi loh." . Aku menoleh mencari suara cadel itu. Kulihat Taemin yang berdiri di samping Minho. Di belakangnya, seluruh anak-anak Sapphire Blue juga ada di sana.

"Ne. Kami semua bersembunyi disini sebelum Wookie-hyung datang~" sambung Minho yang diikuti dengan anggukan yang lainnya.

"Yesung-hyung, lepaskan pelukanmu dari Wookie, kami kan ingin memberinya selamat!" ucap Hyukkie, yang diikuti dengan terlepasnya pelukan hangat dari Jong Woonie-hyung.

"Chukkae, nae dongsaeng~ " seru Sungmin-hyung sambil memelukku erat. "Kau tahu, ini semua rencama Yesung-hyung. Dan kudoakan kau selalu bahagia bersama dengan orang yang kau cintai dan juga mencintaimu, Wookie." Bisik Sungmin-hyung yang membuatku kembali meneteskan air mata haru.

"Gantian hyung! Chukkae, Wookie~!" kali ini kurasakan tubrukan keras pada tubuhku. Ternyata Hyukkie yang memelukku dengan keras. "Kau tahu tidak, Yesung-hyung membangunkanku pagi-pagi buta loh! Jadi, kau harus berbahagia dengan sepupuku itu!" bisik Hyukkie di telingaku.

"Chukkae~!" sebuah pelukan terasa di bagian belakang tubuhku. Hae ternyata. "Semoga kau bahagia dengan sonsaengnim kita Wookie."

"Ya! Lepas kalian berdua!" Tubuhku tiba-tiba bebas dari pelukan siapapun, dan kini ada seyum evil yang terpampang di depanku. "Sudah kuduga kalau kau sama abnormalnya dengan kami semua, Wookie." Aku tertawa mendengar ucapan Kyu, dan menariknya dalam sebuah pelukan. "Gomawo, Kyu." Ucapku yang mengerti dengan baik sifat seorang Cho Kyuhyun. "Yah, kudoakan kau selamat, karena percaya atau tidak, menurut penilaianku,Yesung itu sebenarrnya pervert. Dan bisakah kau segera selesaikan ini, karena tadi aku harus menunda kegiatan you-kbow-what-ku dengan Minnie." Bisik Kyu sambil melepaskan pelukannya padaku.

"Eomma~ " Aku merengek lirih saat merasakn pelukan dari namja yang sudah kuanggap seperti ummaku sendiri. "Chukkae, nae aegya~ Kudoakan kau selalu berbahagia dengan Yesung yang sangat mencintaimu." Air mataku seperti tak bisa berhenti mengalir saat ini. Apalagi dengan semua orang yang mendoakan kebahagiaanku sekarang.

"Hyuuung~" panggil semua anak-anak Blue Sapphire. Aku berjongkok, dan mereka semua langsung berebutan memelukku. Ucapan-ucapan selamat kudengar dari seluruh bocah manis di hadapanku, membuatku makin tak bisa berhenti menangis.

"Aku orang yang paling berbahagia hyung." Ucapku lirih sambil menatap Jong Woonie-hyung yang juga menatapku dengan lembut.

.

.oOYeWookOo.

.

Dan bodohnya aku saat itu, aku terlalu terlarut dalam kebahagiaan, sampai tak menyadari bahwa ada sesosok yeoja yang menggeram kesal dari balik pohon di taman itu.

.

.oOYeWookOo.

.

'TEEEEETTTTT!'

Suara bel istirahat di sebuah sekolah membuat para siswanya berteriak senang. Mereka semua yang sudah jenuh mendengarkan sonsaengnim mereka mengoceh panjang lebar bagaikan mendengar nyanyian dari dewi, meski suara bel di sekolah ini terlalu biasa, bahkan bisa di bilang cukup jelek, mengingat ini adalah sekolah yang cukup bergengsi.

"Ding Dong~ Pengumuman untuk seluruh siswa dan sonsaengnim di sekolah." Suara dari speaker sekolah itu membuat seluruh siswa yang akan beranjak keluar kelas terdiam sesaat. Mereka sungguh penasaran, karena jarang sekali ada pengumuman yang diberikan melalui speaker sekolah. Dan biasanya, kalau ada pengumuman seperti itu, maka hal yang penting dan mendesak sekali yang akan di umumkan. Termasuk aku dan juga Hyuk dan Hae serta Kyuhyun. Kami semua menatap Speaker itu dengan pandanga ingin tahu yang tak bisa di sembunyikan.

"Ehem. Saya Kim Yesung, sonsaengnim yang mengampu mata pelajaran musik. Saya disini hanya ingin menyampaikan kabar gembira."

Kedua iris mataku membulat sempurna mengenali suara merdu yang terdengar dari speaker sekolah itu. Dan dalam hati aku berkomat-kamit jangan sampai hal buruk yang kubayangkan benar-benar terjadi. Seharusnya Jong Woonie-hyung tak akan senekat itu kan?

"Lima hari lagi, tepat di hari sabtu besok, saya akan menikah."

"Whhoooaaaaa." Terdengar seruan dan berbagai ucapan seamat yang terlontar dari sekeliling ruang kelasku. Ya, suasanan kelasku ini yang paling berbdea. Hening mencekam karena semua siswanya memandang ke arahku. Dan aku yang di tatapi seperti itu hanya bsia menunduk sambil mengumpat dalam hati.

"Dan kalau kalian mengenalnya, pasanganku adalah siswa kelas akhir di sekolah ini juga. Namanya adalah Park Ryeowook, dan namja manis itu, dalam lima hari ke depan akan berganti nama menjadi Kim Ryeowook karena menikah dengan Kim Yesung. Kalau kalian semua berkenan, silahkan datang ke pernikahan kami haru sabtu depan di Gereja . Dan perayaannya akan diadakan di Ballroom hotel Seoul International. Sekian, dan terima kasih."

Oh Tuhan, matilah aku

~TBC~

Yaa~! Author kembali bawa chappie 10-nya nih!

Pertama : MIANHAE nggak bisa apdet cepet-cepet, selaen utang author yang banyak, gara-gara hujan-angin , PLN jadi sering madamin lampu di kota author nih TT^TT

Nyebelin banget TT^TT

Tapi karena author akhirnya bisa balik bawa Chappie 10, Yesungdahlah, lupain aja soal PLN yang nyebelin itu, Ok?

Kedua : yang udah bayangin NC, kekekeke~ NC-nya masi author tunda dulu~ sabarya, reader2 yadong~ xixixixixi

kalo yang nanyain nasib Mochi, karena dia di tolak Wookie, udah jelas dia bakal ama Mimi-ge! Hidup ZhouRy! Yeeey~!

Ada yang minta YeWook romantic moment? Udah author kasih nih! Amat sangat romantic dan bahkan author hampir nangis waktu adegan Wookie di lamar sambil di nyanyiin lagu Marry You-nya super junior! *soalnya author pasang BGMnya yang marry you di SuShow 1 sih

Ada yang minta tambahan KyuMin? author kasih nih! tapi dikit aje ye

Mau minta ape lagi sekarang, eoh? Author kabulin kecuali minta Yeppa ya!XDDD

Buat : cho devi , Meong, YellowPinkBlue, Park Hyo Ra, ryeocloud, JiYoo861015 , Park Hee Jung, WookieWookieWookie , Little-Tonks , nurulamelia , kimlala, Aiden Prentist, Myblackfairy, Elsa, Perisai Suju, kim Kwangwook, CloudSky, Aiichan, yu-chan, yolyol , Enno KimLee, Jirania, Kim Min Lee , ddangkomom, sdongenter, rizkyeonhae, Mutsuchi, SimbaRella, Rainie YW, Eternal Clouds, VitaMinnieMin, xueyuncloud, ELFanita-chan, kim kyukie qendt

MIANHAE nggak bisa bales review satu-satu, tapi author terima kasih banget udah sudi review chap yang kemaren *bows

Ini author lagi siap-siap buat terbang ke korea, mau ngehadirin acara nikahannya YeWook di gereja 5 hari lagi, sekalian ngerekam adegan NC mereka buat readerdeul semuaaah~!

Oke, sekian dari author, yang masi mau tau gimana nasib nikahannya YeWook, dan apa yang dilakuin ibunya Wookie, serta adegan NC-nya YeWook yang H.O.T,

REVIEW pleeaaassseeeee~~!