.

.

.


HEART OF EMPEROR


Heart of Emperor

Heart of Emperor©Hachi Breeze

Character adapted©Naruto©Masashi Kishimoto

©SasuHina

©2013


.

.

.

Gaara duduk di bangku yang menghadap shoji pintu utama penginapan milik teman semasa kecilnya. Peristirahatan yang disewa ini nampak berbeda dari terakhir kali ketika Gaara mengunjungi tempat ini. Ia menatap lorong berlantai kayu hitam kusam, di apit shoji kamar yang saling berhadap-hadapan. Pencahayaan yang kurang membuat lorong itu nampak sedikit remang. Hanya cahaya lilin dari dalam yang dapat Gaara lihat. Itachi menepuk pundak Gaara yang melamun. Pemuda Sabaku itu sedikit menggeser tubuhnya ketika menemukan Itachi yang sudah berdiri dengan tersenyum lembut. Katana yang masih menggantung di antara pinggang dengan tali ikat obi kecil Gaara ia pindahkan untuk memberi ruang agar Itachi bisa duduk di sampingnya.

Itachi duduk di samping Gaara dengan tersenyum kecil menatap shoji di depannya. Keduanya masih terdiam. Tak ada yang ingin memulai untuk berbicara. Pintu yang baru di tutup membuat keduanya mengalihkan pandangan menatap Sakura dan Ino yang baru selesai mandi dengan memakai kimono mandi yang disediakan. Rambut basah Sakura dan rambut panjang Ino yang tergerai membuat keduanya hampir salah mengenali miiko ini. Kedua gadis itu masih menunduk hormat sambil tersenyum.

"Ino-san, apakah Hanabi ada di dalam sana?"

Gaara melirik Itachi yang kini menudingkan telunjuknya ke arah pintu dimana Sakura dan Ino baru saja keluar. Pemuda Sabaku itu beralih mengalihkan obyek pandangan matanya sebelum pada akhirnya menunduk karena bingung harus bagaimana setelah mendengarkan Itachi. Ino menoleh ke arah pintu pemandian yang baru saja ia dan Sakura lewati. Gadis itu menggeleng pelan ketika Sakura masih memutar memori ingatannya.

"Bukankah Hanabi-san ada di kamar bersama Hinata-san?"

"Ah, iya! Aku baru ingat."

Itachi menghembuskan napasnya lega dengan tersenyum kecil. Ia mengangguk pelan ketika Ino dan Sakura meminta ijin untuk berlalu lebih dulu. Kedua gadis miiko itu juga membungkuk hormat kepada Itachi dan Gaara sebelum benar-benar melangkah melewati lorong menuju kamar mereka berdua. Gaara masih menunduk sambil menyandarkan punggungnya ke dinding. Itachi mengikuti hal yang sama dengan Gaara, menyandarkan punggungnya ke dinding sambil mendongak menatap langit-langit penginapan yang sangat remang.

"Kau … apakah memang harus jika keluarga Uchiha bersanding dengan Hyuuga?"

Itachi masih mendongakan kepalanya ketika pandangannya jatuh kepada Gaara melalui ekor matanya. Pemuda Uchiha itu masih membenarkan posisinya sebelum menjawab pertanyaan Gaara.

"Sebelumnya aku dan adikku … Sasuke, kami tidak mengerti apa-apa sebelumnya mengenai Hyuuga. Dulu, aku sempat ingin dijodohkan dengan putri dari keluarga yang biasa-biasa saja sebelum bertemu para Hyuuga. Tapi hari itu, hari dimana kami pergi mengunjungi peringatan hari kematian Hitomi-sama di kerajaan Hyuuga, kami bertemu mereka berdua untuk pertama kali di halaman besar keluarga Hyuuga."

Itachi masih memandang langit-langit gelap di atasnya ketika menggali ingatan masa lalunya. Gaara mendengarkan apa yang akan Itachi katakan sambil melirik dari ekor mata.

"Hari itu, itu adalah pertama kalinya aku menemukan punggung kecil Hinata yang bersembunyi di belakang pohon besar. Dia memandang Sasuke yang nampak kesal bertemu Hanabi hari itu. Aku hanya bisa terdiam mengamati ketiga bocah kecil yang umurnya hampir tak jauh beda itu dari jauh. Dan aku bisa menemukan Hanabi yang saat itu juga sebal melihat Sasuke. Wajahnya yang kecil, rambutnya yang panjang tergerai hampir menutupi wajahnya saat itu sempat membuatku takut memandangnya." Itachi terkikik geli memandang langit-langit dimana ia dan Gaara duduk.

"Untuk pertama kalinya ketika Hinata menginjakan kaki di kerajaan Uchiha, aku sempat jatuh cinta kepadanya walaupun aku tahu jawaban yang sudah lama muncul adalah Hinata mencintai Sasuke. Namun aku hanya menekan kenyataan itu hingga aku sakit. Setelah itu, aku sering bertemu Hanabi dengan cara yang tak terduga. Dan dengan mudahnya, hatiku sudah direbut olehnya."

"Kau mencintainya?"

"Ya, sangat."

"Lalu bagaimana jika … maksudku apa yang akan kau lakukan jika," aku juga mencintainya.

Itachi berganti melirik Gaara yang masih memikirkan kalimat yang akan ia katakan. Itachi masih mendengarkan dengan perlahan apa yang akan pemuda Sabaku itu tanyakan.

"Jika kau ingin melindunginya? Bagaimana caramu melindunginya?" agar aku juga bisa melakukan hal yang sama sepertimu di hadapannya.

Itachi berganti menatap langit-langit kembali sambil memejamkan matanya. Ia memikirkan kalimat yang pas sambil mencerna apa maksud pemuda yang ada disampingnya. Ia perlahan mengerti, namun ia tak ingin mengungkapkannya. Ia meminjam katana milik Gaara dan mulai memeragakan bagaimana cara memegang pedang yang baik dan ketika bertarung. Gaara masih memerhatikan. Keduanya hanyut dalam dunia mereka ketika membicarakan bagaimana cara bertarung yang baik saat Sasuke dan Sasori baru saja keluar dari kamar dengan menutup shoji.

Sasuke dan Sasori berjalan perlahan menghampiri keduanya. Sasori hampir menyapa keduanya jika saja shoji pintu utama tidak bergeser membawa keramaian tersendiri. Naruto berjalan masuk dengan membawa berbagai macam makanan di kedua tangannya. Sai masih berjalan dengan tenang di belakang Naruto. Pemuda itu menjawab apa saja yang dikatakan Naruto saat pemuda asing itu begitu antusias setelah keliling daerah dekat kerajaan Sabaku. Sai membungkuk hormat ketika pandangannya bertemu dengan Gaara. Naruto masih mengamati apa yang dilakukan Sai sebelum ia ikut membungkuk hormat. Gaara dan Itachi berdiri untuk membalas salam hormat dari pemuda di depannya.

Sasuke dan Sasori masih mengawasi beberapa langkah. Keduanya berjalan mendekat ketika Naruto menyapa dan memanggilnya. Sasuke masih mengamati makanan yang begitu menarik di tangan Naruto. Perlahan tangannya mengambil satu bungkus dango dari tangan Naruto. Pemuda Inggris itu menepuk tangan Sasuke dengan keras ketika sang pangeran Uchiha bungsu ini mengambil makanan dari tangan Naruto.

"Don't touch! I'm hungry!"

Sasuke bingung dan semua orang yang berdiri disana juga tidak mengerti. "Ng, dia bicara apa sih?"

Sasuke melepaskan bungkusan dango itu untuk kembali ke tangan Naruto. Pemuda satu-satunya berambut pirang itu masih mengunyah beberapa makanan di dalam mulutnya.

"Gaara-sama, mungkin anda lupa. Tapi saya sempat melayani kerajaan Sabaku ketika anda masih kecil."

Gaara menatap Sai yang membungkuk hormat kepadanya. Pemuda itu menatap lurus ke dalam matanya sambil tersenyum kecil. "Sekarang saya yang akan bertanggung jawab menjaga anda, tuan."

Walaupun Gaara tidak mengingatnya, ia hanya mengangguk.

"Sasuke, kau mau kemana?"

"Mandi. Itachi-nii tidak mandi?"

"Nanti."

Naruto melirik Sasuke dan Sasori yang berlalu menuju lorong yang menuju ke tempat berasap segar disana. Perlahan ia melepas alas kaki yang dipakainya dan berlari mengejar Sasuke dan Sasori.

"Aku ikut!"

"Hei Sasori, apakah berambut merah itu menyenangkan?"

.

.

.

Hanabi masih meringkuk di atas pangkuan Hinata. Memainkan kimono Hinata yang ia tiduri. Hinata masih menyisir rambut panjang Hanabi yang ada di pangkuannya. Kedua gadis itu masih diam dan membiarkan lilin di pojok ruangan menari di dalam lampion kecil. Tali pengikat mantra yang diberikan oleh Sasori berkat bantuan Sakura dan Ino, masih menempel di baju Hinata dan Hanabi. Tak ada satu dari mereka yang ingin melepaskan tali mantra itu. Hanabi ingin terus tidur di pangkuan seperti ini jika memang wajah Hinata mirip dengan ibunya. Hanabi ingin merasakan tidur di pangkuan ibunya dengan Hinata sebagai gantinya. Gadis itu sudah lama ingin melakukannya. Sama dengan Hinata yang sedari dulu sangat ingin menyentuh Hanabi dalam pelukannya. Karena itulah mereka tak ingin melepas tali mantra yang bisa membuat mereka berjauhan lagi.

Hinata masih tersenyum lembut memegang sisir kecil yang ia gunakan untuk membelai rambut panjang Hanabi. Gadis itu sesekali bersenandung kecil.

"Jadi apakah seperti ini rasanya jika bisa tidur di pangkuan ibu?"

Hinata masih mendengarkan. Ia menggeleng pelan menjawab pertanyaan Hanabi yang sederhana. "Aku tidak tahu, aku juga belum pernah melakukannya."

"Jadi, jika kita memakai terus tali mantra ini … kita berdua hanyalah gadis biasa dan tidak bisa menggunakan kekuatan dari energi kita?"

Hanabi masih memain-mainkan jemarinya sambil menatap wajah Hinata dari bawah. Hinata berhenti menyisir rambut Hanabi ketika gadis itu berbalik, ia berganti menatap jemarinya juga. "Aku tidak bisa memanipulasi api dari lilin itu, padahal sebelumnya aku bisa memanipulasi api saat berada di kerajaan Hyuuga."

Hinata berganti melirik apa yang ditunjuk Hanabi. Kedua gadis itu hanya terdiam. Tawa Sakura dan Ino yang bisa mereka dengar melewati ruangan kamar mereka membuat keheningan jadi terisi. Langkah kaki mereka di atas kayu yang berderit membuat Hanabi dan Hinata menajamkan pendengarannya.

"Bahkan aku pun tak bisa mendengar apapun yang dibicarakan oleh mereka. Padahal biasanya aku bisa menguping jarak jauh."

"Ah, kau benar. Aku juga tak bisa mendengar apapun."

.

.

.

Neji masih tidur di futon yang sudah disiapkan oleh Temari. Gadis dari kerajaan Sabaku itu tidak ada di ruangan yang ditidurinya. Neji masih meringkuk sambil memegang luka yang masih tersisa bekas tumbukan daun yang sudah Temari obati. Ia perlahan bangun dan mengeratkan kain yang gadis itu gunakan untuk menutup lukanya sesudah ia bersihkan. Neji menyingkirkan selimut tebal futon dan berusaha untuk duduk. Namun usahanya sia-sia karena punggungnya masih terasa ngilu. Dari bayangan shoji yang tercipta di ruangan kamar dimana Neji masih berbaring, ia bisa melihat bayangan Temari sedang berlari terburu-buru. Neji masih memerhatikan.

Tubuh Temari terbanting ke dinding ketika Orochimaru dengan cepat menahan gadis itu untuk tidak lari. Neji masih memerhatikan dari dalam. Bagaimana gadis itu terpojok dan berusaha menghindari serangan Orochimaru. Neji ingin menolong namun sayang, tubuhnya tak mendukung untuk berjalan kesana.

"Apa yang kau lakukan?"

"Seharusnya aku yang bertanya begitu, sayang. Apa yang kau lakukan? Mengirimkan surat dengan burung kecil tak berguna seperti ini kepada adikmu?"

Temari memandang jijik pada burung yang beberapa hari lalu ia lepas untuk dikirim kepada Gaara. Burung merpati itu kini sudah menjadi bentuk aneh dari muntahan ular yang berada di dekat Orochimaru. Pria itu tertawa sarkastik sambil menekan tubuh Temari ke dinding. Tak memerdulikan raut wajah kesakitan dari gadis itu. Kimononya semakin terasa sesak ketika pria dihadapannya ini menekan lehernya.

"Kau itu cantik, jika kau mau menjadi selirku untuk mengusai tanah ini kau bisa hidup tanpa susah. Tapi kau memilih hidup sebagai budak."

Pria itu tersenyum mengejek sambil mendekatkan tubuhnya. Temari mendorong dada bidang pria itu sambil menundukkan wajahnya. "Aku lebih baik mati daripada menjadi selirmu."

Senyuman di wajah Orochimaru berubah menjadi seringaian yang sangat mengerikan. Tubuh gadis itu dilemparnya hingga membentur dinding. Lalu berganti berjalan menjauhi gadis itu. "Sayang sekali, kau memilih jalan yang sangat susah untuk hidup padahal kau sangat cantik."

Temari masih meringkuk di lorong kamarnya. Mencoba memeluk tubuhnya yang sakit. Ia berganti menatap kotoran tak berbentuk yang ada di dekatnya. Burung pengirim surat yang ia kirim untuk Gaara kini sudah tak bisa diharapkan. Gadis itu menangis takut jika adik satu-satunya itu akan kembali ke kerajaan dan menjadi korban seperti Kankurou sebelumnya. Atau bahkan seperti ayahnya yang dikendalikan.

Gadis itu berdiri dan membersihkan kotoran itu. Ia menghapus air matanya sebelum memasuki shoji kamarnya dan berlatih untuk tersenyum sebelum masuk. Setelah dirasanya sudah baik-baik saja, ia menggeser shoji dengan tersenyum ceria. Neji masih terbaring di atas futon dengan selimut yang sudah berantakan. Pemuda itu hanya memandang ke arahnya saja yang masih melangkah masuk. Temari masih tersenyum sambil melipat kimononya untuk duduk di samping Neji. Neji tidak berbicara apa-apa ketika gadis itu mengajaknya berbicara sambil tersenyum lembut.

"Sabaku-san, dahi anda kenapa?"

Temari mengusap dahinya. Ia bisa merasakan ada sedikit darah yang sudah mengering. Pasti ini karena lemparan Orochimaru tadi, bodoh sekali dirinya tidak menyadari dahinya terasa sakit.

"Ahaha, tidak apa-apa. Aku tadi hanya terjatuh." Temari masih tersenyum lembut dalam dustanya. Walaupun sebagian faktanya benar jika dirinya telah terjatuh sebelumnya.

"Jangan berdusta. Aku tahu,"

Temari menatap jemarinya dengan tersenyum getir. "Kedengaran, ya?"

"Aku ingin bertanya mengenai orang yang telah menghancurkan kerajaan Hyuuga."

Temari meneliti tatami sambil membunguk maaf. "Maaf atas serangan itu. Itu sungguh bukan atas kehendak kami. Orang yang anda maksud adalah Orochimaru."

"Orochimaru adalah tabib yang pernah aku kenal sewaktu masih kecil. Dulu dia tidak seperti ini, dia memang pendiam dan sangat tertutup. Tapi beberapa tahun terakhir dia baru kembali dari perjalanan jauh. Dia tiba-tiba saja berubah."

Neji masih memerhatikan penjelasan Temari ketika gadis itu mengusap-usap dahinya.

.

.

.

Itachi duduk di bagian belakang penginapan sendirian. Pemuda itu mengenakan kimono mandinya sambil menguap karena mengantuk. Air hangat dari pemandian yang ia gunakan untuk berendam bersama Sai dan juga Gaara kini membuatnya merasa jauh lebih segar. Gaara dan Sai telah tertidur di kamar mereka berdua setelah menemui Inuzuka Kiba yang menjadi pemilik penginapan sekaligus teman semasa kecil Gaara. Ia tak ingin beranjak ke kamar dahulu untuk tidur bersama Sasuke.

Malam itu bulan bersinar terang. Membuat Itachi memejamkan mata sambil mendongak menatap ke atas. Suara langkah kaki di lorong itu membuat Itachi menoleh. Ia tersenyum lembut sambil mengulurkan lengannya menggapai tubuh mungil itu. Hanabi duduk di samping Itachi sambil tersenyum. Gadis itu masih menggerai rambutnya yang panjang. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Itachi sambil memejamkan matanya.

"Itachi,"

"Hn?"

Gadis itu membuat Itachi menolehkan pandangannya. Ia masih tidak mengeluarkan kata-kata. Tubuhnya membuat Itachi kehilangan kata-kata ketika gadis itu mendorongnya.

"H-hanabi … ?"

"Karena tali ini, sekarang aku hanyalah seorang gadis biasa … jadi, tak apa kan jika aku menyentuhmu?"

Oh, jika saja ini kesempatan satu-satunya untuk mereka, Itachi akan mengambilnya dan menanggung dosa kecil termanis mereka berdua. Ia tak bisa menolak. Itachi mendorong tubuh mungil Hanabi, membalikan posisi dimana ia yang berada di atas tubuh mungil gadis itu. Gadis itu tidak menjawab apa-apa, dia hanya tersenyum ketika Itachi mencium helaian rambutnya.

"Jangan sampai tali kecil di obiku lepas. Aku tak ingin membunuhmu dengan menyerap habis jiwamu."

Itachi hanya tersenyum sebelum ia melanjutkan apa yang sudah lama mereka berdua ingin lakukan. Perlahan ia membelai lembut kepala Hanabi sebelum memulai. Ia mendekatkan wajahnya, ingin melakukan hal pertama yang sangat ia tahan selama ini. Ia bisa mencium Hanabi dengan mudahnya tanpa perantara karena ketakutan Hanabi yang akan mencuri jiwanya hanya karena ini.

Dan malam itu, adalah malam dimana mereka melakukan dosa kecil yang termanis.

.

.

.

Hinata terbangun dan menaikkan selimut futon yang ditidurinya dengan erat ketika shoji pintu kamarnya terbuka. Sasuke masuk dengan yukata tidur ke kamar Hinata. Gadis itu sedikit terpekik pelan ketika pemuda itu masuk dengan wajah merona yang cemberut. Rambutnya yang berantakan sambil memeluk selimut futon membuat Sasuke nampak lucu pagi hari ini. Bagaikan kejutan pagi hari, Hinata semakin merona ketika Sasuke berjalan mendekatinya sambil berjalan sedikit tersandung karena masih mengantuk. Sasuke duduk membelakangi Hinata dan menghadap shoji kamar. Keduanya duduk saling memunggungi satu sama lain. Tak ada yang memulai untuk berbicara, Hinata terlalu malu untuk memulai sedangkan Sasuke terlalu sibuk menguap.

Masih hening tak ada yang memulai.

"Maaf sudah membangunkanmu."

"S-sasuke-san, apa yang kau lakukan di kamar gadis pagi-pagi begini?"

"Um, ng … , maafkan aku. Sebenarnya bukan mauku, hanya saja Itachi-nii membangunkanku dan menyuruhku untuk keluar kamar secara paksa."

"O-oh, ng, begitu ya … "

Hinata kembali menaikkan selimut futonnya dan merangkak ke sebelah lempitan kimononya.

"Tapi, jika Itachi-san menyuruhmu keluar … kenapa kau masuk ke kamarku?"

Sasuke sedikit menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal. Malah ia terlihat seperti semakin mengacak-acak rambutnya untuk menjadi semakin berantakan. Ia tak bisa menjawab pertanyaan sederhana Hinata. Memang benar jika ia seharusnya bisa saja masuk ke kamar Gaara dan Sai atau Sasori dan Naruto. Tapi yang terlintas pertama kali di benak Sasuke pertama kali adalah ruangan kecil yang di dudukinya bersama gadis di belakangnya. Sasuke jadi bingung harus menjawab apa pertanyaan ini. Hinata masih merapikan futon sebelum mengeluarkan beberapa kain dari lemari kamar penginapan ini.

"S-sasuke-san, bisakah kau keluar sebentar? Aku ingin memakai baju."

Dan Sasuke masih melayang di alam imajinasinya, tak menghiraukan Hinata yang berulang kali memanggil namanya.

.

.

.

Itachi berdiri di depan ruangan kamar Hinata dengan sabar. Pemuda itu melirik Sasuke yang sudah terlihat lebih segar sambil mengenakan kimono dengan celana hakama yang panjang. Rambutnya juga basah, terlihat sekali jika pemuda bungsu Uchiha itu menyiram rambutnya ketika mandi. Shoji kamar Hinata perlahan terbuka. Hinata menyisir rambut panjangnya dengan jemari kecilnya, ia sedikit membungkuk memberi salam kepada Itachi yang berdiri dengan gusar di depan shoji. Itachi melirik Sasuke yang menguap dan Hinata secara bergantian.

"Hinata, bisakah kalian membantuku?"

Hinata hanya memiringkan kepalanya menunggu perkataan Itachi ketika pemuda itu masih menggigit bibir bawahnya. Sasuke hanya bersandar dan duduk di lantai kayu sambil menguap ketika mendengarkan.

"Bisakah kalian membantuku untuk membelikan Hanabi kimono baru? Ng, kimononya yang kemarin terkena noda."

"Apakah tali mantranya baik-baik saja?"

Itachi hanya mengangguk dengan mantap, "Itulah mengapa aku memisahkan ruangan antara kau dan Hanabi, karena sekarang dia tidak bisa mengikat talinya. Dia menjaga jarak agar tidak mencuri jiwamu."

Hinata mengangguk pasti sambil melirik Sasuke. Pemuda itu masih pada keadaan yang sama. Hinata berbalik mengambil sesuatu di dalam kamarnya, mengambil kantong berisi uang miliknya. Kembali berjalan menghampiri Itachi sambil menarik lengan Sasuke. Hinata hanya tersenyum ketika pemuda yang di gandengnya masih berjalan dengan tersandung.

"Aku mengerti, akan aku belikan."

.

.

.

Sasuke berjalan di samping Hinata dengan sesekali mengerjap-kerjapkan kelopak matanya yang terasa berat. Hinata masih memeluk lengannya dengan erat, takut jika dirinya terjatuh karena masih mengantuk. Hinata melirik sekitarnya ketika pedagang di dekat daerah kerajaan Sabaku tak sebanyak semalam. Banyak toko yang tutup dan berantakan. Hinata menemukan sosok Kiba, sang pemilik penginapan, sedang berdiri sambil menawar sayuran. Ketika pemuda itu berbalik, Hinata menarik Sasuke untuk mendekat sambil tersenyum.

Kiba membungkuk hormat sambil meremas ujung kain kimono tangannya. Sesekali ia juga menggaruk bagian belakang kepalanya yang tak terasa gatal, hanya sebuah pengalihan perhatian yang dilakukannya. Hinata memerhatikan dengan teliti belanjaan Kiba. Pemuda itu tak berbelanja banyak. Hanya nasi yang bisa Hinata prediksikan satu takaran saja, tiga telur ayam dan beberapa sayur. Sasuke tidak begitu memerhatikan ketika Hinata ikut menawar, pemuda itu hanya menggenggam jemari Hinata yang berganti memenuhi ruas-ruas jemarinya. Sasuke sedikit tersenyum kecil sambil memejamkan matanya.

Kiba membungkuk terima kasih kepada Hinata sebelum pemuda itu beranjak pergi. Hinata hanya tersenyum kecil.

"Dulu, Kerajaan Sabaku tidak seperti ini. Beberapa hari yang lalu, pangeran Kankurou, putra mahkota yang menjadi kandidat sebagai pengganti raja telah meninggal,"

Hinata menutup bibirnya dengan sebelah tangan, "Meninggal?"

"Ya, penyebabnya karena sakit. Lalu setelah itu banyak sekali pengawal kerajaan yang melewati desa dengan mengambuk membawa alat perang."

'Menyerang kerajaan Hyuuga.'

"Lalu kudengar sekarang kerajaan Sabaku terlihat aneh. Itulah mengapa banyak sekali toko-toko yang tutup."

"Ah jadi begitu, ngomong-ngomong. Apakah kau tahu dimana pedagang yang menjual kimono berada?"

.

.

.

Hinata berdiri sambil memilih beberapa kain kimono berbahan halus. Sang pemilik dagangan itu juga masih setia menunggu pilihan Hinata dengan sabar. Gadis itu berdiri sendirian ketika Sasuke tak ada di sampingnya, pemuda Uchiha itu pergi sebentar dengan ijin ingin membeli sesuatu. Senyuman di wajah Hinata tak hilang ketika gadis itu menemukan kain kimono yang sangat halus. Ia juga memerhatikan motif bunga sakura dan goresan abstrak yang menghiasi bagian bawah kain kimono itu. Ia masih mengelus-elus kain berwarna merah yang lembut itu. Perlahan ia meraih obi perpaduan warna hijau dan kuning muda. Pedagang itu tersenyum ketika Hinata menanyakan berapa harga kain baju yang dipegangnya. Ia membungkus barang yang dibeli Hinata dengan menggunakan daun kering. Ketika Hinata menyerahkan uang miliknya kepada wanita tua di depannya, mereka berdua beralih memerhatikan kerumunan orang yang berlarian menuju satu titik yang sama.

Hinata masih diam memerhatikan sambil memeluk bungkusan baju kimono untuk Hanabi. Sang wanita tua yang sudah mengerti keadaannya, segera membereskan barang dagangannya beserta peralatan yang sudah ia siapkan untuk menjual kimono. Ia menutup tokonya dengan cepat. Hinata tak tahu harus melangkah kemana dengan tak adanya Sasuke di sisinya. Ia dengan penasaran mulai mengikuti arah orang-orang yang saling kejar-kejaran itu. Membentuk melingkar mengerumuni sesuatu yang tak Hinata tahu.

Hinata masih berdiri di barisan paling belakang. Berjalan dan sedikit menjinjit untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di tengah-tengah kerumunan sana. Apakah itu Sasuke?

Bukan. Itu bukan Sasuke.

Orochimaru masih duduk di atas kudanya sambil menatap sombong anak kecil yang ada di bawahnya. Tubuh kecilnya yang berbalut kain usang dan lubang di tiap sisinya membuat semua orang merasa iba. Kerumunan orang-orang dimana Hinata termasuk disana masih tak melakukan apa-apa, mereka hanya melihat tanpa ada niatan untuk membantu anak kecil itu. Beberapa anak kecil lainnya yang hanya melihat dari jauh, hanya bisa menggigit jemari kecil mereka ketika melihat salah satu temen mereka dalam keadaan genting.

"M-maafkan aku tuan. A-aku tak bermaksud m-"

"Tutup mulutmu anak kecil. Melemparkan sampah makanan seperti ini kepadaku adalah sebuah penghinaan."

"T-tapi itu makanan saya untuk seharian ini."

Hinata mendesak beberapa orang untuk melihat lebih dekat. Ia hanya bisa melihat sedikit dari apa yang sudah terjadi disana. Lengannya tertarik ke belakang ketika Sasuke menemukannya di antara manusia-manusia berbadan gemuk yang menghimpitnya. Hinata memeluk erat Sasuke ketika pemuda itu juga melakukan hal yang sama sambil mencium puncak kepalanya.

"Ayo kita pergi dari sini."

"Tapi bagaimana dengan anak kecil yang ada di sa-"

"Kita harus pergi. Secepat mungkin."

"Sa-"

"Dia Orochimaru, Hinata. Karena itu kita harus segera pergi."

Pergelangan tangan Hinata di tarik paksa oleh Sasuke ketika gadis itu masih bisa mengintip dari sela-sela kecil dimana ia bisa melihat tubuh kecil yang sudah tergeletak di tanah. Tak lagi bergerak. Hinata hanya menutup mulutnya. Sasuke tak berhenti disana ketika himpitan itu menekan kedua tubuh mereka tak bisa bergerak. Ia masih menggenggam katananya sambil menarik Hinata untuk segera keluar dari sana.

Orochimaru bisa menghirup aroma segar yang menerpa wajahnya. Ia melirik ke kerumunan orang-orang yang melingkarinya. Sedikit berjinjit, ia bisa menemukan dua orang yang tergesa-gesa untuk segera menjauhi tempat dimana dirinya masih menunggang kuda. Orochimaru berusaha menembus kerumunan sambil berteriak kepada penduduk desa untuk tidak menghalangi jalannya.

Orochimaru sudah berhasil keluar dari sana, hanya saja dia sudah kehilangan jejak orang yang dicarinya.

"Baunya segar. Roh air … , ah tidak, ini roh bulan yang agung." Orochimaru masih menyeringai sambil memerhatikan jalanan yang sudah sepi di depannya, ia masih menunggang kuda.

.

.

.

Hinata dan Sasuke masih menghembuskan napasnya dengan terburu-buru. Keduanya bersembunyi di antara celah dinding antar rumah. Hinata memegang obi kimononya. Ia meraba dengan ganjil ada yang hilang. Sasuke meliriknya dengan penasaran sambil menghembuskan napasnya berat.

"Ada –huh- apa?"

"A-ano, -hah- kurasa tali mantra –hah- yang diberikan Sasori-san hilang."

"Bagaimana bisa?"

"Mungkin ikatannya mengendur saat kita berlari tadi."

"Tenang saja, selama aku masih bernapas … aku akan menjagamu,"

Hinata hanya merona ketika Sasuke berjalan memeluknya walaupun napas keduanya masih sama-sama belum kembali normal. Sasuke merogoh dalaman kimononya ketika melepaskan pelukannya. Ia menyerahkan sebuah penjepit rambut berwarna biru kepada Hinata.

"Aku mendengar orang-orang berbisik jika Orochimaru datang. Karena itu aku mencarimu setelah membeli ini. Aku khawatir jika terjadi sesuatu padamu."

Hinata hanya mengangguk sambil memeluk erat bungkusan kimono yang di belinya.

.

.

.

Hinata menyerahkan barang yang baru di belinya kepada Itachi. Pemuda itu tersenyum sebelum mendekati shoji kamar dimana Hanabi berada. Ia meletakan kimono itu di depan shoji agar Hanabi bisa mengambilnya. Hinata berjalan menjauh dari tempat itu bersama Sasuke. Ia masih mengelus obi tepat dimana ada tali mantra yang berguna untuk menekan dan menyembunyikan energinya. Sasori membuka shoji dengan napas yang terangah-engah. Sasuke dan Hinata hanya menatap bingung.

"Kita –hah- harus segera –hah- pergi dari sini! SEKARANG!"

Dan semua orang pun jadi kalang kabut hingga membuat semua orang di penginapan jadi bingung.

.

.

.


T.B.C


[Kolom Balasan Review] :

Aizy evilkyu : hahaha iya nih udah update :D maaf ya kalo sekarang agak terlambat, soalnya guru-guru aku lagi jahat semua. Ngasih tugas gak ada henti-hentinya. Iya di chapter kemaren Orochimaru udah mulai menggila :3 . tidak, Orochimaru tidak ikut menyerang langsung karena ia mengendalikan pengawal kerajaan Sabaku yang udah meninggal itu dengan dihidupkan lagi. Kerajaan Sabaku ditaklukkan itu karena ia sudah bisa mengendalikan rajanya dengan mantra-mantra sihir dah :D iya Gaara tidak menerima surat dari Temari. Bahkan Kankurou meninggal aja dia gak tahu. Alasan kenapa Temari enggak dibunuh adalah … Orochimaru-san naksir sama Temari! xD #dihajar karena reader shock semua. Iya kerajaan Uchiha bakalan di serang, hanya saja ************ xD #ditabok karena bikin penasaran. Pastinya selamat dong ;) . bukan-bukan, maksud ramalan Sasori yang bilang kalo masa kejayaan Samurai itu adalah peran Samurai di masa itu akan berakhir. Bisa dikatakan jika udah titik balik dimana berkembang budaya baru dan kepercayaan seseorang menekuni budaya Samurai itu bakalan hilang. Ramalan Sasori itu bermaksud masa bermain pedang akan berakhir, tidak akan ada lagi orang yang menjadi Samurai setelah pertarungan melawan Orochimaru nanti ;) . wkwk, iya di kerajaan Hyuuga waktu itu saya lagi gak bisa deskripsiin banyak. Semoga saya bisa menuliskannya dengan benar dan baik. Walaupun saya bukan penulis yang handal, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menuliskannya secara benar :') sungguh suatu dorongan motivasi untuk saya :D alasan saya gak bisa buat romansa kemarin adalah saya lagi galau, suasana hati saya lagi mendung makanya gak banyak romantisnya -_- . wkwk gak papa kok Aizy-san :D Hachi seneng banget :3 , haha iya gak papa kok. Iya sip!

Kertas biru : Temari tidak dibunuh karena Orochimaru pengen nguasain tanah Jepang itu cuman berdua sama Temari. Karena ia suka sama Temari, sayang Temarinya kagak mau xD #dibantai. Wkwk makasih banyak atas dukungan dan pujiannya. Tapi saya masih belum seberapa handal dalam memainkan cerita karena saya kadang juga lupa sama beberapa chapter sebelumnya, makanya kadang lupa. Wkwk cinta segitiganya masih SasuHinaNeji sama ItaHanaGaa. Belum sempet kepikiran buat cinta segitiga yang lainnya. Kalo ada saran silahkan :3 . hahaha iya nih, Hachi juga suka banget sama semua SasuHina scent (walaupun kadang saya yang ngetik juga mimisan bayanginnya.) ciuman ItaHana itu emang gak langsung xD tapi di chapter ini mereka udah bisa bisa kissu secara langsung bahkan sampe uhukuhukuhuk #mimisan banjir darah.

Riz riz 21 : hahaha iya iya Riz-san :D . iya Gaara sukanya sama Hanabi, temen aku juga sempet nampar aku (walaupun bercanda) karena aku bikinnya GaaHana bukan GaaHina xD saya emang jahat hohoho. Kenapa harus baca Hanabi di dalamnya? O.O maksudnya? Hachi bingung. Hahaha iya Riz-san udah jadi penyemangat Hachi nih :3 Hachi mengucapkan banyak terima kasih atas setiap review untuk semuanya termasuk Riz-san, Hachi jadi semangat (meskipun sering telat upload karena gak ada modem) . hahaha iya sama-sama :D . iya terima kasih Riz-san :)

Kaname : Orochimaru pengen banget nguasain tanah Jepang karena dia pengen jadi satu-satunya penguasa disana. Karena pada masa foedal saat itu kan Jepang terpecah menjadi beberapa bagian dan dikuasai oleh kerajaan yang berbeda-beda. Karena itulah, setelah pulang dari ilmu sesatnya #ditabok# Orochimaru berniat melakukan itu.

Kiki : walah, maafkan aku ya kalo begitu karena sudah membuat karakter kesukaan Kiki-san menjadi jahat disini :'D oke sudah saya lanjutkan!

Nyanmaru desu : iya Nyanmaru-san, disitu adalah titik balik konflik dimulai lagi :) iya dong, karena saya sudah begitu jahat dengan banyak membuat karakter di dalamnya seperti tersiksa, saya membuat sebuah terobosan baru seperti itu untuk membuat kehidupan mereka terasa lebih sedikit berwarna dibandingkan sebelumnya. :'D . menggulingkan kerajaan Sabaku itu karena ada maksudnya, satu karena dia pengen deket sama Temari, dua karena dia butuh banyak pasukan, tiga karena saya pengennya begitu xD #ditabok. Yang dicari Orochimaru dengan menculik Neji karena awalnya si manda itu ngira Hanabi. Bocoran aja sih ya, yang di cari Orochimaru itu sebenernya kekuasaan dan kekuatan yang tak bisa ditandingi dengan memakan roh api dan roh bulan yang dimiliki Hanabi-Hinata. Itulah mengapa alasannya :) . motifnya? Wkwk, saya aja yang nulis juga gak mau gimana mau dia xD #dihajar lagi# wkwk ayo dah!. ItaHana memang punya ciri khas karena Hanabi takut aja nyuri jiwa Itachi [sebelum punya tali mantra]. SasuHina emang kalem karena disini pembawaan Sasuke yang biasa-biasa saja dan terlihat lebih dewasa disandingkan dengan Hinata yang tenang dan lembut :) aduh terima kasih pujiannya yang udah buat saya melayang padahal itu gak ada apa-apanya dibanding dengan Author lain yang deskripsinya lebih kece :'D . oh ya? Profilnya Hanabi kenapa emang? Saya penasaran :3 wkwk Sasori disini aku buat punya dua sisi yang berbanding balik. Satu dimana ketika ia tiba-tiba seperti anak kecil dan kedua adalah dimana ia bisa bersikap tenang dan begitu dewasa meskipun disini umurnya yang paling muda. Minato ke Jepang? Hmm, nanti akan saya pikirkan lagi ;) iya nih lupa sama sesi ramalan untuk Naruto -_- . surat dari Temari, ia emang awalnya akan seperti itu. Tapi nyatanya tidak. Tidak akan ada korban lagi setelah ini kok :3 mungkin beberapa #woi! Sarap dah gila lu!# hiks maafkan saya Dx saya gak tahu mesti ngapain kalo konfliknya tidak dibuat seperti itu hhuuuwwwaaaa #lari nangis#. Perassan tiap tokoh iya emang bener gak bisa Hachi gambarin secara detail, karena Hachi sedikit susah dan ketika mencoba malah terlihat aneh. Makanya cuman segitu yang bisa Hachi buat :3 maafkan ya … , pastinya sosok yang seperti itu Hachi sengaja perlihatkan karena wanita di mata Hachi itu adalah sosok terkuat meskipun mereka sakit hati dll. Ada sejuta masalah dan penderitaan yang tersembunyi dibalik seualas senyuman seorang wanita :') itu yang pengen Hachi tonjolin juga. Neji oh Neji, entah mengapa aku malah buat dia yang paling ruwet disini. Ini lagi berusaha cari jalan keluar untuk Neji. Oke terima kasih untuk saran dan motivasi yang Nyanmaru-san berikan! Hachi sudah sangat terisi penuh dengan ambisi untuk perbaikan kedepannya :3. Wkwk, Naruto dalam versi yang seperti itu emang keren.

Ryuuji : tidak apa-apa Ryuuji-san. Terima kasih banyak :D salam kenal!

Momiji : baik, sudah saya lanjutkan ini :3

Hime : hmm, untuk sementara maaf ya gak bisa sekilat terakhir kali karena mendadak sekolah Hachi jadi sibuk. Dan lagi banyak banget tugas yang ditudingkan kepada Hachi. Mungkin Sabtu adalah yang tercepat tapi saya gak bisa janji karena ide tidak pasti datang begitu saja. :3 sabar aja ya Hime-san.

Ghina : iya saya usahakan buat yang lebih greget :3

Shouter : hahaha iya banyak yang salah sangka jika Gaara bakalan suka sama Hinata :D maafkan ya jika ini membuatmu kecewa dengan perkiraanmu. Gak papa kok gak login, sudah mampir saja sudah merupakan karunia terbesar untuk saya :'3 . terima kasih sudah mampir! xD

Monica : iya tidak akan kok Monica-san :) saya usahakan untuk update cepat.

Gorugoru : iya bakalan aku update kok :D

Miss ing you : iya saya selalu bilang kok :D di facebook tapi hohoho xD

Karin : iya akan saya usahakan update cepat :3

Inori-chan : pasti! Pastinya saya buat Orochimaru-san untuk insyaf dari tindakannya! :D

Kensuchan : hahaha tidak apa-apa Kensuchan-san :D hahaha, jangan begitu Kensuchan-san, sebenernya Orochimaru itu baik cuman jalannya aja yang sesat sehingga buat dia jadi orang jahat :) . nama Facebook Hachi itu "Hachi Breeze" :) aduh udah jangan nangis Kensuchan-san :'D kita pasti ketemu kok :3

Naw d blume : terima kasih Naw-san :) . terkejut kenapa atuh? Lama banget ya gak mampir di random Naruto? Kalau begitu saya ucapkan "Selamat Datang Kembali di Random Naruto, Naw-san!" :D . ah itu bukan apa-apa kok Naw-san, saya memang lagi mood aja buat ngetik dan kebetulan saya lagi senggang makanya ngilat banget update ini :3 . ini sudah semaksimal mungkin yang Hachi bisa buat mempersembahkan sebuah cerita yang menghibur untuk semua orang yang mampir kesini :) . hahaha tuhkan, banyak banget yang terlalu Hachi kebut disini. Hachi ini masih amatiran buat sesuatu yang bisa ngebuat banyak orang itu kagum, yang menjadi tujuan utama Hachi setiap kali menulis cerita adalah "Semua orang terhibur dan merasa menjadi lebih baik setelah membaca karya saya adalah suatu hal yang utama. Menulis hanyalah sebuah tempat saya membuang emosi. Dan berkarya adalah satu-satunya tujuan saya yang lain." Hehe :) . terima kasih atas pujiannya, saya sangat berterima kasih atas segala bentuk pujian walaupun kita sama-sama tahu banyak yang kurang dalam karya ini :') . iya!

Aam tempe : terima kasih Aam-san :'D saya sangat berterima kasih atas pujiannya walaupun karya ini banyak sekali kesalahan EYD, typo, dll lah. Saya sungguh berterima kasih. Tidak apa-apa jika Aam-san baru mampir, Aam-san datang membaca ini saja saya sudah sangat senang :') terima kasih.


[Author Note] :

HHHHHHIIIIYYYAAAAA DISINI BANJIR DARAH KARENA MIMISAN SETELAH NGETIK ITAHANA SCENT! Sungguh bukan niat Hachi, cuman nyelipin dikit adegan uhukuhuk dan anda sekalian silahkan imajinasi sendiri. Hachi takut ngetiknya. Itu saya sengaja selipin karena nanti di akhir chapter, Itachi bakalan ***** dan Hanabi bakalan ************************ #dihajar sampe mati. Sepertinya saya sedikit mengacau lagi -_-

Yosh terima kasih yang sudah mampir dan terima kasih yang sudah mau mengisi kotak review hingga membuat saya terharu sendiri tiap bacanya :'D sungguh ini membuat saya semangat!

Oke sekian, terima kasih yang besar dan sampai jumpa di chapter selanjutnya!