.

Warning : Rate T, contain incest, yandere chara, siscon/brocon, twisted, AU, Chara death

Genre : School life/psychology/Tragedy

No Pair Inserted (slight hint)

Disclaimer Masashi Kishimoto

Story fan by DarkGrinSmile2

.

.

POSESIF : You Belong To Me

Chapter 10

.

Enjoy it!

.


Konoha Hospital


Kabar mengenai masuknya Sakura ke rumah sakit akhirnya tersebar. Naruto yang mendengar hal ini dari Hidan memutuskan untuk menjenguk Sakura ke rumah sakit bersama dengan yang lainnya. Pemuda pirang itu begitu terpukul melihat kondisi Sakura yang terlihat lemah di tempat tidur.

"Sakura, kenapa kau bisa jadi begini?" ada suatu penyesalan yang tersirat dari perkataan Naruto. Dia sedih karena tak bisa melindungi Sakura.

"Aku tidak apa-apa kok. Hanya luka kecil saja!" Sakura yang meskipun dalam keadaan sakit tapi masih bisa tersenyum lebar dan menenangkan Naruto yang khawatir pada keadaannya.

'Sasori... Aku tidak akan memaafkanmu!' Naruto bersumpah dalam hati akan membalas Sasori kalau pada kenyataannya pemuda itu yang menyakiti Sakura sampai seperti ini.

"Sakura!" tiba-tiba muncul Sai yang langsung bergerak masuk dan menempati dirinya diantara Sakura dan Naruto.

"Sakura kau tidak apa-apa, kan? Aku cemas sekali mendapat kabar kau masuk rumah sakit!" tanpa memandang kehadiran Naruto pemuda itu langsung memeluk Sakura.

'Sai ini apa-apaan sih? Apa dia tidak bisa melihatku sedang bersama Sakura?' Naruto mendengus kesal dengan sikap Sai yang tiba-tiba saja jadi mencari-cari perhatiannya Sakura.

"Terima kasih. Maaf ya, membuat kalian semua khawatir," balas Sakura yang dengan perlahan menjauhkan dirinya dari Sai.

"Kalian semua pulanglah. Waktu untuk berkunjung sudah habis," ucap Sasori mengusir semua teman-teman Sakura yang saat itu datang menjenguk, padahal jelas sekali kalau waktu kunjungan mereka masih banyak.

Naruto dan yang lain hanya bisa memicing dengan tatapan kesal yang juga disertai kebencian ke arah Sasori yang berdiri di depan pintu ruangan sambil membuka pintu lebar-lebar, seolah ingin mengusir mereka untuk cepat-cepat pergi dari sana.

"Kalau begitu kami pulang dulu Sakura. Sepertinya ada yang tidak senang dengan kehadiran kami di sini!" Kiba berkata ketus sambil melirik ke arah Sasori.

"Maaf ya... " Sakura hanya bisa berkata lemah, meminta yang lain untuk memaklumi.

"Cepat sembuh ya, Sakura!" akhirnya satu-persatu teman-teman Sakura keluar dari ruangan itu.

"Sasori, aku ingin bicara denganmu," kata Naruto saat berpapasan dengan pemuda itu di depan pintu ruangan. Sasori terdiam sebentar sambil melihat Sakura yang kembali berbaring, kemudian dia dengan santai mengikuti Naruto keluar ruangan.

...

Naruto mengajak Sasori ke sebuah lorong rumah sakit yang cukup sepi dan tak banyak dilalui oleh orang. Suigetsu, Kiba dan Sai memutuskan untuk menunggu sementara teman-teman mereka yang lain memilih untuk pulang duluan.

"Apa yang kau lakukan pada Sakura?" Naruto yang mencurigai Sasori mencelakai Sakura langsung meminta penjelasan kepada pemuda itu.

"Bukan urusanmu," balas Sasori datar seperti biasa dan hal ini membuat Naruto benar-benar sakit kepala.

"Berhenti bersikap seperti ini Sasori! Aku tahu kau pasti membuat Sakura jadi seperti ini!" suara Naruto menggema di lorong, tapi untungnya keadaan di sana sepi sehingga Naruto dapat leluasa berbicara dengan pemuda menyebalkan itu.

"Lihat Sakura. Dia begitu baik! Dalam keadaannya yang seperti itu dia masih melindungimu dan tak mengatakan apa-apa!" masih teringat jelas senyum pucat gadis itu yang mengatakan kalau keadaannya baik-baik saja. Sikap Sakura tadi membuat Naruto merasa sakit. Dia sedih kenapa Sakura sampai membela Sasori sampai seperti ini.

"Kalau kau tidak tahu apa-apa lebih baik diam," balas Sasori sambil menatap bosan pada Naruto yang sedang menatapnya marah.

"Kau itu benar-benar brengsek!" amarah yang ditahan Naruto sejak tadi keluar juga. Pemuda pirang itu mencengkram leher baju Sasori dengan kasar. Sementara Sasori hanya diam tanpa ekspresi yang berarti.

"Kau itu sekali-kali harus diberi pelajaran, ya. Biar kau tahu bagaimana rasa sakit itu!" Naruto yang masih mencengkram leher baju Sasori berniat untuk menghajar pemuda itu. Akan tetapi baru saja tangannya hendak melayangkan tinju, seseorang sudah menahannya.

"Hentikan Naruto! Ini di rumah sakit!" Hidan yang entah sejak kapan ada di sana dan kini sedang menahan pukulan yang hampir melayang ke arah Sasori.

"Lepaskan aku Hidan! Biarkan aku memberinya pelajaran!" Naruto meraung kesal saat pukulannya ditahan. Dia berusaha untuk melawan tapi tenaga Hidan jauh lebih kuat darinya.

"Tenanglah Naruto!" timpal Shikamaru sambil menepuk bahu temannya itu agar menjadi lebih tenang.

"Tch... " Naruto akhirnya mundur sambil berdecak. Kesal karena amarahnya tak dapat tersalurkan, Naruto memilih untuk pergi bersama dengan Kiba dan Suigetsu yang hanya bisa memandang Hidan dan Shikamaru dengan bingung.

"Sasori, kau tidak apa-apa?" tanya Hidan yang kini sudah mengalihkan pandangan pada pemuda yang hampir saja dihajar oleh Naruto.

"Sejak kapan kalian jadi mengurusi urusanku seperti ini?" tanya Sasori memandang sinis pada Hidan dan Shikamaru yang seolah-olah berada dipihaknya.

'Sudah kuduga... ' manik violet Hidan menangkap sesuatu pada diri Sasori.

"Tunggu dulu," ucap pemuda itu yang berhasil menghentikan langkah Sasori.

Sasori menoleh ke arah Hidan dan masih memberikan tatapan yang dingin pada pemuda itu. Hidan menyeringai sesaat begitu melihat Akasuna sulung itu begitu waspada terhadapnya. Sasori sama sekali tak bisa membaca apa yang sedang ada di dalam pikiran Hidan dan itu menyebalkan. Tak lama, dengan cepat tangan Hidan bergerak ke arahnya dan secepat itu pula tangan Sasori menghentikan pergerakan tangan Hidan.

"Jangan macam-macam," kata Sasori sambil memegangi tangan Hidan yang terarah kepadanya.

"Lepaskan tanganmu," balas Hidan sambil melirik tangan Sasori yang sudah mencengkram pergelangan tangannya dengan kuat. Sampai sekarang dia masih heran dari mana Sasori mendapat kekuatan yang begitu besar dibalik tubuh kecilnya itu.

"Hn." Sasori melepaskan cengkramannya dari pergelangan tangan Hidan. Setelah itu dia bergegas berlalu kembali masuk ke dalam ruangan Sakura.

"Shikamaru. Aku rasa yang kau katakan tentang 'itu' benar... " kata Hidan yang teringat akan semua perkataan Shikamaru saat mereka membahas masalah Sakura dan Sasori saat di atap.

"Jadi?" balas Shikamaru sambil melirik ke arah Hidan.

"Aku akan mencari cara untuk membuktikannya... " Hidan bertekad kuat untuk melaksanakan apa yang ia bisa lakukan.


Keesokan Harinya


Esoknya Sakura yang seharusnya masih berada di rumah sakit malah sudah kembali bersekolah. Meskipun Sasori berusaha untuk melarangnya tapi gadis itu tetap saja tidak mau mendengarkan.

"Maaf ya, Hinata. Aku jadi merepotkanmu," kata Sakura yang berjalan beriringan bersama Hinata keluar kelas.

"Sama sekali tidak merepotkan, kok!" Sakura sebenarnya hanya ingin ke kantor guru untuk mengumpulkan tugas, tapi Hinata yang terlalu khawatir menawarkan diri untuk menemani.

Kedua gadis itu menuruni tangga dengan riang sambil mengobrol dan bersenda gurau. Hinata yang berjalan lebih di depan Sakura sesekali menengok ke arah belakang sambil tersenyum. Sakura yang memang masih sakit berjalan sedikit lambat dan membuatnya beberapa kali harus berhenti dan membuat Hinata menunggunya.

"Maaf ya, Hinata... Kau jalan duluan saja." Sakura lagi-lagi tertinggal di belakang. Merasa tak enak dia menyuruh gadis berambut indigo itu untuk berjalan duluan dan dia menyusul dengan pelan di belakang.

Di satu sisi Naruto yang saat itu sedikit terlambat berlari menaiki tangga dan berpapasan dengan kedua gadis itu. Pemuda itu ingin sekali menyapa Sakura, namun diurungkan niatnya itu saat melihat Sakura yang berada di belakang Hinata berjalan pelan. Entah kenapa gerakan Sakura begitu mencurigakan. Naruto sampai menelan ludah dan terpaku di tempatnya.

Greb!

Ternyata Sakura merangkul bahu Hinata yang berdiri di depannya. Naruto yang melihatnya langsung menghela napas lega.

"Ayo jalan lagi! Kali ini aku pasti kuat!" seru Sakura dengan wajah berseri. Saat keduanya melewati Naruto, kedua gadis itu sempat menyapa dan melemparkan senyuman membuat kedua pipi Naruto memanas seketika.

'Hahaha... Baru saja tadi aku berpikir kalau Sakura mau mendorong Hinata! Benar-benar pikiranku sedang kacau!' batin Naruto yang tadi sempat curiga kalau Sakura mau mencelakai Hinata. Pemuda itu tersenyum kecut sambil geleng-geleng karena pikiran anehnya barusan. Kemudian dia kembali bergegas pergi menuju kelasnya.

.

Hari itu semuanya berjalan dengan normal. Sakura lebih memilih untuk berdiam diri di kelas bersama Hinata pada saat jam istirahat. Sasori yang biasanya selalu menghilang ternyata juga memilih untuk tetap di kelas dengan Hidan yang selalu mengawasinya. Atmosfer diantara keduanya membuat suasana kelas menjadi tidak nyaman dan mampu membuat semua murid memilih untuk keluar dari kelas.

"Sampai kapan kau mau mengawasiku?" tanya Sasori dengan bosan.

"Sampai kau mau bicara," jawab Hidan sambil tetap memandangi sang objek berkepala merah. Seolah-olah pemuda di hadapannya ini bisa menghilang kapan saja kalau tidak dia perhatikan.

"Tidak ada yang perlu dijelaskan." Sasori berdiri dari tempat duduknya.

"Jadi kau ingin cara kekerasan, hah?" Hidan menarik pergelangan tangan Sasori. Menahan agar pemuda itu tidak pergi kemana-mana.

"Coba saja kalau kau berani melakukannya." Sasori sama sekali tak gentar dengan ancaman Hidan. Dia malah balik menantang teman sebangkunya itu.

"Kau... " Hidan tanpa sadar menguatkan cengkramannya pada tangan Sasori.

"Argh... " secara samar Hidan dapat mendengar Sasori mengerang dan reflek dia melepaskan cengkramannya pada pemuda itu.

"Jangan lupa nanti kau harus ke rumahku untuk tugas kelompok bersama Neji dan Lee," ucap Hidan sambil duduk kembali dengan tenang.

"Terserah." Sasori berbalik dan menatap ke arah jendela. Saat itu Sasori tanpa sengaja menangkap Sakura yang sedang bersenda gurau bersama Hinata dan Sai. Tatapannya terus tertuju pada ketiga remaja itu sampai bel tanya istirahat selesai pun berbunyi.

TBC