Disclaimer : Naruto - Masashi Kishimoto


LOVE & CAREER

Chapter 10

Make Up, Dream Catcher and Feeling


Sakura POV

Sejak kedatangan Sasuke dan Izumi waktu itu, hari-hariku menjadi terasa buruk. Bahkan, aku sama sekali tidak menyimak pembicaraan Deidara dan Izumi dulu. Gaun apa yang diinginkannya, model apa yang disukainya, dan warna apa yang sesuai dengannya. Aku tidak peduli. Maaf saja, aku sedang mengalami shock-therapy. Terima kasih, Sasuke. Ini yang kedua kalinya, kan.

Sial! Egoku sedang meninggi saat ini. Ubun-ubunku terasa memanas beberapa hari ini. Mungkin aku perlu memasukkan kepalaku ke dalam lemari pendingin, seandainya saja. Perasaan yang melukai hatiku sudah tergantikan dengan kekesalan yang memuncak. Kali ini aku tidak menangis tersedu-sedu seperti kasus Gaara dulu.

Aku sendirian di kamar. Lagu yang aku dengarkan sama sekali tidak memperbaiki hatiku. Tanganku yang sudah tidak membengkak, aku gunakan untuk menompang daguku. Pipiku menggembung dengan sendirinya.

"Kalau mau menikah, jangan dekati aku!" Ucapku kesal.

Aku mencoret-coret buku sketsaku dengan kasar. Bukan berarti aku terlalu percaya diri jika Sasuke mendekatiku. Tapi faktanya dia memang pernah memeluk dan menciumku. Ah, lupakan itu. Aku butuh udara segar. Kakimu melangkah malas ke arah jendela kamarku. Tanganku menggeser kain berwarna tosca itu. Tirai jendelaku sudah terbuka. Kaca persegi itu bergeser ke samping. Angin malam yang aku hirup terasa malas. Aku menarik kursi riasku menuju tepi jendela. Mendudukkan tubuhku di kursi kecil itu.

Aku menoleh atap bumi. Kelap kelip bintang di langit tertata tidak beraturan. Cantik dan glamour, itu yang terucap saat aku melihatnya. Daguku aku dudukkan pada tepi jendela. Aku mengusap wajahku yang tidak mengantuk. Bagaimana mungkin aku akan mengantuk, jika aku sedang memanas saat ini. Ini semua salah Sasuke. Ck!

Ponselku berdering.

Nama Sasuke muncul di layarnya. Ibu jariku bergerak dengan cepat menggeser pilihan berwarna hijau itu. Aku akan menerima panggilannya. Tenang saja, aku tidak akan lari seperti waktu itu. Ponselku sudah berada di telinga kiriku. Aku tidak mengucapkan kata 'halo' atau 'selamat malam' padanya. Bibirku masih mengerucut ke depan.

"Sakura."

"Kau menyebalkan!" Ucapku ketus.

Aku langsung mematikan sambungan telepon itu. Aku bahkan tidak memberikan kesempatan untuknya berbicara. Ponselku sudah terlempar diatas ranjangku. Dadaku terasa begitu penuh. Mataku terpejam. Rasanya aku tidak terima jika Sasuke akan menikah. Perlakuan lembutnya padaku dulu aku anggap itu basi. Seenaknya saja dia sudah membuatku merasa seperti jatuh cinta. Ah! Lupakan. Aku tidak menyukainya. Lagi pula, aku sudah mengikat janji dengan namanya karir. Siapa peduli dengan cinta. Tapi...

"DASAR PRIA MENYEBALKAN!" Teriakku. Aku benar-benar kesal. Kedua tanganku sudah mengepal erat. Saling meremas jari dengan yang lainnya.

"Oi oi... Siapa yang menyebalkan?"

Aku menoleh menuju sumber suara itu. Naruto dan piyamanya, tak lupa topi tidur konyolnya. Dia sedang mengunyah biskuit di balkonnya. Ternyata dia mendengar teriakkanku. Aku menaikkan kepalaku, tanganku sudah melipat dan tatapanku tajam padanya.

"Aku sedang kesal!" Aku membuang wajahku.

"Sasuke lagi?" Ujar Naruto. Wajahnya seperti meremehkanku.

"Bukan urusanmu."

"Sakura-chan memang menyeramkan. Pppffttt..." Tawanya ditahan. Dia berlagak sok ketakutan.

"Tidurlah! Aku sedang tidak ingin diganggu."

"Aku tidak mengganggumu. Aku sedang menikmati langit malam," alihnya.

"Kalau begitu jangan mengejekku!"

"Aku tidak mengejekmu," bantahnya. Ada seringai tipis di wajahnya.

"Gggrr..." Aku menggeram kesal.

Naruto terkekeh kecil. Aku masih memasang wajah cemberutku. Dia masuk ke dalam kamarnya tanpa mengucapkan selamat malam ataupun selamat tidur. Mungkin dia kesal karena aku mengusirnya tadi. Biarlah, aku akan meminta maaf padanya besok, jika aku ingat.

Ah, ternyata aku salah. Tak berapa lama, rambut jabrik itu kembali nongol dengan satu buah kursi dan satu cangkir jingga. Dia menyengir, memamerkan giginya. Aku tidak tahu apa maksudnya.

"Aku siap jadi pendengar dongengmu malam ini," tawarnya. Tangannya bergerak mendekat pada bibirnya. Dia meneguk air yang ada di cangkir itu, mungkin itu kopi. "Sasuke melakukan kesalahan lagi padamu?" Tanyanya lagi.

"Aku sudah menyuruhmu tidur tadi." Aku mengalihkan pertanyaan dia.

"Aku akan tidur setelah mendengar dongeng shannaro-mu," ucapnya lagi. "Tenang saja, rahasiamu pasti aman," lanjutnya sambil menarik kedua jarinya seperti menutup resleting.

"Aman bagaimana? Kau hampir saja membocorkan rahasiaku sewaktu di acara BBQ dulu." Nadaku ketus. Aku menunjukkan-nunjuk di depannya, walau jarak kami 3 meter.

"Rahasia yang mana? Aku tidak tahu." Dia pura-pura berpikir.

"Jangan pura-pura lupa! Itu tentang Gaara!" aku mengesampingkan wajahku. Mataku menyipit tajam.

"Oh itu. Hahaha..." Dia menggaruk-garuk kepala belakangnya. "Maaf. Aku keceplosan. Hehehe... Tapi aku janji. Kali ini pasti aman. Kau bisa gantung aku di Tokyo Tower jika aku keceplosan lagi," tawarnya padaku.

Penawaran yang cukup gila. Ya, tipikal Naruto. Tapi bagaimana mungkin aku setega itu menggantungnya disana. Bibi Kushina pasti akan menggantungku duluan jika aku ketahuan merencanakan itu.

Aku menatap pria kuning itu dengan malas. Wajahnya seperti mempermainkan ucapannya. Tapi sorot mata menggambarkan keseriusan. Aku menghelakan nafasku. Berbagi cerita padanya mungkin bukan masalah yang buruk. Aku melunakkan wajahku. Dia menunggu jawabanku.

"Aku tahu kau tidak akan memberikan solusi yang baik. Tapi aku terima tawaranmu." Aku menunjukkan satu jari kelingkingku padanya. Membuat perjanjian kecil.

Dia tersenyum tipis. Jari kelingkingnya juga ditunjukkan padaku. "Aku janji."

Aku membalas senyumnya, walau hambar. Tanganku horizontal di tepi jendela, daguku bertumpu diatasnya. Aku menghembuskan nafasku ke atas. Beberapa helai rambutku terbang dengan lemah.

"Kau tahu bagaimana rasanya didekati seseorang, tetapi dia akan menikah," kataku sendu.

Naruto berseringai kecil.

"Ah, bukan berarti aku terlalu percaya diri. Tapi memang seperti itu kenyataannya," lanjutku dengan sedikit panik. Ah, aku tidak mau dia salah mengartikan maksudku.

"Hahaha... Wajahmu lucu sekali," tawanya. Dia memegang perutnya, menahan tawa ejeknya padaku. "Jadi Sasuke yang akan menikah?" Wajahnya kembali tenang.

"Hmm." Aku mengangguk ragu.

Alisnya berkerut begitu melihat anggukkanku. Rautnya bingung. "Aku tidak tahu jika Sasuke akan menikah," ucapnya. Dia mengambil ponsel di saku dadanya.

"JANGAN HUBUNGI DIA!" Teriakku.

"Tidak. Aku mau menelpon Hinata," ucapnya.

Ah, syukurlah. badanku langsung terduduk. Aku kira dia akan menghubungi Sasuke.

"Halo, Teme! Sakura bilang kau akan menikah?"

Sial! Aku kaget setengah mati saat dia menelpon Sasuke.

"Naruto! Kau menyebalkan! Apa maksudmu!" Teriakku marah. Aku mengepalkan kedua tanganku. Aku benar-benar kesal.

"Kau dengar suaranya? Dia sedang mengamuk. Sebaiknya kau batalkan saja pernikahanmu!" Dia berseringai rubah.

"SHANNARO! Aku marah padamu!" Aku langsung melemparkan botol body lotion-ku padanya, itu yang terdekat. Cih! Malah meleset. Dia berhasil menghindar. Wajah meledeknya benar-benar puas.

Brak! Aku menutup dengan kasar kaca jendelaku. Menarik kedua tirai hingga tak beraturan. Aku menjatuhkan tubuhku di ranjangku. Naruto menyebalkan. Apa maksudnya menelpon Sasuke seperti itu. Dan lagi, namaku dibawanya. Sialan!

Aku mengambil ponselku yang berdering dengan satu nada. Itu sebuah pesan. Jika Sasuke yang mengirimiku pesan, aku akan langsung bilang 'jangan dekati aku' padanya. Pikiranku yang masih berkecamuk emosi melihat siapa pengirim pesan itu. Ternyata Pesan dari Naruto. Aku mendengus kesal. Apalagi maunya?

'Maaf, Sakura. Kau benar. Dia akan menikah. Tapi, tenang saja. Aku sudah bilang padanya untuk membatalkan pernikahannya. Jadi, jangan pasang wajah jelekmu lagi.'

Ck! Aku membuang ponselku sembarangan. Aku tidak peduli.

.

.

Sasuke POV

Aku memandang layar ponselku. Hanya ada tampilan wallpaper galaksi, jam dan juga tanggal hari ini. Tidak ada notifikasi yang masuk. Sakura, nama itu sebenarnya yang aku harapkan muncul di layar ponselku. Dia berubah sejak aku dan Izumi mengunjungi Deidara Store saat itu. Berkali-kali aku mendengar dia mengucapkan kalimat 'kau menyebalkan' padaku. Apakah aku membuat kesalahan lagi padanya?

Aku membuang nafasku begitu berat. Kopi di cangkirku sudah habis. Lagi, aku masih tidak bisa lepas dari layar ponselku. Aku memilih kontak, mencari nama Sakura. Aku menekan gambar ganggang telepon tanpa keraguan. Beberapa kali bunyi 'tut' terdengar.

"Sakura," ucapku saat dia menjawab panggilanku.

"Kau menyebalkan!"

Lagi, dia meneriakkan itu padaku. Tut! Dia memutuskan panggilanku. Aku meremas keningku. Aku melangkahkan kaki dengan cepat menuju kamarku. Mengambil jaketku yang menggantung di dalam lemari putih itu. Aku akan ke rumahnya malam ini. Menanyakan padanya apa yang salah denganku kali ini. Padahal aku baru saja berbaikan lagi dengannya waktu itu. Kunci mobil dan sebuah kotak kecil yang tergeletak di mejaku sudah berada di genggamanku. Kotak kecil yang kubawa berisi cincin. Aku ingin memberikan itu pada Sakura, jika waktunya tepat.

"Nii-san," sapaan itu langsung terlontar dari mulutku saat membuka pintu.

Dia tersenyum kecil padaku. Sorot mata tenang diberikan padaku.

"Masuklah," pintaku.

Aku tidak bisa menolak kedatangan kakakku. Ini kedua kalinya dia datang ke apartemenku. Aku melihat jam di tanganku. Jam sembilan malam, sekarang. Bola mataku kembali bergerak menuju wajahnya. Mungkin, ada hal penting yang ingin disampaikan padaku.

Sepertinya, Aku gagal ke rumah Sakura malam ini.

Itachi berjalan mendahuluiku. Aroma ketenangannya terbawa hingga padaku. Kakinya tidak menuju ruang tengahku, melainkan dapurku. Dia mengambil sebotol wine jenis Chardonnay di mini barku. Satu gelas wine diberikan padaku.

Aku duduk di kursi bulat itu. Memandang senyumnya dengan tenang, "Ada apa?" Tanyaku.

"Hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu sebelum aku menikah," jawabnya.

Dia menuangkan Chardonnay itu secara perlahan ke dalam ruang gelas miliknya. Jarinya memegang tangkai gelas yang kurus, dan memutar-mutar isinya. Mencium aroma anggur putih itu. Meneguknya sedikit. Aku melihat pergerakannya. Kotak kecil berwarna hitam aku letakkan disamping gelas wine yang kosong itu.

Dia melirik kotak milikku. Bibirnya tertarik sedikit, "Kau mau memberikan itu untuk seseorang?"

Aku menatap dalam wajahnya. Dia, kakakku, sangat mudah membacaku. Satu tanganku bergerak menopang daguku. "Jika waktunya tepat," balasku dengan sedikit sendu.

"Kau sedang memiliki masalah dengannya?"

"Sepertinya," gumamku. Tanganku memainkan bibir gelas itu.

Nada dering ponselku berbunyi. Secepatnya aku mengambil ponsel itu. Aku berharap itu Sakura yang menghubungiku. Tidak, harapanku pupus. Ternyata itu dari Naruto. Aku membuang nafasku.

"Hn," sapaku.

"Halo, Teme! Sakura bilang kau akan menikah?"

Menikah? Aku mengernyitkan dahiku. "Tidak. Kakakku yang akan menikah," balasku. Telingaku dapat dengan jelas menangkap suara teriakan marah Sakura, walau kecil.

"Kau dengar suaranya? Dia sedang mengamuk. Sebaiknya kau batalkan saja pernikahanmu!"

Aku tersenyum samar mendengar candaan Naruto. Jadi, ini alasan Sakura marah denganku. Dia mengira aku akan menikah, mungkin karena kedatanganku dan Izumi waktu itu. Dia salah mengartikan ucapan Izumi. Tidak, aku juga salah. Aku tidak memperkenalkan Izumi sebelumnya. Rasanya sedikit lega saat aku tahu penyebabnya. Sakura, apakah dia cemburu? Aku tertawa kecil.

"Ada sesuatu yang menarik?" Tanya Itachi.

"Tidak. Aku hanya tidak sabar ingin bertemu dengannya," ucapku sembari menuangkan Chardonnay.

"Aku pikir kau akan selalu terjebak dengan masa lalumu," ujar Itachi dengan senyum khasnya.

Aku menggoyangkan minuman itu di dalam gelas wine. Mataku sedikit menyipit. "Tidak juga," senyumku mengembang.

Ting! Gelas wine kami beradu.

.

.

Sakura POV

Aku memandang bangunan yang besar didepanku. Tiang-tiangnya besarnya sangat kokoh. Warna netralnya sangat tenang. Tanganku berusaha menepis terik matahari. Aku berjalan dengan mendorong satu koper kecil. Malam ini aku akan menginap di hotel. Ino yang mengundangku. Ino menyewa kamar untuk merayakan hari pertemanan. Entahlah, Aku juga tidak mengerti apa yang harus dirayakan, karena bagiku setiap hari adalah pertemanan. Dia hanya mengundang tiga orang saja termasuk aku.

'Kau pasti melupakan ulang tahun Sasuke. Itu sebulan yang lalu.'

Itu isi chat beserta stikernya yang baru masuk di ponselku. Naruto yang mengirimkan padaku. Aku tidak membalas chat-nya. Ulang tahun Sasuke? Tidak ada hubungannya denganku. Tapi, aku temannya. Ah, biarkan saja. Dia pasti sudah merayakannya dengan calon istrinya. Aku bisa mengucapkan ulang tahun untuknya tahun depan. Aku menggidikkan bahuku. Kakiku yang berbalut sepatu putih kembali melangkah memasuki gedung itu.

Di sudut ruangan itu sudah menunggu Ino dengan kemeja tipisnya, Yugao dengan celana sobeknya, dan Mei dengan rok lipit pendeknya. Mereka menyapaku dengan antusias. Pelukan hangat dihempaskan padaku. Colekan di payudaraku juga tak luput. Mereka bahkan mencibir ketidak-akuranku dengan Sasuke, pasti Ino yang menyebarkannya. Aku membalas cibiran mereka dengan santai. Siapa peduli.

Kami, empat wanita yang tingginya tidak jauh beda berjalan bak para model di lorong gedung itu. Rambut kami tergerai. Sesekali dikibaskan ke belakang. Memamerkan aroma rambut kami. Tawa dan canda porno juga terlontar dari mulut kami, itu tak sengaja. Aku juga menimpali ucapan mereka seolah aku sudah terbiasa dalam dunia seks. Di belakang kami, ada seorang petugas hotel yang membawakan koper-koper kecil kami. Kami sampai di sebuah pintu kamar. Ino membukanya. Kamar yang luas, rapi dan bersih. Ya, bisa digunakan untuk acara lempar bantal seperti biasa jika para wanita sedang berkumpul.

Aku melepaskan kemejaku, membuka kaos crop-top, dan menurunkan resleting celana pendekku. Kami berempat saling membuka baju kami tanpa malu-malu, saling bertelanjang dada, bahkan lebih.

"Putingmu memerah," ucap Mei jahil. Jari telunjuknya menekan-nekan area sensitif milik Ino itu.

"Apa yang kau lakukan?! Menjijikkan!" Teriak Ino dengan menutupi kedua payudaranya.

Aku dan Yugao tertawa terbahak-bahak melihat tingkah mereka. Mei memang mesum. Candaannya tidak jauh-jauh dari masalah porno. Kami sudah memakai bikini, kompak berwarna putih. Aku memakai outer tipis berwarna putih untuk menutupi bikiniku. Cairan sunblock sudah melapisi kulit kami. Beberapa foto dengan berbagai pose juga terpampang di galeri foto ponsel kami.

Kami keluar dari gedung itu. Kaki-kaki berbalut sandal jepit kami menuju kolam renang yang luas di depan mata kami. Tangan kami saling bergandengan. Wajah kami sangat berseri. Cahaya matahari tampaknya cukup bagus. Sesuai dengan ramalan cuaca yang aku baca hari ini. Bagian tubuhku yang tidak tertutupi oleh bikini dan outer terpantul sinarnya.

"Hei, ambilkan satu foto untukku!" Pinta Ino kepada Yugao.

Yugao mengangguk. Dia mengambil ponsel yang sudah dalam mode kamera. Ino berbaring dikursi jemur, kedua pahanya dibuka lebar, dadanya dibusungkan, dan lidahnya sedikit menjulur. Dia menyuruh Yugao mengambil posenya dari sudut pahanya yang terbuka lebar itu.

"Posemu terlalu berlebihan, Ino," celetukku.

"Oh ayolah, Sakura. Aku akan masuk dalam majalah Playboy. Aku harus belajar bagaimana pose nakal," bantahnya.

"Kau seperti sedang berkata 'oh lihatlah. Ini vaginaku. Tiduri aku malam ini.' Hahahaha," ejek Mei.

"Kau tahu apa yang kumau, kan?" Ino berseringai nakal. Lidahnya menjulur keluar, mengelap bibir atasnya. Kelopak matanya ikut berkedip.

Mereka benar-benar gadis nakal.

"Sakura, bukalah outer-mu. Kita ambil pose bokong kali ini," ajak Mei. "Hei, ambilkan satu foto untuk kami," pintanya pada seorang pelayan Hotel.

Aku membuka outer-ku, melemparkannya pada kursi jemur. Aku masuk pada barisan mereka. Kami menunduk hingga membentuk sudut siku-siku. Bokongku terasa panas saat terkena cahaya matahari. Kepalaku memutar ke belakang. Membentuk bibirku menjadi duckface. Ini pose gila yang pernah aku lakukan. Cekrek! Petugas itu berhasil mengambil foto bokong kami. Wajahnya bersemu merah saat memberikan ponsel itu pada kami, mungkin dia akan segera mimisan.

"Aku akan ambil foto untuk kalian bertiga," usul Ino. Dia berjalan ke depan, hanya dua meter. "Posisimu ditengah, Sakura," pintanya.

Aku mengangguk. Aku masuk dibagian tengah antara Mei dan Yugao. Ino memberikan aba-aba. Satu matanya berkedip nakal pada Mei dan Yugao. Perasaanku tidak enak.

"Gyaaaa!" Teriakku saat Mei dan Yugao menarik paksa tali bikini atasku. Aku meronta-ronta hingga tersungkur kebawah. Mereka malah tertawa mesum. Aku menahan erat bikiniku. Tali di leherku sudah terlepas, begitu juga yang di punggung. Aku menahannya agar tidak lepas. Tanganku menahan kuat bagian dadaku. Sial! Mereka berhasil melepaskannya, dan melemparkannya pada Ino.

Hap! Ino berhasil menangkapnya.

"Jangaaannn!" Teriakku saat mereka hendak melepaskan bawahanku juga. Sial! Aku langsung terjun ke kolam renang sambil menutup dada telanjangku.

kepalaku segera keluar dari kolam renang. Wajahku memerah. Mereka mengerjaiku.

"Aku berhasil merekamnya!" Ujar Ino. "Kau mau ini?" Godanya sambil memutar-mutarkan atasan bikiniku.

"Ino kembalikan bikiniku!" Pintaku.

"Nikmati saja berenang dengan telanjang dada, Sakura," goda Mei.

Yugao tertawa puas melihatku.

Aku menyipratkan air kolam renang itu pada mereka. Awas aja! Akan aku balas mereka. Sial! Mereka malah mengabaikanku. Mereka dengan senang hati merekamku.

"Ah, ini bisa diberikan pada Sasuke!" Ide konyol Ino.

"Ino! Kupastikan hubunganmu dengan Sai akan rusak malam ini juga!" Ancamku.

"Sayangnya malam ini aku akan tidur dengannya," ejeknya sambil menjulurkan lidahnya.

"Bukankah kita akan tidur bersama malam ini?"

"Itu hanya trik. Aku akan tidur dengan Sai malam ini," ujarnya dengan mesum.

Sial. Jadi apa gunanya mengundangku kemari? Ternyata dia punya maksud lain. Aku menggembungkan pipiku dengan kesal. Aku tidak bisa keluar dari kolam renang. Kalau keluar, orang-orang akan melihatku yang bertelanjang dada ini. Sialan! Outer-ku terlalu jauh. Aku tidak bisa menggapainya.

"Hei, itu Sasuke, kan?!" Teriak Ino sembari menunjuk seseorang yang berjalan dari kejauhan.

Pandanganku bergerak dengan kilat menuju arah timur, sekitar 15 meter dari posisi kami. Aku menangkap dua orang berpakaian warna hitam dan putih. Sial! Itu benar-benar Sasuke. Dia bersama Izumi. Apa yang mereka lakukan disini? Jangan-jangan mereka... Brengsek! Tidak ada gunanya berpikir seperti itu sekarang. Aku segera mengambil nafas sebanyak-banyaknya, kemudian menenggelamkan kepalaku ke dalam air. Bertahan hingga 50 detik rasanya aku bisa.

"Sasukeeee! Sakura disiniii!" Teriak Ino.

Sialan! Dia malah memanggil Sasuke. Awas saja kau Ino-babi!

"Sasuke! Sakura tenggelam! Tolong kami!" Yugao dan Mei ikut berteriak. Mereka terus berteriak dan tertawa.

Bedebah! Aku tidak tahan dengan celoteh mereka. Aku mengeluarkan kepalaku dari dalam air. "Hei! Aku tidak tenggelam. Kalian menyebalkan!" Kesalku.

"Hei," sapa seseorang.

Itu suara Sasuke. Aku menggigit bibir bawahku saat melihatnya sudah berada di antara Ino, Yugao dan Mei. Aku menatap tajam ke arahnya. Dia juga menatapku dengan tenang. Apa-apaan bola matanya! Mau mempermainkanku lagi? Cih! Tidak akan. Aku memutar tubuhku sembari menutup kelopakku sejenak. Tubuhku menyandar pada dinding kolam renang. Kedua tanganku melipat erat. Aku kesal padanya.

"Sasuke. Ini hadiah untukmu. Ya, sebagai permintaan maafku dulu karena sudah meninju perutmu waktu itu," ucap Ino terkekeh.

Aku melirik Ino. Brengsek! Dia memberikan atasan bikiniku pada Sasuke dengan wajah polosnya. Sialnya Sasuke malah tersenyum. Aku mengepalkan kedua tanganku.

"Itu atasan bikini Sakura. Fresh from her body! Cium saja. Hmm... Masih ada aroma Sakura!" Goda Mei sambil mengendus-endus atasan bikiniku.

"Mei!" Teriakku kesal.

"Dia sekarang sedang telanjang dada~~~" timpal Yugao.

"Kami tinggalkan dia untukmu," ucap Ino sambil menarik tangan Yugao dan Mei.

"Hn. Terima kasih," balas Sasuke. Dia berjalan menujuku. Langkahnya tenang.

"Kill your virgin tonight, Sakura!" Goda Mei dengan melambaikan kedua tangannya.

Mereka meninggalkanku dengan tawa ejekkannya. Brengsek! Teman macam apa kalian! Aku menggeram kesal. Air itu aku pukul dengan kuat.

Tap! Tap! Tap! Aku mendengar langkah kaki Sasuke semakin mendekati.

"Sakura." Dia berjongkok di tepi kolam itu.

"Jangan dekati aku! Izumi sedang menunggumu!" suaraku ketus sekali.

Dia terkekeh kecil. "Kau mau ini?" Ucapnya berseringai tipis. Atasan bikiniku digoyang-goyangkan tepat di wajahku.

Tanganku bergerak dengan cepat merampas atasan bikiniku. Sial! Tidak berhasil. Dia sedang mempermainkanku sekarang. Aku menatap wajahnya dengan tajam. "Berikan itu padaku!" Perintahku.

"Tidak sampai kita bicara," wajah seringainya hilang, dia terlihat serius.

"Kau menyebalkan! Pergilah dengan Izumi," aku membuang wajahku.

"Dia baru saja dijemput kakakku," dia memutar kepalanya ke belakang.

Aku mengikuti arah gerakannya menuju arah beranda hotel itu. Disana ada Izumi dengan seseorang yang tidak aku kenal. Hidungnya dicubit oleh pria itu. Bahunya dirangkul mesra oleh tangan pria disampingnya. Izumi melambaikan tangannya dan berteriak mengucapkan terima kasih pada Sasuke. Pria yang disebut sebagai kakak Sasuke itu tersenyum kecil. Mereka pergi hingga tak terlihat lagi.

Aku terpaku melihat kedua orang yang sudah menghilang itu. Tapi tetap saja aku masih marah, "Kau menyebalkan!" Bibirku mengerucut kedepan.

Sasuke menatap wajahku begitu tenang, hingga bola matanya turun ke bawah menuju leherku, hingga dadaku yang tergenang air cukup lama. Dia tersenyum samar, "naiklah."

"Apa yang kau lihat!" Ucapku panik. Aku menutup kedua buah dadaku dengan tanganku.

Dia menghelakan nafasnya. "Berhentilah marah padaku."

"Kau yang mempermainkanku duluan!"

Dia tidak menjawab ucapanku. Jarinya bergerak membuka kancing kemejanya. Aku mengikuti jari tangannya hingga kancing terakhir. Dada bidangnya perlahan mulai terlihat. Sial! Aku malah terpesona. Tidak, aku tidak peduli. Aku sedang marah.

Dia menarik kedua lenganku. Tubuhku diangkatnya keatas.

"Apa yang kau lakukan?! Dadaku bisa terlihat!" Teriakku.

Dia mengabaikan ucapanku. Aku panik. Sebisa mungkin jariku menutup puting payudaraku. Dia mengangkatku seperti kapas. Sangat ringan. Aku terus berteriak padanya untuk tidak menyentuhku. Sialan! Dia benar-benar mengacuhkan ucapanku. Tubuhku sudah berada di tepi kolam tenang. Aku menunduk malu, bukan dengannya. Tapi dengan orang lain yang melihatku bertelanjang dada seperti ini.

Aku merasakan kain yang menempel di tubuhku. Ini kemejanya. Aroma tubuhnya menempel pada kemeja ini. Aku menyukai aroma tenang ini. Ah, tidak. Apa yang sedang aku pikirkan. Aku melihat wajahnya perlahan. Nafasnya terasa diwajahku saat dia memasangkan satu per satu kancing bajunya pada tubuhku.

"Sebaiknya atasan bikinimu dipasang di dalam sana," ajaknya. "Dimana kunci kamarmu?" Tanyanya.

Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku kan sedang marah padanya. Bola mataku bergerak ke arah kursi jemur. Disana ada outer, ponsel dan sebuah kartu. Dia paham arah pandanganku. Satu tangannya menarik pergelangan tangan kananku, kakinya melangkah menuju kursi jemur tersebut. Dia mengambil barang-barangku disana dan memberikannya padaku, kecuali kartu dan atasan bikiniku. Dia membaca nomor yang tertera disana.

Aku tidak bisa melepaskan pergelangan tanganku. Dia menggegamnya terlalu erat. Aku memandang punggungnya dengan wajah kesal. Kami melewati kamar per kamar, hingga sampai di kamar yang ditujunya. Tangannya menempelkan kartu itu, membuka pintu itu dengan perlahan. Mau tidak mau aku juga harus masuk.

"Apa maumu?" Ucapku kesal setelah dia menutup pintu kamar hotel itu.

Dia mendorong tubuhku hingga tertahan pada tembok dinding. Kami sangat dekat. Aku tidak bergeming di depannya.

"Bacalah, walaupun itu masih sample," katanya.

Dia menempelkan sebuah kertas tepat dibibirku. Aku mengambil kertas itu dengan wajah sinisku. Aku membuka isi kertas yang terlipat itu. Mataku bergerak dengan cepat membaca isinya. Bola mataku berhenti pada dua kata. Disana tercantum nama Izumi dan Itachi. Seketika muka sinisku berubah menjadi canggung. Sial! Itu ternyata kartu undangan pernikahan. Dan itu adalah tentang pernikahan Izumi dan Itachi.

Ternyata aku salah paham selama ini. Shannaro!

"Kau marah denganku karena mengira aku akan menikah dengan Izumi, benar?" Tanya Sasuke.

Aku menggigit bibir bawahku. Aku tidak berani melihatnya. Apa yang harus aku lakukan. "Ti-tidak. Bukan i-itu," ucapku terbata-bata. Ya Tuhan, aku sungguh memalukan.

"Lalu?"

"Ah, lupakan! Kembalikan atasan bikiniku!" Perintahku untuk mengalihkan pertanyaannya. Aku masih tidak melihatnya.

"Lihat aku," dia menaikkan daguku perlahan.

Wajahku mengarah ke samping. Aku tidak akan melihatnya. "Aku tidak mau," ucapku.

"Sakura," bujuknya.

Dia memaksakan wajahku berhadapan dengannya. Mata kami saling bertatapan. Bola mata tenangnya dan bola mata canggungku. Darahku terasa berdesir dengan laju. Aku benar-benar malu.

"Naruto bilang, kau marah karena kau mengira aku akan menikah dengan Izumi?" Tanyanya sekali lagi.

"Te-tentu saja. I-itu ka-karena..." Sial! Aku gugup. Alasan apa yang harus aku buat.

"Karena?" Dia menunggu jawabanku.

"Karena... Jika kau yang akan menikah, maka kita tidak akan bisa menghabiskan waktu bersama lagi sebagai teman," bohongku. Aku semakin menempelkan tubuhku pada dinding.

Kedua sudut bibirnya tertarik keatas. "Apakah kau menyukaiku?"

Aku terkejut mendengar pertanyaannya. Aku rasa semburat merah sudah menjalar di seluruh tubuhku. Rasanya kupu-kupu bertebaran di perutku. Lagi, aku menggigit bibir bawahku. Sudut mataku turun menuju genggaman tangannya di bahuku. "Tidak," gumamku pelan.

Aku merasakan dia melepaskan jari-jarinya dari bahuku. Dia memutar tubuhku. "Bukalah kemejanya. Aku akan bantu pasang tali bikinimu," ucapnya.

Sekilas aku melihat wajah dinginnya. Dia seperti kecewa. Apakah jawabanku mengecewakannya. Aku, aku bahkan tidak tahu apakah aku menyukainya atau tidak. Namun, sejujurnya aku ingin banyak menghabiskan waktuku dengannya. Perlakuan lembutnya padaku. Aku menyukai itu. Teman, aku mengatakan itu padanya dulu. Ya, kita hanya teman selamanya, kan.

Tapi, dia sudah mengecupku waktu itu. Apakah dia menyukaiku? Argh.

Aku membuka kancing kemejanya satu persatu. Kemejanya sudah terlepas. Dadaku terekspos tanpa selehai kain. Wajahku memerah. Dia di belakangku. Aku merasakan tangannya bersentuhan dengan kulitku saat dia membantuku memasangkan tali di leherku. Jantungku berdegup dengan kencang. Hembusan nafasnya terasa hingga aku menutup kelopak mataku. Hangat. Jarinya turun menuju punggungku. Memasangkan tali di area sana.

"Sakura..." Suaranya tepat di samping telingaku. "Aku menginginkan arti teman selamanya yang sesungguhnya," bisiknya.

Nafasnya semakin mendekat pada kulit telingaku. Tubuhku mematung saat kurasakan dia mengecup telingaku. Pelan dan sebentar. Bibirnya yang turun pada leherku membuatku terpejam. Lagi, Dia mengecupku dengan lembut. Tangannya melingkar pada pinggangku. Aku tidak bisa menolaknya. Perlakuannya sangat lembut. Rasanya aku akan lemas.

"Hnh..." Aku mendesah pelan.

Kami hanya berdua di kamar ini. Aku yang masih memakai bikini dan dia yang belum memakai kemejanya. Di bawah sinar sore yang masuk lewat jendela, dia masih memelukku dari belakang. Dagunya bertumpu pada kepala atasku. Tidak ada suara di antara kami. Posisi ini terasa begitu nyaman.

Sasuke, apa yang kau inginkan dari kata teman yang barusan kau katakan tadi. Apakah aku harus menanyakan itu padanya. Kalimat apa yang akan dipilihnya sebagai jawabannya nanti.

Klek!

"Kalian..."

Ah, kami kepergok oleh Ino.

.

.

Sakura dan Sasuke, dua orang mengatakan diri mereka sebagai teman selamanya, sedang berjalan di antara toko-toko. Tangan mereka saling bergandengan. Wajah mereka sudah berseri. Tapi, semburat merah memoles di pipi Sakura. Ya, mereka sudah berbaikan. Namun, momen di kamar tadi siang masih terngiat di benaknya.

Kaki-kaki mereka melangkah dengan tenang melintasi kerumunan orang-orang. Sasuke yang tenang, dan Sakura yang berusaha untuk tenang. Sepertinya mereka ingin menghabiskan malam ini bersama. Langkah mereka berbelok pada sebuah kedai ramen yang tidak begitu ramai. Satu buku menu berada dihadapan mereka. Sakura tampak antusias memilih ramen apa yang disukainya. Sasuke tersenyum samar melihat perilaku Sakura yang sudah kembali seperti semula. Dia menyukai Sakura yang seperti ini.

Dua buah mangkok yang cukup besar baru saja dihidangkan oleh pemiliknya. Bola mata Sakura berbinar-binar melihat mie berbentuk lurus dan tipis itu. Topping daun bawang bertebaran di atasnya. Kuah shoyu dengan kaldu dashi terlihat lezat. Sakura menghirup asap yang keluar dari mangkuk ramen yang masih panas itu. Aromanya begitu menggoda.

Sasuke mengambil sumpit yang terletak di sampingnya. "Selamat makan," ucapnya.

"Selamat makan!" Timpal Sakura begitu riang.

Mereka makan dengan tenang. Tidak ada yang ingin mereka sampaikan. Mungkin saja keduanya sedang kelaparan setelah perdebatan tadi siang. Sesekali Sasuke meneguk airnya. Dia, bahkan sama sekali tidak melepaskan bola matanya pada gadis merah muda didepannya. Sakura, seperti sangat mempesonanya.

Mie ramen mereka sudah habis. Bahkan, kuahnya tidak tersisa sedikit pun.

"Kau dan Izumi. Hmm... Apa hubungan kalian?" Tanya Sakura ragu.

Sasuke tersenyum samar. Ternyata gadis dihadapannya memang penasaran. "Teman dekat. Dia seumuran denganku. Dulunya dia tetanggaku. Dia sering menyelinap masuk ke rumahku hanya untuk melihat Itachi, kakakku, seperti Stalker. Dia benar-benar mengagumi kakakku. Kami sering menghabiskan waktu kami bersama dulu hingga dia pindah ke Osaka. Tiga tahun lalu, dia kembali menetap di Tokyo."

"Hmm... Apakah kau tidak punya sedikit perasaan untuknya?" Sakura menggigit bibir bawahnya. Sumpitnya dimain-mainkan di mangkok yang kosong itu. Dia penasaran.

"Kenapa kau menanyakan itu?" Sasuke berseringai kecil.

"Ah. Tidak. Aku hanya ingin tahu," ucap Sakura panik.

"Aku tidak memiliki perasaan apapun dengannya, walaupun aku sering menghabiskan waktunya bersamaku. Dia sudah seperti adik kandungku. Aku senang dia menyukai kakakku, hingga akhirnya mereka saling menjalin kasih. Bahkan mereka akan segera menikah. Waktu terasa begitu cepat. Maaf tidak memberitahukan tentang Izumi padamu," ujarnya lembut.

Sakura mendengar ceritanya dengan tenang. Bola mata Sasuke tak lepas dari wajah Sakura . Sirat begitu damai dan tulus. Rasanya gadis merah muda itu begitu lega tahu hubungan mereka. Ternyata mereka hanya teman. Itu yang terus melintas di benak Sakura. Ah, sepertinya benar, Gadis itu sadar. Ternyata dia cemburu, waktu itu.

Hitam dan merah muda itu keluar dari kedai kayu itu. Kali ini tangan mereka tidak bergandengan seperti tadi. Tangan Sasuke yang berada di saku celananya, dan tangan Sakura yang berkutat pada ponselnya. Gadis itu sedang membaca pesan yang dikirimkan Naruto tadi siang untuknya. Itu tentang ulang tahun Sasuke yang terlewatkan. Bola matanya bergerak menatap lurus ke depan. Punggung Sasuke menarik perhatiannya.

Sasuke menoleh ke belakang, memergoki Sakura yang sedang melamun. "Berjalanlah di sampingku," pintanya.

Sakura mengangguk. Dia menggerakkan kakinya dua langkah. "Aku ingin mampir ke sebuah toko," ucapnya.

Mereka menelurusi trotoar yang cukup lebar itu. Pandangan Sakura terus bergerak ke samping dan ke atas. Toko dan nama toko sedang dicarinya. Sasuke sesekali melirik Sakura. Dia tidak tahu toko apa yang ingin dikunjungi Sakura. Akhirnya, langkah kakinya berhenti begitu Sakura memandang toko di sampingnya tanpa henti.

"Tunggulah di sini. Aku ingin masuk ke dalam sendirian saja," ucap Sakura dengan cengiran khasnya.

Sasuke mendengus kesal. Gadis di sampingnya sudah meninggalkannya di antara pejalan kaki. Dia menyandarkan tubuhnya pada dinding toko itu. Jam di tangannya terus menerus dilihatnya. Sudah lima menit Sakura berada di dalam sana.

"Sudah!" Teriak Sakura sambil memamerkan kantong kertas belanjaannya.

"Apa yang kau beli?" Tanya Sasuke.

"Rahasia!" Ucap Sakura dengan riang.

Dia menarik tangan Sasuke. Berlari kecil menuju hotel yang tidak jauh dari lokasinya.

.

.

"Dingin," gumam Sakura saat dia memasukkan kaki telanjangnya ke dalam kolam renang itu.

Cahaya dari lampu taman hotel tidak begitu banyak. Mereka berdua sedang duduk di tepi kolam renang. Kaki-kakinya sama-sama berendam di sana. Sepatu mereka sudah tergeletak di samping. Jarak duduk mereka sangat dekat, bahkan hampir menempel. Kepala mereka bersamaan menatap langit malam yang riang. Bulan yang penuh, bintang yang ramai, awan yang terlihat dan angin yang tenang.

Hening.

"Apakah kau akan menginap di sini?" Tanya Sakura. Jari-jarinya dimainkan pada ujung kainnya.

"Kau ingin kita sekamar?" Tanya balik Sasuke.

"Ah, tidak! Bukan begitu maksudku," sakura tampak panik. Ah, dasar. Sasuke tidak mengerti maksudnya.

Pria berambut hitam itu tersenyum samar. Dia mengacak rambut Sakura, "tidak. Aku akan pulang ke rumah orang tuaku malam ini."

Sakura terdiam. Mungkin rautnya sedikit kecewa.

"Ah, ini untukmu." Sakura memberikan kantung kertas yang dibelinya tadi kepada Sasuke.

Pria itu mengambilnya dengan alis yang saling bertautan. Wajahnya terlihat bingung. Tangannya merogoh isi kantung tersebut. Mengeluarkan dan mengangkat benda berwarna biru itu. "Ini..."

"Dream catcher. Itu untukmu. Selamat ulang tahun, Sasuke-kun," ucap Sakura begitu manis. Kelopak matanya bahkan menenggelamkan kedua bola matanya.

"Aku rasa ulang tahunku bulan lalu," Sasuke tersenyum samar.

"Aaa... Maaf. Aku juga baru tahu jika ulang tahun sudah lewat," cengir Sakura dengan menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. "Dream catcher itu kepercayaan dari pribumi Amerika. Itu dipercaya mampu menangkap mimpi baikmu. Ya, bisa juga sebagai jimat."

Lengkungan berbentuk dari bibir Sasuke. Dia tersenyum kecil memandang dream catcher pemberian Sakura. "Aku rasa mimpiku sedang berada sangat dekat sekarang," tangannya menggegam benda bulat itu dengan perasaan dalam.

Tuk! Dua jarinya mengetuk pelan dahi Sakura. "Terima kasih, Sakura," ucapnya dengan lembut.

Lagi, pipi Sakura bersemu merah. Dia memandang Sasuke yang sudah mengalihkan wajahnya pada langit. Pria yang tenang, pikirnya. Dia merasakan tubuhnya yang bergejolak. Tangannya menyentuh dadanya. Meraba letak jantungnya yang berdegup.

Gadis itu menyandarkan kepalanya pada lengan Sasuke. Bola matanya terpejam "Aku merasa sangat nyaman bersamamu," ucap Sakura. Itu terucap begitu saja.

Sasuke melirik gadis di sampingnya. "Sakura, Apakah kau menyukaiku?" Lagi, Sasuke menanyakan itu.

"Tidak," ucap Sakura tersenyum manis walau matanya masih tertutup.

"Aku juga," balas Sasuke dengan mengacak-acak rambut Sakura.

.

.

Tidak... salah lagi aku menyukaimu...

Aku juga... Menyukaimu...

.

.

Dua insan yang membohongi ucapannya.

.

.

To be continued