CHAPTER 10

.

.

.

"Oppa, apa maksudmu dengan pindah apato?" cerocos Jihye saat membuka pintu dengan konsentrasi tersita untuk mengaduk-aduk isi tasnya. Saat masuk gedung tadi tiba-tiba ditelpon teman kantornya sehingga jadinya ribet begini. "Kenapa tiba-tiba begi….ni."

Jihye terdiam melihat sosok yang membukakan pintu. Wajahnya sangat familiar tapi bukan kakak laki-laki satu-satunya yang bernama Jung Yunho.

"Oh…maaf sepertinya aku salah pintu," dengan gelagapan Jihye mundur meski berpikir dia yakin tadi tidak salah mengenali pintu. Dia sudah ratusan kali ke sini dan tidak sedang mabuk.

"Anniyo. Kamu tidak salah pintu Jihye-ssi," Changmin buru-buru menahan satu-satunya adik Yunho yang salah tingkah itu. "Jung Jihye."

Mendengar nama yang sudah benar itu membuat Jihye menyelipkan rambutnya ke belakang telinga karena gugup. Jelas dia tahu siapa sosok yang berdiri di depannya ini, ternyata jauh lebih tampan aslinya. "Wow…Anda Changmin kan? Penyanyi bernama Shim Changmin."

Changmin tersenyum saat mengangguk dan mempersilahkan Jihye masuk. "Maaf mengagetkanmu. Yunho hyung sedang membeli sesuatu di minimarket di bawah."

"Oh…"

Hanya itu.

Ya, hanya itu yang terpikir di dalam sirkuit otak Jihye yang biasanya sangat cepat menghitung angka karena pekerjaannya di bank, tapi sekarang bodoh total. Dia tahu kakaknya penari banyak artis terkenal tapi tak terpikir sekalipun menemukan salah satu dari mereka di sini.

Belum sembuh kekagetan Jihye tiba-tiba ada yang menubruknya dari belakang saat melepas sepatu untuk masih. Lebih tepatnya, memeluk pinggangnya dan mencium pelipisnya.

"Hello my cute baby~~" Yunho masih berusaha mencium pipi adik semata wayangnya itu dengan tangan Jihye menjauhkan wajahnya.

"Aku bukan anak kecil lagi oppa! Haish!"

"Sampai kapanpun kamu itu little baby-ku."

"…dan sampai kapanpun kakak itu akan jadi big baby bagi adik perempuannya."

Dengan sadis Jihye menyentakkan tangan Yunho hingga terlepas lalu membetulkan pakaian kantornya yang saat ini sudah kusut. Yunho tertawa melihat wajah adiknya yang cemberut sekaligus tersipu malu. Jihye ingin sekali memukul kakaknya itu dengan tasnya yang setara barbell 3 kilo itu karena merusak imejnya di depan Changmin. Apalagi cowok tampan itu ikut terkekeh sekarang. Oh, good job oppa! Matiin pasaran adik sendiri, kutuk Jihye dalam hati.

Padahal Changmin menikmati pemandangan di depannya itu dengan senang hati. Tiba-tiba ia teringat saat masih sekolah menguntit Yunho yang membonceng Jihye dengan sepeda sepulang sekolah. Sama seperti sekarang, saat itu mereka juga mengomel seru. Mirip-mirip adiknya juga sih.

"Dia mirip sekali denganmu Min. Mulutnya tajam sekali. Aku heran bagaimana bisa padahal pekerjaannya berurusan dengan customer."

"Oppa!" Jihye menatap tajam kakaknya dan semakin cemberut. "Changmin-ssi, maafkan Yunho-oppa. Dia memang menyebalkan."

Changmin berusaha mengendalikan tawanya dan mengangguk-angguk geli. "Aku tahu. Dia memang amat sangat menyebalkan."

"Nggak usah jaim Jihye. Dia oppa-mu juga."

Jihye terdiam, langsung mengubah mode-nya jadi serius. "Maksud oppa?"

Yunho berdehem menstabilkan lagi emosinya sebelum bicara. Changmin meliriknya takut-takut, ikut serius dalam diamnya. Jihye menunggu dengan tatapan curiga.

"Kamu bisa memanggil Changmin-ssi dengan 'oppa' mulai sekarang."

Alis dan dahi Jihye berkerut. "Apakah ini ada hubungannya denganmu pindah apato?" tanya Jihye benar-benar bingung, berusah menyatukan puzzle yang berserakan.

Yunho mengangguk dan kembali menegaskan. "Aku oppa-mu dan dia juga oppa-mu."

Jihye tahu kakaknya ini selalu berputar-putar dan itu tandanya ini kabar sangat serius. Semakin serius yang ingin disampaikan maka makin berputar-putar jalan yang dilalui.

"Kalian….?" Mulai ada nada horor dalam tanda tanya Jihye itu.

Yunho mengangguk. Jihye melihat kakaknya itu kemudian beralih ke Changmin yang duduk di sebelahnya. Sayangnya, dia juga mengangguk. Sekarang dia tahu arahnya kemana.

"HAH?! Kalian….?! SERIUS?!" Jihye berdiri tiba-tiba hingga kursinya terjatuh ke belakang. " Demi Tuhan, kalian tidak mengerjaiku kan?! Apa ini April Mop? Atau ini hari ulang tahunku? Ada hidden camera? Sumpah ini nggak lucu!"

"Tenang Jihye….tenang….tarik nafas…"

"HAH?! TENANG?! Kamu bilang 'tenang' oppa? COBA PIKIRKAN DARI SISI APA AKU BISA TENANG?!"

Perhatian Jihye teralih ketika Changmin menyodorinya minum. Wajahnya seperti kucing yang ketahuan majikannya telah memecahkan piring. Walau kesal Jihye menuruti kalimat Yunho dengan mengambil nafas panjang sambil memejamkan mata dan meminum air putih yang disodorkan tadi.

Kalem Jihye…kalem…tenang~

Suasana jadi hening dalam sekejab karena tentunya Changmin dan Yunho tak ada nyali untuk bersuara. Mereka hanya bisa saling menggenggam tangan di bawah meja dan sialnya itu yang pertama kali dilihat Jihye saat membuka mata.

Changmin dan Yunho langsung mengurai genggaman itu canggung.

"Sejak kapan kalian jalan?"

"Hampir setahun lalu."

Jihye memijit kepalanya lagi, mendadak migrain karena jawaban itu. "Kenapa kamu selalu membuatku jantungan oppa?"

Oh, tidak hanya aku ya yang jantungan gara-gara dia, batin Changmin.

"Jadi maksudmu memanggilku ke sini adalah semacam untuk meminta restu?"

Pertanyaan itu membuat Yunho gelisah, kelihatan sekali sedang memilah kalimat untuk disusun. Tapi Jihye mendadak tersadar akan sesuatu.

"Jangan bilang ini ada hubungannya dengan ayah dan ibu."

Yunho memberikan senyuman kecut dan Jihye langsung lemas. Hari ini pekerjaannya banyak sekali dan itu membuatnya luar biasa capek dan sialnya masih harus terjebak di konspirasi ini. Tadinya dia berpikir dipanggil Yunho untuk ditraktir makan, kebiasaannya setelah mendapat bayaran lebih. Kini malah menemukan dirinya jadi pihak ketiga urusan rumah tangga orang lain. Oh iya, kakak kan bukan orang lain ya?

"Setelah menyembunyikannya selama se-ta-hun dariku lalu sekarang oppa memohon aku membujuk ayah? Apa itu masuk akal?" sindir Jihye tajam yang semakin membuat Yunho bertahan memasang wajah memelas. Diam-diam Changmin takjub dengan perubahan ekspresi itu.

"Aku tahu aku salah dan mau bilang apapun tetap salah. Maafkan oppa. Aku tidak bermaksud menyembunyikan darimu selama ini tapi memang berencana mengatakanny saat kami benar-benar serius. "

" Jadi kalian sekarang sudah serius?"

Yunho dan Changmin kompak mengangguk dengan tegas.

"Karena itu kalian memutuskan tinggal bersama?"

Mengangguk lagi. Lama-lama mereka seperti boneka pajangan yang lehernya diberi pegas.

"Jadi kalian sudah tidur bersama?"

Yunho terkesiap dan wajahnya langsung memerah. "Jihye!"

Jihye memberikan tatapan datar. "Oppa…kamu ingin aku membantumu kan? Jadi aku harus tahu sejelas-jelasnya."

Iya, anak ini memang mirip denganku, batin Changmin.

"Changmin-ssi…apakah kamu akan melamar kakakku yang bodoh ini?"

Changmin langsung gelagapan ditembak dengan pertanyaan seperti itu. Menyesali penilaiannya tadi. Meski usia tak jauh beda dan status Changmin artis namun saat ini mereka setara, malah Jihye lebih unggul apalagi segala pertanyaannya yang menginterogasi dan sikap tegasnya.

"Aku serius dengannya."

Changmin benar-benar berharap jawaban itu memuaskan Jihye, bagaimanapun ini belum saatnya membahas itu. Diliriknya Yunho sedikit termangu mendengar itu. Changmin jadi merasa bersalah sekarang meski tak ingin meralatnya.

"Menaklukkan ayah adalah usaha yang sangat sulit jadi aku tidak mau perjuanganku dan oppa sia-sia. Jika tidak serius lebih baik diam saja seperti ini, jangan cari mati."

Ketiganya menghembuskan nafas panjang yang konotasinya hanya mereka sendiri yang tahu.

"Maaf kalau aku kasar atau tidak sopan, tapi itu kenyataannya."

"Kwenchanayo," jawab Yunho cepat.

Yunho menunduk menyadar posisinya sekarang. Tiket restu dari ayah dan ibunya jelas ada di tangan Jihye. Tanpa adiknya itu tak ada gunanya bernegosiasi dengan ayahnya, yang ada dia langsung diharamkan menyandang marga Jung dari Gwangju hingga ke liang lahat.

"Katakan pada ayah dan ibu kalau aku berpacaran dengan laki-laki…dengan orang ini," terang Yunho yang sebenarnya membuat Changmin memutar bola matanya karena namanya entah kenapa tidak disebutkan. "Soal tinggal bersama biar aku yang menjelaskan."

"Kalau ayah dan ibu kena serangan jantung bagaimana? Kamu siap menanggungnya?"

"Jangan mengatakan hal seperti itu Jihye."

"Menurutmu?" Jihye merasa kesabarannya mulai menipis. "Kamu tahu ada kemungkinan itu oppa."

"Iya sih," jawab Yunho lemah. "Karena itu aku memintamu. Karena kamu paling dekat dengan ayah dan tahu bagaimana bicara padanya."

"Dengan pembahasan seperti ini? I'm not sure."

Jihye menggigiti bibir bawahnya dan memandang Yunho dengan tatapan ragu. Yunho beranjak dari kursinya dan memeluk adik semata wayangnya itu.

"Kamu bisa Jihye. Aku yakin hanya kamu yang bisa. Bantulah oppa-mu ini."

"Kamu tahu aku tidak mungkin menolak ini. Bagaiamanapun menyebalkannya dirimu tapi tetap saja kamu itu kakakku. Aku harus senang apa sedih ya?" cerocos Jihye lebih untuk dirinya sendiri.

"Jadi kamu bersedia kan?"

Jihye mengangguk dengan tersenyum tipis. "Sekarang biarkan aku tidur. Kalian membuatku semakin lelah."

Yunho langsung beranjak menyiapkan tempat tidurnya untuk Jihye dan menyelimutinya. Adiknya itu memang sering numpang tidur di tempatnya jika kepepet maupun sekedar mengecek kondisi kakaknya itu. Jihye satu-satunya yang menghubungkan keluarga di rumah dan Yunho. Bahkan ia akhirnya kerja di Seoul demi memantau Yunho agar tidak benar-benar lenyap ditelan bumi.

Itu sebabnya sekarang Yunho merasa bersalah.

Yunho sadar sikapnya ini egois dan tidak tahu diri tapi semoga Jihye memahami maksud baiknya. Setelah bertahun-tahun menghadapi kerasnya Seoul kini ia merasakan perihnya sendirian. Ingin memperbaiki kehancuran yang dibuatnya saat masih terlalu hijau untuk memahami arti keluarga. Sebenarnya ingin mulai memperbaikinya sejak dulu tapi selalu kalah oleh egonya.

Namun kehadiran Changmin membuatnya membulatkan tekad. Untung ada Changmin sebagai alasan.

"Aku tak menyangka adikmu seperti itu. Kupikir Jihye adalah adik yang cute."

Kini mereka sudah ada di rooftop gedung apartemen Yunho. Tak mungkin bagi mereka tetap mengobrol di dalam kamar di saat Jihye tidur, tapi kalau mau keluar terlalu beresiko. Di sini lebih enak karena sepi dan banyak angin.

"Hahaha….kan sudah pernah kukatakan, dia itu mirip denganmu."

"Tapi dia secantik dugaanku. Lebih cantik dari yang di foto. Mirip sekali denganmu."

"Jadi aku juga cantik?"

"Kuharap kamu tidak tersinggung."

Yunho tertawa pelan mendengarnya. "Entahlah. Aku sudah terbiasa dengan itu sejak kecil. Di sekolah juga seperti itu."

"Apa karena itu kamu ikut geng dulu?"

"Salah satunya, karena mereka terus megejek wajahku. Sekarang jadi menyadari kenapa saat itu ayahku sangat keras menyuruhku ikut bela diri. "

"Sepertinya ayahmu orang yang sangat keras ya," ucap Changmin menerawang, lebih berbicara pada dirinya sendiri.

Yunho yang semula berdiri berjauhan kemudian mendekati Changmin dan meremas bahunya. "Jangan khawatir. Aku yakin Jihye bisa. Setelah dia nanti aku yang maju baru kemudian kita berdua."

Changmin tanpa sadar menghembuskan nafasnya pendek. Dia yakin Yunho melihat jelas raut wajahnya yang helpless dan nervous. "Aku jadi tidak enak pada Jihye. Seharusnya kita mengatakannya pelan-pelan."

"It's okay. Dia perempuan yang tangguh. Lagipula dia adikmu juga sekarang."

"Kuharap dia juga berpikir yang sama."

Yunho terkekeh. "Dia tak akan menolak selebriti tampan untuk menjadi kakaknya."

"Tapi dia tidak mengidolakanku kan?"

"Setahuku tidak. Dia hanya sekedar tahu. Kenapa memangnya?"

"Coba pikirkan. Aku akan jadi pria paling brengsek karena membuatnya sangat patah hati dengan menjadi gay dan bahkan memacari kakaknya yang selama ini setahunya straight."

Yunho kali ini benar-benar bisa tertawa lepas sejak tadi terlibat pembicaraan serius. Changmin pun ikut tertawa melihat pacarnya itu terbahak-bahak. Ya, semuanya akan baik-baik saja.

"Oh iya…aku sudah menemukan beberapa apato. Kapan kita bisa melihatnya bersama?"

.

.

.

Changmin mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dengan tatapan puas. Ruangan yang kosong melompong dengan aroma khas bangunan baru. Tapi ini bisa memuaskan dirinya yang sudah keliling 5 gedung untuk mencari apato sesuai seleranya dan Yunho. Sulit sekali menyatukan dua selera bagaikan langit dan bumi.

"Ini sudah yang paling sesuai dengan permintaan Anda, Changmin-ssi. Apakah Anda menyukainya?" ucap seorang wanita di belakang Changmin dengan senyum mengembang. Senyum yang tidak disukai Changmin karena terlalu beraroma bisnis. Tapi karena ini sudah cocok dengan keinginannya jadi dia tak peduli lagi.

"Kamu menyukainya hyung?"

Yunho yang sedari tadi berdiri terpaku di jendela berukuran besar itu menoleh mendengar namanya dipanggil. Dia mengangguk dan tersenyum. Changmin lega, senyum itu jujur.

Ruangan ini memang sesuai apa yang diinginkan Yunho sejak awal yang ingin ada jendela besar. Melihat langit saat duduk di sofa dan ada ruang untuk menaruh tanaman hidup, katanya saat itu. Yunho bilang sudah bosan tinggal di tempat sempit minim ventilasi. Ia juga ingin dekat dengan tanah karena katanya itu membuatnya lebih tenang. Buat Changmin sih tak ada masalah toh selama ini jarang ada di rumah.

Tapi kemudian Changmin tersadar kalau begini kan malah harus sering pulang ke rumah. Alhasil sekarang dia jadi ikut ribet mempertimbangkan beberapa aspek rumah karena ingin merasa betah di rumah. Semacam membangun sebuah keluarga sangat kecil.

"Oke, kapan saya bisa memindahkan barang kemari?"

Senyum wanita berpakaian jas trendi dan wangi yang mahal itu merekah. "Bisa langsung setelah Anda menandatangi dokumen persetujuan."

Hal yang mengejutkan memang, Changmin sendiri hampir tak mempercayai dirinya bisa keluar dari apartemen lamanya. Tempat itu seperti perangkap baginya karena ratusan kali bertekad hengkang dari sana toh selalu gagal dengan alasan tak jelas.

Untung ada Yunho.

Untung ada dia sebagai alasan utama.

"Thank you hyung."

Yunho menatapnya balik dengan senyuman terbaiknya. "Me too."

"Baiklah…aku akan mengurus ini dulu," ucap Changmin yang kemudian menyadarkan Yunho akan jadwalnya hari ini. Harus segera cabut agar tak terlambat berhubung naik kendaraan umum dan lokasinya ini cukup jauh.

"Ah iya…aku duluan," lanjut Yunho yang ikut membuat Changmin teringat kembali jadwalnya. Setelah ini pasti manajer meneleponnya. "Jangan lama-lama nanti dia menyalak," canda Yunho.

"Oke, hati-hati hyung. Aku juga tidak lama kok."

Sesuai dugaan Changmin, tak berapa lama kemudian ponselnya berdering ada panggilan masuk dari manajer-ssi. "Tenang, aku tidak akan terlambat hyung," jawabnya. Changmin memang meminta manajer tak menemaninya untuk urusan satu ini, bahkan dia belum laporan.

Di tempat lain Yunho sudah sampai di kantor agensi setelah naik kendaraan umum. Jang Woo Hyuk menyambutnya dengan jabat tangan yang kuat dan senyum cerah di pintu masuk. "Ready?"

Yunho mengangguk ceria, akhirnya impiannya tercapai mulai hari ini. Dia benar-benr menjadi koregrafer utama, bersanding dengan mentornya yang sangat dikaguminya. "Aku jadi nervous hyung."

"It's okay. Santai saja, cuma rapat kok," ucap Woo Hyuk tenang sambil menggiring mereka masuk ke dalam ruangan. Di sana sudah ada banyak orang, termasuk tiga produser dan tim stylist yang dikenali Yunho. Dari tim dance ada 3 orang termasuk dirinya.

Tak berapa lama kemudian Yunho melihat Changmin berjalan masuk ke dalam ruangan, ke arahnya. "Hai hyung! Apa kabar?" sapa Changmin pada Woo Hyuk sambil memeluknya akrab.

"Selalu sip dong!" jawab Woo Hyun dengan kelakar ciri khasnya. "Mulai sekarang Yunho-ssi akan sejajar denganku."

Woo Hyuk memperkenalkan Yunho dengan bangga pada Changmin, tepukan di bahu itu tidak bohong. Yunho pun tetap membungkuk dengan antusias. "Mohon bantuannya."

Changmin memandangi Yunho yang bersikap profesional padanya, seolah-olah berbeda orang dengan yang ditemui di calon rumah mereka beberapa jam lalu. "Kalau begitu bersabarlah denganku," tawa santai mengiringi ucapan itu dari mulut Changmin.

"Ckckck….kalau butuh memarahinya marahi saja dia."

"Eits…sunbae kenapa sudah mengajarkan hal-hal aneh seperti itu."

Sesi sapa itu pun harus diakhiri cepat karena sang bos sudah masuk ruangan dan semua langsung duduk di tempat masing-masing. Suasana dengan cepat berubah menjadi serius.

"Terima kasih sudah hadir. Kita langsung mulai saja rapatnya, ini mengenai konsep baru comeback Shim Changmin."

.

.

.

***TBC***

.

.

.

Author di sini!

Hola!

Apakah saia terlalu cepat update? *eeh*

Bagaimana dengan chapter kemarin? Apakah banyak yg kaget? Wkwkwkk~ Tenang…setelah ini akan lebih banyak yg mengejutkan. Pasokan konfliknya masih banyak kok.

Untuk yg bertanya ini akan sampe chapter berapa….jawabannya: saia nggak tau.

Karena memang masih progress nulisnya, tapi pengenku tidak lebih dari 25 chapter dan bisa selesai paling lambat tengah tahun, biar pas setahun gituh *eeh*. Udah ada di kepala sih urutan konflik dan endingnya, tinggal ngatur gimana nulisnya biar pas. Bagaimanapun saia ogah kalau ini jatuhnya kyak sinetron stripping. Doakan semoga tetap indah hingga akhir ya… *apa deh gw*

See u next chapter~

i hope next week XD

NOTE:

Chapter 9 lupa cantumin credit quote "We accept the love we think we deserve" di ending, itu diambil dari "The Perks of Being a Wallflower".