Just a Drabble

J

Jambret

Akashi Seijuuro. 22 tahun. Kehebatannya adalah menaklukkan para wanita di luar sana hanya dengan sekali lirik. Pekerjaannya menjadi seorang Detektif.

Menggeram marah bukanlah kebiasaannya, namun ia kini terpaksa melakukannya untuk meredam rasa dongkol yang telah dialami.

Malam itu, tepat setelah jam berdentang menunjukkan sudah tengah malam, dirinya mendapati seekor burung merpati putih bertengger tenang di jendelanya yang terbuka. Iris merah delimanya memandang bingung pada secarik kertas di salah satu kaki sang merpati putih. Dengan tenang dilepasnya kertas tersebut dari kaki merpati dan membiarkan makhluk hidup itu terbang pergi meninggalkannya bersama hembusan angin malam yang menusuk tulang.

Aku akan meminjam batu Ruby dan akan kubandingkan keindahannya dengan kelereng matamu Tuan Detektif

Dari yang mengaggumimu selalu

Kuno.

Apa dia tak tahu ada applikasi untuk mengirim pesan yang lebih canggih di zaman modern ini.

Akashi membatin sebal.

Alisnya saling bertaut bingung. Ini bukan kali pertama Akashi mendapat surat pemberitahuan macam ini.

Hanya ada satu pencuri di dunia ini yang dengan kurang kerjaannya mengiriminya surat tantangan—dirinya tidak mau menyebutnya sebagai surat dari penggemar—pada seorang Akashi Seijuuro sebelum memulai aksi pencuriannya. Ya, hanya satu.

"Phantom Thief,"

Dengan kasar diremasnya secarik surat tak berdosa itu dan melemparnya ke dalam sebuah kotak hitam yang penuh akan kertas kusut yang disinyalir merupakan surat dari seseorang bernama Phantom Thief juga.

"Kali ini aku akan menangkapmu dan menjebloskanmu ke dalam kamarku. Tunggu saja, jambret masochist." Gumam Akashi dengan sebuah seringai

...

Ada seorang pencuri yang cukup terkenal akan kelincahannya dalam mencuri suatu barang. Namanya didapatkan karena sang pencuri selalu muncul dengan hawa keberadaan tipis yang memudahkannya melakukan aksi disaat pagi ataupun malam. Pencuri yang dengan santainya selalu mengirimkan surat pada sang detektif Akashi Seijuuro sebelum melakukan aksi mencurinya—itulah Phantom Thief.

Semua orang yang mengikuti berita tentang tindak tanduknya selalu tahu bahwa dimana ada sang pencuri misterius, disitu pulalah Akashi selalu berdiri tegap dengan pandangan menantang. Bahkan beberapa oknum dengan suka rela mendirikan fan base 'MR. DETECTIVE X PHANTOM THIEF-KUN'.

Gila. Tapi itulah kenyataannya.

Kini pun sama, pria bersurai scarlet tengah itu berdiri tegap dan memandang lurus pada sebuah kotak kaca di depannya tanpa mengalihkan fokusnya sedetik pun.

Di dalam kotak kaca itu berisi sebuah batu ruby indah ditemani oleh sinar dari lampu yang juga berada di dalam kotak kaca. Batu itulah yang kali ini menjadi incaran sang pencuri misterius.

Secara tiba-tiba lampu yang sejak tadi menyala terang mati dalam sekejap mata, bahkan penerangan dalam kotak kaca ikut mati. Mengundang rasa gelisah pada semua orang di dalam ruangan luas tersebut—tak terkecuali Akashi yang kembali mengumpat pelan.

"TETAP TENANG DAN MAJU KE ARAH BATU RUBY!" perintah kepala kepolisian yang dengan lantang berteriak "JANGAN SAMPAI BATU ITU DICURI OLEH SI KEPARAT PHANTOM THIEF!"

Akashi mengumpat kasar. Sial benar dirinya harus bekerja sama dengan orang berisik macam kepala kepolisian itu. Dengan hentakan keras penuh emosi dirinya berjalan keluar dari ruangan. Langkahnya semakin cepat ketika pintu keluar sudah berada di dekatnya, tangan berbalut kemeja merah gelap terulur ke depan untuk membuka pintu sebelum sebuah tangan yang lebih kecil dari tangannya berada di atas menahannya.

"Doumo, Tuan Detektif." Sebuah suara berintonasi datar menyapa sepasang telinga Akashi yang berkedut samar "Kita bertemu lagi,"

"Seperti biasa, kau muncul secara tiba-tiba seperti hantu.." ejek Akashi mendengus, bola matanya mencoba melirik ke samping kanan untuk mendapati sesosok pemuda yang lebih kecil darinya berbalut pakaian serba hitam. Akashi benar-benar berharap lampu segera menyala agar dirinya dapat melihat wajah sang pencuri secara jelas "Kenapa kau tidak menamai dirimu sebagai hantu pencuri saja,"

Sarkastik.

Itulah sifat Akashi bila sedang sebal.

Kelereng seindah batu sapphire yang dilindungi oleh topeng separuh wajah berwarna hitam mengerjap pelan sebelum disusul oleh suara kekehan lembut dari pemiliknya

Akashi heran mengapa dirinya selalu merasa hangat ketika mendengar kekehan lembut dari musuh bebuyutannya. Ya, Akashi heran—ah, atau mungkin lebih tepatnya seorang Akashi Seijuuro selalu menyangkal perasaan yang ia rasakan dan mencoba untuk masa bodoh dengan hal tersebut.

"Baiklah, sampai jumpa lagi, Tuan Detektif.."

Sang detektif tampan hendak mencekal tangan di atasnya namun gerakannya kalah cepat dengan sang empu tangan. Ia kembali mendecih sebal karena tidak berhasil menanggkap sang Phantom Thief untuk yang kesekian kalinya.

"Sial. Dasar jambret pengecut. Beraninya melarikan diri tanpa pertanggung jawaban." Umpatnya dengan kata-kata ambigu seakan-akan ia adalah seorang gadis yang keperawanannya diambil dan hamil setelahnya

Oh, cukup. Akashi Seijuuro tak mau otaknya lebih melantur dari ini.

...

Sinar matahari begitu terik siang itu, membuat kebanyakan orang malas untuk keluar dari rumah dan lebih memilih mendinginkan diri di dekat pendingin ruangan dengan ditemani oleh minuman penghilang dahaga. Kebanyakan orang, namun tidak dengan sang detektif yang masih uring-uringan karena kegagalannya menangkap sang pencuri misterius.

Siang itu, seorang Akashi Seijuuro lebih memilih untuk duduk di bangku taman seorang diri daripada mengurung diri di kantornya atau di apartemennya yang nyaman. Tak mempedulikan sinar yang begitu menyengat, dengan santainya ia mendongakkan kepala dengan kelopak yang menyembunyikan iris merah delima menawannya.

"Permisi,"

Bayangan dari seseorang menghalau siraman sinar matahari pada tubuh atletisnya. Terlalu malas untuk menanggapi, Akashi menulikan diri dari suara yang tadi jelas mengarah padanya. Kini pria berumur 22 tahun itu sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun.

"Ano..." suara itu kembali menyapa telinganya walau sudah diacuhkan "Bolehkah aku duduk di sampingmu?"

Kerutan samar menghampiri dahi Akashi. Dengan malas dibuka kelopak mata miliknya untuk melihat siapa orang yang keras kepala dan berani menganggu waktu beristirahatnya yang berharga.

Biru. Menenangkan.

Dua hal itulah yang langsung terbesit di otak jeniusnya saat melihat siapa sosok di depannya.

Pemuda bersurai baby blue dengan iris yang lebih indah dari batu sapphire yang ada di seluruh dunia. Tubuh mungilnya dilapisi oleh kulit putih porselen. Pemuda itu tampak manis dengan kaos putih yang dilindungi oleh jaket hitam berlengan pendek dan celana yang panjangnya selutut berwarna biru muda.

Oh, bolehkah Akashi menjadikannya peliharaan miliknya di apartemen untuk menghilangkan rasa sepi dan lelahnya?

"Ano..." pemuda manis itu memiringkan kepalanya saat tidak mendapatkan respon dari Akashi yang hanya diam menatapnya lapar "Bolehkah aku duduk di sampingmu, Tuan Detektif?"

Akashi tertegun.

Bagaimana dia bisa tahu aku seorang detektif? Jangan-jangan dia—

"Umh..kau Akashi Seijuuro sang detektif yang terkenal itu kan?" pemuda manis itu mendudukkan dirinya di samping kanan Akashi, irisnya menatap Akashi dengan pandangan kagum—walau wajahnya tetap sedatar teflon di apartemen Akashi

"Siapa kau?" tanya Akashi dengan nada curiga yang sama sekali tak ditutup-tutupinya

Bibir ranum itu tertarik membentuk sebuah senyum tipis yang begitu mempesona di mata Akashi "Kuroko Tetsuya, umur 25 tahun. Pekerjaanku sebagai guru TK, terkadang menulis novel untuk mengisi waktu luang."

Apa? Tadi pemuda manis itu berkata apa? Umurnya 25 tahun? Kau bercanda.

"Dan aku tidak berbohong. Umurku memang 25 tahun." Ujar pemuda itu seakan bisa membaca isi pikiran Akashi sambil menunjukkan kartu identitas diri miliknya

Akashi menghela nafas, mencoba untuk menghilangkan rasa keterkejutannya. Ternyata di dunia ini memang masih ada spesies baby face ya.

"Maaf atas ketidak sopananku. Namaku Akashi Seijuuro dan kau pasti sudah tahu apa peerjaanku. Umurku 22 tahun, salam kenal."

Ia melihat pemuda—atau pria—di depannya mengangguk pelan dan kembali memasang wajah datar. Keduanya saling memandang satu sama lain. Saling menganggumi keindahan bola mata yang dimiliki sang lawan.

Ruby dan Sapphire beradu.

"Ternyata memang benar," Kuroko Tetsuya mengawali pembicaraan "Kelereng matamu lebih indah dan menawan dari batu Ruby yang ada di seluruh dunia ini, Akashi-kun."

Sebuah senyuman penuh arti dilemparkan pada Akashi yang kini kembali tertegun mendengar ucapannya.

"Apa maksudm—"

"Kuroko-kun, disini kau rupanya. Aku mencarimu sejak tadi. Bagaimana bisa kau meninggalkan kekasihmu saat sedang berkencan!" seorang pria bersurai kelabu menginterupsi mereka berdua

Akashi memandang bingung pria yang berjalan mendekati mereka berdua—lebih tepatnya mendekat ke arah Kuroko Tetsuya yang kembali memasang wajah datarnya untuk kesekian kalinya.

"Maaf, Mayuzumi-kun. Aku hanya ingin menyapa kenalanku," pria berwajah datar itu melirik sekilas pada Akashi yang masih diam "Baiklah, Akashi-kun, senang bisa mengobrol denganmu. Sampai jumpa,"

Sepertinya Kuroko Tetsuya tak ada minat untuk mengenalkan Akashi pada pemuda di depannya. Ya, Akashi sama sekali tak peduli dengan hal sepele seperti itu.

Dengan itu sang pria baby face berjalan menjauh bersama dengan pria bersurai kelabu yang menyatakan dirinya sebagai kekasih Kuroko Tetsuya. Meninggalkan seorang Akashi Seijuuro yang memutar otaknya untuk menyusun kejadian-kejadian yang baru saja dialaminya.

Pertemuan dengan seorang Kuroko Tetsuya. Mata sapphirenya dan nada berintonasi datar. Sebuah senyum misterius dan ucapannya yang aneh.

Sebuah senyum penuh arti menghiasi wajah rupawannya. Tak lama kemudian senyuman tersebut berganti menjadi sebuah kekehan geli.

"Aku mengerti sekarang." Kekehan itu tak berhenti dan semakin menjadi "Kau benar-benar sulit ditebak, Phantom Thief—ah, bukan. Kuroko Tetsuya."

Akashi bangkit dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan bangku yang merupakan saksi bisu akan perjumpaan keduanya.

"Tunggu saja, akan kutangkap dirimu lalu akan kubawa kau ke apartemenku dan membuatmu putus dengan kekasihmu—dengan begitu akan kunikahi kau agar berhenti menjadi seorang pencuri, Tetsuya."

Karena sesungguhnya bagi seorang Akashi Seijuuro, Kuroko Tetsuya adalah seorang jambret yang dengan seenak jidatnya membombardir otak Akashi dengan drinya yang imut-imut minta di emut dan membuatnya untuk pertama kali gagal menyelesaikan kasus.

-End_Jambret-

Yosh! Kelar! Umh, entah kenapa saya pingin ngebuat cerita macam ini dan membuat Akashi yang terkenal akan keabsolutannya menjadi depresi karena tidak bisa menangkap sang pujaan hatinya../digampar