Bleach by Tite Kubo

The Miko's Mask and The Girl's Identity by RiiXHitsuHina

YOHOHOHO, YOHOHOHO….

Chapter 10… Ternyata Rii salah perhitungan. Ini mungkin selesai di chapter 12 an…


Chapter 10

Momo Captured. Aizen's Plan Worked

Hitsugaya yang membatu di gudang setelah melihat kepergian gadis yang dicintainya akhirnya kembali juga ke perkemahannya.

"Sudah jam berapa sekarang?" tanyanya pada dirinya sendiri.

"Jam setengah 1!" teriak Ichigo secara tiba-tiba dari atas pohon.

Hitsugaya pastilah terkejut, "Kurosaki? Sedang apa kamu di atas pohon seperti monyet begitu?" Hitsugaya setengah meledek.

"Bukan urusanmu! Aku sedang ada masalah berat. Kenapa wajahmu cemberut seperti itu?"

Hitsugaya tidak sadar kalau ternyata wajahnya memasang ekspresi seperti itu, "Tidak, aku tidak cemberut, hanya…" ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya.

Ichigo tersenyum, "Hanya ditinggalkan Momo itu ya? Itu terbaca jelas dari raut wajahmu."

"Mungkin semacam itu… Aku tidak tahu juga."

'Nyriut!', muncul urat di kepala Ichigo karena kesal, "Dasar, ditinggalkan perempuan saja langsung sedihnya seperti itu. Bagaimana kalau ditinggal istri nanti?"

"Bukan urusanmu! Kamu juga tampaknya habis ditinggalkan Rukia." Hitsugaya mencoba 'mengenai' Ichigo.

BRUKK! Ichigo jatuh dari pohon, "A, aduh.. Sakit," ungkin karena kata-kata Hitsugaya benar-benar 'mengenainya'.

"Jadi ternyata aku benar.."

"A, apa!? Aku tidak!! Tapi, bisa dibilang, hanya bertengkar sedikit saja," ia pun ikut-ikutan muram.

"Sudah kuduga. Oh, iya. Ishida, Matsumoto, cepat keluar dari sana!" teriak Hitsugaya kesal pada Ishida dan Rangiku di balik semak-semak, "Apa yang kalian lakukan berdua di sana?"

"Ahahahaha.. Tidak kok, Kaicho! Jangan berpikir yang jelek-jelek," kata Rangiku mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Sudahlah Rangiku-san, kita sudah ketahuan. Akui saja," kata Ishida, "Sejujurnya, kami menguping. Tadinya hanya ingin menguping Ichigo yang sedang marah-marah di atas pohon, tapi kamu datang, jadi kami melanjutkan menguping."

"Sudah berapa lama kalian berdua berencana mengupingiku HAH?!" teriak Ichigo kesal sementara Hitsugaya sudah mengerutkan keningnya.

"Sejak tadi siang, Ichigo.. Hahahaha.. Kami tidak tahan melihatmu serta Rukia-chan dan Inoue-chan terus-terusan murung," Rangiku mengeluarkan sebuah tape recorder yang sejak awal sudah menyala, "Siapa tahu kami bisa merekam kata-katamu yang meluluhkan hati Rukia-chan!" jelasnya.

"Bodoh, aku tidak mungkin mengeluarkan kata-kata gombal seperti itu!!" kata Ichigo dan ia tiba-tiba menyadari sesuatu, "TUNGGU! Kamu tahu tentang aku dan Rukia, Rangiku!?"

Rangiku menangguk kecil sambil menunjuk Ishida sebagai jawabannya. Ishida kaget. "Eh?! Oh, itu. Iya, aku yang memberitahu Rangiku-san untuk membantuku."

"Membantuku!? Aku tidak perlu bantuan tahu!" teriak Ichigo.

"Ini bukan hanya untukmu. Tapi juga untuk Inoue-san." wajah Ishida mendadak menjadi sangat serius. "Apa kau melihat perubahan pada sikap Inoue-san 3 hari ini?"

Mata Ichigo terbelalak, tanda bahwa ia tidak sadar akan perubahan dari sikap Inoue selama ini. "Sahabatku sedang bersedih, tapi, aku tidak sadar sama sekali?!", katanya.

"Bukan tidak sadar, mungkin tidak perduli," tambah Rangiku, "belakangan ini kau selalu mencoba mendekati Rukia-chan kan? Kau hanya perduli tentang cara mendapatkan Rukia-chan."

Ichigo mulai memutar balik otaknya ke saat-saat Inoue melihatnya bersama Rukia di hutan. Inoue memang tampak sedih dan tertekan mengetahui hubungan mereka. Rukia juga sudah berkali-kali memperingati Ichigo bahwa Inoue belum siap. Mungkin Ichigo menjadi gelap mata tentang Rukia sampai-sampai ia tidak melihat kesedihan Inoue. Mengapa ia tidak bisa melihatnya saat Ishida dan Rangiku bisa?

"Ya, mungkin kau benar. Aku terlalu egois," kata Ichigo dengan suara lemas dan kepala tertunduk menyesal. "Aku harus mencoba berbicara pada Inoue. Tapi kapan?"

Ishida mulai tersenyum, "Kapan pun saat Inoue siap. Nanti akan kukatakan saatnya."

Rangiku tersenyum lebar. "Baiklah kalau begitu!! Masalah Ichigo sudah selesai! Sekarang tentang gadis yang bernama Momo itu, Kaicho." katanya pada Hitsugaya.

Hitsugaya yang sejak tadi hanya mendengarkan sambil melipat tangannya pun kaget. "Eh?! Apa??"

"Sudahlah Toushiro. Beritahu saja semuanya pada mereka. Toh mereka juga sudah mendengar pembicaraan kita tadi," bujuk Ichigo.

"Apa?! Itu bukan urusan mereka!" teriak Hitsugaya sambil menunjuk Rangiku dan Ishida dengan telunjuknya.

"Wajah kaicho merah!!! Wajah kaicho merah!!! Ternyata kaicho menyukai gadis bernama Momo!!!" teriak Rangiku sambil mengejek.

"A, APA!? TIDAK! ITU TIDAK BENAR!" wajah Hitsugaya pun makin memerah.

"Akui saja, Toushiro!" lalu kata Ichigo pada Ishida dan Rangiku. "Dia memang suka pada gadis miko Kuil Karakura yang bernama Momo. Tapi marganya belum ketahuan."

"Yang benar HITSUGAYA KAICHO, Kurosaki!!! Dan itu bukan hakmu untuk membocorkan rahasiaku pada mereka!!!"

Rangiku lalu memberi selamat pada Hitsugaya, "Selamat kaicho!!! Hati es kaicho telah cair di pelukan seorang gadis kuil! Manisnya!!!!", tapi tiba-tiba ia sadar, "Miko Kuil Karakura!?!? Ini kan tidak sesuai aturan mereka!!!! Bukankah artinya cinta kaicho dan Momo terlarang!?"

"…" Hitsugaya hanya diam. Ia lalu melepaskan tangannya dari Rangiku dan bergegas menuju tenda laki-laki.

"Eh!? Kaicho kenapa ya?!" tanya Rangiku pada Ichigo dan Ishida.

"Mungkin hubungan mereka ketahuan sehingga miko itu harus meninggalkan Hitsugaya. Pasti itu yang membuatnya sedih kalau kita membicarakan Momo," jawab Ishida.

"Yah, kurasa kata-kata Ishida ada benarnya," sambung Ichigo.

"Kalau begitu kasihan kaicho dong!?"


Pagi harinya

Di penjara bawah tanah Keluarga Hinamori

Hinamori Retsu, yang sedang memakai topeng dan pakaian mikonya, datang ke penjara anaknya, Momo.

Kriekt, sraakkk, terdengar suara tirai penjara Momo. "Bagaimana Momo? Malam pertamamu di pasung di dalam penjara yang sudah tua ini?" tanya Retsu pada anaknya.

Momo hanya menatapnya dengan tajam dan penuh kebencian. "Apa yang ibu inginkan?"

"Aku hanya ingin berbicara denganmu Momo. Kau akan ibu bebaskan jika kau sudah jera dan menyesali perbuatanmu itu."

"Tapi tidak ada yang salah kan dengan bertemu dan mencintai orang lain!? Aku tidak akan pernah jera dan tidak akan pernah menyesal bertemu dengannya!"

"Hhh.. Ya sudah. Berarti kau akan tetap dikurung di sini," Retsu lalu menatap lembut anaknya. "Maafkan ibu, Momo. Tapi inilah hukum keluarga Hinamori yang harus dijalankan, apa pun risikonya."

Pandangan Momo pada ibunya tetap tajam danpenuh amarah. "Bahkan jika ibu kehilangan anggota keluarga ibu satu-satunya?"

Retsu tidak menjawab, ia hanya memanglingkan badannya dan pergi meninggalkan ruangan itu.

"Ternyata perkiraanku benar. Ibu, selama ini tidak perduli apa pun tentangku. Ia hanya perduli tentang hukum, hukum Keluarga Hinamori," pikir Momo. "Ibu tidak perduli tentangku…" dan air mata pun menetes dari pipi merah Momo.


Di saat yang sama, di sungai dekat perkemahan…

Sambil mencuci piring di sungai, Hitsugaya tidak berhenti berpikir. "Momo. Apa yang sedang ia lakukan? Apa ia baik-baik saja? Apa rahasia kami sudah ketahuan oleh ibunya?"

Karena terlalu banyak berpikir, Hitsugaya tudak menyadari kalau ada satu piring plastik yang sedang dicucinya terjatuh dari keranjang dan terbawa arus sungai.

"OI! Hitsugaya! Piringnya hanyut!!!" teriak Renji sehingga membangunkannya dari lamunannya. Semntara Ichigo kesal melihat piring yang dibelinya hanyut. "Dasar bodoh!" katanya.

"EH?! Sial!" dan ia segera melompat ke tengah sungai, mencoba menangkap piring yang hanyut tersebut.

"Hitsugaya-kun! Jangan! Bagian sungai yang itu dalam!!!" teriak Inoue yang sedang mencuci pakaian di sungai yang sama.

Tapi terlanjur, sebelum berhasil menangkap piring yang hanyut itu, Hitsugaya sudah tenggelam duluan.

"Cih! Inoue! Cepat cari bantuan!! Renji! Cari tali atau alat semacam itu!!" perintah Ichigo.

Ia pun langsung berenang ke arah Hitsugaya yang tengggelam untuk menyelamatkannya sementara Inoue kembali ke perkemahan mencari bantuan dari yang lain dan Renji mencari tali di dalam tas yang ia bawa ke dekat sungai.

Melihat Hitsugaya yang sudah tidak ada di permukaan, Ichigo menarik nafas sedalam-dalamnya dan menyelam. Ia berenang, mencari Hitsugaya yang pingsan. Akhirnya, ia melihat sosok pemuda berambut putih perak di sebelah kanan belakangnya. Agak dalam. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Ichigo pun menyelam maakin dalam lagi untuk mencapai Hitsugaya, dan akhirnya, ia berhasil memegang kerah baju Hitsugaya.

" PUAH!! " Ichigo muncul ke permukaan. "Toushiro! Bertahanlah! RENJII!!! MANA TALINYA?!?" teriak Ichigo yang sudah berhasil mendapatkan Hitsugaya di tangan kirinya.

"Tali, tali!? Di mana kamu!?!" sementara Renji masih sibuk mencari tali.


Di perkemahan

"Kuchiki-san!!! Rangiku-san!!!!! Ishida-kun!!!Tolong!!!" teriak Inoue dari kejauhan.

"Eh?! Ada apa ya? Kenapa Inoue-chan berteriak-teriak begitu?!" tanya Rangiku dengan suara centilnya. Sementara Rukia merasa tidak enak untuk berkata apa pun.

"HITSUGAYA-KUN TENGGELAM DI SUNGAI!!!! CEPAT TOLONG DIA!!!!!" lanjut Inoue masih dari kejauhan.

"Apa?! Hitsugaya tenggelam?" tanya Rukia yang terkejut. "Ayo kita ke sana, Rangiku-san!"

"Ah, I, iya! Ishida, tolong jaga perkemahan!!" perintah Rangiku, dan mereka bertiga pun pergi menuju sungai.

Tinggalah Ishida yang terheran-heran. "Kenapa harus aku yang jaga perkemahan? Yang laki-laki itu kan aku!" pikirnya.

Sesampainya Rangiku, Rukia, dan Inoue di sungai, tampaklah Renji yang sedang berusaha menarik sebuah tali tambang dengan Ichigo dan Hitsugaya yang pingsan di ujung tali tersebut.

"Oi! Bantu aku menarik talinya! Cepat!!!!" teriak Renji.

"Ah, i, iya!"


Sementara itu, di penjara Keluarga Hinamori..

"A, Aizen-sama?! Sedang apa di sini!?" tanya Momo yang keheranan dengan kedatangan Aizen di penjara bawah tanahnya.

"Aku datang untuk menyelamatkanmu, Hinamori-kun," kata Aizen. "Kau tidak seharusnya berada di sini. Seharusnya aku menyelamatkanmu kemarin."

Wajah Momo pun menjadi cerah, keyakinannya bahwa Aizen-sama-nya akan menyelamatkan dirinya ternyata tidak sia-sia.

"Terima kasih! Terima kasih Aizen-sama!! Aku tahu kau tidak akan membiarkanku berada di sini!"

Aizen hanya tersenyum. Ia pun merogoh kantungnya dan memberikan sebuah kunci pada Momo. "Hinamori-kun, ini kunci penjara sekaligus kunci rantai di kakimu! Gunakanlah untuk membebaskan dirimu, tapi jangan sekarang. Kalau kau gunakan sekarang, ibumu bisa tahu kau kabur."

"Lalu kapan? Aku harus bagaimana?"

"Gunakanlah saat matahari sudah tenggelam. Aku akan memberikan segelas susu padamu nanti sore. Setelah aku pergi dari penjara ini, hitung sampai seratus dan segera pergi. Jika kamu pergi ke arah yang berlawanan dari gudang, kamu akan menemukan seorang temankku. Dia akan membantumu," jelas Aizen.

"Baik, Aizen-sama," kata Momo sambil memegang kunci yang tampak kuno dan lusuh itu.


Kembali pada Hitsugaya yang sedang pingsan…

Ichigo dan Renji masih mencoba memompa dada Hitsugaya, tapi air yang tertelan olehnya masih belum keluar juga. Bisa gawat kalau terus seperti ini.

"Oi! Ada yang mau memberikan nafas buatan tidak?" tanya Ichigo. Semuanya pun terang-terangan menolak.

"Mungkin sebaiknya Momo itu yang memberikan nafas buatan pada Kaicho," Rangiku memberikan ide. Ichigo, Rangiku, dan Ishida mengerti, tapi Rukia, Renji, dan Inoue hanya bisa bertanya-tanya dalam hati.

Tidak tahan melihat Hitsugaya yang sadar juga, Inoue mengutarakan niatnya. "Kurosaki-kun, boleh aku coba memompa Hitsugaya-kun?"

"Eh? Boleh saja," kata Ichigo. Tapi ia bingung. Untuk apa Inoue tetap berdiri jika ingin memompa dada Hitsugaya?

"Huuh… Hahh.. HIAT!" Inoue bukannya memompa dada Hitsugaya dengan cara biasa, ia malah memompanya dengan cara menjatuhkan dirinya dengan telapak tangan terbuka mengarah ke dada Hitsugaya. Entah bagaimana rasa sakit yang dirasakan Hitsugaya.

"Huek! Huk! Crat! Huk!" ternyata cara Inoue berhasil. Air yan tertelan Hitsugaya keluar dari mulutnya.

"Oi, Hitsugaya! Apa kau tidak apa-apa? Kamu hebat, Inoue-san!" kata sambil Ishida menghampiri Hitsugaya dan memberikan handuk padanya.

"Uhuk! Aku tidak apa-apa. Bagaimana piringnya?"

"Dasar bodoh! Kamu hanyut begitu masih memikirkan piringnya! Apa sih yang sebenarnya kamu pikirkan?" bentak Renji.

Hitsugaya hanya terdiam. Sebetulnya ia ingin menjawab kalau ia memikirkan Momo, tapi memangnya itu jawaban yang cocok untuk pertanyaan Renji?

"Aku hanya punya firasat buruk tentang sesuatu," jawab Hitsugaya.

"Firasat buruk? Dasar bodoh.."


Di hutan yang berlawanan arah dengan gudang..

"Hah, hah, hah, hah," tersengar suara nafas Momo yang tersengal-sengal akibat berlari dari rumahnya. Yukata putih yang ia kenakan telah bercampur dengan tanah akibat terjatuh beberapa kali. Telapak kakainya yang tidak mengenakan sandal atau pelindung lainnya sudah kotor dan sedikit merah karena darah.

Momo berhasil kabur dari penjara dengan mengikuti semua perintah dari Aizen, meskipun begitu, ia hampir ketahuan oleh ibunya saat ia ingin mengambil sandal dan baju bersih di kamarnya. Untungnya Aizen muncul di saat yang tepat dan menghalangi pandangan Retsu mengenai Momo. Tapi beginilah akhirnya.

"Teman Aizen-sama! Di mana kau!? Ini aku. Hinamori Momo!" teriak Momo meskipun ia tidak melihat seorang pun.

SRAK! Tiba-tiba keluar sebuah sosok dari balik pepohonan dengan wajah yang tersenyum dan mata yang sipit. Momo terkejut melihat wajah orang itu.

"Hinamori-san? Benar kan? Aku Gin, Ichimaru Gin. Teman Aizen," kata Gin dengan sopan memperkenalkan dirinya.

Meskipun sedikit takut melihat Gin yang seperti orang jahat, Momo membernaikan dirinya. "Se, selamat malam, Ichimaru-san. Aku ke sini atas perintah Aizen-sama. Apa yang BRAK! SRAK!"

Sebelum Momo menyelesaikan kalimatnya, Gin sudah membekap mulut Momo dengan saputangan yang telah diberi cairan penidur. Momo pun lemas dan jatuh di tangan Gin.

"Selamat malam juga, Hinamori-san," bisik Gin di telinga Momo yang sudah terlelap. "Tolong bawa dia, Tousen. Dia harus sudah berada di hadapan bos saat dia bangun nanti."

Seseorang yang dipanggil Gin muncul dari kegelapan. Rambutnya hitam keriting diikat rendah, sementara ia memakai pakaian berwarna putih di atas kulitnya yang soklat tua.

Lalu Tousen berkata, "Baik, Gin."

CHAPTER 10

OWARI


Huahhhh.. Ngantuk aye.. CHAYIO! Harus ngejawab review pemirsa! (lebay mode on..)

MAKASIH ATAS REVIEW2NYA!!!

Agehanami-chan : sabar bu.. bulan puasa.. hahaha..

Yumemiru Reirin, Yuinayuki-chan, Shirayuki Haruna : memang kejam... Kesel banget nulis Aizen! Tp klo ga gtu, ga asik.. Hehehe

Yoriko : makasih! saia juga makin penasaran tentang anda.. hohooh! *ditabok yori*

HISUHINA FOREVER!