Pasal 9
"Halo, dengan Paman Sam?"
"Iya, saya sendiri," jawab seseorang diseberang sana.
"Ini Wonwoo, Paman, anak dari Tuan Jeon, yang tempo hari bertemu digereja."
"Oh iya Paman ingat, ada apa Wonwoo?"
"Aku ingin mendaftar magang, kira-kira bagaimana Paman? Karena sebentar lagi aku akan libur semester, jadi aku akan gunakan untuk magang."
"Siapkan saja surat pengantar dan proposalnya, serta transkrip nilai, jangan lupa pas foto."
"Baik, Paman." Aku menutup teleponku dan segera pergi ke bagian akademik untuk meminta surat rekomendasi serta transkrip nilaiku.
"Apa kau yakin tidak mau ikut magang bersamaku?" tanyaku pada Seokmin.
"Aku ambil dilibur semester depan saja, ini masih terlalu awal."
"Baiklah, kalau begitu aku duluan ya."Aku mencari-cari kontak Junhui yang kusimpan didompetku kemudian mengiriminya pesan singkat,
To: Junhui-ssi
Text: Junhui-ssi, ini aku Wonwoo. Apa hari ini jadi?
Aku sempat ragu untuk mengirim pesan tersebut, karena setelah kupikir-pikir aku terlihat sangat agresif. Apa menurut kalian seperti itu? Silahkan voting dikolom komentar, terima kasih.
Tapi aku sudah janji pada Junhui-ssi, kalau hari ini kita akan makan siang bersama. Ah sudahlah, lagipula ini hanya makan siang, tidak ada yang salah bukan?
Aku mencari Mingyu ke kelasnya, tapi aku tidak menemukannya. Aku bertanya kepada teman sekelasnya, mereka bilang Mingyu pergi makan siang bersama Minha. Aku memutuskan untuk menyusulnya ke kantin tapi tiba-tiba ponselku berdering. Junhui-ssi meneleponku.
"Dimana kau? Aku sudah didepan kampusmu."
"Apa? bagaimana bisa secepat ini? Maksudku, kenapa kau bisa secepat ini sampai dikampusku, sepertinya aku baru sekitar 10 menit yang lalu mengirim pesan," tanyaku terkejut.
"Aku sudah berangkat sebelum kau mengirimiku pesan. Aku tunggu digerbang depan, mobilku SUV hitam."
Aku menutup teleponku dan membatalkan niatku untuk menghampiri Mingyu terlebih dahulu dikantin, aku pergi ke gerbang depan dan mencari-cari mobil SUV hitam milik Junhui. Aku sempat kesulitan mencarinya, alih-alih melihat mobil Junhui, aku melihat motor Mingyu meninggalkan gerbang kampus dengan seorang wanita yang berada dibelakangnya. Apa Mingyu mengajak Minha makan siang diluar? Apa sekarang posisiku sudah digantikan oleh Minha?
Aku menggeleng, aku berusaha menyangkal dan mencari-cari alasan untuk memaklumi apa yang baru saja kulihat. "Ah, mungkin mereka sedang melakukan kerja kelompok." Ya, benar, begitu. Mingyu pasti sedang melakukan kerja kelompok dengan Minha bukannya berkencan.
"Wonwoo." Seseorang menupuk pundakku dari belakang dan membangunkanku dari lamunanku.
Aku berbalik dan menyapa sosok yang menepuk pundakku tadi,
"Junhui-ssi."
"Apa sangat sulit mencari mobilku? sampai-sampai kau hanya diam disini dan menatap kosong kearah sana," tanya Junhui sambil menunjuk ke arah jalan dimana motor Mingyu memelesat pergi bersama Minha.
"Ah, tidak aku hanya sedang kepikiran sesuatu."
"Apa?" tanya Junhui penasaran.
"Ehm, bukan apa-apa. ayo kita pergi." Aku mencoba mengelak dari pertanyaan tadi dan memilih meyeret tangan Junhui untuk segera meninggalkan kampus, sehingga kini posisiku berada didepan Junhui sambil menarik tangan kanannya.
"Nu?" tanya Junhui.
"Apa? sungguh itu bukanlah apa-apa."
"Bukan itu, Nu. Tapi—" Belum sempat Junhui menyelesaikan kalimatnya aku sudah memotongnya,
"Tapi apa?" Aku berhenti sejenak dan berbalik menghadap Junhui.
"Mobilku disebelah sana, Nu. Bukan disana," kata Junhui sambil menunjuk arah yang berlawanan dengan arah yang sedang kita tuju.
Aku buru-buru melepas tangan Junhui dengan canggung. Astaga! Aku tidak sadar kalau tadi kami hampir seperti bergandengan tangan. Aku malu sekali.
"Maaf—," kataku lirih.
"Tak apa. ayo!"
Akupun masuk kedalam mobil mewah Junhui dan duduk dengan tenang, aku cukup kesulitan mengenakan seatbeltku dan Junhui dengan sigap membantuku mengenakannya, mata kami bertemu pandang seketika, wajah kami juga begitu dekat, menimbulkan momen keheningan diantara kita berdua. Lama mata kami bertatapan sampai akhirnya Junhui seperti tersadar dan meminta maaf. Aku hanya mengangguk ringan dan memainkan ponselku, sepertinya sudah menjadi kebiasaanku sekarang untuk bermain ponsel ketika terjebak dalam situasi yang awkward.
.
"My treat, pesan saja apapun yang kau inginkan," kata Junhui sambil memberikan menu kepadaku.
Kami sudah sampai direstoran mewah yang menyajikan seafood, aku hanya membolak-balik menu tanpa tahu harus memesan apa. Kalian tahukan kalau aku tidak suka dengan seafood?
"Kau kenapa?" tanya Junhui.
"Eum, itu. Sebenarnya, aku tidak suka seafood," jawabku jujur.
"Astaga. Maafkan aku, aku tidak tahu kalau kau tidak suka seafood, kalau begitu ayo kita pindah."
Aku memberikan isyarat kepada Junhui untuk duduk kembali dikursinya, jujur saja aku memang ingin pindah dari restoran ini, tapi aku mengurungkan niatku, karena itu akan sangat memalukan, apalagi para pramusaji disini sudah melayani kami dengan baik. "Tak apa, disini saja! Aku bisa memesan cumi gorang tepung," kataku pada Junhui.
"Apa kau yakin?"
Aku hanya mengangguk ringan sebagai jawaban atas pertanyaannya.
"Ah, padahal ini kencan pertamaku denganmu, tapi aku malah membuat impresi buruk. Maaf."
Aku tidak menangkap maksud Junhui dengan jelas, mungkin dia hanya bercanda ketika dia mengatakan 'kencan'.
"Tak masalah," responsku ringan.
"Kalau begitu sebagai permintaan maafku, hari sabtu nanti aku akan mengajakmu ke China Town. Bagaimana?"
"China Town?"
"Iya, Incheon China Town. Kau pasti belum pernah kesana."
Aku sempat berpikir sejenak dan tak tahu harus menjawab apa, dalam hati aku masih bertanya-tanya "Apa yang kulakukan sekarang ini termasuk dalam kategori perselingkuhan?" buru-buru aku menjauhkan pikiran tersebut dan menegaskan kepada diriku kalau aku hanya sedang makan siang bersama seorang teman, sama halnya seperti makan siang bersama Seokmin.
"Aku tidak tahu." Akhirnya aku membuka suara, aku dapat merasakan rasa kecewa yang terpampang dibola matanya, tapi ia berusaha menutupinya dengan senyum manisnya.
"Tak apa. kau bisa memikirkannya terlebih dahulu." Aku mengangguk dan membalas senyumnya dengan senyum tipis yang menghias wajahku.
Ponselku menginterupsi keheningan antara aku dan Junhui. Aku melihat nama Seokmin muncul dilayar ponselku, kemudian mengangkat panggilan tersebut.
"Yeobosseyo?"
"Kau harus melihat apa yang sedang aku lihat sekarang," ujar Seokmin dengan suara seperti berbisik-bisik.
"Apa?" tanyaku penasaran.
Detik berikutnya Seokmin menceritakan bahwa ia sedang berada di restoran dan melihat Mingyuku sedang makan siang bersama seorang gadis, Park Minha tentu saja. Aku tidak terkejut, yang membuatku terkejut ialah Seokmin bilang kalau mereka terlihat sangat dekat sekali, seperti sepasang kekasih. Aku memang tidak bisa melihatnya secara langsung, tapi itu saja sudah cukup untuk menyalakan api cemburuku dan membuatku bertanya-tanya tentang hubunganku dengan Mingyu. Aku mencoba mengatur napasku, menenangkan pikiranku, kemudian mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aku tak tahu kalau kau sekarang suka makan di restoran," tanyaku dengan nada penuh keheranan.
"Ah, itu. Aku akan berkencan dengan Hoshi," jawab Seokmin malu-malu, "Tapi, dia baru saja mengabariku kalau dia akan sangat terlambat, jam kuliahnya diextend 30 menit karena dosennya terlambat masuk kelas tadi."
"Mingyu sudah pergi. Kalau begitu aku tutup dulu, ya. Sampai jumpa," lanjut Seokmin mengakhiri percakapan kami ditelepon.
Junhui mentapaku penasaran, kemudian membuka suaranya,
"Siapa? Pacar?"
"Tidak, temanku Seokmin."
"Kalau begitu, apa kau sudah punya pacar?" tanya Junhui.
"Eum," jawabku sambil mengangguk pelan. Lagi-lagi aku bisa melihat ekspresi kecewanya, tapi ia segera menyingkirkannya dan kembali menanyaiku, "Jadi siapa laki-laki beruntung itu?"
"Eh?" tanyaku bingung. Maksudku, bagaimana dia bisa tahu kalau kekasihku bukan seorang perempuan? Apa aku terlihat sangat gay?
Junhui memberiku tatapan menyelidik kemudian tersenyum seolah-olah dia sudah mendapatkan jawabannya tanpa harus aku mengatakannya.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanyaku masih dengan wajah penuh kebingungan.
"Entahlah, sebut saja aku punya gay radar," jawabnya ringan.
"Tapi, bukankah kau sudah pernah punya istri."
"Aku juga tidak tahu, semenjak istriku meninggal aku tidak pernah melirik wanita lain, mungkin itupula yang membuatku tidak bisa jatuh cinta lagi pada wanita, dan malah membuatku jatuh cinta pada laki-laki."
.
Junhui mengantarku ke café kemudian berpamitan. Aku segera masuk kedalam café dan mengganti pakaian, aku sudah melihat Seungkwan yang sedang sibuk meracik kopi. Iapun tersenyum padaku dan menatapku dengan penuh keheranan, tentu saja ia heran karena sekarang belum masuk shift kerjaku. Tuhan maafkan aku karena sudah berbohong pada Junhui, sungguh aku hanya merasa canggung didekatnya sehingga aku mencari-cari alasan agar bisa segera berpisah dengannya, dan satu-satunya alasan yang bisa kugunakan adalah pekerjaanku.
"Apa yang membuatmu datang sepagi ini?"
"Tidak ada, aku hanya ingin pulang lebih awal hari ini."
Seungkwan hanya menatapku dengan tatapan tidak percaya, seolah-olah ia tahu kalau aku sedang berbohong. Aku meminta Seungkwan untuk membantuku mengaitkan tali celemekku, dan Seungkwan dengan sigap meninggalkan pekerjaannya sebentar untuk membantuku.
"Trims," ujarku singkat.
"Tak masalah."
Empat pelajar SMA masuk kedalam café dan sudah berdiri didepan konter, mereka terlihat sangat modis untuk ukuran anak SMA, wajah mereka juga dibubuhi dengan make up tipis yang memberi kesan natural. Tak lupa chapstick dibibir mereka juga ikut meramaikan kesan natural tersebut. Satu dari diantara mereka tidak asing diwajahku, tentu saja aku mengingatnya, gadis mungil dengan rambut keritingnya, Wen Minghao.
"Selamat datang, Mau pesan apa?" tanyaku berusaha ramah.
"Kami ingin pesan 2 green tea frappucino, 1 macchiato, dan milkshake strawberry."
"Itu saja?"
"Eum."
Aku memasukkan pesanan mereka kedalam mesin kasirku kemudian bersiap untuk mencetak bill mereka.
"Aku pesan ice Americano," interupsi Minghao.
"Eh, tidak biasanya kau memesan kopi," ucap gadis yang menjadi perwakilan mereka kepada Minghao.
"Aku sedang ingin minum kopi," jawab Minghao ringan.
"Maaf, bisakah milkshake tadi dibatalkan dan diganti dengan ice americano?" tanya gadis itu padaku.
"Tentu."Aku mengulangi lagi pesanan mereka untuk mengecek apakah pesanan yang kumasukkan sudah sesuai dengan keinginan mereka atau belum. "Apa ada tambahan lain?"
Mereka serempak menggeleng kecuali Minghao. "Aku ingin 1 slice cheese cake, apa kau punya?" tanya Minghao padaku.
"Tentu." Aku diam sejenak memerhatikan mereka, "Ada tambahan lain?" tanyaku lagi memastikan untuk terakhir kalinya.
"Tidak, itu saja."
Aku memerhatikan mereka sejenak yang sedang mencari tempat duduk, setelah itu aku meminta Seungkwan untuk membantuku membuatkan pesanan keempat gadis tersebut.
"Atas nama Seulgi." Aku berteriak ringan memanggil nama gadis yang memesan minuman tadi sebagai isyarat kalau pesanan mereka sudah siap.
"Silakan dan selamat menikmati," ucapku formal.
Seulgi hanya tersenyum dan mulai mengangkat nampannya ke meja mereka.
.
Aku dan Seungkwan pulang bersamaan, seperti sebelum-sebelumnya, Vernon sudah setia menunggu Seungkwan didepan café. Wajah westernnya terlihat sangat hangat ketika menatap Seungkwan, matanya menunjukkan binar-binar kebhagiaan ketika menatap Seungkwan, dan seketika itu pula aku merindukan Mingyuku yang menatapku dengan sangat hangat.
"Nu, kau pulang bersama kami saja," tawar Seungkwan kepadaku. "Tak masalahkan?" tanya Seungkwan pada Vernon.
"Tentu saja," kata Vernon sambil mencubit lembut dagu Seungkwan. Oh, Tuhan keluarkan aku dari lovey dovey Vernon dan Seungkwan.
"Tidak usah, aku tidak ingin mengganggu kalian," kataku berusaha menolak tawaran mereka.
"Tidak apa-apa, Nu. Ayo masuk!" Seungkwan menarik tanganku, bahkan membukakan pintu mobil Vernon untukku.
Seungkwan dan Vernon duduk didepan sedangkan aku sendiri dibelakang, kupikir aku akan menjadi obat nyamuk diantara mereka, tapi nyatanya tidak, sepertinya Seungkwan memehami kekhawatiranku sehingga ia banyak mengajakku mengobrol dibandingkan bersama Vernon, dan Vernonpun sepertinya mengerti akan hal itu, sehingga ia juga banyak menanyakan sesuatu padaku dan tentu saja membicarakan tentang Mingyu. Awalnya aku berharap Vernon bisa memberiku sedikit clue tentang perubahan sikap Mingyu padaku, tapi aku mengurungkan niatku, kurasa Vernonpun tidak tahu akan hal itu. Jadi aku katakana saja, bawa aku dan Mingyu baik-baik saja, kuharap memang begitu adanya.
Anyong ching! akhirnya update lagi.. duh gak tahu ini mau dibawa kemana, tahu sih tapi banyak konflik batin, "logical fallacy", "ini gak masuk akal", "ini gak bisa kayak gini", "harusnya ada ini dulu, tapi bingung ini masukkinnya gimana". kira-kira itulah yang terjadi setiap kali mau nulis, makanya jadi lama.. hahaha, anyway makasih yang udah setia baca, i really appreciate you all, thank you so much that you want to read my apalah-apalah story. i'm grateful, truly from the bottom of my heat. i'll see ya soon.
-panda
