.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : T rate/Death Chara/AU/Twisted plot (as usual)
Pair : SasukeXSakura
Genres : Psychology/Mystery/Romance/Tragedy
By Devilish Grin
.
KURUSHII KURUSHII
Chapter 10
.
Siangnya Sasuke bersama dengan Sakura dan Ino pergi ke kediaman Sasori sesuai janji. Di sana mereka hanya disambut oleh Temari seorang. Sepertinya keadaan Sasori benar-benar memprihatinkan.
"Maaf, ya..., Sasori belum bisa ditemui," kata Temari yang tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya lagi di depan Sakura dan kawan-kawan.
"Jadi keadaan Sasori bagaimana sekarang?" tanya Sakura turut merasa prihatin.
"Sejak pulang dari sana, dia sama sekali belum keluar kamar. Dia bahkan menolak untuk makan." Temari menghela napas mengingat kelakuan Sasori yang jadi pemurung sejak pulang dari cafe. Pemuda itu juga tidak bicara padanya sejak hari itu.
"Kalau seperti ini, rasanya akan sulit karena aku tidak bisa menemui Sasori." Sasuke ikut menghela napas. Keadaan seperti ini sangat rumit dan dia bukan tipe orang yang sabar.
"Aku benar-benar minta maaf, karena aku sendiri juga tidak bisa membantu apa-apa..." Temari menyesalkan ketidakberdayaannya untuk menghadapi Sasori yang keras kepala.
"Kalau begitu, tolong berikan ini pada Sasori." Sasuke memberikan sebuah botol obat berukuran besar yang di dalamnya terdapat 30 buah butir obat berbentuk bulat bewarna putih pada Temari. Untungnya sebelum menjemput Sakura di kampus, dia menyempatkan diri mengambil obat tersebut dari kantornya.
"Ini..., apa Sasuke?" tanya Temari sambil menatap botol obat dalam genggamannya dengan bingung.
"Itu obat untuk menetralisir emosi Sasori saat ini. Tapi ingat, cukup berikan obat itu setengahnya saja pada Sasori, karena obat itu memiliki efek ketergantungan." Sasuke memberi penjelasan mengenai obat yang ia berikan pada Temari agar gadis itu mengerti dan berhati-hati memberikan obat tersebut pada Sasori.
"Aku mengerti, terima kasih Sasuke." Temari mengangguk setelah mendengar penjelasan dari Sasuke.
"Temari, kami bertiga pamit dulu. Semoga Sasori cepat sembuh, ya," ucap Sakura sambil memeluk Temari sesaat.
"Terima kasih kalian sudah mau datang menjenguk," balas Temari sembari tersenyum kecil.
"Jangan lupa, sampaikan salamku padanya. Semoga dia lekas sembuh," timpal Ino setelahnya dan memeluk Temari juga.
"Akan kusampaikan, terima kasih, Ino..."
Akhirnya Sakura, Sasuke dan Ino memutuskan untuk kembali karena Sasori tidak bisa ditemui. Selain itu sepertinya pemuda itu dan Temari sedang membutuhkan ketenangan.
...
Saat ini ketiganya sedang berada di dalam mobil menuju perjalanan pulang. Sasuke mengendarakan mobilnya ke arah rumah Ino. Dia berniat untuk mengantar gadis itu pulang dulu agar tidak mengganggunya dengan Sakura nanti.
Porsche hitam itu bergerak melalui gang demi gang yang ada di wilayah perumahan tempat Ino tinggal, dan letaknya hanya berbeda beberapa blok saja dari kediaman Sakura. Mobil itu berbelok ke kanan, masuk ke dalam sebuah gang.
Mobil hitam mewah itu berhenti di depan sebuah rumah bercat kuning yang berukuran cukup besar, dan tepat di sebelah rumah tersebut, terdapat sebuah toko bunga milik keluarga Yamanaka yang sudah dikelola sejak turun-temurun. Toko itu terlihat sedang ramai dan ada seorang wanita paruh baya sedang melayani para pelanggan yang ingin membeli bunga.
"Terima kasih ya, Sasuke, Sakura," ucap si gadis buntut kuda begitu turun dari mobil.
"Sama-sama, Ino," balas Sakura sambil tersenyum dari balik kaca mobil.
"Sampai ketemu di kampus besok, Sakura!" Ino tersenyum dan mulai bergerak mundur dari arah pintu mobil bagian depan.
Kemudian Ino berbalik. Ia berjalan ke arah pintu gerbangnya dengan perasaan lega. Yah, setidaknya dia sudah mengetahui bagaimana keadaan Sasori, meskipun kabar yang ia dapat bukanlah suatu kabar baik.
Sasuke kembali melajukan porsche hitamnya meninggalkan kediaman Yamanaka yang sedang diserbu para pelanggan itu. Mobil itu meluncur mulus berjalan lurus ke depan.
"Sasuke, katanya ada yang ingin kau bicarakan padaku. Apa itu?" Sakura menagih perkataan Sasuke tadi pagi yang bilang ingin membicarakan suatu hal padanya.
"Kita bicara di tempat lain saja," jawab Sasuke yang kini fokusnya tertuju pada jalanan.
"Memangnya kita mau kemana?" tanya Sakura antusias. Oh, dia sudah membayangkan kalau pemuda itu akan membawanya ke suatu tempat yang romantis. Mungkin saja Sasuke berniat untuk memberikannya sebuah kejutan.
"Nanti kau juga akan tahu," balas Sasuke sambil melirik Sakura dan melempar senyuman tipis kepadanya.
Sasuke kembali terpusat pada jalanan. Tangannya memainkan kemudi dengan lincah. Sementara Sakura dengan setia diam, dan hanya mengamati pergerakan Sasuke dari samping. Mungkin bagi sebagian orang, keadaan hening dalam satu tempat sangat membosankan, tapi tidak bagi Sakura. Dia sangat bahagia, meskipun hanya berada di sisi Sasuke tanpa bicara apa-apa. Dia sudah merasa cukup puas bisa berada dekat degan laki-laki yang dicintainya. Mengamatinya seperti sekarang ini adalah pekerjaan yang menyenangkan baginya. Perlahan mobil tersebut berjalan menjauhi keramaian jalan raya, dan masuk ke sebuah jalan kecil.
"Sasuke, bukannya ini jalan menuju ke tempat sekolah dasar kita dulu?" tanya Sakura begitu menyadari jalan yang sekarang sedang mereka lewati. Meskipun sudah lama berlalu, tapi gadis itu tidak akan pernah lupa jalan yang menuju ke sekolahnya dulu.
"Mau apa kita kemari?" tanyanya lagi penasaran bercampur heran.
Apa sebenarnya yang mau dilakukan Sasuke? Kenapa pemuda itu membawanya ke sekolahan lama mereka? Apa semua ada hubungannya dengan apa yang mau dibicarakan oleh pemuda itu kepadanya? Tapi kenapa harus di sekolah lama mereka?
Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi ruang isi hati Sakura. Pikirannya jadi agak gelisah, karena Sasuke seperti sengaja diam, tidak menjawab pertanyaannya. Pemuda itu hanya sesekali melirik untuk mengamati gerakan Sakura yang kebingungan.
...
Akhirnya mobil porsche itu berhenti pada sebuah tempat di sebelah gedung sekolahan, di mana pada tempat itu terdapat sebuah jembatan kecil yang di bawahnya mengalir arus air sungai kecil dengan lebar kurang dari 1 meter.
"Turunlah," ujar Sasuke langsung turun dari dalam mobil tanpa memberikan penjelasan apa-apa pada Sakura.
Sakura yang kebingungan hanya bisa mengikuti perkataan Sasuke. Gadis itu turun dari mobil dan bergegas menyusul Sasuke yang berjalan menuju ke arah jembatan.
"Sasuke, kenapa dari tadi kau hanya diam saja tak menjawabku?" tanya gadis itu begitu sampai di jembatan menyusul sang pemuda. Kini keduanya tengah berdiri di atas jembatan kecil tersebut.
"Apa kau tahu tempat apa ini?" tanya Sasuke ambigu, dan Sakura jadi semakin tak mengerti.
Dahi gadis itu mengernyit. Sepertinya ia sedang berpikir keras, memikirkan pertanyaan Sasuke yang terlontar beberapa detik lalu. Sakura mencoba mengingat-ingat, apakah ada hal yang penting yang pernah mereka lalui bersama di jembatan itu, atau adakah sebuah kenangan berharga yang sempat terlupa olehnya.
Dipikir berapa kali pun, Sakura tetap tidak ingat apa-apa. Ia yakin kalau tak ada satu kenangan pun yang pernah ia alami bersama Sasuke pada jembatan sekolah itu, apalagi waktu dia masih di sekolah dasar, hubungannya dengan Sasuke tidak terlalu dekat. Mereka hanya saling mengenal, dan menyapa seadanya saja, karena dulu Sakura bisa dikatakan sebagai anak yang pendiam dan pemalu. Sementara Sasuke merupakan sosok yang begitu populer dan memiliki banyak teman. Mereka terlalu berbeda pada saat itu, bagaikan langit dan bumi.
"Maaf, Sasuke..., tapi kau membuatku bingung. Aku sama sekali tidak mengerti..." Sakura menggeleng dan menjawab dengan jujur kalau dia sama sekali tidak paham dengan pertanyaan Sasuke barusan.
"Ini adalah tempat pertama aku melihatmu dulu," jawab pemuda itu sambil menatap lurus ke depan. Pikirannya seolah melompat masuk ke masa lalu, saat di mana ia masih mengenakan seragam sekolah dasar.
Sakura tercengang atas pengakuan Sasuke barusan. Rasa-rasanya dia tidak mengingat itu semua. Dulu dia memang sering sekali berdiam diri pada jembatan kecil ini, hanya saja tempat tersebut biasanya selalu sepi, jarang ada anak-anak yang ke tempat itu. Mereka lebih suka bermain di lapangan atau di taman bermain sekolah.
"Benarkah? Tapi kenapa aku sama sekali tidak ingat, ya?" balas Sakura yang kemudian mensejajarkan posisinya dekat dengan Sasuke. Dia juga berdiri menghadap ke arah depan dan menikmati pemandangan yang belum berubah banyak.
"Hahaha..., jelas saja kau tidak ingat." Pemuda itu tertawa kecil mengingat hal ini hanya dia yang tahu dan dulu dia memang sering sengaja membuntuti Sakura yang pergi ke jembatan belakang sekolah hanya seorang diri.
"Waktu bolos jam olahraga, aku lari kemari dan tanpa sengaja aku melihatmu yang sedang sendirian berdiri di tengah jembatan..." Sasuke bercerita sambil menengadah ke atas langit, mengingat kejadian pada waktu itu. "Saat itu aku ingin sekali mengajakmu bicara, tapi aku takut kau akan lari. Jadinya, aku hanya mengamatimu dari jauh saja," ucapnya kemudian sambil setengah tertawa saat mengenang tingkah mereka waktu kecil. Sakura selalu lari bila didekati anak laki-laki.
Wajah Sakura langsung merah padam setelah mendengar pengakuan dari Sasuke yang diam-diam suka memerhatikan dirinya. Diakuinya dulu dia memang takut pada anak laki-laki, karena ibunya sering mengatakan kalau anak laki-laki itu jahat, dan Sakura tidak boleh terlalu dekat dengan mereka. Makanya setiap melihat atau didekati anak laki-laki, ia lebih memilih menghindar, bersembunyi atau bahkan lari. Di matanya saat itu anak laki-laki seperti beruang besar yang siap menerkamnya kapan saja.
"Kau tahu kenapa aku mengajakmu kemari?" pemuda itu kemudian berdiri menghadap ke samping, begitu juga dengan Sakura. Keduanya kini berdiri saling berhadapan, sepasang manik kelam itu menatap emerald Sakura begitu lekat.
Sakura hanya bisa menggeleng, karena dia memang tidak punya perkiraan atau gambaran apa pun, kenapa Sasuke mengajaknya ke tempat seperti ini sekarang. Tapi apa pun itu, Sakura merasa ada sesuatu hal yang sangat penting yang ingin dikatakan pemuda itu kalau dilihat dari cara pandangnya yang bergitu serius. Tanpa suatu alasan yang jelas jantungnya jadi berdebar kencang.
"Aku ingin tempat ini menjadi saksi kita berdua," ungkap pemuda itu secara tak terduga.
Kemudian tangannya bergerak mengambil sesuatu dari dalam saku bajunya. Sakura menatap lekat-lekat pada sebuah benda yang baru saja dikeluarkan oleh Sasuke dan kini berada dalam genggaman pemuda itu.
"Sakura, menikahlah denganku," tukasnya kemudian sambil membuka kotak kecil berbentuk hati itu di depan Sakura.
"Sasuke..." Sakura menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kedua emerald-nya kini berkaca-kaca saat melihat sepasang cincin ada di hadapannya.
Gadis itu benar-benar merasa sangat terharu dengan apa yang sedang dilakukan Sasuke sekarang ini. Rasanya dia ingin sekali menangis, karena terlalu bahagia. Dia menatap sang pemuda dengan penuh arti tanpa bisa melontarkan sepatah kata pun lagi.
"Aku mau!" tak lama Sakura segera memeluk Sasuke dengan perasaan yang membuncah, "Tentu aku mau sekali, Sasuke-kun...," bisiknya di telinga pemuda itu dengan lembut.
"Terima kasih, Haruno Sakura..." Sasuke juga tidak mau kalah dari Sakura. Kedua tangannya kini membalas pelukan Sakura. Didekapnya erat-erat gadis itu sambil menenggelamkan kepalanya pada bahu sang gadis.
Untuk sesaat keduanya menikmati momen ini. Gemericik air, Semilir angin yang membelai tubuh mereka, bagaikan ikut membelai hati keduanya dan memberikan suatu ketenangan yang luar biasa.
Drrrt... Drrrt...!
Tapi momen indah itu harus terganggu dengan ponsel Sasuke yang tiba-tiba saja bergetar dari balik saku celananya. Cepat-cepat kedua sejoli itu melepaskan pelukan mereka.
Sakura terkekeh pelan saat melihat Sasuke merengut kesal dan menyambar ponsel tak tahu diri yang terus saja berbunyi. Jarang-jarang sekali seorang Sasuke yang memiliki ego tinggi merengut seperti ini. Hal ini tentunya hanya akan menjadi rahasia antara mereka berdua saja.
"Sudah, angkat saja. Siapa tahu penting," ucap Sakura saat melihat wajah enggan pemuda itu untuk mengangkat panggilan dari ponsel tersebut.
"Sigh..." Sasuke hanya menghela napas malas. Tapi pada akhirnya ia menerima panggilan tersebut.
"Hallo, dengan Uchiha Sasuke di sini." Sasuke menjawab panggilan itu dengan malas. Selain itu dia juga tidak tahu siapa orang yang meneleponnya. Dia tidak mengenal nomor dari si pemanggil.
"Sasuke, ini aku Hanabi!" ternyata yang meneleponnya adalah Hanabi. Mungkin gadis itu tahu nomornya dari buku catatan di rumahnya.
"Hanabi? Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Sasuke jadi agak cemas setelah mendengar nada suara Hanabi yang terdengar gelisah. Apa mungkin terjadi sesuatu lagi pada Hinata di sana?
"Hinata..., dia mengurung diri di kamar mandi sejak pagi dan sampai sekarang dia belum mau keluar!" jawab Hanabi yang terdengar begitu kebingungan. "Tolong kemari Sasuke. Aku sudah menghubungi Neji dan Ayah tapi ponsel keduanya tidak aktif. Kumohon tolong Hinata!" gadis itu memang sengaja menghubungi Sasuke untuk meminta bantuannya, karena dia tidak tahu lagi harus meminta bantuan kepada siapa sementara Neji dan ayahnya tak menjawab panggilan darinya.
"Baiklah, aku akan segera ke sana." Sasuke langsung mengiyakan permintaan Hanabi tanpa berpikir lagi.
"Aku menunggumu, Sasuke. Cepat datang kemari," balas Hanabi penuh harap pada pemuda itu.
Setelah Hanabi mematikan kontak, Sasuke segera memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku. Sekarang ia sedang menatap Sakura dengan bingung. Dia sadar kalau kesehatan pasiennya sudah menjadi prioritas utamanya, tapi bagaimana dengan Sakura? Haruskah ia meninggalkan Sakura disaat seperti ini?
"Ada apa, Sasuke?" Sakura menjadi gelisah saat melihat kegundahan Sasuke yang tersirat dari sorot matanya.
"Sakura..., maafkan aku, sepertinya aku harus pergi..." Sebenarnya Sasuke tak sampai hati harus meninggalkan Sakura, tapi dia tak punya pilihan. "Hinata, pasienku. Sepertinya dia mencoba untuk bunuh diri lagi," ungkapnya, menjelaskan keadaan Hinata pada Sakura.
"Bunuh diri? Kau harus segera ke tempatnya, Sasuke!" Sakura shock setelah mendengar pernyataan Sasuke. Pasti keadaan pasien Sasuke yang bernama Hinata itu benar-benar 'parah'.
"Ja-jadi tidak apa-apa kalau aku pergi ke sana?" Sasuke agak tidak percaya Sakura yang barusan bicara. Biasanya gadis itu selalu bersikap keras kepala dan agak manja.
"Tentu saja harus! Aku akan marah kalau kau tidak pergi ke sana!" balas Sakura yang malah mendukung Sasuke untuk pergi menemui Hinata. Hei, ini semua berhubungan dengan nyawa seseorang 'kan?
"Baiklah, aku akan mengantarmu dulu, setelah itu baru aku akan ke rumahnya," ujar Sasuke yang segera menggenggam tangan Sakura, hendak mengantarnya masuk ke mobil.
"Tidak usah." Tak diduga gadis itu melepaskan genggaman Sasuke dari tangannya dengan lembut dan menolak ajakannya.
Sasuke diam sejenak sambil menatap heran ke arah Sakura. Pemuda itu sempat berpikir kalau gadisnya saat ini sedang merajuk marah karena keputusannya. Ditelitinya lebih lekat lagi wajah cantik Sakura, tapi dia tak menemukan ada segurat kemarahan sedikit pun dari wajah cerah itu.
"Kau langsung saja pergi dari sini untuk mempersingkat waktu. Aku bisa pulang sendiri." Menangkap sikap Sasuke yang terheran-heran, Sakura langsung tersenyum dan memberikan penjelasan kenapa dia menolak tawaran Sasuke.
"Kau yakin...?" tanya Sasuke dengan ragu.
"Aku yakin dan jangan mencemaskan aku." Gadis itu mengangguk cepat. "Pergilah, Sasuke," ucapnya lagi sambil mendorong pelan tubuh sang kekasih untuk bergegas.
"Sakura..." Sasuke yang didorong oleh gadis merah muda itu hanya bisa melirik ke belakang. Dalam lubuk hatinya, ia bersyukur karena Sakura sangat pengertian terhadapnya.
"Aku janji setelah ini, aku akan pergi ke rumahmu." Sasuke berbalik ke arah Sakura dan menggenggam lembut kedua tangan milik sang gadis.
"Aku akan menunggumu, Sasuke." Sakura tersenyum simpul dan mengangguk kecil.
Akhirnya Sasuke berlari ke arah mobil yang terparkir tak jauh dari sana. Sakura menatap kepergian sang kekasih sambil melemparkan senyuman lembut, sambil berharap dalam hati kalau semua pekerjaan Sasuke akan baik-baik saja, dan gadis yang bernama Hinata itu tidak terluka.
TBC
