Baekhyun menautkan alisnya. "Mereka apa?"
"Mereka pernah pacaran." Chanyeol mengulangi ucapannya.
Mulut Baekhyun agak menganga. "Tidak mungkin."
"Aku juga tidak percaya awalnya, tapi aku mendapatkan informasi ini langsung dari Jongdae yang sering menjadi tempat sampah Sehun."
Baekhyun terdiam, terlihat sedang berpikir. Chanyeol berniat untuk memberitahukan hal ini padanya supaya dia mau membantunya dalam melaksanakan rencananya.
"Oke, jadi apa rencanamu?"
Chanyeol mengeluarkan seringaian andalannya. "Besok adalah Flower Day'kan?"
.
.
Sekarang Baekhyun mengerti kenapa waktu itu Sehun putus dengan kekasihnya. Jadi mantan kekasihnya itu adalah Xi Luhan? Sampai sekarang Baekhyun masih sulit percaya hal itu. Dan yang lebih mengejutkan adalah ia mendapatkan informasi itu dari Chanyeol. Lumayan juga laki-laki tiang listrik itu –pikir Baekhyun. Dan rencana gila laki-laki tiang listrik itu –harus Baekhyun akui– cukup bagus.
"Sehun-ah!" seru Baekhyun sembari menghampiri laki-laki albino itu. Sehun yang sedang menyimpan bukunya di loker, menoleh ke arah Baekhyun.
"Hey, ada apa?"
"Kau sudah memesan bunga mawar untuk Flower Day besok'kan?"
"Ya. Aku pesan warna merah, kuning, putih, ungu, peach, dan pink."
Baekhyun tersenyum puas.
Rencana gila ini harus berhasil.
.
.
.
###
BREAKING THE ENGAGEMENT
Chapter 9 – The Game Plan
by Pupuputri
Main Casts : Byun Baekhyun & Park Chanyeol
Support Casts : Kim Jongin, Oh Sehun, Xi Luhan, Kim Jongdae, Wu Kris, Bang Minah
Genre : Romance, School Life, Fluff, Drama
Rate : T
Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy
Note: Chapter kali ini ada Kris dikit. Bagi yang penasaran dengan hubungan Kris dan Baekhyun, akan saya ungkapkan di chapter akhir. Dan ChanBaek makin fluffy aja disini. Penasaran? Monggo dibaca~
###
.
.
.
"Batalkan pertunangan kita."
Luhan memutar bola matanya bosan saat Chanyeol kembali mengatakan permintaannya yang pernah ia tolak dulu. Pikirnya laki-laki tinggi itu mengalami amnesia atau apa? Luhan kira Chanyeol ingin bicara dengannya untuk mengatakan bahwa dia sudah menyerah soal Baekhyun, tapi ternyata soal ini lagi padahal sudah jelas-jelas Luhan menolak permintaannya waktu itu.
"Kalau dulu saja aku pernah menolak permintaanmu, apa yang membuatmu berpikir aku akan menyetujuinya sekarang?" tanya Luhan sarkastis.
Chanyeol menatap laki-laki cantik itu dengan senyuman meremehkan, seolah tidak peduli dengan ucapannya barusan. "Aku sudah tahu semuanya."
Alis Luhan bertautan –tidak mengerti. "Tahu apa?"
"Hubunganmu dengan Oh Sehun dulu."
Sontak perkataannya itu membuat mata si laki-laki cantik terbelalak.
"Aku benar-benar tidak menyangka kalian pernah berpacaran. Bagaimana caranya kalian melakukan hubungan backstreet serapi ini? Aku benar-benar kagum." sindir Chanyeol.
Luhan mengertakkan giginya kesal. Well, sepertinya seseorang memberitahu Chanyeol tentang hubungannya dengan Sehun dulu, tapi siapa?
"Aku akan memintanya sekali lagi. Batalkan pertunangan kita." Suara bass Chanyeol terdengar seperti ancaman.
Luhan sebisa mungkin terlihat tenang. Well, dia harus. Karena kalau tidak, bisa dipastikan ia kalah debat dengan laki-laki tinggi itu.
"Tidak mau." Luhan menolak dengan mantap. "Lagipula masa lalu itu hanya masa lalu. Semuanya sudah berubah."
Hening.
Luhan dan Chanyeol hanya saling bertukar pandang. Laki-laki tinggi itu menatap Luhan tajam, begitupun sebaliknya. Chanyeol salah besar jika berpikir Luhan akan menyerah begitu saja hanya karena dia mengetahui masa lalunya.
"Kau juga seharusnya mengerti posisiku saat ini."
Luhan menautkan alisnya kembali. "Apa?"
"Kau pasti tahu bagaimana perasaanku saat ini. Kau juga pernah mengalaminya –mencintai seseorang yang seharusnya tidak kau cintai karena harus menjaga nama baik keluarga," Chanyeol menghela napasnya sesaat, "Coba kau pikir baik-baik. Bukankah kau seharusnya senang? Kau bisa mendapatkan satu kesempatan lagi untuk bisa bersama kembali dengan Oh Sehun."
'Satu kesempatan lagi' katanya? Dia bahkan tidak pernah memiliki perasaan khusus untukku! –batin Luhan geram.
Luhan mengalihkan pandangannya ke arah lain, berusaha menghindari tatapan Chanyeol. "Itu tidak akan mungkin terjadi."
"Kenapa? Sepertinya Oh Sehun juga masih memiliki perasaan yang sama denganmu."
Ditatapnya kembali laki-laki tinggi itu, kali ini dengan raut kesal. "Tahu apa kau soal perasaanku?! Kau bisa dengan mudahnya mengatakan bahwa kau menyukai laki-laki lain di hadapan orang-orang, tapi kau tahu itu tidak akan mengubah apapun. Aku tetap tidak akan membatalkan pertunangan ini!" teriaknya, kemudian berlalu meninggalkan Chanyeol.
Namun bukannya kesal atau apa, Chanyeol malah menyeringai mendengar ucapan Luhan. Dia sudah wanti-wanti dengan hal seperti ini. Karenanya, ia tidak kalut. Dia sudah memiliki rencana. Dan Chanyeol sungguh penasaran bagaimana jadinya jika Luhan bersikukuh mempertahankan pertunangan ini dengan perasaannya yang sepenuhnya belum beranjak dari Oh Sehun.
.
.
Jongin baru saja memarkirkan mobilnya saat ia melihat Sehun dan Jongdae keluar dari mobil sambil membawa kardus-kardus besar di tangan mereka. Karena kelihatannya mereka cukup kerepotan, Jongin putuskan untuk membantu mereka.
"Mau kubantu?" tawar laki-laki berkulit tan itu saat sudah berada di hadapan DaeHun.
"Jongin-ah! Syukurlah ada bala bantuan disini, bawakan yang ini ya!" sahut Jongdae sambil memberikan sebuah kardus padanya.
"Apa isi kardus-kardus ini?"
"Bunga mawar." jawab Jongdae.
Jongin mengernyit. "Bunga mawar? Untuk apa?"
"Setiap tahun St. Phoenix menyelenggarakan Flower Day dimana siswa-siswi maupun para guru dapat memberikan bunga mawar untuk orang yang spesial, kemudian anggota OSIS akan mengantarkan langsung mawar itu pada orang itu. Dengan kata lain, anggota OSIS akan menjadi Pak Pos selama sehari penuh ini." jelas Sehun. "Kau juga bisa memberikan pesan baik lisan maupun tulisan. Oh ya, kau juga bisa meminta untuk tidak memberitahukan nama si pengirim. Tapi si penerima bunga tidak boleh orang luar, harus orang dalam St. Phoenix." tambahnya.
"Dan yang lebih menariknya lagi, setiap warna mawar memiliki arti yang berbeda. Ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh para pasangan maupun orang yang sedang kasmaran. Aish~ sayangnya aku tidak punya pasangan." gerutu Jongdae –sedikit miris. *dijitak Jongdae*
Jongin tersenyum menanggapinya. Well, ini menarik –pikirnya. Sepertinya laki-laki berkulit tan itu sedang merencanakan sesuatu.
.
.
Sehun meregangkan kedua tangannya saat merasakan tubuhnya kaku. Karena hari ini adalah Flower Day, semua anggota OSIS harus kerja ekstra keras untuk mengantarkan mawar-mawar –yang sudah dipesan oleh siswa-siswi maupun para guru tiga hari yang lalu untuk diantarkan ke orang-orang tertentu– seharian ini. Hari sudah semakin sore, tetapi sekolah elit itu belum sepi. Beberapa orang masih berharap seseorang akan mengirimkan setangkai –atau lebih– bunga mawar dari orang yang mereka harapkan. Sehun sudah melihat berbagai ekspresi wajah seharian ini. Ada yang kebingungan karena mendapatkan mawar, ada yang senang, juga adapula yang kecewa karena tidak mendapatkan mawar. Laki-laki berkulit seputih susu itu melirik jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Ini sudah hampir pukul lima sore dan Flower Day akan berakhir tepat pukul lima sore. Tugasnya hampir selesai.
"Masih ada beberapa tangkai lagi, kau tak mau memberikannya pada seseorang?" tanya Baekhyun tiba-tiba.
Sehun menggeleng pelan dengan senyuman tipis di sudut bibirnya. "Memangnya harus kuberikan pada siapa?"
Baekhyun tersenyum penuh makna. "Siapapun yang muncul pertama kali dalam pikiranmu." Sehun tertegun mendengar ucapan si ketua OSIS. Belum sempat Sehun berpikir, tiba-tiba saja Baekhyun memberikan setangkai mawar putih padanya. "Mumpung ada sisa. Berikanlah pada orang itu."
Sehun menatap laki-laki pendek itu bergantian dengan mawar putih di tangannya. Dia tahu Baekhyun tidak mengatakan itu hanya karena ada mawar sisa. Dia benar-benar bermaksud agar Sehun memberikan mawar itu pada orang yang kini sedang ia pikirkan. Sehun memikirkan seseorang. Tapi pertanyaan yang masih Sehun belum ketahui jawabannya adalah haruskah ia berikan mawar ini pada orang itu?
"Aku pulang duluan ya." pamit Baekhyun, membangunkan Sehun dari lamunannya.
"Baekhyun-ah, tunggu sebentar!" tiba-tiba Sehun memanggil laki-laki pendek itu saat ia hendak pulang. Baekhyun berhenti dan berbalik menghadap Sehun yang sedang sibuk mengambil sesuatu dari tas ranselnya. "Ini." Sehun memberikan setangkai mawar merah padanya.
"Untukku?" tanya Baekhyun ragu.
Sehun mengangguk mantap. "Si pengirim bilang judul lagu itu 'Best Luck'."
Baekhyun mengernyit. Judul lagu? Maksudnya? –batin Baekhyun.
"Siapa si pengirim itu?" tanyanya seraya menerima mawar itu.
"Dia tidak memperbolehkanku memberitahukannya padamu."
Anonim? Baekhyun menatap kembali mawar merah itu bingung. Ia penasaran siapa yang mengirimkan mawar itu.
"Arasseo. Terima kasih sudah menyampaikannya."
Baekhyun kembali meninggalkan Sehun dan berjalan cepat menuju parkiran mobil. Laki-laki pendek itu menggerutu tidak jelas di antara langkahnya menuju parkiran. Well, itu karena laki-laki tinggi bersuara bass itu mengiriminya pesan berkali-kali agar Baekhyun cepat pulang. Baekhyun berpikir Chanyeol itu bodoh. Padahal jika dia ingin cepat pulang, dia seharusnya pulang duluan saja dan tidak perlu menunggunya, sungguh.
"Yak, kenapa kau lama sekali?"
Baekhyun menatapnya datar, seolah mengatakan 'harusnya kau bersyukur aku masih mau pulang bersamamu'.
"Kenapa kau tidak pulang duluan saja kalau malas menungguku?" cibir Baekhyun.
"Yak, kau pikir aku setega itu sampai harus membuat kekasihku pulang naik taksi?"
Baekhyun memutar bola matanya bosan. Tanpa membalas kata-katanya kembali, laki-laki pendek itupun langsung masuk ke dalam mobil Chanyeol. Sedangkan Chanyeol tersenyum simpul melihat tingkah kekasih bohongannya. Laki-laki tinggi itupun ikut menyusul Baekhyun dan masuk ke dalam mobil. Saat Chanyeol baru saja duduk di kursinya, matanya menangkap sebuah mawar merah yang menyembul dari tas Baekhyun.
"Dari siapa mawar itu?" tanya Chanyeol penasaran.
Baekhyun menatap mawar itu. "Entahlah. Tadi Sehun memberikannya padaku, dia bi–"
"Oh Sehun memberikannya padamu?" Chanyeol memotongnya cepat. "Jadi, mawar itu dari laki-laki culun itu?" sungutnya.
Baekhyun kembali memutar bola matanya bosan. "Bukan, bodoh. Seseorang menyuruhnya untuk memberikannya padaku."
Chanyeol mengernyit. "Siapa?"
"Tidak tahu. Si pengirim tidak ingin disebutkan namanya."
Chanyeol terdiam mendengar jawaban Baekhyun. Otaknya masih berputar menerka-nerka siapa kira-kira si pengirim mawar merah itu.
"Kau mendapatkannya dari para fans fanatikmu atau tunangan gilamu?"
Pertanyaan Baekhyun itu berhasil mengembalikan Chanyeol dari lamunannya. Chanyeol mengikuti arah tatapan Baekhyun yang berakhir di jok belakang mobilnya yang berisi banyak bunga mawar berbagai warna. Perhatian Chanyeol kini beralih pada Baekhyun yang sedang memasangkan sabuk pengaman. Senyuman jahil terpatri di wajah tampan Chanyeol.
"Kenapa? Apa kau cemburu?" tanyanya seraya menaik-turunkan alisnya.
"Tidak ada yang perlu kucemburui." sahut Baekhyun dengan wajah datar andalannya, membuat Chanyeol mengerucutkan bibirnya. "Kenapa diam saja? Cepat jalan."
Chanyeol mengalihkan pandangannya ke setir di hadapannya. "Tidak lucu sekali kau." Chanyeol mencibir pelan karena perintah Baekhyun, namun masih bisa terdengar oleh laki-laki bermata sipit itu.
"Jelas saja tidak lucu. Aku ini bukan pelawak."
Chanyeol hanya mendengus kesal karena ucapan Baekhyun, sedangkan Baekhyun tersenyum penuh kemenangan karena sudah berhasil membuat Chanyeol kesal.
.
.
"Aah~ segarnya!"
Baekhyun mendudukkan dirinya di kursi meja belajarnya setelah ia selesai mandi. Badannya benar-benar terasa lengket setelah seharian menjadi tukang pos. Laki-laki pendek itu membuka kotak donat yang tadi ia beli sebelum pulang ke rumah tadi. Saat ia hendak mengambil salah satu donat di dalam kotak itu, matanya terpaku pada mawar merah yang tadi diberikan Sehun. Baekhyun simpan kembali donat itu, kemudian mengambil mawar merah itu. Ia menatapnya lekat-lekat.
"Si pengirim bilang judul lagu itu 'Best Luck'."
Judul lagu? Maksudnya apa? Apa aku pernah menanyakan seseorang tentang judul lagu? –batin Baekhyun bingung.
"Itu lagu untukmu."
Tiba-tiba, ia teringat ucapan Jongin. Jangan-jangan mawar itu dari Kim Jongin?
TOK TOK.
Baekhyun sedikit terperanjat saat seseorang mengetuk pintu kamarnya. Dengan cepat, ia simpan kembali mawar itu di tas-nya.
"Masuk." Seorang laki-laki bertelinga peri muncul di balik pintu kamarnya. Itu Park Chanyeol. Dia langsung masuk dan duduk di tepi ranjang Baekhyun. "Ada apa?" tanya Baekhyun.
"Apa aku harus selalu memiliki urusan setiap kali ingin bertemu denganmu?"
Baekhyun mengerutkan dahinya bingung. "Lalu mau apa kau kemari?"
"Aku bosan. Ayo kita ngobrol~" seru Chanyeol seperti anak kecil.
Baekhyun mendengus pelan. "Mana ada orang yang ingin ngobrol dengan mengajaknya seperti itu?" cibirnya.
"Memangnya kenapa? Kau juga sedang tidak ada kerjaan'kan?" Chanyeol membela dirinya.
"Setidaknya aku bisa menemukan sesuatu yang menyenangkan untuk dikerjakan sendiri daripada mengganggu orang lain."
"Heol. Kau ini benar-benar seperti laki-laki emo yang suka sendirian, kau tahu? Aigoo~ aku beri tahu ya, Baekkie. Tidak baik sendirian terus menerus. Orang bisa berpikir bahwa kau itu anak autis."
"Aish~ tidak perlu memanggilku dengan nama kecilku saat kita sedang berdua!" Baekhyun protes.
"Kenapa? Kupikir itu manis~" Chanyeol nyengir kuda. Baekhyun memutar bola matanya. Menggelikan –pikir Baekhyun.
"Terserahlah." Baekhyun memperbaiki posisi duduknya. "Kau sudah bicara dengan Xi Luhan?"
"Ya, dia cukup keras kepala juga. Kau tahu? Awalnya dia terkejut saat aku bilang aku mengetahui hubungannya dengan Oh Sehun dulu, tapi dia tetap bersikukuh untuk mempertahankan pertunangan ini." Chanyeol berdecak kesal.
"Tapi kenapa kau begitu ingin dia yang membatalkan pertunangan kalian? Apa bedanya dengan kau yang melakukannya?" tanya Baekhyun.
"Tentu saja karena posisiku tidak terlalu mendukungku untuk membatalkan pertunangan ini. Jika aku tetap bersikeras membatalkan pertunangan ini secara sepihak dengan alasan aku pacaran denganmu, orangtua kita tentu saja tidak akan mau menerima alasanku. Lain halnya jika Xi Luhan juga ingin membatalkan pertunangan ini. Jika kedua belah pihak sama-sama tidak ingin bertunangan, maka orangtua kita dan orangtuanya tidak akan bisa memaksa kami." jawab Chanyeol panjang lebar.
"Sungguh?" Baekhyun merasa tidak yakin. "Apa benar bisa segampang itu?"
"Yak, kalau Xi Luhan saja tidak mau bertunangan denganku, lalu apa hak orangtua kita memaksanya untuk melakukan pertunangan ini? Kau harus mempelajari cara perjodohan zaman sekarang, Tuan Byun. Kau pikir kenapa para orangtua memaksa anak mereka dahulu agar mau dijodohkan sebelum mereka benar-benar bertunangan?"
Well, Chanyeol ada benarnya juga sih.
Baekhyun mengangguk setuju dengan ucapannya. "Kau pintar juga ya? Aku lumayan kagum padamu."
"Aigoo~ jadi kau baru menyadari keenceran otak Tuan Park, hah? Benar-benar tidak bisa dipercaya."
"Arasseo, arasseo." Baekhyun mengalah kali ini. Ia mengambil sebuah donat dan memasukkannya ke dalam mulutnya. "Kau mau?" Baekhyun menawarkannya donat dalam kotak donat itu.
"Ya."
Mata Baekhyun membulat sempurna saat tiba-tiba Chanyeol menggigit donat yang sedang ia gigit dan secepat kilat kembali ke posisinya dengan senyuman evil-nya.
PLETAK!
"Yak, sakit!" ringisnya.
"Kau mau mati?!" teriak Baekhyun seraya bangkit dari duduknya. Laki-laki pendek itu sudah merasakan panas di seluruh wajahnya.
"Yak, 'kan tadi kau sendiri yang menawariku donat itu!" Chanyeol membela diri, membuat Baekhyun tambah kesal. Baekhyun mencubit paha Chanyeol keras sehingga dia kembali meringis. "Auuw~ yak!"
"Memangnya aku hanya punya satu donat?! Kenapa tidak ambil yang ada di dalam kotak?! Ish!"
"Kenapa? Itu'kan sama saja. Atau kau–aaah~" Chanyeol menyeringai saat menyadari sesuatu. "Kau sedang malu ya?" godanya, membuat Baekhyun semakin melotot karena tingkahnya.
"Aku tidak sedang malu!"
"Kau sedang malu. Pipimu bahkan merona."
"Pipiku tidak merona!"
"Aku yang melihat, bukan kau."
Baekhyun menggigit bibirnya bawahnya. Lidahnya merasa kelu hanya untuk membela dirinya sendiri. Sulit rasanya membela diri saat dirinya sedang gugup. Ups.
"Yak, kau mau kemana?!" Chanyeol berteriak saat Baekhyun melangkah keluar dari kamarnya –masih dengan pipi yang merona.
"Ambil minum!"
Chanyeol tertawa puas setelah menahannya sedari tadi, menertawakan Baekhyun tepatnya. Baekhyun benar-benar lucu jika ia sedang malu begitu –pikir Chanyeol. Sebuah nada dering menyeruak di saat Chanyeol sedang asyik tertawa. Suara itu berasal dari ponsel Baekhyun yang tergeletak di atas meja belajarnya. Tanpa berpikir panjang lagi, Chanyeol meraih ponsel berwarna putih itu dan melihat nama si penelepon. Kim Jongin? Kenapa Baekhyun punya nomor Kim Jongin? Sejak kapan mereka bertukar nomor ponsel? –batin Chanyeol. Sedikit kesal, laki-laki tinggi itu mengangkat telepon itu.
"Aku tidak tahu kalian bertukar nomor ponsel."
"Siapa ini?" tanya Jongin di seberang sana. Sepertinya dia tidak mengenali suara Chanyeol.
"Kekasihnya Park Baekhyun." ucap Chanyeol penuh penekanan.
"Ah~ Park Chanyeol ternyata." Chanyeol memutar bola matanya bosan. "Tapi kenapa kau yang mengangkat panggilanku? Mana Baekhyun?"
"Harusnya aku yang bertanya. Ada perlu apa kau meneleponnya? Dan dari mana kau mendapatkan nomornya? Dia tidak akan memberikannya pada sembarang orang." Nada suara Chanyeol terdengar mencurigainya.
"Sungguh? Tapi aku mendapatkan nomornya dari orangnya langsung."
Alis Chanyeol bertautan sempurna. "Dengan cara apa? Kau memohon-mohon padanya?" tanyanya sarkastis.
"Tidak. Dia sendiri yang memberikannya langsung padaku, tanpa kuminta."
Tautan alis Chanyeol semakin dalam. "Apa?"
"Kalau begitu, aku akan telepon lagi nanti. Annyeong~"
TUT!
"Ap–halo?! Yak! Awas ya kalau sampai berani menelepon lagi!" Chanyeol tetap berteriak di depan ponsel Baekhyun meskipun sambungan telepon sudah terputus –"–
Aish! Berani-beraninya dia memutuskan sambungan telepon lebih dulu! Dia pikir dia siapa? Untuk apa dia menelepon Baekhyun? Dan kenapa Baekhyun memberikan nomornya padanya? Aku saja harus memaksanya untuk mendapatkan nomornya. Aish, aku bisa gila! –Chanyeol menggerutu dalam hatinya. Saking kesalnya ia, Chanyeol refleks melemparkan ponsel Baekhyun ke atas kasur Baekhyun. Di saat yang bersamaan, Baekhyun –yang baru kembali dari dapur– langsung melotot melihat ponselnya dibanting seenaknya.
"Apa yang kau lakukan?" sentak Baekhyun seraya mengambil ponselnya. "Kenapa kau melempar ponselku?" Laki-laki mungil itu segera mengecek beberapa hal di ponselnya. Pikirnya apakah Chanyeol mengambil sesuatu dari ponselnya? Atau mungkin mengirim pesan aneh?
"Yak, Tuan Byun," panggil Chanyeol. Baekhyun meliriknya yang kini menatapnya garang sambil berkacak pinggang. "Kenapa kau berikan nomormu pada Kim Jongin?"
Baekhyun menautkan alisnya bingung. "Dari mana kau tahu hal itu?"
"Tidak penting dari mana aku tahu. Pertanyaannya adalah kenapa kau berikan nomormu begitu saja pada laki-laki itu? Apa kau sadar apa yang telah kau lakukan, hah?" Intonasi Chanyeol sedikit tinggi, menandakan ia kesal pada laki-laki bermata sipit itu.
"Apa maksudmu?" Baekhyun semakin bingung.
Chanyeol menghela napas kasar. "Bukankah sudah kukatakan untuk tidak berdekataan dengannya? Kalau kau ingin membatalkan pertunanganmu dengan Kim Jongin, jangan berhubungan lagi dengannya. Dan itu termasuk tidak memberikan nomormu padanya."
"Apa yang kau bicarakan, hah? Kau seharusnya minta maaf padaku karena sudah menyentuh ponselku seenaknya!" hardik Baekhyun.
"Memangnya kenapa kalau aku menyentuh ponselmu, hah? Kau mau protes?!" Chanyeol balik membentaknya.
"Ya! Itu namanya pelanggaran privasi! Apa kau tidak pernah belajar untuk menghargai privasi orang lain?!"
Chanyeol tidak membalas ucapan Baekhyun, hanya berjalan mendekatinya sambil menatapnya tajam. "Dengar, Tuan Byun. Kau yang memulai semua ini. Kau yang memintaku untuk membantumu membatalkan pertunangan bodoh ini. Karena itu, ikuti aturanku atau perjanjian kita batal."
Baekhyun speechless. Bahkan setelah Chanyeol berjalan keluar dari kamarnya, Baekhyun masih tidak mengerti dengan sikap Chanyeol.
.
.
Baekhyun sedang membaca buku saat ponselnya bergetar –menandakan seseorang meneleponnya. Itu Kim Jongin.
"Halo?" Baekhyun mengangkat panggilan itu.
"Ah, syukurlah kau yang mengangkat teleponnya!" serunya di seberang sana. "Kupikir Park Chanyeol akan mengangkatnya lagi."
Dahi Baekhyun mengerut tak mengerti. "Park Chanyeol?"
"Ya. Tadi aku meneleponmu, tapi Chanyeol yang menjawab panggilanku. Dia tidak bilang?"
Baekhyun menghembuskan napas panjang. Akhirnya ia tahu alasan di balik ucapan dan tindakan Chanyeol tadi.
"Halo? Ketua Park?" panggil Jongin karena Baekhyun tak kunjung bicara, membuat laki-laki mungil itu tersentak.
"Ya. Ada apa kau meneleponku?"
"Kau sudah terima mawar dari Sehun?"
Baekhyun agak terkejut mendengarnya. Kepalanya mengangguk pelan. Well, ternyata tebakannya benar. Mawar itu dari Kim Jongin.
"Itu darimu?" Baekhyun pura-pura tidak tahu.
"Ya. Kau terkejut?"
"Lumayan."
"Sungguh?"
Baekhyun tidak menjawabnya selama beberapa detik. Jongin juga tidak mengatakan apapun lagi. Mereka sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Dan entah kenapa, Baekhyun merasa tidak enak pada laki-laki berkulit tan itu.
"Tapi terima kasih," ucap Baekhyun dengan suara lirih, "Atas lagu dan bunganya."
Jongin tersenyum puas di seberang sana. "Arasseo. Selamat tidur~"
TUT.
Baekhyun menghembuskan napas panjang setelah sambungan telepon ditutup. Matanya beralih menatap pintu kamarnya –memikirkan Chanyeol yang ada di dalam kamarnya tepatnya. Well, sepertinya ia harus minta maaf pada laki-laki tinggi itu. Baekhyun-pun melangkahkan kakinya menuju pintu kamar Chanyeol dan mengetuknya. Tak membutuhkan waktu lama untuk menunggu pintu itu terbuka. Dan saat itu terjadi, terlihatlah Chanyeol di ambang pintu. Tapi raksasa itu tidak membiarkan Baekhyun masuk. Dia hanya berdiri dengan memasukkan kedua tangannya di saku celana dan bersandar di pintu itu. Wajahnya terlihat masih kesal.
"Kau mau apa?" tanya Chanyeol dengan suara sedatar mungkin.
"Aku ingin bicara sebentar."
Chanyeol menghela napas kasar. Chanyeol menyingkirkan tubuhnya dari ambang pintu seraya berkata, "Masuklah."
Baekhyun masuk ke dalam kamar Chanyeol, kemudian duduk kursi meja belajarnya. Sedangkan Chanyeol duduk di pinggiran ranjangnya. Baekhyun tidak memulai percakapan, malah menundukkan kepalanya. Laki-laki pendek itu semakin merasa tidak enak karena Chanyeol terus memperlihatkan raut muka acuh tak acuh.
Baekhyun menggigit bibir bawahnya, kemudian berkata lirih, "Maaf," Chanyeol –yang semula tidak menatap Baekhyun– menolehkan kepalanya ke arah Baekhyun, "Atas sikapku tadi. Kurasa tadi ada sedikit kesalahpahaman. Aku memberinya nomorku bukan karena aku ingin memberinya harapan palsu atau apapun. Aku memberikannya supaya dia tidak terjebak lagi oleh Xi Luhan dan teman-temannya."
Alis Chanyeol terangkat sebelah. "Tidak ada maksud lain'kan?"
"Tentu saja. Aku serius ingin membatalkan pertunangan ini. Karena itu, aku akan ikuti aturan mainmu mulai sekarang."
Wow.
Chanyeol bahkan tidak pernah menyangka Baekhyun akan mengatakannya. Yang Chanyeol tahu, ego seorang Byun Baekhyun terlalu tinggi untuk mengakui sesuatu ataupun mengikuti ucapan orang lain. Tapi tak Chanyeol sangka, keinginan Baekhyun lebih tinggi daripada ego-nya. Laki-laki yang lebih tinggi tersenyum puas mendengarnya.
"Kalau begitu, buatkan aku jajangmyeon sebagai gantinya."
Baekhyun agak terkejut dengan ucapan Chanyeol barusan, tapi sedetik kemudian senyuman terpatri di wajahnya. Senyuman manis yang begitu tulus yang berhasil membuat jantungnya berdegup kencang. Segera Chanyeol alihkan pandangannya dari Baekhyun dengan air muka senetral mungkin.
Wow. Ini aneh.
###
Jongdae baru saja menutup lokernya setelah mengambil beberapa buku di dalamnya. Dan saat ia berbalik, ia menemukan sepupunya berdiri disana.
"Pagi, Jongdae-ya~"
Suara itu berhasil membuat Jongdae menatap Baekhyun dengan alis bertautan. Well, ini aneh. Aneh tepat di nada suaranya. Padahal biasanya sikap sepupunya itu selalu dingin pada semua orang, tapi kenapa tiba-tiba Baekhyun yang dingin menyapanya duluan?
"Pagi," Jongdae tetap membalas sapaannya meski masih kebingungan, "Apa terjadi hal bagus?"
Baekhyun menatap Jongdae dengan senyumannya yang jarang-jarang keluar. Mendadak laki-laki berwajah kotak itu merasakan firasat buruk.
"Aku baru saja membuat cake, kau mau?"
Alis Jongdae terangkat sebelah. "Kenapa? Tidak biasanya."
Baekhyun menggelengkan kepalanya pelan. "Mood-ku sedang bagus saja. Kau mau mencoba cake ini? Kau suka cake'kan?"
Jongdae mengangguk menjawabnya. Wajahnya tiba-tiba menjadi cerah. "Kau benar-benar memberikannya padaku?"
Baekhyun mengangguk yakin. Dan tanpa rasa curiga sedikitpun, Jongdae mengambil bingkisan cake itu dengan semangat. Namun ia tidak tahu bahwa sepupunya itu tengah tersenyum penuh kemenangan saat rencana pertamanya –menyogok Jongdae dengan cake– berhasil. Saatnya melaksanakan rencana kedua –batinnya.
"Jongdae-ya?" Jongdae melirik Baekhyun tanpa menyahut panggilannya. "Apa benar Sehun pernah pacaran dengan Xi Luhan?"
Dan itu dia.
Firasat buruk Jongdae terjadi. Lihat saja matanya yang sudah terbelalak. Setelahnya, Jongdae menatap Baekhyun dengan alis bertautan seolah menanyakan 'dari mana kau tahu hal itu?'.
"Chanyeol yang memberitahukannya." Baekhyun menjawab ekspresi Jongdae.
"Aish~ dasar tiang listrik! Padahal sudah kubilang untuk tidak memberitahukannya pada siapapun!" gerutu Jongdae.
Baekhyun sebisa mungkin menahan tawanya melihat respon sepupunya itu. "Tidak perlu khawatir, hanya aku yang tahu hal ini." Baekhyun berusaha menenangkannya sebelum Jongdae berprasangka buruk pada Chanyeol. "Aku ingin minta bantuanmu."
.
.
Jongdae menatap Baekhyun lekat. "Jadi, apa yang ingin kau ketahui?"
Mereka sedang berada di atap sekolah, dimana tidak akan ada yang mendengarkan pembicaraan mereka.
"Semuanya. Tentang bagaimana mereka bisa pacaran sampai kenapa mereka putus."
Jongdae menghela napas panjang. Well, ia sudah menduga pertanyaan ini. Dan ia tahu Baekhyun akan terus memaksanya sampai ia membuka mulutnya meskipun ia menolaknya sekarang.
"Arasseo. Aku akan menceritakan hal yang kutahu saja, oke?" Baekhyun mengangguk setuju. "Berdasarkan curhatan Sehun, dulunya Xi Luhan itu bukanlah laki-laki arogan seperti yang kita kenal sekarang."
Daebak. Baru cerita awal saja mata Baekhyun sudah terbelalak begini.
"Sungguh?" tanyanya tak percaya.
"Aku sih percaya saja karena mereka itu selalu satu sekolah sejak SD. Kau tahu'kan Sehun itu berasal dari keluarga yang sederhana?" Baekhyun mengangguk menjawabnya. "Karena itu, sejak kecil hidupnya sudah bergantung pada beasiswa. Sejak SD sampai sekarang, Sehun selalu mendapatkan beasiswa dari orang yang sama, yakni donator terbesar di sekolah kita –keluarga Xi."
"Lalu bagaimana bisa mereka pacaran? Apa dulunya mereka sangat dekat?" Baekhyun menginterupsi.
"Cukup dekat. Dan percaya atau tidak, cerita awal mereka berpacaran adalah karena sebuah ciuman."
Baekhyun menautkan alisnya bingung. "Ciuman?"
Jongdae mengangguk yakin. "Ya. Ceritanya cukup konyol menurutku. Jadi, Sehun yang dulunya terlalu polos ini pernah menonton film yang ada adegan ciumannya bersama Xi Luhan dan teman-temannya yang lain. Dia menanyakan bagaimana rasanya ciuman pada Xi Luhan dan karena Xi Luhan tidak tahu harus jawab apa, akhirnya mereka bereksperimen ria dengan ciuman bersama."
Baekhyun jaw-drop.
"Apa? Sungguh?" pekik laki-laki bermata sipit itu tak percaya.
"Konyol, bukan? Mungkin sejak saat itu, mereka memiliki perasaan satu sama lain."
Baekhyun speechless.
Dia beranggapan ini adalah hal teraneh dan terhebat yang pernah ia dengar seumur hidupnya. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?
"Lalu selama hampir setahun mereka pacaran –secara backstreet tentu saja. Sampai suatu hari, orangtua Xi Luhan mengetahui hubungan mereka dan menyuruh Luhan untuk memutuskannya. Tentu saja Xi Luhan menolaknya, tapi orangtuanya juga tidak kehabisan ide. Mereka mengancam akan mencabut beasiswa Sehun dan akan membuat hidup Sehun lebih menderita jika dia tidak mau memutuskan hubungannya dengan Sehun dan bertunangan dengan Park Chanyeol." tutur Jongdae.
"Lalu?" Baekhyun semakin penasaran.
"Xi Luhan sudah berusaha membujuk orangtuanya, tapi tetap gagal. Kemudian tanpa Xi Luhan ketahui, orang suruhan keluarganya meminta Sehun untuk memutuskan Luhan duluan. Tapi karena waktu itu laki-laki Cina itu bersikukuh ingin mempertahankan hubungan mereka, Sehun melakukan hal yang menurutku cukup kejam pada Xi Luhan."
"Apa itu?"
"Sehun bilang bahwa dia tidak pernah benar-benar menyukai Luhan. Dia juga terang-terangan mengatakan bahwa dia tidak memiliki perasaan lebih dari sekedar teman."
Baekhyun lebih terkejut lagi kali ini. Dia tidak menyangka Oh Sehun bisa bersikap kejam seperti itu.
"Sejak saat itu, mereka bersikap seperti orang asing –berpura-pura tidak saling mengenal. Tapi sepertinya mereka masih menyimpan perasaan satu sama lain dan bodohnya, mereka sama-sama menyangkalnya. Ck, drama." Jongdae geleng-geleng kepala mengingat sikap bodoh Sehun dan Luhan.
"Bahkan mendengar mereka pernah pacaran saja aku masih tidak bisa percaya." gumam Baekhyun.
"Right? Cinta itu memang aneh. Lihat saja sekarang, kau dan Chanyeol yang sering adu mulut saja bisa pacaran."
Baekhyun mendelik ke arah sepupunya. "Kami ini pura-pura pacaran saja, Kim Jongdae."
Jongdae hanya mengangkat bahunya tidak peduli. Sedangkan Baekhyun menerawang ke depan. Well, jika memang benar Oh Sehun dan Xi Luhan masih memiliki perasaan khusus satu sama lain, dia ingin membuktikannya. Dan dia ingin lihat siapa yang paling lama bertahan menjalani sandiwara ini. Ia dan Park Chanyeol atau Oh Sehun dan Xi Luhan?
.
.
Luhan masih bisa merasakannya. Pandangan yang seolah menelanjanginya itu mulai membuatnya risih. Laki-laki berdarah Cina itu menghembuskan napas kasar, kemudian menutup buku yang sedari tadi ia baca. Pandangannya ia alihkan pada laki-laki bermata sipit yang sedari tadi menatapnya lekat –Baekhyun.
"Apa? Kau ingin mengatakan sesuatu?"
Baekhyun tidak menjawabnya, hanya menatap Luhan sembari menopang dagunya dengan tangan kanannya. Luhan memutar bola matanya bosan, kemudian beralih ke kegiatannya semula yang tadi sempat terhenti.
"Kau pernah pacaran sebelum bertunangan dengan Chanyeol?"
Luhan sempat kaget dengan pertanyaan Baekhyun, tapi ia berusaha mempertahankan ekspresi aku-tidak-tertarik-dengan-pertanyaannya.
"Bukan urusanmu." jawab Luhan ketus.
"Yah, memang bukan urusanku sih." Mata Baekhyun beralih pada laki-laki albino di barisan belakang. "Sehun-ah, mana laporan yang kemarin kuminta?"
Luhan benar-benar merasa bodoh. Padahal laki-laki bermata sipit itu hanya memanggil nama Sehun, tapi kenapa hanya mendengar namanya disebut saja, jantung Luhan sudah berdebar keras begini?
"Ya, sebentar."
Luhan melihat melalui ekor matanya saat ia mendengar suara laki-laki albino itu. Terlihat Sehun berjalan ke arah Baekhyun dengan sebuah dokumen di tangannya. Dan yang Luhan kesalkan adalah kenapa Baekhyun malah duduk di depannya? Itu berarti Sehun akan berjalan ke arahnya juga –dan mungkin sempat melihatnya. Luhan bingung. Apakah dia harus pergi atau apa? Semakin dekat langkah Sehun, semakin cepat pula jantung Luhan berdetak. Oke, Luhan mulai panik. Luhan bergerak gelisah dalam duduknya seraya menggigit bibir bawahnya. Tanpa sadar, laki-laki Cina itu malah menempatkan ekor matanya ke arah samping –seperti menunggu kedatangan Sehun. Dan Baekhyun menyadarinya. Laki-laki pendek itu tersenyum dalam hati melihat reaksi Luhan.
Oh, ini baru awal dari rencananya.
"Ini."
Dengan cepat, Luhan alihkan kembali pandangannya pada buku di yang ada di tangannya. Sebisa mungkin ia meresap setiap kata yang ia baca di bukunya meski sulit. Entah kenapa, pikirannya terus tertuju pada laki-laki yang kini berdiri di antara dia dan Baekhyun.
"Terima kasih. Oh ya, besok kau ada waktu?" Baekhyun bertanya setelah menerima dokumen dari Sehun.
"Ya. Kenapa?"
"Bisa kau temani aku ke toko hadiah? Aku ingin memberikan hadiah untuk Minah."
Alis Luhan mengerut detik itu juga mendengar pertanyaan laki-laki pendek yang duduk di hadapannya itu.
"Tentu. Jam berapa?"
Dan Luhan lebih kaget lagi dengan jawaban Sehun. Apa-apaan dengan jawabannya itu? Kenapa si pendek ini memintanya menemaninya saat dia bisa meminta Chanyeol atau Jongdae? –batin Luhan.
"Nanti kukirim pesan. Terima kasih." ucap Baekhyun. Sehun tersenyum menjawabnya dan kembali ke bangkunya.
Setelah memastikan Sehun pergi, barulah Luhan menutup bukunya, kemudian menatap tajam Baekhyun. "Kenapa tidak kau ajak saja Chanyeol?"
"Hah?" Baekhyun mengalihkan perhatiannya pada Luhan.
"Kenapa harus repot-repot meminta Oh Sehun menemanimu ke toko hadiah sementara ada Chanyeol yang serumah denganmu?" Luhan mengulang pertanyaannya dengan intonasi tidak suka.
"Kenapa kau tiba-tiba peduli dengan urusanku?"
Luhan mendengus pelan. "Siapa yang kau sebut peduli? Yak, jangan bilang kau mau berselingkuh dari Chanyeol? Heol, kau benar-benar sesuatu ya?" sindir Luhan.
"Siapa yang kau sebut berselingkuh? Aku hanya meminta Sehun menemaniku ke toko hadiah karena Chanyeol ada urusan dengan Abeoji-nya."
"Benarkah? Lalu kenapa tidak meminta pada sepupu berisikmu itu, hah? Dia pasti available." Luhan tak mau kalah.
Baekhyun menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa kau begitu risih dengan janjiku dengan Oh Sehun? Kau tidak suka?"
"A–apa?"
"Daripada mengurusi urusanku, lebih baik kau urusi saja urusanmu. Kurang kerjaan sekali." ucap Baekhyun seraya pergi dari hadapan Luhan.
"Yak! Siapa yang kau sebut kurang kerjaan, hah?!"
Baekhyun tidak mengindahkannya dan terus berjalan keluar kelas. Bibirnya menyunggingkan senyuman kemenangan mendengar protes dari mulut Luhan. Bisa Baekhyun bayangkan raut kesal Luhan saat ini. Well, dia benar-benar tidak menyangka laki-laki Cina itu akan mudah terpancing dengan hal sepele seperti ini. Tapi itu bagus. Dengan begini, rencananya tersusun dengan sempurna. Tepat saat Baekhyun bertemu Chanyeol di lorong, langkahnya langsung terhenti. Chanyeol menatapnya dengan penasaran, seolah mengatakan 'bagaimana rencana kita?'
Baekhyun tersenyum penuh arti. "Piece of cake."
Chanyeol mengeluarkan seringaian setannya. "Good. Teruskan skenariomu, kita hanya tinggal menunggu responnya saja."
Baekhyun tersenyum hanya dengan membayangkan ekspresi tidak sukanya Xi Luhan saat Oh Sehun didekati olehnya. Baekhyun tidak menyangka mengerjai laki-laki Cina itu akan sebegitu menyenangkannya. Baekhyun berpikir akan memberi Chanyeol hadiah karena sudah mengizinkannya bersenang-senang dalam rencana ini.
"Yak, ada apa dengan senyummu itu? Kau senang karena mau berkencan dengan si culun itu?" tanya Chanyeol sarkastis.
Baekhyun memutar bola matanya malas. "Siapa yang mau berkencan, hah? Daripada itu, lebih baik kau pastikan laki-laki gila itu mengikuti kami besok, arasseo?"
"Ck, arasseo. Tapi awas ya kalau kalian malah keasyikan kencan! Kau akan mendapatkan hukuman penalti dariku."
Baekhyun menaikkan sebelah alisnya mendengar ancaman Chanyeol. Hukuman penalti, katanya? Dia pikir Baekhyun sedang main sepak bola, apa? Ah, sudahlah. Baekhyun sendiri tidak mau repot-repot memikirkannya.
"Terserah. Aku lapar, ayo kita ke kantin."
###
Baekhyun mengedarkan pandangannya saat ia baru turun dari mobil untuk mencari Sehun. Setelah berkirim pesan tadi malam, mereka putuskan untuk langsung bertemu di tempat saja. Mereka janjian untuk bertemu di toko hadiah jam sembilan pagi. Sebenarnya alasan untuk mencari kado ini hanya alasan saja agar Luhan masuk jebakan ChanBaek. Sehun yang dikenal tidak dekat dengan laki-laki manapun tiba-tiba diajak jalan oleh seseorang, terlebih lagi orang itu adalah saingannya sendiri. Jika memang benar Luhan masih menyimpan rasa untuk Sehun, dia pasti akan mengikuti acara HunBaek. Tentu saja itu tugas Chanyeol untuk memastikan laki-laki Cina itu benar-benar mengikutinya dan Sehun.
"Baekhyun-ah!"
Seruan seorang laki-laki berkulit seputih susu mengalihkan perhatian Baekhyun yang sedari tadi celingkuan. Baekhyun menoleh ke arah pemilik suara itu dan menemukan seorang laki-laki tinggi –meski tidak setinggi Chanyeol– berdiri di depan toko hadiah sambil melambaikan tangannya pada laki-laki mungil itu. Alis Baekhyun bertautan melihat laki-laki itu. Baekhyun memicingkan matanya untuk mempertajam penglihatannya. Ia melakukan itu bukan karena memiliki masalah mata, tapi karena laki-laki yang kini melambaikan tangannya padanya itu tidak memakai kacamata. Apa benar itu Oh Sehun? –pikirnya. Baekhyun memicingkan kembali matanya untuk melihat laki-laki itu lebih jelas. Dilihat dari warna kulit dan gaya rambutnya, itu memang Oh Sehun. Tapi kenapa tidak ada kacamata belalang yang biasa dia kenakan di hidungnya?
Merasa tidak direspon oleh Baekhyun, laki-laki albino itu berlari kecil ke arahnya. Begitu jaraknya dengan Baekhyun semakin memendek, barulah Baekhyun yakin bahwa laki-laki itu memang benar Oh Sehun dan dia tidak mengenakan kacamata belalangnya. Senyuman milik laki-laki albino itu terpatri di wajahnya saat dia sudah berada di hadapan Baekhyun.
Wow. Dia terlihat berbeda tanpa kacamata –batin Baekhyun.
"Kenapa? Ada yang salah?" tanya Sehun bingung karena sedari tadi Baekhyun malah bengong melihatnya.
"Kemana kacamata belalangmu?" Baekhyun balik bertanya.
"Ah, itu..Eomma-ku memintaku untuk melepaskannya dan menggantinya dengan kontak lensa."
Baekhyun mengernyit. "Eomma-mu?"
"Ya. Dia sangat bersemangat saat mengetahui aku akan pergi denganmu dan langsung membelikanku kontak lensa." terangnya.
Baekhyun cukup terkejut mendengar ucapannya barusan. Tak ia sangka yang melakukannya adalah Nyonya Oh. "Ahaha, sungguh?"
"Eh? Kau tertawa?"
"Apa?"
Sehun menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. "Tidak ada. Kalau begitu, kita pergi sekarang?"
Baekhyun mengangguk semangat menyahutnya.
Sementara di sudut lain –tak jauh dari keberadaan Baekhyun dan Sehun, seorang laki-laki bertelinga peri sedang memperhatikan mereka dengan tajam melalui teropong pengintainya. Mulutnya daritadi menggumam tidak jelas –atau mungkin merutuk– dua laki-laki yang menurut matanya terlihat sedang berkencan itu.
"Apa-apaan itu? Si culun itu sengaja mengubah penampilannya demi kencan dengan Baekhyun? Lalu ada apa dengan respon si pendek? Dia tertawa hanya karena si culun itu terlihat berbeda dari biasanya? Cih! Benar-benar sulit dipercaya!" Chanyeol mendengus keras. "Kau tunggu saja hukuman penalti dariku, Tuan Byun."
Seperti itulah Park Chanyeol merutuk. Astaga –"–
Karena kesal, Chanyeol putuskan untuk berhenti memperhatikan HunBaek dan beralih menatap ponselnya. Ia hampir saja lupa tugasnya yang harus melacak keberadaan Xi Luhan. Chanyeol sudah memasangkan aplikasi di ponsel Luhan –tanpa sepengetahuannya– supaya laki-laki jangkung itu bisa mengetahui keberadaannya melalui ponselnya. Namun di saat yang bersamaan, mata Chanyeol menangkap sesosok laki-laki dengan penampilan aneh. Dia mengenakan kacamata dan masker sehingga hampir seluruh wajahnya tertutupi dan tangan laki-laki itu memegang sebuah teropong berwarna hitam. Laki-laki itu terus memperhatikan sekelilingnya seolah takut keberadaannya diketahui orang lain. Dan Chanyeol tahu betul siapa laki-laki itu.
Chanyeol menyeringai. "Akhirnya keluar juga."
.
.
Baekhyun baru saja akan membayar mug couple yang tadi ia pilih saat sebuah pesan masuk ke ponselnya. Itu dari Chanyeol.
From: Tiang Listrik Idiot
Ulur waktu. Target semakin terlihat panas.
Baekhyun memasukkan kembali ponselnya di sakunya dan beralih ke Sehun yang masih asyik memperhatikan barang-barang di toko ini.
"Kau ada acara lain setelah ini?" tanya Baekhyun mengalihkan perhatiannya.
"Tidak. Aku tidak ada acara apapun hari ini."
Baekhyun tersenyum mendengar jawabannya. "Temani aku makan ya? Ada café bagus dekat sini. Aku yang traktir."
Sementara Luhan yang sedang asyik mengintai HunBaek di luar toko, hanya bisa menggerutu tidak jelas. Ia benar-benar dongkol melihat perilaku manis Sehun pada Baekhyun dan Baekhyun yang sok manis di depan Sehun. Menurutnya itu sangat memuakkan. Laki-laki berdarah Cina itu baru saja menghela napasnya saat melihat Sehun dan Baekhyun berjalan menuju mesin kasir. Ia pikir acara –kecan– mereka sudah selesai dan ia bisa langsung pulang. Tapi ternyata ia salah besar. Mata rusa yang cantik itu membulat sempurna saat HunBaek berjalan bersama menuju suatu tempat setelah keluar dari toko hadiah itu. Jangan bilang si sipit itu benar-benar mengajak Sehun kencan? –batinnya.
.
.
Sehun dan Baekhyun sedang duduk di sebuah café tak jauh dari toko hadiah tadi. Sehun memutuskan untuk menemani Baekhyun karena toh ia juga tidak ada kerjaan di rumah.
"Kapan kau akan memberikan mug itu?" tanya Sehun setelah mereka selesai memesan.
"Mungkin besok." Sehun mengangguk mengerti. "Aku tadi sempat pangling melihatmu tanpa kacamata."
"Hm? Sungguh?"
Baekhyun mengangguk. "Kau lebih cocok tanpa kacamata."
Sehun hanya bisa tersenyum kikuk karena ucapannya itu. "Begitukah?"
"Mm-hm. Kupikir akan ada banyak laki-laki dan perempuan yang menyukai penampilanmu yang seperti ini."
Di saat HunBaek sedang asyik mengobrol, Luhan –yang mengikuti langkah mereka– mengertakkan giginya kesal. Hatinya semakin dongkol sekarang, terlebih saat Sehun tersenyum kikuk barusan. Dan itu benar-benar menyebalkan. Hanya karena penampilan Sehun sedikit berubah, laki-laki bermata sipit itu jadi kegenitan –pikir Luhan. Ia penasaran kenapa Sehun tiba-tiba melepaskan kacamatanya? Apa dia sengaja berdandan untuk hari ini?
Jujur, ada rasa tidak suka saat mereka bersama. Mereka melakukan hal yang dulu pernah Luhan lakukan bersama Sehun. Jalan bersama, tertawa bersama, dan berbagi cerita. Laki-laki berdarah Cina itu tidak pernah membayangkan Sehun akan melakukannya dengan laki-laki lain. Well, Luhan tahu bahwa Sehun dan Baekhyun tidak memiliki hubungan apapun, tapi tetap saja ini membuat dadanya sakit. Yang bisa Luhan lakukan hanyalah mengertakkan giginya dan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.
"Sebenarnya apa yang sedang kulakukan? Mengikuti kencan mereka? Benar-benar menggelikan." ucap Luhan lirih –mengejek dirinya sendiri.
Laki-laki bermata rusa itu berpikir ia harus menghentikan semua ini. Lagipula Sehun-lah yang mencampakkannya duluan, jadi untuk apa ia peduli padanya? Justru ia harus membiarkan Sehun melanjutkan hidupnya, begitupun dengan dirinya. Tatapan Luhan kini ditancapkan pada Baekhyun. Tatapan tajam itu menunjukkan rasa benci yang kentara. Dan detik itu pula, Luhan bertekad untuk tidak mau kalah dengan jalang seperti Park Baekhyun. Dia harus merebut kembali tunangannya. Ya, itulah yang harus ia lakukan. Merebut kembali Chanyeol dan melanjutkan hidupnya.
.
.
Sebuah pesan masuk ke ponsel Baekhyun saat ia sedang makan. Itu dari Chanyeol.
From: Tiang Listrik Idiot
Target sudah pergi. Setelah makan, cepat pulang.
Baekhyun mengernyit. Ia bertanya-tanya dalam hati, kenapa Luhan sudah tidak mengikuti mereka lagi? Well, tapi tak apa. Dengan begitu, ia juga bisa cepat pulang ke rumah.
.
.
Baekhyun masuk ke dalam rumahnya setelah berpisah dengan Sehun di gerbang rumahnya. Laki-laki pendek itu benar-benar langsung pulang setelah mereka selesai makan. Namun tanpa ia sadari, seorang laki-laki berperawakan tinggi menghalangi jalannya.
"Kau diantar oleh Oh Sehun?"
"Astaga, Chanyeol!" Baekhyun menatap kesal laki-laki bersuara bass itu. "Yak, kau muncul dari mana sih? Seperti setan saja."
"Yak, mana ada setan setampan diriku?" Baekhyun mendengus mendengar ucapan narsis Chanyeol. "Kau belum jawab pertanyaanku. Tadi kau diantar oleh si culun itu kesini?"
Baekhyun memutar bola matanya bosan. "Ya. Dan kau tidak perlu panggil dia si culun lagi. Dia tidak lagi berpenampilan seperti kutu buku."
"Lalu kenapa? Dia tetap culun di mataku. Apa kau terkesima melihat penampilan barunya tadi, hah?"
Baekhyun menatap bingung laki-laki tinggi itu. Kenapa nada bicaranya aneh sekali?
"Biasa saja, hanya sedikit pangling." jawab Baekhyun seraya naik ke lantai dua.
"Oh ya? Tapi tadi kau tertawa genit padanya."
Baekhyun mengernyitkan dahinya bingung, kemudian berbalik menghadap Chanyeol. "Apa maksudmu?"
"Heol. Kau pura-pura tidak tahu rupanya. Bukankah sudah kubilang akan memberikan hukuman penalti kalau kau keasyikan kencan dengannya?"
"Siapa yang keasyikan kencan? Berhentilah bicara yang aneh-aneh, itu membuatmu semakin aneh." cibir Baekhyun seraya pergi meninggalkannya. Namun tiba-tiba Chanyeol berlari mendahuluinya dan menghalangi jalannya lagi. Baekhyun menatap tajam Chanyeol. "Minggir."
"Tidak mau."
Baekhyun mendengus pelan. "Kubilang minggir, Park Chanyeol."
"Kubilang tidak mau, Byun Baekhyun."
Baekhyun menghembuskan napas kasar melihat sikap bocahnya ini. "Arasseo. Kau mau apa?"
Tiba-tiba, laki-laki tinggi itu mengeluarkan seringaian setannya dan berjalan mendekati Baekhyun. "Hukuman penalti."
"Kau mau apa?" tanya Baekhyun curiga seraya memundurkan langkahnya, tapi yang ada Chanyeol semakin mendekatinya.
"Tutup matamu."
Alis Baekhyun bertautan sempurna. "Apa?"
"Kubilang tutup matamu."
Baekhyun mendengus lagi –kali ini lebih keras, tapi ia tetap menuruti keinginan Chanyeol. Kelihatan sekali wajah Baekhyun yang jengkel sekaligus penuh kecurigaan itu. Chanyeol berusaha menahan tawanya karena melihat wajah Baekhyun yang menahan rasa kesal. Perlahan ia dekati wajah cantik Baekhyun yang matanya masih tertutup. Senyuman –atau seringaian– itu terpatri jelas di wajah tampan Chanyeol. Ia memikirkan sesuatu yang bisa membuat laki-laki pendek di hadapannya kesal. Jadi, Chanyeol putuskan untuk melakukannya dengan cepat sebelum Baekhyun membunuhnya.
CUP~
Baekhyun membuka matanya refleks dan melotot ke arah Chanyeol setelah pipinya dikecup *Author ngiler*. Sedangkan laki-laki tinggi itu menyeringai melihat ekspresi malu bercampur jengkel Baekhyun. Itu benar-benar terlihat manis di mata Chanyeol.
"K–kau–"
"Kenapa? Kau kecewa karena aku mencium pipi dan bukannya bibirmu? Mau kuulangi hukuman penaltinya?" goda Chanyeol, membuat mata sipit Baekhyun melotot. Dan Chanyeol dengan nistanya, menertawakan ekspresi Baekhyun saat ini. Oke, sepertinya ini saatnya untuk kabur.
"Yak! Park Chanyeol, kau benar-benar ingin mati ya?!" teriak Baekhyun seraya mengejarnya.
###
Baekhyun menutup lokernya kasar setelah mengambil beberapa buku di dalamnya. Laki-laki mungil itu sepertinya masih kesal dengan kejadian kemarin. Ia tak henti-hentinya mengutuk Chanyeol karena telah berani menodai pipinya. Yang lebih menyebalkannya lagi, Chanyeol pergi ke sekolah duluan untuk menghindari amukan Bekhyun –yang semenjak kemarin ingin memukul kepalanya.
"Terjadi hal buruk, ketua Park?"
Baekhyun menoleh pada Jongin yang juga sedang mengambil bukunya di lokernya. Laki-laki pendek itu menghembuskan napasnya kasar, kemudian memusatkan perhatiannya kembali ke buku-buku yang sedari tadi ia pegang. "Tidak."
Di saat Baekhyun sedang sibuk dengan buku-buku itu, sepasang tangan mengambil buku-buku itu dari tangannya. Ia melirik Jongin yang tersenyum padanya saat ini.
"Kubantu ya?" tawarnya meski pada akhirnya dia tidak menunggu jawaban Baekhyun dan berjalan ke kelas duluan. Tanpa menunggu apapun lagi, Baekhyun-pun segera berjalan menyusulnya.
"Aku bisa membawanya sendiri, kemarikan."
Jongin menggelengkan kepalanya. "Tidak apa, aku akan bawakan untukmu."
Baekhyun hanya bisa menghembuskan napas panjang menanggapinya. Ia berpikir kenapa Jongin begitu baik padanya. Itu hanya akan menumbuhkan rasa simpati karena telah membohongi Jongin.
"Kalau begitu, tolong simpan buku-buku itu di mejanya ya! Aku ada urusan dengan ketua Park!"
Baekhyun belum sempat memproses apa yang sedang terjadi saat tiba-tiba saja Chanyeol muncul –entah dari mana– dan merangkul bahunya. Laki-laki tinggi itu menarik bahu yang lebih pendek entah kemana.
"Yak! Lepaskan aku!" Baekhyun masih meronta-ronta karena rangkulan Chanyeol yang tidak mau lepas itu. Laki-laki tinggi itu malah mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya seperti orang bodoh –menurut Baekhyun. Kesal karena diabaikan, Baekhyun dengan tidak tangung-tanggungnya menendang lutut Chanyeol sampai menghasilkan suara yang cukup keras.
"YAK! Ini sakit, tahu?!" sungut Chanyeol seraya mengelus lututnya yang berdenyut.
"Rasakan!" Baekhyun hendak meninggalkan Chanyeol, namun dengan cepat ia tahan. Baekhyun menatap garang Chanyeol. "Apa?!"
Chanyeol berdecak kesal. "Begini caramu berterima kasih padaku setelah aku berhasil menarikmu dari Kim Jongin?!"
"Aku juga tidak pernah memintanya!"
Chanyeol kembali menahan lengan Baekhyun yang hendak pergi. "Yak, aku belum selesai!"
"Kau mau a–"
"Lepaskan dia, Park Chanyeol!"
Suara laki-laki yang berdiri tak jauh dari tempat mereka berhasil membuat mereka menoleh ke arahnya. Itu adalah Kris. Keheningan tercipta sesaat saat mereka bertiga beradu pandang. Ada pandangan berbeda yang keluar dari ChanBaek. Chanyeol menatapnya dengan alis bertautan karena penasaran sejak kapan Kris berada disana, sedang Baekhyun menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Kris berjalan mendekati Chanyeol dengan tatapan tajam. "Kau tidak dengar? Kau menyakitinya. Lepaskan dia." ucapnya dengan nada mengancam.
Chanyeol segera tersadar dari lamunannya dan segera merangkul bahu Baekhyun. "Hyung bicara apa? Aku tidak menyakitinya, iya'kan, Baek?"
Baekhyun tahu Chanyeol sedang memintanya untuk berakting. Namun bukannya menjawab, laki-laki mungil itu malah menatap tajam Kris. Kris-pun tak jauh berbeda. Ia menatap tajam ke arah Baekhyun, menuntut jawaban darinya. Chanyeol yang merasakan atmosfer aneh di antara kedua laki-laki yang berbeda tinggi itu, hanya bisa mengerutkan dahinya.
"Apa dia menyakitimu, Baek?" Kris bertanya.
Chanyeol merasakan tangan Baekhyun yang meremas seragamnya dari belakang, membuatnya menatapnya bingung.
"Tidak," jawab Baekhyun seraya memalingkan wajahnya, "Ayo."
Chanyeol hanya pasrah saat Baekhyun menariknya paksa dari tempat itu, meninggalkan Kris disana sendiri. Sebenarnya Chanyeol masih bingung dengan situasi ini, tapi ia lebih mementingkan akting mereka saat ini. Jadi, ia memutuskan untuk mengikuti langkah Baekhyun. Dan setelah berada di tempat yang sepi, Baekhyun segera melepaskan rangkulannya.
"Ada apa?" tanya Chanyeol bingung.
"Aku ke kelas duluan." pamitnya, namun Chanyeol menahan lengannya cepat. Baekhyun sekali lagi menatapnya tajam. "Apa lagi?"
"Kau dekat dengan Kris Hyung?" Chanyeol tak bisa menahan rasa penasarannya.
Hening.
"Tidak." jawabnya setelah beberapa detik hanya menatap Chanyeol.
"Lalu kenapa dia terlihat peduli padamu?"
"Mana kutahu. Tanya saja sendiri."
Baekhyun melepaskan genggaman Chanyeol dari tangannya dan pergi meninggalkan laki-laki tinggi itu. Sedangkan Chanyeol hanya bisa menatap punggung Baekhyun yang semakin jauh dari tempatnya. Aneh –pikirnya. Sepertinya Baekhyun menyembunyikan sesuatu darinya.
.
.
Baekhyun menatap lurus ke depan. Tak ia pedulikan tatapan bingung beberapa orang yang melewatinya. Laki-laki mungil itu sepertinya sedang melamun, atau lebih tepatnya memikirkan sesuatu.
"Kau dekat dengan Kris Hyung?"
"Tidak."
"Lalu kenapa dia terlihat peduli padamu?"
Aish, sudahlah lupakan. Dia tidak peduli padamu, Baekhyun-ah. Wu Kris tidak peduli sama sekali padamu, jadi tidak usah memikirkan yang tidak-tidak. Ya benar, lupakan saja –Baekhyun meyakinkan dirinya sendiri untuk yang ke-sekian kalinya.
"Oppa!" Suara Minah yang baru keluar dari gerbang sekolahnya membuat Baekhyun menoleh ke arahnya. Dia berlari kecil ke arahnya bersama kekasihnya.
"Aigoo~ kalian benar-benar membuatku iri saja." canda Baekhyun saat melihat tautan tangan mereka.
Minah hanya tersenyum menanggapinya sedangkan Lee Hyunwoo –kekasih Minah– hanya menggaruk lehernya yang sepertinya tidak gatal.
"Ada apa Oppa datang kemari?" tanya Minah.
"Aku ingin memberikan kalian ini," Baekhyun memberikan bingkisan berisi mug couple itu pada Minah, "Hadiah untuk hubungan kalian. Semoga kalian langgeng ya~"
"Woah~ terima kasih, Oppa!" seru Minah seraya memeluk Baekhyun erat.
"Terima kasih, Hyung." ucap Hyunwoo kali ini.
Baekhyun tersenyum menanggapinya. "Sama-sama."
"Oppa datang sendiri kemari? Chanyeol Oppa mana?"
Baekhyun mengedikkan bahunya menjawabnya. Namun tiba-tiba saja, Baekhyun teringat sesuatu. "Oh ya, saat di festival sekolah, Chanyeol menanyakan apa padamu?"
"Hm? Menanyakan apa maksudnya?" Gadis bermata sipit itu terlihat bingung.
"Aku melihat kalian bicara sebelum aku datang menghampirimu waktu itu. Kalian membicarakan apa?"
"Ah~ itu. Chanyeol Oppa hanya menanyakan bagaimana ceritanya kami bisa pacaran, itu saja."
Baekhyun menautkan alisnya bingung. "Sungguh? Hanya itu?"
"Ya." Minah mengangguk yakin.
Baekhyun tanpa sadar mengerutkan dahinya. Ini sungguh aneh menurutnya. Atau Chanyeol memang tidak menanyakan hal apapun tentangnya waktu itu? Baekhyun tak tahu jawabannya.
.
.
Baekhyun menemukan Chanyeol berdiri di depan kamarnya saat ia baru saja sampai di rumah. Baekhyun menghembuskan napas panjang melihatnya yang sudah melipat tangannya di dada dengan tatapan curiga. Baekhyun mendekatinya dan menatapnya datar.
"Ada apa?" Baekhyun berusaha ramah –meski sangat dipaksakan.
"Kau dari mana?"
"Dari sekolah Minah." jawabnya singkat. Baekhyun berusaha masuk ke kamarnya, tapi Chanyeol malah menahannya (lagi). Iapun mendelik kesal ke arah Chanyeol. "Apa lagi?" Baekhyun mulai jengkel.
Sebuah lollipop tiba-tiba muncul tepat di wajahnya. Baekhyun menatap Chanyeol –yang sedang tersenyum padanya– dengan tatapan bingung.
"Kau jelek kalau sedang marah." ucap Chanyeol sembari memberikan lollipop itu pada Baekhyun.
Baekhyun menatap lollipop dan Chanyeol bergantian. "Kau sedang menyogokku?" tanyanya sarkastis.
"Ya. Apa berhasil?"
Baekhyun melongo. Sepertinya laki-laki jangkung di hadapannya ini benar-benar idiot. Namun entah kenapa, Baekhyun geli melihatnya. Laki-laki pendek itupun terkekeh pelan. "Ya. Terima kasih."
Dan detik berikutnya, Chanyeol melakukan hal yang lebih tak diduga-duga. Dia mengelus pelan puncak kepala Baekhyun lembut. Itu membuat laki-laki mungil itu tercengang. Baekhyun menatap bingung Chanyeol yang sedang memamerkan senyum manisnya. "Kau lebih cantik kalau tersenyum."
Mata Baekhyun sempat tidak bergerak saking terkejutnya ia dengan ucapan Chanyeol. Namun beberapa detik setelahnya, matanya bergerak gelisah saat tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang. Tidak hanya itu, ia juga merasakan wajahnya panas. Apakah ia merona karena ucapan Chanyeol?
"A–aku masuk dulu."
Tanpa menunggu respon Chanyeol, Baekhyun segera masuk ke kamarnya untuk menghindari kontak mata dengan laki-laki jangkung itu. Baekhyun sempat merutuki dirinya sendiri yang terdengar gugup. Well, ia sendiri tidak tahu kenapa ia harus merasa gugup. Ia merasa aneh jika Chanyeol tersenyum begitu. Bukan seringaian yang biasa dia tunjukkan. Senyumannya tadi begitu manis dan lembut. Baekhyun duduk di pinggiran ranjangnya seraya menatap lollipop yang tadi diberikan Chanyeol padanya.
"Kau lebih cantik kalau tersenyum."
Itu pertama kalinya Chanyeol menyebutnya cantik. Dan itu pertama kalinya pula ia merasakan jantungnya berpacu cepat dengan pipi yang memanas karena ucapan –bukan godaan atau gombalan– Chanyeol. Baekhyun menangkup wajahnya.
"Aku pasti sudah gila." gumamnya.
TBC
Ini lebih panjang dari kemaren dan semoga kalian puas ya. Dan makasih banget yang udah nyempetin baca FF saya dan kasih review –bahkan sampai klik fav/follow. Meskipun saya gak bales satu-persatu, saya tetep baca review dan masukan kalian. Dan saya hargain banget usaha kalian. Semoga silent readers bisa belajar banyak dari para reviewers ya~
Oke, silakan review~
