Disclaimer : Tite Kubo
Rate : T
Genre : Romance, Hurt/Comfort, Family, Drama
Pair : Orihime Inoue x Ichigo Kurosaki x Ulquiorra Cifer
.
~ Love Me ~
WARNING : TYPO'S, AU, OOC SUPER AKUT, OC, NO BAKU, EYD BERANTAKAN, ALUR KADANG LAMBAT DAN CEPAT, DLL
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
X0X0X0X0X0X0X0X0X00X0X0X0X0X0X
Kaki kanan Orihime mendapatkan beberapa jahitan akibat tertancap pecahan beling dari gelas yang tanpa sengaja di senggolnya saat ingin mengambil sesuatu di lemari piring, akibat kejadian tersebut membuat gadis cantik dengan surai oranya kecokelatan yang masih berstatus pelajar SMA di salah satu sekolah swata sekaligus seorang istri dari pengusaha muda, harus tetap berada di rumah selama seminggu penuh hingga luka di telapak kaki kanannya sembuh mengingat untuk berjalan Orihime masih sedikit kesulitan bahkan ke kamar mandi saja memerlukan tongkat agar jahitannya tidak terbuka.
Selama berada di rumah kegiatan yang dilakukan Orihime hanyalah duduk berbaring di atas kasur atau sesekali membaca novel maupun buku pelajaran agar tidak ketinggalan materi namun hal itu tidak mampu menghilangkan rasa bosan yang menghinggap dihati, padahal kakinya hanya terluka sedikit tapi seluruh anggota keluarga Kurosaki terlebih sang ibu mertua, Masaki Kurosaki memperlakukannya seperti orang yang tengah mengidap sakit keras sebenarnya Orihime sangat ingin pergi sekolah, bertemu teman-temannya juga mengingikuti setiap pelajaran atau materi yang disampaikan para Sensei agar tidak ketinggalan pelajaran dari teman-temannya mengingat hanya tinggal hitungan bulan saja akan lulus sekolah dan kehidupan SMAnya akan segera berakhir.
Dan ditahun-tahun terakhir masa sekolahnya Orihime ingin melakukan banyak hal bersama teman-temannya, tak mau melewatkan moment berharga selama masa SMA yang tak akan pernah bisa terulang kembali maka dari itu Orihime ingin memanfaatkannya sebaik mungkin dengan membuat kenangan indah serta manis bersama tapi kini dirinya lagi-lagi harus terkurung di dalam sangkar emasnya, walau seluruh kebutuhannya sudah terpenuhi bahkan dilayani para pelayan bak seeorang putri raja tak membuatnya merasa senang sama sekali. Terkadang Orihime merasa rindu kehidupannya selama berada di desa, dimana bisa bebas pergi kemanapun atau melakukan apapun tidak harus ada orang yang melarang atau mengingatkan setiap tingkah lakunya agar tidak membuat malu.
Setitik air mata terbit di ujung mata kanan Orihime, mengusapnya perlahan menggunakan jari Orihime tersenyum sendu berusaha menyemangti dirinya sendiri agar kuat terlebih demi sang anak. Selama satu tahun lebih berada dan tinggal di keluarga Kurosaki dirinya selalu menuruti semua larangan juga aturan di keluarga ini, bahkan tak pernah mempermasalahkan statusnya sebagai istri Ichigo yang selalu terus ditutupi kepada masyarakat luas bahkan Rukia sahabatnya sendiri tak tahu jika dirinya sudah menikah bahka sebentar lagi akan menjadi seorang ibu, itu semu dilakukan demi kebaikan sekaligus keselamatan Orihime sendiri, tetapi selama menjadi bagian dari keluarga Kurosaki tak sekalipun Ichigo mengajaknya pergi ke sebuah pesta memperkenalkan kepada para relasi atau kenalan mereka, dan Orihime tidak protes ataupun bertanya karena sudah menyadari status sosialnya yang berbeda.
Tapi walaupun begitu perlakukan Masaki dan Isshin, orang tua dari suaminya begitu baik bahkan Masaki, sang ibu mertua sangat memanjakan Orihime dengan selalu memberikan barang-barang mewah setiap kali berpergian, hal itu membuat Orihime merasa tak tersisihkan dan dianggap di keluarga Kurosaki yang sangat terkenal dengan kekayaannya walau Ichigo sendiri sebagai suami tidak pernah sekalipun menganggap kehadirannya ada bahkan surat cerai sudah di ajukan hanya tinggal menunggu waktu tiba dimana dirinya harus angkat kaki untuk selamanya dari sini walau ada perasaan senang karena bisa bebas dari pria berhati dingin itu tapi yang membuatnya sangat berat sekaligus sedih adalah keadaan sang anak dimana pastinya keluarga dari Ichigo pasti akan mengambil anaknya jika lahir nanti.
Jika mengingat hal itu membuat perasaannya sedih bahkan menangis pilu berpikir akan dipisahkan dengan sang anak. Tapi Orihime sudah berjanji pada dirinya sendiri juga demi sang anak kalau akan menjadi kuat, apapun yang terjadi akan ia pertahankan buah hatinya.
"Tumbulah dengan baik." Orihime mengusap lembut perutnya dengan gerakkan ke atas kebawah berharap perasaan sayangnya bisa sampai pada sang anak.
Kegiatan Orihime selama dua hari ini hanyalah duduk diam di depan balkon menikmati pemandangan di luar kamar yang entah mengapa sangat mernarik perhatian sekaligus membuatnya sedikit lebih tenang walau saat ini hatinya tengah bergejolak hebat.
Disaat Orihime sedang merasa bosan sekaligus sedih karena terukurung di sangkar emasnya membuatnya tak bisa pergi kemanapun.
Di luar sana orang-orang tengah heboh membicarakan gadis asing dalam gendongan mesra Ichigo Kurosaki, laki-laki idaman sekaligus impian banyak wanita gara-gara selembar foto yang diambil seorang wartawan gosip. Tak butuh waktu lama berita mengenai Ichigo menyebar bahkan langsung menjadi pembicaraan heboh dikalangan para wanita yang hatinya merasa sedih sekaligus cemburu pada gadis beruntung tersebut.
Layaknya seorang artis ternama, Ichigo dikejar-kejar wartawan gosip meminta konfirmasi mengenai hal tersebut tapi pria bermata madu tersebut tetap saja diam tak mau berkomentar apapun bahkan terkesan tak peduli dengan berita mengeni dirinya karena sudah biasa digosipkan, para wartawan sendiri sangat ingin tahu siapa wanita dalam gendongan Ichigo tersebut apakah benar kalau gadis itu adalah kekasih baru Ichigo setelah sekian tahun sendirian karena kematian Sena. Bukan hanya Ichigo saja yang didatangi wartawan gosip bahkan klinik yang waktu itu di datangi Ichigo bersama gadis tersebut juga disambangi para wartawan gosip untuk mencari tahu namun sayangnya dokter yang menangani gadis tersebut tiba-tiba pergi berlibur ke luar negeri sehari setelah berita ini mulai terdengar.
Saat kejadian berlangsung Ichigo sendiri sedang panik, apalagi melihat darah sang istri berceceran dilantai membuatnya tanpa berpikir panjang melepaskan kaos yang melekat ditubuh, mengingkat kaki kanan Orihime untuk menghentikan pendarahan dan setelahnya membawanya ke klinik terdekat karena terlalu lama jika menunggu kedatangan dokter pribadi keluarga datang mengingat darah di kaki Orihime terus mengalir dan harus segera diobati. Biasanya Ichigo selalu awas dan berhati-hati dalam bertindak tapi sepertinya kali ini Ichigo kurang hati-hati sehingga wartawan bisa menangkap gambar dirinya bersama sang istri bahkan berita mengenainya menjadi pemberitaan hangat yang langsung menggemparkan banyak pihak terutama para gadis merasa patah hati sekaligus kecewa berat.
Banyak masyarakat yang merasa cukup kaget terlebih para Nona dari keluarga kaya merasa luar biasa syok, sedih bahkan menerka-nerka siapa sosok gadis dalam gendongan Ichigo, pria yang selama ini selalu menjadi incaran sekaligus perbincangan para gadis muda dikalangan atas. Beberapa stasiun telivisi ternama juga sempat menyinggung berita mengenai pria bersurai orange tersebut yang merupakan pria tampan sekaligus mapan rebutan banyak Nona muda bahkan sederet nama artis ternama tak ketingalan disebut pernah dekat dengan pria pemilik perusahaan Kurosaki Corporatian itu. Semua orang saling berspekulasi masing-masing mengenai gadis dalam gendongan Ichigo, mereka sangat ingin tahu siapa sebenarnya sosok gadis beruntung yang bisa sedekat itu dengan Ichigo Kurosaki.
Pihak keluarga Ichigo sendiri memang sengaja menyembunyikan pernikahan Ichigo dan Orihime dari khayalak umum karena takut jika nantinya akan seperti ini dimana para wartawan berita serta gosip terus memburu, mencari informasi mengenai Orihime, mencari tahu setiap inci mengenai siapa sebenarya Orihime demi bisa mengupas tuntas jati diri Orihime yang sebenarnya kepada masyarakat luas hingga bisa menjadi pendamping hidup Ichigo. Masaki sendiri selaku ibu mertua Orihime merasa sangat khawatir sekaligus takut nantinya menantu perempuannya itu jatuh sakit kalau mendengar pemberitaan mengenai dirinya di luar sana terlebih saat ini Orihime tengah mengandung dan kandungannya agak sedikit lemah, dokter pun menyarankan agar Orihime tidak boleh stress sama sekali.
Tapi tak selamanya Masaki akan menutupi pernikahan Ichigo, pastinya akan memberitahukannya kepada masyarakat luas nanti, dan akan ada waktunya bukan saat ini.
Untuk menghentikan pemberitaan ini yang semakin lama semakin mengada-ngada bahkan sudah menggangu kehidupan tenang keluarganya, Karin serta Yuzu pun tak luput dari incaran para wartawan gosip yang sangat penasaran dengan sosok gadis dalam gendongan Ichigo. Karena sudah merasa jengah juga cape Ichigo terpaksa meminta bantuan kepada pengacara pribadinya untuk menangani pemberitaan mengenai dirinya karena sangat menggangu terlebih keluarga besarnya yang selalu diburu awak media meminta penjelasan. Memang tak mudah menutup mulut semua orang untuk tidak membicarakan mengenai Orihime serta dirinya tapi apapun akan Ichigo lakukan untuk melindungi keluarganya. Ichigo sudah meminta bantuan kepada pengacaranya untuk menangani kasus ini karena sangat menggangu dirinya terlebih keluarga besarnya yang selalu diburu awak media meminta penjelasan. Memang tak mudah menutup mulut semua orang untuk tidak membicarakan mengenai Orihime serta dirinya tapi apapun akan Ichigo lakukan untuk melindungi keluarganya.
Dan sore ini, semua pekerjaan diselesaikan cepat oleh Ichigo, bahkan acara pertemuan dengan salah satu kolega bisnis perusahaan Reiji yang mewakilkan datang karena hari ini pria bermata madu tersebut ingin cepat pulang ke rumah mengabaikan sejenak tugas sekaligus kewajibannya sebagai pemimpin perusahaan, untung saja ada Renji, sekretaris pribadinya yang sangat handal dalam mengerjakan berbagai tugas perusahaan jika tidak bisa dipastikan kalau semua pekerjaannya di kantor akan berantakan tak terkendali sama sekali.
Dua hari belakagan ini Ichigo memang selalu berusaha agar cepat pulang padahal dihari-hari biasanya sebelum menikah tak jarang Ichigo selalu pulang larut malam bahkan sering menginap di kantor jika ada banyak pekerjaan penting, semua hidupnya di dedikasikan untuk pekerjaan tak tertarik dengan urusan cinta ataupun sejenisnya, dan tak heran jika orang-orang menganggap Ichigo sebagai si gila kerja karena tiada hari tanpa bekerja sekalipun itu hari libur maka tak heran jika perusahaan yang dipimpinnya selalu maju, sukses dan mampu bersaing dengan perusahaan lain. Mungkin dalam urusan pekerjaan Ichigo adalah ahlinya namun jika urusan mengenai perasaan wanita terlebih menghadapi wanita hamil Ichigo belum pengalaman dan masih sangat butuh belajar karena setelah kematian sang kekasih tak pernah sekalipun dirinya dekat ataupun menjalin kasih dengan wanita manapun karena sempat berjanji tidak akan pernah jatuh cinta lagi pada siapapun tapi sepertinya Ichigo melanggar janjinya sendiri, perlahan tapi pasti Ichigo jatuh cinta pada sosok sang istri yang bahkan sebentar lagi akan membuatnya menjadi seorang ayah.
Wajah Ichigo selalu tersenyum lebar jika mengingat kalau akan menjadi seorang ayah, sebuah hal yang dulu pernah diimpikannya bersama Sena namun tak bisa terwujud karena Tuhan sudah terlanjur mengambil Sena dari sisinya namun menggantikan sosoknya dengan Orihime, gadis berhati lembut nan cantik dengan senyuman seindah mentari.
"Selamat datang, Tuan muda." Sambut pelayan ramah.
Salah seorang pelayan berjalan menghampiri mengambil tas kerja juga mantel milik Ichigo, "Dimana Nona muda?" tannya pada salah satu pelayan.
"Beliau ada di ruang tamu bersama, Tuan Ulquiorra,"
Dahi Ichigo menyeringit tak suka mendengar nama pemuda bersurai hitam dengan mata Emerald tersebut terlebih kini pemuda itu tengah bersama istrinya, hati Ichigo sedikit kesal disertai perasaan tak nyaman dengan kedatangan Ulquiorra.
Kakinya melangkah cepat berjalan di koridor menuju ruang tamu, kedua mata madunya menemukan Orihime, istrinya sedang duduk berbicang berdua saja dengan Ulquiorra entah sedang membicarakan apa namun Orihime terlihat sangat senang bahkan tertawa lebar membuat hatinya sedikit panas.
Berusaha bersikap tenang menyembunyikan perasaannya, Ichigo berjalan santai menghampiri keduanya seakan tak peduli dengan kegiatan mereka berdua yang sebenarnya menyakitkan hati serta mata.
Orihime merasa sedikit kaget mendapati Ichigo sudah pulang mengingat ini masih sore dan belum jam pulang kerja kantor, "A-anda sudah pulang, Ichigo-sama,"
Tak mempedulikan keterkejutan Orihime serta senyuman ramah dari Ulquiorra yang berusaha menyapanya, Ichigo meraih tubuh ramping Orihime lalu mendaratkan bibirnya di puncak kepala Orihime, "Aku pulang, Hime." Ucapnya setenang mungkin.
Reaksi Orihime hanya diam kaget mendapati perlakuan tak terduga dari Ichigo terlebih dilakukan di depan orang lain membuat kedua pipinya bersemu merah seperti buah plum, "S-selamat datang." Balas Orihime gugup bercampur malu.
Tangan Ulquiorra langsung terkepal kuat di atas paha, menahan gejolak emosi dihatinya yang sebenarnya tak suka melihat Orihime dicium seperti itu walau nyatanya pria itu adalah suami sah Orihime sebuah hal yang sangat ingin disangkal dan tak bisa diterima oleh Ulquiorra.
Kedua mata Ichigo melirik ke arah Ulquiorra, "Oh, ternyata anda datang berkunjung," ujar Ichigo seakan baru menyadari kehadiran Ulquiorra yang nyata sudah ada sejak tadi.
"Selamat sore, Tuan Ichigo," Ulquiorra menyapa ramah.
"Sore juga, maaf aku tak melihatmu tadi," balas Ichigo tak kalah ramah.
"Tak apa, Tuan Ichigo. Dan karena hari sudah semakin sore sebaiknya saya permisi pulang,"
"Tidak ingin makan malam disini dulu," ujarnya menawarkan ajakan makan malam bersama.
"Terima kasih atas tawarannya, lain kali saja," tolak Ulquiorra halus.
"Baiklah, aku harap kau mau makan malam disini bersama kami karena ibu pasti akan merasa senang,
"Sensei, terima kasih banyak sudah datang menjengukku aku pastikan akan segera cepat masuk sekolah dan mengikuti pelajaran,"
Ulquiorra tersenyum lembut, tangannya mengusap pelan puncak kepala Orihime, "Sensei pulang dulu, jaga kesehatan dan makanlah yang banyak agar cepat sembuh."
"Hmm. Terima kasih, hati-hati di jalan maaf aku tak bisa mengantar anda sampai depan,"
"Tak apa. Kalau begitu saya pamit Tuan Ichigo, Orihime."
"Pelayan, antar Ulquiorra sampai pintu depan."
"Baik, Tuan muda."
Suasana di ruang tengah nampak sepi tak ada suara orang yang tengah mengobrol ataupun melakukan aktifitas setelah kepulangan Ulquiorra beberapa menit lalu, Orihime pun sudah kembali ke kamar dengan cara di gendong ala tuan Putri oleh Ichigo.
"Besok kau belum boleh pergi sekolah, luka di kakimu belum sepenuhnya mengering," kata Ichigo seraya membuka dasi yang melingkar di leher.
"Ta-tapi..."
"Jangan membantah perkataanku atau bersikap keras kepala, jika khawatir mengenai pelajaran akan kusuruh ibu mencarikan guru privat terbaik untukmu,"
Wajah Orihime tertunduk lesu, kedua matanya berkaca-kaca membentuk sebuah bendungan air mata hanya tinggal menunggu jebol saja, "I-iya, aku mengerti." Sahut Orihime pelan dengan bibir bergetar menahan tangis.
"Bagus jika kau mengerti dan paham, semua ini demi kebaikanmu." Ujarnya seraya masuk kedalam kamar mandi meninggalkan Orihime yang terduduk sendu di pinggir ranjang karena perkataannya tadi sudah membuat hati Orihime sedih.
"Bukan demi aku tapi bayi di dalam kandunganku." Sahut Orihime dalam hati meralat perkataan Ichigo.
Tes
Setetes cairan bening menetes membasahi paha Orihime, tumpah sudah pertahanan Orihime yang sejak tadi ditahannya mengapa dirinya selalu dilarang juga di kurung tak boleh pergi kemanapun bahkan untuk sekedar sekolah, menuntut ilmu bukan bermain.
Tidak bisakah mereka memperlakukannya biasa saja tidak terlalu berlebihan dengan melaranganya keluar ataupun melakukan hal apapun padahal Orihime sangat ingin pergi sekolah, bertemu teman-temannya mengingat hanya tinggal hitungan bulan saja kelulusan di dapan mata dan kehidupan SMAnya akan segera berakhir.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pelan terdengar dari arah pintu kamar. Tak mau melihat orang mendapatinya tengah menangis, buru-buru Orihime mengusap kedua pipinya dan bersikap biasa saja.
"Siapa?" tanya Orihime dengan setengah berteriak.
"Ini saya Nona muda, Emiko," sahut sang pelayan dari depan pintu.
"Masuklah, pintunya tidak di kunci," ujar Orihime mempersilahkan masuk.
Sang pelayan pun masuk dengan membaw sebuket bunga Lily merah ditangan membuat Orihime penasaran sekaligus bertanya-tanya bunga dari siapa itu dan untuk siapa.
"Itu bunga untuk siapa?" mata Orihime memandang heran ke arah buket bunga.
Sang pelayan tersenyum ramah, "Tadi sebelum pergi Tuan Ulquiorra menitipkannya kepada saya, beliau mengatakan untuk memberikannya pada Nona muda." Jelasnya seraya memberikan buke bunga ditangan kepada sang Nona muda.
Senyuman cerah menghias wajah Orihime yang sedikit sembab, menerima pemberian dari Ulquirra dengan perasaan senang lalu menghirup dalam-dalam aroma bunga tersebut, "Wangi sekali, terima kasih,"
"Sama-sama, Nona muda. Kalau begitu saya permisi pergi,"
"Ya."
Tanpa pernah tahu dari arti nama sebuah bunga Lily merah pemberian Ulquiorra dengan perasaan senang meliputi hati Orihime menaruhnya di dalam vas bunga mengganti bunga Mawar merah pemberian Ichigo yang sudah mulai layu dengan bunga pemberian Ulquiorra, namun baru juga ditaruh di dalam vas Ichigo yang baru saja keluar kamar mandi dalam balutan handuk berbentuk baju berteriak marah saat mendapati bunga vas bunga di atas meja sudah diganti.
Tanpa berkataa apa-apa Ichigo langsung mengambil bunga Lily merah itu lalu membuangnya ke tempat sampah, Orihime berteriak memohon agar tidak bunga namun Ichigo tidak mempedulikannya sama sekali.
"Ke-kenapa anda membuang bunga pemberian, Sensei!" Orihime nampak protes dan tak suka dengan sikap Ichigo.
"Jangan menaruh bunga itu di dalam vas, bukankah aku sudah memberikan bunga Mawar merah untukmu,"
"Tapi itu sudah layu,"
"Kau bisa menyuruh pelayan untuk memetiknya kembali di taman, bukan menggantinya dengan bunga itu," bentak Ichigo yang tiba-tiba saja hatinya tersulut emosi dipenuhi rasa cemburu.
Orihime terdiam takut, tubuhnya sedikit gemetar mendengar teriakkan Ichigo. Kenapa pria bersurai orange itu sampai harus marah hanya karena sebuah bunga Lily merah memang apa yang salah dengan bunga pemberian Ulquiorra.
"Apa kau tahu arti dari bunga Lily merah itu," ujar Ichigo dengan nada sedikit pelan namun raut wajahnya masih nampak marah hanya gara-gara beberapa tangkai bunga Lily merah pemberian Ulquirra.
Orihime menggelan pelan, tak mengerti ataupun paham dengan bahasa bunga. Memang apa artinya dari bunga Lily merah hingga membuat Ichigo sampai semarah itu bahkan membentaknya.
"Kau tidak tahu apa pura-pura tidak tahu Orihime, apa kau sengaja ingin membuatku cemburu dan marah,"
Kedua iris abu-abu Orihime memandang tajam ke arah Ichigo, "Se-sempit sekali pemikiran anda, Ichigo-sama," lirih Orihime dengan mata berkaca-kaca.
Ichigo terlonjak kaget dan perasaan bersalah sekaligus tak enak hinggap dihati, sejak tadi dirinya tak sadar sudah membentak bahkan menuduh Orihime karena perasaan cemburunya sendiri.
"Maaf, aku tak bermaksud untuk menakutimu," Ichigo mengulurkan tangan mencoba membelai wajah Orihime.
"Ja-jangan sentuh aku..." Orihime menepis kasar tangan Ichigo.
"Orihime,"
"Jangan! Jangan mendekat, aku benci padamu Ichigo-sama." Teriak Orihime dengan berlinang air mata.
Berjalan tertatih-tatih Orihime keluar kamar meninggalkan Ichigo yang berdiri mematung merutuki perbuatannya sendiri.
"Sial!" racau Ichigo.
Hanya gara-gara bunga Lily merah pemberian Ulquiorra membuat keduanya bertengkar dan itu dimulai dari sikap cemburu Ichigo, andai saja bisa menahan perasaannya tidak tersulut emosi mungkin pertengkaran tak akan terjadi. Dan Ichigo benar-benar menyesali perbuatanya sendiri, menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa menahan diri malah terbawa emosi padahal biasanya dirinya selalu bisa bersikap tenang.
.
.
.
.
.
.
Hubungan Ichigo dan Orihime semenjak pertengkaran kemarin semakin renggang walau sejak awal hubungan mereka berdua tidak berjalan baik sama sekali, usaha Ichigo untuk bisa dekat dan memperbaiki hubungan mereka berdua terancam gagal karena sikap lepas kendalinya. Tapi bukan namanya Ichigo Kurosaki jika mudah menyerah, sekeras apapun Orihime akan menolaknya dirinya akan terus berjuang keras mendapatkan hati istrinya kembali.
Dan pagi ini Orihime tidak terlihat di meja makan, gadis bersurai orange kecokelatan itu menolak sarapan bersama dengan beralasan pusing serta mual efek dari morning sicknessnya, hal itu sangat di pahami oleh Masaki yang pernah mengalaminya semasa hamil dulu bahkan lebih parah saat mengandung si kembar.
"Kenapa kau masih mengenakan kaos?" Isshin melirik heran pada sang putra yang baru saja duduk di kursi makan masih dalam balutan baju santai tidak mengenakan jas sepertinya.
"Hari ini aku mengambil cuti," sahut Ichigo santai mengambil roti isi keju serta sosis di depannya didampingi segelas susu putih segar yang baru saja diantar.
"Jangan terlalu sering mengambil cuti, pekerjaanmu di kantor bisa terbengkalai,"
"Sudah ada Renji yang akan menanganinya,"
"Jika kau terus bergantung pada Renji bisa-bisa Ashido akan merebut posisimu diperusahaan," Isshin memperingatkan membuat suasana di meja makan sedikit tak nyaman karena menyinggung nama Ashido, sepupu Ichigo.
"Anata, kenapa kau berkata sedingin itu pada putramu?" Masaki mencoba membela sang anak yang berusaha di sudutkan suaminya sendiri.
"Bisnis adalah bisnis, hubungan keluarga tidak berlaku didalamnya karena hanya ada untung atau rugi saja," kata Isshin dingin memberitahu bagaimana kejamnya persaingan bisnis.
"Aku sudah tahu itu, tapi saat ini aku ingin banyak menghabiskan waktu bersama Orihime,"
"Bagus kalau kau berpikiran seperti itu, semoga saja semuanya tidak terlambat,"
"Ya, aku pun berharap begitu."
"Sudah, sudah jangan membahas bisnis di meja makan itu bisa merusak selera makan." Masaki memberikan semangkok oatmeal buatannya kepada Isshin karena bagus untuk kesehatan jantung serta rendah lemak mengingat di usianya yang sudah menginjak kepala lima lebih makanan seperti ini sangat disarankan oleh dokter.
"Ichigo," panggil Masaki.
"Hm," sahutnya yang sedang asik menikmati roti isinya.
"Kebetulan kau libur, ibu sudah membuatkan sup daging untuk Orihime nanti kau suruh dia memakannya hingga habis karena hari ini ibu ada urusan penting bersama Nyonya Yamada,"
"Iya."
Kegiatan sarapan pagi bersama keluarganya pun selesai, setelah merapihkan meja makan Masaki pun pergi dengan diantar Starrk karena tak di ijinkan mengendari mobil setelah mengalami kecelakan karena roda depan mobil tergelincir akibat jalanan licin sehabis turun huja lima tahun lalu yang menyebabkan kaki kanan Masaki patah.
~(-)-(-)~
Berdiri diam di bawah jendela kamar menikmati pemandangan di luar kamar adalah kegiatan rutin yang di lakukan Orihime belakagan ini terlebih tak di ijinkan melangkahkan kakinya keluar rumah layaknya seorang tahanan.
Kadang Orihime berpikri alangkah bahagianya bisa menjadi se ekor burung yang bisa terbang jauh kemanapun yang disuka tanpa harus ada yang melarang ataupun mengurungnya layaknya seorang penjahat, kenapa juga mereka tak mengikatkan kaki serta tangannya menggunakan rantai agar benar-benar tak bisa pergi kemanapun. Sungguh Orihime benar-benar bosan, ingin pergi keluar rumah menikmati pemandangan diluar rumah bukan berdiri dibalik jendela menatap cerahanya awan biru dengan sorot mata sendu.
Asik dengan lamunan serta khayalannya sendiri, Orihime tidak mempedulikan orang yang masuk ke dalam entah siapa namun ia malas menengok ke belakang untuk sekedar melihat, paling salah satu pelayan yang datang membawakan sarapan.
"Orihime," panggilnya berharap akan menyahutinya ataupun menoleh tapi kenyataannya Orihime diam tak memperdulikan.
Dheg!
Jantung Orihime berdetak cepat mendengar suara berat dari Ichigo, kenapa pria bersurai orange itu masih dirumah bukannya pergi ke kantor untuk bekejar lagi pula hari ini bukan hari libur.
"Orihime," panggilnya lagi dengan nada selembut mungkin, "Ayo, makan," ujar Ichigo menawarinya makan.
"Aku tak lapar, Ichigo-sama," sahut Orihime dingin.
Pria bernama Ichigo ini berdiri dibelakang Orihime, membalikkan pelan tubuh ramping sang istri, iris madunya memandang penuh arti wajah gembil Orihime yang seperti buah plum, begitu manis dan meggoda seakan ingin ia gigit, "Ibu membuatkan sudah sup daging untukmu, makanlah sedikit,"
"Taruh saja di atas meja, jika sudah lapar pasti akan aku makan,"
"Jika supnya dingin rasanya tidak enak, makanlah sekarang akan kutemani,"
"Tak mau. Aku belum la-Krucuk~" perut Orihime tiba-tiba berbunyi keras terdengar seperti genderang dan hal itu sukses membuatnya terdiam dengan wajah semerah tomat.
Ichigo tersenyum kecil, mengusap pelan perut Orihime, "Sepertinya perutmu lebih jujur daripada mulutmu," godanya dengan terkekeh.
Orihime membuang muka malu melihat Ichigo yang sedang menterawai dirinya, "Ayo makan, si kecil juga butuh makan dan asupan gizi agar bisa tumbuh dengan baik." Ichigo menggendong tubuh Orihime ala bridal style dan itu sukses membuat Orihime menjerit kaget sekaligus malu.
"Tu-turunkan aku!" pekik Orihime.
Namun Ichigo diam tak mempedulikan teriakkan protes dari sang istri.
Mendudukkan Orihime diatas sofa dengan semangkuk sup hangat tersaji di atas meja, namun saat penutup mangkuk dibuka, aroma daging sangat terasa menyengat di hidung membuat Orihime langsung merasa mual bahkan ingin muntah.
"Ugh~" Orihime memegangi mulutnya menahan sesuatu yang ingin keluar dari perutnya.
"Apa kau ingin muntah?" tanya Ichigo cemas.
Orihime mengangguk pelan dan tanpa bertanya lagi, Ichigo langsung menggendong Orihime ke kamar mandi.
"Uekh~" Orihime memuntahkan seluruh isi perutnya yang hanya berupa cairan kental berwarna putih karena sejak pagi baru minum susu ditemani dua biskuit gandum utuh.
Dengan setiap Ichigo mengusap pelan punggung Orihime, mencoba memberikan rasa nyaman, "Aku akan panggilkan dokter Ukitake untuk memeriksa keadaanmu,"
"T-tidak perlu, aku hanya merasa mual mencium aroma sup daging." Ujar Orihime seraya membersihkan mulut.
Setelah kegiatannya di kamar mandi usai, Ichigo menggendongnya lagi ke kamar lalu membaringkannya di atas ranjang. Bisa Ichigo lihat kalau wajah Orihime sedikit pucat bahkan terlihat kurus karena belakangan ini tak mau makan padahal dokter kandungan yang menangani mengatakan kalau istrinya itu harus banyak makan terutama makanan penuh gizi dan mengandung zat besi, tapi Orihime selalu memuntahkan kembali makanan yang dimakan, hanya memakan habis makanan yang dimintanya saja.
"Akan kusuruh pelayan membawa pergi sup daging itu, apa kau ingin makan sesuatu?" tanya Ichigo menawarkan makanan lain.
"Makaroni Schothel dan Mozarekka cheese stick." Jawab Orihime cepat mengungkapkan keinginannya hatinya saat ini yang tiba-tiba saja mengingkan kedua makanan itu.
Dahi Ichigo berkerut mendengar makanan yang diinginkan Orihime bukankah itu semua ada campuran keju, telur dan sosi bukankah selama ini Orihime selalu merasa mual bahkan muntah hanya mencium baunya saja. Apakah saat ini Orihime sedang ngidam?
"Kenapa anda diam, bukankah tadi anda bertanya aku ingin makan apa,"
"Bukanya kau selalu memuntahkan makanan yang berbau keju, ataupun telur,"
"Tapi aku ingin makan itu sekarang,"
"Baiklah. Aku akan menyuruh koki membuatnya,"
"Tak mau. Aku ingin makanan itu dari kafe yang pernah aku datangi bersama Sensei." Rajuk Orihime.
Dahi Ichigo berkerut, merasa sedikit kesal dan tak nyaman saat Orihime menyebut nama dari pria bersurai hitam itu terlebih dulu ternyata pernah mereka berdua pernah pergi bersama, "Aku akan membelikannya di kafe lain saja,"
"Tidak mau! Aku mau dari kafe itu bukan yang lain,"
"Haah~" Mendesah berat, mau tak mau Ichigo harus mengalah dan menuruti keinginan Orihime yang saat ini tengah manja atau merajuk seperti anak kecil akibat hormon kehamilannya tapi hal itu tidak membuat Ichigo merasa terbebani ataupun marah malah merasa senang karena dengan begitu Ichigo bisa lebih dekat Orihime karena biasanya sikap Orihime sangat dingin hanya jika hormon kehamilannya sedang tingga serta bawaan sang bayi tingkah Orihime akan berubah seratus delapan puluh derajat seperti saat ini.
"Baiklah aku akan membelikannya untukmu, tapi kau harus memakannya hingga habis,"
"Iya."
Ichigo langsung beranjak pergi dari kamar, mengambil mobilnya yang terparkir di garasi. Sementara Ichigo pergi ke kafe, diam-diam Orihime menyelinap keluar kamar dan pergi ke ruang tengah ingin menonton acara Anime yang beberapa hari ini tidak ditontonnya, terus berada di kamar benar-benar membuatnya sangat bosan apalagi beberapa hari ini entah karena alasan apa ia dilarang keras menonton acara telivisi dan itu membuatnya semaki bosan, tak ada hiburan yang bisa dilihat.
Sebelum duduk Orihime menyalakan telivisi terlebih dahulu mengecek apakah acara Anime sudah mulai atau belum.
Dan tak lama setelah benda hitam metalik berbentuk persegi panjang itu menyala menampilkan sebuah gambar disertai suara.
Tubuh Orihime gemetar, kedua irisnya menatap syok ke layar telivisi.
Orihime tanpa sengaja melihat sebuah acara gosip yang tengah membicarakannya bukan hanya membicarakannya tapi membandingkannya dengan Sena dimana sang pembawa acara mengatakan kalau Sena lebih cantik dan baik karena wajahnya yang sangat cantik, terlahir dari keluarga kaya juga teman semasa kuliah Ichigo di Eropa sedangkan Orihime hanyalah gadis yatim piatu yang tinggal di desa, tak sebanding dengan Sena. Pembawa acara pun mengatakan apa istimewa dan menariknya dari seorang Orihime Inoue hingga membuat pria kaya raya sekelas Ichigo bisa sampai dekat dengan gadis bernama Orihime bahkan terdengar kabar kalau gadis itu adalah istrinya dan jika benar apakah Ichigo Kurosaki tidak salah pilih mengingat ia adalah pria tampan, mapan serta memiliki segalanya di kehidupannya.
Nyut~
Hati Orihime terasa tercubit mendengar kata-kata pembawa acara yang begitu sakit.
Tangannya meremas pelan dadanya, mencoba menahan rasa sakit yang begitu menusuk hati hingga membuat kedua matanya berair hingga membentuk bendungan.
Namun yang membuat Orihime lebih sakit sekaligus sedih adalah sang pembawa acara mengatakan kalau Orihime sengaja menggoda bahkan menjebak Ichigo agar bisa menikahinya karena ingin hidup enak bergelimang harta tanpa harus berkerja keras tanpa mereka semua tahu kalau selama ini Orihime selalu bekerja keras demi bisa bertahan hidup di desa seorang diri tanpa ada satupun sanak saudara membantu Orihime tahu apa itu bekerja keras, bagaimana caranya menghargai uang hasil jerih payahnya sendiri bahkan pernah seharian menahan lapar.
Apa karena terlahir dari keluar miskin, yatim piatu bukan berasal dari keluarga kaya maupun bangsawan orang-orang itu bisa seenaknya menghinanya hingga seperti itu.
Tes
Liquid bening menetes deras dari kedua iris abu-abunya yang menatap nanar layar telivisi.
Kata-kata dari wanita didalam telivisi itu begitu kejam, apakah saat ini orang-orang diluar sana menggangap kalau dirinya adalah gadis miskin, yatim piatu dan rendahan karena sengaja menggoda serta merayu Ichigo agar bisa hidup dalam kemewahan.
Andai mereka semua tahu, menikahi Ichigo Kurosaki tidaklah membuatnya senang ataupun bahagia sama sekali karena hanya ada derita, rasa sepi serta selalu tak dianggap kehadirannya, Orihime tak pernah berpikir mengenai harta ataupun hidup dalam kemewahan karena bisa menjadi menantu dari keluarga Kurosaki. Jika bukan janji mendiang sang ayah serta hutang yang menumpuk banyak kepada keluarga ini sudah pasti Orihime tak mau menerima tawaran untuk menikah dengan Ichigo, pria berhati dingin dan tak berperasaan sama sekali.
"Hiiksh~" isak Orihime lirih.
Telapak tangan Orihime mengusap pelan perutnya yang sudah mulai sedikit membuncit karena usia kandungannya sudah memasuki minggu ke tujuh, apa kata orang-orang diluar sana nantinya jika tahu saat ini dirinya tengah hamil apakah mereka semua akan berpikir kalau Ichigo menikahinya karena hamil. Kenapa Orihime harus merasakan perasaan sakit ini bertubi-tubi bahkan anaknya yang tak bersalah serta belum lahir ke dunia pun akan turut menjadi korban dari mulut kejam orang-orang diluar sana nantinya karena berasal dari rahim gadis miskin sepertinya.
Nyut~
Tiba-tiba saja kepala Orihime berdenyut-denyut disertai rasa pusing membuat tubuhnya sedikit terhuyung kebelakang.
"Akh~" rintih Orihime memegangi kepalanya.
Perlahan-lahan pandangan mata Orihime mulai gelap dan setelahnya tak mengingat apapun bahkan teriakkan histeris dari pelayan yang panik bercampur rasa takut melihatnya jatuh pingsan di ruang tengah.
"Nona muda!" teriak salah satu pelayan panik.
Pelayan dengan cepol satu itu berlari panik dengan wajah takut menghampiri Orihime yang tergeletak di dekat sofa ruang tengah.
"Tolong!" teriaknya meminta bantuan.
Seketika susana kediaman Kurosaki yang tadinya tenang dan baik-baik saja berubah menjadi panik bahkan heboh karena Orihime jatuh pingsan tak mau terjadi apa-apa terlebih disalahkan oleh sang Nyonya karena tidak bisa menjaga Orihime dengan baik, pelayan langsung menghubungi dokter Ukitake untuk segera datang dan memeriksa keadaan Orihime, tak hanya itu pelayan juga menghubungi sang Nyonya serta Tuan muda karena sudah diberi pesan jika terjadi apa-apa dengan Orihime harus segera menghubungi.
DRAP
DRAP
DRAP
Seorang pria bersurai orange berlarian di koridor rumah dengan ekspresi wajah panik bercampur rasa takut, ia tidak mengidahkan para pelayan yang mencoba menyapa ramah menyambut kedatangannya.
Setengah jam lalu, saat masih berada di jalan menuju kafe untuk membelikan makanan pesanan Orihime tiba-tiba saja ponselnya bergetar, salah satu pelayan menghubunginya mengatakan kalau istrinya itu tiba-tiba saja jatuh pingsan tak sadarkan diri tanpa berpikir apa-apa lagi Ichigo langsung memutar balikkan mobilnya, dengan kecepatan tinggi melajukan mobilnya agar cepat sampai ke rumah.
"Orihime!" teriak Ichigo panik berlarian di koridor rumah.
Mambuka pintu kamar paksa, Ichigo berjalan panik menghampiri sang istri di ranjang dimana seorang pria bersurai putih, dokter pribadi keluarganya tengah memeriksa keadaan Orihime ditemani dua orang pelayan wanita.
"Bagaimana keadaan Orihime? Apakah dia dan bayinya tidak apa-apa?" tanya Ichigo panik menghampiri dokter pribadinya.
Raut wajah Ukitake yang terlihat cemas membuat perasaannya sedikit tak enak, "Apakah selama ini dia makan dengan baik dan tidak mengalami stress ataupun tekanan berat?" tanya Ukitake dingin.
Ichigo terdiam ragu untuk menjawab tidak karena bukan tak mungkin Orihime mengalami stress atau tekanan di rumah karena selalu dilarang ke luar rumah ataupun melakukan sesuatu, "Mungkin saja"
Ukitake menghela nafas panjang, "Kandungan Orihime sangat rentan mengalami keguguran apalagi usianya baru memasuki minggu ke tujuh dimana di usia itu para ibu hamil rentan akan mengalami keguguran, walau faktor stress tidak secara langsung menyebabkan keguguran namun saat seorang ibu hamil mengalami stress maka dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormonal yang bisa menyebabkan kehamilan semakin lemah, terlebih Orihime menderita anemia defisiensi besi membuat kemungkinan itu bisa saja terjadi," Ukitake memperingatkan Ichigo akan dampak bahaya dari stress yang dialami Orihime karena sangat mempengaruhi janinnya.
"Ya, akan aku usahakan untuk menjaganya dengan baik,"
"Lalu aku lihat tubuh Orihime pun terlihat sedikit lebih kurus, tidak ada tanda-tanda bobot tubuhnya naik walau hanya satu kilo dan itu sangat tidak baik untuk perkembangan janinnya, aku harap kau memperhatikan keadaan istrimu jika tak mau terjadi apa-apa dengan bayi kalian," ujarnya memberi saran.
"Ya, akan aku pastikan lebih memperhatikan Orihime."
"Aku sudah menuliskan resep vitamin serta obat untuk Orihime, dan kau bisa membelinya di apotek, dan ingat kau harus memastikan Orihime meminumnya hingga habis."
"Ya, terima kasih atas bantuannya. Fuyumi akan mengantar anda sampai ke depan."
Salah seorang pelayan wanita berjalan di depan Ukitake mengantarkan dokter tampan ini sampai ke pintu depan dimana mobil miliknya terparkir disana.
Ichigo belum membolehkan satu pelayan lagi yang ikut menemani Orihime tadi pergi, dirinya ingin menanyakan apa penyebab istrinya bisa sampai jatuh pingsan, "Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Orihime bisa jatuh pingsan?" tanya Ichigo dingin.
"Nona muda jatuh pingsan saat menonton salah satu acara gosip," jawab sang pelayan jujur seraya menunduk takut menatap wajah marah Ichigo.
"Apa?!" seru Ichigo.
"Ma-mafkan kami Tuan muda karena..."
"Sudahlah jangan diteruskan lagi, kau keluar saja dan suruh koki membuatkan bubur tapi jangan dicampurkan daging ataupun telur karena Nona muda pasti mual jika mencium aromanya," sela Ichigo dingin.
"Baik Tuan muda."
Suasana di dalam kamar nampak hening hanya ada Ichigo yang duduk disamping ranjang memandang sendu wajah Orihime yang terbaring lemah tak sadarkan diri. Hampir saja jantung Ichigo tadi copot mendengar kabar dari pelayan kalau istrinya itu jatuh pingsan, ketakutan akan kehilangan sang buah hati serta Orihime terus menghantui pikirannya tapi syukurlah dokter mengatakan kalau keduanya baik-baik saja.
Ichigo membelai lembut wajah sang istri, ada perasaan kesal, marah sekaligus sedih bercampur aduk menjadi satu di hati karena pastinya Orihime sudah mendengar berita mengenai dirinya diluar sana pantas saja jika merasa syok. Bagaimanapun caranya akan Ichigo buat orang-orang diluar sana bungkam tidak membicarakan lagi mengenai Orihime, sekalipun itu harus menggunakan cara kejam dirinya tak peduli sama sekali.
"Akan aku kulindungi kalian berdua." Ichigo mengecup lembut kening Orihime.
TBC
A/N : Pertaman-tama saya ingin mengucapkan 'Happy New Year 2018' walaupun sudah telat beberapa hari^^
Maaf saya baru melanjutkan kembali Fic ini dan kelanjutannya sedang dalam pengetikan tapi tidak bisa janji cepat.
Big Thank's to : Febri593,Hannie222,clarity2k17,titikandriyani,safira1718,INOcent cassiopeia,rizki28,Me,hime yamanaka, NN,uchiha wulan,soya,Aya hangeng, indradragneel,wariwaro2017,Shona Namikaze,ade854 II,Novallia Aprilia.
Terima kasih banyak yang sudah memberikan Riview, semangat bahkan menagih untuk publish. Maaf jika kelanjutannya tidak sesuai harapan, atau alur ceritanya semakin membosankan#Bungkuk badan dalam-dalam.
Ogami Benjiro II
