[Kemana wajah penuh kepalsuan itu pergi? Kini, hanya pedih tersisa..]

.

"Hyung, aku ingin memelihara banyak ikan nemo!"

Sang hyung mengernyit, mendengar permintaan saudara kecil yang kini tengah dalam pangkuannya. "Apakah bantal, boneka, tas, baju dan segala barang milikmu yang bercorak nemo ini tak cukup, Hae? Hyung sudah habiskan tabungan hyung untuk ini semua.."

Sang adik, yang nyatanya adalah Donghae di usia kecilnya saat itu, hanya memajukan bibirnya kesal. Merajuk, kala permintaannya terlihat tak akan terpenuhi. "Tapi aku ingin nemo yang hidup!" ujarnya, memohon.

"Kita tak punya akuarium untuk mereka tinggal, Hae. Hyung belum bisa membelikannya untukmu saat ini.."

"Lalu kapan?"

"Suatu hari nanti.."

[CHAPTER 10]

.

"Kau menyesal, lebih memilih menyelamatkan aku, hyung?"

Sepi menyapa, selepas kalimat itu terucap, dari mulut Donghae, meski dengan keterbatasan dirinya, untuk menggerakkan mulutnya lebih leluasa. Bahkan setiap tarikan nafas, akan menyakiti dirinya. "Bagaimana jika Siwon hyung melakukan hal buruk pada Kyuhyun?"

"Tidak akan.."

Donghae menggeliat dalam tidurnya. Ia bergerak menyamping, ketika batuk keras, kembali terjadi. Batuk yang tak singkat, terus menerus menyisakan tenggorokannya yang perih luar biasa. Ia juga nampak lelah dengan itu. Meski usapan demi usapan, ia dapatkan di punggungnya.

"Jangan banyak berfikir, Hae. Kau harus pulih.."

Inilah seorang Leeteuk yang ternyata menjaganya. Leeteuk yang memutuskan untuk terlebih dulu menyelamatkan dirinya, lantas membiarkan Kyuhyun berada di antara kesulitannya, mungkin. Dan ini? Sama sekali tak membuat Donghae bahagia. Ia menangis sejak kesadarannya hadir, dan mendengar apa yang terjadi. Tak ia pikirkan, dari sisi Leeteuk yang sama sepertinya sebenarnya. Berada di ambang kebingungan. Selain karena keberadaan Siwon yang membawa adiknya, iapun berfikir, tentang Donghae, yang juga sudah ia anggap sebagai saudaranya..

"Bronchitis kronis, ia mengidap itu.."

"Apa dia akan baik-baik saja?"

"Tentu, jika kita tetap mengawasi dan menjaganya dengan baik.."

"Tapi ini tidak serius kan?"

"Jangan menganggap ini mudah, Leeteuk-si. Saluran pernafasannya terinfeksi. Sepertinya kami masih bisa mengatasinya dengan antibiotik yang ada. Dia bisa dirawat dirumah dengan catatan, buat ruangannya sehangat mungkin. Jangan biarkan dia keluar rumah di malam hari, dan hindarkan dia dari debu, asap, dan semacamnya.."

Pergerakan Donghae, membuat Leeteuk tersadar, dan ia tatap Donghae yang telah dapat menahan batuknya. "Apa dingin? Biar hyung tambah lagi selimutnya?"

Donghae menggeleng pelan, lantas mencoba terduduk. "Hyung, mengapa kau tidak mencari Kyuhyun saja? Aku bisa sendiri.." tanya Donghae tiba-tiba. "Tak sepantasnya kau lebih memikirkanku, daripada Kyuhyun. Aku tak ingin terjadi kesalah pahaman disini, hyung.."

"Donghae.."

"Kenapa tak mencoba menukar kami saja, hyung?"

"Aku tak akan melepasmu, Hae. Tidak akan!"

Donghae mengerutkan keningnya. "Kalaupun aku harus mati, antar saja mayatku padanya," ucap Donghae kemudian. "Aku ingin tahu, bagaimana Siwon hyung, bila aku mati?" tuturnya pedih. "Kuharap ia akan menyesalinya.."

Leeteuk bangkit dengan cepat. Bahkan terlihat kasar. Ia marah? Mungkin Donghaepun berfikir demikian, karena ia mendengar Leeteuk yang berkata, "baiklah jika itu maumu. Aku akan mencari Kyuhyun tapi, aku tak ingin mendengar kau mengatakan hal yang macam-macam! Kau baik-baik saja! Kupastikan tak akan terjadi sesuatu yang buruk padamu!"

Blam.

Bagi Donghae, wajar jikapun Leeteuk menjadi semarah itu. Dan Donghae, berusaha tersenyum di antara tangisnya. Ia sandarkan tubuhnya pada kepala ranjang, membiarkan matanya terpejam, hingga dirinya masuk ke dalam mimpinya, terlelap. Ia begitu lelah..

...

"Tsk, kau tak tahu malu!"

Kyuhyun, berucap dalam marah yang luar biasa sambil tak hentinya menatap tajam pada seorang yang telah menculik dirinya, dan kini bahkan mengikat tubuhnya. Ia terus saja menggerutu marah, sedang Siwon? Sebagai penculik dirinya, tak memberi tanggapan berarti, membuatnya semakin kesal.

Ruangan yang sama, yang pernah ditempati Kyuhyun, kini tengah di tempatinya kembali. Ruangan yang ia tahu sekarang, itu adalah milik Donghae, sedang Donghae, mungkin saja tengah bersenang-senang di kamar yang seharusnya menjadi miliknya. Membuatnya geram terlebih Siwon berkata..

"Ini semakin menunjukkan bahwa, Leeteuk hyung sudah benar-benar menganggap Donghae sebagai adiknya.."

"..."

"Lihat? Mana? Bahkan Leeteuk belum mencarimu, kan?" ucap Siwon, memanasi mangsanya, hingga dapat ia lihat, mata Kyuhyun membulat menatapnya tajam, tak berkedip.

"Tak akan kubiarkan kalian mengambil sedikitpun milik kami. Tidak akan!" teriaknya, keras dan semakin keras, mengumpati Siwon, yang malah berlalu, mengurung dirinya di dalam sana seorang diri. "HEY!" teriaknya, setelah hanya kegelapan yang tersisa. Ruang redup yang nampak dingin baginya.

"Brengsek!" umpat Kyuhyun untuk terakhir kalinya, setelah ia tendang nakas kecil di sampingnya, lantas membaringkan tubuhnya yang terikat, sambil mendengus sebal. Lantas setelahnya? Ia tatap langit-langit ruangan itu, dengan setetes air mata yang keluar dari sudut matanya. Ia bergumam,

"Hyung, aku tak akan memaafkanmu!" tuturnya. Tapi, untuk siapa?

...

"Apa yang tengah kau urus?"

Leeteuk menoleh, mendapati Kibum yang lalu terduduk tepat di hadapannya. Bergabung bersamanya di ruang kerjanya, tepat di meja kerjanya. Memang ia tengah berkutat disana, dengan beberapa lembar kertas resmi yang ia ambil-simpan-ambil-simpan dan begitu terus, terlihat membolak-balikkan kertas-kertas itu. Tak lupa ia menyahut Kibum, berkata "aku sedang berusaha memilah, mana yang sebaiknya kuberikan pada mereka."

"Hyung," Kibum menyela dalam keterkejutannya, tentu saja. Leeteuk berkata, seolah apa yang ia ucap itu adalah perkara mudah. Benarkah? Pikir Kibum. Leeteuk berencana akan membagi hartanya!

"Ada apa Kibumie?" tanya Leeteuk heran.

"Kau serius? Kau.."

"Aku tak main-main, Kibumie! Anggaplah ini untuk menebus Kyuhyun dan juga," Leeteuk memberi jeda pada ucapannya. "Untuk Donghae.."

"Hyung.." Kibum, seolah tak percaya dengan apa yang di dengarnya. "Sebaiknya kita pikirkan cara terbaik. Jalan lain?" tawar Kibum, berusaha mengajak Leeteuk untuk menemukan solusi lain.

"Sudah tak sempat, Kibumie. Kyuhyun, sudah berada bersama Siwon sekarang. Kau pikir, apa yang bisa kita lakukan? Oh! Jangan bilang kau akan melaporkan ini pada polisi!"

"Tidak hyung.."

"Kalau begitu, bergegaslah. Kau sudah tahu, dimana mereka, Kibumie?"

"Tak ada kabar sama sekali hyung.." keluh Kibum. "Apa mungkin Siwon membawa Kyuhyun ke Busan? Rumahnya di Busan?" Keduanya diam, dan nampak berfikir, hingga Kibum kembali mendapat titik terang. "Aku akan menghubungi seseorang disana. Apa kita akan pergi malam ini juga? Donghae hyung?"

"Dia yang menyuruhku pergi. Aku akan tanyakan kembali, sambil meminta tanda tangannya untuk sebagian surat saham ini.."

"Kau yakin?"

"Ya.."

...

Donghae masih terlelap kala Leeteuk datang kembali. Namun sayang, tak bisa ia katakan Donghae tidur dengan tenang. Bocah itu, terlelap dalam sakitnya. Bernafas cepat seolah lelah. Perlahan, dibenahinya selimut Donghae, lantas ia usap helaian rambut di kening Donghae, semakin jelas menampakkan wajah tak bersinar itu lagi.

"Apa sebaiknya kau kembali dirawat?" keluh Leeteuk, nampak menggumam.

Wajar! pikir Leeteuk. Wajar, jikapun Donghae tumbang pada akhirnya. Anak ini, memendam pedihnya seorang diri, dalam kurun waktu yang lama. Benar bukan? Bahkan mungkin saja, batinnya turut sakit? Jiwanya? Donghae tak gilapun, sepertinya sudah merupakan sebuah keberuntungan.

Tak lama Leeteuk merenung, ia lihat pergerakan tangan Donghae. Donghae yang telah kembali membuka matanya. "Hyung.."

Leeteuk berikan senyum terbaik, sebagai balasan yang ia berikan pada sang adik. Belum sampai berjam-jam sebenarnya ia meninggalkan Donghae namun, ia merasa tak kuasa untuk meninggalkannya terlalu lama. Seolah takut, akan terjadi hal buruk padanya, atau sang adik akan menghilang darinya?

Perlahan Leeteuk genggam jemari Donghae, lantas dengan hati-hati, ia sodorkan beberapa lembar kertas penting pada Donghae, membuat Donghae mengernyit mendapatinya. "Ini.."

"Agar semua selesai, tanpa harus kita saling menyakiti, Hae. Ia ingin ini menjadi milikmu.."

"Tidak!" tolak Donghae mutlak. Ia menjadi tersadar seutuhnya, lantas menepis kertas-kertas tersebut. "Aku tak akan melakukannya! Tidak akan pernah, hyung! Itu bukan milikku!" raung Donghae tanpa sadar.

"Donghae, dengarkan aku.." lirih Leeteuk, berusaha menenangkan Donghae. "Ini tak seberapa penting bagiku, di banding kalian. Kumohon. Setidaknya kau pikirkan Kyuhyun yang kini berada di tangan hyungmu.."

Donghae melemah, melihat Leetuk yang memohon. Ia, tak suka melihatnya. Tidaklah pantas, bagi seorang Leeteuk untuk memohon. Donghae membencinya, hingga ia raih kertas-kertas itu namun, "sebaiknya aku ikut bersamamu, hyung.."

Leeteuk termenung. "Aku tak bisa membawamu ke sana. Kondisimu? Busan bukanlah tempat yang dekat, Hae!" terang Leeteuk, mencoba memberikan penolakan halus, berupa bujukan. Namun itu seolah tak berarti. Donghae menggeleng keras dengan tatapan tegasnya.

"Aku harus bicara pada Siwon hyung. Aku harus menghentikannya.."

"Donghae.."

Genggaman erat terjalin, dari Donghae, untuk Leeteuk yang kini menatapnya ragu. Penuh akan rasa hawatir yang dalam. Namun Donghae yakin, "aku akan baik-baik saja! Aku berjanji padamu.."

"..."

Hampir satu menit Leeteuk diam untuk berfikir, hingga ditatapnya Donghae untuk kesekian kalinya. Bahkan wajah itu tak berwarna. Bahkan, suhu tubuhnya saja, tak bisa dikatakan baik-baik saja. Namun, tatapan mata Donghae yang terpancar, membuatnya yakin, untuk segera beranjak, dan berucap, "akan kusiapkan selimut untukmu, juga perlengkapan yang lain," membuat Donghae tersenyum pada akhirnya.

...

"Bagaimana kita bisa makan hari ini?"

"Mengapa selimutnya bisa basah hyung? Kita tidur tanpa selimut? Yang benar saja!"

"Kyuhyunie! Kau yang bernyanyi, biar aku yang memainkan gitarnya. Kita mencari uang?"

"Ajari aku juga bermain gitar hyung, hey! Donghae!"

Kyuhyun, tengah termenung di antara hening dan dingin yang setia menemaninya dalam waktu berpuluh jam ini. Entahlah, satu hari? Dua hari? Kyuhyun bahkan melupakannya. Ia sendiri, tengah pada kondisi yang buruk. Bayangkan Siwon benar-benar menyekapnya, tanpa makanan? Ah! Itu bukan menjadi masalahnya saat ini. Nampaknya, ia telah kenyang oleh emosinya sendiri, yang begitu mengurung diri dan juga otaknya, seolah tak mampu ia mengusir rasa benci itu.

Di atas ranjang itu, Kyuhyun terdiam, hingga akhirnya menggulingkan dirinya, menjadi telungkup, membuat lengannya sakit. Siwon, mengikat kedua tangannya, menahannya di belakang tubuhnya sendiri. Tak ada niat, bagi Kyuhyun untuk mencari sesuatu yang dapat membebaskan dirinya. Karena..

"Aku ingin tahu, sampai kapan kau akan berdiam disana, huh? Menanti kabar kematian adikmu sendiri? Sedang dia yang orang lain begitu kau bela!"

Kyuhyun bernafas lembut, seiring dengan tubuhnya yang turut melemah. Hembusan nafas yang menyentuh sprei yang tengah dihuninya, bersamaan dengan uraian air mata yang perlahan jatuh, dari kedua matanya.

"Hyung.." ujarnya dalam getar.

"Tolong aku," ucapnya pelan, dalam sebuah isakan. Hanya ia sendiri yang mampu mendengarnya. Keluhannya? Ya, itu benar. Keluhan manja, yang ia lontarkan pada hyung yang entah dimana. Lalu setelahnya?

"Donghae bukan siapa-siapa!" ujarnya tajam. "Ia tak berhak menerima semuanya!" dan lalu? "Aku tak akan memafkannya. Ti, tidak akan pernah!" ungkapnya disertai tangis pilu kemudian, memenuhi seisi ruangan. Semarah inikah ia terhadap seorang Donghae?

...

Leeteuk tak sedikitpun melepas pelukannya pada Donghae, yang kini terbalut selimut tebal. Ia sandarkan kepala Donghae di dadanya, disertai usapan-usapan lembut yang ia berikan pada Donghae., mengurut dada sang adik, semenjak Donghae, kembali terlihat kesulitan saat mengambil nafasnya. Ini buruk! Padahal, sebelumnya Donghae telah membaik.

Di sisi lain, Kibumpun sebenarnya, terlihat was-was kala melihat Leeteuk menggendong Donghae, turun dari tangga, membuktikan perkataannya bahwa, Donghae akan benar-benar ikut ke Busan. Tapi sekarang? Kecemasan itu menjadi nyata. Bahkan belum menapaki enam puluh menit mereka meninggalkan kediaman mereka.

"Hyung, apa dia akan baik-baik saja? Tidakkah kita harus menunda kepergian ini?"

Mendengar perkataan Kibum, Donghae lantas menggeliat dan berusaha sedikit membuka matanya. "Jangan lakukan itu, Kibumie!" bantahnya, dalam gumaman tajam. "Kyuhyun tak bisa menunggu lebih lama.." lirihnya.

Kibum hela nafasnya dalam, begitupun Leeteuk yang tengah memutar otak, untuk melakukan sesuatu yang terbaik. "Dengar, Hae! Hyung akan membawamu ke rumah sakit saja, ya?" bujuknya.

"Tidak bisa.." tolak Donghae, menggeleng yakin.

"Tapi.."

"Biarkan aku ikut!" sentak Donghae kemudian, dengan sisa tenaganya, hingga setelahnya, ia mengerang dalam pelukan Leeteuk sambil berusaha menarik nafasnya. Sulit, namun? Tak cukup mampu mematahkan egonya. "Aku harus ikut.."

Sama hal dengan Kibum, Leeteuk terlihat membuang kasar nafasnya. "Baiklah," tuturnya, semakin merapatkan selimut di tubuh sang adik. "Kau tidur saja. Hyung akan bangunkan kau setelah sampai.."

Donghae mengangguk pelan. Tak ingin ia sia-siakan kesempatan ini. Berusaha keras ia tahan lenguhan sakitnya. Berusaha menahan rasa sakit pada dadanya, di tiap ia menarik nafasnya. Perlahan, dengan hati-hati dan penuh kesabaran ia tarik tiap nafasnya, meski tak dirasanya, jemarinya meremas kuat selimut di tubuhnya. Ia hanya berharap, semoga semua baik-baik saja, setidaknya setelah ia melihat saudara kandungnya. Dan ia? Segera menutup matanya, berusaha melupakan sakit itu.

Leeteukpun tahu, meski ia berusaha menutupi raut hawatirnya, dan hanya mampu menatap Kibum yang tengah mengemudi di depan sana. Kibum? Kibum yang sama, memiliki perasaan takut yang sama, hingga ia percepat laju mobilnya.

Semuanya, berharap yang terbaik tentu saja..

...

Jauh dari bayangan siapapun. Seorang Choi Siwon, tengah menggoyangkan gelas bening di tangannya. Membuat cairan hitam di dalamnya bergoyang perlahan. Kedua ujung bibirnya, tertarik, membentuk sebuah ukiran indah disana. Berupa senyuman, dengan kepuasan penuh yang tersaji dari wajahnya tersebut.

Ia tengah memandang lekat, pada permukaan bening yang mengantarnya pada kehidupan air, yang dihuni beberapa ikan yang tengah berenang disana. Bergerak, bahagia di antara tatanan rapih yang nampak bagai kehidupannya di bawah laut yang sebenarnya. Beberapa karang berserta tumbuhan laut yang turut hadir disana.

Sebuah aquarium?

Benar!

Siwon tengah menatap bangga pada aquarium yang terlihat baru, bila dilihat dari dinding-dinding kacanya yang bening, dengan isi yang masih bersih dan segar. Tak ia biarkan permukaan kacanya kotor sekalipun. Setitik noda? Ia usap dengan ujung kain bajunya. Bahkan..

Terdapat sebuah pita di sudut luar kaca tersebut. Ia benahi letak pita yang menempel itu, lalu berkata, "hyung akan segera menjemputmu, Hae. Akan kupenuhi janjiku," dengan senyum yang terlihat agak ganjil.

...

Terasa lama, bagi Kibum yang berusaha untuk tak lelah, tetap fokus pada jalanan yang dilaluinya. Sesekali ia mendengar Leeteuk yang berbisik, padanya, atau pada Donghae yang terlelap. Miris jika ia dengar beberapa tuturan kata Leeteuk. Berkata, "kita akan segera sampai," atau "kau akan baik-baik saja," juga, "semua akan segera selesai.."

Bintang bertabur di langit sana. Mereka tengah menapaki malam yang dingin, di antara tegang yang semakin menyerang. Melewati tiap inci jalanan yang begitu panjang, bahkan seolah tak ingin berakhir. Di temani debaran jantung yang kian berdetak, semakin kencang, menambah tak nyaman, menemani tiap aliran keringat yang menetes, dari tiap pori seorang Donghae, yang kian menggigil dalam dekapan sang hyung.

"Ini?"

Leeteuk menatap takjub pada kediaman yang tengah ia kunjungi. Begitu tenang, senyap tanpa kebisingan. Dia tersadar, lantas melirik Donghae yang terlelap di bahunya. Di dekatkan wajahnya, mencoba merasakan hembusan nafas Donghae. Hawatir, nafas itu tak lagi berhembus namun, satu helaan nafas, mengutarakan sebuah kelegaan darinya. Donghae, bernafas. Ia tertidur lelap nampaknya.

"Kibumie, aku sudah pikirkan, bagaimana agar Donghae, tetap bersama kita," ungkap Leeteuk pelan.

"Huh?"

"Jika Siwon benar-benar menginginkan harta ini, maka ia akan berani bahkan melepas Donghae.."

"..."

"Tak perlu tanda tangan Donghae! Kita berikan ini semua, utuh menjadi miliknya.."

"Kau yakin?"

"Ya. Dan kita, tak harus membawa Donghae masuk. Biarkan saja ia tidur disini.."

...

Satu remasan terjadi, pada sebuah tirai yang kini tertutup kembali. Sosok itu mendengus sebal, menahan emosinya yang meluap. Ditatapnya jam, yang menunjukkan tepat pukul 3 dini hari. Terlalu dini nampaknya namun, sesungguhnya ia tak tertidur sama sekali, hingga dapat menangkap dengan jelas, suara deru mesin di halaman rumahnya.

"Sial!" umpatnya. "Mereka mendahuluiku!"

Ia bergegas mengunjungi kamarnya, yang tak jauh dari tempatnya semula. Tempat dimana terletak, aquarium bersama ikan-ikan baru miliknya. Ikan darinya, Choi Siwon, untuk saudara kandungnya, Donghae.

Dibukanya laci di dalam lemari pakaiannya, lantas, ia tarik sebuah senjata api yang lalu ia simpan di dalam saku jaketnya. Ia? Kembali, untuk menyambut tamunya sepertinya..

Tak lama. Hanya butuh dua menit bagi tamunya, untuk berjalan dari halaman depan, hingga tepat berada di ambang pintunya, dan lalu menekan bel rumahnya. 'Masih memiliki sikap santun, eoh?' batin Siwon, tersenyum meremehkan, dan lantas menghampiri pintu.

"Siwonie.."

Siwon, belum mampu membuka pintu seutuhnya. Ia tampakkan wajahnya, menatap seseorang yang baru saja menyapanya. "Sudah kau pikirkan, hyung? Jika belum, aku tak akan membuka pintu ini, dan juga tak akan kuberikan Kyuhyun padamu!" bisiknya.

"Beginikah sikapmu terhadap tamu, huh?"

Siwon mengangkat satu ujung bibirnya. Menampakkan lengkungan senyum yang menyebalkan. "Aku tak ingin berbasa-basi!" decaknya.

Leeteuk mencoba bersabar. Ia segera tarik nafasnya dalam, guna meredam rasa kesalnya. "Sudah! Buka pintunya! Akan kuberikan semuanya padamu!" desak Leeteuk.

Siwon membuka lebar pintunya, mempersilahkan Leeteuk, yang datang bersama Kibum. Mereka menapaki lantai yang dingin itu, dalam diam, hingga Siwon nampak mengerutkan keningnya. Satu hal yang ia ingat, "dimana Donghae?"

Leeteuk diam. Ia tatap Kibum lama, berbagi rasa ragu dan takut yang kian menyerang. "Untuk apa kau menanyakannya, huh? Kupikir kau tak butuh dia lagi setelah semua kau dapatkan! Cukup sudah kau memperalatnya! Ia, akan tetap bersamaku.."

Sangat jauh, dari apa yang dipikirkan Leeteuk, karena, "kau pikir untuk apa? Untuk siapa aku melakukan semua ini?" Siwon mengatakan hal yang sangat di luar dugaan. Baik itu Kibum, dan Leeteuk tertegun, mengetahui ambisi seorang Siwon yang nyatanya, untuk saudaranya, Donghae. Benarkah?

Brak!

Satu gebrakan mengejutkan keduanya. "Katakan dimana Donghae, atau tak akan kuberikan kembali Kyuhyun pada kalian!" teriak Siwon pada akhirnya, di pagi buta tersebut.

"Donghae hyung, tak akan mungkin lagi mau datang padamu," sela Kibum, hingga suara bunyi terdengar setelahnya. Siwon? Mengangkat senjatanya, lurus mengarah pada Kibum.

Leeteuk menegang. Bukan seperti itu yang ia harapkan sebenarnya. "Siwonie jangan lakukan itu! Kita bisa menyelesikannya baik-baik. Aku sudah berikan apa yang kau mau, bukan?"

"Apalah artinya tanpa Donghae!" potong Siwon, berteriak kencang, disusul dengan perdebatan lainnya.

Teriakan yang juga sampai, hingga di dua tempat berbeda. Membangunkan Donghae, yang tengah terlelap dan sadar, dimana dia kini. Sebuah haru tergambar di matanya, memandang pada halaman dimana mobilnya terparkir kini. Ia hafal. Tentu, itu adalah kediamannya, bukan?

Rumah yang bahkan, sudah lama tak ia kunjungi. Perlahan ia menapakkan kakinya disana. Nafasnya memburu, menahan segala rasa yang kini beradu di otaknya, menghantam jiwanya. Perdebatan di ruang depan itu juga jelas. Sangat jelas, begitupun Kyuhyun yang tersekap di ruangan lain.

Kyuhyun yang lantas tersenyum, mendengar suara Leeteuk di luar sana. Ia tersenyum getir, lantas bergumam, "aku tahu, kau tak akan membiarkanku begitu saja, hyung.."

Suara langkah mulai terdengar. Kyuhyun mendengarnya dengan jelas, hingga pintu ruangan yang menyekapnya itu terbuka. Namun sayang, bukan pelukan haru yang dia dapat, melainkan sebuah seretan paksa.

Jadi? Belum berakhirkah?

...

"Beritahu aku, dimana Donghae, dan kulepaskan Kyuhyun! Sudah kubilang, aku ingin semua harta itu menjadi miliknya!"

Tes..

Satu tetes air mata meluncur, dari sepasang mata milik dia, yang kini tengah berdiri, di dinding dekat pintu, dan masih belum mampu menampakkan dirinya. Hanya tangisan dalam diam, hembusan nafas berat, di sertai kepalan erat pada kedua tangannya.

"Dimana Donghae? atau.."

"AKH!"

Ia pejamkan rapat kedua matanya. Teriakan demi teriakan yang ia dengar dari dalam, lantas menyadarkannya untuk segera tersenyum, dalam pahit yang pekat, menyentuhnya. Namanya, terdengar disebut-sebut, dan mengalun indah dari dalam sana. Haruskah ia bahagia?

Bahagiakah Donghae?

Patut ia berbahagia, setelah mendengar betapa saudaranya selama ini menyayanginya, melebihi apa yang ia pikir. Melakukan hal gila hanya untuk dirinya? Membahagiakan dirinya? Meski, tetap menjadi sebuah rasa miris, kala mengingat, Siwon melukai orang lain untuk dirinya.

"Jangan lukai Kyuhyun!"

Suara Leeteuk turut terdengar olehnya. Donghae, bisa menggambarkan situasi di dalam sana. Membuat hatinya kembali bergetar. Dadanya terasa sesak. Seolah membenarkan, kalimat itu menohok dirinya. Donghae, tak ingin terlalu lama membiarkan itu, lantas mulai berbaur, dengan kalimat pertama yang membuatnya semuanya diam.

"Aku disini, hyung.." tubuh lemah itu bergerak perlahan, mendekat ke arah dimana Siwon berada, dengan tangannya yang tengah memenjarakan Kyuhyun yang menangis. Menangis, dengan ujung pistol tepat di dahinya. Anak itu bergetar ketakutan. Donghae dapat melihatnya dan sesungguhnya, iapun takut.

"Jangan mendekat, Hae.."

Donghae tersenyum, menyadari Leeteuk berbisik ke arahnya. Mengapa tak boleh mendekat? Siwon hanya ingin dirinya bukan? Hanya dirinya. Dilihatnya sejenak Leeteuk dan Kibum yang memandangnya resah. Kibum yang sebenarnya, tengah turut mengacungkan pistolnya ke arah Siwon. Semua kini nampak jelas baginya. Ia lihat, beberapa lembar kertas di atas meja, tak jauh dari mereka.

"Hyung, apa yang harus kulakukan?" lirihnya sambil menunduk dalam.

Leeteuk menjadi mengerti, dan tersenyum. Ia serahkan sebuah pulpen ke arah Donghae. "Lakukan yang terbaik.."

Sepertinya, kembali pada rencana awal. Terpaksa Leeteuk merelakan itu semua, hingga Donghae, torehkan tanda tangannya disana. Anak itu berusaha tegar, hingga ia kembali bangkit dan mendekat ke arah Siwon. "Ini sudah menjadi milikku, hyung. Kau senang? Sekarang apa lagi yang kau mau?" tutur Donghae, di sertai batuk setelahnya. Ini saja? Membuat Leeteuk berdiri gelisah di ujung sana.

Sementara Siwon, tersenyum senang, lantas mulai melepas Kyuhyun dari genggamannya. Ia sambut Donghae. "Kita akan merayakannya bersama, Hae. Kita akan segera pergi dari Korea. Kita.."

"Bisa semudah itu, huh?!"

"Kyuhyun!"

Semua terjadi begitu cepat, tanpa sepengetahuan Donghae dan Siwon yang tengah berbahagia. Kibum tercekat kala Kyuhyun merebut pistol di tangannya, begitupun Leeteuk yang berusaha mendekat. Keadaan berubah tegang, terlebih Kyuhyun, menyeringai di balik kedua tangannya yang mengangkat senjata, mengarahkannya lurus, pada Donghae yang terpaku di tempatnya.

Hening..

1 detik..

5 detik..

Beranjak di dua puluh detik berikutnya, Donghae bergumam "Kyu," dalam tangisnya. Ia tak banyak berulah, hanya memanggil nama Kyuhyun dalam sesalnya, merasa mungkin, itu adalah penyesalan terakhirnya pada Kyuhyun yang ia tahu, tengah merasa kecewa padanya.

"Jangan Kyu, turunkan senjatamu, hyung mohon.." ungkap Leeteuk sabar. Sesungguhnya ia merasa kesal, karena ulah Kyuhyun, yang hanya mengangkat egonya, rencanapun menjadi rusak.

"Kau pikir aku akan membiarkan mereka memiliki apa yang seharusnya bukan milik mereka, hyung? Tidak akan pernah!" marah Kyuhyun, meraung dengan wajah memerah, menahan tangis. Ditatapnya Donghae, yang membuat hatinya melemah.

"Jangan! Turunkan senjata itu, Kyuhyun!" timpal Kibum, dengan mata menyipit, menyelidiki pergerakan tangan seorang Siwon yang tengah mengenggam senjata. Ia harus mampu menebak apa yang terjadi. Ia, berusaha menghentikan, jika saja..

Dor!

Dor!

Dua letusan keras terjadi tanpa dapat dicegah. Leeteuk dan Kibum mematung dengan mata membulat, sedang Donghae, masih menutup rapat kedua matanya, dan perlahan, membukanya. Di teguknya ludahnya dengan agak sulit. Jemarinya mengepal, dengan getaran di kakinya. Setelahnya, iapun mematung..

Kyuhyun menekuk lututnya, sambil meremas dadanya, yang mengucurkan darah dengan deras. Ternyata, dari dua peluru yang meletus dari tempatnya, satu, salah satunya bersarang di dada kanan Kyuhyun. Ia belum menutup matanya, meski itu tak berlangsung lama. Mata itu, tertutup perlahan dengan tubuh yang mulai menyentuh lantai seutuhnya.

Raunganpun terdengar selanjutnya. Dari Leeteuk yang memekikkan nama Kyuhyun, menghampirinya bersama Kibum, dan mencoba membopongnya tanpa ingat apapun.

Donghae, Donghae masih terpaku di tempatnya. Sinar wajahnya meredup. Nafasnya terlihat tak menentu. Ia terlihat bingung, hingga saat membalikkan tubuhnya, dilihatnya darah mengucur dari salah satu kaki Siwon. Nampaknya, satu peluru tadi, melesak disana.

"Donghae-ya.." lirih Siwon, menatap keganjalan yang terjadi pada sang adik. Ia masih sadar, meski rasa sakit itu kian menjadi menyerang dirinya.

"Hyung, mengapa kau melakukannya?" lirih Donghae, sambil meremas lembaran kertas penting di tangannya. "Kau melukai Kyuhyun!"

"Donghae.."

"Aku," ujar Donghae, semakin dan semakin bergetar dengan tangis yang perlahan terurai. "Aku membencimu! Aku membencimu!"

Siwon tertohok dengan kata itu. Wajahnya, mengenyit lebih sakit selepas Donghae mengutarakan kata tersebut. Ia, menangis kemudian dengan penyesalan yang ada.

Inilah saatnya, bagi Donghae untuk memilih, mana? Dimana ia berpihak kini? Dan seharusnya bukan menjadi rahasia. Setelah Donghae robek kertas di tangannya, dengan tatapan tajam yang ia berikan pada sang hyung. Disusul satu teriakan terakhir, "aku membencimu!" lantas Donghae, berlari keluar, meninggalkan Siwon yang hanya menangis seorang diri, di antara darah yang kian mengalir.

"Donghae, maafkan aku.."

...

Begitu ramai. Tepat di depan pintu menuju ruang ICU, Leeteuk berdiri gusar. Ada beberapa tim medis yang berlalu lalang, sibuk dengan alat medis yang tak ia ketahui. Satu yang jelas, darah! Darah yang ia yakin, itu milik Kyuhyun. Bahkan sebagian, masih menempel di kulit tangannya.

"Hyung. dingin.."

Keluhan Kyuhyun beberapa waktu lalu, saat dalam perjalanan menuju rumah sakit, kembali terngiang. Keluhan yang terlontar, dari bibir yang bahkan memuntahkan darah, membuatnya panik seketika.

"Sakit.."

Tangisan tak terbendung. Ia menangis mengingatnya. Tak sanggup bahkan ia terduduk tenang di kursi tunggu yang ada disana. Ia terisak pedih, menatap cemas ke arah pintu. Hingga satu tepukan ia rasa, dan Kibum hadir di sampingnya. "Dia akan baik-baik saja, hyung. Kau jangan terlalu cemas.."

Leeteuk mendesah. "Bagaimana aku bisa tenang, Kibumie!" ungkapnya. "Aku bahkan tak dapat menolongnya, padahal ini kesempatanku untuk menolongnya. Aku, aku bersalah padanya!" tutur Leeteuk.

Kibum mengangguk memaklumi. Ia sadar sepenuhnya, akan perasaan Leeteuk. Begitu cemas. Ia sendiri tahu, sebanyak apa Kyuhyun mengeluarkan darah dari luka itu, bahkan dari mulutnya. Namun di sisi lain?

"Hyung, Donghae hyung.."

Leeteuk menoleh ke arah Kibum dengan cepat. Ia usap pula deraian air matanya. "Bagaimana dia, Kibumie? Dia baik-baik saja kan?"

"..."

"Kibumie!"

...

Berbeda dengan Kyuhyun, Leeteuk dapat melihat Donghae, yang dalam keadaan sama. Tengah dalam penanganan seorang dokter meski, anak itu dalam keadaan sadar, dan tengah berjuang menarik tiap nafasnya. Dengan bantuan sebuah alat pernafasan yang sepertinya, tak cukup mampu membantu. Bahkan dokter di sampingnya, terus mencoba memberikan berbagai suntikan, dan mengajaknya bicara.

"Donghae, Donghae, hyung disini.."

Leeteuk, begitu hadir disana, langsung meraih posisi di samping Donghae, menggenggam erat jemari Donghae. Leeteuk, tak melupakan Donghae sebenarnya. Donghae yang tumbang, tepat setelah mereka tiba di lantai depan rumah sakit yang masih terdapat di Busan. Namun pilihan kembali terjadi kala itu. Hingga ia titipkan Donghae pada Kibum, sementara dirinya mengantar Kyuhyun.

Donghae tak dapat fokus dengan apa yang di dengarnya. Dokter yang terus berkata-kata, Leeteukpun seperti itu, sementara suara bising dari alat-alat di sampinnya terus menganggunya. Ia ingin berkata, namun semua hanya menjadi sia-sia. Ia putus asa, di samping rasa sakit yang kian meraja pada tubuhnya, hingga akhirnya hanya mampu menangis.

"Jangan menangis. Jangan menangis, Hae. Semua baik-baik saja.." ucap Leeteuk, mengusap aiar di ujung mata Donghae. Samar, ia lihat Donghae yang menggumamkan nama Kyuhyun, membuatnya tersenyum dalam harus yang mendalam. "Kyuhyun baik-baik saja," ucapnya yakin.

...

Operasi masih berlangsung, sementara Donghae sudah terlelap, membuat Leeteuk setidaknya mampu bernafas tenang. Ia telah menitipkan Donghae pada Kibum, yang sebenarnya, tanpa ia suruhpun, Kibum akan tetap menjaga Donghae disana. Sementara dirinya, mencoba menyandarkan tubuhnya pada dinding yang dingin, di samping pintu dimana di dalamnya, Kyuhyunpun tengah berjuang untuk hidupnya.

"Selamatkan mereka Tuhan. Kumohon.." begitulah pinta Leeteuk, pada penciptanya.

Sungguh sangat berbeda, dengan tempat dimana Siwon berada kini. Hanya keheningan, di samping gumaman tak jelas dari bibirnya. Baru saja, ia mengikatkan sebuah kain pada kakinya yang terluka. Darahpun, sudah berceceran di lantai rumahnya tersebut.

Namun Siwon, bagai sosok yang kehilangan separuh jiwanya. Ia begitu terlihat kosong. Hanya memandangi sebuah aquarium yang masih nampak indah, meski di beberapa bagian dinding kaca itu, terdapat bercak darah.

"Aku belum menunjukkan ini padamu, Hae!" ucapnya.

"Mengapa kau meninggalkanku! Aku melakukannya untukmu!"

Siwon, menangis dalam kalutnya. Merenggut dalam takutnya. Ia rapuh dan hancur!

...

"Operasinya masih berlangsung, Kibumie.."

Tiba-tiba saja, Kibum datang menghampiri Leeteuk, tepatnya pukul dua siang. Siang hari yang mendung, semenjak di luar turun hujan yang deras. Kibum, berniat meluruskan kakinya, yang sudah terduduk menunggui Donghae sejak beberapa jam lalu.

"Itu artinya, Kyuhyun masih tetap berusaha hyung.."

"Entahlah," ucap Leeteuk, mengusap lelah di wajahnya. "Donghae masih tidur? Mengapa kau meninggalkannya?"

"Dia tak akan bisa lari," canda Kibum. "Aku akan mencari kopi? Kau ingin?"

Ya. Mungkin Kibum benar. Donghae, tak bisa berlari dengan kondisinya saat ini. Bahkan ia masih terbaring di ranjangnya, dengan beberapa alat yang membantunya. Membantunya bernafas bahkan. Dia, tak akan mungkin bisa berlari.

Namun..

Ada sosok lain, yang dengan sengaja, menarik tubuhnya. Melepas paksa infusnya, melepas alat bantu pernafasan itu, lantas membopong tubuh ringkihnya begitu saja. Membawanya ke arah luar ruangan, mengendap. Bahkan hampir saja menembus hujan jika saja, "YAA!" tak ada satu teriakan yang mengagetkan sosok itu..

TBCTBCTBCTBCTBC

Saya kembali dalam waktu singkat. Singkat bukan? xD

Disini, saya ingin jujur. Soal penyakit Hae? Saya kurang yakin bahas itu lebih dalam. Saya tak terlalu tahu soal sakit-sakitan. Terus, Seoul – Busan? Saya tak tahu berapa jarak tempuhnya. Pake mobil bisa? Uahahaha. Gak tau. Kira-kira aja seperti ini tak apa kan?

Nah! Buat para reviewer kemarin?

arumfishy - laila mubarok - thiefhanie - cece - princelee86 - turtle407 - iloyalty1 - anggita - Arum Junnie - siskasparkyu0 - ndah951231 - it'sme - Dew'yellow - sparkyu amore - namihae - Fitri MY - Yulika19343382 - lyelf - kyuzi - Blackyuline - Zea Wonkyuna - Evil0311 - vha chandra - Guest - casanova indah - tiaraputri16 - chinderella cindy - Bryan Andrew Cho - ffikyu - haelfishy - jmhyewon - Angelika Park - Safa Fishy - shimizudani - IrumaAckleschia - riekyumidwife - Anonymouss - Aisah92 - bella0203 - ekha sparkyu - GaemGyu92 - kihaedp26 - Rinrin910909

Saya terharu, melihat ucapan-ucapan kalian. Sangat! Sangat berterima kasih pada kalian yang masih menunggu! Dengan apa saya ucapkan terima kasih ini? Saya? Tulus, :') Tak bisa saya jawab atau balas satu-satu. Tapi mungkin, yang ingin saya utarakan, untuk chapter? Kapan selesainya? Mungkin chapter depan akan saya selesaikan ini. Heu. Terus? Yang bilang kependekan? Masa' sih! Masa kependekan? _ Panjang kok! Anggap aja begitu. Hahahaha...

Intinya begitu saja. Sampai bertemu di chapter depan ya. HeuHeu.