Disclaimer : All Characters belong to Masashi Kishimoto
Warning : Typoo, Gaje.
.
.
.
Chapter 10 :
Drama penculikan
.
.
.
Ino membuka jendela membiarkan dinginnya udara musim gugur berhembus memasuki kamar tidur. Dia membutuhkan udara segar setelah dua hari mengurung diri untuk menata kembali pikiran dan hatinya. Ino menatap bayangannya di cermin. Dia masih terlihat sempurna walaupun binar keceriaan yang selalu menghiasi wajahnya memudar karena kebodohan. Jatuh cinta pada pria yang tak sempurna.
Untuk sementara dia bisa berpura-pura seolah Sai Shimura tidak pernah mucul dalam kehidupannya tapi delusi yang menawarkan kenyamanan instan itu langsung hancur begitu melihat cover tumpukan majalah yang dibawa Shikamaru kemarin malam.
Ino mengisi cangkirnya dengan teh hangat dan duduk dengan santai di sofa. Dia mengambil satu tabloid dari tumpukan majalah yang ditinggalkan sahabatnya di meja. Dengan mata lekat wanita itu mengamati gambar headlinenya. Itu foto dirinya dan Sai sedang berciuman. Ino tidak membaca artikelnya karena dia tidak perduli lagi dengan gossip yang wartawan tulis. Ino mengambil majalah yang lain dan merasa karma buruk sedang bekerja padanya. Saat dia berusaha untuk melupakan Sai malah photo-photo dan berita kemesraan mereka banyak beredar di luar sana.
Dering ponsel menyadarkan Ino dari lamunannya
"Halo, Shika…"
"Ino, Kau sudah lihat majalah yang aku bawa? Kau menjadi luar biasa populer"
Ino membuang nafas panjang "lalu?"
"Banyak produser menawarimu kontrak Ino. Apa yang akan kau lakukan?"
"Tolak saja semua Shika, Aku hanya akan menyelesaikan kontrak yang tengah berjalan. Kau tahu kapan jadwal syuting dan pemotretanku berakhir?"
"Bulan depan semua sudah beres Ino, Mengapa kau bertanya"
"Aku ingin segera pindahan dan menjual apartementku"
"Kau akan tinggal dengan Sai lagi?" Ino kembali di ke apartemenya dua hari yang lalu, tapi wanita itu tidak pulang dengan koper-kopernya. Jadi dia pikir Ino akan kembali ke rumah Sai.
"Tidak, Urusanku dengan Sai sudah beres. Aku mau mencoba bisnis lain"
Sekarang Shikamaru paham mengapa Ino murung, "Eh Ino bagaimana bila aku dan Choji menjemputmu nanti malam. Kita pergi ke tempat barbeque dan minum-minum"
"Ok baiklah" Patah hati sih patah hati but life goes on. Ino menutup telpon dan tersenyum kecil. Sai mungkin pergi dari hidupnya tapi dia masih punya teman-teman yang mencintainya. Ino selalu optimis dia percaya suatu hari nanti akan jatuh cinta lagi.
.
.
Sai duduk di Kantor Kakashi. Kedua mentornya sedang menyelidiki tiga kasus pembunuhan yang terjadi di Konoha dalam kurun waktu seminggu. Ketiga korban adalah pejabat tinggi konoha mereka semua terbunuh dengan satu tembakan. Pelaku sama sekali tidak meningalkan barang bukti dan jejak apapun selain peluru yang bersarang di tubuh korban. Siapa yang menginginkan kematian mereka?. Ini merupakan pukulan telak bagi konoha, setelah ledakan bom sekarang satu per satu pejabat pentingnya dihabisi.
"Sai, Bisakah kau mengumpulkan lebih banyak informasi? dan tolong awasi semua pejabat tinggi konoha aku merasa pelakunya akan muncul lagi" Kakashi memberikan perintah pada juniornya.
Sai tidak langsung merespon perintah sang kapten, sebenarnya dari tadi dia kesulitan mengikuti dan mencerna informasi yang diberikan mentornya. Itu karena separuh dari pikirannya mengingat seorang wanita pirang yang berurai air mata mengucapkan selamat tinggal.
"Sai?" Panggilan Yamato membuat Sai tersadar dia sedang di tengah meeting
"Ah, Maaf.. "
Mata kelabu Kakashi menyipit "Sai, Mengapa kau tidak fokus. Ini misi pertamamu setelah tiga tahun absen. Aku tahu kau punya kemampuan tapi tolong jangan biarkan hal lain mengangumu. Saat ini keselamatan para pejabat itu berada di pundakmu"
" Aku mengerti Kakashi-San, Bila aku menemukan sesuatu akan segera aku laporkan"
Pria berambut perak itu menyerahkan setumpuk file pada Sai "Kau pelajari ini, Mungkin kau bisa menemukan petunjuk dan memulai penyelidikanmu"
Sai menerima file itu dan membungkuk "Terima kasih"
Yamato dan Kakashi pun meninggalkan ruangan itu untuk menjalankan tugasnya yang lain.
Sai mulai menyusun team untuk diam-diam melakukan pengawasan pada setiap pejabat tinggi Konoha, Sepertinya pelaku membuntuti korban karena mereka semua terbunuh saat sedang sendirian dan di tembak dari jarak jauh karena peluru yang digunakan adalah milik M107, Snipper rifle yang juga dipakai oleh militer Konoha. Siapapun pelakunya punya keahlian yang hebat dan akurasi tinggi.
.
.
Sasuke Uchiha sedang duduk di café menikmati segelas espresso. Tiga nama telah dia bereskan. Tinggal satu nama lagi lalu Tobi akan membawanya menemui Itachi. Selangkah lebih dekat dengan tujuannya. Tapi dia masih belum menemukan cara untuk mengeksekusi Hiasi Hyuuga. Klan Hyugaa sama tua dan terhormatnya dengan Uchiha dan mereka bahkan punya pasukan pengawalan sendiri. Akan sulit sekali menembus keamanan rumah keluarga itu. Apalagi membuntuti Hiasi tanpa ketahuan.
"Hey Teme…" hanya seseorang yang berani memanggilnya seperti itu.
Pria berambut pirang dan bermata biru muncul di hadapannya. "Naruto?"
"Kemana kau menghilang?, Sakura mengkhawatirkanmu Idiot" Naruto kesal karena Sasuke pergi begitu saja tanpa memberi kabar. Apa dia tidak menganggap dirinya sebagai sahabat
"Aku baru saja kembali dari liburan. Kau tau penembakan waktu itu cukup membuat aku trauma" Jawab Sasuke membuat alasan.
"Ano…Naruto-Kun, Maaf menganggu percakapan kalian tapi kak Neji sudah menungguku di parkiran"
Sasuke baru menyadari seorang gadis berambut biru indigo panjang tampak gelisah berdiri di sebelah Naruto
"Ah..Maaf..Maaf. Aku akan mengantarmu kesana. Kenalkan dulu ini temanku Sasuke"
"Hai Sasuke" Gadis itu tersenyum manis
Naruto tersenyum lebar dan bangga "Sasuke, Ini pacarku Hyugaa Hinata"
"Baka sepertimu mendapatkan gadis cantik yang anggun sebagai pacar. Kau sungguh beruntung kali ini"
Mendengar pujian Sasuke Wajah Hinata langsung memerah.
"Sasuke aku mau mengantar Hinata ke parkiran dulu, Nanti kita ngobrol lagi"
Pria itu mengangguk. Sepertinya dia menemukan pion untuk membereskan misinya.
.
.
Itachi Uchiha tengah berusaha meretas file-file rahasia Akatsuki. Dia ingin menemukan siapa sang master dibalik organisasi ini. Itachi bergabung dengan Akatsuki setelah dirinya diumumkan menjadi buronan nomer satu Konoha. Mereka dengan senang hati menampungnya tanpa kecurigaan sedikitpun. Saat itu dia disambut Tobi dan Zetsu.
Identitas asli kedua orang itu juga tidak dia ketahui mereka begitu misterius hanya mereka yang punya kontak langsung dengan sang master. Dengan kemampuannya Itachi berhasil menjadi petinggi Akatsuki dalam waktu singkat tapi tetap dia tidak mendapatkan akses informasi tetang siapa yang membuat Akatsuki menjadi organisasi terrorist. Karena awalnya akatsuki hanyalah kumpulan buronan yang menjadi tentara bayaran yang tujuan utama mereka adalah uang dan kekerasan tapi seseorang atau bahkan mungkin pemerintah telah menginvestasikan uang yang luar bisa banyak pada mereka untuk membuat kekacauan dalam sekala besar.
"Sial sulit sekali menembusnya" Itachi menyerah dan mematikan komputer utama di markas Akatsuki.
Saat yang sama Tobi masuk ke ruangan itu. "Apa yang kau lakukan Itachi?"
"Hanya memeriksa beberapa hal. Siapa yang memerintahkan Deidara dan Sasori mengebom Konoha. Mengapa aku tidak tahu soal ini Tobi?"
"Perintah langsung dariku" Ucap Pria itu dari balik topengnya.
"Mengapa tidak memberitahuku Tobi? Deidara dan Sasori adalah tanggung jawabku sekarang mereka berdua terbunuh"
"Bukan hal penting. Kau tahu aku pemegang perintah tertinggi disini, Kalaupun mereka mati itu sudah resiko. Ada yang hal yang menarik yang ingin kusampaikan padamu" Tobi terdiam sejenak.
"Apa?"
"Adikmu kini bekerja dibawah pengawasanku dan dia mencarimu "
Mendengar info tersebut Itachi sedikit terguncang, tapi dia berhasil menyembunyikan emosinya dari Tobi dengan tetap terlihat tenang. Bagaimana Sasuke bisa bergabung dengan Akatsuki?. Itachi selalu berpikir adiknya hidup dengan bahagia dan tenang.
"Kuharap kau mengawasi dia dengan baik" Ucap Pria itu lalu melangkah meninggalkan Tobi. Seolah tidak perduli.
.
.
Sai merasa frustasi. Sudah dua minggu dia melakukan penyidikan dan sama sekali tidak ada petunjuk. Kecurigaan mengarah pada Orochimaru tapi pria itu tidak punya alasan untuk membunuh pejabat konoha. Orochimaru hanya melakukan hal yang menguntungkan untuk dirinya.
Belum lagi dia dikuntit oleh para wartawan. Seharusnya dia bekerja dalam bayangan tapi momentnya bersama Ino telah mengekspos kehidupan pribadinya untuk santapan pers. Sai tidak lagi bisa tenang bahkan ketika dia sedang dirumahnya sendiri. Bayang-bayang Ino Yamanka menghantuinya siang dan malam. Dia bahkan tidak bisa menyingkirkan barang-barang milik Ino yang tertinggal di rumahnya.
Dia tidak bisa terus-terusan memikirkan wanita itu. Sai mengusap wajahnya. Dia lelah dengan perasaan-perasaan asing yang kerap menerpanya. Sekarang dia paham hidup jauh lebih mudah dan objektif ketika tidak merasakan emosi sedikitpun.
"Sai Kau terlihat sedikit kusut, Apa yang sebenarnya terjadi?" Yamato heran melihat Sai yang biasanya begitu tenang dan kalem tiba-tiba sering melamun
"Penyelidikanku buntu, Tidak satupun saksi mata dan petunjuk. Mereka juga belum bergerak untuk mengincar pejabat lainnya"
"Sepertinya bukan hanya itu masalahmu, Biasanya pekerjaan tidak membuatmu begitu frustasi"
"Kau benar kapten Yamato, Aku hanya bingung dengan situasiku saat ini"
Kakashi yang baru masuk ke ruangan itu langsung menyela "Masalah wanita?'
"Bagaimana anda tahu Kakashi-san?"
"Sai, Berita dan foto-foto mesra kau dan artis itu terpampang dimana-mana, belum lagi kau tiba-tiba menyuruhku mencari wanita penghibur. Sekarang pertanyaanku seberapa benar berita itu?"
"Semua hanya rekayasa" Jawab Sai datar
"tapi kau memikirkan wanita itu?" tanya Kakashi
Sai mengangguk mengiyakan.
"Hm.. Selamat Sai, Usahamu selama tiga tahun berhasil, Kau menyukai wanita itu"
Yamato tersenyum "Selamat Sai, Akhirnya kau merasakan emosi "
Sai tertegun mendengar kata-kata mentornya. Dia menyukai Ino. Tidak pernah terlintas dibenaknya dia akan mampu menyukai seseorang.
"Lalu apa yang terjadi dengan wanita itu?"
"Aku menyuruhnya pergi, Aku tidak ingin dia berada dalam situasi berbahaya karena diriku"
"Keputusan yang tepat Sai" Kata Kakashi. "Waktu akan memudarkan rasa sakitnya, tapi sekarang kau tahu kalau kau bisa merasakan emosi" lanjut pria itu.
Sai hanya diam masih tidak percaya apa yang dia alami ternyata adalah emosi. Sekarang dia bisa pelan -pelan belajar menjadi manusia yang utuh lagi walau dia tidak yakin dia bisa melakukannya tanpa bantuan Ino Yamanka.
.
.
Sakura baru saja menyelesaikan pemotretannya dan poselnya berdering. Nomer yang tidak dia kenal terpampang dilayar. Wanita berambut pink itu memutuskan untuk menjawab.
"Hallo"
"Sakura…"
"Sasuke kau dimana?" Dua minggu yang lalu Naruto berkata dia bertemu Sasuke. Tapi pria itu tidak pernah mencoba menghubunginya atau menemuinya. jadi Sakura menahan diri untuk tidak mencari Sasuke kerumahnya. Dia cukup lega mengetahui Sasuke tidak apa-apa.
"Aku di rumah, Aku ada permintaan"
Oh jadi pria itu menelponya hanya karena ada perlu saja, Sakura kesal dia menghawatirkan Sasuke setengah mati tapi sedikitpun pria itu tidak perduli "apa mau mu?"
"Maukah kau pergi berkencan dengan ku?"
Mendengar pertanyaan itu Sakura langsung merasa bagaikan berada di langit ke tujuh "Kapan?"
"Besok malam, Bisakah kau mengajak Naruto dan pacarnya juga?"
Sakura merasa sedikit kecewa "Mengapa aku harus mengajak Si baka itu juga ?"
"Bukankah sudah lama kita tidak ngumpul-ngumpul"
"Kau benar Sasuke, Kalau begitu kau juga telpon Naruto" Wanita itu menarik nafas buyar sudah harapan untuk kencan romantis dengan Sasuke.
Tak berapa lama Sakura menghubungi Naruto,
"Hoi Baka, apa kabar?"
"Yo, Sakura Aku baik-baik saja, Ada apa?" Suara ceria Naruto menyapa
"Kau sudah dengar soal kencan besok dari Sasuke?"
"Sudah"
"Jadi kau dan hinata datang?. Pokoknya kalian berdua harus datang " Perintah wanita itu
"Baiklah-baiklah. Hinata setuju jadi kita semua berjumpa besok di restaurant ramen ichiraku"
Sakura merasa sangat aneh Sasuke tiba-tiba mengajak mereka semua pergi. Mungkin Naruto tidak sadar tapi Sakura mengenal Sasuke dengan baik. Pria itu pasti sedang merencanakan sesuatu. Sakura berharap tidak akan terjadi suatu yang buruk.
Sementara Sakura mengkhawatirkan Sasuke, Ino Yamanaka sibuk memasukan barang-barangnya dalam kardus. Dia akan pindah ke rumah keluarga Yamanaka. Selama satu bulan dia begitu sibuk mengejar semua jadwal syutingnya. Sekarang dia bisa tenang semuanya benar-benar berakhir dan dia bisa memulai karir baru dan melupakan Sai Shimura. Tidak pernah Ino berhenti memikirkan Sai. Ino tidak menghapus nomer pria itu dari ponselnya. Terkadang dia tergoda untuk mengontaknya tapi harga dirinya berkata tidak. Dia juga masih menyimpan cincin berlian yang diberikan Sai. 'Aku harus move on secepatnya. Sai pasti menjalani hidupnya dengan tenang-tenang saja dan tidak sedikitpun memikirkanku'. Tiba-tiba Ino merasa tidak enak badan, Belakangan dia memang cepat lelah. Wanita itu memutuskan tidur sejenak sampai Choji dan Shikamaru datang untuk membantunya pindahan.
Di restaurant Ichiraku Naruto dan yang lainnya tengah menikmati Ramen,
"Paman tolong ramennya satu lagi" teriak pria berambut pirang itu
"Naruto itu sudah mangkok ke lima, Mau makan sebanyak apa kau baka" Sakura berteriak pada kawannya
Hinata hyugaa hanya terseyum kecil melihat Sakura mengomeli Naruto dan Sasuke dengan tenang menikmati ramennya.
"Wah, Sudah lama sekali kita tidak begini" Ujar Naruto sambil meyeruput ramennya.
"Benar, kangen juga ya" Sakura menimbali "Kemana kita pergi setelah ini?"
"Hinata kau mau pergi karoke?" Tanya Naruto pada pacarnya
"Terserah Naruto-kun saja" Gadis pemalu itu merona.
"Teme, Kita pergi karoke ya setelah ini" Naruto memandang Sasuke dengan memohon
"Ok, Naruto. Biar aku yang nyetir"
Mereka berempat berada di mobil Sasuke dan Asyik bercakap-cakap, tapi Sakura mulai merasa aneh. Mengapa Sasuke malah melewati jalan-jalan yang sepi. Seharusnya mereka pergi ke pusat kota Konoha dimana area hiburan berada.
"Sasuke, Kemana kau akan membawa kami" Mata hijau Sakura memicing tajam pada pria yang tengah menyetir disebelahnya.
"Teme ini bukan jalan menuju tempat karoke" Naruto memprotes.
"Kalian benar. Aku sedang menculik kalian. Yang aku perlukan sebenarnya Hinata Hyugaa"
"Kau bercanda Sasuke?" Naruto tidak percaya, Sementara wajah Sakura pucat.
Sasuke menghentikan mobilnya. Dari bawah dashboard dia mengambil sebuah revolver. "Kau pikir aku bercanda?" Dia mengacungkan senjata itu pada Naruto.
"Kau dan Sakura turun" Perintah pria berambut biru gelap itu. Hinata tengah gemetar ketakutan. Dia tidak tahu harus berbuat apa.
Diancam dengan demikian Naruto dan Sakura menurut. Naruto tidak percaya orang yang dia anggap sahabat menodongkan pistol padanya dan menculik pacarnya.
"Sasuke, Apa mau mu dengan hinata" Mata biru naruto berkilat marah.
"Jangan khawatir Naruto aku tidak akan menyakitinya"
Naruto yang marah mencoba memukul Sasuke, tapi pria itu dengan dinginnya menembak kaki Naruto. Pria berambut pirang itu jatuh ke aspal. Sakura dengan cepat menghampirinya. Sementara Hinata menangis di dalam mobil, Ia hendak keluar untuk menghampiri Naruto tapi Sasuke langsung mengancamnya.
"Bila kau keluar dari dalam mobil Hyuuga, Aku akan menghabisi Naruto"
Wanita itu langsung membeku ditempatnya.
Sakura menggunakan scarfnya mengikat luka Naruto dengan erat guna mengurangi pendarahannya
"Kau keterlaluan Sasuke" Sakura menatap Sasuke dengan marah
Pria itu mengarahkan pistolnya pada Sakura "Apa kau aku bunuh saja, Kau tahu terlalu banyak dan sangat menggangu" Sasuke hendak menarik pelatuk pistolnya. Tapi Sakura tidak gentar dia tidak menangis dia tidak memohon. Mata hijaunya menatap sepasang Onyx kelam yang diliputi kebencian.
Sasuke berubah pikiran, "Aku biarkan saja kalian disini, Semoga kalian selamat" Pria itu menyeringai dengan kejam dan kembali mengendarai mobilnya, Sementara Hinata hanya sanggup menangis dan berdoa semoga Naruto baik-baiksaja.
Sasuke mengambil handphonenya "Tobi, Aku perlu bantuan aku baru saja menculik putri Hiasi Hyuuga"
"Apa rencanamu?"
"Aku akan memancing Hiasi datang dan membunuhnya"
"Kau nekad juga Sasuke, Bawa dia ke bekas reruntuhan pabrik tempat kita bertemu"
"Baiklah, tolong kau jaga-jaga kemungkinan polisi juga akan datang "
"Tidak masalah, Aku akan mengerahkan beberapa orang untuk mengcover mu"
Sasuke pun memutus telponnya.
Hinata yang dari tadi hanya diam saja menemukan keberanian untuk bertanya, "Kau, Mengapa mengincar ayahku? Hyuuga tidak pernah punya masalah denga Uchiha"
"Aku tidak punya dendam pribadi pada ayahmu, Aku hanya sedang menjalankan perintah. Sebaiknya kau diam dan berhenti bertanya. Bila tidak aku akan membungkamu dengan paksa"
Ancaman Pria itu membuat Hinata gemetar, Dia melihat Sasuke tanpa rasa bersalah menembak Naruto. Dia mampu melakukan apa saja. Hinata mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan. Menahan Air mata yang hendak keluar.
.
.
"Sakura apa aku akan mati" Pria pirang itu bertanya pada sahabatnya. Naruto tergeletak di jalan dan kepalanya bersandar di pangkuan Sakura
"Diam Kau baka, Lukamu tidak begitu parah. Tapi kita harus cepat-cepat atau kau bisa kehabisan darah" Wanita berambut pink itu dengan cepat memanggil ambulance, tapi dia tidak ingin menelpon polisi. Dia tidak ingin semua orang tahu Sasuke menculik Putri Hiasi Hyuuga "Aku sudah menelpon ambulance jadi tenanglah Naruto, Kau akan hidup. Tapi kita butuh seseorang untuk menghentikan Sasuke"
Sakura langsung mengontak Ino, "Pig, Ini penting Naruto di tembak Sasuke dan dia juga menculik Hinata. Tolong beritahu Sai"
Wanita pirang itu bingung Sahabatnya luar biasa panic " Tenang Sakura, Jelaskan?"
"Tidak ada waktu pig, beritahu Sai segera. Kita berada di pinggir selatan Kota, Di dekat area industry yang telah di tutup"
"Ok, Aku mencoba menelpon Sai segera" Ino ikut merasa panik untung dia belum menghapus nomer ponsel Sai dari handphonenya.
"tut….tut..tut…"
'Ayolah Sai angkat telponnya' Ino mondar-mandir di kamar tidurnya
Akhirnya dia lega ketika mendengar suara familiar Sai "Gorgeous?"
Tanpa basa-basi Ino langsung menyampaikan info dari Sakura "Sai dengar, Sasuke menembak Naruto dan menculik Hinata. Mereka sekarang berada di pinggiran kota di dekat wilayah industry yang sudah di tutup. Tolong selamatkan mereka " pinta Ino panik.
Sai yang sedang berada di Markas dengan cepat menemukan Kakashi dan Yamato.
"Kakashi- San, Kapten Yamato. Aku tahu siapa pelaku pembunuhan pejabat tinggi konoha. Saat ini dia tengah menculik putri Hiasi hyuuga"
"Siapa?"
"Sasuke Uchiha, Kita harus segera kesana karena dia telah menembak Uzumaki Naruto"
"Sial Aku tidak menyangka, Selama ini kita mengeluarkan dia dari radar karena tidak mengangapnya berbahaya. Yamato tetap di markas dan coba lacak keberadaan Sasuke. Dan siapkan pasukan untuk melakukan pengepungan bila kau sudah menemukan koordinatnya. Hubungi juga keluarga Hyuuga. Aku dan Sai akan mendatangi Uzumaki Naruto"
Kakashi menyetir dengan kecepatan tinggi. Dipingir jalan selatan Konoha dia menemukan Sakura yang terlihat pucat dan Naruto yang pingsan. Mata hijau Sakura Khawatir melihat mobil jeep hitam berhenti di dekat mereka. dia merasa lega ketika melihat Sai turun bersama rekannya yang berambut perak
"Sai, Ambulance belum tiba. Naruto dalam kondisi kritis"
"Sai bawa Naruto ke rumah sakit" perintah Kakashi. "Kau bisa tinggalkan aku disini untuk mencari petunjuk" Lanjut pria itu.
Sai menaikan Naruto ke mobilnya dan Sakura mengikuti. Dalam perjalanan Pria itu menanyai Sakura
"Apa yang terjadi Sakura?"
"Sasuke mengajak aku,Naruto dan Hinata makan malam. Lalu kami ingin melanjutkan pergi karoke. Tapi tiba-tiba aku merasa aneh karena Sasuke malah menyetir ke pinggiran kota yang sepi. Dia memaksa kami turun dan ketika Naruto mencoba memukulnya Sasuke langsung menembaknya" Wanita berambut pink itu menjelaskan
"Apa kau tahu mengapa dia menculik Hinata?" Sai kembali bertanya
Wanita berambut pink itu menggeleng, tapi Sai tau apa motif Sasuke. Pria itu pasti mengincar Hiasi Hyuuga.
"Mengapa Kau meminta Ino menelponku?" Lanjut pria itu
"Aku tidak ingin menelpon polisi, karena nanti masalahnya akan diketahui publik"
"Sakura, Kau masih mau melindungi Sasuke?"
"Aku tetap merasa yakin dia masih bisa kembali ke jalan yang benar bila diberi kesempatan"
"Sakura bila Sasuke tertangkap dia akan tetap di hukum" Ucap pria berambut hitam itu tegas.
Sakura tahu tapi dia masih berharap jiwa Sasuke yang jatuh pada kegelapan masih bisa diselamatkan.
.
.
Hiashi Hyuga baru saja meminta Neji datang ke kantornya. Dia hendak menanyakan bagaimana perkembangan hubungan putrinya dan bocah Uzumaki. Dia khawatir pria berandalan itu akan macam-macam dengan putrinya yang pemalu jadi tiap kali mereka kencan dia selalu meminta Neji mengawasi. Cuma malam ini putrinya ngotot untuk pergi tanpa pengawalan. Karena tidak pernah melihat Hinata begitu marah maka Hiashi pun menyetujuinya. Belum sempat dia berbicara ponselnya berbunyi. Wajah pria itu langsung pucat mendengar apa yang dikatakan penelpon. Sekarang dia menyesali keputusan yang baru saja dia buat. Tidak seharusnya dia membiarkan putrinya pergi.
Hiashi menutup ponselnya setelah mendengar ancaman si penelpon dengan marah "Neji, Siapkan senjatamu besok dan bawa ten-ten juga"
Pria berambut panjang itu bingung "Mengapa?"
"Hinata diculik dan penculiknya baru saja menelponku mereka mengingankan tebusan dan aku harus membawanya sendiri" Hiasi tidak akan membiarkan putri satu-satunya di sakiti orang.
"Paman apa ini bukan jebakan? Kita tidak bisa menuruti permintaan mereka"
"Tapi Hinata dalam bahaya Neji. Kita tidak bisa membiarkannya"
Seorang butler datang untuk melapor kepada kepala Klan Hyuga itu "Tuan Hiasi Kapten Yamato dari divisi intelegent datang untuk menemui anda"
"Persilahkan dia kemari"
Yamato memasuki ruang kerja Hiasi Hyuuga. Dari raut wajah pria itu dia bisa membaca kalau mereka sudah menerima info penculikan sang pewaris, "Aku kemari untuk melaporkan bahwa putrimu diculik"
"Aku sudah tahu, Mereka sudah menghubungiku" Hiasi berdiri mencengkram ujung meja kerjanya. Dia terlihat khawatir dan putus asa. Neji berdiri disudut ruangan mendengarkan percakapan mereka.
"Putri mu diculik Sasuke Uchiha"
"Apa mau pria itu?"
"Menurut dugaan kami dia mengincar nyawamu, Kami mencurigai dia adalah dalang pembunuhan pejabat keuangan, Sekretaris dan Wakil gubernur. Apa yang mereka katakan padamu?"
"Mereka memintaku untuk datang ke hotel yang terletak persis disebelah gedung pemerintahan sendirian mereka mengancam untuk membunuh putriku, Mereka akan mengontak ku lagi besok"
"kalau begitu kita harus membuat rencana tuan Hiasi, Aku tidak bisa melacak keberadaan mereka jadi kita hanya bisa menunggu sebelum bergerak"
Kakashi dan team bantuan kembali ke markas mereka tidak menemukan jejak Sasuke sedangkan Yamato masih berada di kediaman Hyuga. Rekannya telah menginfokan soal telpon yang di terima Hiasi. Mereka mencoba melacak sinyal penelfon tadi sinyalnya telah diacak. Ini bukan pekerjaan penculik amatiran. Pria berambut perak itu merasakan firsat buruk. Dia yakin Sasuke Uchiha tidak bekerja sendirian lalu mengapa mereka memilih bertemu di tempat yang padat dan ramai oleh orang-orang. Bahkan dekat dengan kantor pemerintahan.
.
.
Sakura Haruno memandang Naruto yang masih tidak sadarkan diri akibat pengaruh anastesi terbaring di ranjang. Dia merasa bersalah bila saja dia tidak ikut ikutan memaksa Naruto dan Hinata datang ini tidak akan terjadi. Sakura sama sekali tidak menyangka Sasuke menjadi begitu jahat bahkan dia tega menembak Naruto yang merupakan satu-satunya orang yang betah berada disisinya meskipun sikap Sasuke tidak bisa dibilang ramah. Sakura berharap Hinata segera ditemukan bila terjadi sesuatu dengan gadis itu Sakura tidak akan mampu menghadapi Naruto.
Ino Yamanaka sampai di rumah sakit. Dia khawatir sahabatnya mungkin sedang mengalami mental breakdown. Wanita itu melangkah dengan buru-buru menuju ruangan tempat Naruto dirawat. Ketika dia akan mengetuk pintu, pintu itu terbuka memperlihatkan sosok lelaki dengan mata hitam kelam yang telah mencuri dan mematahkan hatinya. "Sai" Nama lelaki itu langsung meluncur dari mulutnya.
Sai tidak tersenyum. Pria itu memandang Ino hanya sedetik sebelum melangkah keluar meninggalkan ruang perawatan seolah-olah dia tidak melihat wanita berambut pirang yang berdiri dihadapannya. Hati Ino mencelos 'Jadi ini cara Sai, dia bahkan pura-pura tidak mengenalku' bila dia sedang sendirian dia pasti sudah menangis. Tapi Ino kemari untuk Sakura. Dia tidak bisa ikut-ikutan mengalami break down di saat seperti ini.
Sai melangkah dengan tergesa-gesa dia harus kembali ke markas. Mengapa dia harus bertemu dengan Ino Yamanka disaat dia harus fokus dengan pekerjaanya. Sepasang mata aquamarine berkelebat dibenaknya. Mata yang menghantuinya selama sebulan terakhir. Sai tidak tahu harus mengatakan apa pada Ino. Jadi dia menghindari wanita itu untuk saat ini.
"Sakura kau tidak apa-apa?" Ino memanggil sahabatnya
Suara Ino menyadarkan Sakura dari renungannya "Aku tidak apa-apa, tapi lihat apa yang Sasuke lakukan pada Naruto" Sakura menutupi wajahnya. Pundak wanita itu bergetar dan dia mulai terisak "Aku tidak percaya Ino. Pria yang selalu aku idolakan sanggup melakukan hal seperti ini. Pria yang selama ini aku cintai sepenuh hati. Aku tidak tau lagi apa yang harus aku rasakan"
"Shh…Jangan menangis Sakura yang penting Naruto selamat. Tidak ada gunanya berpikir sekarang. Kau bisa memilah perasaanmu bila situasi sudah tenang " Ino memeluk Sahabatnya. Mengapa mereka berdua harus merasa sakit Cuma gara-gara cinta.
.
.
Itachi mengetes senjata baru yang diterima organisasi. Sebuah senjata otomatis model terbaru yang bahkan anggota militer Kirigakure belum punya. Sampai saat ini dia masih belum mendapatkan informasi dari mana sumber pendapatan utama Akatsuki, Semua jawaban ada pada Tobi tapi pria bertopeng itu sangat sekretif licik dan kejam. Dia membuat semua anggota akatsuki percaya mereka bisa memerintah dunia dengan ketakutan. Tapi Itachi yakin Akatsuki hanyalah pion yang digunakan oleh seorang master mind untuk mengerakkan rencananya.
"Nagato, Apa yang kau lakukan disini?" Itachi bertanya pada Pria kurus yang duduk diatas kursi roda.
"Tobi memintaku datang untuk mengacak sinyal komunikasi dan meretas sistem keamanan gedung parlemen dan Bank central Konoha. Aku juga sudah merakit beberapa bom dengan kemampuan explosive tinggi tapi Tobi tidak menceritakan detail apa yang akan dia kerjakan atau siapa clientnya" Nagato adalah pria yang jenius meskipun fisiknya sangat lemah. Dia bertanggung jawab dengan masalah IT , Networking dan membuat bom.
"Dia juga tidak memberitahuku apa-apa" Itachi belakangan curiga pada Tobi karena Pria itu selalu bergerak sendiri dan sepertinya kecurigaan itu bersifat mutual karena pria bertopeng itu juga menyisihkannya dari info-info penting organisasi. 'Mengapa dia menyerang Konoha?' itu menjadi pertanyaan besar yang harus dijawab tapi yang lebih penting adalah mengirimkan pesan pada Kakashi secepatnya.
.
.
Di sebuah gudang kompleks pabrik yang telah ditutup. Seorang gadis berambut Indigo terduduk di lantai, Kedua tangan dan kaki nya terikat. Sang penculik bersandar dengan santai di dinding. Ruangan itu begitu gelap. Satu-satunya cahaya berasal dari ponsel yang tengah digengam pria itu.
Hinata merasakan tubuhnya kaku dan tidak nyaman terikat dalam posisi demikian dalam waktu yang lama. Kulit tangannya sudah perih akibat gesekan tali yang begitu erat. "Sasuke-kun mengapa kau melakukan semua ini?" Suara gadis itu bergetar karena rasa takut dan dingin yang menyerangnya.
Sasuke berjongkok di hadapan tawanannya, mata hitamnya memandang iris putih bersemburat lavender, mata yang masih polos. "Tidak ada gunanya aku jelaskan. Gadis sepertimu yang hidupnya selalu damai dan terlindungi tidak akan mengerti rasanya hidup dalam dendam dan kebencian" Mungkin karena sedikit iba Sasuke melepaskan ikatan tangan Hinata. Pria itu meraih dagu Hinata "Jangan coba lari tikus kecil, Di luar sana jauh lebih berbahaya. Sabar saja besok kau akan melihat ayahmu" lalu dia meninggalkan gadis itu sendirian dalam kegelapan.
