Chasing After You

CAST : EXO MEMBER

Pairings : Kaisoo, Hunhan, Taoris, Baekyeol, Sulay, Chenmin

Copyright © 2015 ladywufan

Length : Chaptered

Rating : T

Genre : High School!AU, Romance, Fluff

Desclaimer : I own nothing but plot.

.

.

.

.

Chapter 9

.

.

Oh

.

.

.

Ternyata pasangan kekasih...

.

.

.

Joonmyun menghela napas. "Oh."

Sementara itu, kedua manusia diujung sana tampaknya tidak menyadari raut kecewa yang terpampang jelas di wajah Joonmyun.

Yah... Patah hati, dong? Pikir Joonmyun nelangsa. Padahal dia bermaksud untuk menjadikan Yixing sebagai tambatan hatinya yang baru karena dia sudah mulai sebal dekat-dekat Kyungsoo karena ada bocah ingusan yang selalu menjadi ekornya. Bukannya Joonmyun takut, hanya saja dia malas berurusan dengan anak kecil. Tapi kalau ternyata Yixing sudah punya pacar, berarti dia harus mundur dan mengejar Kyungsoo saja yang masih lajang. Masa iya merebut pacar orang? Tidak etis, kalau kata Otou-san nya.

"Eh iya, silahkan duduk, Joonmyun-ssi. Aku akan membuatkan minuman."

Joonmyun hanya mengangguk tak bersemangat.

.

.

{o}

.

.

Kris selalu suka latihan basket kapanpun dia sempat. Seperti siang ini contohnya. Saat teman-temannya yang lain sedang sibuk makan siang dan berleha-leha di kelas, Kris lebih memilih berganti baju basket dan latihan basket dengan William Chan, teman satu tim basketnya. Setelah latihan, biasanya ia akan jadi sangat kelaparan dan dia akan berlari ke kantin untuk mengunyah makanan apapun yang tersedia. Dan hari ini bukan pengecualian. Selepas latihan singkat tapi melelahkan bersama William, Kris langsung pamit dengan membawa bola basket kesayangannya dan berlari kecil ke arah kafetaria karena cacing-cacing diperutnya sudah meraung-raung minta makan.

"Oi, Jongdae." Panggil Kris saat berpapasan dengan Jongdae di koridor. Lelaki bersuara emas itu menoleh, "Hai hyung. Mau kemana?"

"Kafetaria. Mau ikut?" ajak Kris. Jongdae mengangguk "Aku juga mau kesana kok."

"Kok jalan sendirian, sih? Tak punya pacar, ya?" Goda Kris lagi sambil menyikut rusuk Jongdae. Membuat pria yang jauh lebih pendek darinya itu mendengus sebal.

"Ngaca dong, hyung."

"Bercanda kok bercanda... sensitif sekali, sih." Sahut Kris sambil tergelak sementara yang diledeki hanya merengut seperti sapi betina yang tidak mau diperah. Tanpa terasa mereka sampai di kafetaria dan belum apa-apa Kris sudah menyodorkan beberapa lembar uang ke tangan Jongdae. "Bibimbab dan Iced Tea. Thanks, Jongdae." Ujarnya santai sambil berjalan terus dan mencari meja kosong. Meninggalkan Jongdae yang misuh-misuh karena harus jadi tukang suruh hyungnya yang semena-mena itu.

Kris sedang mencari-cari meja kosong untuk ia dan Jongdae duduki saat matanya menangkap sesosok perempuan yang sedang duduk sendirian dan berkutat dengan soal-soal hitungan. Teman sekelasnya yang sering ditatapi dengan tatapan penuh damba oleh Kim Jongdae saat pria itu berpikir kalau tidak ada yang melihat. Sebuah senyum jahil kemudian terpampang di wajah Kris.

"Hai Minseok." Sapanya pada Gadis berpipi gempal itu mendongak dan tersenyum. "Hai Kris. Sendirian?"

"Tidak, aku bersama temanku. Kim Jongdae, kau kenal?" Tanya Kris sambil menduduki bangku diseberang Minseok dan meletakkan bola basketnya di sebelahnya. Menyisakan tempat disamping Minseok untuk Jongdae. "Aku duduk disini, ya."

"Kim Jongdae? Kurasa aku pernah mendengar namanya... tapi dimana?" gumam Minseok. Seketika Kris merasa kasihan dengan Jongdae. His senpai doesn't even know him. How pitiful.

"Dia anggota klub vokal. Ituloh, yang suaranya melengking." Tambah Kris.

"OH! Perempuan yang matanya sipit itu ya? Namanya seperti nama laki-laki." Kata Minseok sambil memainkan pensilnya. Kris makin kasihan dengan Jongdae.

"Hyung, ini makananmu. You're such a big bully you know that? I didn't eve–" Kata-kata Jongdae terputus saat menyadari siapa gadis yang duduk diseberang hyungnya. Mata Jongdae membesar. Karena gugup, ia malah menyenggol Iced Tea milik Kris yang kemudian menumpahi kertas-kertas yang berisi soal-soal yang sedang Minseok kerjakan. Jongdae panik. Kris menghela napas.

"Astaga, sunbaenim, maafkan aku! Aku tidak sengaja, sungguh! Aku akan membantumu mengerjakan ulang ini semua, astaga maafkan aku, sunbaenim!" Ujar Jongdae dengan cepat sambil buru-buru membersihkan kertas Minseok. Tidak ada gunanya, kertasnya basah semua dan tulisan Minseok luntur. Jongdae sudah memepersiapkan diri untuk omelan dan ceramah panjang dari Minseok, tetapi Minseok malah tertawa.

"Oh, ini yang namanya Kim Jongdae? Ah, ya. Aku mengenalinya, Kris. Halo! Kenalkan, aku Kim Minseok. Daripada berdiri sambil mencoba menyelamatkan sesuatu yang tidak tertolong, lebih baik kau duduk disampingku. Well, karena bangku yang satu lagi sudah diduduki oleh bola basket Kris, tentu saja." Ujar Minseok ceria. Jongdae hanya berkedip beberapa kali kemudian berjalan pelan ke bangku di samping Minseok.

"Sunbaenim tertawa? Bukannya sunbaenim seharusnya marah padaku? Aku menghancurkan tugas sunbaenim, lho. Seharusnya aku dimarahi." Jawab Jongdae dengan dungu. Minseok menatapnya bingung.

"Tugas? Tugas apa?"

Sekarang giliran Jongdae yang bingung.

"Tugas matematika yang tadi terkena tumpahan air. Itu tugas matematika, kan? Atau tugas fisika? Apapun itu, aku bersedia membantu sunbaenim mengerjakan ulang."

Minseok tertawa lagi. Kris dan Jongdae hanya bertukar pandang tak mengerti. "Astaga, Jongdae! Itu bukan tugas. Aku sedang bosan karena tidak ada kerjaan jadi aku mengerjakan soal-soal latihan yang kubuat sendiri untuk mengisi waktu. Kau tak perlu khawatir, oke?"

Jongdae ingin berteriak bahagia karena Minseok memanggil namanya seolah mereka kenal dekat tapi ia ingin menggaruk meja karena, orang gila mana yang mengerjakan soal latihan dalam waktu senggang?! Tak jauh diseberangnya Kris juga sedang memikirkan hal yang sama. Dia tahu betul teman sekelasnya itu memang jenius, tetapi tidak tahu kalau levelnya sampai seekstrim ini.

"S-sunbae serius?"

"Serius. Kenapa kau berpikir aku tidak serius?" Sahut Minseok main-main. Kris menonton interaksi dua temannya dengan penuh minat sambil menyuap sesendok penuh bibimbab. Sepertinya mereka berdua memang cocok. Melihat Minseok tampak senang menjahili Jongdae yang merupakan tukang menjahili orang. Kris bergidik membayangkan anak mereka berdua kalau mereka menikah suatu hari nanti. Anaknya pasti jenius tapi jahil, perpaduan yang... mengerikan.

"Lalu kertas-kertas ini, mau sunbaenim buang begitu saja?" Tanya Jongdae lagi.

Minseok mengertukan dahi. "Iyalah. Memangnya mau kuapakan lagi?"

"Oh."

"Hei, tadi kau memanggilku apa?" Ujar Minseok tiba-tiba. Membuat Jongdae sedikit terlonjak dari kursinya.

"Uh... Minseok sunbaenim?" Jawab Jongdae ragu.

Kilatan jahil kembali terlihat di mata Minseok. Jongdae menelan ludah. "Siapa yang mengizinkanmu memanggilku sunbaenim?"

"Eh?!"

"Aku maunya dipanggil 'noona'. Kalau kau memanggilku noona aku janji kita akan berteman baik."

"Baiklah noona."

Lagi, Kris memandangi mereka dengan penuh minat sambil menjejalkan lebih banyak bibimbab ke mulutnya. Dan melupakan fakta bahwa mereka berdua sama sekali tidak sadar dengan keberadaan Kris.

.

.

{o}

.

.

Suara bel yang berbunyi nyaring di seluruh penjuru Jeongsuk High mengindikasikan berakhirnya kegiatan belajar mengajar. Heo seonsaengnim tidak datang ke kelas Jongin, Kyungsoo, dan Chanyeol dengan alasan sakit, jadi barang-barang mereka sudah rapi sejak tadi sehingga pada waktunya pulang mereka tinggal langsung jalan. Dan Jongin sudah seenaknya merangkul Kyungsoo untuk pulang tetapi mereka dicegat di pintu kelas. Oleh Byun Baekhyun.

"Hai, Baek. Mencari Chanyeol?" Tanya Kyungsoo.

"Kenapa aku harus mencari Chanyeol?" Baekhyun bertanya balik sambil mengerutkan kening.

"Karena Chanyeol pacarmu?" Timpal Jongin lagi dengan nada bertanya.

"Tapi bukan berarti aku harus terus-terusan dekat dengannya kan?"

"Kok kita jadi saling tanya begini?"

"Sudahlah, apapun itu. Aku datang mencari Kyungsoo." Kata Baekhyun sambil melingkarkan tangannya di lengan Kyungsoo dan secara efektif melepaskan rangkulan Jongin.

"Aku? Memangnya ada apa?" Sahut Kyungsoo bingung.

"Ada latihan paduan suara, manisku. Dadah Jongin, sampaikan salamku pada Chanyeol ya!" Jawab Baekhyun sambil berlalu dengan Kyungsoo di gandengannya. Tak lupa juga untuk menoleh dan melambai pada Jongin yang menatapnya bingung.

"Oh, kita ada paduan suara? Untuk apa? Festival musim dingin, ya?"

"Yup, tebak apa? Kita akan menyanyi sebagai trio!" Kata Baekhyun antusias

"Oh ya? Tumben sekali. Who's the unfortunate soul that will perform with us?" Tanya Kyungsoo antusias.

"Kim Jongdae. The one and only." Gumam Baekhyun antusias bertepatan dengan tibanya mereka di depan ruang paduan suara.

"Hai Kyungsoo, Baekhyun!" Sapa Jongdae riang. Baekhyun dan Kyungsoo melambai ringan sambil menghampiri Jongdae dan duduk didepannya. Sementara Baekhyun memilih untuk duduk di kursi piano. Tidak ada siapa-siapa di ruang paduan suara selain mereka bertiga. "Hai Jongdae. You look utterly happy, i wonder why is that."

Jongdae nyengir. "Senpai just noticed me."

"Senpai-mu yang mana lagi, Jongdae?"

"Kim Minseok."

"Teman sekelasnya Kris sunbae? Adiknya Kim Sohee?" Tanya Baekhyun mengonfirmasi. Cengiran Jongdae bertambah lebar.

"And how exactly she noticed you?" tanya Kyungsoo. Jongdae menceritakan kronologi kejadian memalukan dimana dia menumpahkan minuman ke kertas-kertas milik Kim Minseok dan bagaimana Minseok menggodanya.

"Aku tidak tahu kalau Minseok sunbaenim orangnya jahil." Gumam Baekhyun. Jongdae mendengus "Kau bicara seolah-olah kau kenal dengannya."

"Heh, meremehkan! Waktu acara camping tahun lalu aku setenda denganya, tahu." Ujar Baekhyun sambil mendelik. Merasa kalau mereka bisa beradu mulut sebentar lagi, Kyungsoo buru-buru menengahi.

"Jadi, lagu apa yang akan kita bawakan, teman-teman?"

Baekhyun dan Jongdae yang sedang saling mendelik pun menoleh kearah Kyungsoo.

"Judul lagunya Miracles In December." Jawab Baekhyun sementara Jongdae membagikan lembaran yang berisi lirik kepada mereka berdua.

"Liriknya, menyentuh." gumam Kyungsoo alakadarnya.

"Kita akan tampil saat penutupan festival jam 7 malam. Jadi kita masih punya banyak waktu latihan."

"Bagaimana kalau kita mulai latihan sekarang?" Usul Baekhyun. Dua temannya mengangguk sebagai jawaban.

Latihan selesai dua jam kemudian. Baekhyun dan Jongdae pamit pulang karena kelas mereka memiliki paper yang harus dikumpulkan besok. Jadilah Kyungsoo pulang sendiri karena arah rumah duo berisik itu berlawanan dengannya.

"Kyungsoo, kau baru pulang?" sapa sebuah suara. Kyungsoo menoleh dan menemukan Joonmyun berjalan menghampirinya.

"Ya, latihan menyanyi. Oppa sendiri?" Jawab gadis itu heran.

"Ah, aku sedang merevisi proyek klub kami untuk festival musim dingin mendatang." Sahut Joonmyun enteng. Festival musim dingin yang rutin diadakan sekolah mereka setiap tahunnya berisi sejumlah pertandingan olahraga antar kelas, acara pertunjukkan dari klub seni, dan stand-stand makanan dan hiburan dari berbagai klub atau ekskul. Pada dasarnya, festival musim dingin berarti 'dua hari penuh bersenang-senang sebelum libur musim dingin.'

"Ohya? Chess club akan membuka stand apa?" Tanya Kyungsoo seraya mereka berjalan menuju gerbang. Joonmyun mengangkat bahu. "Stand Bubble Tea." jawab Joonmyun asal. Tapi kemudian pria itu nyengir seakan teringat sesuatu.

"Kyung, Sabtu besok temani aku survey harga, ya? " Tawar Joonmyun.

"Eh? Sabtu besok? Aku tidak tahu, oppa." Jawab Kyungsoo seadanya. Ia teringat Jongin. Biasanya sabtu dan minggu Jongin akan bermalas-malasan di rumah Kyungsoo, kadang ia malah membawa teman-temannya untuk merampok makanan.

"Ayolah, kita belum pernah dapat kesempatan ngobrol sejak aku pulang dari Jepang." Rayu Joonmyun lagi.

Kyungsoo menghela napas. "Baiklah, oppa."

"Great! Kujemput jam 10 ya?"

Kyungsoo hanya mengangguk. Joonmyun baru mau menawarkan Kyungsoo untuk pulang dengannya ketika ponselnya berdering. Otou-san nya menelepon.

"Moshi-moshi?"

"Bocah tengik, kau dimana? Pulang sekarang, Okaa-san mencarimu." Titah Kim Siwon. Joonmyun hanya bisa mengiyakan kemudian menutup telepon.

"Aku pulang ya, oppa. See ya." Pamit Kyungsoo kemudian berlalu. Joonmyun menatapnya miris.

Yah, setidaknya aku bisa 'kencan' dengannya sabtu besok."

.

.

{o}

.

.

Kyungsoo memasuki rumahnya dengan gontai. Latihan tadi cukup menguras energi, belum lagi hari ini dia harus berdesak-desakan di bus karena Jongin sudah pulang sejak tadi. Ah, Kyungsoo sudah lupa rasanya berjejalan di bus karena sekarang Jongin selalu siap sedia mengantarnya kemanapun dia pergi. Padahal dulu, Kyungsoo kemana-mana selalu naik bus. Kyungsoo segera mencharge ponselnya yang mati kemudian menyalakannya.

34 Missed Calls from Jongin

Kyungsoo memang men-silent ponselnya karena ia tahu Jongin pasti akan mencoba menelepon saat ia latihan. Tapi Kyungsoo tidak berpikir kalau Jongin akan segigih ini. Mungkin ada yang penting, pikir Kyungsoo. Maka gadis bermata bulat itu menelepon Jongin balik sekarang.

"Hal—"

"Oi, kau dari mana saja sih? Kok tidak bisa ditelepon? Sekarang kau dimana?"

"Aku sudah dirumah. Ponselnya ku silent, tapi ternyata habis batere, makanya mati."

"Aish, aku mau menjemputmu tadinya. Kenapa tidak telepon aku saat sudah selesai?"

"Kan sudah kubilang kalau ponselku mati."

"Kau ini tau power bank tidak?"

"Aku tidak punya power bank."

"Heish. Besok kuberi power bank. Supaya kau tidak bikin orang khawatir seperti tadi."

Dan Jongin menutup teleponnya begitu saja. Kyungsoo mencibir. What a way to sound like a spoiled brat.

.

.

{o}

.

.

"Nih." Jongin menyodorkan sebuah benda persegi panjang bergambar Pororo dan teman-temannya dengan kabel putih yang menancap di ujungnya pada Kyungsoo yang baru saja duduk dikelas.

"Ini apa?" Tanya Kyungsoo tak fokus. Gambar Pororo pada benda itu mengalihkan perhatian Kyungsoo sepenuhnya.

"Power bank." Kyungsoo mendongak untuk menatap Jongin. "Jadi kau serius saat kau bilang mau memberiku power bank?"

Jongin memutar bola matanya acuh sambil menggoyang-goyangkan power bank ditangannya didepan Kyungsoo. Karena dari tadi Kyungsoo hanya memelototi power bank itu bukannya mengambilnya. "Aku selalu serius kok. Kau saja yang menganggapku tidak serius."

Kyungsoo meringis mendengar pernyataan Jongin tapi kemudian mengambil power bank itu juga. "Terima kasih. Kalau gambarnya bukan Pororo pasti tidak akan kuambil. Aku kan bisa beli sendiri."

"Justru karena aku tahu kau tidak akan terima kalau bukan bergambar Pororo, makanya aku belikan yang Pororo." Ujar Jongin kemudian mengusir Suzy yang baru mau duduk disamping Kyungsoo. Kyungsoo mengerutkan kening. "Kenapa kau mengusir Suzy? Ini tempat duduknya, tahu."

"Karena aku mau duduk disini. Lagipula dia pasti ingin mengobrol dengan teman-temannya. Ohiya, PR Bahasa Jepang-ku belum selesai, bantu aku dong."

"Astaga Jongin, Bahasa Jepang mulai sebentar lagi!" Lengking Kyungsoo.

"Makanya bantu aku." Ujar Jongin sambil nyengir. Jongin kemudian mengeluarkan buku tulis Bahasa Jepangnya dari dalam ransel biru yang sedari tadi masih bertengger di punggungnya. Kyungsoo hanya bisa menghela napas.

.

.

{o}

.

.

Kyungsoo, Jongin dan Chanyeol berjalan ke kafetaria dengan gontai. Mereka lelah, lapar, dan mengantuk. Tapi mereka lebih lapar ketimbang lelah dan mengantuk, makanya mereka memutuskan untuk ke kafetaria. Sesampainya disana, Jongin dan Chanyeol langsung ke konter makanan sementara Kyungsoo yang membawa bekal, langsung berjalan kearah barat daya karena ia melihat kepala Kris yang menonjol.

"Hai." sapa Kyungsoo seadanya lalu membuka bekalnya untuk mulai makan. Mereka semua membalas sapaan Kyungsoo. Kris dan Tao duduk bersebelahan, tapi tampaknya saling membuang muka malu-malu, Baekhyun sedang makan sedikit demi sedikit, Sehun tampaknya sedang chatting dengan seseorang sambil menyeruput susu, Yixing dan Jongdae tidak kelihatan batang hidungnya.

"Dimana Yixing unnie dan Jongdae?" Tanya Kyungsoo kepada entah siapa.

"Yixing sedang ke ruang osis karena ponselnya tertinggal, tapi dia akan kembali kesini. Kalau Jongdae…" Jawab Kris ambigu.

"Coba lihat meja dibelakangku, Soo." Lanjut Sehun tanpa mendongak dari ponselnya. Kyungsoo menurut.

Dibelakang Sehun ada meja yang diisi dengan Kim Jongdae dan Kim Minseok. Minseok sedang makan bakpao dan Jongdae terlihat gugup sambil beberapa kali mencuri pandang kearah Minseok.

Kyungsoo tidak bisa menahan tawa melihat Jongdae maka ia buru-buru berpaling.

Chanyeol dan Jongin akhirnya datang juga. Chanyeol segera duduk disamping Baekhyun sementara Jongin disamping Kyungsoo. Jongin dan Chanyeol yang melihat Kyungsoo terkikik genit pun menaikkan alis.

"Kyungsoo kenapa?" Tanya Chanyeol pada Baekhyun. Baekhyun hanya nyengir dan menunjuk meja di belakang Sehun. Chanyeol dan Jongin bengong.

"Bagaimana bisa?!" Chanyeol dan Jongin memekik tertahan bersamaan. Tidak percaya kalau teman mereka yang paling hopeless itu ternyata berani untuk membuat inisiatif.

"Mereka bertemu karena aku." Ujar Kris bangga. Menyadari tatapan teman-temannya, Kris menjelaskan kronologi kejadian kemarin siang. Dan bagaimana dia diabaikan oleh dua orang yang sekarang sedang berbagi bakpao tak jauh dari mereka.

.

.

Sementara itu…

.

.

Yixing berjalan riang kearah ruang osis untuk mengambil ponselnya yang tertinggal. Yixing tidak bisa hidup tanpa ponselnya. Semua catatan penting, jadwal, dan pengingatnya ada di ponselnya. Yixing itu pelupa, makanya dia butuh asisten tanggap, yaitu ponselnya. Begitu sampai didepan ruang osis, dia mendengar suara tawa genit dan erangan yang seharusnya tidak terdengar di sekolah.

Stupid teenager and their stupid hormones. Pikir Yixing jijik. Dia membuat catatan dalam hati untuk mengadukan ini kepada Donghae nanti, saat ini dia sedang mempersiapkan diri untuk melabrak pelaku tindak asusila di sekolah.

Tunggu, aku tidak bisa mengadu tanpa bukti. Pikir Yixing lagi. Dia tidak punya ponselnya saat ini, dia butuh seseorang dengan kamera atau ponsel ditangannya agar Donghae bisa percaya.

Yixing celingukan. Dan dia menemukan sosok manusia yang ia yakin mau membantunya. Kim Joonmyun. Yixing dengar Joonmyun itu kaya, hartanya melimpah, pasti dia punya ponsel canggih dengan kamera ber-resolusi tinggi.

"Eh, Joonmyun." Panggil Yixing tanpa repot-repot menambahkan panggilan formal dibelakang nama Joonmyun. Dasar gadis sembrono. Yang dipanggil menoleh sambil menatapnya dungu.

"Kau memanggilku, Yixing-ssi?"

"Iya. Kemari dulu, sebentar."

Joonmyun menurut kemudian menatapnya dengan tatapan penuh tanya.

"Kau dengar suara didalam?" Joonmyun mengangguk. Kecerdasan Joonmyun selalu menurun drastis kalau sedang dekat-dekat gadis cantik. "Aku tidak mau ada siswa siswi yang berbuat asusila di sekolah. Aku akan mengadukan mereka, tapi aku butuh bukti. Kau punya ponsel?"

Joonmyun mengangguk lagi kemudian mengeluarkan ponsel layar sentuh berwarna putih keluaran perusahaan bernama buah.

"Nah, aku mau kau memfoto oknum perbuatan asusila ini saat aku membuka pintu, siap?"

Joonmyun mengangguk untuk kesekian kalinya dan mempersiapkan kameranya. Yixing membuka pintu dengan suara yang begitu berisik sehingga siswa dan siswi yang berada didalamnya terlonjak dan menghentikan kegiatan mereka.

.

.

.

.

.

Ralat, bukan siswa dan siswi, tapi siswa dan siswa.

.

.

.

.

.

Yang berikutnya terdengar adalah lengkingan legendaris milik Zhang Yixing yang hanya keluar dalam bulan biru.

.

.

.

Jelas gadis itu histeris. Karena ia menemukan Lee Donghae sedang berciuman panas dengan Lee Hyukjae dan tampaknya sedang membuka kancing-kancing dari kemeja seragam si penari tersebut.

.

.

.

Joonmyun yang tadinya lesu jadi bersemangat memfoto mereka dari berbagai angle. Suara jepretan kameranya tidak kenal lelah.

Lee Donghae dan Lee Hyukjae nampaknya shock sampai mereka membeku di tempat.

Sementara Yixing tampaknya hampir semaput.

.

.

Oh, astaga.

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

A/N : Holla, people! Lama tak jumpa! Hihihi (giggling shamelessly)

Anyways, apa kabar? Gimana, feels fangirlnya? Lagi berbunga bunga ya? Sama, aku juga. Makanya update.

Ini ngebut ngerjainnya karena aku gaenak udah bikin kalian nunggu lama tanpa kabar. Ini juga udah aku panjangin kok, semoga puas yaaa ;D. Kayaknya sih aku udah mulai sembuh dari WB. Kayaknya.

Lagipula kan udah jaman libur nih, aku pasti usahain untuk nulis kok. Dan mungkin beberapa oneshoot akan kurampungkan, so, stay tuned! Aku juga baru bikin ig loh, kenalan sama aku yuk^^ *senyum lebar sambil nawarin permen*

Ohiya gimana raportnya (iya ini pertanyaan buat kalian yang masih sekolah)? Naik kelas kan? Naik dong?! Aku juga naik kok. Naik kelas duabelas tapi *nangis*

Dan selamat berpuasa bagi yang menjalankan! Aku minta mohon maaf lahir batin ya guysss =D

Aku butuh feedback nih, gimana? Ada typo yang mengganggu? Ada kata kata yang ga sreg? Gimana kaisoonya?

Aku tunggu reviewnya ya^^.

P.S: Terharu bgt ffn ada appnya sekarang :'). Finally!