Disclaimer: Masashi Kishimoto


New Romantics


And why I've spent my whole life trying to put it into words

'Cause you can hear in the silence

You can feel it on the way home

You can see it with the lights out

You are in love

True love

-Taylor Swift_ You are in love-


10


"Ayah?" Sakura kecil terlihat kebingungan dan memutuskan untuk bertanya kepada pria paruh baya yang sedang sibuk dengan bacaan nya.

"Hmm?" Si pria berambut senada dengan nya hanya bergumam menanggapi.

"Kenapa paman Gaara mencium pria berambut kuning itu?"

"Uhuk! " Si pria yang diketahui bernama Haruno Kizashi itu tersedak ludah nya sendiri, karena mendengar pertanyaan polos dari putri mungil nya.

Juga, sedikit mengumpat dalam hati, menyumpahi Gaara yang tak tau tempat bila mengangkut bermesraan.

Setelah memikirkan jawaban yang dirasa pas untuk seukuran bocah, Kizashi pun menghirup nafas dalam-dalam, berusaha menyembunyikan rasa kesal nya pada lelaki berambut merah yang kini dengan santai nya memasuki ruang keluarga, dan duduk di hadapan mereka berdua.

Sakura menatap Gaara yang balik menatap nya heran, "Apa?" tanya Gaara yang disambut gelengan ketakutan dari Sakura."Karena mereka saling mencintai" Kizashi mengabaikan raut penuh ingin tau Gaara dan memusatkan perhatian nya pada wajag Sakura yang kini terlihat berbinar.

"Benarkah itu paman Gaara? " Sakura sedikit menggeser tempat duduk nya agar lebih dekat dengan Gaara. Kebingungan, Gaara pun hanya menjawab dengan anggukan ragu, "Kau mencintainya?" Sakura mengulang pertanyaan nya kembali.

"Mencintai...siapa?" Gaara bertanya balik dan dihadiahi timpukan koran oleh Kizashi. "Tentu saja pria kuning yang mengantar mu pulang tadi, baka" Gaara terlihat terkejut dan seketika mengangguk pasti, "Ya, tentu saja aku mencintai Deidara" Sakura terlihat senang dengan jawaban dari paman nya itu, dan berusaha mendekat lagi kepada Kizashi.

"Apakah aku akan menemukan orang seperti itu dalam hidup ku nanti? " Tanya nya dengan raut gembira bercampur penasaran.

"Orang yang mencintai mu?" Kizashi mendapat anggukan semangat dari pertanyaan nya. "Untuk apa menunggu nanti? Sekarang pun kau sudah menemukan nya!" Kizashi membawa Sakura ke pangkuan nya dan digelitik putri semata wayang itu.

"Kau sudah memiliki keluarga yang mencintai mu, untuk apa menunggu nanti?"Sakura menggembungkan pipi nya-pura-pura merajuk- "Tapi aku ingin bersama dengan seorang pria tampan! Aku ingin bahagia bersama nya" Kizashi tertawa dan mengusap pucuk kepala Sakura dengan lembut, "Ya, kalau itu mau mu, kau pasti akan menemukan nya"

"Bagaimana ayah tau? "Sakura terdengar antusias.

"Tentu saja ayah tau, karena kau adalah putri ku"


"Gugup?" sebuah suara membuat wanita berambut merah muda itu memalingkan wajahnya-hanya sedikit- setidaknya mata mereka bisa saling bertemu.

Dua anggukan dari si wanita membuat lelaki disampingnya itu mengeratkan genggaman nya-berusaha untuk menenangkan.

"Tenang saja, hari ini kau adalah wanita tercantik." Sasuke- pria itu tersenyum tanpa melihat ke arah Sakura- yang lagi-lagi bersemu mendengar perkataan Sasuke.

Setelah upacara pemberkatan selesai dan mencuri satu ciuman singkat, akhirnya dua insan tersebut telah sah diikat oleh pernikahan.

Sakura, dengan gaun pengantin musim dingin yang di design khusus oleh Deidara-kakak kandung Ino sekaligus kekasih Gaara- menjadi topik pembicaraan hangat para tamu undangan.

Sakura lebih terlihat seperti ratu es yang memukau dibanding seorang pengantin. Dia sangat berkilau dengan senyum yang tiada pupus sejak tadi. Jemari nya terus menggenggam jemari Sasuke yang semakin erat.

Upacara pernikahan mereka diadakan di awal musim dingin; sesuai dengan keinginan Sakura. Dan sekaligus, menjadi musim favorite gadis yang seharusnya identik dengan musim semi itu.

Segelintir tanya pun muncul ketika mereka menetapkan tanggal pernikahan, baik dari keluarga maupun teman terdekat.

Namun, Sasuke dan Sakura hanya menjawab nya dengan senyuman dan berharap mereka bisa mengerti akan hal itu; tanpa harus dijelaskan.

"Bahagia? " Sasuke bertanya pada Sakura ketika mereka berdua sedang berdansa bersama tamu undangan yang lain.

Sakura pun mendongkakan kepalanya untuk melihat tepat dimata Sasuke. Satu butir airmata bergulir dari kelopak mata kanan, dengan sumringah dia mengangguk semangat,

"sangat.."

"Apakah aku terlihat tampan? " Sasuke menyeringai saat melihat perubahan wajah Sakura yang signifikan, dahinya berkerut dan memukul dada Sasuke bercanda.

"Tidak. Kau sangat jelek" Jawab Sakura namun dengan pipi bersemu, Sasuke cemberut dan seolah-olah merajuk,

"Oh ayolah, kalau begitu kau baru saja menikahi orang jelek? "

Sakura mengigit bibirnya untuk tidak tersenyum, "Kau tampan, Sasu! " ujarnya,

Sasuke membelai pipi Sakura yang bersemu, "Hari ini kau banyak sekali tersenyum.. rasanya aku cemburu pada mereka"

"Cemburu pada siapa?"

"Pada semua orang! Habisnya hari ini kau sangat cantik, rasanya ingin ku bawa pulang saja kau setelah upacara tadi" Sakura menggigit pipi dalamnya agar tak mengembangkan senyum saat mendengar perkataan Sasuke.

"Kau juga, hari ini kau senang sekali menggodaku"

"Kapan aku menggoda mu? "Sasuke menunjukan wajah seakan tak bersalah.

Sakura merotasikan bola matanya, "Bahkan saat pemberkatan pun kau menggoda ku! "

Lengan Sasuke bergerak untuk merangkul Sakura, tepat saat musik berhenti dan para tamu mengakhiri tarian.

"Kan sudah kubilang, hari ini kau sangaat cantik. Aku bahkan tak bisa mengalihkan pandangan barang sedetik pun dari mu"

Sakura tertawa pelan dan membalas pelukan Sasuke, tanpa memperdulikan tamu undangan yang mulai memperhatikan mereka.


"Tak bisa tidur? " Suara Sasuke serta rangkulan selimut dari lelaki itu membuat Sakura berjengit sedikit; kaget.

"Kau sudah pulang? maaf aku tak mendengar mu" Sakura mengusap tangan Sasuke yang masih merangkul pundak nya dari belakang.

Sasuke menjawab nya dengan banyak ciuman di rambut Sakura yang harum nya masih sama seperti pertama kali mereka betemu.

"Ada hal yang menggaggu mu? Ini sudah hampir tengah malam dan seperti nya kau masih ingin terjaga" Sasuke menyingkirkan anak rambut dari wajah Sakura yang nampak kelelahan namun senyum hangat mengembang dari bibirnya.

"Aku.. Aku hanya senang. Rasanya seperti Tuhan benar-benar menumbuhkan banyak bunga cantik disekitar takdir hidupku"

Sakura memeluk lengan Sasuke yang duduk disampingnya,Sasuke pun membawa kepala Sakura untuk bersandar pada pundak miliknya.

"Ya, aku juga. Sepertinya tidak sia-sia aku tetap sendiri sampai usiaku 28 tahun. Ternyata, jiwa ini sedang menunggu mu"

Semburat kemerahan hadir di pipi Sakura, ditemani semilir angin malam yang sejuk, serta keheningan yang membuat mata kadua insan itu saling terpejam; menikmati sentuhan lembut angin di wajah mereka.

"HWAA! HWAA! HWAAA! "

Suara tangisan lantas membuat mereka berdua berdiri bersamaan, hingga tak sengaja kepala mereka saling berbenturan.

"Awww"

"Ouch! "

"Kenapa bisa bersamaan seperti itu? Astaga kepala ku" Sasuke tertawa mendengar gerutuan Sakura sambil mengusap-usap dahinya yang terasa nyeri.

"Sakura? " Sasuke menggenggam lengan Sakura saat wanita itu berjalan menuju kamar mereka.

"Aku saja yang menenangkan Sarada, kau tidurlah. Jangan terlalu memaksakan diri"

"Tapi.. "

"Aku kangen sekali dengan Sarada" Sasuke memotong perkataan Sakura, wanita yang telah menjadi ibu itu pun terdiam dan tersenyum lembut.

"Baiklah, mau kubuatkan teh madu?"

Sasuke mengehal nafas lelah, "Sepertinya tadi aku menyuruh mu untuk istirahat"

Sakura tertawa pelan, "Ya, kita akan istirahat bersama setelah kau menidurkan Sarada kembali dan, minum teh di tengah malam terdengar menyenangkan, iyakan? "

Sasuke pun hanya mendengus pasrah, tak bisa kalah memang jika urusan beradu argumen dengan Sakura.

"Baiklah, tapi besok kau ada jadwal rekaman kan? Jangan sampai suara mu serak gara-gara kurang tidur" Sasuke kembali mengingatkan dan disambut acungan jempol dari Sakura, yang segera berlalu menuju dapur.

Setelah membuat 2 cangkir teh madu, Sakura pun duduk di meja dekat jendela besar dapur mereka, tatapan nya terus terarah pada satu bingkai berisi serangkaian tulisan.

- Puisi yang dibuatnya khusus untuk Sasuke.

Dan entah bagaimana caranya, lelaki itu bisa mempunyai inisiatif untuk membuat bingkai pada puisi berisi tulisan ceker ayam khas Sakura sewaktu SMA itu.

Tatapan nya pun beralih pada satu-demi satu foto yang terpajang di sekitar dinding ruang keluarga.

Foto kelulusan Sakura, Foto hari dimana Sasuke melamar Sakura, Foto pernikahan mereka, Foto konser pertama Sakura; yang dihadiri oleh seluruh anggota absurd Uchiha-Haruno, Foto kegembiraan saat mengetahui Sakura mengandung Sarada, Foto kelahiran Sarada dan yang paling baru adalah, foto keberhasilan Sarada menapak untuk yang pertama kali.

Sakura pun tersenyum bahagia. Melihat potret itu, membuat nya tersadar bahwa kehidupan Sakura benar-benar sudah berubah.

Tidak ada lagi Sakura yang senang memukul pria, tidak ada lagi Sakura yang bertingkah seenaknya, dan yang paling penting adalah, tidak ada lagi Sakura yang sendirian.

Sakura kini telah memiliki keluarganya sendiri. Lengkap dengan kebahagiaan yang berlimpah. Bola mata kehijauan itu beralih ke dua undangan berbeda warna yang berada di atas mejanya.

Senyum nya pun lagi-lagi mengembang. Satu undangan berwarna putih adalah milik Karin; mamanya. Yang akan menikah dengan seorang duda tampan asal eropa, bernama Hatake Kakashi. Sakura pun tak habis fikir bila mengingat bagaimana bahagianya Karin menceritakan awal mula pertemuan nya dengan Kakashi.

Diawali dengan tak sengaja sepatu mereka tertukar saat berkunjung ke kolam suci di Korea utara, sampai kedatangan Kakashi ke Jepang untuk meminta restu yang terlihat sangat gentle sekali. Tentu saja, dia meminta restu pada Sasuke dan Sakura terlebih dahulu.

Bagaimana wajah garang yang ditampilkan Sasuke saat Kakashi datang, membuat Sakura dan Karin tertawa sendiri. Seperti, dialah orangtua dari Karin, padalah sebaliknya.

Undangan kedua, yang berwarna hitam, milik Gaara dan Deidara. Yang melakukan pernikahan nya di San Fransisco bulan depan.

Tentu saja, pernikahan pasangan sesama jenis masih belum diperbolehkan di negara ini. Dengan menikah nya mereka berdua, sudah dapat dipastikan bahwa Ino dan Sakura akan menjadi sepupu dekat. Dan hal itupun membuat kehidupan Sakura semakin bertambah lengkap.

Rasanya, sombong sekali bila Sakura tidak mengucapkan syukur pada semua nikmat yang telah Tuhan berikan kepadanya ini. Sakura pun menundukan kepalanya dan menyatukan genggaman tangan.

"Sedang apa? " Suara gesekan kursi serta suara Sasuke membuat Sakura mendongkakan kepalanya kembali.

"Berdo'a"

"Di tengah malam begini? " Sasuke menyeruput teh nya dengan tenang.

"Ya, tak ada peraturan yang menyebutkan kalau berdoa harus diwaktukan" Sakura tersenyum agak mengejek dan ikut menyeruput teh miliknya.

Sasuke membalas nya dengan cibiran singkat dan usapan lembut di rambut Sakura.

Sakura merengut sambil sesekali membenarkan kepangan rambut nya yang sudah memanjang itu, melihat bagaimana kehidupan nya sekarang, rasanya ingin waktu diberhentikan saja. Agar selamanya, dia bisa merasakan kehangatan ini.


End


Haiiiiiii!

Akhirnyaaaa, selesai juga Fanfiction New romantics ini! Maafkan Nala kalau ending nya kurang memuaskan atau kurang greget,

I've tried my best *cengarcengir*

.

.

Ini dibuatnya disela-sela masa tegang mau presentasi dan acara himpunan yang mendesak pingin cepet-cepet dikelarin *isakisakmanja* jadi maafkan kalo banyak typo dan seadanya, mudah-mudahan kalian masih sempat untuk meninggalkan jejak di fanfic ku inii~

.

.

Kritik saran yang membangun sangaat aku butuhkan!

.

Terimakasih atas perhatian nya selama ini!

.

Oiya, aku sekarang mulai aktif nulis di fandom Haikyuu! bagi yang seneng juga atau berminat baca, yuk ah merapatt~

.

Dan juga, sekarang aku punya akun wattpad! *Ketawagirang* baru publish sekali dan kalau mau search,

this is my user name;

NalaKen

Udah buat lama sebernya tapi gak pernah dipake soalnya gak ngerti *timpukbatubata*

.

.

Sampai ketemu di fanfic selanjutnya yaaa!

Semoga kita semua bisa sehat selalu!

Ada next chapter! Bonus puisi yang dibuat Sakura untuk Sasuke!

.

.

God bless Us!

-Nala. K