"Kim Jongin, kali ini giliranmu untuk mengucapkan janji sebagai suami Oh Sehun."

Jongin membeku dan hanya mata saja yang dapat bergerak melirik ke arah wajah-wajah familiar yang entah mengapa terasa asing baginya sekarang. Hingga, matanya berhenti pada Sehun yang memasang senyum lebar dibibirnya. Pria itu tampak tampan, mungkin lebih tampan dari dirinya. Namun, bukan itu yang Jongin permasalahkan di dalam pikirannya maupun.. hatinya.

Apa dirinya benar-benar menginginkan pernikahan ini?

"Ayo, Jongin." Bisik Sehun lembut. Tangan pria itu sekarang menggenggam tangannya erat. Jongin masih terdiam membeku tidak tahu harus berbuat apa. Ia mengalihkan pandangnya ke arah bangku tamu, tepat ke arah keluarganya. Di sana ada Tiffany yang terlihat cantik daengan gaun putihnya, ada Yifan yang tersenyum hangat kepadanya, ada paman dan bibinya yang terlihat serasi bersama meski mereka terlihat lelah, lalu yang terakhir.. ada ibu Tiffany yang terlihat anggun seperti biasanya.

Mereka semua terlihat bahagia. Namun, yang jadi pertanyaan bagi dirinya.. apa dirinya bahagia?

Jongin berbalik menghadap Sehun dan matanya berusaha sebisa mungkin menghindari mata pria itu. "Aku butuh waktu." Ujarnya pelan. Sehun sampai tidak bisa mendengar suaranya dengan jelas.

"Apa?"

Jongin menarik nafas dalam-dalam. Ia melepaskan tangan Sehun lalu menggeleng pelan. "Aku butuh waktu." Ujarnya kali ini lebih lantang. Seluruh mata mungkin mengarah kepadanya sekarang. Namun, Jongin tidak perduli. Ia berusaha menghindari tatapan mereka semua terutama tatapan terluka Sehun. "Aku butuh waktu." Ujarnya lagi membuat Sehun melangkah mundur menjauh darinya.

.

.

Chapter 9 : You're Already Mine (Part II of III)

.

.

Beberapa jam yang lalu..

Waktu menunjukkan pukul 2 siang. Sehun dan Jongin memutuskan untuk mengakhiri wisata mereka di Akropolis dan berencana untuk mampir sebentar ke restoran di sekitar hotel mereka. Sehun berusaha menulikan telinganya setiap Jongin mengeluh kalau dirinya akan mati kelaparan. Akhirnya, setelah setengah jam kurang menahan diri untuk mendengarkan keluhan Jongin yang terdengar amat berlebihan. ("Aku butuh makan! Oh my God, Sehun, sepertinya aku akan kejang-kejang lalu mati kalau kau tidak memberikanku makanan.)

Mereka sampai di salah satu restoran cepat saji semacam McDonald. Dengan penuh semangat, Jongin berlari keluar dari mobil meninggalkan Sehun yang hanya menggelengkan kepalanya melihat yang meloncat-loncat kegirangan di depan pintu restoran. Pelayan yang berjaga di depan pintu menatapnya dengan senyuman geli. Sehun langsung menjaga jarak dengan pria kampungan itu. Kapan sih Jongin bisa berhenti mempermalukannya?

Sehun menghela nafas. Namun, bagaimanapun juga itu lah keistimewaan seorang Kim Jongin. Pria aneh itu selalu membuatnya tersenyum dan tertawa. Pria itu membawa kembali kebahagian ke dalam hidupnya. Pria itu.. mungkin adalah calon pendamping terbaik bagi dirinya.

Mungkin, menikahi Jongin adalah salah satu keputusan terbaik yang akan diambilnya.

"Sampai kapan kau mau berdiri di sana terus? Aku bisa mati kelaparan di depan pintu restoran tahu!" Gerutu Jongin kesal.

Sehun mendengus keras sebagai respon untuk pria itu. Ia berjalan mengikuti Jongin yang kemudian berjalan masuk ke dalam restoran. Oke, sekarang ia jadi ingin menarik kembali apa yang tadi dikatakannya.

Jongin menyuruh Sehun untuk mengantre setelah melihat antrean panjang yang mengelilingi counter restoran. Jongin beralasan kalau bahasa Inggris Sehun lebih fasih darinya. Sehun kembali mendengus lalu mencibirnya, "Lebih fasih darimu? Heh, memangnya kau bisa berbahasa Inggris dengan baik dan benar?"

"Berisik! Kalau iri dengan skill berbahasaku, bilang saja!" Seru Jongin membuat Sehun gemas sendiri. Tanpa dirinya sadari, ia menarik Jongin mendekat dan mencium keningnya. "Dasar." Bisiknya lalu berjalan menuju antrean. Jongin hanya menganga di tempatnya tidak tahu harus bereaksi apa. Itu anak kenapa sih? Jongin menggelengkan kepalanya berkali-kali berusaha menahan jantungnya yang seolah ingin meledak.

Jongin berjalan mencari-cari meja kosong di sekitar restoran. Nyaris seisi restoran sudah dipenuhi oleh pelanggan. Mata Jongin berkeliling ke seluruh penjuru restoran berusaha mencari tempat yang masih kosong. Hingga, matanya berhenti pada sesosok pria yang dikenalnya. Park Chanyeol.

Tanpa dirinya sadari, kakinya melangkah mendekati pria itu yang tampak sendirian menikmati burger-nya. Pria itu membuang muka keluar jendela restoran entah sedang memperhatikan apa. Mungkin, ia sedang melamun atau memikirkan sesuatu. Jongin berdiri di hadapannya merasa ragu untuk menyapa pria itu. Ia masih memiliki pilihan untuk pergi dan berpura-pura kalau ia tidak melihat Chanyeol. Namun, hatinya menginginkan pilihan yang lain. "Hei." Sapa Jongin sedikit canggung.

Chanyeol segera menoleh ke arahnya dengan wajah bingung. Namun, perlahan-lahan senyuman yang membuat jantung Jongin berdetak lebih cepat merekah dibibir pria itu. "Hai, Jongin. Kau ke sini sendirian atau bersama..?" Tanpa perlu melanjutkan pertanyaannya, Jongin tahu siapa yang Chanyeol maksud. "Aku bersama Sehun ke sini. Tapi, dia sedang memesan makanan sekarang." Potong Jongin. Chanyeol mengangguk paham.

"Boleh aku duduk di sini sebentar?"

"Boleh. Sebentar lagi, aku juga akan kembali ke hotel."

Kali ini, giliran Jongin yang mengangguk. Pria itu mulai memainkan jemarinya merasa gugup tanpa alasan yang jelas. Chanyeol selalu memberikan efek seperti ini kepada dirinya, bahkan efek itu masih mempengaruhinya sampai sekarang. Sementara itu, Chanyeol kembali memperhatikan rumah-rumah penduduk di luar restoran. Pria itu mulai membayangkan apa jadinya kalau ia mengajak Luhan untuk tinggal di sini – di Yunani.

"Chanyeol, besok aku akan menikah di Cameo Island." Ujar Jongin tiba-tiba.

Chanyeol langsung beralih menatapnya dan memberikan senyuman yang terlihat palsu. "Selamat ya. Maaf, mungkin aku tidak bisa datang."

Jongin tidak sebodoh yang Chanyeol duga. Ia dapat melihat kekecewaan di dalam mata Chanyeol yang membuat dirinya sedikit berharap. Apa mungkin Chanyeol masih mencintainya? Dan bentuk kekecewaan itu merupakan perasaan cemburunya? "Aku ingin menanyakan sesuatu."

"Apa?" Mata Chanyeol hanya tertuju kepada Jongin dan itu membuat dada Jongin terasa menyesak.

"Apa kau pernah mencintaiku?"

Ia langsung menyesali pertanyaan bodohnya itu setelah melihat wajah Chanyeol yang berubah. Sejenak, Chanyeol hanya terdiam menatapnya lekat-lekat tidak tahu harus membalas apa. Jongin masih menunggu jawabannya dengan penuh harapan. "Aku pernah mencintaimu lebih dari apapun yang ada di dunia ini. Namun, setelah tahu kalau kau hanya menggunakanku sebagai pelampiasan atas-"

"Apa?!" Jongin nyaris menjerit. Amarahnya naik sampai ke ubun-ubun. Ia tidak menyangka kalau selama ini Chanyeol menganggapnya orang yang seperti itu. "Aku tidak pernah menggunakanmu sebagai pelampiasan!"

"Tapi, Luhan memberitahuku kalau kau menggunakanku hanya sebagai pelampiasan. Kau tidak pernah benar-benar mencintaiku. Kau menjadikanku sebagai pelarian dari segala masalah dengan orangtuamu." Jelas Chanyeol dan sungguh, Jongin ingin membunuh Luhan saat itu juga. Mengapa Luhan bisa sejahat itu kepada dirinya? Ia bukan hanya merebut kedua orangtuanya tapi juga Chanyeol – satu-satunya orang yang ia cintai dan mungkin sampai sekarang.

"Kau bodoh karena memercayai Luhan! Aku mencintaimu Chanyeol!" Aku melakukan semua ini hanya untuk mendapatkanmu kembali!

Dada Jongin semakin menyesak hingga rasanya ia kesulitan bernafas. Rasa sakit dihatinya juga terasa sampai menjalar ke seluruh tubuhnya. Chanyeol menatap dirinya dengan penuh penyesalan. Namun, pria itu tidak berani berkata-kata apa. Ia membungkam mulutnya hingga matanya lah yang berbicara. Pria itu.. jelas-jelas masih menyimpan cinta untuk Jongin.

"Aku ingin kau bahagia dengan Sehun. Dan aku ingin kau juga mengharapkan yang sama untukku." Ujar Chanyeol untuk terakhir kalinya.

Jongin tidak membalasnya dengan sebuah kebohongan kalau ia berharap Chanyeol akan bahagia dengan Luhan. Ia tidak mau membohongi hati dan orang yang masih dicintainya. Chanyeol pantas mendapatkan seseorang yang jauh lebihbaik daripada Luhan – dan itulah kebenarannya.

Chanyeol meninggalkan Jongin suatu pertanyaan yang membekas di pikiran Jongin. Bahkan, sampai Sehun datang membawa seisi nampan penuh makanan favoritnya. Jongin masih memikirkan pertanyaan itu.

Apa dirinya benar-benar menginginkan pernikahan ini? Apakah pernikahan ini akan membuatnya bahagia?

.

.

Selama perjalanan pulang menuju hotel, Jongin tidak menoleh menatap Sehun sama sekali. Ia terus menghindari tatapan pria itu membuat Sehun diam-diam mencemaskannya. Apa Jongin baik-baik saja? Sehun terus mencuri pandang ke arah pria itu sepanjang perjalanan. Jongin masih menghindarinya bahkan sampai mereka tiba di hotel.

"Sebentar lagi, kita akan berangkat. Carlos sudah on the way menuju ke sini." Ujar Irene memberitahu Sehun. Sehun hanya mengangguk lalu berjalan menuju balkon menyusul Jongin yang sedang mencari udara segar di sana.

Sehun berdiri di sampingnya membuat Jongin bergerak menjauh darinya. Sadar akan apa yang Jongin lakukan, Sehun segera menarik tangan Jongin membuat pria itu mendekat kepadanya. Tanpa menghiraukan protes Jongin, tiba-tiba Sehun memeluk dirinya erat seolah ia tidak ingin kehilangan Jongin meski sedetik saja. "Aku tidak ingin kau menghindariku seperti itu. Aku tidak tahan." Bisik Sehun.

Jongin hanya diam lagi-lagi kehabisan kata-kata. Ia masih memikirkan Chanyeol dan hatinya juga masih menginginkan pria itu. Namun, besok ia akan menikahi Sehun. Dan sesungguhnya, ia juga memiliki suatu perasaan kepada pria itu. Jongin merasa dilema. Ia tidak tahu harus memilih siapa. Keduanya selalu berhasil membuat jantungnya terasa akan meledak.

"Maaf. Aku tidak bermaksud menghindarimu." Balas Jongin lalu Sehun mencium puncak kepalanya.

"Lain kali, kalau kau menghindariku lagi. Aku akan memberikanmu hukuman." Goda Sehun membuat Jongin memutar kedua matanya.

"Siapa juga yang akan takut dengan hukumanmu? Ancamanmu itu tidak mempan untukku."

"Hehe, lihat saja nanti.." Sehun menyeringai layaknya iblis yang siap mem-bully targetnya. Jongin hanya bergidik ngeri.

"Please deh, jangan mesra-mesraan di depan dua cewek jomblo! Kalian itu bikin kita galau tahu!" Keluh Tiffany yang entah sejak kapan sudah berdiri di ambang pintu balkon, dengan kedua tangan dilipat di depan dada terlihat cemburu melihat kemesraan Sehun dan Jongin.

"Koreksi, single bukan jomblo." Celetuk Irene dari belakang Tiffany.

Jongin hanya terkekeh geli melihat tingkah kedua wanita itu. Sementara, Sehun menjulurkan lidahnya membuat Tiffany menempeleng kepala pria itu. "Hei! Kau tidak boleh menempeleng kepala pengantin! Pamali tahu!"

"Zaman begini masih percaya mitos? Ew, ke laut aja deh sana!"

Seperti dugaan Jongin, pertengkaran mulut diantara keduanya pasti akan berlangsung cukup lama. Jadi, daripada ia berdiri di antara dua orang yang sama-sama kekanak-kanakan ini lebihbaik ia meninggalkan mereka berdua yang bahkan tidak menyadari kepergiannya. Jongin duduk di sofa yang letaknya menghadap ke arah televisi. Ponsel Jongin yang berada di dalam sakunya tiba-tiba bergetar.

Tanpa mengalihkan pandangnya dari televisi, Jongin mengeluarkan ponselnya dan menerima panggilan telpon tersebut. "Halo?"

"Jongin-ah, aku sudah sampai di Cameo Island. Kalian jam berapa akan berangkat? By the way, aku bersama paman dan bibimu sekarang."

"Yifan! Oh, umm, mungkin sebentar lagi.. kami sedang menunggu Carlos sekarang. Dia semacam tour guide kami. Paman Hyesung dan Bibi HyunYoung jadi datang?!"

Hyesung dan HyunYoung adalah satu-satunya kerabat dekat Jongin yang benar-benar perduli kepadanya. Mereka sudah menganggap Jongin sebagai anaknya sendiri dan begitupun dengan Jongin. Kasih sayang yang keduanya berikan bahkan mungkin melebihi kasih sayang yang ayah dan ibu Jongin berikan kepadanya. Ironis, memang. Namun, begini lah hidup Jongin. Seburuk apapun hidupnya, Jongin tetap merasa bersyukur dapat bertemu dengan orang-orang seperti mereka yang masih mau menjadikannya bagian dalam hidup mereka.

"Ya, kami berangkat bersama dari Korea sampai di sini. Cepatlah ke sini! Mereka kangen sekali denganmu."

"Ya, ya, tunggu sebentar. Bilang pada mereka, aku juga kangen sekali dengan mereka."

"Oke, oke, oiya.. Jongin-ah, selamat ya. Aku harap kau dapat bahagia bersama Sehun. See you."

Yifan langsung memutus sambungan. Jongin kembali terdiam memikirkan kalimat terakhir Yifan. Aku harap kau dapat bahagia bersama Sehun. Pertanyaan yang sama kembali mengusik dirinya. Apa dirinya benar-benar menginginkan pernikahan ini? Apakah pernikahan ini akan membuatnya bahagia?

Apakah Sehun adalah orang yang tepat?

Selang beberapa menit, Carlos datang dan mereka semua segera check-out dari hotel. Diperkirakan mereka akan sampai di Cameo Island sekitar pukul 8 malam. Jadi, sepanjang perjalan mereka di darat. Mereka semua (terutama Tiffany dan Sehun) memutuskan untuk beristirahat. Sementara itu, Irene memilih untuk mengobrol dengan Carlos dalam bahasa Yunani. Jongin baru tahu kalau Irene fasih berbahasa Yunani.

Kepala Sehun berada dipundak Jongin sekarang. Jongin yang merasa tidak leluasa hendak ingin memindahkan kepala pria itu. Namun, saat melihat wajahnya dan berpikir kalau mungkin Sehun kelelahan. Jongin memilih untuk membiarkan Sehun bersandar padanya. Lagipula, ini juga moment yang jarang sekali.

Jongin menyumpal kedua telinganya dengan earphone. Ia ingin beristirahat seperti Sehun dan Tiffany. Namun, pikirannya membuat ia tetap terjaga. Jongin masih belum menemukan jawaban dari pertanyaannya. Dan sejujurnya, ia takut kalau pertanyaan itu akan terus mengganggunya sampai besok.

Perjalanan yang awalnya diperkirakan sekitar 4 jam ternyata menempuh waktu 5 jam. 3 jam di darat dan 2 jam melewati jalur laut. Ini bukan pertama kalinya Jongin naik kapal. Namun, tetap saja ia merasa mual setiap ia berdiri di belakang pagar kapal dan melihat ke bawah. Jongin segera menjauh dari pagar kapal dan duduk di samping Sehun yang kembali tertidur di kursi yang bentuknya seperti kursi pantai. Jongin berusaha memejamkan matanya di samping Sehun. Namun, lagi-lagi ia tetap terjaga.

"Coba saja, kalau kita sudah berada di atas kapal sekitar pukul 5 sore menjelang sunset." Ujar Sehun tiba-tiba. Matanya masih terpejam rapat. Jongin yang sudah berbaring di sampingnya melirik Sehun. "Aku ingin menonton sunset itu bersamamu lalu mencium bibirmu."

Jongin berusaha keras menahan tawanya. Bukannya merasa tersanjung atau apa, ia malah ingin menertawakan kata-kata sok puitis Sehun yang terdengar 'eww' banget. Sehun membuka matanya dan melirik Jongin. Ia mengharapkan wajah Jongin yang memerah berkat kata-katanya. Namun, yang ia temukan malah wajah aneh Jongin yang berusaha keras menahan tawanya. "Well, kayaknya gombalanku tidak berhasil." Gumam Sehun sambil memanyunkan bibirnya. Kali ini, Jongin benar-benar tidak bisa menahan tawanya.

"Soal gombalan, aku jagonya. Dengarkan ya," Jongin bangkit memposisikan dirinya duduk bersila di samping Sehun. Ia menatap Sehun lekat-lekat membuat Sehun tidak bisa memalingkan matanya dari pria itu. "sebenarnya tidak perduli dengan sunset atau langit malam yang seindah ini. Selama kau dan aku ada di sini, selama kita masih bisa bergandengan tangan seperti ini," Jongin menggenggam tangan Sehun erat berpikir ia tidak akan pernah melepaskannya. "itulah kebahagian yang tidak akan pernah kulupakan."

Jongin mendekatkan dirinya lalu menempelkan bibirnya pada bibir Sehun. Keduanya saling memejamkan mata merasakan kehangatan yang mengalir ke seluruh tubuh mereka. Tangan Jongin mulai berpindah ke belakang kepala Sehun, meremas rambut pria itu lembut menambahkan euforia yang meledak-ledak di dalam diri Sehun. Ciuman mereka tidak liar atau bermain dengan lidah. Ciuman mereka kali ini terkesan hati-hati serta begitu lambat seolah mereka menikmati setiap detiknya dan tidak ingin ciuman ini berakhir.

Ketika Sehun membuka matanya dan sedikit menjauhkan dirinya dari Jongin, pria itu berusaha mengatur nafasnya sebelum bertanya, "Apa kau benar-benar bahagia bersamaku?"

Dan Jongin langsung membeku, tidak tahu harus menjawab apa.

.

.

Rin's note :

OMGG! Finally, aku updateeee haha.. anyways, flashback ini masih berlanjut sampai di part III.. dan part III-nya akan ku update minggu depan kkkk

Aku udah nargetin di chapter berapa fanfic ini akan habis.. tbh ada perubahan dari plot awalku dengan alur yang sekarang.. sedikit spoiler, aku nggak akan buat sehun dan jongin pura-pura menikah cuma buat ChanLu jealous..

Jadi, maybe 4 atau 3 chapter lagi fanfic ini akan tamat hehe..

Soo, what do you think of this chapter? Kemarin, memang gaya penulisanku sedikit berubah jadi kurang baku.. dan banyak yang kurang begitu suka jadi sekarang aku kembali ke gayaku sebelumnya cuma untuk menambahkan bumbu-bumbu humor, aku pakai bahasa yang kurang baku di beberapa dialog (tapi kurang bakunya juga nggak yang seperti chap sebelumnya kok)

Inti dari chapter ini sebenarnya adalah kedilemaan Jongin. Awalnya, aku nggak akan kepikiran sama sekali untuk buat Jongin dilemma begini. Tapi, setelah kupikir-pikir menikah itu perlu komitmen yang matang banget jadi kenapa nggak buat si Jongin yang selama ini konyol jadi lebih serius dan dewasa.. (sekalian nambah konflik dikit sebelum end lol)

P.S If you want to ask anything to me.. just contact me on askfm (ferineee) #promoQaQa lol