THE LONERS
Disclaimer : Masashi Kishimoto
SEPULUH: Alone...
"Ayo !" Seru Konan sambil bergegas mengikuti Kyojin yang makin lama makin mempercepat gerakannya.
Guk ! Kyojin menggonggong senang lalu berlari agak cepat, sepertinya ia sudah tahu persis darimana bau ini berasal...
"Aduh, Kyojin...jangan cepat-cepat...aku capek, tahu" keluh Konan sambil menyeka keringatnya.
"Ayo, Konan ! Jika kita tidak bisa menemukannya, kita akan kehilangan segalanya !" Seru Nagato. "Perlukah kau kugendong ? Kyojin sudah mulai menjauh" tawarnya.
Akhirnya Nagato menggendong Konan. Shinobi berambut merah itu melesat secepat kakinya bisa ke arah yang dituju Kyojin. Anjing itu berlari, makin lama makin cepat, sepertinya mereka semua beruntung, karena kemungkinan besar apa yang mereka cari akan segera ditemukan...
(-The Loners-)
Kyojin berbelok penuh semangat dan segera menghambur masuk ke sebuah toko obat. Konan dan Nagato-yang mengikutinya dengan nafas terengah-engah, tak urung kewalahan juga. Mana bisa kecepatan dua manusia remaja dibandingkan dengan kecepatan seekor anjing pemburu terlatih ?
"Dia masuk ke dalam ! Ayo, Nagato !" Seru Konan. Nagato segera mengikuti gadis berambut biru itu.
Dan...
Mereka berdua membuka pintu. "Kyojin...dimana kau ?" Desis Nagato. Ia bisa berteriak, tapi ia tahu tentu itu tidak etis, mengingat ini tempat umum. Walau pengunjung toko obat itu sedang tidak banyak.
"Cermati baik-baik, Konan. Kita beruntung pengunjungnya sedang tidak banyak" nasihat Nagato. Konan mengangguk antusias dan kedua mata indahnya, sekaligus telinganya, langsung sibuk memeriksa setiap pengunjung. Dari pakaian, wajah, hingga suara mereka.
Mereka berdua berkeliling beberapa saat. Untung juga toko obat itu tidak terlalu besar.
Hingga akhirnya mereka menemukan Kyojin sedang menggoyang-goyang ekor dan menjulurkan lidah. Sepertinya ia puas karena berhasil menemukan sesuatu yang dikiranya dicari dua majikannya.
Beberapa botol ramuan hemlock.
.
.
.
"J-jadi...yang...dicari...dan diendus...Kyojin...hanya ramuan hemlock ?" Desis Konan terbata tak percaya. Nagato mengangguk pelan.
"Sepertinya begitu" sambungnya.
"Kurasa dia termasuk agak profesional, Konan. Sayangnya kita tidak menemukan orang, tapi bau yang paling kuat yang dirasakannya. Kalau ia tidak begitu terlatih, mungkin berapa kalipun kita mencoba, Kyojin akan tetap mengendus bau yang sama dan mengiranya sebagai obat hemlock" lanjut Nagato.
Konan menunduk. Matanya berkaca-kaca. Sepertinya ia sudah sangat berharap bertemu kedua orangtuanya. Harapan itu makin besar ketika Kyojin berlari dan berlari. Ia menganggap ia telah sampai pada pengujung harapannya dan tinggal selangkah lagi bertemu dengan dua orang yang telah merawat dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang.
Tapi, seperti kata pepatah, semakin tinggi kau melompat, semakin sakit rasanya jika kau jatuh.
Nagato tahu, agak memalukan (atau perasaan aneh atau sejenisnya) jika ia menghibur apalagi memeluk Konan hanya untuk menenangkannya di tempat seperti ini. Tapi...mau bagaimana lagi ?
"Sudahlah, Konan. Ini baru pencarian pertama. Sabarlah. Kita pasti menemukan mereka" desisnya sambil memegang pundak Konan.
Konan terisak. "Nagato..." panggilnya.
"Ya?"
"Bagaimana...kalau...Yahiko benar...?"
Nagato terdiam sesaat. "Bagaimana kalau Yahiko memang lebih berpengalaman dibanding kita berdua ?" Tanya Konan lagi.
"Kalau begitu..."
"...kita akan buktikan dia salah" jawab Nagato tegas. Konan tertegun.
"Ayo, Konan. Pencarian baru dimulai. Kalau kita menemukan mereka saat pertama kali mencobanya, tentu aneh rasanya. Setelah kau berhasil setelah gagal berkali-kali, barulah kau bisa merasakan betapa berharganya itu" nasihat Nagato lagi. Setidaknya ia bahagia bisa membuat Konan tersenyum lagi.
(-The Loners-)
Mereka berdua berjalan lagi. Konan dan Nagato menanyakan ke banyak orang yang mereka temui tentang orangtua Konan melalui selembar foto. Sudah puluhan orang mereka tanyai. Puluhan kali juga mereka diberi jawaban serupa.
'Tidak'.
'Aku tidak mengenalnya...'
'Maaf, tapi aku tidak pernah melihat orang ini'
'Aku tidak pernah melihatnya'
'Aku tidak tahu...'
Sore hari. Matahari telah bergeser ke ufuk Barat, ditemani mendung dan gerimis yang tidak pernah jemu menyertai pergerakannya.
Dua anak manusia yang tampak kelelahan dan setengah putus asa, disertai seekor anjing, tampak berteduh dibawah sebuah pohon besar, agak jauh dari keramaian kota. Mereka rasanya sudah menanyai semua orang disana, tapi semua orang menggeleng.
"Sampai...berapa lama...kita akan seperti ini..." desah Konan sambil meneguk botol airnya.
"Bersabarlah sedikit lagi, Konan. Dunia tidak sekecil ini. Lagipula kita kan bertiga, bukan kau sendiri" hibur Nagato sambil tersenyum. Kyojin menggonggong seolah membenarkan.
Konan tertegun. 'Dunia tidak sekecil ini !'
"Kau benar" celetuknya tiba-tiba. Nagato menaikkan satu alis. Dari cara Konan mengatakannya, pasti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Dunia tidak sekecil ini, Nagato ! Kita baru menyusuri satu kota dari ribuan di luar sana ! Kita baru mengetahui satu negara dari puluhan di luar sana ! Berapa lama akhirnya ini semua bisa berakhir...?" Isaknya mulai terdengar lagi.
Nagato terdiam. Sepertinya ia baru sadar telah memilih kata-kata yang salah untuk menghibur Konan. Alih-alih menghibur, itu justru membuatnya merasa semakin buruk.
Air mata menggenangi pelupuk mata gadis berambut biru itu. Bahunya berguncang sedikit.
Ini pemandangan yang tidak ingin dilihat Nagato.
Sungguh, ia samasekali tidak ingin melihat gadis ini bersedih. Lagipula ada dia disini yang berperan sebagai sosok kakak laki-laki, kan ? Ada Kyojin. Dan mereka peduli dengannya. Kenapa harus bersedih ?
Tapi, sisi lain Nagato mencoba mengerti. Konan sudah terbiasa hidup bersama kedua orangtuanya. Pasti sulit baginya untuk hidup dengan orang-orang asing, terlebih Nagato memang bukan siapa-siapa bagi Konan.
Sedekat dan semirip apapun seseorang, walau kita menganggap mereka adalah orangtua kita, tetap saja mereka bukan orangtua kita yang sesungguhnya. Memang posisi 'ayah' dan 'ibu' tidak tergantikan.
Nagato telah hidup bertahun-tahun tanpa kedua orang itu. Dan dia baik-baik saja. Tidak perlu, lihatlah yang lebih ke bawah. Yahiko. Dia bahkan tinggal jauh dari keramaian. Menyendiri di tengah hutan seperti satwa langka.
Nagato memandang langit yang tak kunjung meredakan tangisannya.
Ah, Yahiko...
Sekarang...
Apa yang sedang kau lakukan sekarang...?
.
.
.
Krssskkk
Nagato menoleh.
Krrsssskkk
Kali ini tangisan Konan juga mereda. Semak-semak di sekitar mereka terdengar bergemerisik dan terlihat bergerak.
Kyojin menggonggong liar.
"Hati-hati, Konan" bisik Nagato. Konan memegang erat-erat tas ransel bawaan mereka. Siapa yang tahu siapa yang sedang bersembunyi di dekat mereka sekarang ini ?
.
SRAAKK
.
.
Semak-semak tersibak. Tampak enam sosok mengerikan serba hitam dengan stoking kepala dan katana berkelebatan.
"Sial..." bisik Nagato. GUK ! Kyojin menggonggong brutal, tapi belum menyerang. "Jangan, Kyojin ! Kau bisa kehilangan nyawamu !" Seru Nagato berusaha mencegah.
Tapi seekor anjing yang setia tidak bisa begitu saja merelakan keselamatan orang yang disayanginya-sekaligus keselamatan dirinya sendiri-begitu saja.
FUT ! Dua dari mereka melemparkan sebuah pukat, tepat sebelum Kyojin menyergap mereka. Kini anjing hitam itu terperangkap sepenuhnya dalam pukat dan hanya dapat berusaha memberontak liar, walau sia-sia.
"Hehehe...hari ini nasib kita lumayan bagus" desis salah satu dari mereka.
"Dua anak. Mungkin mereka berasal dari keluarga...yah, setidaknya sedikit terpandang. Atau jika keduanya berasal dari keluarga yang berbeda...kita akan dapat untung ganda !" Sambung yang lain.
Penculik, huh ? Batin Nagato. Tubuhnya menegang.
Bagaimana...
...bagaimana kalau...
...kalau...
...Kalau kekuatan itu bangkit lagi...
...Di saat-saat seperti ini...
...apa...
...yang...
...akan...
...terjadi...
...pada...
...Konan...?
Ia melirik Konan. Konan juga sedang meliriknya.
"Hah ! Buang-buang waktu, cepat ringkus bocah ingusan ini dan siapkan rencana kita !" Seru penculik yang bertubuh paling kekar.
Tanpa daya, dengan 'taijutsu' seadanya, mereka samasekali bukan tandingan untuk komplotan bertubuh kekar itu. Nagato dan Konan segera diikat dengan tali. Pemimpin mereka baru saja menyiapkan selotip untuk membekap mulut mereka agar tidak bisa berteriak sebelum...
.
.
"LEPASKAN MEREKA !"
.
.
.
Semua yang mendengar suara itu langsung menoleh ke sumbernya.
Diatas pohon, yang tak jauh dari situ.
Sosok shinobi remaja berambut durian oranye dengan mata coklat yang berkilat-kilat, tampak memasang wajah berang. Golok terselempang di pinggang kanan dan kirinya, sementara –mungkin- beberapa granat, atau bom asap, terselempang di bahunya.
"Yahiko !" Seru Nagato dan Konan bersamaan.
Sosok yang merasa disebut namanya itu menyeringai lebar seperti baru menemukan mangsa.
"Aku takkan meninggalkan kalian semudah kalian meninggalkanku !" Seru Yahiko sambil melompat turun dan segera menebas lengan atas salah satu penculik itu dengan golok di sisi kanan tangannya. Penculik itu mengerang kesakitan.
"Kalian tidak akan kuampuni !" Seru Yahiko sambil bersiap dengan kuda-kuda bertarung.
"Masa bodoh ! Kau mau menambah tabungan kami juga, bocah ? Serang !"
"Hiaaaa...!" Yahiko menyerbu mereka semua.
"Habisi mereka, Yahiko !" Seru Nagato memberi semangat.
TRANG !
CRING !
PRANG !
Suara-suara besi beradu dengan besi terus terdengar selama beberapa menit. Yahiko ternyata memang cukup hebat, ia bisa bertahan selama itu hanya dengan beberapa luka goresan, sementara ia berkali-kali menyobek dan menyayat baju para penculik itu.
Namun kali ini kuantitas mengalahkan kualitas...Yahiko mulai kendur dan ia melemah.
"Yahiko, AWAS !"
JRASSHH !
"AKH !"
.
"YAHIKO !" Seru Nagato keras-keras.
.
.
Bruk
.
.
Yahiko tumbang ke tanah. Darah segar mengalir dari mulutnya. Perutnya tertebas katana salah satu penculik. Tidak panjang atau dalam, tapi darah yang keluar lumayan.
"Konan..."
"Nagato..." Yahiko berdesis sambil menatap dua temannya itu.
"...Pergi...".
"Mana mungkin kami pergi !" Seru Konan keras-keras. Memang Yahiko pernah menyakiti hatinya, tapi ia tidak akan rela melihat orang yang berbaik hati menawarkan tempat tinggalnya seperti itu berakhir tragis disini.
Pimpinan penculik itu segera melucuti tempat granat dan bom asap, yang belum sempat dipakai Yahiko. "Dasar bocah ! Berani juga kau ya. Rasakan akibatnya. Sudahlah, kita tidak perlu mengurusi bocah sok jago ini, dia tidak berharga" hardiknya kasar sambil menginjak kepala Yahiko pelan dengan sepatu bootnya.
"Yahiko..." isak Konan.
.
Hujan menderu makin deras.
.
"Kau selalu mudah menangis, Konan".
Konan dan Yahiko menoleh ke sumber suara.
Nagato.
Sekarang...
Rambut merah sebahunya tersibak ke belakang, menampilkan wajahnya seutuhnya bersama sepasang mata ungu dengan lingkaran hitam berlapisnya...
...yang kini menyala...
.
.
Konan serasa mengalami deja vu. Dan kali ini yang dilindungi Nagato adalah Yahiko.
"Beraninya kalian melukai temanku !" Pekik Nagato keras.
BUK !
Pimpinan penculik itu memukul keras pipi Nagato. "Diam !" Hardiknya. Ia lantas mendekati Konan.
Matanya yang tersembul dibalik stoking kepala itu menelaah tubuh Konan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Konan sekarang sudah berusia 15 tahun. Tubuh wanitanya sudah mulai terlihat. Apalagi basah terkena hujan seperti itu.
Ia menjambak pelan rambut biru Konan, membuat pemiliknya meringis dan memejamkan mata. "Kurasa yang satu ini akan lebih berguna" desis pimpinan penculik itu dengan seringai jahatnya.
"LEPASKAN TANGANMU DARI KONAN !" Nagato memekik sekeras mungkin.
"Banyak bicara ! Apa kau mau bernasib sama dengan manusia hutan temanmu ini hah !?" Bentak salah satu dari mereka.
"TINGGALKAN KAMI !" Nagato berteriak lagi.
"Nagato...cukup..." desah Yahiko.
"Argh ! Bunuh dia !"
"Jangan ! Nagato, jangan !"
.
.
"UWWAAAAAAA...!"
.
SYYUUUNG
Keenam penculik itu langsung terpental menjauhi mereka berempat (bersama Kyojin) dan membentur apa saja yang ada di belakang mereka.
"Hhhhh...hhhh..." Nagato terengah-engah. Ia lepas dari tali yang mengikat tangan dan kakinya. Kini ia sibuk melepas ikatan Konan.
Kekuatan apa itu ? Pikir Yahiko. Ia mulai merasakan aura chakra yang aneh dari Nagato.
Mungkin...mata itu...
.
.
"Ayo Yahiko" ajak Nagato sambil mengulurkan tangan.
"Percuma" desah Yahiko pasrah.
"Kenapa ?"
"Lukaku cukup parah...aku hanya akan jadi beban kalian..." elaknya.
Nagato tersenyum kecil. Ia memegang luka di sisi perut Yahiko.
Dan luka itu tertutup seperti semula.
Yahiko dan Konan ternganga takjub. "Ba...gaimana...bi...sa...?" Kini Yahiko terbata-bata.
"Entahlah. Aku merasa aku harus melakukannya saja" jawab Nagato santai. "Sekarang ayo lari dari sini" ajaknya.
Yahiko mengangguk, lantas menebas pukat dan mengeluarkan Kyojin, lalu lari secepatnya dari situ sebelum keenam penculik itu sadar.
(-The Loners-)
"Jadi kau mengikuti kami sehari ini ?" Selidik Konan begitu Yahiko menceritakan kenapa ia bisa tepat waktu 'menyelamatkan' mereka.
Yahiko mengangguk. "Kurasa aku harus belajar banyak dari kalian" katanya sambil menggaruk kepala.
"Konan, Nagato" panggilnya.
"Hm ?"
"Kurasa...aku harus minta maaf sekali lagi" kata Yahiko pelan.
Nagato meninju bahu Yahiko pelan. "Sudah kami maafkan kok" jawabnya riang.
"Oya, ngomong-ngomong apa kau tahu, atau pernah, melihat mereka ?" Konan bertanya sambil menyodorkan selembar foto.
Kening Yahiko berkerut memperhatikan foto itu. Nagato dan Konan sudah pasrah jika Yahiko menjawab 'tidak' atau menggelengkan kepala, tapi...
"Ikut aku" kata Yahiko. Pendek, cepat, jelas, dan padat.
Konan dan Nagato saling berpandangan, lalu secepatnya mereka berjalan mengikuto Yahiko ke suatu arah.
"Kau...kau mengetahui mereka ?" Seru Konan antusias. Matanya tampak bersinar lagi.
Yahiko meliriknya sesaat. "Mungkin" jawabnya pendek.
Konan menoleh ke Nagato. Nagato mengangkat bahu.
Setelah sekitar limabelas menit berjalan, mereka akhirnya sampai di sebuah padang rumput.
Yahiko celingak-celinguk kanan-kiri. Nagato dan Konan mengikuti langkahnya dan memeriksa sekitar mereka. Kyojin, yang tidak tahu apa yang harus diperbuat, hanya mengendus bau yang agak tajam menurut hidungnya.
Guk ! Ia menggonggong singkat, lalu berlari ke bawah sebuah pohon besar.
"Ah, itu dia" seru Yahiko tertahan lalu bergegas menyusul Kyojin ke bawah pohon yang sama, diikuti Konan dan Nagato.
"Maaf, Konan" desis Yahiko lirih setelah mereka sampai di depan pohon itu.
Mata Konan berhenti berkedip.
Yahiko menunduk.
Nagato yang tidak mengerti hanya bisa menunggu apa yang akan terjadi.
Tangisan seorang perempuan langsung terdengar di padang rumput yang sepi, yang hanya diisi suara gerimis kecil itu. Ini bukan tangisan sakit atau khawatir atau marah seperti yang dilakukannya beberapa minggu belakangan ini.
Ini tangisan kehilangan.
Nama dua orang yang paling disayanginya itu, tergores jelas di batang pohon besar itu.
"...Ayah..."
.
.
"...Ibu..."
Konan jatuh terduduk memegang lutut. Air matanya terus mengalir deras dari mata almond-nya yang indah sampai ke dagunya, membiarkannya terus menetes seperti air terjun kecil dari situ.
"Bisa kau jelaskan, Yahiko ?" Desis Nagato yang mulai mengerti.
Yahiko menghela nafas berat.
"Waktu itu, disini".
"...Aku menjumpai dua pria-wanita yang ternyata suami istri. Aku menawarkan mereka ke rumahku, sementara. Tapi sebelum itu, tepat setelah mereka mengatakan mereka akan ke rumahku, ada gerombolan penyamun melintas. Mereka mengendus keberadaan uang di suami istri itu, dan akhirnya menyerang. Aku mati-matian mempertahankan mereka, tapi aku kalah, walau lukaku tidak berat. Mereka membunuh pasangan itu dan mengambil semua hartanya, lantas pergi. Aku yang merasa sangat bersalah akhirnya menguburkan mereka disini" cerita Yahiko panjang lebar.
"Ini kartu identitas mereka yang berhasil kuambil" lanjut Yahiko.
"Sama, bukan ?" Selidiknya memastikan.
Nagato terdiam. Jadi selama ini usaha mencari orangtua Konan, gadis yang diam-diam ia cintai, sia-sia belaka. Ini bukan salah Konan. Ini bukan salah Yahiko. Ini bukan salahnya, atau Kyojin, atau Chibi, ataupun Tenzin.
Ini bukan salah siapa-siapa.
Barangkali takdir memang mempertemukan mereka. Sungguh kebetulan yang tepat sekali.
Tapi...di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Karena semua sudah diatur oleh yang ada di atas sana.
(-The Loners-)
"Kita semua akan tinggal di bunker Yahiko" desis Nagato. Hari itu mereka berkumpul di bunker Yahiko untuk memutuskan langkah hidup mereka setelah itu.
"Tapi disini jauh dari keramaian" tentang Yahiko.
"Tidak masalah. Aku bisa menggunakan elemen tanah, untuk membangun jalan terobosan. Dari kotaku ke kota seberang. Rupanya hutan ini memang jalan terobosan yang tidak diketahui. Kita bisa buka toko, atau usaha apalah semacamnya disini, untuk menambah penghasilan kita" jelas Nagato antusias.
Konan akhirnya mengangguk.
Begitu pula Yahiko.
"Ayo kita lakukan, saudara-saudaraku".
Guk !
Setahun kemudian
Toko Yanako tampak ramai. Banyak saja orang yang mampir disana untuk membeli kebutuhan sehari-hari...maupun persenjataan kecil sekaligus tempat bernaung.
Yanako. Yahiko, Nagato, Konan. Kyojin jadi asisten dan jaga malam yang paling setia. Kehidupan mereka berjalan lancar dan bahagia.
Mereka.
Yatim piatu dan tak kenal saudara.
Tapi mereka bahagia.
.
.
Hidup ini memang tidak mudah,
...tapi juga tidak sesulit itu.
.
.
Mereka bersama, saling berbagi cerita dan kisah, saling menghibur dan selalu ada dalam suka duka, begitu pula mereka merasakan suka duka bersama, setia sepenanggungan.
Mereka bersama...
Tapi sendiri...
.
.
Mereka sendiri...
Tapi bersama...
.
.
.
TAMAT
YOOSSHH... The Loners akhirnya tamat. Sorry ya readers, tulisannya salah, harusnya 'The Loners' tapi saya malah sering nulis 'The Looners', hihihi (*Ditampong guru bahasa inggris*)
By the way, ending-nya kurang memuaskan, kah ? Kurang greget atau kurang happy ending, kah ? Haha, sorry soal itu, tapi saya memang merencanakan begini sejak awal. Dengan begitu tidak ada tokoh yang merasa ditelantarkan. Karena itu jugalah saya menamainya 'The Loners' bukan 'The Loner'. Hidup Yanako !
Thank you very much to read and review for my story !
-Itami Shinjiru-
