Our Story © Cherry aoi
Naruto © Masashi Kishimoto
Genre : Friendship, Romance.
Rated : T
Pair : NH, SS, NT, GM, SI and other pairs.
AU, Alternative Universe
Gaje, abal, typo bertebaran, OOC, aneh
Summary : Ucapkan sumpah kalian dan tanamkan baik-baik dalam hati dan otak kalian. We will always be friends, forever, even if death take us a part. Jika sumpah sudah diucapkan maka kontrak akan kita sepakati. Jika kalian bahagia, kami akan bahagia meskipun itu berarti kami tersakiti. Jika kalian sedih, kami akan selalu ada untuk kalian. Jika kalian terluka, kami akan balaskan luka kalian
.
.
.
Enjoy
Chapter 9
Beberapa pasang mata menatap takjub kala geng ternama di KISHS melalui koridor sekolah, bukan karena takut pada para anggotanya atau tengah mengangumi keindahan paras mereka. Tatapan takjub itu terarah pada satu sosok yang kini melengkapi Konoha Shadow menjadi tujuh orang, anggota baru, Shimura Sai. Dalam hati mereka pasti bertanya-tanya bagaimana bisa seorang siswa tingkat dua bergabung dengan Konoha Shadow yang notabene adalah siswa tingkat akhir? Bahkan sejujurnya para anggota Konoha Shadow sendiri tak mengerti alasan Naruto menerima pemuda pengumbar senyum itu dalam geng mereka.
Flashback mode on
"Hanya ingin menjawab tawaranmu tempo hari, aku menerimanya."
Dua pasang mata menatap Naruto dengan alis terangkat, bingung dengan kata-kata Sai sementara Naruto tampak tengah mencoba mengingat apa yang pernah ia tawarkan pada si pucat itu. Pemuda bermarga Shimura itu bisa sedikit bernafas lega, kadang topeng senyumnya begitu membantu di saat-saat seperti ini. Setidaknya dia bisa menghindari kecurigaan Neji dan Kiba sekaligus mendekati Konoha Shadow, mungkin ini yang dinamakan sekali tepuk dua lalat jatuh.
"Ah, aku ingat! Tawaran untuk bergabung dengan kami kan?," suara toa milik Naruto menggema di tempat itu. Pernyataan Naruto jelas membuat kedua sahabatnya mengingat memori beberapa hari yang lalu kala Naruto bercerita bahwa ia mengajak Shimura Sai bergabung bersama mereka.
"Jadi, kau sudah berubah pikiran?"
"Tidak, aku hanya ingin membuktikan pada Uzumaki-san bahwa persahabatan hanyalah ikatan yang tak berguna," balas Sai sambil memasang senyum yang membuat matanya lebih menyipit dari biasanya. Hyuuga Neji kini paham apa yang membuat Juugo dan kawan-kawannya hobi memukul pemuda Shimura itu. Sai memang tipikal orang yang sulit ditebak, senyumannya bisa saja mengandung sejuta arti. Mungkin saja pemuda itu tengah menyembunyikan sesuatu dengan senyumannya, mungkin sedang meremehkan atau bahkan mungkin tengah menahan luka saat memamerkan senyumannya itu.
"Hei, sebenarnya apa yang ada di otakmu tentang persahabatan?," tanya Naruto yang kini menatap tajam si pengumbar senyum itu.
"Persahabatan hanyalah sampah."
Kedua mata Naruto melebar, rahangnya mengeras tapi anehnya pemuda itu masih bisa mengontrol emosinya berbeda dengan Kiba yang wajahnya sudah memerah karena merasa tersinggung dengan ucapan Sai. Bagi tiga pemuda yang tergabung dalam Konoha Shadow, harga sebuah persahabatan bukanlah hal yang remeh. Mereka sudah mengenal apa itu persahabatan yang sebenarnya, persahabatan bukanlah sekedar ikatan biasa antar manusia. Bagi mereka persahabatanlah yang membuat mereka menjadi seperti sekarang ini,
"Kalau menurutmu begitu, kami akan membuktikan bahwa semua ucapanmu salah, Shimura Sai." Sorot mata Naruto kini menampakkan keseriusannya, ia tak akan membiarkan Shimura Sai tetap berada pada prinsipnya. Ia akan membuktikan pada pemuda berkulit pucat itu bahwa persahabatan adalah ikatan yang sanggup dibawa sampai ke neraka.
Flash back mode off
Shimura Sai masih saja tak mengerti alasan apa yang membuat enam pemuda yang berkepribadian bertolak belakang sama lain bisa menyatakan diri mereka satu dalam sebuah persahabatan. Dilihat sekilas jurang perbedaan di antara para anggota Konoha Shadow begitu besar, lihat saja Uchiha Sasuke yang kini tampak kesal dengan ulah Naruto dan Kiba yang tengah adu mulut. Dari dulu ia memang tak mengerti mengapa orang-orang suka mengumbar hal-hal semacam persahabatan padahal mereka jelas-jelas berbeda. Apa orang-orang ini juga munafik? Sama seperti orang-orang dari masa lalunya?
"Apa kau memikirkan sesuatu? Sejak tadi kau diam saja," tanya Naruto yang kini sudah duduk disebelah Sai, pemuda itu merangkulkan tangannya di bahu Sai.
"Aa, tidak. Aku hanya heran, kalian terlalu berbeda."
"Bebeda? Hahahahaha, apa yang kau maksud? Kita sama saja bukan, sama-sama manusia, apanya yang berbeda?," suara tawa Kiba membahana memenuhi kantin membuat beberapa pasang mata menengok ke arah pemuda Inuzuka itu. Tentu saja mereka hanya berani menengok, tak ada yang berani menegur sikap Kiba yang seperti itu, mereka terlalu takut pada pemuda pemilik anjing putih yang selalu ada di Konoha Shadow.
"Maksudku, sifat kalian yang sangat berbeda. Seperti Naruto-san yang suka bicara seenaknya," satu perempatan mulai muncul di dahi Uzumaki.
"Kiba-san yang suka berteriak-teriak seperti orang gila, Gaara-san yang seperti panda," dua perempatan kini menghiasi dahi Kiba dan Gaara memiliki tambahan variasi selain tatonya.
"Juga Sasuke-san yang emo, Neji-san yang mirip wanita, apalagi Shikamaru-san yang hobinya tidur," penjelasan terakhir dari Shimura Sai diikuti senyuman khas tanpa dosa miliknya membuat perempatan muncul di kepala Sasuke, Neji, oh lupakan Shikamaru karena pemuda itu sedang terlelap.
"Kau ini sepertinya belum pernah dihajar ya!," Kiba kini setengah berteriak ke arah Sai. Pemuda yang selalu bersama anjing putihnya itu bahkan sudah beranjak dari tempat duduknya, menatap tajam ke arah Sai. Sayangnya tatapan tajam dari sepasang blue sapphire menghentikan aksinya itu.
"Hoahm, sepertinya kau pengetahuanmu tentang ikatan kami benar-benar nol ya, Shimura Sai?," Shikamaru yang sedari tadi tutup mulut dan memilih untuk tidur kini terbangun karena keributan yang dibuat sahabat-sahabatnya.
"Maksudmu?"
"Kalau kau tidak tahu apa-apa jangan asal bicara seperti tadi, teorimu sama sekali tidak ada apa-apanya. Lihat saja apa yang akan kami perlihatkan padamu," kali ini bukan Shikamaru yang menjawab melainkan si pemuda Uchiha yang sepertinya mulai ambil bagian.
"Yosh, kalau begitu, nanti malam kita berkumpul di lembah akhir. Jangan lupa datang, Sai."
.
.
.
Suasana sekolah yang ramai membuat Uchiha Sasuke kerepotan kala menyambangi kelas maid favoritnya, koridor kelas satu yang biasanya tidak terlalu ramai kini penuh sesak oleh para gadis yang ingin melihat seorang Uchiha Sasuke secara live. Memang bukan pertama kalinya ia mengunjungi kelas Sakura tapi tetap saja gerombolan siswi yang mentapnya intens membuat Sasuke risih. Ia tidak suka dipandangi seperti itu, karena alasan itulah kadang ia mengajak Naruto untuk menemaninya. Sayangnya, pemuda rubah itu kini entah berada dimana setelah acara perkenalan Shimura Sai dengan para anggota Konoha Shadow.
Sasuke POV
Sebenarnya kenapa aku bisa ke sini? Aku ini bodoh atau apa? Bukankah di rumah aku sudah bertemu dengannya lalu kenapa sekarang aku ada di depan kelasnya?
"Uchiha-senpai? Kenapa kau ada di sini?," suara seorang gadis yang cukup familiar di telingaku membuyarkan semua lamunan yang ada dalam alam bawah sadarku.
Memang dia familiar untukku. Seorang gadis berambut pirang dengan model pony tail tengah menatapku penuh rasa ingin tahu. Dia adalah sahabat si pinky, kalau tidak salah namanya Yamanaka Ino. Biasanya si pinky selalu bersama sahabatnya, lalu kemana anak itu sekarang?
"Hn, dimana Haruno?," tanyaku pada gadis itu. Sekilas aku melihatnya tersenyum seolah meledekku, apa-apaan gadis ini?
"Forehead ada di atap sekolah, lebih baik senpai ke sana saja," balasnya sambil kembali tersenyum, kali ini senyumnya lebih lebar mengingatkanku pada si muka pucat saja. Tunggu dulu, kalau tidak salah Sai ikut menolong gadis ini, apa artinya mereka berdua punya hubungan khusus?
Normal POV
Pemuda berambut raven itu langsung berbalik meninggalkan kelas Sakura, sedikit menyesal harus melewati para gadis yang kini mulai berteriak memanggil namanya. Sementara gadis beriris aquamarine yang berada di ambang pintu kelas memandangnya penuh senyum, gadis itu tahu sahabatnya sudah menemukan seorang pemuda yang akan membahagiakannya. Senyuman itu berganti dengan sebuah senyum miris, gadis itu kembali berandai-andai, kapan ia akan mendapatkan seseorang yang mampu membuatnya bahagia? Melepaskannya dari belenggu kejam yang merantainya selama ini. Pertanyaan itu semakin berputar dalam benak Ino yang tak sadar bahwa ada sepasang mata yang menatapnya intens.
Hembusan angin langsung menerpa tubuhnya kala Uchiha Sasuke membuka pintu atap sekolah, onyx miliknya menangkap sesosok gadis yang tengah berdiri membelakanginya. Sudut-sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman tipis, entah mengapa keberadaan gadis itu selalu bisa membuatnya tersenyum padahal yang biasa mereka lakukan adalah adu mulut. Bagi Sasuke eksistensi seorang Haruno Sakura dalam hidupnya adalah sesuatu yang cukup aneh dan menyebalkan, ia seperti merasakan berbagai perasaan ambigu ketika berhadapan dengan si gadis merah muda itu dan yang membuatnya kesal ia tak pernah tahu apa perasaan itu.
"Senpai, kenapa ada di sini?," suara bening itu mengembalikan alam sadar Sasuke. Pemuda itu menatap viridian dihadapannya intens, ia sendiri bingung kenapa harus mencari Sakura sampai menyusul gadis itu ke atap padahal setiap hari mereka sudah bertemu.
"Mencarimu," jawaban singkat, khas Sasuke. Pemuda itu memang bukan tipe orang seperti Naruto yang selalu meledak-ledak ketika berbicara, bukan juga seperti Hyuuga Neji yang sering berhati-hati dalam berlisan, ia juga bukan Shikamaru yang selalu menguap dalam suasana apa pun. Ia hanyalah pemuda dingin yang terkesan cuek dan populer di sekolah.
Gadis itu terdiam di tempat sambil memiringkan kepalanya beberapa senti meter, tampaknya ia merasa jawaban Sasuke terlalu ambigu. Sebaliknya pemuda itu berjalan mendekat sambil mengeluarkan kedua tangannya yang sedari tadi berada dalam saku celananya. Rona merah mulai muncul di kedua pipi gadis itu kala menyadari jarak antara dirinya dan Sasuke yang makin menipis, apa lagi ketika matanya bersitatap dengan onyx milik si bungsu Uchiha, rasanya ia seperti tersedot dalam lubang hitam yang tak ada dasarnya. Sakura menundukkan kepalanya, enggan bertemu dengan onyx Sasuke. Sepertinya gadis itu tengah menghindari kemungkinan salah tingkah dan debaran jantung yang menggila bila menatap mata itu.
"Aku mencarimu, memang tidak boleh?," tanyanya, tangan pemuda itu memenjarakan Sakura di antara tubuhnya dan pagar pembatas. Sasuke menghirup aroma cherry yang menguar dari rambut Sakura, aromanya menenangkan sekaligus memabukkan baginya. Sebelah tangannya yang bebas mengambil beberapa helai rambut gadis itu, menghirup aromanya. Sasuke tak tahu efek dari perbuatannya itu membuat jantung Sakura berdetak lebih cepat, seolah siap meloncat keluar dari rongga dadanya.
"Tapi kenapa?," Sakura balik bertanya dengan suara lirih setelah berhasil mengatasi kegugupannya. Entah sejak kapan ia jadi seperti ini jika berada di dekat Sasuke.
"Entahlah, aku tidak tahu. Mungkin… karena aku membutuhkanmu di sampingku," jawaban Sasuke kembali terdengar bermakna ganda di telinga Sakura. Apakah pemuda itu membutuhkannya karena statusnya sebagai pelayan keluarga Uchiha? Atau karena hal lain? Entahlah, tapi Sakura tak ingin berspekulasi terlalu jauh tentang Sasuke karena selama ini pemuda itu selalu memberinya kejutan tak terduga.
"Sepertinya aku pernah bertemu denganmu, jauh sebelum kau datang ke Konoha," tambah Sasuke. Pemuda itu kini justru menyandarkan kepalanya di bahu Sakura, memejamkan matanya untuk meresapi aroma dari gadis merah jambu itu. Rasanya ia sanggup berlama-lama bersandar pada bahu mungil itu, meskipun kecil tapi bahu Sakura seolah menawarkan kedamaian baginya.
"Aku tidak mengerti maksudmu, bukankah kita baru bertemu sekarang?," tanya gadis itu. Sayangnya pemuda yang tengah memeluknya yakin bahwa mereka pernah bertemu sebelumnya, entah dimana. Wajah Sakura begitu familiar untuknya, terutama iris viridian milik gadis itu.
"Dimana kau tinggal sebelum ke Konoha?"
"Suna, aku tinggal di sana selama lima belas tahun. Baru tahun ini aku tinggal di Konoha," jawab gadis itu, entah mendapat keberanian dari mana kini jemari Sakura menyusuri helaian raven milik Sasuke, menyentuhnya membuat si pemilik semakin memejamkan mata.
"Sunagakure? Kenapa kau pindah? Bukankah sekolah di sana hampir sama dengan KISHS?," tanya Sasuke yang kini meninggalkan bahu Sakura, pemuda itu menggenggam pergelangan tangan Sakura. Ia menarik gadis berambut merah muda itu agar duduk sementara ia merebahkan kepalanya di atas paha si gadis.
"A-apa yang se-senpai lakukan?," tanya Sakura yang kini wajahnya memerah sempurna sedangkan Sasuke tampak memejamkan mata menikmati hembusan angin dan rasa nyaman yang ia rasakan.
"Bisakah seperti ini sampai bel masuk?"
Viridian Sakura memandang pemuda itu takjub, sejak kapan seorang Uchiha Sasuke yang ia kenal begitu dingin menjadi err-sedikit manja seperti ini? Ah, seharusnya ia tak perlu heran lagi. Bukankah tuan mudanya itu sering membuatnya terkejut dengan segala sikapnya ketika mereka hanya berdua?
Sakura menghela nafas pelan, ia membiarkan Sasuke tidur dalam pangkuannya. Pikiran gadis itu mengambang kembali pada masa-masa sebelum ia datang ke Konoha, ketika ia masih berada di Sunagakure, berada di bawah bayang-bayang nama besar sang kakak. Bukan hanya karena sekolah ia memutuskan untuk pindah ke Konoha, ia juga ingin hidup mandiri lepas dari segala title sang kakak yang terus membayangi hidupnya. Dan ketika ia berada di Konoha, ia justru terjebak bersama tuan muda Uchiha yang kini berada di pangkuannya. Ia tak mengerti kenapa mereka sering bertemu, Sasuke adalah pemuda pertama yang ia temui di Konoha, orang pertama yang ia kenal selain Ino, orang yang mampu menjadi sandarannya, juga orang yang selalu mengusik hidupnya. Sepertinya peran Uchiha Sasuke dalam kehidupan Sakura begitu banyak.
Ada satu hal yang masih mengusik Sakura, pernyataan dari Sasuke bahwa mereka pernah bertemu sedikit banyak membuatnya bertanya-tanya. Apakah ia dan Sasuke pernah bertemu sebelumnya? Tapi dimana? Jujur saja, saat pertama kali melihat Sasuke, ia merasa seperti pernah bertemu dengan pemuda emo itu. Hanya saja ia tak ingat dimana dan kapan. Apakah mereka pernah bertemu saat ia masih tinggal di Suna? Tapi bukankah saat itu ia masih berada dalam dunia yang sama dengan sang kakak? Tidak, gadis itu menggelengkan kepalanya pelan. Tidak mungkin ia pernah bertemu Sasuke di tempat itu sekalipun bungsu Uchiha itu sering melakukan balap liar.
Viridian miliknya kembali menatap wajah damai milik Sasuke yang tengah terlelap, berbeda sekali dengan wajah stoic pemuda itu ketika terjaga. Tangan Sakura terulur membelai rambut raven bungsu Uchiha itu, ah, rasanya Sakura ingin menghentikan waktu sekarang juga atau jika ini alam mimpi ia tidak ingin terjaga. Akhir-akhir ini ia memang merasakan perasaan nyaman yang aneh ketika bersama Sasuke padahal sebelumnya senpainya itu begitu menyebalkan.
"Hei, senpai aneh. Kenapa kau sering muncul dalam hidupku?," gumam Sakura pelan diiringi suara dengkuran halus dari pemuda berambut raven dipangkuannya.
.
.
.
Pukul sebelas malam di Lembah Akhir, itulah pesan yang diterima Sai dari Naruto. Pemuda berkulit pucat itu setengah malas dan setengah terpaksa melajukan mercedesnya ke spot favorit untuk balapan itu, alasannya hanya satu, semua ini demi gadis pirang yang selalu ada dalam pikirannya. Yamanaka Ino, gadis yang selama ini mengisi pikirannya.
Pemuda itu menghela nafas pelan kala mengingat Ino, ia benar-benar tak mengerti dengan sikap Ino yang akhir-akhir ini menjauhinya. Apakah Kabuto sudah melakukan ancamannya? Tidak, seharusnya pria itu tetap tak mengusik kehidupan Ino selama ia mau mendekati Konoha Shadow. Suara dering handphonenya meraung memerintah pemuda itu untuk segera mengangkat panggilan masuk, setengah malas ia mengambil benda kotak itu dari dasbor mobilnya. Sebuah nama yang tak asing buatnya kini menghiasi layar handphone.
"Halo," sapanya datar pada si penelpon.
"Sai, kau ke Konoha Bar saja, Lembah Akhir sedang terisi polisi. Kami menunggumu," suara bervolume keras layaknya toa memenuhi indra pendengaran pemuda itu.
"Baiklah," balasnya cepat sebelum mematikan panggilan dari Naruto, samar ia mendengar pemuda itu berteriak kesal karena sambungan telepon mereka terputus.
"Semua ini untukmu, my angel," bisiknya pelan. Kakinya menginjak pedal gas, memacu mobilnya ke arah salah satu bar kenamaan yang ada di kota Konoha.
Suara dentuman musik keras menyambut kala memasuki ruangan yang dipenuhi lampu diskotik, beberapa wanita berpakaian minim tampak tengah menari di atas panggung. Sosok-sosok pria dan wanita berbaur menikmati gelas-gelas yang terisi berbagai minuman keras, ada juga sepasang anak manusia yang tengah bercumbu mesra di sudut ruangan. Tepat di depan meja bartender telah berkumpul sekelompok pemuda, seorang gadis berambut merah muda tampak duduk manis disebelah sesosok pemuda berambut raven.
"Sudah lama kita tidak datang ke tempat ini, sepertinya sejak Tsunade baa-chan menggrebek kita baru kali ini kita datang lagi," si pemuda berambut pirang berkomentar.
"Kalian sering datang ke tempat ini?," kali ini sebuah suara yang lebih lembut menimpali pertanyaan Naruto, ah lebih tepatnya si penanya tengah bertanya pada sosok berambut raven dihadapannya.
Beberapa pasang mata kini menatap pasangan pink-raven yang tengah saling menatap. Sejak ancaman Sasuke pada Itachi beberapa hari yang lalu, semua anggota Konoha Shadow sudah menganggap bila ada sesuatu yang lebih dari sekedar hubungan antara pelayan dan majikan. Bagi lima pemuda yang sudah mengenal Sasuke sejak lama tentu mereka tahu perbedaan sikap yang ditunjukkan pemuda Uchiha itu akhir-akhir ini, terutama bila ada si gadis Haruno.
"Tenang saja, Sakura. Dia tidak pernah bersentuhan dengan wanita-wanita yang ada di sini, dia lebih suka tequila daripada wanita di panggung sana," bukan Sasuke yang menjawab pertanyaan si gadis merah muda, melainkan sosok pemuda berambut merah yang kini memamerkan seringai mengejeknya pada Sasuke. Sepertinnya Gaara masih mendendam dengan kelakuan Sasuke tempo hari saat pesta pertunangannya.
"Diamlah Sabaku, setidaknya aku tidak pernah kalap hingga minum berbotol-botol whiski saat akan bertunangan," kali ini Sasuke balas menyindir sementara empat pemuda lain tampak tertawa seolah kata-kata Sasuke adalah sebuah lelucon.
Gaara menghela nafas pelan, apa yang dikatakan Sasuke tadi memang benar. Beberapa hari sebelum pesta pertunangannya dengan Matsuri, ia memang menghabiskan berbotol-botol whiski di tempat ini. Sebut saja yang dilakukan pemuda itu adalah pelarian, pelarian karena akan bertunangan dengan gadis yang tak pernah bisa ia miliki. Sekali lagi, seorang Sabaku Gaara kembali iri dengan Uchiha Sasuke. Meskipun Sasuke dan gadis merah muda itu sering bertengkar tapi kenyataannya ia bisa melihat gadis itu begitu nyaman ketika bersama Sasuke, berbeda dengan Matsuri yang selalu memandangnya sebagai sahabat di masa kecil bukan seorang pria. Ia mengalihkan pandangan dari Sasuke dan Sakura, menyapu pandangan ke seluruh ruangan dan hanya mendapati berpasang-pasang anak muda tengah saling bercumbu. Gaara kembali menghela nafas, andai saja ia tak jatuh dalam perasaan abstrak bernama cinta pasti ia tak akan merasakan sakit seperti ini. Ah, mungkin ia memang tak seharusnya merasakan perasaan itu mengingat gadis yang ia cintai justru merasa terpenjara ketika bersamanya.
Jade milik Gaara kembali mengamati kumpulan teman-temannya, pemuda berambut merah darah itu mendapati sosok pemuda berambut pirang yang sedari tadi tertawa-tawa kini justru terdiam membisu, menatap kosong segelas vodka yang masih terisi setengah.
"Kau kenapa, Dobe?," suara dingin Sasuke mendahului Gaara bertanya, rupanya bukan hanya si pemuda Sabaku yang mengamati si pirang bermarga Uzumaki.
"Aku bingung, kenapa Hinata-chan akhir-akhir ini menghindariku."
Semua aktivitas Konoha Shadow terhenti, Kiba yang sebelumnya tengah asyik menggoda para gadis terdiam menatap Naruto, Shikamaru yang tengah terkantuk-kantuk bahkan terbangun ketika mendengar jawaban Naruto, termasuk Neji yang tengah mengambil sebotol martini menatap heran ke arah Naruto. Hanya ada satu pertanyaan di kepala mereka, bagaimana bisa Naruto yang notabene tak pernah berurusan dengan wanita menjadi seperti ini?
"Sudah ku katakan, sebaiknya lupakan saja dia," kali ini bukan Sasuke yang menyahut, melainkan sosok pemuda berambut cokelat panjang yang tengah sibuk dengan beberapa botol minuman keras di meja.
"Aku tidak meminta pendapatmu," balas Naruto cepat, sepertinya pemuda itu terlalu malas menanggapi Neji yang memang dari awal tak menyukai kehadiran Hinata di antara mereka.
"Kau bodoh, kau baru mengenalnya tapi kau bicara seolah-olah kau tahu semua tentangnya."
BRAK!
"Cukup! Selama ini aku sudah bersabar dengan semua perlakuanmu pada Hinata-chan, apa kau tidak tahu dia melakukan semua ini karena menyayangimu! Sekalipun kau membencinya, dia tetap bertahan dan berusaha menjauh agar kau bahagia, Hyuuga Neji!," teriakan Naruto melebihi volume music yang tengah diputar, membuat beberapa pasang mata menatap mereka penuh tanda tanya.
"…..." Tak ada balasan apa pun dari Neji, pemuda beriris lavender itu masih terdiam menatap blue sapphire milik Naruto yang masih menyala-nyala. Jika biasanya ia punya seribu satu bantahan jika sudah terkait dengan masalah Hinata, kini ia memilih diam tak menjawab apa pun.
"Aku pergi," kata Naruto singkat sambil menyambar kunci mobil yang ada di atas meja, meninggalkan empat pemuda yang masih diam membisu dan seorang pemuda berambut eboni yang terasing di dekat pintu masuk.
"Sudah ku bilang, Naruto-san. Persahabatan hanyalah ikatan sampah," gumam pemuda itu pelan.
Ferrari berwarna hitam melaju membelah malam melalui jalanan yang mulai lengan, suara lonceng berdentang dua belas kali menandakan tengah malam telah datang. Tanpa memelankan laju mobilnya, Naruto mengambil handphone yang ada di dasbor mobilnya, mencari nomor seseorang yang akhir-akhir ini mengusik pikirannya.
"Nomor yang Anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi."
Tangan pemuda itu memukul stir kemudi mobilnya pelan, lagi-lagi seperti ini. Sudah berulang kali ia menelpon Hinata tapi gadis itu tak pernah mengangkatnya, jika di angkat pasti akan langsung dimatikan. Dalam pikirannya berkecamuk berbagai prasangka mengenai gadis itu, benarkah apa yang dikatakan Neji? Atau Hinata menjauhinya justru karena Neji? Ah, semua itu membuat kepalanya terasa mau pecah.
"Sebenarnya ada apa Hinata, kenapa kau menjauh?," gumamnya pelan.
Drrrt….. Drrrt….
Getaran halus pada handphonenya membuat si pemuda berambut pirang tersentak, matanya melebar kala melihat nama siapa yang tertera pada layar monitor. Hinata.
"Halo."
"Uzumaki-sama, bisakah Anda ke sini? Nona Hyuuga pingsan," sebuah suara pria membalas ucapan Naruto.
"Baiklah, tiga menit lagi aku sampai," ucapnya cepat, tanpa menutup telepon pemuda itu langsung menginjak gas memacu mobilnya secepat mungkin menuju apartemen Hinata.
.
.
.
Suasana hening yang sempat terjadi karena emosi Naruto yang berada di ambang masih melekat pada lima pemuda yang tengah mendiami meja bartender. Kiba yang biasanya akan bicara banyak kini justru mengunci rapat-rapat mulutnya, Neji yang menjadi pusat kekesalan Naruto juga masih setia menatap kosong ke arah lantai bar, entah apa yang ada dalam pikiran pemuda Hyuuga itu.
Sakura yang sedari tadi hanya menjadi penonton merasa heran dengan para pemuda disekitarnya, bukankah Konoha Shadow yang ia kenal begitu solid? Selalu bersama dan seolah terikat dengan ikatan tak kasat mata, lalu kenapa mereka sekarang seperti ini?
"Hai, semua," sapa sebuah suara.
"Kau terlambat," balas Gaara pada pemuda berkulit pucat yang baru saja bergabung dengan mereka.
"Tidak, aku tidak terlambat untuk menyaksikan bukti dari Uzumaki-san. Apa yang ku lihat tadi adalah bukti bahwa persahabatan hanyalah sampah," kata Sai sambil tersenyum tanpa beban seolah yang baru saja ia katakan adalah lelucon yang sanggup membuat orang-orang tertawa.
"Apa maksudmu Sai?," tanya Kiba penuh penekanan, matanya berkilat marah menatap tajam ke arah pemuda bermarga Shimura itu. Empat pemuda lainnya hanya terdiam menunggu jawaban Sai, mereka memang tidak seperti Kiba atau Naruto yang cepat emosi tapi jangan kira mereka akan diam saja ketika ikatan yang mereka lindungi diinjak-injak oleh seseorang yang tak tahu apapun tentang ikatan itu.
"Dia meninggalkan kalian demi seorang gadis, bukankah itu membuktikan bahwa kata-katanya hanyalah sam-,"
BUGH
Tanpa menunggu Sai menyelesaikan perkataannya, pemuda berambut nanas yang sedari tadi diam justru lebih dulu menyarangkan tinjunya di wajah pemuda itu. Tak ada satu tangan pun yang mencegah Shikamaru, Kiba justru terperangah melihat aksi si pemuda berambut nanas yang biasanya hanya akan menguap malas. Sakura, satu-satunya gadis yang ada dalam kumpulan pemuda itu hanya bisa berjengit menghindari tubuh Sai yang terhuyung ke arahnya sementara pemuda raven yang duduk di sebelahnya menyeringai kecil ke arah Shikamaru.
"Kau baru mengenal kami, Tuan Shimura. Jangan seenaknya mengambil keputusan," ucap Shikamaru masih dengan nada malas walaupun kata-katanya penuh penekanan.
"Jangan menganggap kami sama seperti orang-orang yang ada di masa lalumu, kami bukan orang rendahan macam mereka," kata Sasuke tiba-tiba membuat mata Sai melebar ketika mendengarnya. Pemuda berambut ebony itu bertanya-tanya apakah Uchiha Sasuke dan Konoha Shadow sudah tahu siapa dirinya?
"Kami tahu siapa kau dan apa yang terjadi di masa lalumu, tidak perlu bertanya dari mana kami tahu. Yang jelas kami bukan seperti orang-orang tak berguna yang meninggalkan ikatannya hanya karena uang," jelas Gaara yang entah sejak kapan sudah berdiri di dekat Sai, mengulurkan tangannya pada pemuda itu.
Sai tidak mengerti apa yang ada dalam kepala Konoha Shadow, bukankah ia tadi merendahkan mereka? Bahkan ia masih merasakan sakitnya pukulan Shikamaru, lalu kenapa sekarang Gaara mengulurkan tangannya? Pemuda itu tak lagi tahu mana yang harus ia percayai, pengalaman masa lalunya atau uluran tangan yang kini terarah padanya. Dulu, lima tahun yang lalu ia berharap mendapatkan uluran tangan yang sama. Sayangnya uluran tangan itu tak pernah sampai padanya, semua kebohongan terbongkar ketika ia hampir sepenuhnya percaya bahwa ada orang yang mampu berbagi ikatan bernama persahabatan dengannya. Apakah sekarang ia boleh percaya lagi pada uluran tangan yang kini teracung padanya?
"Kau tahu, kami memang bukanlah kumpulan orang hebat. Kami bukanlah orang-orang sempurna yang bisa dibanggakan, bukan juga orang-orang yang akan dielu-elukan setiap saat. Kami hanya berbagi ikatan yang tak pernah bisa terputus," giliran ucapan Kiba yang seolah menampar Sai.
"Ikatan kami tidak akan putus walaupun kami ingin memutuskannya," kali ini Neji yang selama ini selalu menatap Sai dengan tatapan tak suka yang mengulurkan tangannya.
Bolehkan ia kembali percaya bahwa ia juga memiliki ikatan yang tak bisa putus, sama seperti mereka?
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?," sebuah suara berat menghentikan kegaduhan yang terjadi akibat aksi pemukulan yang dilakukan Shikamaru, semua kepala kini menoleh ke arah sosok pria berambut panjang yang tengah mendekap seorang gadis berambut pirang.
Sepasang viridian milik Sakura terbelalak kala mengenali siapa gadis yang ada dalam rengkuhan pria paruh baya itu, sosok gadis beriris aquamarine yang juga sama terkejutnya mendapati sahabatnya dan para seniornya ada di tempat itu. Tak hanya Sakura yang terkejut, onyx milik Sai juga melebar kala menyadari bahwa gadis yang ada di depannya adalah gadis yang selalu mengusik pikirannya, Yamanaka Ino.
"I-ino, kenapa? Kenapa kau ada di sini? Kenapa kau ada bersama pria itu?," tanya Sakura bertubi-tubi, sedangkan gadis pirang yang menjadi sasaran pertanyaannya justru tak sanggup berkata apa pun.
"Kau mengenalnya, Ino? Apa temanmu ini berminat bekerja sepertimu juga?," kali ini si pria berambut panjang menyeringai, tangannya terulur mendekati Sakura.
"Berani kau menyentuhnya, akan ku patahkan tanganmu, Orochimaru," suara sosok berambut raven mengancam pria bernama Orochimaru yang masih setia mendekap Ino.
"Aa, rupanya ini gadis Tuan muda Uchiha pantas saja cantik. Maafkan aku Tuan, aku tidak tahu jika dia gadis Anda."
"Katakan padaku, sebenarnya kau siapa? Kenapa Ino ada bersamamu?," tanya Sakura lagi, sepertinya gadis itu masih ingin mendapatkan jawaban yang memuaskan.
"Aku? Aku Orochimaru, pemilik tempat ini. Dan temanmu ini adalah salah satu asetku yang berharga."
.
.
TBC
.
.
Balasan Review :
Rieki Kikkawa
Salam kenal juga Rieki-san, eh, boleh panggil gitu kan? Soal ending aku juga masih bingung jadi doain aja endingnya nggak mengenaskan XD. Nggak bosen kok dapet review dari Rieki-san, malah jadi semangat buat ngelanjutin fic ini. Boleh minta review lagi ? XD
Uchiha No Selvie
Salam kenal juga Vie-chan XD. Maaf baru bisa bales review kamu. Boleh minta reviewnya lagi? ^^
Hwang Enery
Ini udah up date, maaf kalo nggak bisa kilat ya :). Reviewnya ditunggu XD
Fran Fryn Kun
Makasih udah dibilang bagus, maaf kalo up datenya lama. Review lagi? ^^
Hatsune Cherry
Ini udah dibanyakin, apa masih kurang? Reviewnya ditunggu ya XD
.
.
.
Ohishashiburi minna-san (^_^)/ #lambai-lambai gaje. Ada yang merindukan fic ini? # . Sebenernya mau up date setelah UN tapi uda gatel pengen publish, dan jadilah chapter ini. Author merasa chap ini kurang ngena feelnya, semoga readers masih mau membaca fic yang makin nggak jelas ini XD. Maaf juga nih baru balas review para readers m(_ _)m, gomen ne author nunggu banyak dulu biar sekalian balesnya. Maaf juga kalo ada kesalahan penulisan nama yang review #tunjuk balesan review. Ok, sebagai readers yang baik dan budiman silahkan tinggalkan jejak kalian di sini ^^. Boleh kritik, saran, protes, complain, pokoknya apapun yang membangun.
.
.
^^ Review?^^
