Chap 10
Mulut itu terlihat bersenandung kecil, mengikat tali sepatunya dengan teliti. Iris onxy miliknya hanya fokus pada sepatu yang masih ia anggap baru, walau telah dipakai berkali-kali dalam beberapa hari ini. Duduk di tangga teras, bersikap seolah tidak peduli jika Kajol melihat akan mengomel. Senandung itu seketika berhenti, bersamaan dengan tubuh yang terasa mendadak berat. Badannya seketika condong ke depan -hampir terjatuh- jika tangan yang tadinya mengikat tali sepatu tidak cepat bertindak, bergerak menyentuh marmer dan menahan tubuhnya. Aroma yang dihapal masuk ke indera penciuman, bersamaan dengan perempatan siku-siku yang perlahan muncul di keningnya.
"Matthias! Berat!" serunya tidak terima atas aksi oknum yang dengan seenak dengkul, membuat tubuhnya harus menahan beban tubuh yang lebih besar. "Menyingkir dari tubuhku!" sedikit kewalahan, apalagi pria itu terlihat tidak berniat mengganti posisinya –dari kepala hingga punggung gadis itu, kini jadi penahan tubuh Matthias.
Garis bibir itu sedikit tertarik, seakan sudah menduga respon yang didapat. "Kau itu, diapa-apakan enak, yah." satu kata keluar dari bibir Matthias, membuat gadis yang dari tadi sudah ingin menampar pria itu kini merinding. Jika tidak ingat, kedua tangannya kini menahan bobotnya sendiri, habislah dia.
"A-apa yang kau katakan! Awas!" serunya masih tidak terima atas aksi Matthias yang terlihat tidak peduli. Ingin rasanya gadis itu meminta pertolongan untuk menyingkirkan pria di atasnya ini. Tapi siapa? Mengingat hanya mereka saja yang kini berada di teras. Suatu kebetulan yang memang jarang terjadi.
"Kau tadi malam kemana?" menundukan kepala, iris sapphirenya kini fokus memperhatikan Nesia yang masih sibuk, berusaha menyelamatkan nyawa atas aksi yang ia lakukan. Terlihat sedikit kewalahan dengan dirinya.
"Bukan urusanmu!" suara gadis itu terlihat menggeram, tidak menyadari iris sapphire itu berubah mendengar jawabannya.
"Kau mau ku peluk!" satu kata yang membuat Nesia makin merinding ngeri.
"Kau mau mati!" balasnya sarkastik masih belum bisa bergerak. "Cepat menyingkir!" perintahnya untuk kesekian kalinya.
"Kau tahu, kau membuatku jadi ingin benar-benar memelukmu!" satu kata yang membuat tangan yang menahan bobot tubuh itu kini tertekuk. Memilih untuk jatuh, sebagai reaksi kaget atas jawaban Matthias yang kini menimpa tubuhnya dengan sempurna.
Hanya dua iris berbeda warna yang berkedip heran melihat tingkah konyol mereka. Sedikit tidak menyangka kedatangan mereka disambut pemandangan aneh. Meringis ngeri ketika mendengar suara geraman dan amarah keluar dari bibir mungil itu.
"MATTHIAS‼ CEPAT MENYINGKIR DARI TUBUHKU!"
PLAK‼
Saya hanyalah orang yang bisa meminjam charanya tanpa imbalan apapun, selain buat kesenangan pribadi dalam pembuatan fict ini :D
Rating-T
Warning: AU, OOC, OC, Typo(s), dan segala bentuk ke absurdan lainnya.
Don't Like, Don't read
Jika tidak berkenan, silahkan pencet tombol kembali.
Berhubung fict saya emang rada aneh semua, pastinya itu murni pemikiran saya. Jadi kalau ada kesamaan ide, pastinya tidak di sengaja :D
0
o
o
o
2 Weeks
Tenang!
Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan Matthias sekarang, kebiasaannya yang selalu mengganggu Nesia kini menjadi alasan terciptanya sebuah cap merah samar di pipi pria itu. Cap yang membuat kedua sepupunya sempat terkesip masing-masing menyadari bagaimana cap itu tercipta. Satu kata tertanam dalam diri masing-masing untuk tidak merasakan hal yang sama untuk ke dua kalinya. Berbeda dengan Matthias, bibir pria itu kini terlihat menggerutu, bersamaan dengan tangan kanan yang dari tadi senantiasa mengelus cap itu. Cap yang terasa lebih sakit dari sebelum-sebelumnya. Tidak lagi dipedulikannya perempatan siku-siku perlahan muncul di kepala seorang gadis yang dari tadi memberikan wajah kesal.
"Berhenti menggerutu, Matt! Kau semakin menyebalkan tahu!" Sebuah suara akhirnya keluar setelah dari tadi hanya gerutuan Matthias saja yang terdengar.
"Aku tidak akan menggerutu jika kau tidak memukulku!" sahutan itu terdengar dari Matthias, iris sapphirenya melirik pada Nesia yang perlahan bertambah siku-siku dikepalanya.
"Dan aku tidak akan melakukan itu, jika kau tidak berbuat seperti itu padaku!" sahutan balik terdengar dari Nesia, menoleh cepat pada Matthias yang berada di samping Lukas.
"Yah, memangnya apa yang ku lakukan?" sahutan tidak terima terdengar dari Matthias, mengabaikan kedua sepupunya yang merasa aneh dengan tingkah tidak biasanya. Entah terbentur apa, sehingga pria yang bahkan dilempar sepatu oleh Nesia itu akan tetap tersenyum, kini menggerutu. Apa pukulan Nesia tadi punya efek yang begitu mengerikan.
Nesia sendiri hanya bisa memberikan dengusan tidak percaya, sebelum akhirnya membalas perkataan Mathhias. "Ck, kau masih tanya? Tidak sadar diri!"
Kedutan samar perlahan muncul mendengar perkataan tersebut. "Apa kau bilang? Katakan sekali lagi, kupeluk kau!" ancam Matthias membuat Nesia melotot tidak percaya. Bahkan Arthur dan Lukas yang dari tadi memilih diam, bersamaan menoleh pada Matthias yang terlihat tidak peduli akan sikapnya yang berbeda dari biasanya.
Kaki yang seharusnya melangkah ke depan itu memilih untuk ke belakang, bergeser sedikit mencari perlindungan. Walau ia tahu Matthias tidak akan mungkin melakukannya, benarkan? "Coba saja! Ku hajar kau!" sahut Nesia walau kini bersembunyi di belakang Arthur, iris emerald pria itu beralih dari Matthias kini pada dirinya.
Oke, sepertinya ada yang salah dengan Nesia yang kini berlindung di balik tubuhnya. Apakah niat menjalin hubungan yang lebih baik, memang benar-benar ingin dilakukan gadis itu? Hanya kalimat tanya itu yang ada dibenak Arthur, menoleh cepat kala sepupunya kembali berkata.
"Oh, kau kira aku takut!" berbalik menoleh pada Nesia yang terkesip, terlihat kaget dengan tingkah Matthias yang berhenti berlari. "Baik, akan ku peluk kau!"
Satu kata yang membuat Nesia seketika merinding ngeri, tanpa segan menolak Arthur yang tidak siap pada Matthias yang tepat berada di depannya. Menimbulkan satu efek yang membuat kedua pria dewasa itu seketika melotot histeris, mengelap bibir mereka yang tidak sengaja menyentuh bagian lawannya. Saling berpandangan dan menatap bengis pada Nesia yang refleks melarikan diri, setelah sempat tidak percaya dengan perbuatannya dan pasrah ketika keduanya serentak berteriak memanggil namanya dari jauh.
"NESIA‼"
Dan Lukas hanya bisa menghela napas pasrah dengan kejadian yang terjadi pada pagi ini. Semua ini membuat kepalanya mendadak pusing. Hanya iris violet miliknya saja yang terus memperhatikan bagaimana gadis itu berlari sambil berteriak meminta maaf dari jauh.
.
Two
.
Manyun!
Satu kata yang cukup untuk menafsirkan keadaan Nesia sekarang, duduk diam di ruang baca sendirian. Iris onxynya terlihat tidak fokus, menatap pada tumpukan buku yang ada di meja. Pikirannya melayang, memikirkan semua hal yang membuatnya makin sakit kepala sekarang. Tidak, ia tidak sedang memikirkan Matthias ataupun Arthur yang sempat berteriak histeris dan menyuruhnya bertanggung jawab. Soal itu sudah selesai, ia hanya cukup melarikan diri, berlindung di belakang Nenek maka ke dua pira itu akan bungkam, selain memandang ke arahnya dengan kesal. Yah, untuk sekarang ia aman.
Ludwig? Tidak, ia tidak sedang memikirkan pria yang dengan seenak hati menarik dirinya pergi tadi malam. Membawanya keluar rumah dan berbicara panjang kali lebar, serta tatapan yang membuatnya ngeri sendiri. Tidak, urusannya dengan pria itu sudah beres, saat ia kembali ke rumah dan Ludwig pergi keluar, menginap di rumah Gilbert katanya. Satu alasan yang membuat pria itu tidak ikut dengan mereka lari pagi. Sepertinya pria itu kini mulai mencoba menjalin hubungan baik dengan sang kakak.
Lalu, apa yang membuatnya manyun seperti sekarang? Tak lain dan tidak bukan seorang pria yang kini berjalan masuk ke dalam ruangan. Menatap ke arahnya dengan datar, menghela napas perlahan dan berjalan ke arahnya. Entah bagaimana pria itu bisa tahu apa yang terjadi, dan dengan seenak hati menghentikan dirinya yang ingin kembali ke kamar dan menyeretnya kemari.
Iris onxy milik Nesia hanya bisa mengikuti bagaimana pria itu kini berjalan mendekat ke arahnya. Merendahkan sedikit tubuhnya yang dengan cepat dihentikan oleh Nesia.
"Hentikan!" seruan itu terdengar dari Nesia, iris onxynya menatap tepat pada Lukas yang tidak menghentikan niatnya. "Lukas!" serunya kembali menghentikan gerakan pria itu. Iris itu kini tepat mengarah pada onxy milik Nesia, satu hal yang membuat Nesia ciut dadakan. "Bi-biar aku lakukan sendiri!" pinta Nesia dengan cepat menarik kotak yang berada di tangan pria itu –tentu saja Lukas tidak menyerahkannya semudah itu.
Memberikan wajah sangsi, seakan bertanya apa ia tidak salah dengar dengan kalimat yang baru saja keluar dari bibir Nesia.
"Aku bisa melakukannya, sendiri!" satu kalimat penegasan keluar dari bibir Nesia, iris onxy itu menatap violet yang juga masih menatapnya. Berdehem kecil dan cepat melihat obyek lain dilakukan Nesia. "Ini mudah. Kau hanya perlu duduk dan melihat, semua akan beres." Satu kalimat yang membuat Nesia menyesal, padahal ia ingin mengatakan agar pria itu pergi dan membiarkan ia melakukan semuanya sendiri.
Menghela napas panjang dan memilih berdiri, "baiklah. Lakukan apa yang ingin kau lakukan." Satu kalimat ia berikan memilih duduk tidak jauh dari Nesia yang masih memberikan senyum tidak enak.
"Oke," membuka kotak yang berada ditangannya, melihat pada obat-obatan yang berada di dalamnya. Melirik sekilas pada Lukas yang ternyata mengamati tingkannya dari jauh, membuat ia makin tidak enak hati diperhatikan. "Emm, apa kau bisa tidak memperhatikan ku seperti itu?" melirik ragu pada Lukas yang menyandar pada sofa.
"Tidak," sebuah jawaban singkat yang membuat Nesia keki sendiri. "Bukankah kau senang memperhatikan orang, jadi tidak ada salahnya bukan jika kali ini aku yang gantian memperhatikanmu." Menarik sudut bibirnya sedikit melihat bagaimana onxy itu kini menatap tidak percaya akan ucapannya.
"K-kau menyebalkan!" sebuah kalimat lirih terdengar dari bibir itu, memberikan wajah cemberut. Pria ini benar-benar berbeda dengan Matthias yang lebih mengajaknya ribut duluan untuk mengobatinya dari pada menatapnya seperti sekarang. Satu hal yang mesti ia syukuri, sekaligus ia sesali karena pria ini malah lebih senang menatapnya.
"Terima kasih!"
"Egh! Aku tidak memujimu!"
"Ku anggap itu pujian!"
"A-apa? Kau gila!"
"Mungkin."
"Bukan mungkin lagi, tapi memang iya." Histeris Nesia membalas tatapan Lukas, "dan berhenti memandangku, itu menyebalkan!"
"Tidak mau!"
"Lukas!"
"Hm."
"Ah, aku bisa gila!"
"Bagus dong!"
Ctak!
"Agh! Kau.. iss." Melempar bantal yang berada di dekatnya pada Lukas yang dengan sigap menangkapnya dan memberikan senyum menantang. "Kau benar-benar menyebalkan sekarang," mendengus kesal memberikan wajah cemberut, memalingkan wajah dan kembali sibuk mengobati luka di kakinya. Luka yang di dapat dari perbuatan Matthias tadi pagi. Satu hal yang ternyata sempat diketahui pria itu walau telah ia tutupi dengan cukup baik.
Senyum tipis terbentuk di wajah Lukas, untuk sesaat. Perlahan iris violet miliknya bergerak menuju ke arah pintu. Seakan menyadari bahwa mereka berdua tengah diperhatikan oleh sepupunya yang berbalik arah, membatalkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan.
WEEKS
Iris emerald itu hanya diam, memperhatikan bagaimana sepupunya yang sedari tadi terlihat melempar bola ke dalam ring. Entah kenapa, atau memang perasaannya saja, sepupunya itu terlihat melampiaskan emosi setiap ia melempar bola ke dalam ring. Mendengar bagaimana teriakan itu terdengar setiap bola itu masuk dan sebelum bola itu menyentuh lantai, pria itu sudah kembali bergerak mendrible bola dan kembali memasukannya. Terus berulang-ulang.
"Apa kau sudah puas?" pertanyaan itu terlontar bersamaan dengan dirinya yang melangkah mendekati sepupunya. Pria di hadapannya kini terlihat menumpu tubuhnya pada kedua lututnya, napasnya terlihat ngos-ngosan.
Kepala yang tadi menunduk, melihat lapangan perlahan terangkat. Bersamaan dengan iris sapphire yang terarah padanya. Tatapan yang entah kenapa terlihat begitu berbeda hari ini. Dan sebelum ia melontarkan pertanyaan pada pemilik iris sapphire itu, sebuah bola melayang padanya. Menangkap dan memberikan tatapan tidak paham pada iris yang kini menatap malas padanya.
"Ayo bertanding!" satu kalimat yang membuat alis miliknya perlahan naik.
Mendengus dan melemparkan bola pada lawannya, "Kupikir dari pada bertanding kau lebih suka mengganggu gadis itu, Matt." Memberikan seringai kecil pada sepupunya yang tersentak kecil.
Iris itu kini menatap lurus padanya dan kembali melempar bola pada lawan bicaranya, "Bisakah kita tidak membicarakan dia saat ini, Arthur." memberikan tatapan sinis pada sepupunya itu.
Tertawa kecil dan mendribbel bola, "kenapa? Apa karena dia sekarang lebih sibuk dengan orang itu.." melakukan shooting dari jaraknya berdiri sekarang, saat Matthias mendekatinya. Iris emerlad miliknya memperhatikan bagaimana bola yang ia lempar gagal memasuki keranjang dan terpental, memantul di lapangan. Membuatnya berdecak kecil.
"Lemparanmu buruk," satu kalimat terlontar bersamaan dengan Matthias yang mengambil bola. Mendribbling diikuti iris yang emerald yang memperhatikannya bergerak dan melakukan shoot. Senyum meremehkan diberikan saat bola itu masuk dalam keranjang. Iris sapphirenya sekali lagi menatap pada emerald yang terlihat kesal membuatnya tertawa, sekali lagi menangkap bola itu dan melakukan pashing pada Arthur.
Memberikan dengusan kecil akan sikap sepupunya itu walau, tangannya bergerak melakukan catching. "Hmm, mungkin. Walau tidak seburuk perasaanmu." Sahutnya melihat bagaimana iris sapphire yang memperhatikannya perlahan berubah.
"Ck, apa maksudmu!"
Bibir itu memberikan seringai sinis, "haruskah aku jelaskan padamu." Melakukan bounce pass yang diikuti Matthias, alis milik sepupunya itu sedikit naik akan perbuatanya. Dan saat bola itu berpindah padanya, perlahan ia pun bergerak diikuti kombinasi tangan kanan dan kirinya. Melewati Matthias dan melakukan shoot, diam saat bola itu melayang ke atas dan masuk ke dalam keranjang. Seringai itu kembali muncul, tangan kanannya menangkap bola yang hampir menyentuh lapangan. Melihat pada Matthias yang memasang tampang datar, terlihat memang sengaja membiarkannya memasukan bola. Tatapan yang membuatnya mendadak kesal.
"Kau sendiri bagaimana?" sebuah pertanyaan terlontar dari Matthias, menimbulkan kebingungan bagi Arthur. "Bukankah, seharusnya kau yang lebih kesal dari pada aku." Memasukan kedua tangannya di saku celana, "apakah dicampakan tidak membuatmu sakit? Atau kau memanfaatkan Nesia sebagai pelampiasan dari rasa sakitmu." Memberikan seringai kala melihat emerald itu membulat sempurna.
.
IMYGIe
.
Nesia, tidak tahu dan tidak pernah paham. Apa yang salah padanya hari ini hingga harus mengalami semua ini. Apakah karena memang dirinya tidak niat melakukan keinginan Nenek atau karena memang ini aksi balas dendam, sehingga ia harus mendapatkan hukuman seperti ini? Tapi, apa ini tidak kelewatan. Sakitnya itu loh, niat banget sih mereka melakukan aksi balas dendam padanya. Selain itu ia kan juga sudah minta maaf atas insiden tadi.
"Nes," suara itu terdengar pelan memanggil namanya yang tidak bergerak.
Tidak, bukan ia tidak bergerak karena mati. Ia masih bernapas kok, sungguh. Ia hanya sedang mengatur napasnya saja, akibat ulah kedua cecunguk ini. Yah, cecunguk. Ia tidak akan pernah, amat pernah menyebut mereka berdua sebagai calon tunangannya. Tidak akan sekalipun, kecuali kalau terpaksa. Itupun hanya di depan Nenek yang mengancamnya, bagaimanapun ia kan masih ingin pulang ke rumah.
"Hei, Jelek!"
Kampret! Udah salah, bukannya merasa bersalah, sempat-sempatnya menghina lagi. Jangan-jangan orang ini memang sengaja. Kalau bukan rasa sakit ini, terasa nyelekit. Arthur akan menjadi orang pertama yang akan ia tabok bolak balik, dah.
"Kau bisa berdiri?!"
Tangan kanan itu terulur tepat di hadapannya, membuat ia memicingkan mata. Terpaku pada Matthias yang terlihat merasa bersalah, memberikan senyum tidak enak hati. Oke, paling tidak salah satu dari mereka masih punya rasa bersalah.
"Ck," decakan pelan itu terdengar dari Arthur melihat tingkah Nesia yang sempat tertegun memperhatikan tangan Matthias.
"Kenapa kau melihatku begitu?" pertanyaan yang sama terlontar dari Matthias, melihat Nesia tidak juga menyambut tangannya. Entah kenapa ia jadi ngeri mendadak ditatap oleh Nesia yang selama ini diganggunya. Seakan ada yang dipikirkan gadis itu, dan itu memang benar. Hanya saja, pria itu tidak akan tahu apa yang dipikiran Nesia sekarang.
Menggelengkan kepala pelan, tidak peduli Matthias dan Arthur makin merasa aneh dengan tingkahnya. Saling melirik dan merasa yakin, sepertinya mereka bukan hanya mengenai bahu gadis itu dengan bola, tapi kepala gadis itu terbentur sesuatu saat jatuh tadi.
"Oke, dia sudah gila!" Satu kalimat meluncur mulus dari bibir Arthur disertai alis yang terangkat naik.
"Enak saja!" Bantah Nesia cepat perlahan berdiri, mengabaikan tangan Matthias yang terulur di depannya. Melihat tangan Matthias yang terulur di hadapannya, serasa dejavu. Teringat saat Arthur dulu hampir menabraknya. Matthiaspun melakukan hal yang sama saat itu. Mengelus bahunya yang terasa sakit disertai mata yang menyipit memandang pada kedua pria di hadapannya. Mendengus sebal, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan pergi. "Nenek, Matthias dan Arthur membullyku!" Teriaknya berlari pergi meninggalkan keduanya di lapangan basket yang terdiam sesaat dan tersadar sesuatu.
"A-Apa? Hei!" seru Arthur tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Menoleh cepat pada Matthias yang berkedip, seulas senyum tipis terbentuk saat sapphire itu memperhatikan punggung Nesia yang berlari. Seakan terbiasa dengan tingkah Nesia yang seperti bocah.
Seakan tersadar dirinya ditatap pria itu perlahan menoleh, sapphire bertemu emerald. "Apa?" kalimat tanya itu keluar dari bibir yang baru saja membentuk senyum, dan entah kenapa senyum itu terlihat sedikit menantang bagi Arthur.
Chan
Emerald itu hanya memasang tampang datar, melihat pada cucu bungsunya yang terlihat melakukan hal sama seperti kedua cucunya yang lain. Terlihat sibuk sendiri dengan aktivitasnya. Bukankah ini akhir pekan, tidak adakah salah satu dari mereka yang berniat pergi keluar rumah untuk menikmati cuaca hari ini. Pantas saja jika Nesia memilih untuk menghabiskan harinya di kamar sekarang. Mereka memang tidak bisa diharapkan. Menghela napas panjang dan berjalan menjauh dari ruangan itu, tidak dihiraukannya Lukas yang berpapasan dengannya kini memandang heran.
"Kau sedang apa?" Satu pertanyaan terlontar dari belakang pria itu.
Menoleh, mendapati Matthias telah berdiri di dekatnya.
"Apa kau tidak merasa Nenek sangat aneh hari ini?" pertanyaan kedua kembali terlontar dari bibir Matthias. "Beliau tadi datang menemuiku, dan tidak mengatakan apapun."
Violet itu melirik pada Matthias yang terlihat menyisir helaian rambutnya dengan tangan.
"Menurutmu apa yang direncanakan Nenek?" pertanyaan ketiga kembali terlontar, sapphire itu menatap punggung wanita tua yang berjalan menjauh.
"Bukankah sudah jelas, apapun itu pasti berhubungan dengan perjodohan ini bukan." Suara lain terdengar ikut masuk dalam pembicaraan, membuat kedua pria yang dari tadi berdiri di depan ruangan lain, menoleh pada pemilik iris emerald yang kini menatap keduanya. "Seharusnya yang kau tanyakan itu adalah, siapa yang lebih dipilih Nenek untuk menikah dengan gadis itu."
"Bukankah itu sudah jelas siapa?" pertanyaan balik itu terlontar dari bibir Matthias, menatap tanpa minat pada sepupunya yang mendengus. Mengabaikan pertanyaan kedua yang terlontar dari bibir Arthur. Iris berbeda warna itupun bertemu sesaat dan seketika decakan kecil terdengar dari bibir Matthias sebelum akhirnya memilih untuk beranjak dari tempatnya.
Alis yang bertaut bingung lebih diberikan oleh Arthur atas aksi Matthias barusan. Sedikit tidak mengerti akan maksud dari pria itu. Menerka-nerka akankah maksudnya dirinya sendiri ataukah… Menggeleng pelan tidak berniat memberi dugaan, atas prilaku Nenek mereka yang memang tidak bisa diterka. Menghela napas panjang, tersentak menyadari bahwa dirinya dari tadi ternyata terus diperhatikan oleh iris violet milik sepupunya.
.
.
.
2 weeeks
.
.
.
.
Guling! Guling dan kepantok!
Beberapa kata yang mendeskripsikan keadaan Nesia sekarang. Mengelus jidatnya yang mengenai sandaran tempat tidur atas aksi anehnya. Memberikan keluhan pelan atas rasa sakit yang tengah dialaminya. Kembali terlentang menatap flafon kamar, terdiam memperhatikan. Sinar matahari yang menembus jendala kamar, membuatnya dapat melihat lebih jelas dibandingkan saat malam.
Kedua lengannya ia ulurkan ke depan dan merentangkan telapak tangannya. Iris itu memperhatikan kesepuluh jarinya, satu persatu. Sebelum akhirnya iris itu berhenti tepat di jari manis kirinya. Terdiam untuk beberapa saat, menarik lengan kanannya perlahan hingga ke dada.
"Apa kau benar-benar tidak pernah memikirkannya?"
"Jika begitu sebaiknya kau mulai memilih dari sekarang?"
Dua kalimat dari orang yang sama, kembali terngiang di kepalanya, menghela napas panjang. "Menikah, ya." Iris itu perlahan berubah sendu. Bibir itu sedikit tertarik, "yang benar saja." Mengepalkan tangan kirinya, menarik ke arah dadanya. Iris itu kembali bersembunyi dalam kelopak matanya untuk sesaat, "bagaimana mungkin aku menikah dengan orang yang jelas-jelas tidak ingin menikah denganku?" Kelopak mata itu membuka, memiringkan kepala. Melihat pada pemandangan di luar jendela.
"Manja, jelek, pendek, gendut. Itulah dirimu!"
"Kurasa sebaiknya Lukas saja."
"Apa kau sudah bosan hidup, Matthias?"
"Sebaiknya kita langsung ke intinya saja."
"Maaf tapi, sepertinya kami tidak bisa mengikuti kata Nenek untuk menjadi calon suamimu."
Perempatan imajiner muncul di kepala Nesia, mengingat peristiwa saat pertama kali ia datang. Perasaannnya mendadak kembali kesal mengingat setiap perkataan keempat pria itu. Demi Tuhan! Diingat-ingat, entah kenapa saat itu ia serasa seperti tidak diharapkan sama sekali. Ah, tidak lebih tepatnya seakan ia itu manusia yang tidak harganya sama sekali. Bisa-bisanya terdiam untuk waktu yang lama hanya untuk dikata-katai oleh Arthur. Seakan ia yang memaksa untuk menjadi calon istri mereka saja. Heh! Yang benar saja.
Terdiam, melamun. Mengingat masa lalu.
Shit! Apa ini karmanya karena sering menolak orang yang menyukainnya? Tapi, seingatnya ia tidak sesadis itu, sampai mengata-ngatai segala. Dan lagi ia juga melakukannya dengan cara yang lebih sop.. ia selalu sopan menolak seseorang kan?
Merenung ketika kalimat tanya itu melintas dalam benaknya.
"Tapi kan jujur, masak harus bohong!" satu kalimat keluar dari bibirnya.
"Apanya?" Disusul kalimat tanya.
"Menolak mereka!" menolehkan kepala ke arah si penanya. Terdiam, saat melihat sapphire yang menatap padanya. "Huwaaaaa!" menjerit kaget dan refleks menggulingkan badan menjauh, lupa bahwa berada di tepi tempat tidur.
Bruk!
Suara jatuh yang tidak sempat di tahan terdengar.
Menggarukan kepala disertai cengiran rasa bersalah, "Nes, kau tidak apa-apa?" ragu saat mendengar ringisan kesakitan. Bukannya tidak ingin menolong, mengingat Nesia yang anti terhadap dirinya seperti ini saja. Membuat kakinya yang sudah ingin melangkah mendekat terhenti. Selain, takut digamplok Nesia lagi –tenaganya memang pelan, tapi pedasnya itu. Gadis itu berada dalam jarak yang sulit ia jangkau.
"Aduh!" suara pelan itu terucap, bersamaan perempatan imajiner yang kembali muncul "Matthias‼"
.
.
.
.
.
Iris ony itu masih menatap tajam pada pria yang kini mengelus wajah atas aksi lemparan bantal yang dilakukan olehnya. Jangan salahkan dirinya yang melakukan tindakan itu, bagaimanapun ia berhak melakukannya. Selain itu, masih mending ia melemparnya dengan bantal, bukan dengan vas bunga yang berada di tidak jauh darinya yang murni refleks akan ia lakukan. Jika saja ia tidak melihat bantal yang berada jauh lebih dekat darinya.
"Kau jahat sekali padaku, Nes! Bagaimana bisa kau melakukan ini pada wajah tampanku?" rengek Matthias yang membuatnya benar-benar berpikir ulang untuk tidak melempar pria itu dengan vas bunga.
"Is, kau ini. Masih mending aku melemparmu dengan bantal, bukan dengan vas." Memutar mata malas di lakukan Nesia yang masih berusaha menahan sabar atas rengekan Matthias yang menyebalkan di telinga.
"Sa-sadis! Bagaimana bisa kau se-barbar ini?" geleng Matthias tidak percaya menatap Nesia yang kali ini menekan kan kata sabar pada dirinya sendiri.
"Akh, kau ini." memijat keningnya perlahan, percuma saja meladeni Matthias yang semakin lama, semakin aneh. Bisa-bisa urat kesabarannya putus, hari ini ia tidak sedang dalam mood yang baik. "apa maumu kemari, Matt?" mengalihkan topik pembicaraan adalah satu-satunya cara yang bisa ia lakukan.
Menatap pada Nesia yang kini menatapnya datar, hal yang jarang pria itu lihat pada diri Nesia. Sepertinya bukan hal yang baik jika ia terus merengek pada gadis itu. Bisa-bisa, niat untuk melemparnya dengan vas bunga benar-benar dilakukan oleh Nesia.
"Tidak ada," tersenyum melihat Nesia yang sempat tertegun mendengar jawabannya. Perlahan kening gadis itu terlihat berkerut mendengar jawaban darinya. Dan sebelum gadis itu mengatakan sesuatu, kembali ia berkata. "Aku hanya kangen saja… sekaligus menyampaikan pesan Nenek untukmu." Dengan cepat kembali berkata, sebelum Nesia melempar bantal ke wajahnya untuk kedua kali mendengar jawaban yang ia beri jeda. Sepertinya memang seperti dugaan ada yang tidak beres pada diri Nesia. "Nenek ingin kau menemuinya sekarang." Tersenyum manis melihat bagaimana reaksi gadis itu yang terdiam mendengar ucapannya.
"Kenapa?"
"Entahlah, menurutmu kenapa?"
Menggaruk kepalanya yang tidak gatal di lakukan Nesia, terlihat berpikir sesuatu. Menghela napas pelan, berdiri dari duduknya. Sekali lagi melihat pada Matthias yang menatap lurus padanya. Bantal yang masih senantiasa di tangannya, sekali lagi ia lemparkan pada Matthias yang kali ini memilih menghindar.
"Hei!" seru Matthias atas aksi Nesia yang berdiri di dekatnya. "Apa lagi salahku?" Sungutnya memasang wajah manyun, Nesia terlihat tidak peduli dan berjalan menuju pintu kamar. "Ck, sebenarnya ada apa dengamu?"
"Apa maksudmu?"
"Kau aneh."
"Macam kau tidak saja."
"Benarkah," ikutan berdiri dari duduknya di lantai. "Memang apa yang aneh dari diriku," memberikan senyum pada Nesia yang terhenti di depan pintu, menoleh padanya.
Iris onxy itu menatap lurus pada Matthias yang masih memberikan senyum, seakan menegaskan bahwa ia tidak seaneh dirinya. "Haruskah ku katakan?" Satu kalimat terucap melihat pada Matthias yang berjalan menuju ke arahnya.
"Apa?" Kalimat tanya itu keluar.
Menghela napas pelan, "mata dan bibirmu." Kembali bibir itu berucap, melihat pada Matthias yang merasa aneh mendengar jawabannya.
Tertawa kecil, "Kenapa? Apa terlihat seks—."
"Mereka tidak bekerjasama dengan baik, untuk menutupi perasaanmu." Lanjut Nesia memotong ucapan Matthias. "Apa kau tidak capek berpura-pura bahagia?" Senyum yang Nesia lihat pada diri Matthias, perlahan menghilang.
Tawa keras terdengar dari bibir yang sedetik lalu terlihat kaku. "Ya, ampun. Apa yang kau katakan? Kau lucu sekali!" Menggelengkan kepala melihat pada onxy yang hanya diam. "Apa itu cara barumu mengerjaiku?"
"Tidak, hanya teringat saja bahwa aku pernah sepertimu. Berpura-pura bahagia, hingga ingin mati karenannya." Melihat pada Matthias yang terdiam seketika. "Tapi sepertinya aku salah, pria lebih cenderung memakai otaknya dari pada perasaannya. Jadi mungkin kasus kita berbeda." Nyengir, mengangkat bahunya acuh.
Berbalik dan terperajat, melihat pada Lukas dan Arthur yang berdiri di dekatnya. "Ya, ampun! Kalian mengagetkan ku!" mengelus dada, refleks yang sering ia lakukan saat kaget. Bagaimana tidak kaget, saat ia menoleh kedua pria itu hanya berjarak beberapa langkah darinya saja. "Bagaimana bisa kalian tiba-tiba berdiri di situ."
"Kau saja yang terlalu asik, membuat keributan berdua." Sahut Arthur mendengus pada Nesia yang terlihat ingin membantah, tapi batal di lakukan.
"Terserahlah." Bergerak, berjalan menuju kamar Nenek. Satu-satunya tempat yang ia ketahui jika Nenek ingin bicara berdua dengannya. Bagaimanapun ia tidak ingin membuat orang tua itu lama menunggu dirinya, jika ia harus meladeni Arthur kembali. Lagian pria itu juga sepertinya, tidak ingin berbicara lagi. Buktinya ia berjalan seperti ini, kata-kata nyelekit dari Arthur tidak mengikuti dirinya seperti biasa.
Hanya saja, Nesia tidak menyadari bahwa Arthur kini lebih tertarik melihat pada Matthias yang masih terdiam dalam kamarnya. Raut pria itu terlihat berbeda dari biasanya. Satu hal yang kini menarik minat kedua sepupunya.
.
IMYGIE_CHAN
.
Pusing, kesal, ngenyut. Tiga kata yang kini di dirasakan oleh Nesia pada kepalanya. Pusing karena memikirkan semua yang ia alami sampai hari ini, bahkan telpon dari rumah serta ucapan penghuni rumah ini ikut membuat rasa pusing itu makin menjadi. Kesal karena bermacam-macam hal yang terus menumpuk. Dan ngenyut yang akhirnya terjadi, entah karena efek tanpa sengaja menabrak dinding di kamarnya tadi. Ataukah hasil dari semua yang ia rasakan menjadi satu. Entahlah yang jelas ia harus menemui Ludwig sekarang, mengingat Kajol dengan senangnya mengatakan bahwa pria itu tadi datang dan sempat mencarinya. Entah apa yang ingin dikatakan pria itu pada dirinya, semoga saja bukan hal yang aneh seperti tadi malam.
Aneh? Kenapa tidak? Bagaimana bisa pria itu dengan mudahnya memberi credit card? Bagaimana kalau ia menyalah gunakannya? Bagaimana kalau ia belanja semau hati, tanpa peduli uang yang ia keluarkan? Is, pria itu benar-benar bikin pusing saja. Sudah gitu main tinggal lagi, sebelum sempat ia mengutarakan keeganannya.
"Mau bertaruh, Nesia pasti..."
Terdiam di tempat kala telinganya mendengar kalimat yang tanpa sengaja terdengar di telinga. Langkah kaki yang tadinya tinggal beberapa lagi menuju sebuah ruangan itu berhenti bergerak. Indranya serasa mati seketika, kalimat yang sama terdengar di telinga dalam waktu yang hampir sama. Membangkitkan kenangan lama, yang sumpah ingin ia lupakan. Wajah beberapa anak yang tidak ingin ia ingat lagi. Mengepalkan tangan erat, tanpa sadar mengigit bibir bawahnya. Kaki yang tadi diam di tempat, perlahan melangkah menuju asal suara.
Muncul begitu saja di pembatas ruang keluarga, membulatkan iris sapphire yang tanpa sadar melihat dirinya. "Sepertinya kalian senang sekali menjadikan seseorang sebagai mainan, hingga kalian pertaruhkan seperti ini." satu kalimat terucap begitu saja, bersamaan iris yang berbeda warna itu menoleh pada dirinya yang memberikan senyum. Senyum terdingin yang pernah di lihat oleh semuanya.
"Nesia!" raut kekagetan jelas terlihat di wajah mereka, terpaku pada sosok gadis yang berdiri di tempat mengedarkan pandangan hingga menuju satu orang. Tidak ada yang melontarkan kalimat apapun, terlihat sedikit ragu. Ada yang salah pada diri gadis itu saat ini.
"Nes ini—."
"Oh, Lud. Kau sudah datang!" Nada itu terdengar cukup datar keluar dari bibir Nesia, menghentikan Matthias yang berinisiatif bicara. Berjalan mendekati Ludwig yang duduk di sofa. Iris sapphire pria itu terlihat sedikit kaget, mendengar nada asing yang terdengar di telinga. Walau lebih memilih diam sebagai reaksi dari keterkejutan, selain iris pria itu yang memperhatikan sebagai jawaban dari pertanyaan yang diberikan. "Ini kukembalikan." Memberikan sebuah benda segi empat yang kini diperhatikan oleh yang lain.
Sapphire itu perlahan bergerak, melihat tangan milik gadis itu ke arahnya bersamaan dengan kartu tersebut. "Itu sekarang milikmu." Sebuah jawaban yang membuat alis milik Nesia naik sedikit. "Kau bisa membeli apapun yang kau mau dengan itu, sekarang!"
"Apapun?" Tanya Nesia melihat kembali dengan kartu yang berada di tangannya. "Apa ini juga bisa membeli tiket untuk ku pu—."
"Kecuali itu," potong Ludwig cepat. Ia tidak ingin di gantung oleh Neneknya jika Nesia benar-benar melakukan tindakan tersebut. "Kau bisa membeli apapun yang kau inginkan selain tiket untuk pulang." Sedikit mempertegas kalimatnya dilakukan oleh Ludwig, melihat pada Nesia yang diam.
Iris onxy itu kembali memperhatikan kartu yang berada di tangannya, sebelum akhirnya kembali bergerak menatap pada Ludwig. "Jika begitu aku tidak membutuhkannya." Tangan kanan itu kembali bergerak, menyodorkan benda tersebut pada Ludwig yang sedikit kaget.
Iris sapphire itu menatap aneh pada Nesia, menghela napas panjang. "Simpanlah, suatu saat nanti kau akan membutuhkannya."
"Untuk?"
"Kau tidak dengar, kau bisa membeli apapun dengan itu!" sahutan terdengar diiringi nada jutek yang tidak diketahui sebabnya.
Iris onxy itu, perlahan melirik. Mengedipkan matanya sekali dan menolehkan kepalanya pada asal suara. "Aku mendengarnya, Arthur. Hanya saja kalimat itu tidak dapat kupahami dengan cukup baik." Memberikan senyum terdatar yang pernah dilihat oleh Arthur. "Apa kau bisa menjelaskannya padaku, bukankah kau lebih pintar dariku."
Damn! Ada yang tidak beres dengan Nesia, dan bukan Matthias saja yang mengakui itu semua. Entah mengapa Nesia terlihat sedikit berbeda dibandingkan biasanya. Dari caranya berbicara, menatap ataupun tersenyum. Tidak pernah ia melihat bagaimana tidak bersahabatnya Nesia seperti sekarang. Bahkan Arthur yang biasanya terlihat langsung membalas perkataan Nesia. Lebih memilih diam untuk memastikan kata-kata yang terlontar dari bibir gadis itu.
"Apa saja yang bisa kubeli dengan ini Arthur?" kalimat tanya sekali lagi keluar dari bibir Nesia, iris onxy gadis itu tepat ke arah emerald Arthur yang berada di ujung sofa.
Iris emerald itu terlihat bergerak, berpikir mencari kalimat yang tepat. "Pa-pakaian, kau bisa—."
"Makan—" sambung Matthias yang merasakan firasat buruk dari kalimat Arthur, memotong ucapan pria itu yang lalu terhenti seketika.
Nesia, gadis itu mengangkat tangan kanannya menunjukan ia untuk berhenti berkata. Walau iris milik gadis itu tidak terarah padannya. Entah kenapa, ia bisa membaca gestur dari gadis itu yang kini menggerakan tangannya kembali seperti biasa.
"Aku tidak tahu kau sebegitu malunya jalan denganku. Tapi maaf, aku menyukai gaya berpakaiannku dan aku tidak akan mengubahnya." Senyum itu masih datar dan iris onxynya perlahan bergerak ke bawah dan sekali lagi bergerak ke atas tepat pada iris emerald milik Arthur. "Apalagi, bagi orang yang tidak penting bagiku. Jadi, kau tenang saja. Aku tidak akan membuat kesalahan yang sama dengan keluar bersamamu, hingga membuat dirimu malu."
"A-apa?" kekagetan jelas terlihat di wajah Arthur. Entah karena perkataan Nesia atau cara bicara gadis itu yang tidak biasa. "He-Hei! Kurasa Ka—."
"Untuk soal makan, kurasa aku tidak perlu mengkhawatirkan itu. Mengingat kalian selalu mentraktirku, benarkan?" Menghentikan Arthur yang ingin kembali berbicara dan melirik sekilas pada Matthias yang terpaksa mengangguk menyetujui. Berdebat dengan Nesia yang seperti ini entah kenapa tidak ingin ia lakukan. "Jadi Lud, aku benar-benar tidak membutuhkan benda ini." Menarik sedikit sudut bibirnya, menyerahkan kembali benda tersebut pada Ludwig yang hanya melirik.
"Tapi, Nenek ingin kau memiliki benda itu." sapphire itu menatap lekat pada iris onxy yang sempat membulat sesaat.
"Nenek?" Kalimat tanya dan sedikit emosi terdengar setelah beberapa menit percakapan terjadi di antara mereka. Refleks kepala itu menoleh ke arah lain, menghindar dari iris berbeda warna yang menatapnya hanya untuk sesaat. Kembali lagi memandang ke arah Ludwig, "Ah, jika kau bilang begitu." Merentangkan tangannya hingga benda tersebut jatuh ke lantai. Melebarkan iris berbeda warna menatap tindakannya. Dan seakan belum puas, ujung sendal miliknya menendang hingga benda itu masuk ke kolong sofa. "Katakan pada Nenek, aku menjatuhkan dan menghilangkannya." Bibir itu sedikit tertarik, membentuk senyuman tidak niat.
"Kau gila!" seruan itu terdengar dari Arthur atas aksi Nesia.
Melihat pada Arthur, "tidak. Aku hanya tidak ingin menyimpan benda itu saja, dan lagi kurasa kalian bisa memblokir atau ah.. entahlah kalian yang tahu namanya apa. Jika benda itu hilangkan." Melihat sekali lagi pada Ludwig yang masih terkesima dengan perbuatan Nesia. "Baiklah, kurasa hanya itu saja. Jadi maaf, sudah mengganggu obrolan kalian." berbalik dan melangkah menjauh meninggalkan Ludwig yang masih terdiam di tempat, bahkan Matthias hanya melirik sekilas antara benda tersebut dan Nesia yang berniat meninggalkan ruangan.
Menghela napas perlahan dilakukan Lukas, "jadi ini caramu menyalurkan emosi." Satu kalimat terlontar dari bibir pria itu setelah diam memperhatikan semuanya. Menghentikan langkah Nesia yang menuju ke arah pembatas ruangan.
Terdiam dan menoleh tepat ke arah Lukas yang hanya melirik. "Maaf, maksudmu?"
"Kurasa kau paham maksudku?" kepala itu bergerak menoleh pada Nesia yang perlahan ikut menggerakan posisi berdirinya menghadap Lukas.
"Tidak, aku tidak memahami maksud dari ucapanmu." Kening itu sedikit berkerut, berpikir.
"Tidak memahamai atau tidak ingin memahami." Violet itu menatap tepat pada iris onxy yang tersentak ditatap tiba-tiba.
"Kelihatannya?" memberikan pertanyaan balik, satu hal yang mampu membuat Lukas menaikan sedikit alis matanya. Sebuah kesan yang tidak biasa didapat oleh Nesia akan tabiat pria itu.
"Kurasa kau tidak sebodoh itu, untuk tidak memahami maksud dari perkataanku." Ucap Lukas bibir pria itu sedikit tertarik, ekspresi kesombongan yang entah mengapa terlintas dalam diri Nesia mendapati prilaku seperti itu.
Onxy dan violet bertemu, saling bertatapan memberikan ekspresi datar.
Plak!
Suara telapak tangan yang beradu terdengar. Satu tepukan kecil diberikan oleh Matthias, membiarkan semua iris berbeda warna itu menatapnya kini.
"Oke, baiklah! Kurasa kau sedikit salah sangka mengenai apa yang kau dengar sebelum ini, jadi—."
"Aku tidak peduli!" bibir itu kembali bergerak memotong ucapan Matthias. "Apapun yang kalian bicarakan itu bukan urusanku."
"Heh, jika memang bukan urusanmu. Tentu kau tidak akan seaneh ini sekarang." Sahutan terdengar dari Arthur yang bergerak dari posisinya. Iris emerald pria itu memperhatikan Nesia yang diam.
Menghela napas pelan, "jika kau berpikir aku seaneh ini karena mendengar kalian menjadikan aku ajang taruhan. Kalian tenang saja aku tidak peduli, ini bukan pertama kalinya aku mendengar kalimat seperti ini." Sebuah kalimat yang menghentikan Arthur melangkah, bahkah iris emerald itu terlihat melebar sempurna. Hal yang sama terlihat ditunjukan oleh iris yang berbeda warna dengan milik pria itu. "Selain itu, taruhan ataupun tidak. Bukankah bagus jika aku benar-benar salah sangka." Iris onxy gadis itu kini memperhatikan Matthias yang berkerut bingung. "Bahkan kurasa kalian tidak perlu repot-repot untuk menjelaskan itu semua. Tidak ada keuntungan apapun yang kalian dapatkan, bahkan kabar baiknya. Bisa jadi Nenek akan membatalkan idenya untuk menjodohkan kita sem—."
"Cukup!/Nesia!" seruan itu terdengar dari Ludwig dan Matthias hampir bersamaan.
Hal yang tidak disangka, mendengar kedua pria itu sedikit membentak. Bahkan Nesiapun terperejat kaget untuk sesaat melihat bagaimana rupa keduanya.
"A—" Kata yang ingin terucap terhenti seketika, benda yang berada di saku celanannya kini bergetar dan mengeluarkan suara nyanyian yang mampu di dengar semua.
Menoleh, ke asal suara, menggerakan tangan dan mengambil benda persegi panjang yang berada di saku. Diam ketika melihat nama yang tertera, onxy itu sedikit melebar, menggigit bibirnya pelan. Ekspresi yang di tunjukan terlihat sedikit berbeda dari sebelumnya. Terlihat sedikit ragu, sebelum memutuskan menggerakan jari menggeser warna hijau di layar.
"Ha-halo!" suara pelan dan sedikit penuh keraguan terdengar. Nada yang hampir dihapal oleh Ludwig dan yang lain saat gadis itu berbicara dalam keadaan tertentu. "A—" kata yang ingin terlontar, terhenti seketika, diam mendengarkan. Tangan lainnya yang tidak memegang apapun terkepal, bersamaan onxy yang perlahan berubah, kaki itu perlahan bergerak kembali mendekati Lukas yang menatap heran. Dengan cepat menjauhkan benda tersebut dari telingannya dan mengulurkan benda tersebut padanya. "Kurasa, mereka lebih ingin bicara dengan kalian dari padaku." Satu kalimat terucap, bersamaan dengan tangan kanan yang meraih tangan Lukas dan menaruh benda tersebut di tangannya.
Iris violet itu hanya menatap bingung, diam melihat bagaimana Nesia cepat berjalan meninggalkan ruangan. Membiarkan tatapan penuh keheranan kini tertuju pada Lukas yang diam, melihat pada benda yang kini ia pegang.
.
.
.
.
.
.
.
Kecebong again!
Hai~ gie datang lagi kepermukaan. Masih ingat kan...iya kan.. *kedipganjen* Hohoho! Sampai gak sadar musim liburan dah lewat. Dan gie terpaksa harus tenggelam lagi dalam lautan tumpukan kesibukaan. Sorry untuk keterlambatan updatenya N thanks dah terus dukung nih fict. Bahkan kalau mo neror gie juga gak pa-pa kok... asal gie jangan di dukun aja. *ditabok* N buat yang fav, alert dan rev Sabila Foste, Freeze112, kuroi uso, D.N. , mie susu kecap mayo, yuko, Indo-Chan, Nesia Dirgantara, yuko, Emillia Kartika, Bosondeicu, Love dah. Thanks dah nyemangatin gie buat cepat ngelarin nih fict. *nangis haru* Muach* Plak*
Gosip bareng yang gak login:
Sabila Foster
Hai haney~ *kedipganjen*Plak*. Cuek, man... cuek.. mkin maksudnya gitu kali yah. Maklum gie gak sempat lagi lihat-lihat tar makin telat apdatenya *nangisgaje*iya nih, akhir2 nih bahasa gie makin kacau *tepuk jidat* apdate panjang *malu2* gie sadar nih fict dah lama, makanya diperpanjang. kalau sampai setahun gak tahu deh sepanjang apa bakal nih fict... *tepar*
mie susu kecap mayo
Wow! kok tahu, chap kali ni bakal Matthias lebih banyak munculnya *mata bling2* hebat2! Gie suka...gie suka... eh tapi nih termasuk romance gak yah *pose mikir*
yuko1, yuko2
Pasti, nih dah dilanjut. Apa sih yang gak~ *kedip ganjen*
Indo-Chan
Tenang~ tarik napas. apdate! lapdate! apdate! *digaplok* Otre, nih dah diselipin dikit mereka berdua *tawa nista*
.
.
.
.
.
.
010417, Pontianak
