A/N : Saya benar-benar minta maaf, karena jadwal yang amat sibuk, saya jadi lupa dengan fanfiction ini. Saya sendiri bukannya sengaja, tetapi tidak menyangka kalau akan sesibuk ini, sehingga amat sangat sulit untuk melanjutkan fanfiction ini. Tetapi, ada 1 masalah lain, yaitu author asli dari fanfiction ini, ReNeVIerE07, tidak melanjutkan fanfiction-nya sampai sekarang. Seandainya sang author tetap tidak melanjutkan, saya rasa untuk sementara ini saya juga tidak akan melanjutkan dulu, jadi mohon pengertiannya ya, saya benar-benar minta maaf.
CATATAN 10
TOFFEE
Dear diary,
Entah apa yang terjadi ... apakah mimpi buruk? Atau mungkin kenyataan?
Kurasa lawanku kini seorang diva, apa aku bisa menang? Atau sebelumnya, mungkinkah dia akan berbuat curang?
Diary, rasanya aku begitu sukar, tetapi ... rasa sukar itu langsung sirna ketika aku bersamanya,
Dan dia melakukannya lagi, rasanya begitu manis, seperti toffee.
Setelah stres selama seminggu ini, Tifa akhirnya mengunjungi tempat yang diberitahu Cloud. Saat ini di sekolah seolah sedang dipenuhi suasana duka, banyak murid-murid perempuan yang berpikir Cloud tidak akan kembali. Selain itu, masih ada batas waktu untuk proyek sekolah dan lain-lain, yang juga membuat stres. Sebagai penerima beasiswa, Tifa harus mampu mempertahankan prestasinya, dan untungnya, dia berhasil melakukannya. Kini, Tifa tengah berdiri di depan bangunan yang modern dan mewah, yang berlabel nama perusahaan yang telah ditulis Cloud. Tifa menelan ludah, meski penampilan Tifa sudah sangat menarik—berkat dress yang dibelikan Cloud—tetapi dia masih merasa gelisah. Berkali-kali Tifa seolah berargumen dengan dirinya sendiri, entah dia benar-benar harus masuk atau tidak. Pikirannya mulai tersadar kembali ketika petugas keamanan mulai memperhatikannya.
"Maaf, jika Anda ada urusan, maka silahkan masuk. Tetapi jika tidak, jangan berdiri di sana, karena kau menghalangi jalan."
Kata-kata itu, meski tidak terdengar kasar, tetapi membuat Tifa merasa malu. Tiba-tiba saja, petugas keamanan menyadari kartu yang ada di tangan Tifa dan meminta untuk memeriksanya. Tifa setuju dan menyerahkan kartu itu, tidak lama setelahnya, si petugas mengangguk-angguk setuju.
"Naik lift ke lantai atas, pintu ketujuh di sisi kanan," katanya datar.
"Oh, terima kasih," jawab Tifa sambil mengangguk, Tifa tidak tahu bagaimana seharusnya dia merespon, tetapi dia tahu 1 hal, dia tidak bisa kembali lagi. Tifa menuruti kata-kata petugas itu dan masuk ke dalam.
Tetapi di dalam, kini dia harus menghadapi tantangan lain lagi, atau lebih tepatnya ... petugas yang lain.
"Sebentar, siapa kau dan mengapa aku harus mempersilahkanmu masuk?"
Mendengar itu, Tifa tiba-tiba teringat ucapan Cloud, 'Tunjukkan pada orang-orang yang menanyakanmu, ini adalah kartu tanda masuk, jadi mereka pasti tidak akan meragukanmu.'
Tifa langsung buru-buru mengeluarkan kartu itu lagi, seperti petugas sebelumnya, kartu itu diperiksa. Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya kartu itu dikembalikan.
"Pintu ketujuh di sisi kanan," jawabnya, Tifa cukup terkejut karena dia mengucapkan hal yang sama dengan petugas keamanan di depan.
Tifa melihat-lihat seisi lantai. Lantai ini ... lorong dengan dua pilihan, kiri dan kanan. Lantainya dilapisi karpet, dan temboknya dicat warna putih, ada juga ukiran yang menghiasi. Tifa tidak begitu mengerti, dia hanya melihat bunga serta ukiran seperti peri. Selain itu, ada banyak orang yang berlalu-lalang di sini, mereka membawa bermacam-macam barang, dan mereka semua mempertanyakan keberadaan Tifa.
"Siapa kamu?"
"Apa keperluanmu di sini?"
"Bagaimana kamu bisa tiba di sini?"
"Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya."
Semua pertanyaan itu dapat dijawab dengan satu, yaitu kartu yang diberikan Cloud. Mereka akan memeriksa dan mengangguk, lalu memberikan jawaban yang sama.
"Pintu ketujuh."
"Pintu berpelat emas."
"Pintu di sisi kanan."
"Oh begitu, masuk ke pintu sana."
Tifa sungguh tidak mengerti, bagaimana mungkin orang-orang itu dapat memberikan jawaban yang sama dari kartu silver, yang bahkan tidak ada tulisannya ini? Dia melihat-lihat kartu itu ketika berjalan menuju tujuan, dan dia akhirnya menemukan jawabannya. Tifa meletakkan kartu itu di dekat cahaya, dan samar-samar terlihat tulisan—meski sebenarnya lebih terlihat seperti tanda tangan—Cloud Strife, dan ada juga tulisan tangan 'kau tahu apa yang harus kau lakukan'. Tifa sungguh dibuat kagum, seolah-solah ... Cloud sudah memberitahu semua orang di sini bahwa dia akan kedatangan tamu. Tifa juga berpikir, entah apa 'status' dirinya yang diungkapkan Cloud, tamu? Teman sekelas? Atau ... pacar? Tifa buru-buru mencubit pipinya atas pemikiran itu, dan ketika dia terus berjalan, pintu yang menjadi tujuannya tiba-tiba terbuka, dan yang membukanya adalah ... orang yang dia harap tidak temui hari ini.
Cissnei-lah yang berjalan keluar dari pintu, rambutnya bermodel keriting di bagian bawah, dandanannya simpel namun elegan. Wajahnya yang cantik ditunjang dengan pakaian-pakaian merek terkenal, mulai dari jaket, rok mini, dan sepatu hak tinggi. Penampilannya seolah mengatakan bahwa gadis ini benar-benar kaya, atau artis sensasional, atau mungkin ... keduanya. Ketika Cissnei melihat Tifa, mereka berdua masing-masing menghentikan langkah. Cissnei memeriksa Tifa dari atas sampai bawah.
"Apa kamu penggemar?" tanyanya, meski pertanyaan ini terdengar aneh, karena tidak mungkin seorang penggemar bisa sampai ke lantai ini.
"Em," Tifa tidak tahu bagaimana dia harus menjawab, karena sebenarnya dia bukan benar-benar 'penggemar'. Malah, Tifa tidak pernah menganggap dirinya sebagai penggemar Cloud. Karena tidak tahu harus menjawab apa, Tifa kembali menunjukkan kartu silver yang dia genggam, Cissnei mengambilnya dan reaksinya sama dengan orang-orang sebelumnya. Tetapi ketimbang memberi instruksi, Cissnei malah melotot pada Tifa.
"Jadi kau Tifa yang tidak terkenal itu?"
"Maaf?" Tifa menjawab, dan tubuhnya mendadak bergetar. Apapun itu, suasana hati Cissnei pasti sedang tidak baik. Cissnei mendekati Tifa dan menyejajarkan pandangannya.
"Lebih baik kau tinggalkan Cloud sekarang, karena kau tidak sejajar dengan dia, bahkan kau tidak pantas berada di sini."
Setelah berkata begitu, Cissnei berjalan meninggalkan Tifa. Tifa merasa limbung, tetapi dia juga tidak terima akan perkataan Cissnei, dan berniat membalas, Tifa membalikkan tubuhnya.
"Jangan sok kuasa dan sombong, karena kau tidak tahu apa-apa tentang diriku. Lagipula, aku yakin Cloud tidak mau dianggap sebagai 'barang' oleh orang-orang di sekitarnya."
Ternyata, jawaban Tifa membuat Cissnei merasa 'terhibur'.
"Kau menantangku?" jawab Cissnei. "Aku hanya mengutarakan fakta, tentunya kau tahu kalau Cloud adalah seorang bintang, kan?"
Tifa tahu, dan dia tidak perlu diberi tahu lagi soal itu. Meski Cloud seringkali pergi karena pekerjaannya, tetapi mereka berdua tetap memiliki memori-memori berharga yang dapat mereka kenang.
"Dan aku akan meraihnya, bagaimana pun caranya," Tifa mengucapnya dengan penuh percaya diri, meski di dalam hatinya dia masih merasa ragu. Jawaban Tifa ternyata membuat Cissnei semakin 'terhibur'.
"Kita lihat saja nanti, tetapi satu hal, aku tidak akan menyerahkannya padamu."
"Dia bukan barang, dan dia bisa memilih siapa yang dia mau."
"Oh? Jangan menangis jika dia akhirnya memilihku."
Cissnei berjalan menuju lift dan turun, setelah memastikan Cissnei sudah pergi, Tifa mendadak kehilangan keseimbangannya dan lututnya lemas.
"Aku dalam masalah besar," pikirnya.
Menghembuskan napas, Tifa kembali berdiri dan berjalan menuju pintu. Ketika dia mengintip, pandangan Tifa tiba-tiba tertuju pada meja yang terletak di sampingnya, dan ada juga makanan, toffee. Tifa berjalan masuk, lalu mengambil toffee itu dan membaca kertas yang ditempelkan ke pembungkusnya.
Teef,
Aku sangat senang kau berhasil sampai ke sini!
Baiklah, pertama-tama, nikmatilah toffee ini.
Lalu yang kedua, masuklah!
Cloud.
Tifa tersenyum, dan sesuai yang ditulis di kertas, dia mengambil salah satu toffee dan melahapnya, membiarkan makanan itu meleleh di seisi mulutnya. Sambil menguyah, Tifa membuka pintu itu lebih lebar, dan dia tidak melihat siapa pun di dalam, aneh.
"Cloud?" panggilnya, dan tidak ada jawaban.
Tifa mencoba memanggil sekali lagi, tetapi lagi-lagi tidak ada jawaban. Melihat ini, mau tidak mau Tifa berpikir bahwa Cloud mungkin ada urusan penting yang harus diselesaikan, dan mendadak. Kecewa, Tifa membalikkan tubuhnya, dan kedua matanya melotot melihat sosok yang ternyata diam-diam sudah berdiri di belakangnya, Cloud, di tangannya ada banyak sekali toffee.
"Cloud!" seru Tifa, yang kemudian menutup mulutnya. Tifa tidak percaya barusan dia meneriakkan nama Cloud, padahal Cloud hanya beberapa inci di hadapannya, untunglah Cloud hanya bereaksi dengan senyum.
Cloud mengajak Tifa masuk dan menutup pintu, lalu mengajaknya duduk, baru disadari Tifa, ternyata ini ruang rekaman. Cloud menguyah habis toffee yang dia makan sebelum berbicara pada Tifa.
"Sepertinya aku kembali tepat waktu."
"Kukira kau sedang ada urusan?"
"Memang."
Mata Tifa melebar, lalu dia menunduk. "Oh, ma ... maaf aku mengganggumu."
"Apa kau tahu urusan apa yang kumaksud?"
Mendengar itu, Tifa mendongakkan kepalanya dan tahu-tahu bibirnya sudah bertemu dengan bibir Cloud.
"Kamu-lah yang kumaksud."
Untuk beberapa detik, Tifa terdiam dan wajahnya berubah merah, lalu tangannya dia letakkan di bibirnya.
"Kau tidak melawan?" tanya Cloud, yang berharap dia tidak melakukan sesuatu yang salah.
Tifa terus menyentuh bibirnya, setelah terus terdiam, dia akhirnya tersenyum. "Rasanya manis."
"Manis?"
"Iya, seperti toffee."
Setelah berkata begitu, mereka berdua tertawa.
"Aku sungguh-sungguh, Cloud."
"Ada-ada saja kau ini."
"Dan ... tenang saja, aku tidak marah," jawab Tifa lagi, yang dibalas Cloud dengan hembusan napas lega. "Entah mengapa."
"Aku juga tidak tahu, yang aku tahu hanya..." jawab Cloud, yang kemudian makan toffee lagi. "Aku memiliki 'gigi manis'."
"Lebih manis dari toffee?"
"Bukan," jawab Cloud lagi. "Lebih manis darimu."
Lagi-lagi, wajah Tifa dibuat merah.
"Ayo," kata Cloud yang menggandeng tangan Tifa. "Aku tidak tahu apa kau ada rencana atau tidak, tetapi aku akan mengajakmu ke tempat lain daripada hanya berdiam di sini."
"Apa aku harus tetap mengenakan baju ini?"
"Tentu saja," kata Cloud, yang kemudian mengajak Tifa ke lift.
Sementara itu...
Di dalam sebuah limousine, Cissnei tengah memeluk sebuah boneka beruang yang sudah lama, namun tampak terawat. Boneka ituberwarna merah dengan pita biru di leher, Cissnei memeluk boneka itu dengan erat.
"Cloud," katanya, sembari mengenang memori-memori masa lalu.
Seperti yang saya tulis sebelumnya, sepertinya saya tidak akan melanjutkan fanfic ini dulu, karena dari pengarang asli-nya sendiri juga belum ada kepastian, dan lagi saya juga sibuk sekali. Untuk perhatian dan pengertiannya, saya ucapkan banyak terima kasih, serta mohon maaf sebesar-besarnya. Untuk kalian yang setia, baik guest atau bukan, baik silent reader atau bukan, saya juga ingin mengucapkan terima kasih dan mohon maaf. Mohon dukungannya juga, ya!
