Anime Boy
Pair: V-Kim Taehyung, Jeon Jungkook
Romance/Friendships/Schoolife
YAOI, BL, BOY X BOY, TYPHOS, ABAL, OOC
DON'T LIKE DON'T READ
Minatozaki Sana, Tzuyu-TWICE member
Chapter 10: How to Love
(BGM: Beast-How to Love & Akmu 200%)
.
.
.
.
How to love, how special are we?
How to love, I still don't know how to love
How to love, what do you think of me?
It's still so hard, this thing called love
Just love, it's not artificial, it's being attracted by natural feelings
It's like being pulled to each other like magnets, isn't it?
...
Bighit High School diliputi ketegangan oleh para siswa yang sebentar lagi akan menempuh ujian. Beberapa di antaranya yang sok pintar merapal materi pelajaran cepat-cepat hampir seperti membaca mantera, sisanya lebih banyak membaca buku pelajaran dengan putus asa selagi menuju ke ruang ujian masing-masing.
Ya, semua orang sedang gelisah sekarang. Setiap siswa dibuat depresi oleh tekanan yang memaksa mereka semua mendapatkan nilai terbaik. Tentu saja, jika tidak apa gunanya mereka semua sekolah sampai sekarang?
Namun debaman sepatu heboh dari sepasang lelaki yang berlari serabutan sepanjang koridor langsung memecahkan suasana suram nan khusyuk yang sudah terbangun menjelang ujian itu.
"Dasar, sudah kubilang jangan belajar terlalu berlebihan sampai larut malam." Jeon Jungkook menekan lututnya sambil terengah ketika ia berhenti berlari, menatap tajam pada lelaki berambut oranye yang kini bersandar lemas di tembok terdekat dengan tubuh banjir keringat dan kemeja kusut seperti sehabis berlari marathon.
Taehyung menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum miring. "Oh, kalau saja kau tak menggunakan bahuku sebagai bantal pasti aku sudah berangkat setengah jam lebih awal."
"Brengsek." Jungkook menginjak sadis kaki Taehyung dengan wajah merah padam ketika ia melihat beberapa siswi di dekat mereka berbisik-bisik sambil melemparkan pandangan aneh, tak mempedulikan erangan serak Taehyung yang kesakitan.
"Aish, pagi-pagi jangan bertindak terlalu mesra Jungkookie. Kau mau aku terserang diabetes di usia muda? Uhuk—" Kali ini tendangan telak mendarat di perut Taehyung, namun tentu saja serangan itu tak cukup untuk melunturkan cengiran bahagia yang melebar di bibir kotaknya.
Serangan gombal dan kemasokisan dimulai lagi.
Well, setelah Jungkook mengungkap perjanjiannya kemarin Taehyung menjadi jauh lebih mudah diajak bicara dan bercanda lagi seperti dulu. Bahkan kemarin Jungkook berhasil memaksa Taehyung mempelajari hampir seisi buku pelajaran Sejarah tingkat tiga dan mencekokinya dengan segunung materi pelajaran. Hal itu membuat keduanya benar-benar bekerja keras sampai-sampai mereka harus tidur larut malam, dan berimbas pada bangun kesiangan tentu saja.
Masa bodoh dengan percintaan, setelah ujian beres toh semua akan terungkap. Yang jauh lebih penting sekarang adalah ujian yang sudah di depan mata.
Tak mau kenyamanannya dalam mengerjakan ujian terganggu, Jungkook mulai melakukan crosscheck pada barang-barangnya. "Alat tulis sudah lengkap? Pensil, pena, penghapus.."
"Semua ada di kantong." Taehyung nyengir, menepuk saku celananya. Well, ada memang orang yang sangat malas sampai-sampai tidak punya tempat pensil begitu. "Contekan juga siap." Taehyung menambahkan, menunjukkan kertas yang dilipat-lipat sangat kecil dengan seringaian evil.
Detik berikutnya hanya erangan putus asa Taehyung yang terdengar ketika Jungkook merebut kertas contekan dan membuangnya ke jendela terdekat.
"Kalau kau ingin berpenampilan preman setidaknya rapikan pakaianmu agar tidak ditendang keluar oleh pengawas." Jungkook menarik kuat-kuat dasi kusut yang terkulai menyedihkan di kerah kemeja Taehyung, hampir membuat kakak kelasnya itu tercekik.
Sebenarnya, tak ada hal yang lebih menyesakkan bagi Jungkook daripada melihat kulit tan Taehyung yang seksi itu terpapar nyata di depan matanya ketika dua kancing seragam yang dikenakan lelaki itu terbuka. Ah, belum lagi kemeja itu sekarang tampak transparan karena Taehyung berkeringat sehabis berlari tadi. Jungkook tak ingin kehilangan nyawanya sebelum ujian dimulai hanya karena keseksian berlebih senpainya itu.
"Oke, sekarang cari ruangan. Etto.. ruangan 1-4 di kelasku sendiri." Jungkook memeriksa kartu ujiannya di saat-saat terakhir dan ia balas melambai singkat pada Jimin yang sudah berdiri jauh di kelas 1-4 sana. "Ruanganmu dimana? Semoga berun..." Jungkook kehilangan suaranya ketika Taehyung menyodorkan kartu ujiannya sendiri sambil tersenyum puas.
Ruang kelas 1-4 tercetak jelas di bawah nama dan nomor pesertanya dengan huruf tebal.
Oh man.
Jungkook memang sudah pernah mendengar dari gurunya dulu bahwa Bighit High School memang memiliki sistem kelas campuran setiap kali ujian berlangsung untuk mengurangi kemungkinan para siswa mencontek satu sama lain. Dan Jungkook sebenarnya setuju-setuju saja dengan peraturan itu karena sejak dulu Jungkook memang tidak pernah merasa takut dengan senior kelas dua dan tiga.
Tetapi sepertinya Jungkook ingin menarik kata-katanya lagi jika kebijakan sekolah tercintanya ini justru malah menimbulkan malapetaka baginya.
...
...
"Waktu mengerjakan akan dimulai sepuluh menit lagi, tolong singkirkan semua yang ada di atas meja kalian kecuali alat tulis yang dibutuhkan."
Para siswa langsung kasak kusuk buru-buru merapikan meja sambil berbisik-bisik menghapal materi pelajaran cepat-cepat. Ada yang saking tegangnya sampai tampak begitu pucat dan bolak-balik ke toilet, ada yang santai-santai entah karena pasrah atau percaya diri, bahkan ada beberapa senior yang sempat-sempatnya mengisengi dan memalak jawaban pada anak kelas satu yang culun-culun.
"Hadap ke depan, brengsek." Jungkook menggeretakkan gigi, jari-jarinya hampir mematahkan pensil dalam genggamannya lalu melemparkannya kuat-kuat pada cengiran bodoh yang hanya berjarak lima senti dari wajah memerahnya.
"Seharusnya kau senang kita bisa sekelas. Pernah dengar ungkapan 'jodoh tidak kemana'?" Kim Taehyung nyengir, memundurkan tubuhnya dengan hati-hati namun masih setia memandang sosok berambut hitam yang duduk di belakangnya dengan tampang cemberut itu.
"Berisik! Perbaiki sikapmu dan duduk dengan benar." Desis Jungkook.
Sangat brengsek.
Hal terakhir yang paling Jungkook inginkan adalah duduk di belakang makhluk antah berantah super absurd bernama Kim Taehyung.
Bencana, benar-benar bencana. Dari sekian banyak anak kelas 3-3 yang satu ruangan dengan Jungkook kenapa justru harus lelaki absurd berambut oranye itu yang duduk di depannya saat ujian begini? Sepertinya para guru belum cukup puas membuatnya kewalahan belajar dengan menambah penderitaannya seperti ini.
Taehyung berkedip polos kemudian memajukan tubuhnya lagi sambil tersenyum bocah. "Jungkookie kau bukan seongsaenim jadi jangan marah-marah, dan lagi sikap tsunderemu itu justru membuatku ingin me..."
"HOLY SHIT KIM TAEHYUNG DON'T YOU FUCKING DARE—" Jungkook spontan bangkit berdiri, menyebabkan kursinya menimbulkan suara bising yang bergema di ruang kelas itu ketika didorong begitu kerasnya.
"Jeon Jungkook?"
Oh shit.
Jungkook menyadari seisi kelas menatapnya tanpa suara, baik teman-teman sekelasnya sendiri maupun para senior kelas tiga. Dan duduk di depannya, Taehyung memunggunginya dengan bahu bergetar. Sialan, Jungkook tahu betul lelaki itu menertawakannya.
"Maaf seongsaenim, tidak ada apa-apa." Jungkook berkata kikuk. Oh, sekarang dia rasanya ingin sekali memusuhi para guru, terutama guru jenius yang menyusun denah tempat duduk ruang ujian ini.
Sang guru mendecak sambil membetulkan letak kacamatanya. "Tolong tenang sedikit dan jaga suasana ujian."
Jungkook mengangguk dan kembali duduk di kursinya sambil melayangkan death glare sadis pada Kim Taehyung.
"Wow, aku salah apa? Memangnya kau pikir aku mau melakukan apa?" Taehyung nyengir sambil berbisik agar tidak mengundang perhatian.
Jungkook baru saja akan mengeluarkan rentetan umpatan yang sudah memenuhi kepalanya yang hampir meledak ketika sebuah gumaman ngenes menyelanya."Iya terus kalian begitu saja sampai kiamat, aku dan Namjoon-hyung hanya obat nyamuk."
Ah, Jungkook hampir lupa.
Duduk di sebelah Taehyung, tepatnya di samping jendela adalah Park Jimin. Sahabatnya itu menopang dagu dengan tampang tak bersemangat karena tidak berada satu kelas dengan kekasih galaknya. Dan di sebelah Jungkook sendiri ada Kim Namjoon, lelaki berambut perak yang pernah Jungkook temui sekali dalam kunjungan pertamanya di anime club dulu.
"Sepertinya kau kecewa kursiku ini tidak diisi oleh Taehyung." Namjoon tergelak.
"TIDAK!" Sambar Jungkook cepat. Dia malah tidak yakin akan masih dapat bernafas seperti sekarang jika yang duduk di sebelahnya sekarang Kim Taehyung.
"Huh, langsung bungkam kalau kepergok. Jangan sungkan, teruskan saja." Namjoon berkata menyindir ketika Taehyung berdeham dan membalikan tubuhnya ke depan lagi. Sepertinya Namjoon sama tidak senangnya seperti Jimin karena dia sendiri juga terpisah kelas dengan Seokjin.
Jungkook ikut berdeham salah tingkah ketika merasakan wajahnya memanas. "Maaf."
"Tidak apa, aku hanya bercanda." Senyuman Namjoon melebar ramah dan sejenak Jungkook merasa lega, tetapi wajahnya segera berubah panas lagi ketika lelaki berambut perak itu menyeringai evil pada punggung Taehyung dan menyerukan kalimat yang seketika ingin membuat Jungkook bunuh diri di tempat sekarang juga. "Hei Jungkook-ah, apa kau tak ingin menyemangati si bodoh itu agar dia bisa mengerjakan ujiannya dengan baik?"
Jungkook menggeram kesal dengan wajah merah padam saat Taehyung kembali melirik ke arahnya dengan tampang penasaran sekaligus memelas ketika kebetulan lelaki itu mengedarkan lembar jawaban padanya. Oke, jangan mulai aegyo lagi. Jimin yang galau maksimal mustahil untuk dimintai bantuan dan Namjoon sedang tertawa terhibur di sampingnya, jadi sepertinya Jungkook harus bertindak sendirian.
"Berjuanglah. Aku yakin kau tidak melupakan janji yang waktu itu." Jungkook bergumam pelan dan rasanya dia sekarang ingin mengubur dirinya dalam-dalam di bawah tanah bersama para cacing. Mungkin Taehyung memang benar mengatakan jika Jungkook sama sekali tidak ada manis-manisnya.
Tetapi apa yang dirasakan Jungkook lain pula dengan apa yang dilihat Kim Taehyung. Rona merah pekat yang tampak kontras di kedua pipi putih berisi itu, serta cara bagaimana Jungkook yang menundukan kepalanya malu-malu menghindari terjadinya kontak mata mereka sudah cukup membuat Taehyung merasa terbang sampai ke langit lapis ke tujuh.
"Terimakasih. Kau juga, selamat berjuang." Tangan Taehyung yang berjemari ramping mendarat sekilas pada rambut hitam adik kelasnya yang sehalus kapas itu sebelum akhirnya dia membalikkan tubuhnya ke depan dengan wajah girang.
Dan Jungkook membeku, dengan jejak jemari Taehyung meninggalkan rasa panas yang tidak wajar pada bagian rambutnya yang disentuh tadi.
Oh Tuhan.
Jungkook tidak yakin dia bisa mengerjakan ujian kali ini dengan baik. Terlebih saat ia membalik halaman pertama lembar soal ujian bahasa Inggris dan disambut oleh kumpulan paragraf berbahasa asing yang jelas-jelas tidak dipelajarinya semalam.
Jungkook mengalihkan perhatiannya ke depan, tepatnya pada punggung tegap Taehyung yang dilapisi blazer abu-abu kusut. Mendadak punggung itu terlihat jauh lebih menarik dipandang daripada kumpulan soal bahasa Inggris di tangannya.
Meski punggungnya sempit, Taehyung mempunyai bahu yang lebar dan postur tubuh yang bagus karena sering bermain basket. Jungkook bisa melihat dengan jelas kedua tulang bahu yang menonjol berkat tubuh kurus Taehyung itu timbul tenggelam setiap kali lelaki itu melakukan pergerakan kecil atau mengubah posisi duduk. Juga bisep dan trisep yang terlihat mengencang dan menonjol dari lengan blazernya ketika Taehyung menulis atau meregangkan tubuhnya.
Itu semua terlalu indah, menggoda, dan sempurna untuk berada dalam sesosok makhluk absurd antah berantah yang masokis, pervert, dan sulit ditebak seperti Kim Taehyung.
"Jungkook-ah, jawabannya tidak ada di punggung Taehyung loh." Samar-samar ia mendengar Namjoon yang berbisik sambil terkikik di sampingnya.
Dan sadar bahwa ia telah melamun selama beberapa menit hanya untuk meneliti punggung Taehyung dengan pandangan penuh pemujaan seperti maniak, Jungkook menjedotkan kepalanya pada meja dengan wajah merah padam bak kepiting rebus.
Tuhan, bunuh saja Jungkook sekarang.
...
Dua mata pelajaran yang diujikan pada hari pertama berakhir susah payah di siang hari yang terik. Para siswa berhamburan keluar dari ruang ujian masing-masing dengan tampang cemas dan lega, sementara Jungkook sendiri keluar dengan kepala berasap.
Tidak, bukan ujiannya yang susah, Jungkook anak pintar dan dia sudah mempersiapkan semuanya—kecuali bahasa Inggris—dengan baik semalaman jadi tentunya soal ujian kacangan seperti tadi bukan apa-apa baginya.
Kecuali satu hal.
"Wow, kau tahu? Aku merasa punggungku berlubang selama mengerjakan ujian tadi. Kira-kira kenapa ya?" Kim Taehyung berkata dengan nada menyindir yang sedikit terlalu dikeras-keraskan ketika ia dan Namjoon keluar dari kelas bersama Jungkook dan Jimin.
"Mungkin mata memang bisa memancarkan laser ya." Namjoon menambahkan ngawur, ikut-ikutan menggoda. Terang-terangan melirik ke arah Jungkook sambil nyengir pula.
Sialan. Sialan. Sialan. Duo itu sama saja menyebalkannya.
Jungkook hanya bisa menundukkan kepala dengan wajah memanas untuk menahan agar sumpah serapahnya tak pecah di publik.
Tentu saja Jungkook malu. Dia benar-benar kepergok saat terus-terusan memandangi punggung Taehyung yang sudah jelas tidak ada contekannya di sana. Apalagi saat ujian bahasa Inggris yang sama sekali tak dimengertinya tadi, Jungkook berulang kali memandang punggung Taehyung sambil melamun seperti gadis-gadis remaja yang berharap di notis oleh sang senpai pujaan hati di manga-manga shojo. Ewh.
Derita ini harus dialaminya selama enam hari ke depan, dan Jungkook tidak yakin otaknya masih waras sampai hari terakhir ujian.
Yah, setidaknya lebih baik daripada Jungkook benar-benar duduk di samping Taehyung.
"Oh ya?" Jimin tiba-tiba menyela di saat yang tak terduga, entah kenapa dengan nada yang sama menyindirnya. "Kalau begitu siapa yang terus melirik pada kaca jendela sambil nyengir-nyengir hanya untuk melihat pantulan kelinci kesayangannya di sana? Jangan bilang ada alien yang bisa nyengir dan punya rambut berwarna oranye."
Bagus, impas pikir Jungkook ketika Namjoon meledak tertawa. Jungkook senang sahabat yang selalu dinistainya ini tiba-tiba mau membelanya. Entah ada angin apa.
Namun bagaimana juga, kenyataan bahwa Jungkook dan Taehyung ternyata sama-sama saling memperhatikan membuat keduanya merasa salah tingkah dan langsung menghindari kontak mata satu sama lain dengan canggung. Dasar pasangan absurd sama saja gengsinya.
Mendadak Jungkook merasa tubuhnya ditarik seseorang dengan cepat, dan tiba-tiba saja ia sudah dipojokkan di koridor yang sepi oleh lelaki pendek berambut merah marun. Ya, itu Park Jimin sahabatnya sendiri yang sekarang sedang menatapnya obsesif dengan mata berbinar sambil bernafas berat bagaikan seorang bapak-bapak hidung belang yang hendak berbuat mesum pada gadis sekolahan. Mode haus gosip, Jungkook sudah tahu itu.
"Jadi hubungan kalian sudah resmi sekarang?" Sambar Jimin tanpa basa-basi seperti yang Jungkook duga.
"Ah, kurasa tadi aku melihat Yoongi-hyung keluar dari kelas 1-3." Jungkook ngeles, berharap bisa kabur dan mengalihkan perhatian Jimin dengan itu.
"Jangan coba-coba, kita bicara tentang hubunganmu dan Taehyung-sunbae." Ajaibnya Jimin sama sekali tak tergoda untuk meninggalkan Jungkook dan pergi mencari kekasih galaknya—berlawanan dengan tubuhnya yang sudah gemetar mati-matian bertahan untuk tidak berlari menghampiri Yoongi sekarang juga. "Melihat interaksi kalian hari ini, sepertinya ada kemajuan huh?"
Jungkook mengerang sebal dengan wajah merona. Tak mau diinterogasi lebih lama lagi, akhirnya dia menyerah melarikan diri lalu mulai menceritakan semua kejadian sejak dia tiba di kamar Taehyung kemarin sampai pagi ini saat dia terbangun di bahu Taehyung dan menodai kausnya dengan air liur.
"Kesadisanmu menggantungkan perasaan Taehyung bahkan lebih kejam daripada waktu Yoongi-hyung melakukan KDRT padaku." Ucap Jimin datar begitu Jungkook selesai bercerita, tampak kecewa. "Sia-sia saja dong aktingku dan Yoongi-hyung kemarin."
"Oh, terimakasih banyak sandiwara murahannya. Mungkin kalian bisa mendapatkan piala Oscar berkat akting sialan itu." Jungkook berkata menyindir dan melepaskan diri, membuat Jimin menekuk lesu bibirnya sok imut.
"Tapi kau harus ingat, Kook. Daya tarik Taehyung itu sekuat magnet. Kalau kau yang laki-laki saja tertarik padanya bagaimana dengan para perempuan di luar sana juga fangirl yang setiap hari datang ke anime club? Kau mau senpaimu direbut orang lain sebelum kau menyatakan perasaanmu sendiri?" Jimin melipat kedua lengannya di depan dada dengan gaya sok bijak, tetapi Jungkook sudah berpura-pura tuli dan berjalan duluan meninggalkannya.
Jimin masih saja terus bicara membabi buta ketika keduanya keluar dari gedung sekolah dan tiba di halaman. Jungkook mulai lelah berpura-pura tuli dan hampir saja ia kabur melarikan diri tepat ketika kedua mata gelapnya menangkap figur kurus tengah mendribble bola di lapangan basket.
Kim Taehyung.
Dengan senyum bocahnya yang cerah seperti biasa setiap kali ia bercengkerama dengan bola yang berwarna semencolok rambutnya itu. Memang kelihatan sangat bodoh ketika lelaki itu bermain seorang diri di lapangan yang lenggang sambil cengar-cengir seperti orang idiot sementara siswa yang lalu lalang di sekitarnya menatapnya dengan pandangan yang seolah mempertanyakan apakah dia sudah sinting.
Ketahuilah, itu sangat awkward.
Namun meskipun orang-orang menatapnya dengan pandangan aneh begitu, tak satu pun dari mereka yang menegur tindakan Taehyung dan menyuruhnya berhenti bermain. Beberapa murid kelas satu dan tiga bahkan sengaja berhenti hanya untuk menonton permainnya dengan terkagum-kagum.
Karena Jungkook tahu. Senyum cerah dan tawa kekanakan itu, serta bagaimana antusiasnya Taehyung ketika bermain basket dapat menebarkan semangat secara magis pada orang-orang yang bahkan hanya melihatnya bermain. Semangat yang terpancar amat tulus, menarik siapa saja merasa ingin bergabung ke lapangan dan bermain basket bersamanya bagaikan magnet.
"Jimin." Panggil Jungkook otomatis.
"Ya?"
"Kau tidak bisa main basket tapi kau mengerti teorinya karena pernah bergabung di klub kan?"
Jimin tampak tersinggung."Hei bung, jangan menghina. Tentu saja aku bisa main basket dan orang normal manapun pasti tahu teori cara bermainnya." Jungkook hanya memutar bola matanya bosan saat sahabatnya itu menepuk dadanya bangga.
"Baiklah maaf. Boleh aku minta tolong sesuatu?" Jungkook membuat gestur agar sahabatnya merapat kemudian mendekatkan bibirnya pada telinga lelaki bertubuh pendek itu.
Dan Jimin hanya menaikkan sebelah alisnya dengan dahi mengerut dalam ketika Jungkook menjauhkan diri dan menghampiri Taehyung di lapangan.
"Pulang sekarang." Tanpa belas kasihan jari-jari ramping itu menjewer telinga Kim Taehyung dan menyeretnya paksa hingga keluar gerbang.
"BASKET!" Erang Taehyung kesal dengan kekanakan, membuat Jungkook hampir diabetes. Oh ketahuilah, senpai brengsek itu sedang melakukan aegyo lagi dengan mengeluarkan nada-nada manja.
Tetapi serangan ampuh itu tidak mempan bagi Jungkook kali ini.
"Tidak ada eskul selagi segunung materi menunggu di meja belajarmu." Jungkook tersenyum evil ala-ala guru killer, dan erangan Kim Taehyung pun semakin menjadi sepanjang perjalanan pulang mereka ke apartement.
"Akhir-akhir ini kau pulang lebih terlambat dari biasanya, enak huh jadi siswa teladan bisa melakukan apa saja?" Taehyung berkata iri di salah satu sesi belajar malam itu di kamarnya.
Jungkook melirik sekilas Taehyung yang babak belur di sampingnya lalu kembali fokus pada soal-soal di hadapannya."Ada sedikit urusan."
"Aaah akhirnya besok semua ujian sialan ini berakhir juga. SEMANGAT SEMANGAT!" Taehyung berteriak absurd, menampari wajahnya untuk menyemangati diri agar tidak mengantuk.
Kali ini Jungkook tidak bisa protes atau meledak.
Tentu saja, mereka sudah belajar sampai hampir tengah malam karena ujian di hari terakhir besok adalah pelajaran matematika dan fisika yang dijamin dapat membuat kepalamu meledak kelebihan muatan namun jika tidak dipelajari berarti sama saja dengan bunuh diri. Belum lagi pelajaran tingkat tiga yang pastinya sudah memiliki segunung materi serta sekumpulan rumus rumit.
Jungkook tidak berkata apa-apa lagi, membiarkan suara guratan pena yang mendominasi sesi belajar bersama mereka malam ini.
Satu minggu terasa berlalu terlalu cepat sejak hari dimana Jungkook menemukan Taehyung menggelepar di lantai karena tidak sanggup belajar meski ada sangat banyak rintangan serta siksaan yang harus dilaluinya selama mengajari dan duduk di belakang lelaki itu selama ujian. Tapi tahu-tahu besok sudah hari terakhir.
Dan itu berarti Jungkook harus menepati janjinya juga. Jungkook harus segera menjawab perasaan Taehyung.
"Ck, sial." Jungkook berhenti mengguratkan pensilnya dan menggaruk rambutnya kesal ketika otaknya buntu di butir soal terakhir.
"Hah? Soal begini sih gampang saja!"
Jungkook memundurkan kursinya dengan jantung yang hampir copot saat merasakan surai oranye Taehyung menggores rahangnya ketika lelaki itu menunduk mencoba membaca soal di bukunya. Sungguh, akhir-akhir ini Jungkook benar-benar menjadi dua kali lipat lebih sensitif dari biasanya.
"Kau menyulitkan dirimu sendiri dengan membuat rumus panjang yang seperti bahasa alien begini." Taehyung tak memperdulikan reaksi Jungkook dan mulai menuliskan rumus yang lebih simpel. Dalam waktu kurang dari satu menit saja soal yang membuat Jungkook stress setengah mati itu terselesaikan dengan cepat dan rapi.
Wow. Jungkook hanya bisa menontonnya dengan mata membola.
"Bagaimana kau bisa tahu cara mengerjakannya?" Todong Jungkook hampir tak percaya dengan jawaban yang terisi di sana.
"Entahlah? Mungkin karena aku senpaimu!" Taehyung nyengir lebar, membuat kekaguman Jungkook barusan luntur seketika.
Yah, mungkin pada dasarnya Taehyung memang pintar karena Jungkook juga sama sekali tak menemukan kesulitan dalam mengajarinya. Taehyung hanya tidak tahu bagaimana trik belajar dengan efektif dan Jungkook telah banyak membantunya dalam hal itu.
"Astaga rasanya lelah sekali.. aku butuh.. asupan..." Taehyung menguap, kepalanya roboh begitu saja di atas meja berbantalkan lengannya sendiri. Dan dua detik kemudian suara dengkur halus sudah terdengar.
Jungkook hanya memperhatikan iba tanpa berniat membangunkannya, tak tega menertawakan tampang kusut Taehyung yang selemas tumbuhan layu saat ini. Wajar saja, seminggu ini Jungkook menekankan agar Taehyung benar-benar fokus belajar dan menyegel semua rak manga serta perangkat komputer milik kakak kelasnya itu. Seorang otaku akut sepertinya hidup tanpa asupan karakter-karakter manis dua dimensi kesayangannya pasti merasa seperti hidup di neraka.
Jungkook perlahan menutup buku catatannya dan setelah memastikan Taehyung benar-benar telah tertidur lelaki berambut gelap itu merendahkan tubuhnya menjadi sejajar dengan kepala Taehyung yang terkulai menyamping menghadapnya.
Jemari ramping terangkat untuk menyibak poni oranye yang berjatuhan di dahinya. Namun sadar akan apa yang tengah dilakukannya, Jungkook cepat-cepat menarik tangannya lagi sambil mengumpat. Oke, sebut saja Jungkook pengecut karena dia hanya berani menyentuh Taehyung saat tertidur.
Jungkook terdiam, memilih untuk menikmati kesempurnaan Kim Taehyung tanpa menyentuh. Beberapa detik kemudian wajahnya sudah terasa terbakar hanya dengan memperhatikan wajah tirus itu. Taehyung bahkan sama sekali tak membuka matanya atau menyadari Jungkook berada sedekat ini dengannya, tetapi jantung Jungkook berdebar sangat kencang di rongganya, sampai dia sendiri bisa mendengarnya bergema di telinganya.
Benarkah Jungkook menyukai Taehyung?
Selama seminggu ini Jungkook sudah berusaha mengamati setiap gerak gerik tubuhnya ketika berada di samping Taehyung, dan ya Jungkook memang menyadari bahwa jantungnya hanya berdebar keras hanya saat ia bersama Taehyung namun hasilnya nol. Karena Jungkook masih tak yakin dengan perasaannya sendiri.
Tidak bagus. Jungkook tahu ia tak boleh mengingkari janjinya dan menyiksa Taehyung lebih lama lagi, terlebih Taehyung juga sudah menepati janjinya untuk tidak mengungkit-ungkit masalah percintaan mereka selama masa ujian.
Daya tarik Taehyung itu sekuat magnet. Kalau kau yang laki-laki saja tertarik padanya bagaimana dengan para perempuan di luar sana juga fangirl yang setiap hari datang ke anime club? Kau mau senpaimu direbut orang lain sebelum kau menyatakan perasaanmu sendiri?
Dahi Jungkook tanpa sadar mengerinyit sebal teringat akan suara berapi-api Jimin beberapa hari yang lalu. Tapi memang benar bukan? Jumlah orang-orang yang amat mengagumi Taehyung mungkin tak akan pernah bisa Jungkook hitung. Dan mungkin saja salah satu dari mereka benar-benar bisa menggantikan posisi Jungkook jika Taehyung sudah lelah menunggu.
Sementara Taehyung sendiri selalu terang-terangan mengungkapkan bahwa ia benar-benar menyukai Jungkook sejak pertama kali mereka bertemu. Tetapi bahkan meski ia sangat ramah dan loyal dalam memberikan fanservice di klub, Jungkook tahu Taehyung tak pernah memperlakukan orang lain sama seperti ia memperlakukan Jungkook. Perasaan yang tulus, dan walaupun ujung-ujungnya hanya selalu membuat Jungkook kesal dan melakukan pertumpahan darah, Taehyung selalu mencoba menghiburnya.
Jadi inti dari perkataan Jimin waktu itu adalah Jungkook sebenarnya beruntung dan ia seharusnya tak boleh menyia-nyiakan perasaan yang diberikan tulus oleh pangeran anime yang digilai seantero Bighit Highschool ini kan?
TING TONG
TING TONG
Suara bel yang dibunyikan membuat Jungkook yang wajahnya sudah berada sangat dekat dengan Taehyung tersentak.
Dengan tergopoh, Jungkook berlari cepat-cepat ke pintu depan dan membuka pintunya tanpa suara agar Taehyung tak terbangun.
"Oh, selamat malam adik ipar." Lelaki berambut kecokelatan itu berdiri di ambang pintu menenteng bungkusan besar dengan senyum kotaknya yang ceria.
...
"Ini ada suplai kopi dan tteoboki untuk makan malam." Jungkook menerima bungkusan plastik besar yang disorongkan Baekhyun dengan kewalahan. "Bagaimana belajarnya? Kudengar kau mengajari si idiot ini belajar untuk ujian."
"Tidak ada masalah sama sekali, Taehyung senp—sunbae melakukannya dengan sangat baik." Jungkook mendudukan diri kaku di sofa di samping Baekhyun setelah meletakkan bungkusan di meja dapur. Lidahnya gatal sendiri karena menggunakan embel-embel itu lagi setelah sekian lama.
"Astaga kau bicara formal lagi. Masih canggung denganku, eoh?" Baekhyun tertawa cerah, merangkul akrab dan menepuk sayang kepala Jungkook seperti adiknya sendiri.
Jungkook tidak tahu apakah seharusnya dia menyukai atau membenci Baekhyun.
Terkadang guru konselingnya yang terkenal super galak itu dapat bersikap sangat hangat ketika di luar sekolah dan membuatnya nyaman seperti seorang kakak, sementara di sisi lain Baekhyun juga telah dua kali menggagalkan kesempatan Taehyung untuk mencium Jungkook—hal itu berhasil membuat Taehyung kesal setengah mati dan terus menghindari Baekhyun belakangan ini—dan Jungkook sendiri bingung apa dia harus berterimakasih atau malah merasa kesal juga seperti Taehyung.
"Terimakasih ya sudah mengurus Taehyung sampai sejauh ini dan membuatnya ceria lagi."
"Eh?" Jungkook yang larut dalam pikirannya tersentak ketika Baekhyun kembali bicara. "Bukankah Taehyung memang selalu ceria?"
Baekhyun menghela nafas dan menggelengkan kepalanya."Woah, melihat si bodoh itu bisa sangat ceria dan dekat dengan seseorang itu bagaikan mimpi dan benar-benar membuatku lega. Waktu kelas satu dulu dia hampir tak pernah berinteraksi dengan orang lain. Dia benar-benar menghindari keberadaan manusia seperti orang gila."
"Tunggu.. Taehyung sen—sunbae dulunya antisosial?" Jungkook tak bisa menahan diri untuk tidak menyela. Rasanya dia baru saja mendengar hal yang sangat ajaib.
Baekhyun menurunkan cangkir teh yang disesapnya, dan Jungkook bisa melihat bibir tipis itu kini tertarik membentuk seringaian menakutkan. "Mau dengar aib senpai kesayanganmu?" lelaki berambut kecokelatan itu menaik turunkan alisnya menggoda, membuat Jungkook merinding sendiri.
Dan meski Jungkook sudah berkali-kali menolaknya sepenuh hati, Baekhyun memaksanya untuk tetap mendengarkan dengan terus berbicara panjang lebar. Jungkook tak bisa menghindar.
Baekhyun yang rupanya memiliki mulut tanpa saringan seperti Park Jimin pun tak segan-segan menceritakan semua detailnya begitu mengetahui tak ada perlawanan, membuat Jungkook akhirnya mengetahui fakta ajaib bahwa sewaktu kelas satu dulu Kim Taehyung ternyata adalah seorang murid teladan yang prestasinya tak pernah lengser dari peringkat satu.
"Dia benar-benar otaku yang jenius dan rapi, rambutnya masih hitam dan dia selalu berangkat sekolah pagi-pagi buta dengan seragam lengkap juga ransel yang menggembung. Tetapi dia seperti orang gila, di luar hari sekolah kerjaannya hanya mengurung diri di dalam kamarnya seperti hikkikomori. Lalu entah kenapa di kelas dua tiba-tiba dia berubah menggila menjadi berandalan dan langganan bolak-balik ke ruang konseling. Saat itu adalah awal-awal aku menjadi guru konseling di Bighit dan aku tidak pernah setuju dengan caranya menyemir rambutnya menjadi berwarna norak begitu dan memakai piercing seperti preman murahan—" Baekhyun mendecak-decak dengan emosi menggebu ketika bicara sampai Jungkook bisa melihat hujan saliva menyembur dari mulutnya.
Jadi intinya dulu Taehyung pernah menjadi seorang geek, otaku yang benar-benar otaku dan membenci dunia nyata. Jungkook hampir tak bisa membayangkan seorang Kim Taehyung yang brengsek dan sempurna dengan penampilan badboy-nya itu pernah berambut hitam, memakai dasi setiap hari dengan kemeja yang dimasukkan sampai ke dalam celana, dan menjadi serigala pengelana di sekolah.
"—antisosialnya benar-benar parah, dia seperti orang bisu dan di lingkungan sekolah dia selalu memakai hoodie hitam untuk menyembunyikan wajahnya. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba beberapa bulan yang lalu dia akhirnya berhenti memakainya dan mulai percaya diri dengan penampilannya—" Baekhyun masih asyik mengumbar aib adik tirinya itu dengan penuh kepuasan sehingga dia tak menyadari Jungkook yang tiba-tiba tersedak di sampingnya.
Samar-samar kepala Jungkook memutar ulang kejadian dimana dia dan Jimin disetrap mengepel koridor, dan ember melayang yang membuatnya mendapat kesempatan berharga untuk menyaksikan betapa sempurnanya sosok seorang Kim Taehyung dibalik hoodie hitamnya. Dipikir-pikir lama setelah kejadian itu Jungkook sangat jarang melihat Taehyung berkeliaran dengan memakai hoodienya lagi.
Baekhyun akhirnya berbicara dengan tempo normal setelah kelihatannya kehabisan nafas."Kelas tiga kupikir adalah saat-saat puncak dimana Taehyung merasa bahagia. Di akhir kelas dua dia berhasil mendapatkan beberapa teman dekat dan membentuk klub tidak jelas bersama mereka. Kemudian dia bertemu dengan seorang bocah kelas satu..." Baekhyun berhenti bicara untuk tersenyum singkat, lalu melanjutkan lagi. "..yang telah mengubah hidupnya." Jungkook merasakan wajahnya memanas ketika Baekhyun mengusap sayang kepalanya lagi.
"Jujur saja, rasanya sudah lama sekali sejak aku melihatnya sangat tertarik dengan seseorang. Dia kelihatan ingin memperjuangkanmu, padahal aku tahu benar keparat kecil itu biasanya malas meladeni orang lain." Baekhyun hanya tersenyum ketika Jungkook terdiam seperti orang ling-lung. "Jadi bagaimana perkembangan hubunganmu dengannya?"
Jungkook hampir terjatuh dari sofa mendengar pertanyaan mendadak yang diajukan Baekhyun. "Be-Belum ada..." Jungkook menggaruk tengkuknya canggung, takut membangunkan Taehyung di kamar sebelah jika berteriak. Mana sudi dia memberitahu tentang perjanjian mereka pada Baekhyun. Kalau Baekhyun tahu mungkin berita itu sudah menyebar ke seluruh sekolah dan para guru besok.
Baekhyun tertawa lepas dengan suara merdunya. "Aigoo sayang sekali, padahal aku mengharapkan memiliki adik ipar yang manis sepertimu. Aku yakin anak kalian juga pasti manis sekali nantinya~"
BLUSH
WHAT THE FUCK
"H-HYUNG SIAPA YANG MAU MENIKAH?!" Meledak sudah teriakan yang berusaha ditahan Jungkook sedari tadi bersamaan dengan rona pekat kemerahan yang menyebar di pipinya. Dia benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran ambigu guru konselingnya ini. Hell yeah, mereka jadian saja belum!
"Siapa yang tahu? Bagaimana kalau Taehyung melamarmu setelah dia lulus nanti?" Baekhyun menaik turunkan alisnya ambigu.
"AKU AKAN MEMBUNUHNYA SAAT ITU JUGA!"
Jungkook merasakan seluruh wajahnya terbakar menyaksikan Baekhyun terbahak dan berguling kesenangan di sofa. Sial, sifat alami tsunderenya keluar lagi.
"Astaga menyenangkan sekali mempunyai seorang uke tsundere! Sekarang aku tahu kenapa Taehyung tergila-gila padamu!"
"HYUNG!" Jungkook kewalahan menghindari Baekhyun yang ingin memeluknya gemas, namun auman singa dari kamar tidur berhasil menyelamatkannya dengan membuat keduanya jatuh terjungkal kaget dari sofa.
"BERISIK BRENGSEK KAU PIKIR INI JAM BERAPA HAH?!"
Ah, tak diragukan lagi suara serak itu milik Kim Taehyung. Tentu saja, hanya orang sinting yang tak terbangun mendengar Jungkook dan Baekhyun menjerit-jerit heboh seperti paus beranak sejak tadi.
"Ups. Kalau begitu sampai jumpa Jungkookie, semoga sukses dengan ujian.. dan juga percintaannya." Baekhyun mengedip nakal lalu menghilang cekatan di balik pintu setelah menyambar jaketnya sehingga bantal sofa yang dilemparkan Jungkook penuh emosi hanya memantul di daun pintu dan jatuh secara menyedihkan di lantai.
Jungkook kembali ke kamar sambil menghentakkan kakinya kesal. Sejenak ia sempat was-was akan disambut oleh death glare Taehyung yang bad mood karena terbangun, tetapi betapa leganya ia melihat kini lelaki berambut oranye itu sudah di habitat asalnya, berguling serampangan di bawah selimut hijau tosca bermotif Miku di ranjangnya yang berantakan.
"Apa kau begitu idiotnya sampai tak bisa memakai selimut dengan benar hah? Kau bisa masuk angin kalau tidur seperti ini." Dahi Jungkook berkerut dalam saat ia merapikan selimut dan menghamparkannya di atas tubuh Taehyung. "Baiklah, selamat tid—HOLY SHIT TIDAK LAGI!" Jungkook meronta sekuat tenaga ketika tangan kurus Taehyung tiba-tiba menariknya hingga membawa tubuhnya terjatuh di tempat tidur.
Tetapi sia-sia saja, tenaga Jungkook tak pernah menang dari Taehyung.
"Tenang sedikit, sudah malam." Taehyung mendesis, merapatkan kepalanya pada bahu Jungkook dan kembali mendengkur.
Brengsek.
Dekat. Terlalu dekat. Dari posisinya ini Jungkook dapat melihat kesempurnaan wajah bak karakter anime seorang Kim Taehyung secara menyeluruh, bahkan sampai ke helai bulu-bulu matanya yang panjang dan indah di bawah polesan eyelinernya karena lelaki berambut oranye itu benar-benar menempelkan setengah bagian wajahnya di bahu Jungkook.
Jungkook memalingkan wajah, mendadak sesak nafas berada di jarak yang begitu dekat dengan Taehyung. Sial, dia tidak akan bisa tidur kalau begini.
Selembar foto polaroid yang tergeletak tepat di atas nakas yang berada di sampingnya menarik perhatiannya ketika lelaki berambut gelap itu memiringkan tubuhnya. Jungkook menyambar polaroid itu dan barulah ia teringat akan kencan absurd super brengsek beberapa waktu yang lalu di maid cafe. Adegan di dalam foto itu menampilkan gambar dimana Taehyung dengan gakurannya tengah nyengir idiot dan melakukan pose V sign sambil merangkul Jungkook yang tampak sangat kikuk dalam balutan seifuku hitam, wig panjang, serta wajah merah padam.
Oh Tuhan, Jungkook rasanya ingin membakar foto memalukan ini. Atau paling tidak memotong bagian yang menampilkan dirinya. Jungkook tidak mengerti kenapa Taehyung masih menyimpannya sampai sekarang.
Lelaki berambut hitam itu menggenggam erat lembaran foto di antara jemarinya, kembali menoleh pada Taehyung yang tampak nyaman tertidur di sampingnya kemudian tertawa pelan.
"Malas meladeni orang lain ya. Nah, kalau begitu aku ini apa bagimu, Tae?" Tawanya mereda, berubah menjadi gumaman sembari matanya mulai meredup pusing.
Tak ada jawaban, yang terdengar hanyalah detak lamban jarum jam di atas meja belajar dan suara nafas Taehyung yang teratur di sampingnya. Jungkook membiarkan rasa kantuk menyergapnya ketika ia merapatkan tubuhnya pada Taehyung untuk menghirup aroma lemon yang sangat disukainya itu. Dan beberapa detik kemudian ia sudah tak sadarkan diri, hanyut ke dalam mimpi yang mengisahkan dimana seorang pangeran berambut oranye datang menjemputnya dengan menunggangi kuda putih bersama cengiran bodohnya.
...
...
Keesokan harinya sisa ujian berjalan dengan lancar. Jungkook berhasil menyelesaikan butir terakhir soal matematika tersulit di detik-detik terakhir dengan mulus dan sempurna meski sejak pagi tadi perutnya bergejolak mulas.
Ya, inilah harinya. Hari dimana akhirnya Jungkook harus menjawab perasaan yang diungkapkan Kim Taehyung pada malam yang dingin di lapangan basket sekolah dulu itu setelah sekian lama menggantungkannya.
Sejak tadi Jimin sama sekali tidak merecokinya seperti biasa, tetapi Jungkook merasakan benar lelaki berambut merah itu terus-terusan melayangkan death glarenya yang seolah mengatakan "Lakukan hari ini atau kau mati."
Sialan. Jungkook tidak bisa lari lagi.
Tetapi lebih dari itu, sekarang Jungkook kehilangan jejak Kim Taehyung yang sedang pergi entah kemana karena Jungkook terlalu sibuk merenung dan berlama-lama membereskan alat tulisnya.
FUCK
Jungkook merasa dia hampir gila ketika dia menyambar ranselnya kemudian melesat setengah berlari keluar dari kelas. Tempat tujuannya satu, menurut dugaannya Taehyung sekarang sedang bermain basket. Lelaki itu pasti sudah gatal ingin bermain setelah seminggu lamanya otaknya hanya dicekoki oleh materi pelajaran. Entah di lapangan basket halaman atau gedung olahraga, tetapi Jungkook memilih pergi ke gedung olahraga terlebih dahulu karena tempat itu lebih dekat dengan kelasnya.
Bagaimana nanti ia harus bicara dengan Taehyung? Bagaimana kalau ternyata ada anggota klub lain yang sedang berlatih juga? Apakah Jungkook harus menjawabnya saat itu juga di lapangan, di depan orang banyak? Ataukah Jungkook seharusnya mengajak Taehyung pergi ke tempat yang lebih sepi dulu baru mengungkapkan semua perasaannya?
Bertanya-tanya seperti itu malah membuat Jungkook merasa mual. Bagaimana kalau nanti dia tiba-tiba muntah di depan Taehyung? Jungkook bukan pengecut, dan dia tidak pernah lagi merasa secemas ini sejak orangtuanya dipanggil sewaktu SD karena ketahuan menuangkan lem di atas kursi wali kelasnya bersama Jimin.
Rasa mulas di perut Jungkook rasanya makin menjadi saat ia menggenggam kenop pintu gedung olahraga dengan tangannya yang gemetar parah dan jantungnya yang berdebar keras. Saking gugupnya, tanpa sadar Jungkook menyerbu masuk serampangan dengan mendobrak pintu keras-keras hingga dia yakin sanggup menghancurkan pintunya.
Kosong. Bola-bola basket menggelinding bebas dan berserakan di seluruh penjuru lantai gedung olahraga yang berpelitur mengkilat seolah ada orang yang belum lama memainkannya di sini tadi.
"Jungkook?"
Jungkook yang kehabisan nafas merasakan jantungnya hampir copot mendengar suara lembut yang tiba-tiba muncul dari belakangnya.
...
"Maaf ya jadi merepotkanmu."
"Tidak apa, aku akan bantu sebisaku, sunbae." Jungkook tersenyum, memasukkan bola basket yang memenuhi pelukannya ke dalam keranjang penyimpanan bola.
"Terimakasih banyak, kau memang cekatan!" Minatozaki Sana tersenyum cerah, membuat kecantikannya tampak semakin bersinar dan segar dengan rambut magentanya yang digulung rapi ke atas membentuk sanggul. "Ngomong-ngomong Taehyung barusan pergi kalau kau mencarinya."
Jungkook tersedak mendengar nama itu disebut, mendadak tangannya terpeleset sehingga bola-bola berwarna oranye jatuh menghujani kakinya. Teriakan memilukan menggema di gedung olahraga yang luas.
"Maaf." Jungkook meringis sementara Sana membantunya mengumpulkan bola lagi dengan senyum maklum.
"Terimakasih, sudah semuanya. Sebaiknya kau istirahat dulu." Sana berkata ketika semua bola akhirnya telah masuk ke dalam keranjang penyimpanan, dan Jungkook mendudukan dirinya terengah di bawah ring. Oh ayolah, mengumpulkan bola basket yang terpencar begitu banyak di gedung olahraga luas bukan pekerjaan yang mudah dilakukan.
"Ah, kencannya sukses? Waktu aku melihatmu di cafe kau kelihatan manis sekali. Apakah Taehyung menyukainya?" Sana bertanya antusias ketika ia ikut duduk di samping Jungkook.
"Ya, dia kelihatan sangat menyukainya..terimakasih pinjaman seifukunya." Jungkook menggaruk tengkuknya canggung, merasa sangat malu.
"Oh ya?"Wajah Sana kelihatan berbinar."Kalau kau mau mencobanya kau bisa meminjam kostum lain! bayangkan betapa manisnya kalau kau memakai kostum maid dengan wig ikal atau kostum kucing dengan ekor dan nekomimi! Ah, kalau kau suka seragam seifuku aku juga punya yang potongan roknya lebih mini jadi kakimu yang bagus itu bisa lebih..."
"STOP STOP! Maaf, aku rasa aku tidak perlu mencoba yang lain." Jungkook merasakan wajahnya merah padam. Astaga, kenapa Sana juga sama saja gila dan pervertnya seperti Kim Taehyung.
Sana tertawa."Aigoo maaf, kau kelihatan pucat. Apa kau bertengkar dengan Taehyung?"
"T-Tidak!"
"Kalau kau disakiti atau dibuat menangis olehnya bilang saja, aku pasti akan menghajarnya!" Sana mendengus, mengacungkan tinjunya dengan gagah sambil tersenyum mantap, seketika membuat Jungkook merasa payah sekali.
Sejenak Jungkook merasa canggung, Sana sibuk menuliskan sesuatu pada clipboard di pangkuannya. Tetapi ia mendadak teringat pada tujuannya.
"Sana-sunbae, menurutmu Kim Taehyung itu bagaimana?"
"Oh, dia sangat brengsek, sialan, idiot dan menyebalkan tetapi juga sangat cerdas dan berbakat." Sana menjawab lancar tanpa mengangkat wajahnya dari clipboard. Well, jawaban yang sama juga dipikirkan Jungkook.
"Maksudku.." Jungkook berkata hati-hati. "Apakah Sana-sunbae tertarik padanya?"
"WHAT THE—" Sana menjatuhkan pena dan clip boardnya, kelihatan shock. Well, Jungkook tidak tahu reaksi itu berarti apa. Rasanya dia sedikit menyesal menanyakannya, tetapi kali ini Jungkook benar-benar ingin mengungkap segalanya. Dia tidak boleh mundur.
"Maksudmu tertarik secara cinta?" Sana terkekeh ketika Jungkook mengangguk malu-malu. "Yeah, kuakui si bodoh itu memang sangat menarik dan sempurna luar dalam tapi demi Tuhan aku sama sekali tidak sudi tertarik padanya melibatkan cinta. Kami sudah merasa amat cukup dengan hanya bersahabat." Jungkook sedikit terkejut dengan jawaban Sana yang terlampau santai.
"Jangan bilang kau salah paham?" Sana menaik turunkan alisnya menggoda, membuat Jungkook terpaksa menyembunyikan wajah meronanya dengan satu tangan.
"Tidak apa. Kau bukan satu-satunya yang salah paham. Banyak orang mengira kami berpacaran dan menyebut-nyebut kami pasangan serasi hanya karena kadang-kadang dia bertindak terlalu absurd dan kekanakan, padahal hubungan persahabatan kami sebenarnya sangat merepotkan seperti tom and jerry." Sana menggeleng jengkel.
"Apakah Sana-sunbae telah berteman lama dengan Tae-hyung?" Jungkook mulai bisa merasa santai. Seperti dugaaannya Minatozaki Sana memang orang yang sangat ramah dan mudah diajak bicara. Dan kelihatannya perempuan itu tak keberatan meski membicarakan tentang topik seperti ini.
"Aku mengenalnya sejak jaman JHS. Waktu itu aku baru saja pindah dari Jepang dan aku bisu tuli, benar-benar buta bahasa Korea. Tetapi kemudian Taehyung menemukanku saat aku berkeliaran di sekitar Bighit HS untuk mencari sekolah lanjutan. Dia lumayan banyak bisa berbicara bahasa Jepang, dan menyuruhku melamar sebagai manajer di klub basket ketika akhirnya aku masuk ke Bighit. Sambil perlahan mengajariku bahasa Korea lama kelamaan kami mulai akrab karena rupanya Taehyung sangat tertarik dengan kebudayaan negaraku. Terkadang dia juga sering meminta bantuanku untuk mengorder barang-barang anime stuff langsung dari Jepang." Sana tersenyum kecil mengenangnya, membuat Jungkook ikut merasakan juga ketulusan dan kebaikan hati Taehyung saat itu.
"Tetapi berkat itu aku juga mulai dibuat kesal oleh sikapnya yang sulit ditebak." Jungkook menelan ludah ketika suara Sana tiba-tiba meninggi. "Kau tahu kan, kadang dia suka bertingkah random dan seenaknya seperti makhluk dari spesies lain. Kekanakan, konyol, dan baru-baru ini aku tahu dia memiliki hobi absurd merekam diam-diam orang-orang yang melakukan hubungan sesama jenis dengan handycam yang selalu siap di kantong celananya seperti seorang maniak. Dia itu fudanshi tingkat dewa." Wajah Sana berkerut jijik di akhir kalimatnya.
Oh, mendadak Jungkook teringat kejadian dimana saat Taehyung merekam Byun Baekhyun serta Park Chanyeol yang bertengkar dan berciuman di ruang guru. Rupanya itulah alasan dibalik tingkah aneh Taehyung. Jungkook jadi merinding sendiri. Segila-gilanya Taehyung, dia benar-benar tak menyangka bahwa lelaki itu ternyata seorang fudanshi.
"Tapi percayalah, meskipun tingkahnya absurd dan penampilannya seperti preman begitu dia tak pernah menyakiti orang lain."
Jungkook setuju. Taehyung memang selalu bersikap mengesalkan, tetapi sekalipun dia sedang marah lelaki itu sama sekali tak pernah menyakitinya terang-terangan, bahkan selalu tersenyum.
"Ngomong-ngomong apakah ada gadis yang disukai Kim Taehyung? Atau setidaknya.. gadis yang membuatnya tertarik.." Suara Jungkook semakin menghilang di akhir kalimat. Rasanya dia jadi pesimis.
Meskipun Kim Taehyung seorang fudanshi, Jungkook masih ingin mengungkap alasan Kim Taehyung yang mengatakan kalau dia masih menyukai perempuan. Hal ini selalu membuatnya penasaran setiap saat. Menanyakan hal ini pada Sana mungkin bukan hal yang tepat, tetapi Sana tentunya sudah mengenal Taehyung cukup baik.
"Oh, ada banyak sekali. Bahkan dia selalu berganti-ganti dan mengklaim setiap gadis yang dia temui sebagai istrinya." Sana berkata serius, namun sedetik kemudian terbahak. "Sayangnya tak satu pun dari mereka yang tiga dimensi!"
Krik krik
"Um, Jungkook?" Sana mengibaskan tangannya bingung di depan wajah Jungkook.
"Tunggu.. maksudnya, apakah mereka semua karakter perempuan dari manga, anime, dan game?" Jungkook menemukan kembali suaranya dan merasakan kepalanya berputar ketika berusaha duduk dengan tegak. Rohnya masih belum sepenuhnya kembali ke dalam tubuhnya setelah mendengar pernyataan Sana yang membuatnya shock tadi.
"Tentu saja! Percayalah, kau adalah sosok tiga dimensi pertama yang berhasil membuat otaku akut sepertinya jatuh cinta."Jungkook merasakan wajahnya memanas ketika Sana mengucapkan kalimat itu sambil merangkulnya akrab. "Pernah suatu hari, sore itu hujan sangat lebat dan kami sedang berlatih di gedung ini. Tetapi tiba-tiba Taehyung panik dan mengatakan kalau kau meneleponnya. Si bodoh itu langsung saja berlari keluar menerobos hujan seperti orang gila, bahkan mengabaikan payung yang ditawarkan oleh Yoongi. Waktu itu pasti dia sangat mencemaskanmu."
Tentu saja, Jungkook ingat dengan sangat jelas tampang Taehyung saat ia rela menerobos hujan hanya untuk datang dan melihat keadaan Jungkook sewaktu phobianya kambuh walaupun ujung-ujungnya dia harus kena demam tinggi. Mengetahui kenyataan bahwa sewaktu Taehyung meminjamkan payungnya pada Jungkook dan mengatakan bahwa ia akan pulang bersama Yoongi adalah bohong juga membuat Jungkook merasa bersalah. Kebaikan Kim Taehyung sungguh tulus, dan ia selalu berusaha memberikan yang terbaik pada Jungkook.
Dan ternyata masalahnya lebih simpel dari yang diduga. Taehyung mengatakan kalau dia masih menyukai perempuan karena dia menyukai karakter karakter perempuan imut dua dimensi dari anime, game, dan manga yang menggunung di gudang penyimpanan anime stuff miliknya.
Kedekatan Sana dengan Taehyung juga, sekarang Jungkook jadi merasa bersalah pada Sana setelah mengetahui kebenarannya. Kini semuanya sudah jelas. Andaikan Jungkook tahu semuanya lebih cepat, pasti masalah nya dengan Taehyung tak akan berpanjang-panjang seperti ini. Jungkook jadi mulas sendiri menyadari betapa mudahnya dia baper selama ini.
"Terimakasih sudah mendengarkan dan menceritakan banyak hal, sunbae.. maaf selama ini aku sudah salah sangka." Jungkook bangkit berdiri, menggaruk tengkuknya kikuk.
"Sudah kubilang tak masalah, aku siap menjadi tempat curhatmu kapanpun kau membutuhkannya. Sekarang pergilah, bukankah ada hal penting yang harus kau lakukan?" Sana menepuk bahu Jungkook dan tersenyum menyemangati, seolah ia mengetahui apa yang hendak Jungkook lakukan setelah ini.
...
Jungkook berusaha mengatur nafasnya ketika ia berjalan tanpa suara sambil memaku punggung Taehyung yang kelihatannya sedang bersiap-siap melakukan shoot. Arah yang ditujukan Sana benar-benar ajaib, dia tak menyangka di halaman belakang sekolah juga ada lapangan basket.
Tidak, lebih tepatnya hanya lahan kosong yang disulap menjadi lapangan basket dengan dipasangi ring basket. Sana menyebut-nyebut tempat ini sebagai 'markas rahasia Kim Taehyung' ketika memberitahukannya pada Jungkok.
"Apakah kau mau diam di situ terus dan melubangi punggungku dengan tatapan 'senpai notis me' itu sampai Jimin dan Yoongi tinggi?"
Surai oranye yang tampak kemerahan di bawah sinar matahari berkibar lambat di udara dan figur tinggi itu berbalik tepat ketika bola masuk ke dalam ring dengan suara halus, bibir merahnya mengulas seringai mempesona yang memamerkan deretan rapi gigi seputih susunya.
OH SHIT
Padahal Jungkook sudah berusaha berjalan sepelan mungkin dan tidak membuat suara, tetapi mungkin Kim Taehyung memiliki radar istimewa di tubuhnya yang dapat mendeteksi setiap kehadiran Jungkook seperti alien sungguhan.
Sudahlah, tak ada alasan untuk sembunyi-sembunyi mirip stalker begini toh di tempat ini tak ada orang lain selain mereka berdua. Karena itu Jungkook berdeham, berusaha terlihat santai dengan memasukkan satu tangannya ke dalam saku celananya walaupun sebenarnya jantungnya sedang memacu sangat cepat setiap kali langkahnya mendekati Taehyung.
"Bagaimana ujiannya?" Jungkook berbasa-basi dengan wajah sedatar tembok, dan ia tak bisa mencegah suara yang keluar dari mulutnya terdengar bergetar.
Dalam seminggu ini ada beberapa mata pelajaran yang sudah dibagikan, dan Jungkook sendiri mendapatkan nilai di atas rata-rata hampir di semua ujian kecuali Bahasa Inggrisnya yang benar-benar kacau dan hancur di hari pertama.
"Oh, kau tak akan percaya! Semua yang kau sarankan untuk kupelajari benar-benar keluar di ujian, dan hasilnya nilai-nilaiku sempurna!" Taehyung mencampakkan bola basketnya hanya untuk merogoh serampangan isi ranselnya dan menunjukkan bangga tumpukan kertas ujian kusut yang di setiap kotak skornya bertuliskan poin angka 100 sempurna dalam tinta merah.
"Itu bagus. Selamat!" Jungkook spontan bertepuk tangan. Seperti dugaannya Kim Taehyung memang jenius, dan perkataan Baekhyun tentang Taehyung yang dulunya pernah menjadi murid teladan juga tidak bohong.
"Mohon bantuannya untuk selanjutnya, seongsaenim!" Taehyung nyengir lebar, mengacungkan ibu jarinya dengan girang sebelum akhirnya berlari dan melakukan tembakan kedua ke dalam ring untuk merayakannya.
Jungkook tak pernah berhenti dibuat terkagum berapa kali pun ia menyaksikan Taehyung bermain basket. Kaki-kaki panjang itu bergerak anggun ketika melompat, sementara senyum menawan yang secerah matahari tampak menghiasi bibir sempurnanya seolah-olah hanya dengan bermain basket dapat membuat lelaki berambut oranye itu menjadi orang paling bahagia sedunia.
"Hei, ingin bermain one on one?" Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Jungkook tanpa keraguan.
Taehyung menghentikkan pergerakannya dan bersiul, membalikkan badannya pada Jungkook yang tersenyum santai. "Wow, ada angin apa?"
"Mau main tidak?"
"Baiklah." Taehyung melemparkan bola pada Jungkook yang seperti biasa menangkapnya dengan kikuk. "Tapi kalau kau kalah, ini akan menjadi kekalahanmu yang ke lima puluh kalinya sejak terakhir kali kita bermain. Ayo maju!" Jungkook menelan ludahnya horror ketika onyx itu berkilat kesenangan di bawah polesan eyeliner tebal.
Seperti biasanya teknik Taehyung mengagumkan, dan memang mustahil untuk memasukkan bola ke dalam ring kalau melewati block-nya saja kau tak bisa. Tetapi Jungkook tidak takut. Jika dia tidak punya kemampuan yang cukup bagus untuk berolahraga, dia punya otak. Dan berkat pengamatannya menonton Taehyung bermain basket selama ini berhasil membuatnya mengetahui kelemahan Kim Taehyung.
Taehyung berada di posisi small forward dalam timnya, posisi yang berperan sebagai penyerang dan pencetak skor. Sehingga meskipun gerakannya selincah cheetah, penjagaannya sangat payah dan serabutan, membuat Jungkook berhasil menyelinap dengan mudah jika fokusnya teralihkan sedikit saja.
Taehyung hanya membeku dengan mulut terbuka ketika Jungkook melewatinya dan memasukkan bola ke dalam ring dengan lay up yang sama persis dipakainya saat latih tanding beberapa bulan lalu.
"Aku mempelajari shoot-nya bersama Jimin selama seminggu ini." Jungkook terengah, mengelap keringat yang meleleh di sepanjang lehernya. Sungguh, melakukan satu tembakan saja dia sudah setengah mati begini. Dia sungguh heran bagaimana Taehyung yang otaku akut bahkan bisa bermain dalam satu pertandingan penuh.
"Jadi itu urusan penting yang membuatmu terlambat pulang akhir-akhir ini? Astaga, kau luar biasa Jungkookie! Mempelajarinya hanya dalam waktu seminggu bagi orang yang payah olahraga sepertimu ini bukan main-main!" Taehyung melompat-lompat antusias seperti bocah selagi kedua bola matanya berbinar.
"Kau sebenarnya ingin memuji atau mengejek hah?" Alis Jungkook naik sebelah.
"Aku serius! Kau mempelajarinya di masa-masa ujian, tentunya sulit kan membagi konsentrasi antara belajar dan bermain basket? Kau juga masih tidur larut malam karena harus mengajariku, karena itu menurutku kau sangat luar biasa!"
Wajah Jungkook sedikit menghangat menyadari Taehyung mengatakannya dengan tulus. Rasanya menyenangkan ketika ada seseorang yang begitu menghargai usahamu seperti ini. Dan Taehyung melakukannya.
Mungkinkah ini saat yang tepat?
"Ta-Tae!"
"Huh?" Jungkook memeluk bola basket dalam dekapannya erat-erat ketika Taehyung yang sedari tadi mengobrak-abrik ranselnya untuk mencari entah apa menoleh.
"A-Aku juga..." Jungkook tak bisa mengontrol suaranya dengan baik dan ia yakin Taehyung yang telinganya hampir setiap malam dicekoki oleh headseat juga pasti tak akan bisa mendengarnya kalau seperti ini.
"Hah? Kau bicara apa?!" Bencana, Taehyung mengorek heboh telinganya dan justru memilih berjalan mendekati Jungkook, membuat Jungkook semakin panik dan malah berjalan mundur.
"MAAF!" Jungkook berteriak sekuat tenaga untuk mencegah Taehyung lebih mendekat lagi hingga ia yakin suaranya hampir habis.
Dan berhasil, Taehyung terdiam di tempatnya dengan tampang shock sekaligus penasaran, menunggu Jungkook menetralkan nafasnya yang berantakan.
"Ada banyak orang lain yang lebih pantas bersanding denganmu, dan pastinya mereka tidak akan mengesalkanmu dengan bersikap tsundere." Jungkook menarik nafas, memulai dengan tenang. "Aku mulai menyiksa diri dengan bersikap munafik, tidak pernah mau mengakui bahwa aku telah jatuh cinta denganmu dan selalu menolak semua perlakuanmu padahal aku tahu benar aku juga menginginkannya. Aku juga hanya orang brengsek yang begitu mudahnya cemburu dan membunuhmu perlahan-lahan dengan menggantungkan perasaanmu sehingga rasanya kini tidak pantas sekali bukan, jika seandainya aku mengatakan... kalau aku juga menyukaimu?"
Hening, Jungkook menunduk dalam-dalam memandangi sepatunya. Taehyung juga diam. Apakah Jungkook tadi berbicara terlalu cepat sehingga Taehyung tak bisa menangkap maksudnya?
Namun jantungnya langsung memacu cepat dan mengalirkan deras seluruh darah di tubuhnya menuju ke wajahnya ketika mendengar langkah kaki Taehyung berjalan mendekatinya.
"Waktu pertama kali bertemu denganmu kupikir kau bocah ingusan yang benar-benar sombong dan menyebalkan setelah mendengar hinaanmu. Jadi awalnya aku bermaksud memberimu sedikit pelajaran saat kau mengotori hoodieku dengan air menjijikkan itu." Jungkook mengerutkan dahinya, dia bisa mendengar Taehyung mendengus. "Tapi kau tahu? Pada akhirnya aku justru malah jatuh cinta dengan bocah sombong itu, padahal jelas-jelas dia bukan dua dimensi."
Dan nafasnya tercekat merasakan jemari Taehyung menarik dagunya, memaksanya menegakkan kepala dan menatap ke dalam onyx membara itu. Wajah Jungkook terbakar, rasanya dia ingin mengalihkan pandangannya kemana pun asal tidak pada Taehyung yang kini hanya menatapnya intens tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Terlebih saat ia mulai menghapus jarak di antara mereka dengan berjalan semakin mendekat.
"Bolehkah?" Taehyung ragu sejenak, namun tetap tampak tenang.
"Silakan." Jungkook menjawab kaku.
"Apa ini yang pertama bagimu?"
"Kalau ciuman dari ibuku saat aku berumur 4 tahun juga bisa dihitung, kurasa tidak."
Jungkook tidak bodoh, dia tahu benar apa yang dimaksudkan Taehyung. Dia tahu apa yang akan segera terjadi ketika Taehyung tersenyum dan membawa satu tangannya ke dalam genggaman tangannya yang hangat seolah berusaha menenangkannya. Seharusnya Jungkook tidak gugup. Taehyung pernah berkali-kali mencium pipinya. Dan ia sendiri pun pernah mencium Taehyung.
Namun setiap kali Taehyung menyentuhnya jantungnya berpacu semakin kencang seperti akan meledak.
Lahan ini kosong, jarang ada siswa maupun guru yang mendatanginya, juga tak ada tanda-tanda kehadiran Byun Baekhyun atau komplotan Kim Taehyung dimanapun. Tidak ada yang bisa mengacaukan momen ini untuk yang ketiga kalinya dan menolong Jungkook lagi.
Hal terakhir yang Jungkook lihat sebelum memejamkan kedua matanya adalah wajah tirus Taehyung yang begitu dekat dengannya tengah tersenyum menawan. Dan ketika ia merasakan jemari Taehyung yang bebas mengelus pelan rambut hitamnya serta menekan lembut tengkuknya untuk mempersatukan bibir mereka, bola basket dalam pelukan Jungkook benar-benar jatuh dengan suara keras ke tanah, menggelinding bebas di bawah kakinya.
Bibir itu lembut, hampir sehalus dan seringan bulu. Hanya saling menempel namun cukup untuk membuat Jungkook merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Seluruh wajahnya panas, seolah meleleh oleh bibir sempurna Kim Taehyung, dan perutnya tergelitik oleh sensasi asing yang membuatnya ingin menjerit keras-keras.
Nafas Jungkook terengah, kepalanya pening oleh kelembutan Taehyung memperlakukannya. Samar-samar ia dapat merasakan permen jeruk dari bibir Taehyung. Apakah Taehyung baru saja memakan permen jeruk? Dan dunia terasa berputar, Jungkook hampir tak dapat merasakan kakinya menjejak tanah lagi ketika lidah Taehyung melakukan gerakan menyapu pelan di atas bibirnya sehingga ia harus meremas kuat-kuat lengan Taehyung dan bersandar pada bahunya.
Tepat ketika Jungkook benar-benar akan menjerit dan merasakan dorongan kuat pada hidungnya untuk mengalirkan sesuatu, Taehyung melepaskan tautan mereka dan kembali menciptakan jarak.
Jungkook membuka perlahan matanya, kehabisan nafas. Dia menatap sayu pada Taehyung yang wajahnya sama merah padam sepertinya, memanggil pelan nama lelaki berambut oranye itu dengan belah bibir merahnya yang terlihat mengkilat oleh saliva. "Ta-Tae.."
Namun Taehyung tak merespon, dia terdiam lama seperti patung dengan tampang ngeblank dan mulut terbuka idiot hingga Jungkook terpaksa mengibaskan tangannya beberapa kali di depan wajah lelaki itu. "Tae, kau baik-baik saja?"
"Aku.. pusing.." Dan cairan besi berwarna merah pekat merembes keluar dari hidung Taehyung, sebelum tubuhnya yang mulai oleng seperti orang mabuk jatuh terkapar dengan mengenaskan di bawah ring basket.
"TAE!"
...
"Aku tak percaya kau bersikap sok keren begitu padahal kau sama tak berpengalamannya sepertiku. Jadi dari manga hentai mana hah kau mempelajari teknik itu?" Jungkook terbahak, memukul-mukul perutnya kesenangan.
"Ck, diamlah. Hujannya jadi terasa lebih menyebalkan kalau kau terus tertawa seperti itu." Taehyung menggerutu.
Jungkook tak mendengarkan, dia malah tertawa lebih keras lagi sampai-sampai Taehyung memalingkan wajahnya salah tingkah dan mengumpat beberapa kali. Oh ayolah, mana mau Jungkook melewatkan kesempatan langka menyaksikan Taehyung malu-malu dan wajahnya merah padam sampai ke telinga begini?
Meskipun kenyataannya tak semenyenangkan itu. Kasus mimisan Taehyung yang cukup merepotkan membutuhkan waktu lebih lama dari yang Jungkook kira untuk menghentikan pendarahannya di ruang kesehatan, sehingga kini mau tak mau mereka berdua harus terjebak oleh hujan deras lagi.
"Maaf. Seharusnya aku bisa memperlakukanmu lebih gentle lagi." Taehyung membuka suaranya tepat di saat Jungkook hampir mati bosan mendengarkan suara rintikan hujan.
Jungkook mengerutkan wajahnya jijik."Berhenti menghancurkan imagemu dengan bersikap sok tsundere. Tadi itu kau bahkan 1000 kali lipat lebih gentle daripada biasanya."
"Tapi seandainya aku tidak mimisan... aish, sudahlah."
Jungkook terkekeh. "Well, sepertinya hujannya makin deras. Apakah kita mau menunggu di sini terus sampai reda atau menerobosnya?"
"Keberatan kalau seragammu sedikit basah?"
"Aku bukan perempuan manja yang takut maskaranya akan luntur kalau tersiram air hujan."
Taehyung terbahak, dan Jungkook dikejutkan oleh jemari Taehyung yang mendadak menggenggam tangannya. "Tapi sebelum itu..."
"A-Apa?" Jungkook menjauh dengan awas ketika Taehyung mendekatkan bibir ke telinganya.
"Bagaimana jawabanmu untuk hari itu?" Jungkook merasakan wajahnya kembali terbakar saat melihat bibir Taehyung tertarik membentuk seringai mempesona yang sanggup membuatnya meleleh kapan saja.
"Kau sudah tahu jawabannya."
"Oh, sayangnya aku ingin dengar sendiri darimu."
"Well.." Lelaki berambut gelap itu berdeham dan memutar bola matanya salah tingkah. "..kurasa jawabanku 'ya'?"
Taehyung terkekeh, mengacak gemas rambut hitam Jungkook. "Sampai akhir pun tetap tidak manis ya."
"Oh, maaf kalau aku memang tidak manis. Kau bisa meninggalkanku sendiri dan mulai mengencani para istri dua dimensimu itu yang.."
"Tapi bohong." Taehyung memotong cepat perkataan Jungkook, lalu dengan gerakan kilat ia kembali mencium bibir manis itu. Taehyung nyengir, menggenggam tangan Jungkook erat-erat dalam tangan hangatnya dan menariknya berlari di bawah hujan.
"Jungkookie, saranghae."
Dua kata itu terucap tulus pada telinganya, membuat hanya Jungkook seorang yang dapat mendengarnya. Dan meskipun air hujan yang sedingin es mengguyur deras tubuhnya dari ujung kepala sampai kaki hingga menembus kain seragam tipis juga sepatunya, bibir merahnya tak berhenti mengulas senyum dan menghantarkan rasa hangat di dalam dadanya, tempat dimana jantungnya berdetak sangat kencang setiap kali Taehyung mengeratkan genggamannya.
Senyum bahagia yang tak pernah luntur dari bibir keduanya hingga mereka tiba di rumah, bahkan ketika malamnya Byun Baekhyun berceloteh panjang lebar karena keduanya kini harus terbaring lemas di bawah selimut hijau tosca milik Taehyung dengan tubuh panas dan hidung yang mengeluarkan ingus.
...
It must be L.O.V.E 200 percent sure of that
I want you really I mean really
Really, I like you and my reddening face proves that
...
-FIN-
Hikkikomori: istilah Jepang untuk fenomena di kalangan remaja atau dewasa muda di Jepang yang menarik diri dan mengurung diri dari kehidupan sosial.
Fudanshi: Kebalikan dari fujoshi. Lelaki otaku yang senang melihat hubungan pasangan sesama jenis/yaoi.
A/N:
Haloo semuanya ada yang inget sama fanfic ini? Hehe maaf ya sekarang saya lagi super sibuk pulang sore terus jadi updatenya lambat banget, saya juga udah jarang nonton anime juga :"3 tapi setelah ngeliat moment TaeKook yang bertebaran banyak banget di Bon Voyage sama pas mereka honey moon di Dubai/cough/saya mulai ngetik ngebut lagi. Taekook mah gitu, momennya langka tapi setiap comeback langsung borongan, gak ngasih jeda buat nafas dulu.
Terimakasih banyak untuk pembaca yang udah mau sabar sama segala ketsunderean Jungkook di ff ini. Saya pikir kalau semenya edan kaya Taehyung dan ukenya pasrah-pasrah aja kok kurang greget.
Terimakasih banyak untuk pembaca yang tetap sabar sama ceritanya walaupun memakai banyak istilah jejepangan, awalnya saya pikir jarang lho penyuka kpop sekaligus otaku :'3
Terimakasih banyak untuk pembaca yang setia nagihin kelanjutan ff ini dan tetap sabar walaupun di php-in authornya karena ngupdatenya lelet banget.
Dan terimakasih banyak untuk semua pembaca yang bersedia mengikuti ff absurd ini dari awal sampai akhir. Percayalah, saya sama sekali gapunya rencana buat nulis sepanjang ini. Jadi terimakasih untuk semua yang sudah mau membacanya.
Sampai jumpa di ff saya selanjutnya.
-19 Agustus 2016-
