Hai, everyone! Sorry banget baru muncul. Banyak pekerjaan yang maksa untuk dikerjakan lebih cepat. Sampai harus ngorbanin fic aku ini. Anne benar-benar mohon maaf untuk kalian semua yang nunggu akhir cerita ini. Sorry banget!

Ninismsafitri : Scorp milih siapa ya? Kapan-kapan deh aku buatin cerita spesial mereka. Thanks sudah baca :)

Scorly pair : Siap, sedang proses penulisan! Ditunggu, ya. Terima kasih! :)

DiahImbarsiwi15 : Sorry, ya. Aku telat updatenya. banyak tugas yang lain harus dikerjain duluan, sih. Ini nih udah siap! Terima kasih sudah setia nunggu! Thank you! :D

So, langsung aja ya!

Happy reading!


"Tekan tutsnya baru injak pedalnya. Jangan terbalik, Al!"

"Koordinasi tangan dan kakimu harus benar, Al. Seperti ini!"

Berturut-turut Lily mengajarkan kepada Al tentang cara-cara bermain piano. Al duduk di sisi Lily yang sesekali mempraktekkan apa yang diajarkannya. "Ya Tuhan, Lily! Kenapa sesusah ini kau bahkan bisa bermain dengan tanpa melihatnya," gerutu Al. Hampir satu jam ia belum bisa mengatur nada. Jemarinya juga masih kaku.

Lily memaksa kembali tangan Al untuk menyentuh tuts pianonya, "kita fingering seperti awal latihan aja, biar jarimu kuat dulu," pinta Lily. Al dengan semangat memulai kelas musiknya lagi dengan sang adik, "ingat, beri bobot! Main pelan-pelan lebih baik, daripada cepat tapi salah,"

"Jariku seperti mau lepas, Lily!" kata Al mengeluh tapi tetap melakukannya. Hari-hari melihat Lily latihan membuat Al penasaran ingin mencoba alat musik sebesar gajah itu di rumahnya.

Piano Lily kini sudah diganti. Harry menjual piano lama putrinya dan mengantinya dengan jauh lebih baik. Sejak lama Lily ingin memiliki grand piano di rumah. Tapi itu tak mungkin. Rumah mereka tidak cukup besar jika diisi dengan grand piano di dalamnya. Namun, setelah hampir dua hari Lily dan Harry keluar masuk toko piano, mereka akhirnya membawa pulang baby grand piano hitam yang begitu elegan. Ukurannya tak begitu besar sehingga di sudut ruang tamu, versi mini grand piano pilihan Lily dapat masuk dan menghiasi rumah mereka.

Ginny keluar dari dapur sambil tersenyum melihat kelakuan dua anaknya yang sibuk sendiri dengan alat musik bernama piano itu. "Terus semangat, Al. Kalau kau sudah menguasainya kau pasti bisa bermain dengan baik," kata Ginny ikut memperhatikan latihan dasar tangga nada yang diajarkan oleh Lily.

"Tuh, dengar kata Mom. Aku yakin kau pasti bisa, Al!" ucap Lily menepuk punggung kakaknya.

Al mengibaskan tangannya di dahi, "lelah!" pekiknya.

"Oh, ya, Lils. Bagaimana dengan lagu yang diminta oleh pelatihmu waktu itu? Apa sudah kau siapkan? Besok kau harus rekaman, Lily!"

"Sudah, Mom. Aku ciptakan langsung saat latihan di sana. Dad sudah tahu, kok!"

"Biar kutebak," Al menghentikan permainannya tiba-tiba. Mengalihkan konsentrasinya pada wajah sang adik, "kau pasti menciptakannya tak ada satu jam. Benar?" tanya Al mulai mengira-ngira.

Lily menjentikkan jarinya, "tepat. Sekitar 10 menit saja. Karena durasi yang diminta kurang dari 2 menit. Jadi aku menciptakannya cepat saja. Aku sempat melihat anak-anak bermain balet di ruang yang berbeda, dari situ ide itu muncul. Karena mendadak dan tak ada kertas, aku sampai menulis nadanya di kedua telapak tangan Dad—"

"Dan selanjutnya Dad harus membersihkan noda tinta itu berkali-kali karena sulit dihilangkan!"

Harry dan James masuk ke dalam rumah dengan membawa dua kantung berisi makanan dan buah-buahan. "Hehehe.. maaf, Dad," kata Lily malu-malu.

Harry mengacak-acak poni Lily sambil tersenyum gemas. Al masih terus berlatih piano dengan instruksi perlahan yang diminta Lily. Al begitu bersemangat sampai tak tahu ayah dan kakaknya sudah datang.

"Waw, kau sudah lumayan juga bermain piano, Al," panggil James lalu mendekat ke sisi lain Al.

Adik lelakinya hanya tersenyum simpul sambil terus menggerakkan jarinya. Lily senang, jemari Al mulai lihai menekan tuts pianonya meski masih pelan-pelan. "Kalau kau mau, kau bisa latihan juga, James!" tawar Lily. Ia bangkit dari duduknya dan meminta James untuk mengantikannya duduk satu bangku dengan Al.

James setuju dan ikut menekan-nekan asal tuts piano Lily. Al yang merasa terganggu memukul pelan tangan James yang mulai usil. "Kapan-kapan saja, deh. Hari ini aku juga baru selesai belajar," kata James terus menggangu latihan Al.

"Belajar apa?" tanya Al dan Lily bersamaan. Mereka sampai saling pandang karena bertanya dengan pertanyaan yang sama secara bersamaan.

Di meja tengah Ginny dibantu oleh Harry mengeluarkan isi bungkusan yang baru dibelinya. Sambil sesekali melirik keakraban yang terjalin antara ketiga anak mereka. "Aku tak menyangka mereka bertiga pernah bertengkar sampai adu fisik. Coba lihat mereka, Harry. Manis sekali, bukan?" bisik Ginny pelan. Wajahnya bersemu bahagia.

"Anak siapa dulu!" kata Harry bangga.

James menjelaskan perihal apa yang baru saja ia pelajari. "Aku baru belajar dengan Dad mengendarai.. mobil—"

"APA?" Teriak Lily, Al, dan Ginny bersamaan. Ginny langsung memelototi Harry meminta penjelasan secepatnya.

Semua pandangan tertuju pada James, "ada apa dengan kalian?" tanyanya sambil cengar-cengir.

"Harry, James masih 14 tahun!" suara Ginny meninggi.

"Aku tahu, sayang!" jawab Harry santai.

Lily terpukau dengan kakaknya yang sudah mulai belajar menyetir, "kau sudah bisa, James?"

"Tentu, ya.. kata Dad aku lebih cepat belajar daripada Uncle Ron. Meski baru belajar, aku sudah bisa menggerakkan mobil dengan baik meski sempat hampir menyerempet anjing—"

"Amazing! Kapan-kapan aku ajari juga, James!" Al yang mudah sekali mencoba hal baru mulai tertarik untuk ikut belajar menyetir. Dari arah dapur, Harry tampak mengacungkan jempolnya ke arah Al.

Harry menghargai semangat putranya-putranya.

"James anak tangguh, sayang! Kau ingat, James bahkan belajar sepeda roda dua saat ia 3 tahun! Apa salahnya mengajarkannya menyetir diusia muda juga,"

"Tapi dia—"

Satu jari Harry menghentikan protes Ginny cepat. Ia paling bisa membuat wanita Weasley itu salah tingkah saat ia menatapnya tepat di matanya. "Aku tetap tak membolehkan James maupun Al nanti mengendarai mobil sendirian sampai usianya 17 tahun,"

"Oke, Dad!" canda Ginny, ia menepuk-nepuk pipi Harry pelan.

"Thanks, Mom!" Jawabnya tak kalah manja.

Di dekat piano, James dan Al masih sibuk dengan latihan piano mereka. Sesekali ada suara-suara frustasi dari mulut James maupun Al yang kesulitan mengikuti instruksi Lily yang membaca not-not balok dari bukunya.

"Tanda ini maksudnya apa, Lils?" tanya James menunjuk sebuah tanda yang aneh di salah satu nada.

Lily melihatnya sekilas, "itu time signature, jumlah ketukan di lagu ini,"

"Aku tak mengerti membaca bulatan-bulatan itu, kau punya cara yang lain biar kita berdua bisa bermain piano?" Al lelah juga. Sejak tadi ia masih belum mencoba memainkan satu lagupun.

Padahal yang Al inginkan adalah mencoba memainkan musik seperti yang sering dilakukan Lily. Mulai memutar otak, Lily berjalan ke rak kecil berisi buku-buku partitur Lily. Sebuah buku berisi kumpulan musik karyanya sendiri.

Ia membuka pada sebuah judul instrumen yang sedikit aneh. Meletakkannya di depan kedua kakaknya. "Ellen's Song?" tanya Al dan James bersamaan.

"Aku menulisnya saat Ellen, gadis kecil tetangga kita dulu, meninggal dunia. kalian ingat Ellen, kan?"

Karena tulisannya itu, Lily kembali mengingat tetangganya yang bernama Ellen. Ellen satu tahun lebih muda dari Lily. Ia meninggal sehari setelah Lily lulus dari sekolah Mugglenya. Ellen adalah anak yang pintar, namun ia meninggal setelah menyerah dengan penyakit livernya.

James mengingat betul sosok Ellen yang ia kenal. "Dulu dia sering sekali bermain di sini. Aku ingat, hampir saja dia melihat aku menggunakan sihir saat dia di kamar mandi," cerita James.

"Yahh, aku jadi rindu Ellen," tiba-tiba Lily ikut merangsang duduk di antara James dan Lily duduk tetap di tengah-tengah. Al di kanannyaya, sedangkan James di sebelah kirinya.

"Aku akan mainkan dulu sendirian. Temponya lambat, kok. Jadi kalian berdua bisa mengamatinya dulu. Ini cukup mudah," Lily memainkannya sendiri dengan begitu indah. Melodi yang ia mainkan sarat sekali ekspresi kerinduan pada seseorang yang telah tiada.

Tidak sampai 2 menit, permainan cantik Lily selesai. "Terdengar menyentuh sekali, Lily. Kelihatannya memang mudah. Tapi bagaimana kita bisa bermainnya?" Al kebingungan. Kesepuluh jari Lily begitu lihai menekan tutsnya berirama.

"Begini, karena Al sudah cukup bisa memahami nadanya, biar Al memainkan melodinya dengan tangan kanan. James, kau mainkan pola iramanya seperti aku tadi."

Pelan-pelan, Lily mengajarkan melodi yang harus dimankan Al dan meminta kakak keduany untuk mengingatnya. "Nanti akan aku tuntun sol mi sasinya," pesan Lily.

"Aku harus berulang seperti ini terus?" tanya James. Ia mempraktekkan permainan jari-jari tangan kirinya dengan semangat.

"Iya, berganti saat di beberapa part yang aku bilang tadi. Naik di oktaf mana kau ingat?"

"Hemm!" jawab James terus melancarkan perpindahan jemarinya.

Hampir setengah jam mereka berlatih tanpa membuat ulah yang aneh-aneh. Ginny sampai gemas tak menggoda ketika anaknya itu. "Sering-seringlah seperti ini, kids! Mom dan Dad kan jadi tenang?" kata Ginny mendekati ketiganya.

"Wow, sepertinya kalian berhasil memainkannya bukan?" Harry datang ikut penasaran.

Lily bersorak girang, "tentu saja. Al, James, dan aku akan berkolaborasi hari ini," katanya singkat. Dilihatnya wajah Al dan James yang sudah tak sabar memperlihatkan hasil latihan mereka pagi ini.

"Kami akan menampilkan satu lagu berjudul.. Ellen's Song!" Lily membuka penampilan mereka dengan singkat. Sedetik kemudian, ia mengomando Al dan James untuk mulai bermain.

"1.. 2.. 3!"

Dan sebuah permainan yang indah mereka ciptakan. Kerja sama antara permainan tangan kiri James dan tangan kanan Al mampu berjalan singkron dengan arahan Lily yang sesekali berbisik pelan memandu kedua kakaknya.

Tak lupa kaki Lily membantu menginjakkan pedal sesuai jalan permainan. Sedikit kaku terlihat dari jari-jari Al dan James. Tampak dari jari kelingking Al yang berdiri kaku karena tak ikut menekan. Sedangkan James yang bertugas memainkan pola ritemnya sampai tak sadar mengerakkan badannya sesuai perpindahan jarinya. Ke kanan lalu kembali ke kiri.

Harry dan Ginny tak percaya, kerja sama ketiganya mampu memainkan satu instrument yang memang tak terlalu panjang dengan begitu indah. Mereka tak bisa pungkiri apa yang baru saja dimainkan ketiganya dapat mereka nikmati sampai di nada terakhir.

"Yeaaahhh kita berhasil!" sorak ketiga Potter junior luar biasa bahagianya.

"Hebat sekali kalian. Padahal kalian berdua baru saja belajar menekan tutsnya. Sekarang sudah bisa memainkannya dengan baik. Dad kan sudah sering ikut belajar dengan Lily, tinggal Mom yang belum mencoba," Harry menggoda Ginny agar ikut berlatih.

"Ahh Mom biar masak saja lah! Eh bukannya kita harus berangkat? Kau rekaman jam 11 kan, Lils?" benar saja, Ginny melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 10.15. "Benar juga. Kita harus berangkat, jarak studio dengan sini lumayan jauh. Ayo anak-anak!" sambung Harry sambil meraih kunci mobilnya.

James langsung berdiri lebih dulu dari bangku piano, "aku yang nyetir?!" tawarnya senang hati.

"NO!" teriak mereka berempat bersamaan.[]

- FIN -


Wohoho selesai juga. Sebenarnya akhir chapter ini mau Anne buat sampai proses Lily rekaman di studio. Tapi berhubung sudah lumayan panjang dan ini memang cerita bukan untuk Lily, aku akhiri di sini aja.

Nah, buat teman-teman yang pengen lihat bagaimana permainan Ellen's Song ini bisa cari di Youtube dengan kunci pencariannya Emily Bear - Ellen's Song (ini bukan lagu kematian ya, tapi memang lagu yang Emily ciptain singkat banget buat Ellen Degeneres, yang presenter itu loh). Cari yang cover dari orang-orang lain udah banyak. Permainnannya lumayan mudah diikuti bagi pianis pemula. Anne sering mainin ini! :)

Akhir kata, Anne mengucapkan terima kasih bagi semua pembaca dan yang sudah review. Tinggalkan review kalian, bisa juga request cerita atau pairing siapa favorit kalian. Kalau bisa, Anne buatkan! ^_^

Terima kasih!

Anne xo