.
.
.
When I see you, I run out of words to say
I wouldn't leave you
'Cause you're that type of babe to make me stay
I see you in the club, You gettin' down good
I wanna get with you...
I see you in the club, You showin' thugs love
I wanna get with you
You're so beautiful, so damn beautiful
Said you're so beautiful, so damn beautiful
.
.
.
.
Author : rainy hearT
Length : Series
Rated : T to M
Cast :
-Kim Mingyu
-Jeon Wonwoo
-Hong Jisoo
- Choi Seungcheol
-Lee Jihoon
- Other SVT members
Pairing : Mean MEANIE
Disclaimer : Semua cast belongs to God and themselves. Pledis CUMAN pinjem mereka sebentar
Genre : ||Drama || Romance|| Sad || Slice Of Life
Warning : || YAOI || Gaje || typo's || EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia||
Sumarry: I saw you from the beginning. My heart STOP at that second when I see you smile... NOT FOR ME
.
.
Another PRESENT From Me
.
~Cheat on ME~
.
.
HAPPY READING
.
.
Chapter 10: You don't know me
.
Jeju...
.
.
Orang bilang, kalau jodoh pasti ga kemana. Katanya, mau dicari kemanapun kalau belum jodoh juga ga bakal ketemu. Apalagi kalau bawaannya maksa. Kalau jodoh pasti ga kemana sih emang, tapi kalo maksain jodoh jadinya gimana?
Apalah ini?
Ini curhatan penulis atau kehidupan Wonwoo?
.
.
.
Sebenarnya, itu jadi satu kenyataan pahit karena meski berada dimanapun, kemanapun pergi, meski bukan jodoh pasti ada saja kebetulan. Tahu-tahu ya begitu, tahu-tahu ketemu aja. Meskipun ga disangka-sangka bahkan juga beneran ga pernah dipikirkan sama sekali.
Tahu-tahu ketemu aja.
Wonwoo juga bukan niat ingin bertemu, ia hanya bekerja. Menjalankan tugas yang katanya sangat penting, dari Shua hyung-nya yang tercinta itu. Ia hanya bekerja dan berharap bisa liburan setelahnya.
Mana ia tahu jika penulis yang ia kunjungi adalah seorang ayah dari tetangga flat-nya. Orang yang mati-matian sedang ia hindari. Meski selalusaja bertemu dimana-mana. Ya tidak salah juga sih, 'kan tinggal satu flat yang liftnya cuma dua, tapi ini 'kan Jeju.
Kenapa juga masih bertemu?
Sumber dari masalahnya yang paling rumit saat ini.
"Gyu-ie... aku harus bagaimana?"
Wonwoo pengirim pesan itu. Sangat cepat saat mengetiknya, karena ia juga harus mempersiapkan diri dan mental untuk mengikuti Shua hyungnya. Sebenarnya ia sendiri yakin jika American hyungnya itu mampu untuk melakukan pekerjaan itu bahkan tanpa bantuannya.
Sempat berfikir juga, jika Shua hyungnya itu memang sengaja mempertemukan mereka lagi dalam kondisi seperti ini. Sungguh, Wonwoo tak ingin memiliki pemikiran jahat. Tapi, mengingat kejamnya kenyataan pada Jihoon dan juga persahabatan mereka maka ia mau tak mau juga tetap memikirkannya.
Kalau dipikir-pikir ia memang tidak salah, tapi mengapa kalau dipikir ulang semua sumber permasalahan ada pada dirinya. Memang Wonwoo sama sekali tak bermaksud apapun, tapi masalah siapa menyukai siapa adalah masalah hati. Wonwoo yakin jika Jihoon mengerti, tapi...
Ia jadi teringat dengan permintaan Jihoon untuk me-reset hubungannya dengan Mingyu. Ah... ia sebenarnya tak ingin berfikir buruk, tapi bisa saja Jihoon malah akan menikungnya. Meski Mingyu sangat mencintainya tapi...
Ah... sudahlah.
Wonwoo berusaha untuk membuat fikirannya fokus. Ia merasakan getaran di sakunya tapi tak bisa membukanya sekarang. Ia kalut.
Apalagi dengan aura dingin yang menguar dari Jihoon.
.
.
.
Saat ini, mereka semua tengah berada dalam satu ruangan dengan situasi yang lelah dan sangat canggung. Selepas penerbangan yang delay, mereka harus memilih untuk menyewa mobil dan mencari penginapan sementara. Karena lokasi rumah penulis itu cukup jauh, jadi mau tak mau mereka akan berangkat pagi-pagi sekali keesokan harinya.
Wonwoo bahkan menghindar satu kamar dengan Jihoon. Ia memilih untuk menyewa kamar VIP meski hanya ia sendiri yang tidur disana. Lebih baik menggalau memikirkan Mingyu daripada harus sekamar dengan Jeonghan dan Jihoon. Sekarang ia merasa seperti orang yang jahat.
.
.
.
.
.
Tapi, siapa sangka di Jeju akan ada tempat indah bahkan dipelosoknya. Wonwoo sempat terbengong melihat indahnya. Bahkan ia sempat juga mengirim pesan pada Mingyu-nya, yang juga disertai sebuah gambar pemandangan yang indah.
'Akan sangat baik jika kita pindah kesini, Gyu-ie...'
Wonwoo tersenyum saat mengirim pesan itu. Tapi semuanya khayalannya langsung hilang saat ia melihat namja tampan itu. Ia, tak yakin bagaimana harus bersikap. Ini bahkan lebih parah karena mereka benar-benar terjebak.
Dalam satu situasi dimana Wonwoo tak bisa melarikan diri. Dan terlebih lagi, namja tampan itu benar-benar menatapnya. Sungguh, Wonwoo tak ingin tergoda tapi wajah tampannya sempat juga membuatnya lupa.
'Ingat Mingyu, Wonu...'
Wonwoo menyemangati dirinya sendiri, agar ia tidak melupakan kekasihnya yang kemungkinan akan datang sore nanti.
.
.
"Cheol? "
Wonwoo baru tahu, jika Shua hyungnya sangat akrab dengan anak penulis itu. Mereka saling berpelukan seperti teman yang sangat lama tak bertemu, padahal baru beberapa hari kemarin mereka seperti bermusuhan.
Ah... lupakan Wonwoo...
Yeah, Wonwoo juga tak bisa disalahkan.
Salahkan saja situasi yang tidak baik itu.
.
.
.
.
.
Urusan pekerjaan sudah selesai. Mereka pesta. Katanya untuk mengganti pesta di rumah Jihoon yang tertunda karena perjalanan ke Jeju ini. Tentu saja Jihoon yang membayar semuanya, karena katanya ia sebentar lagi akan bertunangan. Mungkin juga menikah.
Wonwoo memilih untuk duduk sendiri di pojokan. Menghindari semuanya. Ia tak mau membuat suasana menjadi serba salah. Wonwoo bingung, karena biasanya ada Jihoon tapi sekarang tak ada siapapun. Ia tak berani merusak mood Jihoon. Jadilah ia lebih memilih untuk menemani appa-nya Coups hyung. Meski sekedar berbicara tentang buku.
Jihoon tahu, semuanya hanya modus konyol.
Apanya yang meminta izin, jika seorang Joshua Hong adalah orang yang kelewat terkenal dan disegani sehingga malah penulis itu yang merasa tak enak dan menawarkan menginap gratis di penginapan sederhana milik putranya.
"Kau modus sekali."
Jihoon berucap enteng.
Ia mulai membenci Shua hyung yang seharusnya sangat ia sayangi. Ia belum lupa hubungan romantis kecil antara mantan kekasihnya dengan hyung kesayangan sahabatnya ini, meski itu hanya cinta anak sekolah, tapi siapa yang tahu apa yang mereka lakukan dibelakang Jihoon.
Ah, iya. Jihoon bahkan sedikit lupa-lupa ingat bahwa Cheol sering sekali liburan atau sekedar urusan pekerjaan atau bahkan tiba-tiba menghilang. Bisa jadi juga, jika mantan kekasihnya itu bermain bersama yang lain.
Only God knows what's he is really doing...
.
.
.
.
Wonwoo berkirim pesan ke Mingyu, beberapa kali setelahnya. Ia tak peduli lagi apakah ia akan dianggap tidak sopan atau apalah itu. Ia ingin Mingyu-nya cepat datang. Ia tak ingin, terus terjebak dalam situasi konyol ini.
Wonwoo melirik ke arah Jihoon.
Ck...
Namja mungil itu masih sangat cuek. Mungkin terlihat seperti biasanya, bagi orang lain tentunya.
Tapi bagi Wonwoo...
Ah... Wonwoo merasa sesak nafas dadakan. Ia harus berani mengambil resiko entah apapun itu. Ia memutuskannya.
Ia akhirnya berjalan mendekati Jihoon saat memastikan Hoshi ikut gabung dengan Jeonghan yang sibuk berbicara dengan ayah Coups hyung, menggantikannya.
Dan juga saat melihat Coups dan Jisoo berbicara intens. Entahlah... apa yang mereka berdua bicarakan, ia sama sekali tidak peduli.
Wonwoo mendekati Jihoon. Namja mungil itu tak berpindah barang sedikitpun dari posisi bersandarnya. Merasa Jihoon bisa menerima pendekatannya, Wonwoo mencoba memulai berbicara.
"Aku rasa kita belakangan seperti orang asing, Jihoon-ah..."
"Hmm..."
"Aku minta maaf, sungguh. Aku tak mengerti apa-apa dan tahu-tahu aku terjebak dalam situasi ini. Aku sama sekali tak tahu tentang Coups hyung, sungguh..."
"Hm..."
"Jihoon-ah..."
"Hmmm..." Namja mungil itu hanya menyahut malas sambil mencari tambahan untuk minumannya yang habis. Ia berjalan sedikit menjauh, tapi tetap membiarkan Wonwoo mengekorinya.
"Kau tahu bukan, aku baru kenal Coups hyung. Dan lagipula, aku sangat mencintai Mingyu jadi..."
Wonwoo berhenti. Entahlah, mendadak ia ingin menangis. Rasanya ia sangat jahat pada Jihoon. Ia jadi ingat, kalau Jihoon dan Mingyu...
Jihoon mengangkat wajahnya. Ia menatap Wonwoo. Meski dengan cahaya seadanya, tapi kulit pucat yang menjadi kemerahan itu terlihat jelas. Bagian hidung, pipi hingga telinga Wonwoo semuanya memerah.
"Aku sangat mencintai Mingyu, jadi kumohon Jihoon-ah. Aku hanya punya kau dan Mingyu. Sungguh, aku minta maaf atas semua yang terjadi di masa lalu. Termasuk juga dengan Mingyu."
Jihoon tak menyahut.
Jihoon memilih meninggalkan Wonwoo dan minumannya dimeja. Ia berjalan menjauh hingga sampai di tepi pagar pembatas balkon tempat mereka berpesta. Wonwoo mengikuti namja itu. Ia bukan lemah hingga tak berdaya dan memohon seperti itu. Ia hanya merasa semuanya adalah salahnya sampai Jihoon sangat membencinya saat ini.
Ia seperti bisa merasakan bagaimana sakitnya menjadi Jihoon. Jika itu adalah dirinya, maka ia pasti tak akan sanggup untuk terus berteman dekat seperti yang Jihoon lakukan untuknya.
"Aku sudah akan menikah. Jangan diingat lagi." Jihoon berucap lirih. Tapi tak melihat ke arah Wonwoo.
Wonwoo mengangkat wajahnya. Ia sudah susah payah menahan tangisnya dan Jihoon masih tetap dengan wajah datarnya. Wonwoo bahkan hampir tak percaya, saat melihat Jihoon yang tiba-tiba tersenyum dan membuka kedua lengannya, meminta Wonwoo untuk memeluknya.
"Mianhe, Jihoon-ah..."
Wonwoo menyambutnya dan memeluk namja kecil itu.
Ah, apakah ini yang namanya berdamai?
Entah...
Tak ada yang tahu persis.
"Sudahlah, jangan menangis seperti anak kecil. Aku bukan pemeran jahat di buku atau film, Wonu-ya." Jihoon melepaskan pelukannya. Ia sedikit berjinjit dan kemudian mencium pipi Wonwoo. "I love you, Wonu-ya..."
"Love you too,Jihoon-ie..."
Wonwoo tersenyum bahkan dengan hidungnya yang memerah, namja itu masih terlihat sangat konyol. "Sudahlah, jangan bersamaku terus. Kau membuat Mingyu menunggu."
"Eh?" Wonwoo sedikit kaget. Ia ingat benar bahwa Mingyu sedang berada di acara fanmeet. "Menunggu?"
Jihoon mengangguk pelan."Aku mengiriminya alamat tempat ini. Lagipula dia sudah menyelesaikan semua pekerjaannya dan pagi tadi sudah berangkat. Ada sedikit fanmeet di pusat Jeju, dan mungkin sudah selesai jadi..."
"Jihoon-ah..."
"Wae?"
"Jangan katakan kalau dia ada dikamarku?"
"Salah, aku bahkan tak tahu kode kamarmu. Bagaimana dia masuk?'
"Lalu..."
Jihoon memutar wajah Wonwoo dengan kedua tangan mungilnya. "Itu, pangeran bodohmu dengan gengnya dan juga senyuman bodohnya. Sungguh, aku tak percaya aku pernah menyukainya."
"Jihoon-ah..."
"Ish, wajahmu menggelikan. Pergi sana..."
Wonwoo tersenyum sebelum akhirnya berjalan pelan menuju Mingyu-nya yang memang tengah tersenyum bodoh dengan sebuah kotak merah berpita hijau ditangannya. "Merry Christmas, baby..."
Wonwoo berhenti sejenak sebelum memeluk Mingyu-nya. "Aku merindukanmu, Gyu-ie..."
Dan menyisakan Jihoon yang menebar smirk jahat kemana-mana. Ia menatap tajam pada mantan kekasih dan juga bos-nya. Tak lupa dengan senyumannya yang paling jahat. Ia menghampiri Hoshi, dan menghilang dari acara itu.
.
.
.
.
"Bagaimana bisa sudah disini?"
"Aku hanya mendapat pesan dari Jihoon, jika kekasihku ini sedang kesulitan. Lagipula kenapa bartender itu ada disini? Dia itu selalu ada dimana-mana?"
"Dia anak penulis yang kami temui, Gyu-ie..."
Mereka sedang berpelukan hangat sambil menebar bola panas ke semua arah. Kalau bisa, niatnya memang begitu.
Mereka berpelukan, di ruangan bagian samping vila yang memang menawarkan pemandangan dan juga angin segar dipagi hari. Meski awalnya Wonwoo menolak tapi Mingyu memaksa. Namja tampan itu memang sengaja ingin memanas-manasi semua penggemar dan pencinta kekasihnya sekalian juga menegaskan jika namja cantik berhodie kuning dipelukannya itu adalah miliknya, seratus persen.
Mingyu tak begitu mendengarkan penjelasan Wonwoo tentang buku dan pekerjaan dan juga penlis tua itu. Ia sibuk saling melempar tatapan tajam pada anak si penulis. Namja itu memang benar-benar cari mati. Setidaknya itulah yang dapat ditangkap oleh pikiran Mingyu.
Bagaimana bisa Coups berjalan santai dan mendekati mereka?
Mingyu juga ingin tahu itu. Terlebih namja itu berjalan dengan penuh percaya diri dan tersenyum lebar.
"Mau apa?" Mingyu menatap tak suka, juga ia kemudian mengeratkan genggamannya ke jemari Wonwoo. Memamerkan kemesraan mereka.
"Aku bukan berurusan denganmu. Aku ada kepentingan dengan Wonwoo."
"Kami sedang sibuk. Kau tak lihat apa?"
"Ini tentang pekerjaan."
"Bullshit..." Mingyu berucap pelan dan kemudian ia mengangkat tubuh Wonwoo hingga namja itu benar-benar ada dipangkuannya. Wonwoo sebenarnya sudah menggeliat tak nyaman. Ia merasa tak enak sendiri dengan Coups yang masih setia mengajaknya berkontak mata.
Wonwoo sebenarnya tak mau melihat namja itu tapi ia juga tak tega.
"Mian hyung, aku tak bisa. Mingyu baru datang, dan aku..."
"Appaku ingin bicara denganmu." Scoups menyela. Ia mengulurkan tangannya. Agar Wonwoo mau meraihnya.
"Tapi..."
"Ini tentang buku. Aku janji, ini hanya tentang buku."
Wonwoo menoleh kearah Mingyu. Ia memberikan wajah terimutnya, dan meski tanpa berbicara tapi Mingyu tahu jika Wonwoomenginginkannya untuk ikut.
"Arra..."
Mereka bertiga pergi. Dengan tangan Coups yang menggandeng Wonwoo dengan sedikit paksaan, dengan lengan Mingyu yang bergelayut posesif di bahu Wonwoo, dan juga dengan lengan Wonwoo yang menemukan tempatnya di pinggang Mingyu.
Biar bagaimanapun ini terlihat sangat menyedihkan. Bahkan sepertinya orang buta saja tahu kesedihan Scoups...
"Namja itu kalah dari perang yang bahkan belum dimulai."
Jeonghan berucap lembut.
"Bukan, bukan kalah."
Jeonghan menoleh. Menemukan sumber suara. "Mian, aku tak bermaksud untuk..."
"Yoon Jeonghan, kudengar kau suka padaku."
"Eh..."
.
.
.
.
Tbc...
Bwahaha...
Meanie mommentnya langka yehhhh...
Maapkeun...
