Author: aurorarosena

Cast: GOT7, BTS, iKON, Seventeen, etc.

Pairing: MarkBam

Rate: T

Genre: School-life, mystery/horror, romance

Disclaimer: Casts aren't mine, storyline/plot is mine

Warning: typo(s), boyxboy, indonesian, bahasa amburadul/?, etc.

Please leave this story quickly if you don't like the casts, story, and author :)

.

.

.

.

.

Bambam POV -

Belum, belum pernah kami menjadi sediam ini, belum pernah. Kami berada di dalam satu kereta yang sama, gerbong yang sama, tempat duduk yang sama, tapi aku merasa seperti orang asing ketika berada di dekatnya. Selama kami melakukan perjalanan bersama-sama, aku bisa mengatakan bahwa ini adalah waktu terburuk kami.

Perjalanan dari Daegu ke Busan bukanlah perjalanan yang pendek, kami harus turun di beberapa stasiun dan perjalanan menggunakan kereta api sendiri sudah memakan waktu selama satu jam, dan aku harus bersama dengannya di dalam kereta api selama berjam-jam dalam keadaan yang seperti ini.

Aku tidak yakin bahwa aku bisa mengatasinya.

Di satu sisi aku menyesal karena telah mencampakkannya seperti ini, tapi di sisi lain juga, aku tidak ingin dia menjadi namja yang brengsek, aku ingin dia menjadi namja yang baik. Aku tidak peduli apakah dia pernah dicap bad boy oleh orang-orang, tapi jangan sampai predikat itu melekat pada dirinya dan menjadi nyata.

Jackson berdiri di depanku, di samping kursi penumpang yang menghadap ke arah kami, kursi yang ditempati oleh Chanwoo dan Seungkwan, mereka tertidur dengan pulas karena perjalanan yang panjang dan melelahkan ini. Ia seakan bertanya ada apa denganku dan Mark? Berkali-kali suaranya muncul di kepalaku dan menyuruhku untuk bicara kepadanya.

Entah kenapa, tapi aku tidak mau. Aku... telah melakukan kesalahan yang benar.

Di dalam kediamanku yang garing, Mark hyung tiba-tiba menyentuh tanganku. Dia membuatku terkejut, tapi tanpa melanjutkan rasa kasihanku padanya, aku menarik tanganku dan menolak untuk menatap wajahnya.

"Maaf." katanya.

Aku masih diam, aku penasaran dengan kalimat selanjutnya yang akan dia katakan.

"Maafkan aku."

"..."

"Tadi malam aku hanya sedang... entahlah, aku mengalami syok berat."

Apa? Syok berat dia bilang? Syok berat akan hal apa? Dia terlihat begitu tenang seharian kemarin, lalu sekarang dia bilang dia tengah mengalami syok berat.

"Aku menyesal karena telah membuka ponselmu, maafkan aku."

"Ne?!"

Yang ini membuatku syok juga. Dia membuka ponselku, kapan? Di mana? Apa yang dia lihat di dalam sana?

"Kau tidak meminta izinku?!"

"Maaf," ia menenggelamkan kepalnya, "aku melihat... sesuatu yang seharusnya tidak kulihat."

"Apa?!"

- flashback -

Author POV -

"Hyung, aku mandi dulu ya, nanti setelah itu kita tidur."

"Iya, yang wangi, ya!"

Kini hanya ada Mark sendirian di atas kasur, sekilas ia mendengar suara desahan yang mengganggu dari kamar sebelah. Tentu saja, hal itu tidak dapat dihindari, mereka menginap di sebuah motel yang letaknya berada di tempat prostitusi, sudah jelas mereka akan mendengar bahkan melihat hal-hal yang kurang pantas.

Mark bermain dengan ponselnya untuk sekedar mengisi kebosanan, tak ada yang menarik menurutnya, apalagi saat tidak ada kabar apapun dari sang kekasih, rasanya ponsel menjadi sangat hampa.

Bzzzt bzzzt~~ sebuah ponsel bergetar di atas kasur. Itu bukan ponsel milik Mark, melainkan milik Bambam. Karena penasaran, Mark melihat jika ada seseorang yang menelpon atau mengirim pesan untuk Bambam, jadi dia bisa memberitahunya sesegera mungkin.

Hanya ada icon di phonescreennya yang menunjukkan bahwa Bambam menerima pesan, tertulis nama Junhoe di sana. Ponsel Bambam tidak berhenti bergetar, jumlah pesan pun semakin meningkat dan itu dari orang yang sama, Junhoe. Itu membuat Mark semakin penasaran dengan apa yang Junhoe kirim hingga sebegitu banyaknya. Namun, Mark takut jika nanti Bambam akan mencurigainya jika kotak pesan itu sudah terbuka, maka Mark menolak dan memilih untuk bermain dengan fitur yang lainnya.

Berhubung ponsel Bambam tidak terkunci, itu mempermudah Mark untuk mengeksplor lebih banyak lagi.

Mark membuka galeri di ponsel Bambam, ada begitu banyak foto hingga mencapai ratusan. Setengah dari galeri itu mungkin diisi oleh selfie Bambam, dan itu menjadi penemuan baru bagi Mark.

"Hihi, dasar narsis." kata Mark, iseng-iseng Mark memilih selfie di ponsel Bambam sebanyak mungkin dan mengirim semuanya ke ponselnya sendiri. Jadi sekarang Mark punya koleksi selfie Bambam. "Haish... lucunyaaa..." Mark merasa gemas sendiri.

Ia melihat ada beberapa video yang tersimpan di galeri ponsel Bambam, satu persatu ia buka, beberapa ada yang tidak ia mengerti, beberapa juga ada yang membuat ia tertawa akan kelakuan lucu Bambam dan teman-temannya.

Namun, tidak semua video membuat ia tertawa.

Video itu berisikan seorang yeoja dan juga namja. Seorang namja yang belum pernah Mark lihat, tapi yeoja yang begitu Mark kenali, seperti bagian dari hidupnya sendiri. Mata Mark terbuka lebar-lebar melihat yeoja dan namja di dalam video itu saling bercinta di atas ranjang, tanpa busana, tapi mereka terlihat begitu menikmatinya.

Wajah yeoja itu tidak terlihat jelas pada awalnya, tapi mata kamera merekam dengan begitu bening hingga perasaan yang mengganjal di hati Mark semakin membesar dan membesar.

"Ji..Jiyeon-ah... ahh ini nikmathh... sekalii... nghh..."

Deg.

Mark menggigit bibirnya sendiri, lehernya terasa begitu panas, kupingnya sakit ketika mendengar nama itu. Orang mana yang tidak akan merasa sakit hati ketika melihat sang kekasih berbagi cinta dengan orang lain, tapi bagi Mark ini bukan sekedar sakit hati.

Ini sebuah gangguan jiwa bagi Mark.

Mark belum menyelesaikan videonya, tapi sudah cukup baginya untuk menyakiti diri sendiri. Sebelum Bambam keluar dari kamar mandi, Mark menutup ponsel milik Bambam dan menaruhhnya di tempat semula, persis di mana saat pertama kali Mark mengambilnya.

Pintu kamar mandi terbuka, Mark dapat melihat Bambam keluar dari kamar mandi melalui kaca cermin yang bertengger di dinding.

"Hft, berisik." keluh Bambam seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk.

"Sini, Bam!" Mark menepuk-nepuk kasur untuk menyuruh Bambam duduk di sampingnya. Setelah itu, Mark mencoba untuk mengetahui sedikit seluk beluk tentang video itu. "Uhm, Bam..."

"Ne, hyung?"

"Hyung boleh bertanya?"

"Tentu, tanyakan saja!"

"Uhmm..." Mark menatap wajah Bambam dengan hati-hati, "kau... pernah nonton film porno?"

"Apa?"

"Kita bicara antar pria saja." kata Mark dengan cepat. "Kau.. pernah nonton film porno?"

"Hehe, kalau aku harus jujur, aku pernah nonton film porno." Bambam menyeringai polos.

"Nonton di mana? Di ponsel?"

"Aniyo, aku nonton di laptop. Kalau di ponsel bisa saja ketahuan oleh teman-temanku."

"Mmmm," Mark mengangguk perlahan, "tapi kau pernah menyimpan video porno di laptop atau ponselmu?"

"Aku pernah menonton murni dari internet, lagipula untuk apa juga aku menyimpan hal-hal semacam itu?"

"Aaah, begitu." Mark tersenyum sendiri. Itu berarti video yang baru saja ia lihat tidaklah seratus persen Bambam yang terima, mungkin ponselnya dapat menyimpan media secara otomatis. Ada secercah rasa curiga di dalam benak Mark tentang pesan yang begitu bertumpuk dari Junhoe, tapi berhubung Mark tidak dapat membukanya, Mark tidak dapat juga menyimpulkan sesuatu dengan jelas. "Aaah, Bam..." Mark menyentuh kepalanya.

"Ada apa, hyung?"

"Kepalaku sakit, sepertinya... ada banyak roh negatif di sini."

"Di tempat seperti ini?!"

"Ayolah, kepalaku sakit, Bam."

- flashback end -

Bambam POV -

"Sejak aku melihat video itu... perasaanku terganggu, rasanya seperti badai, aku tidak tahu harus berbuat apa." mata Mark hyung terlihat begitu lelah, mungkin dia tidak bisa tidur semalam karena memikirkan tentang kekasihnya.

Jujur, aku sendiri tidak dapat mempercayainya ketika aku melihat video itu. Aku tidak percaya bahwa Jiyeon nuna benar-benar melakukannya. Namun, aku tidak bisa menjadikan momen ini sebagai kesempatan, aku tidak bisa membuat Mark hyung nyaman untuk berada di dekatku jika hatinya sedang mengalami dilema seperti ini.

"Rasanya seperti... aku ingin mengambil segala cinta yang telah kuberikan untuknya dan tidak pernah mengenalnya lagi."

Aku terdiam, karena hanya dia yang mengerti tentang rasa sakit seperti ini.

"Aku takut, takut jika kau melakukan hal yang sama seperti apa yang ia lakukan terhadapku." Mark hyung meraih tanganku dan menggenggamnya erat-erat, aku tidak ingin melepaskannya, tapi di satu sisi juga aku tidak ingin membuatnya jatuh kepadaku. "Jika kejadian yang semalam membuatmu tidak nyaman, aku bisa pergi sebelum kau yang meninggalkanku."

Aku menatap wajahnya, "tapi hyung terlihat baik-baik saja, kenapa?"

"Arwah-arwah itu menyerap tenagaku dan membuatmu selalu merasa kelelahan karena harus selalu menolongku, bayangkan jika aku harus menangis di depanmu, menangisi Jiyeon... tidakkah hatimu akan merasa lebih lelah lagi?"

Iya, itu akan membuatku jauh lebih lelah lagi. Aku mencintai seseorang yang sudah dimiliki oleh orang lain, yang selama ini terlihat begitu serasi hingga tak mungkin rasanya jika harus memisahkan mereka berdua. Melihat Mark hyung berbahagia dengan orang lain membuat hatiku sakit, setiap kali ia berbicara dengan begitu lembut dengan Jiyeon nuna, benih-benih cemburu terkadang bertumbuh terlalu cepat dihatiku.

"Jika hyung masih mencintai Jiyeon nuna, sebaiknya kau lupakan saja kalimatmu yang tadi malam." kataku.

Mark hyung tidak menjawab, ia hanya menatap wajahku kembali setelah sekian lama aku berusaha untuk menghindar dari matanya. Ia menggeleng sebagai jawaban bahwa ia belum memutuskan apapun, bahwa ia masih buntu dengan hal yang begitu tiba-tiba. Kami saling berpegangan tangan dan Mark hyung menyandarkan kepalanya di bahuku.

Ini seperti mimpi buruk, bagaimana caranya agar tidak mengenal Mark hyung lagi? Seperti dulu, hanya sekedar hubungan kakak dan adik kelas.

.

.

.

.

Author POV -

"Pantai yang indah." ucap Seungkwan seraya merenggangkan tubuhnya dengan lega.

"Bagus," kata Mark, "kita terlalu lama di kereta hingga kita melupakan emeralda yang ketiga."

"Kau terlalu banyak stress hyung." Bambam tertawa. "Bersenang-senanglah sebentar, kau akan cepat menua jika mengerutkan dahi seperti itu terus."

"Hyung! Ayo kita berenang!" seru Seungkwan seraya membuka pakaiannya.

Mark menoleh ke arah Bambam seakan ia meminta kepastian, matanya memelas hingga membuat Bambam ingin tertawa lebih keras. "Main saja sana!"

"Lalu kau?"

"Aku akan diam di sini bersama Chanwoo."

"Hmm, oke, aku perlu senang-senang." Mark menyerahkan tas ranselnya kepada Bambam dan mulai melepas pakaian luarnya. Ia bergabung dengan Seungkwan untuk bermain di tepi pantai, sekedar melepas depresi yang beberapa hari ini ia terima. Sementara Bambam, ia memilih untuk berdiri di samping Chanwoo.

"Kalian terlihat seperti sepasang suami istri." kata Chanwoo iseng, ia juga tertawa geli.

"Yak!" Bambam refleks menjewer telinga Chanwoo sekejap. "Mark hyung sudah punya pacar, tahu!"

"Jinjja!?" mata Chanwoo terbelalak. "Yaah, gagal deh."

"Gagal?"

"Tidak, tidak. Tidak penting."

"EH!" Bahu Bambam meloncat. "Emeralda yang ketiga."

"Ini..." Chanwoo meraba saku celananya dan menggenggam sebuah batu berwarna hijau yang begitu berkilauan, "...aku mendapatkannya di kereta." kata Chanwoo.

"Bagaimana-"

"Aku mencurinya."

"Apa!?"

"Ada seorang ahjussi yang tertidur, ia memakai cincin dengan batu emeralda."

"YAK!"

"HYUNG JANGAN JEWER AKU LAGI. SAKIT!" pekikkan Chanwoo menghentikan tangan Bambam yang sudah gatal akan menarik kuping Chanwoo. "Sudahlah, yang penting kita sudah dapatkan tiga batu emeralda. Hanya tinggal tulis saja apa keinginan kita, dan Yugyeom akan datang."

"Haruskah kita menulisnya sekarang?"

"Kita bisa menulisnya sekarang."

Sama seperti apa yang Chanwoo lakukan di museum, ia mengeluarkan selembar kertas kosong dan juga kotak pensil. Mereka berdua duduk di atas pasir dan Chanwoo menjadikan tas ranselnya sebagai meja.

"Tulis saja apa keinginan kalian di kertas ini." kata Chanwoo dan memindahkan pensilnya ke tangan Bambam.

Bambam berpikir, ia ingin menunggu Mark hingga ia kembali agar mereka dapat menulis keinginan mereka secara bersamaan, tapi ketika ia melihat Mark yang begitu ceria bersama dengan Seungkwan, Bambam ingin membuat setiap tawaan dan senyum di bibir Mark berada di sana untuk lebih lama.

Pada akhirnya, Bambam melirik ke arwah Jackson di depan mereka.

"Katakan saja aku ingin bertemu dengannya." kata Jackson. Chanwoo dan Bambam saling mengangguk dan menulis sesuai dengan permintaan Jackson.

Temui Jackson di pinggir pantai

Pertanda,
Bambam

Bambam menggulung-gulung kertas itu. "Lalu kita apakan kertas ini?"

Chanwoo mengambil botol minum yang berisikan air bercampur dengan darah, lalu ia meminumnya hingga habis. Ia memasukan kertas yang sudah digulung dan ketiga batu emeralda ke dalam botol itu.

"Ayo kita hanyutkan botol ini."

Mereka berdua pergi ke bibir pantai untuk melepas botol itu. Mark dan Seungkwan melihatnya berlari ke pantai hingga menimbulkan rasa penasaran.

"Kalian mau apa?"

"Kami akan menghanyutkan botol ini ke pantai, ini akan memanggil Yugyeom kepada kita."

Mereka akhirnya menghanyutkan botol itu ke pantai dan melihatnya semakin jauh secara perlahan. Belum ada hal yang terjadi, bahkan ketika botol itu sudah pergi menjauh terbawa oleh ombak kecil.

"Lalu? Sekarang apa?" tanya Seungkwan.

"Kurasa batunya kurang." kata Bambam.

"Uhmm, hyung..." suara Chanwoo meninggi, "lihat siapa yang datang."

Mereka semua otomatis berbalik arah dan menemukan sosok arwah yang belum pernah mereka kenal tengah berjalan seorang diri menghampiri mereka. Kecuali Bambam dan Seungkwan, karena Bambam tidak memiliki indera keenam yang sempurna, dan Seungkwan yang tidak memiliki indera keenam sama sekali.

"Hyung..." Bambam mendekatkan diri ke tubuh Mark yang basah, tangan Mark refleks merangkulnya dan memastikan bahwa ia tidak merasa ketakutan. "Aku tidak melihat apapun."

"Tak apa, itu akan lebih baik." Mark berbisik.

"Jinjja? Wae?"

"Tetaplah di belakangku!"

Mark POV -

Aku cukup terkejut melihat wajah Yugyeom untuk pertama kalinya, dia terlihat tampan, aku bahkan merasa diriku tidak setampan dirinya. Tapi bukan itu yang menjadi poin utama untuk sebuah first impression, melainkan wajah Jackson yang menyimpan begitu banyak campuran antar perasaan. Wajah Jackson menjelaskan segalanya, ia terkejut, bahagia, bingung, mungkin juga sedih, dia yang hanya hantu pun bisa menjadi sebegitu panglingnya, apalagi aku yang manusia biasa.

Sekarang aku mengerti tentang perasaan Jackson, bagaimana ia bisa jatuh cinta dengan sosok Yugyeom. Aku tidak melihat sama sekali adanya perasaan marah atau angkuh di wajah Yugyeom, wajahnya murni menunjukkan sebuah kebaikan. Mungkin itu juga yang kulihat dari Bambam, kepolosan dan juga hatinya yang begitu lembut.

"Jatuh cinta pada pandangan pertama." kataku, bahkan aku tidak menyadarinya ketika aku tersenyum saat melihat wajah Jackson.

"Kalian memanggilku?" tanya Yugyeom ketika ia sampai di dekat kami.

"Apa kami mengganggu?"

"Hyung!" Bambam menarik tanganku. "Apa yang ia katakan? Bagaimana bentuknya?"

"Dia... seorang namja yang baik." jawabku.

"Ada apa dengan wajah Jackson?"

"Itu adalah wajah dari cinta pandangan pertama." aku tertawa, tapi itu dapat membuat Bambam tersenyum dengan lega.

Mungkin aku akan terlihat seperti orang gila jika aku berbicara sendirian dengannya, untung saja Chanwoo juga memiliki kekuatan yang sama denganku.

"Kau mungkin dapat melihat hantu yang lain di dekat kami, yang mungkin kau kenal." kataku.

"Iya," Yugyeom mengangguk, matanya melirik Jackson dengan lembut, "aku mengenalnya."

"Dia ingin bertemu denganmu, dan kurasa dia sangat bahagia. Kau lihat sendiri kan bagaimana wajahnya sekarang?"

"Wajah yang paling membahagiakan untukku."

Ini benar-benar luar biasa, ini seperti cerita dari negeri dongeng. Andaikan saja ciuman pertama dapat menghidupkan dan menyatukan mereka kembali seperti di cerita Puteri Tidur atau Puteri Salju, mungkin aku bisa menangis hanya karena terharu.

Aku menarik napasku perlahan, "ia ingin mengatakan sesuatu padamu, tapi dia tidak tahu bagaimana caranya, jadi kami membantunya."

"Terima kasih." Yugyeom tersenyum. "Kalian teman yang baik."

Tidak ada cahaya oranye matahari terbenam di Haeundae, tapi ada langit biru keunguan yang membuat segalanya menjadi jauh lebih indah bagiku. Aku melihat Jackson dan ingin sekali menertawainya, ia seperti seorang adik kecilku yang baru saja puber dan merasakan jatuh cinta.

"Kau akan mengatakannya?"

"Aku... tidak tahu bagaimaa caranya." bibir Jackson bergetar.

"Pakai saja tubuhku!" Chanwoo bersuara. "Ini akan mempermudahmu untuk berkomunikasi."

"Tubuhmu masih sakit." aku melarangnya. Jelas, berapa liter darah yang ia muntahkan pada saat itu? Memberikan tubuhnya untuk sosok arwah bukanlah ide yang baik.

"Gwenchana hyung, ini pasti akan mempermudahnya."

"Pakai tubuhku saja!" kataku demi menggantikan posisi Chanwoo.

"Aniyo, aniyo, pakai tubuhku saja!" Bambam, dia tidak seharusnya ikut campur dalam hal ini.

"Aniyo, aku tidak akan membiarkan tubuhmu dipakai oleh arwah manapun, Jackson sekalipun." aku menggenggam tangan Bambam dengan erat. "Aku saja."

"Hyung, tubuhku sudah tidak sakit lagi."

"Aniyo, kau terlalu kecil untuk itu."

"Hhhhh!"

Kami semua dikejutkan oleh Seungkwan yang tiba-tiba sesak napas dan jatuh, perasaanku mulai memburuk. Aku melihat ke sekeliling dan Jackson sudah tidak ada di tempatnya.

Bagus, di saat kami sibuk berdebat, Jackson menggunakan tubuh orang lain sebagai perantara.

"Seungkwan-ah, neo gwenchana?"

"Tenang! Seungkwan baik-baik saja, ini hanya aku, Jackson." kata Seungkwan, aniyo... itu kata Jackon, aniyo... itu kata Seungkwan juga. Itu kata Jackson yang berada di dalam tubuh Seungkwan. Haish, ini sulit. "Anak ini menawarkan tubuhnya saat kalian sedang berdebat, lagipula, menggunakan tubuh manusia yang tidak memiliki indera keenam akan jauh lebih baik."

Oke, kalau itu apa yang Jackson katakan, aku hanya bisa mengiyakan dan menunggu aksi yang selanjutnya.

"Yugyeom-ah, kau masih ingat aku?"

"Ne, aku mengingatmu."

Demi menghindari kesalahpahaman, aku berjalan ke belakang arwah Yugyeom agar seakan-akan Seungkwan tengah berbicara denganku.

"Mark hyung, kau mengganggu pemandangannya." kata Jackson.

"Lanjutkan saja!" aku memaksa.

Jackson berdehem, kini raut wajah Seungkwan terlihat gugup, mungkin itu bukan ekspresi asli Seungkwan, melainkan raut wajah yang Jackson buat.

"Ada hal yang ingin kukatakan."

"Katakan saja!"

AIGOOOOOO ! Aku belum pernah menonton drama sebelumnya, tapi aku berani bersumpah bahwa ini akan menjadi drama teraneh sekaligus terkeren yang pernah ada.

Kami menunggu Jackson hingga ia mengatakan segalanya lebih lanjut, hingga Jackson menatap wajah Yugyeom dengan mata Seungkwan yang nanar.

"Akankah ini menjadi hal yang salah, jika aku mencintaimu?"

Aniyo, itu tidak akan menjadi hal yang salah, aku bahkan melakukan hal yang sama. Aku sendiri berpikir tentang keganjalan yang ada di dalam hati Jackson, rasanya pasti sama dengan apa yang kurasakan selama aku dan Bambam bersama. Bingung, gugup, takut, tapi disitulah keindahannya.

"Aku memang seorang namja, mungkin aku bukanlah orang yang kau inginkan untuk menjadi cinta pertamamu, atau menjadi kekasihmu. Aku tidak pernah meminta siapapun untuk membunuhmu dan membawamu ke sini, aku juga ingin hidup dengan bahagia dan melihatmu lebih lama lagi. Apakah ini akan menjadi sesuatu yang salah? Apakah aku akan menjadi pendosa?"

Benar, apakah aku akan menjadi seorang pendosa juga?

"Aku takut... bahwa kau membenciku karena prajurit-prajurit itu pernah membunuhmu, dan aku lebih takut lagi bahwa kau akan lebih membenciku karena aku mengatakan hal ini." mata nanar Seungkwan mulai lebih menguat dari sebelumnya.

Yugyeom masih terdiam, sementara aku melihat ke arah Bambam secara diam-diam dan membayangkan apa yang akan terjadi jika saja aku mengatakan segalanya jauh lebih halus seperti ini, seperti cara Jackson mengatakan segalanya kepada Yugyeom.

"Sebenarnya banyak sekali yang ingin kukatakan, tapi demi merangkum semuanya, yang dapat kukatakan saat ini hanyalah aku cinta padamu."

"..."

"..."

"..."

"..."

"Jackson?"

"..."

"Terima kasih karena telah mencintaiku."

Ada senyuman di wajah Seungkwan, senyuman yang berbeda, itu bukan senyuman Seungkwan melainkan senyuman Jackson, senyuman yang melegakan.

"Aku akan keluar sekarang." kata Jackson.

Aku melihat arwah Jackson perlahan keluar dari tubuh Seungkwan.

"Jackson-ah! Aku juga mencintaimu."

Apa...

Apakah Jackson mendengar itu? Apakah dia mendengarnya? Kenapa Jackson tidak melirik lagi? Kenapa Jackson pergi begitu saja?

"Kau telat mengucapkannya!" ujarku. "Masuk lagi ke dalam tubuhku!"

"Aku yakin dia mendengarnya."

"Kau harus mengatakannya lagi!"

"Dia pasti mendengarnya."

Seungkwan terjatuh lagi, ini pertama kalinya aku melihat sosok hantu keluar dari tubuh manusia. Kami menolong Seungkwan untuk sekedar berdiri, aku yakin pasti sedikit dari tenaganya hilang karena digunakan oleh Jackson.

"Apa yang dia katakan, hyung?!" tanya Bambam penasaran.

"Dia mengatakan bahwa dia juga mencintai Jackson hyung." sela Chanwoo.

"Tapi Jackson pasti tidak mendengarnya."

"Dia mendengarnya." suara Yugyeom yang tenang memecah kepanikanku. "Dia pasti mendengarya."

"Kau yakin?"

"Aku yakin." seyuman Yugyeom terlihat begitu tenang, namun juga mencurigakan di satu sisi. Aku melihat arwah Jackson pergi menjauh, wajahnya tidak lagi semekar beberapa menit yang lau, waktu saat pertama kali ia bertemu dengan Yugyeom.

"Jika Jackson ingin mengatakannya lagi, apakah kami masih bisa memanggilmu?" tanya Chanwoo, ia merangkul Seungkwan di pundaknya.

"Datanglah kapan saja, tapi aku yakin Jackson pasti sudah mendengar jawabanku."

Itu membuat perasaan kami menjadi lebih tenang, setidaknya masih ada kesempatan jika suatu hari nanti Jackson ingin kembali lagi ke sini dan mengatakan hal itu lagi.

Aku sudah melihat bagaimana hebatnya Jackson, ia berani mengatakan hal itu dengan tangguh, tanpa air mata ataupun putus asa. Dia lebih hebat daripada aku saat aku mengaku kepada Bambam bahwa aku mencintainya. Mungkin saat itu pula aku sedang mabuk dan membuat kalimatku melantur hingga Bambam tidak dapat menerimanya dengan baik.

Tapi, Bam... sepertinya aku sudah membuat keputusan yang bulat, tentang siapa orang yang kucintai sebenarnya.

.

.

.

.

.

- To be continued -

AYOOWWWW! Serasa udah seabad gak update wkwk lebay. Gimana? Gimana? Aneh gak chapter yang ini duh semoga engga deh. MAAF SEKALI LAGI KALO PENDEK YAAAH author gak bisa nulis lama-lama soalnya juga lagi mepet nulisnya, karena liburan author sudah habis jadi author gak bisa update panjang T_T

[WARNING!] Karena liburan author sudah habis, ada kemungkinan bahwa author bakal telat-telat update lagi, mungkin udah bukan dua hari sekali, tapi bisa tiga atau empat hari, tergatung jadwal sekolahnya. Tapi author usahain terus buat tetep update cepet yah :*

Makasih review-nyaa hehe, kalian adalah penyemangat author, pokoknya review kalian itu bener-bener author jadiin motivasi buat terus lebih baik deh :* chapter yang ini jangan lupa di review, ya... siapa kira-kira yang Mark cintai? Ditunggu di chapter selanjutnya~~~ byee~~~ :*