A/N: Sorry for the lateness. I was busy like a hell. Happy reading and enjoy:)
You know I own nothing, this's absolutely belong to JK Rowling. I'm just having some fun with her characters
Chapter 10
"Aku bisa hidup tanpamu. Aku sangat bisa hidup tanpamu, Malfoy. Tapi aku tak mau, aku tak mau lagi hidup tanpamu," ujarnya dengan satu tarikan napas serta air yang terus menetes dari tubuhnya.
"Aku mencintaimu."
Draco tersenyum dan langsung menariknya ke dalam ciumannya. Hermione mengalungkan tangannya di leher pria itu. Mereka masih berdiri di ambang pintu apartemen dengan Draco yang berpikir mungkin semua ini hanyalah ilusi. Draco melepaskan wanita itu sesaat lalu meletakkan keningnya tepat di kening Hermione dengan tangan yang masih menangkup wajahnya. Suara gemeletuk dari gigi wanita di hadapannya ini yang menandakan bahwa ia sedang menggigillah yang menyadarkan Darco bahwa wanita yang dicintainya ini basah kuyup tak menentu dan nyata. "Aku membeku, Draco," ujar Hermione yang memaksakan senyum dalam canda di wajah kakunya.
Draco menghela napas. "Wanita bodoh."
Hanya cengiran kuda dan tetap dengan suara gemeletuk dari giginya yang ditunjukan oleh Hermione, sementara Draco hanya menghela napas dan langsung membawa wanita itu masuk ke apartemennya. Ia mendudukan Hermione di sofa dan dengan secepat kilat pula membawakan selimut super tebal lalu membebat tubuh wanita itu. "Kau bisa mati hipotermia," ucap Draco yang masih sibuk kesana-kemari setelah tahu bahwa Hermione telah menanggalkan pakaiannya dan terbungkus hangat di dalam selimut itu.
"Aku tahu," balas Hermione dengan suara yang bergetar.
Ia meringkuk di sofa Draco dan sesekali bersin. Hidungnya berubah menjadi kemerahan dan giginya masih bergemeletukan heboh tak karuan. Udara Februari ditambah dengan hujan yang tak henti membasahi bumi akan membuat siapa saja mudah terserang flu, termasuk Hermione yang dengan sangat spektakuler bermain dengan guyuran air dari langit itu. "Dalam keadaan normal saja kau mudah terserang flu, kenapa kau harus datang dengan keadaan seperti ini?"
"Berhenti mengomeliku," balas Hermione yang bangkit saat Draco sudah duduk di sampingnya dengan segelas teh hangat yang masih terlihat mengepul dengan keharuman yang menyeruak ke segala penjuru apartemen ini.
"Mungkin whisky lebih membantu," ucap Hermione lagi saat menerima mug putih itu.
Pria pirang disampingnya itu langsung mendengus dan memberikan tatapan mematikan kepadanya. "Alkohol dan Hermione bukan dua kata yang dapat disandingkan. Aku tak siap kau muntahi lagi."
Kali ini Hermione yang mendengus dibuatnya sementara Draco membantu ia duduk dan memaksanya meminum teh itu. "Terima kasih," ujar Hermione akhirnya setelah menyesap tehnya dan suara gemeletuk dari giginya perlahan menghilang.
Draco menangkup wajah wanita di hadapannya ini. "Kau masih kedinginan?"
"Sedikit," balas Hermione.
Dia mengelus lembut pipi wanita berambut cokelat di hadapannya ini. Matanya terlihat lelah namun binar bahagia masih terpancar di dalamnya. "Aku tau kau sangat mencintaiku, tapi berlari di tengah hujan seperti tadi tak dapat kutolerir, Hermione."
"Oh shit, Draco. Percaya dirimu besar sekali," balas Hermione yang ikut mencebik.
Draco masih memegang pipinya. "Aku serius. Jangan pernah membahayakan dirimu lagi."
Hermione mengangguk. "Akan kuusahakan."
"Aku sudah mengisi bathtub dengan air hangat, berendamlah," ujar Draco mengganti topik pembicaraan yang langsung mendapat anggukan dari Hermione.
Setelah berendam, Hermione merasa sangat lebih baik. Tetapi, wajahnya langsung berubah panik saat tahu bahwa waktu sudah lewat tengah malam dan ia masih belum kembali ke rumahnya. Dengan cekatan ia menghampiri tasnya yang masih terlihat kuyup di sudut kamar Draco dan mulai mengobrak-abriknya. "Apa yang kau lakukan?" tanya Draco yang baru saja memasuki kamar itu dengan pakaian tidur kebesarannya – celana pendek tanpa atasan.
"Mencari ponselku, aku ingin mengabari Selma bahwa aku akan segera pulang."
Draco ikut berlutut di samping wanita yang masih membungkus rambutnya itu dengan handuk. "Aku sudah menghubungi Selma."
Tatapan Hermione langsung beralih pada Draco dengan raut wajah bingung. "Aku menghubunginya saat kau mandi tadi dan mengatakan bahwa kau tak pulang malam ini dan akan kembali besok pagi sekali."
"Aku harus pulang, Draco. Elle sendirian."
"Itu gunanya kau menggaji Selma."
Hermione tak menjawab. "Aku akan mengantarmu besok pagi, bermalamlah."
Draco kemudian bangkit dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Hermione masih terlihat berpikir di sudut kamar itu. Dia masih menimbang apakah saran dari Draco dapat diterima. "Hermione," panggil Draco dengan menyibak bed cover-nya dan menepuk-nepuk sisi lain dari ranjangnya.
"Baiklah."
Sudah sangat lama sekali sejak mereka terakhir kali di ranjang yang sama dengan keadaan sadar. Hermione masuk ke dalam ranjang itu dan Draco langsung menariknya ke dalam pelukan. Ia bergelung dengan lengan pria itu sebagai bantalnya. Tangan Draco membelai lembut rambut Hemione yang masih setengah kering itu. "Kau akan terkena flu dengan rambut seperti ini," ucap Draco lembut.
"Aku sudah terlanjur mandi hujan, biarkan flu itu datang."
"Keras kepala," balas Draco.
Mereka kembali hening. Hermione masih bergelung di sisi pria yang tak pernah berhenti ia cintai ini. Ia sangat menyukai, lebih tepatnya menggilai harum tubuh ayah dari puterinya ini. Sementara Draco masih membelai lembut rambutnya dengan mata yang menatap langit-langit kamarnya. "Hermione."
"Eehm."
"Apa yang membawamu kemari? Di tengah malam dengan keadaan hujan seperti ini?"
Pertanyaan Draco membuatnya semakin menutup jarak di antara mereka. Ia semakin membenamkan wajahnya di sisi pria itu. Tangan mereka saling bertaut dengan napas yang teratur dan dengan Hermione yang masih berpikir darimana ia memulai bercerita tentang awal semua ini. Perlahan ia bangkit namun tak melepaskan tautan tangan mereka. Ia duduk dengan separuh tubuh yang tertutup bed cover dengan kaus Draco yang terlihat sangat besar di tubuhnya. "Kau menonton beritaku tadi?"
Draco mengangguk. "Kau tahu Gubernur Payton tertembak saat di supermarket tadi?"
Kembali Draco mengangguk. "Aku membayangkan itu dirimu. Aku membayangkan bagaimana bila itu adalah dirimu. Bagaimana bila penembak itu berada di New York dan kau adalah korbannya, aku tak mau membayangkan hal itu. Hidup tak akan pernah memberikan kita kepastian dan aku tahu itu. Oleh karena itu aku ingin kau tahu bahwa aku juga mencintaimu. Bila ada kejadian yang tak diinginkan seperti penembakan itu, setidaknya kau tahu bahwa aku juga mencintaimu."
Draco menatap dalam mantan istrinya ini. Ia bangkit dan mendeket ke arah Hermione dengan senyum tipis di wajahnya. "Aku belum berencana mati secepat itu, tapi terima kasih sudah kembali kepadaku," balas Draco dan langsung menarik Hermione ke dalam ciumannya.
Ia menangkup wajahnya dan melumat lembut bibir wanita ini. Tak ada sedikitpun perbedaan bagi Draco saat mencium wanita ini. Bibir lembut wanita ini masih tetap sama meski tahun sudah berganti. Ia melepaskannya sesaat lalu mengecup lembut dan lama bibir itu. "Terima kasih telah kembali kepadaku," perkataan itu kembali terulang dari mulut Draco.
Kali ini Hermione yang membelai lembut pipi pria di hadapannya. Sudah sangat lama ia tak memandang Draco dengan jarak sedekat ini. Ia tersenyum dan masih memegang pipi pria ini. "Terima kasih telah memintaku kembali kepadamu."
"Tidurlah," balas Draco tersenyum dan langsung menarik Hermione untuk merebahkan diri di sampingnya.
Ia memeluk wanita itu dari belakang tanpa melepaskan sedikitpun tautan tangan mereka. "Aku mencintaimu," bisik Draco.
"Aku juga mencintaimu."
000
Pagi-pagi mereka sudah berkendara untuk kembali ke kediaman Hermione dan Elle. Mereka tak mau Elle terbangun tanpa ada Hermione sebagai sosok yang pertama kali ia temui. Hermione sudah sibuk di dapurnya dengan roti panggang, bacon, dan telur serta selai dan susu kesukaan Elle sementara Draco hanya duduk di salah satu bangku di kitchen island itu dengan koran pagi di tangannya. "Mum," sapa Elle yang masih menggunakan piyama tinkerbell-nya sambil memasuki dapur itu.
"Pagi, sweetheart," balas Hermione yang masih terlihat sibuk mengocok telur dan menuangkannya di pan untuk diubahnya menjadi scrambell egg kesukaan Draco.
Belum sempat Elle membalas sapaan ibunya, sebuah suara kembali terdengar. "Selamat pagi Eloise."
Elle seperti bermimpi bahwa Dad-nya berada di rumahnya sepagi ini. Ia memfokuskan penglihatannya dan benar mendapati Dad berada di dapurnya sepagi ini. "Daddy?"
"Apa yang kau lakukan pagi-pagi dirumahku?"
Draco mengedik. "Sarapan bersamamu."
"Mum?"
"Yaa, Elle."
"Dad bisa sarapan bersama kita?"
Hermione tersenyum dan memandang secara bergantian Elle dan Draco."Tentu. Kenapa tidak?" balas ibunya.
"Wow ini menakjubkan," balas Elle yang langsung berlari ke kamarnya sambil memanggil Selma untuk membantunya mandi.
Draco memandang puterinya itu dengan senyuman yang terkembang. "Wow ini menakjubkan? Darimana ia belajar berbicara seperti itu?"
Hermione mengedik sambil menuangkan jus ke gelas mereka. "Dia terlalu pintar."
Setelah sarapan bersama, Draco dan Hermione khusus mengantar anaknya ke sekolah dengan Elle yang masih bertanya-tanya mengapa Dad-nya bisa berada di rumahnya sampai mengantarnya ke sekolah di tengah minggu seperti ini. Namun Elle tak mau ambil pusing karena yang ia tahu adalah ia sangat menyukai keadaan ini.
Dan untuk pertama kalinya setelah selama ini Draco mengantar Hermione ke kantornya. Bahkan saat mereka masih bersama Draco tak pernah melakukan hal seperti ini. Kesibukan Draco dan keengganan Hermione untuk terlihat manja di mata suaminya dulu juga menjadi faktornya. Hermione memejamkan matanya saat sun roof dari mobil Draco terbukan secara perlahan. "Cuacanya sangat cerah," Hermione berkomentar.
"Mungkin cuacanya mengikuti suasana hatimu," balas Draco yang melirik ke arah kaca spion untuk menyalip mobil di depannya dari balik sun glasses yang digunakan.
Hermione memandangya dengan mencebik namun tak sanggup menahan senyumnya. "Aku tak sebahagia itu," balas Hermione.
"Baiklah."
Draco masih menatap jalan namun tangan kirinya langsung menangkap tangan Hermione dan menautkannya. Ia sama sekali tak melepaskan pandangan dari jalanan New York yang mulai dipadati kendaraan. "Menyetirlah dengan benar," kekeh Hermione.
"Kau tahu aku handal dalam bidang seperti ini, bukan?"
Hermione mengangguk dan kali ini Draco memandangnya. "Jangan tersenyum dengan menggemaskan seperti itu, aku ingin sekali menciummu."
Hermione semakin tersenyum sumeringah untuk menggoda Draco dan pria itu hanya tertawa lalu membawa tangan wanita pujaannya itu untuk diciumnya. Beberapa saat kemudian mereka tiba di kantor Hermione dan dengan sangat tak biasa Draco ikut turun bersama wanita ini. "Kau benar-benar akan mengantarku?"
Draco mengangguk. "Hanya sampai sini."
"Jangan tersenyum seperti itu lagi," ucap Draco.
"Kenapa? Aku sangat menggemaskan? Ayolah Draco, aku sudah 32 tahun."
Draco menggeleng. "Dan kau tetap menggemaskan," ia lalu menarik Hermione dan menangkup wajahnya kemudian mencium lembut bibir wanita dengan mulut terpintar yang pernah ia temui.
Hermione masih terkejut akan hal ini. Draco Malfoy bukanlah tipe pria dengan yang akan menunjukan keintiman di depan publik seperti tadi, tapi kali ini ia tak dapat menahannya. "Sudah kukatakan kau sangat menggemaskan dan aku ingin menciummu."
Wanita itu tertawa. "Baiklah, aku akan masuk. Hati-hati saat menyetir, okay?"
Pria itu mengangguk dan langsung kembali ke mobilnya. Hermione melambaikan tangan saat Draco membuka kacanya dan mengisyaratkan bahwa ia akan pergi. Senyuman masih terpancar di wajah executive producer itu sampai ketika ia mendapati Chris berdiri tak jauh dari dirinya. Hermione menghela napas dan bersiap untuk menghadapi hal seperti ini. Ia berjalan ke arah Chris dan menyapanya. "Selamat pagi."
"Selamat pagi, Granger."
Granger. Sekarang dia bukan lagi Hermione, melainkan Granger salah satu karyawannya. Mereka berjalan beriringan sampai ke dalam elevator dalam diam, bahkan saat Hermione akan berpamitan untuk langsung ke ruangannya Chris hanya diam. Wanita ini tahu bahwa ia melihat Draco menciumnya tadi pagi. Hal itu membuat segalanya menjadi kacau. Bukan hal seperti ini yang ia harapkan. Ia tak berharap tak berjalannya hubungan mereka membuat hubungan profesionalnyapun menjadi berantakan. Jadi, tepat pada saat waktu makan siang Hermione datang ke kantor atasannya itu untuk membicarakan segala hal yang butuh untuk dibicarakan.
"Masuk," ujar suara dari dalam saat mendengar ketukan di pintunya.
Tatapannya terhenti sesaat ketika mendapati Hermione memasuki ruangan ini. "Ada apa, Nyonya Granger?"
"Aku Nyonya Granger sekarang?" tanya Hermione yang masih berdiri tepat di hadapannya sementara Chris tampak sibuk dengan segala pekerjaan di mejanya.
Akhirnya Chris bangkit dan beranjak menuju beranda dari kantornya. "Aku rasa beranda akan menjadi tempat yang tepat karena kau pasti datang bukan untuk membicarakan masalah pekerjaan, bukan?"
Hermione tak menjawab hanya keluar untuk menghampirinya. "Aku rasa kau melihat apa yang terjadi pagi ini, bukan?" ujar Hermione tanpa berbasa-basi lagi.
Ia hanya tak mau segalanya menjadi runyam dan berbicara langsung kepada pokok permasalahan menjadi pilihan yang tepat menurut ibu seorang puteri ini. Chris mengangguk untuk menjawab pertanyaan Hermione tadi. "Lalu apa yang sebenarnya ingin kau katakan?" tanya Chris yang kini bersandar nyaman di dinding beranda kantornya ini sambil bersedekap.
"Aku ingin kita bersikap profesional. Kau sebagai atasanku dan aku sebagai executive producer-mu."
Chris mengangguk. "Aku mencintaimu," ujar Chris tanpa menatap ke arah lawan bicaranya.
"Maaf?" ucap Hermione yang tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Ia tahu sejak dahulu bahwa Chris menyukainya, tapi mencintainya? Hal itu tak mungkin. Atas alasan apa ia harus menyukai Hermione, pikir wanita ini. Ia janda dengan satu anak, sementara Chris adalah seorang sosok 'husband material' yang akan diperebutkan semua wanita.
"Aku mencintaimu, Hermione," ujar Chris lagi.
"Chris."
Chris bangkit dari sandarannya dan berdiri tepat di hadapan Hermione. "Aku selalu berpikir bahwa aku selalu memiliki kesempatan untuk bersamamu, sampai akhirnya kau menerimaku untuk berkencan denganmu. Dan kemarin kau memutuskanku lalu sekarang aku melihatmu telah kembali dengan Draco Malfoy. Apakah kau masih tega memintaku untuk bersikap wajar terhadapmu?"
Hermione tak mampu membalasnya. Ia benar-benar tak tahu bahwa Chris memiliki rasa yang begitu dalam terhadapnya. "Chris," hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Hermione.
Perasaan bersalah seketika menjalar di aliran darahnya. Perasaan yang mengatakan bahwa seharusnya ia tak bermain-main dengan hati seseorang. Apalagi hati Christian Alonso, pria baik di hadapannya.
Chris tampak berusaha untuk tersenyum, namun tampak sekali gagal. "Apakah selama ini kau pernah menyukaiku?" tanya Chris yang memecah keheningan.
"Kau tahu aku menyukai," balas Hermione.
"Tapi kau mencintai Draco."
Hermione mengangguk. "Aku sudah berusaha untuk berhenti mencintainya dan mencoba sesuatu yang baru denganmu, tapi aku tak berhasil. Aku tak ingin kau semakin terluka karenaku. Ada begitu banyak wanita yang lebih tepat mendapatkanmu, Chris."
"Ada banyak wanita yang lebih tepat untuk mendapatkanku? Jadi maksudmu aku terlalu baik untukmu, Hermione?"
Hermione tak memberikan tanggapan. Kini ia yang bersedekap di pinggir beranda. "Jawaban terklise yang selalu kudengar," tambahnya lagi dengan tawa yang terdengar getir.
"Aku tak mau kau terbebani dengan perasaanku padamu. Aku akan bersikap senormal mungkin kepadamu. Keluarlah sekarang," tambahnya lagi.
Hermione mendekat kepadanya dan ia mundur perlahan. "Kau ingin kita bersikap profesional bukan? Mulailah untuk tidak terlalu sering datang ke kantorku dan aku akan mencoba untuk bersikap sewajarnya terhadapmu."
Namun Hermione tetap mendekat kepadanya. Dengan sedikit berjinjit ia mengecup pipi Chris lembut. "Maafkan aku."
Dengan dua kata itu ia pergi meninggalkan Chris.
000
Sebisa mungkin Chris menghindari bertemu dengan Hermione dan begitupula sebaliknya. Terlihat seperti anak kecil memang, tapi hal ini efektif untuk kelangsungan acara mereka.
Baru saja Hermione akan keluar untuk makan siang sebuah panggilan masuk ke ponselnya dan nama Draco terpampang di layarnya. "Ayo kita makan siang," ujarnya tanpa tedeng aling-aling.
"Hallo, honey," balas Hermione dengan nada sarkastik agar pria di seberang sana tahu bagaimana cara menelepon yang baik dan benar.
Terdengar tawa singular Draco. "Hermione Granger sayang, ayo kita makan siang," balas Draco.
"Kau sudah mereservasi tempat?" tanya Hermione yang terdengar antusias dengan ajakan Draco di seberang telepon sana.
"Reservasi? Untuk apa? Aku hanya ingin makan burger dengan kentang dan milkshake. Ada food truck di seberang kantormu yang menyajikan semua itu," balas Draco enteng.
Antusiasme yang terdengar pada Hermione sebelumnya menghilang seketika. Draco Malfoy tak pernah berubah. Ia tak akan berubah menjadi romantis hanya dalam sekejap. Sejak pertama kali bertemu hingga sekarang ia tak pernah memperlakukan Hermione dengan romantis. Bahkan saat ulang tahun Hermione dulu, alih-alih menyiapkan kejutan dan kado ia justru langsung mengajak Hermione ke sebuah pusat perbelanjaan dan mengatakan bahwa ia boleh membeli apapun yang diinginkannya. Bila Hermione tak dapat disandingkan dengan alkohol maka Draco tak dapat disandingkan dengan kata romantis.
"Kau dimana sekarang?" tanya Hermione yang sudah mengambil tasnya.
"Di lobi kantormu. Cepatlah turun."
Hermione menggeleng dan turun untuk bertemu dengannya.
Pada akhirnya ia mensyukuri dengan menu makan siang yang dipilihkan Draco untuk mereka. Hermione sangat menyukainya. Hampir empat tahun berkerja di NYNC ia tak tahu bahwa ada food truck yang menjual burger seenak ini. Mereka menghabiskan makan sianganya di mobil Draco yang terparkir tak jauh dari kantor Hermione sambil mendengar musik dan bersenda gurau.
"Ada sedikit saus di ujung mulutmu," ujar Hermione.
"Kau bisa membersihkannya dengan mulutmu."
Hermione tergelak dan memukul lengan atas Draco. "Dimana tisumu?"
"Jok belakang."
Pandangan Hermione membeku saat mendapati sertifikat rumah atas namanya berada di dalam mobil. Apakah Draco sudah berhasil menemukan pembeli dan akan segera melepaskannya?
"Dimana tisunya?"
Raut wajah Hermione berubah pucat pasi. Hatinya terasa mencelos bila sadar bahwa rumah itu tak akan pernah menjadi miliknya. "Kau kenapa?" tanya Draco yang tahu bahwa ada sesuatu yang salah dengan sosok yang kini menjadi kekasihnya itu.
"Mungkin aku terdengar lancang, tapi apakah kau akan menjual 'the white house'?"
Kini Draco yang disergap kebingungan. "The white house? Apa sebenarnya yang kau katakan?"
"Aku tahu kau memiliki rumah di Hampton atas namaku saat kita masih suami istri dulu. Aku melihat seritifikat itu tergeletak di rumahmu dan aku membacanya lalu mendatanginya."
Draco menatap Hermione yang kini tertunduk lesu. "Jadi kau wanita dengan plat mobil Manhattan yang di katakan Bob beberapa minggu lalu."
"Aku memang ingin sekali menjualnya, namun aku tak pernah sanggup. Ada banyak sekali yang datang untuk menawarnya dan terasa tak ada satupun yang tepat karena rumah itu dibangun bukan untuk siapapun. Rumah itu dibangun untukmu."
Perlahan ia mengangkat kepalanya untuk memandang Draco. "Rumah itu dibangun atas namamu, bila harus berakhir dijual kau yang harus menjualnya."
Hermione menggeleng, "Aku tak akan pernah menjualnya," tandas Hermione.
"Itu rumah impianku. Bagaimana kau mengingat setiap detailnya?" tanya Hermione.
Draco mengedik. "Aku selalu mengingat apa yang kau mau dan berusaha untuk mewujudkannya."
Hermione tersenyum dan mendekat untuk mencium Draco dengan panjang. Ia melepaskannya lalu kembali tersenyum. "Terima kasih."
"Bagaimana kalau kita berlibur akhir pekan ini disana?" tanya Draco.
"Brilian."
Draco tersenyum dan mulai mengendarai mobilnya untuk mengembalikan Hermione ke kantornya.
000
Matahari bersinar cerah pagi ini. Setelah kurang lebih 4 jam berkendara akhirnya mereka sampai di 'the white house' – sebutan Hermione untuk rumah yang dibangun Draco untuknya. Hermione masih terpana dengan design dan arsitekturnya. Ia masih tak percaya bahwa Draco benar-benar mengabulkan impiannya. Sementara itu, manik wajah serta tatapan Elle sudah tampak sangat berbinar. Ia berteriak histeris saking gembiranya melihat apa yang menjadi pemandangan halaman belakang rumah ini.
"Ini rumahmu, Dad?" tanyanya tak percaya saat berada di beranda belakang rumah ini dengan tatapan yang tak lepas memandang pantai dengan suara deburan ombak yang menggelitik pendengarannya.
Draco menggeleng. "Ini rumah kita," jawab Draco.
"I love it," pekik puterinya yang langsung kembali masuk untuk menghampiri Hermione di ruang tengah dan dengan semangatnya meminta baju renang dirinya.
Dalam sekejap saja, Elle sudah berada di tepi pantai dengan ombak yang menjilati kaki mungilnya. Ia tertawa kemudian berlari dan melambai ke arah ibunya. Sementara Draco berdiri tak jauh dari puterinya untuk sekadar mengawasi.
Selera Hermione benar-benar diturunkan kepada puteri semata wayangnya. Dari rumah ini sampai kecintaannya terhadap pantai. Seharian penuh ia menghabiskan waktunya di pinggir pantai. Hasil dari kegiatan seharian ini adalah Elle sudah tertidur pulas bahkan sebelum jam tidurnya. Draco telah mengangkat puterinya itu ke kamar sementara Hermione menunggunya di ruang tengah rumah ini. Perapian sudah menyala dan hamparan selimut sudah menghiasi sofa serta sebotol wine dengan dua gelas di sampingnya. Hampton mungkin memang memiliki pantai di sepanjang areanya, tapi udara dingin di malam hari tetap selalu menghiasinya.
Draco mengerutkan dahinya saat melihat apa yang sedang di pegang Hermione saat ini. "Apa yang kau lakukan?"
Sontak Hermione berhenti dan memandang Draco yang perlahan berjalan ke arahnya. "Menuangkan wine untuk kita," balas Hermione enteng.
"Kau harus menjaga jarak minimal radius 10 meter dengan alkohol, kau tahu itu?"
Hermione hanya tertawa lalu memberikan gelas itu pada Draco dan memberikan tanda untuk ikut duduk bersamanya. "Ada dirimu yang akan memapahku serta tempat muntahku bila nanti aku mabuk," kekehnya.
Draco mencebik mendengarnya. "Draco."
"Yaa."
Hermione ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Ia hanya menghela napas lalu menyandarkan kepalanya di dada pria ini. "Ada apa?" tanya Draco.
Akhirnya ia membuka suara dan menanyakan apa yang selam ini ia pikirkan. "Kau mengatakan bahwa kau tak pernah berhenti mencintaiku bahkan saat masa-masa perceraian kita," Draco mengangguk.
"Lalu ada apa?"
"Mengapa kau mengabulkan permintaan ceraiku bila kau masih begitu mencintaiku? Alih-alih memintaku untuk tetap di sampingmu kau malah dengan mudahnya menandatangani berkas itu," Hermione kembali menambahkan.
Draco tak langsung menjawabnya. Ia sedikit menyesap wine yang diberikan Hermione padanya. Setelah itu barulah ia membuka mulutnya. "Aku melihat sesuatu berubah di dirimu saat itu. Cahaya yang biasanya selalu berpendar dari auramu seakan lenyap dan aku tahu bahwa aku adalah penyebabnya."
Ia kembali menyesap wine itu sampai tak ada lagi yang tersisa di dasar gelasnya. "Saat kau meminta berpisah dariku, aku berpikir bahwa itu adalah satu-satunya cara agar kau bahagia. Agar cahaya itu kembali berpendar di dirimu. Aku tak mau melihat satu-satunya wanita yang kucintai hidup bagai di neraka. Aku menikahimu bukan untuk menempatkanmu di neraka, Hermione. Aku melepaskanmu, agar kau kembali menjadi seperti Hermione yang pertama kali kukenal."
Hermione mengeratkan pelukannya pada Draco. "Dan kau justru yang kehilangan cahayamu."
Draco mengangguk. "Kau tahu betapa pentingnya dirimu bagiku sekarang. Jadi aku mohon kau tak akan pernah memintaku untuk meninggalkamu lagi atau kau dengan sengaja pergi dari sisiku."
Saat mendengar permintaan Draco, hati Hermione mencelos. Bagaimana ia akan mengatakan permintaannya pada Draco saat ini? Tentang tawaran kerja yang didapatkanya. Hermione menjadi gelisah dan Draco menyadari hal itu. Sebenarnya ia tak berniat untuk mengatakannya saat ini, tapi ia tak tahu kapan waktu yang tepat. Bagi Draco pasti tak ada waktu yang tepat untuk permintaan ini. "Katakan apa yang ingin kau katakan sekarang," ujar Draco tenang.
Perlahan Hermione bangkit dan menatap Draco dengan lekat. "Aku mendapat tawaran pekerjaan baru."
"Akhirnya kau terbebas dari Chris," balas Draco spontan.
Hermione hanya tertawa. Ia tahu sekali bahwa Draco tak akan pernah menyukai Chris seperti dulu lagi karena sejarah yang pernah terjadi antara Hermione dan pria itu. "Bukan itu," balas Hermione.
"Apakah kau siap merawat Elle saat aku tak ada?"
Kali ini Draco ikut bangkit dan mereka duduk tegak berhadapan. Gelas wine yang tadi ia pegang telah di letakkannya dan sekarang ia benar-benar memasang telinga untuk mendengar apa yang akan selanjutnya akan dikatakan oleh kekasihnya ini. "Jawab aku," pinta wanita ini.
"Tentu aku siap, dia juga anakku."
Hermione mengangguk dengan sesaat kemudian menggigit bibirnya. "Aku akan pergi ke Kandahar selama satu tahun."
Draco membelalak. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Baru saja ia meminta wanita ini unuk tak meninggalkannya dan kini ia berkata bahwa ia akan pergi selama satu tahun ke kota yang hanya Tuhan yang dapat menyelamatkannya dari baku tembak yang terjadi disana hampir setiap harinya. "Kau aka kemana?" tanya Draco untuk memastikan bahwa ia tak salah dengar.
"Aku akan ke Kandahar selama satu tahun. CNN menawariku posisi sebagai executive producer di lapangan. Kau tahu ini adalah impianku sejak dulu, bukan?"
"Kau akan mati disana," tandas Draco.
Hermione menggeleng. "Aku akan mati bahagia karena aku sedang melakukan hal yang menjadi impianku selama ini."
"Dan meninggalkan segalanya. Elle dan aku."
Mereka diam. Hermione belum menjawab pernyataan kekasihnya ini.
"Kesempatan ini pernah datang padaku dulu saat kita menikah dan kau menolaknya mentah-mentah. Kau ingat itu?"
Draco mengangguk. "Aku tak yakin ada kesempatan kedua tapi ternyata aku salah. Kesempatan itu datang dan kini saat yang tepat. Bila aku harus meninggalkan Elle dengan sosok yang tepat, kau adalah orangnya."
"Tapi disana berbahaya."
"Tapi itu impianku. Kau mengatakan bahwa kau tak ingin aku kehilangan cahayaku lagi, bukan? Jadi, berhentilah mengubahku, Draco."
Draco mengambil botol wine itu dan menuangkan isinya ke dalam gelas lalu menenggaknya. "Aku akan memikirkannya. Kau sudah cukup merusak malam kita, Hermione."
Hermione mengedik. "Jadi aku akan menunggumu di kamar utama sekarang untuk menebus semuanya."
Mendengar perkataan ini mendadak Hermione terkekeh. "No clothes allowed, Granger."
Draco lalu meninggalkannya sementara Hermione masih tertawa karena sifat prianya itu.
000
Hari berganti hari dan topik tentang pekerjaan baru Hermione ini tak pernah diangkat ke permukaan karena setiap topik ini disebut hanya pertengkaran yang muncul. Hermione kesal bukan kepalang. Ia mengatakan hal ini pada Draco bukan bermaksud untuk meminta izin padanya, ia hanya menginformasikan saja. Karena sesungguhnya ia adalah wanita yang bebas dan Draco tak memiliki hak untuk mengaturnya.
Sudah hampir satu minggu mereka tak bertemu. Hermione sudah sangat pesimis dengan hubungannya dengan pria pirang itu. Mungkin mereka memang sudah ditakdirkan berpisah. Draco selamanya tak akan pernah berusaha mengerti dirinya. Akhirnya tadi saat makan siang, Hermione menghubungi Draco yang terhubungkan ke kotak suaranya. Ia mengatakan bahwa bila Draco masih tetap saja bersikap seperti ini, maka bukan hanya satu tahun ia meninggalkannya namun selamanya.
Hermione masih duduk di kantornya walaupun acara beritanya sudah berakhir beberapa saat yang lalu. Sosok yang berdiri di ambang pintunya benar-benar mengejutkannya. "Cukup satu tahun kau meninggalkanku. Aku tak siap untuk berpisah denganmu lebih lama dari itu."
Hemrione masih menatapnya pongo. "Aku akan berusaha menjaga Elle sebaik mungkin dan kau berusahalah untuk tak mati di kota itu."
Wanita itu tertawa dan berlari kepadanya. Ia langsung memeluk Draco dengan erat dan menciumi pria itu habis-habisan. "Aku serius, sayang. Bila kau mati disana, aku akan menuntut CNN sampai akhir dan mencari cara untuk ikut mati bersamamu."
"Tak lucu."
Draco mengedik. "Aku memang sedang tak melucu."
Namun Hermione tertawa dan kembali mencium prianya.
000
Satu minggu kemudian , Hermione mengurus segalanya termasuk pengunduran dirinya di NYNC. Semua orang merasa terkejut begitupula dengan Chris. Ia tak tahu bahwa Hermione akan berhenti dan pergi selama satu tahun ke untuk menjadi produser lapangan. Ia juga membawa serta Dani bersamanya. Daniela adalah belahan jiwanya di pekerjaan dan ia tak akan meninggalkanya begitu saja. Karena hal ini juga menjadi impian terdalam dari Dani. Ia bersyukur bukan main dengan ajakan Hermione ini.
Setelah semuanya terurus dengan baik, saatnya Hermione meninggalkan New York. Meninggalkan Elle dan Draco. Mereka berkumpul di airport dengan dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya. Air mata Ginny berderai begitupula degan Pansy serta Elle yang sedari tadi tak lepas dari pelukannya.
"Saat kau kembali, aku akan mengencanimu," ujar Theo spontan pada Dani.
Daniela terkekeh. "Aku akan berusaha kembali secepatnya."
Percakapan terandom yang pernah didengar oleh teman-temannya. Mereka bahkan baru pertama kali bertemu.
Seluruh sahabatnya memberikan waktu berdua untuk Hermione dan Draco. Draco mencium lembut bibirnya sambil memejamkan mata. "Jangan berikan glukosa berlebihan padanya mulai sore hari. Ingat dia alergi terhadap kacang tanah. Dan kau jangan terlalu banyak minum bir dan mulai kurangi semua junk food kesukaanmu."
"Kau sudah selesai?"
Hermione mengangguk. Draco kembali menciumnya. "Aku akan menjalankan semua permintaanmu."
"Aku menyukai dirimu versi sekarang," kekeh Hermione.
"Aku tak akan pernah merubahmu lagi, Hermione. Pergilah. Kejar semua impianmu dan segera pulang kepadaku."
Hermione mengangguk pasrah.o be
Setelah acara mengharu biru, akhirnya Hermione dan Dani berada di penerbangannya. Ia mengeluarkan kotak yang diberikan Draco padanya tadi. Tiga buah foto terdapat di dalamnya. Foto ia, Elle dan Draco sat di Bali. Foto mereka bertiga di white house serta foto ia dan Draco yang diambil Elle saat mereka tengah bergelung akhir pekan lalu. Ada sebuah tulisan tangan di balik foto terakhir itu.
I'll wait for you even for the rest of my life
I love you
Your Draco.
Air matanya meleleh dan ia mengeluarkan ponselnya lalu mengirimkan beberapa kata di e-mailnya kepada pria yang baru saja mengaduk perasannya itu.
It just take a year. Wait for me to come home
I love you too
Your Hermione.
000
How's this chap? I hope you like it. Should I end it in this chap? or should I write the finale? Even I know what u want but let me hear what u wanted hehe. Don't forget to leave your review. Every single your thought is precious to me. Thank u!:))
