You're mineā¢
Main cast : Baekhyun, Chanyeol ChanBaek
Other cast : Kyungsoo, Sehun, Kai, Luhan, Kris dll
Genre : Romance, Marriage, Drama
Rate : T
WARNING! typo(s) GS GENDERSWITCH, yang tidak suka GS mohon tidak membaca. No Bash No Blame
DISCLAIMER: Semua chara milik Tuhan, ibu, bapak, agensi masing masing, aku hanya meminjam nama doank (berharap Baekhyun jadi milik saya #plak)
...
Haaiii maaf saya ngempil diatas. Cuma mau Warning aja Chapter ini panjang lo, walau gak panjang banget. Tapi dibandingin sama Chap-chap sebelum nya ini yang paling panjang. Alesannya satu. Karena Update nya molor lama. Mianhae Chinguth... Saran aja bacanya jangan sambil lari, ntar capek lo ciyuss /apasih/ Ya udah cuman itu doank gak usah banyak omong langsung baca aja yah! *peace/salam/damai*
...
Baekhyun merasa tubuhnya terpental jauh dari aspal. Rasanya seperti melayang. Tetapi kenapa tubuhnya tidak merasakan sakit sedikit pun? Apa dia sedang sekarat? Atau langsung tewas? Baekhyun memejamkan matanya erat-erat. Ia pasrah. Jika dia harus mati saat itu juga, karena dia juga tidak bisa memilih. Tapi jika boleh jujur ia juga sedikit takut. -_-
Samar-samar telinganya mendengar sebuah suara memanggilnya. Apa jangan-jangan itu suara malaikat? Apa benar ia sudah di surga?
"Hyaaa! Apa kau ingin bunuh diri eoh? Heiii bangunlah!"
Benarkah itu suara malaikat? Kenapa aneh sekali. Kenapa malaikat itu marah-marah. Oh mungkin Baekhyun salah! Dia tidak sedang berada di surga. Tapi... Neraka? Dan itu mungkin suara malaikat penjaga pintu neraka? Ha?!
Baekhyun masih tidak mau membuka matanya. Ia takut yang dia lihat saat matanya terbuka adalah pemandangan neraka yang menyeramkan. Demi Tuhan Baekhyun tidak siap dengan semua ini.!
Namun semakin lama suara itu semakin nyata. Bahkan ia merasakan sebuah tangan menepuk pipinya semakin keras.
perih! -pikirnya- Apa dirinya belum mati? Maka secepat yang ia bisa. Baekhyun membuka matanya lebar-lebar.
Terdengar suara helaan nafas dekat sekali dengannya.
"Hahhh ... Akhirnya kau bangun juga. Aku hampir saja memberikan nafas buatan."
A-apa? Nafas bu-buatan?
.
.
.
.
.
"Lu... berapa lama lagi kau akan marah padaku? Tolong berhentilah seperti ini aku minta maaf Chagi..."
Ini mungkin sudah ke seratus kalinya Kris mencoba membujuk istrinya itu. Tetap saja istrinya cantik jelita itu tak mau menggubrisnya. Bayangkan sudah berapa hari ini sejak yeoja yang berstatus sebagai istrinya itu tidak mau menyapanya sama sekali. Boro-boro menyapa, bicara saja tidak mau. Oh Demi Tuhan, Kris bisa gila lama-lama begini.
Tapi salah Kris juga. Kemarin saat ia hampir pulang pagi, Luhan mengetahuinya. Karena yeoja bermata rusa itu belum tidur. Ditambah lagi Luhan mengendus bau alkohol pada diri Kris. Walau suaminya itu tidak mabuk. Tetap saja Luhan jengkel. Dan ketika Luhan menanyai suaminya. Kris bilang jika dirinya baru saja mengantar teman nya pulang, karena temannya dalam keadaan mabuk. Dan Kris dengan bodohnya bilang kalau temanya itu adalah seorang yeoja. Oh bagus!Jangan lupakan ekspresi membunuh dari istrinya.
Ingin sekali Kris menenggelamkan diri kedalam kubangan lumpur yang sangat dalam. Dia keceplosan.
"Lu, please bicaralah aku merindukan suaramu, jangan mengacuhkanku baby"
Kris masih saja membujuk Luhan menggunakan seribu satu jenis panggilan sayang andalannya. Tapi yeoja itu seakan menulikan telinganya oleh ocehan Kris, ia lebih memilih asyik menonton acara RunningMan. Dan tetap melengos tidak perduli. Sambil memakan cemilan yang dari tadi menemaninya itu dengan beringas.
Kris tetap tak mau menyerah. Lelaki itu mengambil posisi dihadapan Luhan dan berjongkok sambil menangkupkan tangannya di depan dada. Memasang wajah sememelas mungkin. Berharap jika Luhan luluh.
"Xiao Lu, wo dui bu qi ni!"
Brakk~ Tubuh Kris menabrak meja dibelakannya. Jengkel karena Kris tetap saja mengusiknya akhirnya yeoja itu berdiri dengan sedikit dorongan pada pundak suaminya. Mungkin jika Kris tidak sigap saat itu juga maka kepalanya sudah bocor dan dijahit karena terantuk meja kaca di belakangnya. Sial,,, yeoja ini benar-benar menakutkan jika marah.
Luhan berjalan lebar-lebar memasuki kamarnya mengambil sesuatu. Kris segera bangun dan mengejar lagi. Namun belum sempat namja itu sampai dalam kamar, Luhan sudah keluar lagi tapi kali ini memakai Jacket dan membawa ponselnya. Kris heran dan mau bertanya, tetapi ucapan yang bahkan belum keluar dari mulutnya terhenti saat Luhan memakai sepatunya dan berbicara pada telepon (sengaja) keras-keras.
"Hallo Baek, aku akan ke rumahmu sekarang! Mungkin aku akan menginap disana!"
Setelah mengantongi kembali ponselnya ke dalam saku jacket, Luhan berjalan keluar bahkan pintu tertutup dengan tidak elitnya. Kris menghela nafasnya panjang. Istrinya itu jika marah sangat menakutkan. Luhan adalah type pencemburu tingkat Akut. Dan Kris seharusnya tidak macam-macam
Setidaknya ia tahu jika Luhan akan kerumah Baekhyun. Biarkan dulu dirinya menghirup udara, sebelum menjemput istrinya nanti pulang.
"Haaaahhh... Luhannn! aku bisa gila!" ucap Kris prustasi dan menghempaskan tubuh jangkungnya pada sofa sambil mengusap wajahnya berkali-kali.
.
.
.
.
.
Baekhyun sedang sibuk mengobati luka seseorang namja yang sedang duduk di hadapannya. Tangannya yang mungil begitu terampil mengolesi alkohol untuk membersihkan sisa darah di luka pada lutut pria itu. Sesekali namja itu pun meringis karena merasa perih yang sangat saat kapas berlapis cairan alkohol itu menyentuh kulit lukanya.
"Astaga! maafkan aku! karena aku lututmu jadi begini aku tidak tahu jika akan separah ini," Ucap Baekhyun sambil mengolesi obat merah dilutut namja di hadapannya. Bagaimana tidak parah jika celana jeans namja itu saja sampai robek. Pasti lutut itu bergesekan dengan aspal tadi sangat keras.
"Bukankah sudah ku bilang tak apa. Jangan berbicara itu terus berulang-ulang," jawab Namja di hadapannya sedikit bosan, dia juga merasa tidak enak melihat yeoja itu meminta maaf terus menerus. Bahkan sedari yeoja itu membuka matanya dan membawa ke rumahnya. Baekhyun terus saja meminta maaf.
"Tapi aku benar-benar minta maaf," balas Baekhyun masih keras kepala.
"Ngg... ngomong-ngomong maaf tadi aku sudah berbicara tidak sopan padamu sonsaengnim, kukira kau tadi seorang remaja labil yang ingin bunuh diri karena ditinggal kekasihnya," celetuk namja tadi sambil tersenyum sekilas.
Baekhyun menghentikan pekerjaannya sebentar dan menatap namja yang sedang ia obati. Bibirnya ikut tersenyum, terdengar lucu jika dirinya di sebut dengan remaja labil (karena Baekhyun pikir dirinya masih begitu)
"Gwenchana, aku juga baru tahu jika kau juga Dokter di Rumah sakit tempatku bekerja."
"Namaku Kai," Ucap namja itu memperkenalkan dirinya.
Baekhyun selesai memotong plester yang menutupi perban pada luka Kai, dan memberskan peralatan P3k nya sebelum duduk sejajar dengan pemuda itu. Baekhyun mengulurkan tangannya bermaksud ikut memperkanalkan dirinya.
"Namaku Baekhyun, dan jangan panggil aku Sonsaengnim karena kita sedang tidak menangani pasien."
Kai tersenyum menanggapi perkenalan Baekhyun dan dengan senang hati menyambut uluran tangan yeoja dihadapannya.
"Aku juga...tidak terlalu suka berbicara formal pada orang lain. Jika tidak karena pekerjaanku,"
jawab Kai.
Kemudian menghadirkan tawa dari kedua manusia berbeda genre itu.
.
.
.
Baekhyun berjalan menghampiri Kai lalu meletakkan segelas teh hangat untuk tamunya itu. Kai langsung mengucapkan terimakasih.
"Ku rasa kau memang malaikatku hari ini Kai. Tadi pagi kau menyelamatkan nyawa pasienku dan barusan kau menyelamatkanku. Mungkin jika tidak ada kau tadi aku sudah tertabrak," Ujar Baekhyun membuka suaranya, yeoja itu ingat bahwa Kai adalah Dokter Kim tadi pagi yang menangani operasi pasien kecilnya.
"Kau berlebihan. Aku hanya melakukan pekerjaan ku. Tapi ngomong-ngomong kelihatannya kau perhatian sekali pada bayi itu. Kau seperti ibunya. Tidak salah jika kau menjadi dokter untuk anak-anak."
"Entahlah, melihat bayi itu sakit membuatku kasihan."
Kai megangguk-anggukkan kepalanya menangggapi jawaban Baekhyun.
"Apa kau sudah mempunyai kekasih? Jangan-jangan kau melamun saat berjalan tadi karena sedang bertengkar dengan namja chingumu!?" Tanya Kai polos.
Baekhyun tidak bisa untuk tidak menahan tawanya. Apa katanya tadi? kekasih kkkk dan Apanya yang bertengkar? Baekhyun bahkan melamun karena baru saja mendengar kata Nado Saranghae dari Suaminya. Yeoja itu benar-benar merasa konyol.
"ppppffttttttt."
Kai memiringkan kepalanya bingung mendapat respon yang aneh. Kenapa yeoja itu tertawa?
"Wae? ada yang salah dengan pertanyaanku?"
"kkkkk~ Kai, aku ini ibu rumah tanggga." jawab Baekhyun masih terkekeh.
"Mwo? jinjjayo?"
"Sungguh, kkkk apa kau menganggapku gadis remaja?"
"Oh!" Kai menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Jadi sudah menikah ya?" tanya Namja itu lagi memastikan.
"Heummm," jawab Baekhyun menampilkan eyesmilenya.
"lalu kau sendiri? sudah punya kekasih atau..."
"Aku sudah bertunangan."
"Benarkah? jadi kapan kau akan menikah?"
"2 bulan lagi aku akan pergi ke Paris dan menikah disana. hmmm sayang sekali yeoja semanis dirimu sudah ada yang punya ya?"
"Ya! kenapa nada bicaramu seperti itu. Kau tidak akan bilang jika kau menyukaiku kan?" Baekhyun memicingkan matanya menatap Kai serius, seolah namja dihadapannya itu menyimpan sejuta rahasia yang harus ia ketahui.
"Bwahahahaa pppppfffttt." Kai malah terbahak-bahak mendengar pertanyaan yang dilontarkan Baekhyun padanya.
"Ya! kenapa tertawa? Kau menegejekku eoh?" Baekhyun mengomel sambil memasang wajah pura-pura garang.
"Ani... kau lucu sekali jika wajahmu seperti itu. kkkkkk" Kai tidak menjawab pertanyaan Baekhyun malah sibuk menahan tawanya. Sedangkan sang korban hanya merengut kesal.
Tanpa keduanya sadari jika mereka terlalu akrab untuk seukurang orang yang baru mengenal, padahal mereka baru bertemu hari ini. Tapi mereka sudah seperti teman lama.
"Kai sepertinya aku lapar. Apa tadi kau sudah makan?" Baekhyun melirik kearah ja dinding berada. "Ini sudah jam setengah sepuluh, kau juga belum makan kan? Apa kau mau makan disini?"
"Jika tidak merepotkan."
.
.
.
.
Baekhyun baru selesai mencuci mangkok bekas ramen miliknya dan Kai. Diletakkan mangkok itu berjejer rapi kembali ketempat semula, lalu meraih serbet untuk mengelap tangannya yang basah. Mungkin jika tadi di dalam kulkas nya tidak kosong dia bisa memasak makanan yang lebih bergizi. Sayangnya dia lupa jika hari ini terlalu sibuk bekerja dan tidak sempat ke super market untuk belanja. Ahasil...
"Mianhae Kai, aku menawari makan tapi hanya memasak ramen untukmu," Ucap Baekhyun terdengar menyesal. Yeoja itu berjalan ke meja makan menghampiri Kai dan memberikannya segelas air putih.
"Tidak masalah, lagi pula tadi itu lezat sekali," Balas Kai mengacungkan jempolnya.
Setelah menengguk air putihnya sampai tandas Kai berdiri dan hendak berjalan menuju ruang tamu. Baekhyun melihat Kai berjalan sediki terseok-seok. Mungkin kakinya sakit sekali. Bayangkan luka gores terkena aspal pada lutut. Demi Tuhan, pasti perih sekali.
"Ya! apa yang kau lakukan, aku bisa berjalan," pekik Kai kaget merasakan tangan kecil melingkari ketiaknya... Baekhyun memapah tubuh Kai.
"Aku hanya membantumu, aku tahu lututmu pasti nyeri sekali,"
Balas Baekhyun.
Akhirnya namja itu menyerah dan membiarkan Baekhyun membantunya.
"Kai, kau pulang naik apa? Kau bilang mobilmu rusak kan?"
"Aku akan naik taksi saja. Mungkin besok mobilku sudah benar."
"Aku minta maaf disaat seperti ini, tapi aku tidak bisa membantumu apa-apa. Aku tidak bisa menyetir."
"Sudahku bilang jangan minta maaf lagi. Aku tidak apa-apa."
"Ara ara"
"Oh iya sudah hampir tengah malam kenapa aku tidak melihat suamimu juga?" Tanya Kai karena mendapati rumah Baekhyun yang masih sepi.
Baekhyun membantu Kai untuk duduk. Tangannya pun masih bertengger manis dilengan Kai.
"Dia sedang di Jeju dan besok baru pu-"
Cklek
Tiba-tiba pintu rumah Baekhyun terbuka dan menampilkan sesojok namja jangkung dengan wajah yang errrrr... berantakan.
"Chanyeol" Panggil Baekhyun kaget melihat Chanyeol yang tiba-tiba muncul. Sedangkan tadi namja itu bilang jika besok baru pulang.
Kai yang tadinya ingin duduk membatalkan niatnya. Dia juga ikut menolehkan pandangannya pada orang yang di panggil Baekhyun.
"Sunbae," Kata Kai lirih, tetap bisa didengar oleh Baekhyun yang berada disampingnya.
"Apa yang terjadi padamu Baekhyun?" Tanya Chanyeol dengan suara lantang tapi tersirat jelas nada khawatir disana. Namja jangkung itu mendekati istrinya dan segera menarik Baekhyun menjauh dari Kai.
"Akhh!" Baekhyun meringis saat tangan lebar Chanyeol menariknya sedikit kasar. Membuat Kai yang melihatnya terbeliak.
"Ada apa denganmu? kenapa kau tidak menjawab panggilanku? Apa kau sengaja ingin membuatku cemas?" Tanya Chanyeol beruntun tanpa jeda sambil menampilkan tatapan tak bersahabat pada Baekhyun. Mungkin ia kesal sudah terlalu panik pada istrinya. Ia bela-belakan pulang cepat karena begitu khawatir. Jeju-Seoul itu bukan jarak yang dekat bila ditempuh dengan mobil. Alhasil Chanyeol harus lari-larian di bandara demi mendapatkan tiket pesawat penerbangan ke Seoul detik itu juga. Tapi yang ia dapati istrinya di rumah bersama seorang namja. Siapa yang tidak berpikiran macam-macam.
Baekhyun menepuk kepalanya sebentar. Ia yakin jika tadi Chanyeol mendengar suara mobil yang hampir menubruknya. Bukankah mereka tadi sedang berteleponan. Mungkin saja setelah itu Chanyeol terus menelponnya. Dan karena Baekhyun yang terlalu sibuk mengurusi Kai , yeoja itu sampai tidak menghiraukan ponselnya yang sudah tidak bernyawa lagi. Bisa jadi itu alasan kenapa Chanyeol bisa dihadapannya saat ini.
Untuk sesaat Baekhyun tertegun karena membayangkan ternyata suaminya begitu mencemaskannya. Namun itu tidak berlangsung lama. Belum sempat otaknya merangkai kata untuk menjawab pertanyaan Chanyeol. Baekhyun dikagetkan oleh suara yang membentaknya.
"JAWAB BYUN BAEKHYUN!"
"Sunbae, jangan salah paham padanya kare-"
"Diam! Aku tidak bertanya padamu!" Potong Chanyeol atas ucapan yang dilontarkan Kai dengan nada meninggi. Ia bahkan tidak mau mendengar apapun dari namja yang berada disamping Baekhyun itu, ia sudah kesal melihat namja itu berada di rumahnya, apalagi bersama istrinya.
"Park Chanyeol maaf aku lupa menghubungimu, ponsel ku mati. Dan YA! jangan membentak Kai dia tidak salah apa-apa,!" Jawab Baekhyun dengan nada ikut meninggi, ia tidak terima jika orang yang telah menolongnya dibentak seperti itu. Itu terlalu tidak sopan untuk dilakukan. Dan ia ingin Chanyeol mengetahui penjelasannya. Tetapi Chanyeol malah semakin melotot marah kepadanya.
Baekhyun tidak tahu kenapa Chanyeol begitu berlebihan. Karena ia tidak tahu alasan sebenarnya Chanyeol marah-marah adalah karena melihat Kai disini.
Dan Kai, Sadar jika kehadirannya menambahi emosi Chanyeol. Akhirnya dia pamit untuk pulang. Mungkin Chanyeol dan Baekhyun butuh menyelesaikan masalahnya berdua.
"Baekhyun, lebih baik aku pulang dulu. Hubungi aku besok jika memerlukan bantuan dariku."
Baekhyun menganggukkan kepalanya merespon Kai, jujur hatinya juga merasa tak enak.
"Sunbae, aku permisi dulu, maaf telah membuatmu tidak nyaman." Kai juga pamit kepada Chanyeol, namun namja yang berstatus sebagai suami Baekhyun itu tidak melengos sedikitpun. Membuat Kai menampilkan senyum masam sebentar sebelum berlalu keluar dari rumah itu.
Setelah kepergian Kai keadaan menjadi hening. Baik Chanyeol ataupun Baekhyun masih betah dalam posisinya tadi. Tapi kini Chanyeol mengalihkan pandangannya ke arah Baekhyun, namja itu menatap tajam pada si yeoja.
"YA! kenapa menatapku seperti itu?" kata Baekhyun merasa tak nyaman di tatap seperti pencuri yang ketahuan mencuri.
"Apa hubunganmu dengan namja itu?" Tanya Chanyeol dingin pada Baekhyun.
"Astaga Park Chanyeol jadi kau ceburu pada Kai! Dia hanya menyelama-"
"Namanya bukan Kai. Dan jangan sok akrab denganya!"
Chanyeol memotong penjelasan Baekhyun lalu melangkahkan kakinya menuju dapur mengambil air. Mau tak mau membuat Baekhyun mengekorinya dari belakang, banyak yang ingin ia tanyakan kenapa Chanyeol sepertinya tidak menyukai Kai, namun ada baiknya ia minta maaf terlebih dahulu.
"Chanyeol-ah maaf membuatmu cemas. Aku akan menjelaskan apa yang terjadi tadi."
"Aku sudah tidak mau mendengarnya."
"Wae? bukan kah tadi kau bilang begitu mencemaskan ku?" tanya Baekhyun mendekati Chanyeol yang sedang meneguk air minumnya. Yeoja itu tersenyum lebar kearah suaminya, berharap agar Chanyeol tidak marah lagi.
Chanyeol memutar bola matanya malas melihat tingkah Baekhyun.
"Kau tahu, aku hampir tertabrak mobil karena apa?"
"Sudah ku bilang aku tidak mau dengar."
" Jebal Park Channyeol."
"Sudah ku bilang tidak mau." Namja itu berjalan menuju tangga untuk naik ke kamarnya. Baekhyun ingin mengejarnya tetapi lebih dulu di hentikan oleh suara bel rumahnya yang berbunyi.
"Siapa yang malam-malam begini bertamu." Akhirnya yeoja itu mengurungkan niatnya mengejar Chanyeol dan memilih untuk melihat siapa yang datang.
Chanyeol yang semula sudah berada di anak tangga pun ikut turun lagi. Penasaran siapa orang yang memencet bel rumahnya. Jika Kai kembali lagi maka Chanyeol sudah siap menghajarnya. Namun niatnya ia urungkan begitu mendengar bukan "Kai" Nama yang disebut Baekhyun.
"Kris? Ada apa malam-malam datang kemari?" Tanya Baekhyun begitu pintu rumahnya terbuka dan menampilkan sesosok namja tinggi di hadapannya. Chanyeol yang berada di belakang Baekhyun berusaha mengintip orang itu dari balik bahu sempit istrinya untuk memastikan. Baekhyun sempat terkejut karena Chanyeol yang tiba-tiba berada di belakangnya.
"Maaf aku mengganggu kalian. Apa Luhan disini?" Tanya Kris segera.
"Mwo? Luhan? Dia tidak kemari," Jawab Baekhyun bingung. Lalu menolehkan kepalanya kearah Chanyeol.
"Jebal.! Tolong jangan bersekongkol dengannya. Aku harus segera bertemu dengannya dan menyelesaikan masalahku," Ucap Kris tidak percaya dengan jawaban Baekhyun.
"Chanyeol, kau namja kan? jadi tolong bantu aku, katakan di mana Luhan.?" Tanya Kris mendesak Chanyeol. Mungkin Kris mengira Luhan melarang Baekhyun memberitahunya, dan memilih bertanya kepada Chanyeol.
"Hei mana ku tahu dimana istrimu. Aku baru saja pulang," Jawab Chanyeol juga ikut bingung. Apa-apaan ia ditanyai kemana perginya Luhan. Memang dia bapaknya? Ingat Chanyeol sedang kesal. Jangan membuatnya semakin emosi.
"Ayolah Chanyeol, Baekhyun katakan dimana dia sekarang?" Tuntut Kris masih tidak percaya.
"Sungguh Kris Luhan tidak disini." Baekhyun berusaha meyakinkan.
"Tapi tadi dia bicara di telepon. Menyebut-nyebut bahwa ingin kerumah Baekhyun dan menginap disinu," Oceh Kris berusaha meniru ucapan Luhan tadi.
Baekhyun menatap horror ke arah Kris. "Ponselku mati sejak tadi."
.
.
.
.
.
Luhan sudah duduk hampir 20 menit didalam bar itu. Bibir tipisnya sibuk mengomel karena baru menyadari jika ponselnya lowbat. Sebenarnya saat dirumah ia menelpon Baekhyun tadi itu hanyalah berpura-pura agar Kris tidak mengikutinya. Setidaknya sampai ia tidak merasa kesal lagi.
Tapi naas akhirnya ia terkena imbasnya. Ponselnya mati dan Luhan tidak membawa mobil saat pergi. Jadi bagaimana ia pulang nanti? Ditambah ia hanya membawa dompet kosong. ATM dan kartu kreditnya semua tertinggal di rumah. Sialll ,
"Haaaiiisshh menyebalkan sekali" Gerutu yeoja itu sambil membanting ponselnya di atas meja bartender. Di raihnya botol Vodka di hadapannya dan langsung ia tenggak isinya, tanpa memakai gelas. Mungkin kalian mengira jika sebentar lagi kesadarannya akan hilang. Namun kalian salah, yeoja ini mempunyai toleransi yang sangat baik pada alkhohol. Bahkan dulu Luhan bisa menghabiskan 2 botol wine tanpa mabuk. ckck benar-benar yeoja (super) mengerikan.
Saat sibuk menggerutu perhatiannya terusik oleh suara kursi disebelahnya yang ditarik oleh seseorang. Kepalanya ia tolehkan sebentar kepada seorang namja yang duduk disampingnya dengan ditemani sebotol bir. Orang itu sedang fokus pada ponsel di tangannya. Luhan cukup yakin jika namja disampingnya itu masih bocah. Luhan menghampiri namja disebelahnya dengan menarik kursinya mendekat. Membuat si empunya menoleh kearahnya dengan tatapan cengo.
"Wae? Ada apa noona?" Tanya namja itu mengerjap ngerjapkan matanya lucu. Demi Tuhan Luhan gemas dengan ekspresi bocah disampingnya itu. Namja tampan yang menggemaskan. Tapi ia segera ingat ia bukanlah pedofil. Segera ia kembali pada maksud tujuannya.
Luhan memasang wajah semanis mungkin sebelum membuka suaranya. Membuat namja di hadapannya semakin mengernyit bingung.
"Boleh aku pinjam ponselmu sebentar?"
"Hah...? ponselku?" tanya namja itu memastikan.
"Iya ponselmu, bolehkah ku pinjam sebentar? aku ingin menghubungi temanku tetapi ponselku mati" Jawab Luhan sambil menunjukkan ponselnya yang sudah tidak ada dayanya itu pada namja dihadapannya.
Tampaknya pemuda di hadapan Luhan itu masih sibuk berfikir. Oh ayolah berlebihan sekali. Hanya di pinjami ponsel saja sampai begitunya. Jika tidak boleh, sebaiknya cepat katakan saja.
Baiklah karena terlalu lama menunggu akhirnya Luhan jengah juga, ia anggap itu sebuah penolakan. Akhirnya Luhan menggeser kursinya menjauh dari namja itu. Lalu meminum Vodka nya lagi.
"Cih, pelit sekali" Omelnya tanpa melihat kearah namja itu.
Tanpa Luhan sadari Namja tadi mendekatinya sambil mengulurkan ponsel berchasing hitam miliknya. "Ini"
Membuat Luhan mendongak dan menatapnya tajam.
" Ah jangan menatapku seperti itu, kau menyeramkan" Kata namja itu, sedari tadi ia berbicara banmal pada Luhan.
"Tidak perlu, aku tidak memerlukannya" jawab Luhan ketus, ia terlanjur sakit hati.
"Oh ayolah! kau marah? tadi itu ponsel kekasihku. Ini milik ku" jelas namja itu sambil menggoyangkan ponsel yang tadi disodorkan pada Luhan. "Yakin tidak jadi? Yasudah" namja itu bersiap memasuk kan ponselnya kembali kesaku tetapi Luhan buru-buru meraih tangan nya.
Namja itu tersenyum.
"Kau tenang saja aku hanya meminjam sebentar, nanti akan ku ganti pulsamu, bocah"
Ujar Luhan sok sewot, ingat ia harus mempertahankan harga dirinya.
"Hahaha lucu sekali, heii namaku bukan bocah. Namaku Taeyong"
"Terserah" Luhan tidak menggubris ucapan namja bernama Taeyong itu. Ia sibuk menekan digit nomor yang ia ingat untuk di hubunginya sekarang.
"Oppa~ Apa yang kau lakukan disini? Kau berselingkuh ya!" Tiba-tiba datang seorang gadis dengan perawakan tinggi menghampiri mereka. Gadis itu tampak marah-marah tak jelas. Dan apa tadi katanya? Luhan dikatai berselingkuh dengan bocah itu? Oh For God Sake. Luhan menganga di tempatnya. Tak jauh berbeda dari Luhan namja bernama Taeyong itu pun terlihat keget oleh ucapan gadis yang baru datang itu.
"Jadi benar kau berselingkuh! Huh Kau menyebalkan!" Ucap gadis itu kesal karena tak mendapat jawaban sambil mendorong tubuh namja tadi dan pergi dari sana.
Sebenarnya bukan tidak ada jawaban. Hanya saja namja itu belum sempat mengeluarkan suaranya. Tapi gadis itu sudah mengambil kesimpulan sendiri.
"Hei, kau salah paham Chagiiiiiii~" teriak Taeyong menyusul gadis itu.
Setelah kepergian dua remaja itu. Luhan menghembuskan nafasnya Dan melanjutkan aktifitasnya menekan digit nomer di ponsel hitam itu untuk menghubungi seseorang.
"Dasar ABG labil"
.
.
.
.
.
.
Chanyeol merogoh sakunya saat merasakan ponselnya bergetar didalam sana. Matanya memicing melihat nomor yang tidak dikenal sedang menghubunginya. Hampir saja ia mengabaikan panggilan itu, kalau saja Baekhyun yang baru selesai mengunci pintu setelah kepergian Kris menginstrupsi nya.
"Kenapa tidak diangkat?" Tanya Baekhyun saat mendapati Chanyeol yang hanya memandangi ponselnya yang sedang bergetar di tangannya dengan diam saja.
"Aku tidak mengenal nomornya, malas sekali" Balas Chanyeol berniat mereject panggilan itu.
"Angkatlah dulu, siapa tahu penting!"
Chanyeol menatap Baekhyun sekilas lalu akhirnya menuruti perkataan istrinya itu.
"Yeoboseyo"
"Yeoboseyo Park Chanyeol, Aku Luhan! Apa kau sedang sibuk? Bisa kau berikan ponselmu pada Baekhyun?" Terdengar suara yeoja bertanya beruntun tanpa jeda. Chanyeol yang sudah sangat malas akhirnya mengabulkan segera keinginan sahabatnya yang sedang menelpon itu.
"Baiklah tunggu sebentar"
Baekhyun memandang Chanyeol ingin bertanya, tetapi namja itu malah menyerahkan ponsel kepadanya.
"nuguya?"
"Ini Luhan"
"Oh, Luhan kau dimana?" Tanya Baekhyun langsung saat mengetahui jika Luhan lah yang menghubunginya.
"Baek, apa tadi Kris kesana?"
"Iya! kau dimana sekarang? kau tidak tahu suami mencemaskanmu. Ada apa dengan kalian? Aku bertanya pada Kris tapi ia tidak mau menjelaskan padaku"
"Oh baguslah. Setidaknya dia tidak akan menemukan ku hari ini. Aku sedang bertengkar dengannya"
"Ataga Luhan! cepat katakan dimana kau sekarang dan biarkan Kris menjemputmmu. Bertengkar seperti anak kecil saja, sampai harus pergi dari rumah!"
"Tidak-tidak Baek, dengarkan aku, jangan hubungi Kris. Malam ini aku ingin menginap dirumah mu. Tolong jemput aku sekarang ya. Aku tidak bisa kemana-mana. Jebaal!"
"Ya! Kau kenapa? Mabuk?"
"Sudahlah jemput aku di Hongdae Club,. nanti akan aku jelas kan padamu. byeee"
"Ya Luhan, Yaaa, aisshhh bocah ini" Gerutu Baekhyun begitu sambungan teleponnnya diputus sepihak oleh Temannya itu.
"Ada apa?" Tanya Chanyeol begitu melihat ekspresi sebal dari istrinya.
"Luhan menyuruhku menjemputnya... di Hongdae Club, sekarang!"
"Mwo?"
.
.
.
.
.
Chanyeol mengemudikan mobilnya dalam kecepatan rata-rata. Jalanan Seoul malam hari sebenarnya cukup lenggang, walau tak bisa dipungkiri masih banyak juga mobil yang berlalu lalang. Namun ia tidak mau kegabah. Menyetir ugal-ugalan dalam keadaan mengantuk dan kelelahan bisa jadi nyawanya melayang saat itu juga. Eh bukan hanya nyawanya saja. Tetapi nyawa dua yeoja yang berada dalam mobil yang sama seperti dirinya.
Setibanya ia dan Baekhyun di Hongdae club tadi, namja ini tidak mau banyak bicara. Hanya memberi isyarat pada istrinya agar segera menarik sahabatnya itu masuk ke mobil dan segera pulang. Demi Tuhan hari ini Chanyeol benar-benar kelelahan, masih saja harus direpotkan oleh sahabatnya yang sedang bertengkar dengan suaminya itu.
"Ck, Park Chanyeol kelihatannya kau tidak senang sekali menolongku" Ucap Luhan memecah keheningan yang semula terjadi di dalam mobil itu.
Mau tak mau membuat Baekhyun menolehkan kepalanya kearah yeoja yang sedang duduk di belakangnya. Sedangkan Chanyeol memilih diam tidak merespon, dan sibuk berkonsentrasi menyetir, bukankah dari tadi namja itu sedang kesal. Baekhyun pun ikut diam tidak berbicara. Ia kembali menolehkan kepalanya ke depan dan terdengarlah suara helaan nafas yang sangat panjang dari Luhan.
Kurang lebih dua puluh menit perjalanan hingga tiba dirumahnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, tepatnya setelah memarkirkan mobilnya di garasi, Chanyeol segera bergegas turun dan memasuki rumahnya dengan langkah lebar-lebar. Membuat Yeoja yang berada di belakangnya hanya geleng-geleng kepala.
"Sebenarnya ada apa dengan suamimu? Baru dimintai tolong sekali saja sudah begitu sekali responnya. Apa ia tak ingat siapa yang mengerjakan tugas-tugasnya dulu sewaktu sekolah" Luhan mengoceh panjang lebar yang ditunjukkan untuk Chanyeol.
"Chanyeol baru saja pulang dari jeju tadi jam 10 kurasa dia badmood karena sedang kecapek an. Jangan marah-marah Lu. Chanyeol tidak bermaksud begitu"
Mendengar jawaban Baekhyun membuat Luhan mengerucutkan bibirnya. Jelas saja, Istri mana yang tidak akan membela suaminya.
Yeoja itu akhirnya memilih menghempaskan tubuh rampingnya di atas sofa panjang ruang tengah rumah Baekhyun.
"Ya sudah aku mandi dulu, kau bisa tidur di kamar tamu dekat tangga itu malam ini." Tunjuk Baekhyun pada sebuah kamar berpintu kayu di samping tangga.
"Lebih baik kau cepat istirahat. Atau aku akan menelpon Kris sekarang juga"
"Andweee! jangan berani-berani menghubungi Kris. Aku tidak mau mendengar suaranya atau pun wajahnya saat ini"
"Huhh setidaknya selesaikan masalahmu segera, jangan biarkan berlarut-larut"
"Aku mengerti Nyonya Park. Sudah sana pergi ke habitatmu. Bilang juga pada Chanyeol, tidak usah khawatir aku menguping kalian, jika perlu aku akan memasang headset dan menyalakan music keras-keras. Gomawo!"
"Yaaaa! bicara apa kau RUSA CHINA!"
.
.
.
.
.
Kai berjalan santai menuju ruangan seseorang, tangannya menenteng dua gelas kopi yang masih terlihat sedikit mengepul. Jika dillihat dari caranya berjalan sepertinya lukanya kemarin tidak terlalu berdampak serius.
Kai memberikan senyum ramahnya pada setiap suster dan petugas rumah sakit yang tidak sengaja berpapasan dengannya. Matanya menapilkan eyesmile yang menawan. Tak jarang juga banyak suster yang berada di "Nurse Station" terlihat berbisik saling tanya pada rekannya, kira-kira kenapa dokter tampan itu berkeliaran ke sini.
"Selamat pagi, Apa Byun Sonsaengnim berada di ruangannya?" Tanya Kai pada seorang suster cantik yang sedang menyiapkan obat-obatan untuk pasien.
"Ah Selamat pagi Sonsengnim. Ne, Byun Sonsaeng berada di dalam ruangannya, baru saja datang" Jawab suster itu ramah.
"Baiklah kalau begitu terimakasih"
"Ne"
Setelah mengucapkan terimakasih pada suster disana, Kai segera melanjutkan langkahnya menuju tempat Baekhyun, namja itu tampak mengetuk sebentar pintu kayu yang bertuliskan Ruangan Dokter Byun. tak perlu menunggu lama, suara nyaring terdengar dari dalam untuk menyuruhnya masuk.
Senyum sumringah segera menghiasi wajah cantik Baekhyun begitu mendapati Kai datang menghampirinya.
"Selamat pagi. Ini Untukmu" Sapa Kai, lalu menyerahkan segelas Kopi yang sedari tadi di tangannya kepada Baekhyun.
"Selamat Pagi, Ah Gomawo! seharusnya tidak perlu repot-repot" Jawab Baekhyun merasa tak enak.
"Ani, tadi aku pergi membeli dan teringat padamu jadi sekalian aku beli dua"
"oh hahaha, kau baik sekali Kai. Ngomong-ngomong bagaimana kakimu? Apa sekarang merasa kaku?"
"Sudah mendingan, kemarin sampai rumah segera ku kompres dan aku olesi salep. Tidak usah khawatir"
"Duduklah" Baekhyun mempersilahkan Kai.
"Terimakasih" Kai mendudukkan tubunya pada bangku di hadapan Baekhyun, lalu menatap yeoja yang baru ia kenal kemarin itu. Terlalu pede jika Kai menyebut Baekhyun sebagai temannya.
"Apa suamimu masih marah?" Tanya Kai teringat pertengkaran kecil Baekhyun dan Suaminya kemarin.
Baekhyun yang sedang menulis sesuatu segera meolehkan kepalanya begitu mendengar Kai bertanya. "Tidak, dia hanya kelelahan saja kemarin. Namja itu emosinya gampang sekali meledak. Tetapi dia tidak akan pernah betah marah lama-lama" Jawab Baekhyun menjelaskan sifat unik suaminya sambil tersenyum membayangkan itu.
Kai ikut tersenyum. "Syukurlah, jika ia tidak marah, aku sangat meminta maaf soal itu"
"Minta maaf apa? kau itu tidak salah apa-apa. Dia saja yang terlalu berlebihan. Sudah jangan di pikirkan, dan... boleh aku minum kopinya?"
"Minumlah, itu milikmu!"
.
.
.
.
.
"Park Chanyeol, apa kau masih marah padaku?" Tanya Luhan pada sahabat laki-lakinya itu.
Mereka sedang berda di ruang makan, tepatnya di rumah ChanBaek. Luhan memutuskan belum ingin pulang hari ini. Tapi tanpa gadis itu ketahui bahwa Baekhyun sudah menghubungi Kris tadi malam, dan meminta menjemput Luhan hari ini. Bukan berarti maksud Baekhyun tidak mau di tumpangi, hanya saja yeoja itu ingin masalah Luhan dan Kris segera diselesaikan saja, sebelum berlarut panjang.
Chanyeol menyeruput kopi di gelasnya dan melanjutkan pekerjaannya yang sedari tadi ditekuni namja itu. Chanyeol hari ini tidak pergi ke kantor, ia sudah ijin pada atasannya (Ayahnya) untuk libur dan mengerjakan pekerjaan nya di rumah saja. Tubuhnya serasa remuk akibat semalam kurang tidur dan ditambah perjalanan mendadaknya dari Jeju ke Seoul. Walaupun hanya memakan waktu satu jam tetapi Chanyeol tetap kelelahan. Kalian ingat sendiri kan apa saja yang sudah terjadi semalam.?
"Hei Park Chanyeol, kau tidak tuli mendadak kan?" Tanya Luhan geram juga karena dari tadi seperti orang tidak dianggap oleh sahabatnya sendiri.
"Aku heran, bagaimana Baekhyun bisa bertahan dengan suami macam dirimu huh?"
Dan kalimat terakhir yang dilontarkan Luhan berhasil membuahkan tatapan tajam dari Chanyeol. Bagus! setidaknya sekarang yeoja itu mendapatkan respon, Luhan tersenyum miring dan terlihat seakan menantang.
"Wae? marah? marah saja, kau kira aku takut?" tantang Luhan.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu dan Kris?" Tanya Chanyeol akhirnya membuka suaranya juga, Luhan cukup terkejut mendengar pertanyaan melenceng dari Chanyeol, ia kira jika sahabatnya bermata bulat itu akan marah, mengumpat atau lebih parahnya mengusirnya, tetapi ternyata yang ia bayangkan tidaklah benar.
"E.. Itu... Itu, itu tidak penting" Jawab Luhan salah tingkah. Jika Chanyeol serius begini bisa dipastikan ia yang akan kalah dan berakhir jadi bahan bullyan.
"Kubilang katakan, atau aku akan menelpon Kris sekarang juga" ancam Chanyeol, jujur ia sangat penasaran dengan masalah rumah tangga sahabatnya itu.
Luahan mengerucutkan bibirnya. "Kenapa ancamanmu itu sangat tidak bermutu. Menyebalkan sekali" kata Luhan kesal.
"Sudahlah cepat ceritakan" Desak Chanyeol, jengah melihat Luhan terlalu berbelit-belit.
"Baiklah... Aku bertengkar denga Kris karena... aku mencurigai dia berselingkuh"
Chanyeol hampir tersedak kopi yang sedang diteguknya mendengar penuturan Luhan barusan. Lalu namja itu menatap terkejut ke arah yeoja di hadapannya.
"Haa? Apa katamu? jangan sembarangan bicara Lu!"
"Aku tidak sembarangan bicara, akhir-akhir ini si tiang bule itu suka pulang kerja sampai larut malam. Aku tahu sekali jika jam pulang kerja adalah pukul setengah sembilan, tapi beberapa hari ini ia pulang hampir jam sebelas. Siapa yang tidak akan berpikir macam-macam eoh?" Jelas Luhan panjang kali lebar.
"Ya! kau jangan terburu-buru menyimpulkan itu sesuka hatimu, bisa jadi ia lembur kan?"
"Mana ada lembur tanpa mengabariku? Walau aku bukan pekerja kantoran seperti kalian setidaknya aku juga tahu! aku yakin tidak. Kau tahu, kemarin dia bahkan pulang jam satu pagi. Aku juga mencium bau alkohol. Dan dia akhirnya mengaku jika baru saja mengantarkan temannya pulang karena mabuk. Ayolah Park Chanyeol, apa lagi itu namanya jika bukan berselingkuh"
"Kau harus bertanya dulu padanya sebelum menuduhnya Lu, bisa jadi itu rekan kerjanya. Kau tahu orang-orang seprti kami itu sering sekali pergi keluar bersama hanya untuk minum bir. Kami juga butuh refreshing"
Ujar Chanyeol berusaha menjelaskan dunia para pekerja kantoran.
"Dan juga apa kau punya bukti?"
Luhan menggeleng kecil. Dia memang merasa ada benarnya tentang penjelasan Chanyeol barusan, namun ia juga masih ragu.
"Tapi-"
"Setidaknya kau harus punya bukti jika ingin menuduh orang. Kaulah yang paling tahu bagaimana suamimu itu," Potong Chanyeol cepat begitu Luhan masih ingin menyangkal.
Luhan akhirnya diam saja, merenungi setiap ucapan demi ucapan yang dilontarkan sahabatnya padanya. Memang sedari dulu Chanyeol adalah orang yang selalu berbicara bijak dan selalu benar. Walau sikapnya yang terlampau rame dan selalu bertingkah konyol itu sama sekali tidak mencerminkan jika ia benar-banar idiot. Jika kalian bertanya orang seperti apa Chanyeol dulu? Jawabannya adalah. ia seorang namja yang kelewat ramai dan terkesan serampangan. Berbeda sekali dengan sekarang yang malah terlihat sangat cool dan terkesan dingin, bahkan Luhan saja sempat heran saat pertama kali bertemu lagi setelah berpisah cukup lama.
"Ya sudah lupakan soal Kris, sekarang aku ingin bertanya padamu." Ucap Luhan berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Chanyeol hanya memandangkan seolah memberi isyarat, katakan saja.
"Yeol, sebenarnya kenapa Kyungsoo pergi ke Paris? kenapa kalia tidak ada memberitahuku? Sahabat macam apa kalian"
Chanyeol tertegun untuk sesaat. Kenapa Harus membicarakan Kyungsoo disaat seperti ini. Itu sama saja harus membuka luka lama yang belum sepenuhnya mengering di hati namja itu. Jujur Chanyeol sangat sensitif jika menyangkut nama Kyungsoo disebut.
Luhan cukup peka menyadari perubahan ekspresi aneh dari Chanyeol.
"Wae? Apa yang sudah terjadi? kenapa wajahmu begitu?"
"E... tidak ada, dia hanya ingin melanjutkan study nya. Dia ingin menjadi designer" Jawab Chanyeol singkat, namja itu pura-pura menyibukkan dirinya lagi dengan dokumen-dokumen yang sedari tadi ia kerjakan. Tiba-tiba tingkahnya terlihat kaku.
"Bukankah dia sudah kuliah jurusan bisnis bersamamu? Kau saja sudah wisuda, bagaimana bisa Kyungsoo ganti jurusan?" Tanya Luhan kebingungan. Seingatnya dulu setelah mereka lulus SMA dan sebelum Luhan memutuskan pulang ke Beijing, Chanyeol bilang jika dirinya dan Kyungsoo akan sama-sama masuk kuliah jurusan bisnis berdua.
"Dia tidak menyukainya, dan memutuskan berhenti dari jurusan itu"
"Aaaaa jadi begitu?"
Chanyeol hanya mengangguk tetapi masih fokus pada pekerjaannya.
Luhan semakin curiga melihat Chanyeol yang sepertinya menghindari pembicaraan ini. Alisnya mengernyit dengan mata memicing.
"Chanyeol... Apa sesuatau terjadi pada kalian?"
Bingo~
Chanyeol reflek menegakkan kepalanya asal. Apa iya dia harus bercerita pada Luhan? Jika boleh jujur ia ingin sekali bercerita pada sahabatnya satu itu. Ia dan Kyungsoo terlalu banyak menyimpan rahasia dari Luhan.
"Chanyeol, apa kau merahasiakan sesuatu padaku?" Tanya Luhan menuntut.
.
.
.
.
.
"Kai sepertinya bayi ini sehat sekali sekarang. Ini berkatmu. Kau dokter yang hebat"
Baekhyun dan Kai kini sedang berada pada ruangan pasien tempat bayi yang kemarin baru saja dioperasi. Alasan yang tepat sebenarnya, Tadi saat Baekhyun bertanya sebenarnya apa ada masalah lain kenapa Kai harus repot-repot menemuinya pagi itu. Akan kurang logis memang jika Kai hanya menjawab, ingin tahu apa suami Baekhyun marah atau tidak, itu pasti terdengar awkward. Akhirnya Kai bilang jika ingin melihat keadaan bayi yang kemarin dia operasi. Mendengar itu tentu dengan senang hati Baekhyun langsung membawa Kai kemari. Entahlah, apapun yang menyangkut bayi itu, sepertinya membuat Baekhyun sangat excited.
"Eh, ngomong-ngomong siapa nama bayi ini Byun Sonsaeng?" Tanya Kai sambil mengamati bayi mungil yang mulai bergerak aktif di ranjangnya.
"Aku tidak tahu, oh iya kemarin seorang suster yang menangani Ibu bayi ini memberikanku sebuah kalung, dimana ya..." Baekhyun teringat jika kemarin ada salah satu suster memberikan kalung berliontin sunshine diserahkan kepadanya, ia merogoh saku jubahnya berusaha mencari.
Kemarin kata seorang suster kalung itu adalah milik Bayi mungil ini dan Ibu bayi yang sudah wafat sempat menyerahkannya kepada mereka. Karena suster itu bingung akhirnya menyerahkan saja kalung itu pada Baekhyun.
"Oh Ini dia" Tunjuk Baekhyun sambil mengangkat kalungnya berniat memperlihatkan kalung itu pada Kai.
Kai menatap kalung itu sesaat, seperti pernah melihatnya.
"Sepertinya aku pernah melihat ini sebelumnya. Boleh aku melihatnya?" Tanya kai meminta ijin melihat kalung berbadul sunshine itu.
Tanpa ragu Baekhyun pun menyerahkannya pada Kai. Namja itu saat ini sedang berusaha mengingat-ingat dimana ia melihat kalung itu, tetapi salahkan ingatannya yang lemah. Kai tak mengingat apapun.
"Ah aku tidak ingat" Sesal Kai frustasi, karena tidak berhasil menemukan ingatannya. Tapi namja itu masih setia mengamati benda cantik itu.
"Mungkin banyak model kalung seperti ini" Celetuk Baekhyun menanggapi kebingungan Kai.
Kai akhirnya mengangguk kecil, tapi tak berapa lama ia terpekik karena melihat sesuatu pada liontin kalung itu.
"Kalung ini ada namanya" Ucap Kai membuat Baekhyun segera mendekatkan tubuhnya kearah Kai yang sedang mengeja huruf di kalung itu.
"Chando0"
"Hah?"
"Chandu. Tapi aneh sekali namanya tidak ditulis dalam hangul" Kai sempat bingung membaca nama tulisan di kalung itu. Kai sempat mengira huruf O itu angka 0.
"Waaah berarti namanya Chandu, manis sekali" Baekhyun merasa senang karena telah mengetahui nama bayi yang selama ini menyita perhatiaannya itu.
"Heum, tapi kenapa suster itu memberikan kalung ini padamu?"
"Mereka bilang karena aku dokternya, mereka mengklaim aku sebagai walinya" Jawab Baekhyun sambil terkekeh teringat perkataan suster Shin, asisten pribadinya.
"Tapi sayang sekali Chandu harus dibesarkan di panti asuhan setelah ini" Lanjut Baekhyun dengan wajah sedih.
Kai sudah tahu jika Ibu yang sebelumnya merawat bayi ini sudah meninggal. Dan kerena tidak punya pilihan lain akhirnya pihak Rumah sakit pun akan memasukkan bayi ini ke Panti.
"Kenapa kau tidak adopsi saja bayi ini?"
"Tidak semudah itu Kai. Aku tidak yakin bisa merawatnya dengan baik. Bukankah kau tahu pekerjaan ku memakan waktu banyak di rumah sakit"
"Ehm Aku tahu! Sudahlah jangan bersedih. Kau pasti bisa bertemu lagi dengannya" Kai berusaha menghibur Baekhyun dengan mengelus pelan bah dokter cantik itu.
"Gomawo. Kau adalah teman yang baik" jawab Baekhyun lirih sambil menampilkan eyesmile kearah Kai.
"Mwo? teman? aku tidak menyangka, Ah baiklah teman" Balas Kai sedikit kikuk, karena tidak bisa membayangkan sudah di anggap teman secepat ini oleh yeoja di hadapannya yang baru ia kenal kemarin itu.
Kemudian Baekhyun semakin tersenyum cerah.
"Oh iya Baekhyun, minggu depan aku sudah harus kembali ke Paris?" Jelas Kai dengan wajah sedikit muram.
"Wae? wae secepat itu? bukankah kau bilang 2 bulan lagi?" Tanya Baekhyun tidak percaya.
"Sepertinya sudah terjadi sesuatu disana" Jawab Kai menyesal.
"Ku harap kita bisa bertemu lagi Byun Baekhyun"
.
.
.
.
.
"APA? Apa yang baru saja kau katakan Park Chanyeol? Ka-kalian apa?"
Luhan ternganga begitu mendengar penjelasan Chanyeol bahwa Namja itu dan sahabat satunya lagi -Kyungsoo- berpacaran di belakangnya selama ini. Chanyeol menjelaskan bahwa mereka sudah berpacaran sejak masih sekolah bersama dan Luhan tidak tahu apa-apa! Sahabat macam apa mereka itu.
"Park Chanyeol bagaimana bisa kalian melakukan ini padaku?" Luhan menatap Chanyeol dengan pandangan yang sangat sulit dijabarkan, antara marah, kaget, kecewa dan sebagainya. Mereka adalah sahabat, dan ia merasa di khianati.
"Maaf Lu, aku memang bersalah tentang ini. Aku hanya tidak ingin persahabatan kita hancur gara-gara itu" Jawab Chanyeol -sangat- menyesal.
"Astaga! Jinjja Park Chanyeol. Kau gila" Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya dramatis. Ia ingat dulu saat dibangku SMA Chanyeol pernah sekelas dengan Kyungsoo, dan mungkin itulah yang membuat mereka dekat dan sampai berpacaran tanpa diketahui olehnya.
"Kami hanya menjalin hubungan selama enam bulan waktu itu. Kau ingat saat aku memilih liburan ke Jepang selama sebulan dulu. Itu karena aku baru putus dengan Kyungsoo"
Chanyeol masih tetap menjelaskan semuanya pada Luhan, tidak gentar sedikitpun jika langsung di maki dengan sejuta umpatan oleh sahabatnya karena telah bermain kebohongan dibelakangnya.
"Tapi aku menjalin hubungan lagi dua tahun dengan ya sebelum dia pergi ke Paris... Sampai sekarang, kami belum putus Lu" sambung Chanyeol lirih lalu menundukkan kepalanya.
Luhan segera menatap horror pada Park Chanyeol yang sedang menundukan kepalanya. Ia memang kesal, tapi yeoja itu merasa ada yang ganjil disini.
"Park Chanyeol, jangan bilang kau..."
"Aku masih mencintai Kyungsoo" ujar Chanyeol pelan, dan langsung membuat tubuh Luhan lemas.
"Jangan bodoh Park Chanyeol, kau benar-benar membuatku kecewa"
"Maafkan Aku Luhan" ucap Chanyeol lagi penuh sesal.
"Tidak- tidak, kau tidak boleh melakukan ini. Kau tidak boleh menyakiti Baekhyun!" Luhan memperlihatkan wajah cemas sekarang. Ia cemas jika Baekhyun mengetahui ini pasti Baekhyun akan sangat sedih. Demi Tuhan, Luhan sudah terlanjur menyayangi Baekhyun seperti saudaranya sendiri. Ia tidak akan rela jika Baekhyun terluka. Ia sudah tidak peduli akan penghianatan yang sudah ke dua sahabatnya itu lakukan, Sekarang ia hanya peduli pada perasaan Baekhyun.
Melihat dari cara bicara Chanyeol, Luhan sangat was-was pada namja itu, Luhan takut bila Chanyeol bisa kapan saja kembali pada kekasihnya, jika suatu hari Kyungsoo kembali.
"Aku akan memaafkanmu Park Chanyeol. Asal kau berjanji padaku"
Ujar Luhan terlihat sangat serius. Chanyeol memandangnya pun tak begeming.
"Lupakan Do Kyungsoo. Kau sudah mempunyai Baekhyun. Dan kau tidak boleh menyakitinya"
Walau Kyungsoo adalah sahabatnya sejak lama, bahkan lebih lama dari ia mengenal Baekhyun. Tapi Luhan tetap melawan egonya. Dia lebih mengkhawatirkan Baekhyun.
Namun Chanyeol hanya bungkam, membuat Luhan semakin kacau.
.
.
.
.
.
Akhirnya Chanyeol berhasil juga membujuk Baekhyun untuk dia ajak liburan. Ini bukan liburan musim panas atau pun libur Natal, Tapi libur yang dipilih Chanyeol setelah penuh pertimbangan. Ia ingin merefreshing otaknya dari pekerjaan. Juga Baekhyun, Chanyeol ingin istrinya itu tidak terlalu stres bekerja. Belakangan ini dia melihat bahwa mood Baekhyun sedikit buruk. Yeoja itu terus saja mengadu pada Chanyeol jika dirinya sedang sedih karena pasien yang paling ia sayangi sudah keluar dari rumah sakit.
Sebelumnya yeoja itu pun tetap bersikeras menolak, tapi akhirnya dengan sedikit rayuan maut dari Chanyeol, Baekhyun berhasil luluh dan mau pergi berlibur.
Chanyeol masih ingat setahun yang lalu saat dia dan Baekhyun liburan natal. Mereka pergi ke pantai, Chanyeol memang sangat menyukai hal-hal berbau air. Maka tanpa pikir dua kali namja jangkung itu mengajak istrinya bermain ke pantai, sedangkan cuaca saat itu sedang berada pada dingin paling ekstrim. Hasilnya setelah liburan selesai, hampir seminggu Baekhyun tidak turun dari ranjang. (Eits jangan berpikir macam-macam!?) Yeoja itu terserang flu dan demam parah. Jangan lupakan fakta kalau Baekhyun itu adalah orang yang tidak tahan pada udara dingin. Salahkan saja Chanyeol yang terlalu memaksa istrinya, akhirnya dia sendiri kan yang harus repot-repot merawat Baekhyun.
Baekhyun pun juga tak kalah kekanakan, yeoja itu menolak saat di suruh rawat inap di Rumah sakit. Chanyeol sampai frustasi membujuknya, tapi yeoja itu malah bilang "Aku memang menyukai rumah sakit, tapi saat aku menjadi dokter dan menangani pasienku. Tidak jika aku adalah pasien disana" dan disertai ancaman tidak mau makan.
Setelah itu Chanyeol tidak sanggup membujuk istrinya lagi. Jadinya kini ia harus benar-benar memilih waktu yang tepat untuk pergi berlibur. Contohnya seperti saat ini. Bulan September ini setidak nya tidak terlalu panas dan juga sudah menjelang musim dingin, jadi ia tidak perlu takut kulitnya akan terbakar matahari, ataupun Baekhyun yang akan sakit lagi karena kedinginan. Chanyeol merasa sangat tepat memilih waktu liburan kali ini.
Neomu joha!...
.
.
.
Mereka telah tiba di tempat yang ingin dikunjungi, Chanyeol menyadari Baekhyun yang sejak tadi tetap saja tidak fokus pada sekitarnya. Berkali-kali dia mencoba mengajak ngobrol yeoja itu tetapi hasilnya Chanyeol malah diacuhkan.
"Apa kau tetap tidak merasa senang sudah berlibur bersama suamimu?" tanya Chanyeol memecah lamunan Baekhyun.
"Ah apa?" Seakan baru kembali ke alam sadarnya yeoja itu menoleh kekiri dan kekanan seperti idiot. Saat matanya bertemu pandang dengan namja jangkung di hadapannya segera ia tersadar.
"Oh Tidak, tidak begitu. Hanya saja karena aku masih terlalu memikirkan bocah itu, kau tahu aku sangat menyayanginya" Jawab Baekhyun jujur.
"Sekarang aku tanya, lebih sayang mana ... bayi itu atau aku?" Tanya Chanyeol terlihat lebih menuntut.
Baekhyun yang sedari tadi menunduk segera menatap namja itu.
"Aisshh... kenapa malah membanding bandingkannya denganmu ?" Baekhyun menghentak hentakkan kakinya sebal, karena dirasa suaminya benar-benar tidak bisa membedakan sesuatu dengan benar!
"Itu pekerjaanku Chanyeol, dan kau itu suamiku. Apa kau masih tidak bisa membedakannya?" Tanya Baekhyun semakin terlihat kesal.
Chanyeol lalu berkacak pinggang dan menatap Baekhyun.
"Tapi sekarang kau sedang tidak bekerja Byun Sonsaengnim! Maka nikmati saja liburanmu! dan lupakan dulu pekerjaanmu!" Jawab Chanyeol tegas. Tanpa menunggu protes yang -mungkin- akan dilancarkann istri bawelnya itu. Chanyeol segera menarik Baekhyun berlari dan menuju tengah pantai. Seperti rumah panggung yang berada di atas air.
.
.
.
Baekhyun mengerjapkan matanya beberapa kali, sungguh ia kagum dengan pemandangan yang ia terhidang di depan matanya! Sebuah pantai biru yang sangat indah, dengan terumbu karang dan ikan-ikan kecil yang sedang berenang terlihat jelas dari atas tempatnya berpijak.
Baekhyun menolehkan kepalanya kearah Chanyeol, seakan membagi tatapan takjub oleh pemandangan yang terhidang di bawahnya.
"Park Chanyeol, bagaimana bisa kau membawaku ketempat seindah ini? " Tanya Baekhyun penuh binar dimatanya.
Chanyeol tersenyum sekilas.
"Kau kira apa saja yang ku lakukan disini? Apa kau lupa Jepang adalah rumah keduaku" balas Chanyeol menyombongkan dirinya.
Baekhyun hanya diam ia tahu karena yang di sombongkan Chanyeol semua adalah kebenaran. Ia jadi sedikit menyesal karena semasa remaja tidak pernah mau di ajak ayah dan ibunya liburan ke Jepang. Padahal jika diingat-ingat . Bukankah Ayah dan ibunya sering sekali ke negeri sakura ini. Atau mungkin karena Baekhyun juga yang terlalu pemilih. Ia selalu meminta liburan ke Eropa atau ke Amerika. Ckck yeoja ini.
"Ayo kita berenang" ucap Chanyeol sudah bersiap-siap menarik tangan Baekhyun. Tetapi gadis itu menahan tangannya.
"Tidak, aku tidak bisa berenang" jawab Baekhyun segera menolak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya imut.
"Kita bisa pakai pelampung "
"Aku bilang tidak mau. Kenapa memaksa sih?" omel Baekhyun kesal karena Chanyeol tetap memaksa.
"Heii kita sudah kesini jauh-jauh dan kau tidak mau. Aissh kau ini" Chanyeol sudah geram sekali pada istrinya, tapi ia coba bersabar dan tetap bersikap manis. Atau liburannya akan berantakan.
"Kau akan menyesal jika tidak mau menyelam. Percaya padaku di dalam sana ada pemandangan yang sangat indah. Ayolah " bujuk Chanyeol agar Baekhyun berubah pikiran.
Baekhyun hanya menunduk dan meremas tangannya pelan. "Aku takut air" cicit yeoja itu lirih.
"Mwo?"
"Chanyeol-ah jangan paksa aku. Aku benar-benat takut air"
Chanyeol menghela nafasnya panjang. "Byun Baekhyun, bahkan jika ada suamimu disini kau masih takut? " ujar Chanyeol menatap Baekhyun lekat.
Seakan terhipnotis. Perkataan Chanyeol bagaikan pijaran api yang menghangatkan hatinya. Tanpa sadar akhirnya Baekhyun menggelengkan kepalanya Kecil. Ada baiknya jika ia mencoba. Toh ada Chanyeol yang berjanji akan melindunginya!
.
.
.
.
.
Baekhyun mungkin akan menyesal untuk kedua kalinya karena telah melewatkan masa-masa remaja yang terlalu biasa. Seharusnya ia mencoba ini dari dulu, seharusnya ia bisa melawan rasa takutnya pada air, karena nyatanya ia begitu menyukai kegiatan ini. Menyelam kedasar Laut yang indah. Demi Tuhan, Baekhyun tidak akan mungkin melupakan pengalaman ini.
Mereka menyelam menggunakan peralatan selam biasa, sebenarnya jika ia ingin mereka bisa menyewa Glass buttom boat tropis yang bisa membuat mereka lebih leluasa mengagumi pemandangan bawah laut itu. Tetapi si namja menyarankan untuk menyelam saja, ia sudah meyakinkan si yeoja nya kalau dirinya jago berenang, dan tidak akan mungkin membiarkan Baekhyun tenggelam. Walau pada kenyataannya pun mereka mustahil akan tenggelam, karena mereka memakai peralatan menyelam yang akurat. Dan asal kalian tahu saja saat menyelam tadi Baekhyun terus saja berpegangan pada pinggang Chanyeol. Jika kalian teringat pelajaran biologi tentang simbiosis, kalian pasti tahu kan simbiosis komensalisme antara Ikan hiu dan remora? kurang lebih seperti itu mereka tadi menyelam, bedanya jika ikan remora berada di bawah tubuh hiu, kalau ini Baekhyun berada di atas Chanyeol (ckckck)
Saat tiba di laut yang agak dangkal, Chanyeol menyuruh Baekhyun melepaskan pakain selamnya, Namja itu ingin mengajak istrinya berenang, sekedar untuk mengajari yeoja itu. Namun Baekhyun lagi-lagi segera menolak. Ia tidak mau mati konyol karena ketakutan. Yang tadi saja ia masih gemetaran, walau kepuasan juga tergambar jelas pada wajah cantiknya, tapi jika boleh jujur Baekhyun masih takut setengah mati.
Setelah mereka naik ke atas, Chanyeol memperlihatkan wajah masam kepada Baekhyun, entah namja itu marah sungguhan atau hanya pura-pura agar Baekhyun mau menuruti kemauannya, ckck Park Chanyeol. Namja ini sungguh-sungguh memiliki kepribadian ganda.
"Chanyeol. Kau marah ya?" Tanya Baekhyun sambil menyenggol-nyenggol tubuh jangkung suaminya. Namun si pemilik tubuh tak menghiraukannya, Chanyeol memilih berjalan mendahului Baekhyun menuju pesisir pantai dengan langkah besar-besar. Baekhyun bahkan butuh berlari kecil untuk bisa mengimbangi langkahnya.
"Park Chanyeol kau kekanakan sekali sih! Aku bilang aku takut, kenapa kau tidak pernah mendengarkanku. Isshh benar-benar"
Baekhyun mendesis marah akhirnya, ia juga kewalahan jika selalu menghadapi sikap manja Chanyeol. Baekhyun sudah bersabar, dirinya selalu menjadi pihak yang mengalah. Dan ia jengah sekarang.
Yeoja itu menghentikan langkahnya yang semula mengikuti Chanyeol. Membuat namja di sampingnya juga ikut berhenti. Chanyeol kemudian memandang Baekhyun yang menyilangkan tangannya di dada dan memasang wajam marah. Namja iu tahu jika saat ini Baekhyun benar-benar marah, terlihat dari kedua mata sipitnya yang memerah. Baekhyun memang tidak pernah menang jika berdebat dengan Chanyeol, dan ujung-ujungnya yeoja itu akan menangis.
Baekhyun menyeka air matanya yang jatuh tanpa diperintah. Yeoja itu menggigit bibirnya sebentar sebelum berbicara.
"Jika kau marah, maka kau pergi saja sendiri. Aku akan kembali ke penginapan" Ucap Baekhyun lalu membalikkan tubunya berjalan berlawanan arah dengan Chanyeol, namun Chanyeol dengan sigap menarik tangannya dan memeluk tubuhnya erat.
"Kenapa kau menangis eoh? dulu kau tidak secengeng ini. Baekhyun kumohon jangan sering menangis seperti ini aku tidak suka, baiklah aku tidak akan memaksamu" Akhirnya Chanyeol mengalah saat itu juga. Mengalahkan egonya yang besar.
Baekhyun meremas kaos yang dikenakan Chanyeol kuat-kuat, ia mencoba menahan agar air matanya tidak mengalir. Chanyeol benar, Baekhyun memang terlalu lemah jika menyangkut suaminya itu.
Merasa jika Baekhyun sudah tenang. Chanyeol menangkup pipi bulat Baekhyun setelah melepas pelukannya.
"Baekhyun, kumohon sekali saja!"
"Mwo?"
Chanyeol nyengir lebar sampai gigi-giginya yang rapi itu terlihat semua.
"Selancar"
.
.
.
Baekhyun mungkin tidak akan pernah mempercayai lagi jika Chanyeol baik padanya, pasti di balik semua itu ada imbalan yang harus ia bayar. Baekhyun, tetap akan kalah jika melawan Chanyeol. -_-
"Park Chanyeol silahkan nikmati hari-harimu tanpa diriku setelah ini. Aku tidak yakin masih hidup setelah permainan ini berakhir" Oceh Baekhyun ketus dengan tatapan tajam kearah Chanyeol yang sedang memasangkan helm di kepalanya.
Sedangkan Chanyeol yang mendengarnya hanya tertawa keras.
"HAHAHAHAH... Bicara apa kau ini Byun Baekhyun. Bukankan sudah kubilang kau akan aman, ada Park Chanyeol disini! apa lagi yang kau takutkan. Aku kan sudah berjanji akan menyelamatkan mu jika terjadi sesuatu padamu"
"Ihhh tawamu mengerikan" Baekhyun mengerucutkan bibirnya maximal.
Chanyeol selesai memasangkan helm dengan benar. Namja itu semakin gemas melihat tinggah imut Baekhyun, ia menepuk pelan bahu Baekhyun sebelum berlalu menuju boat yang akan membawanya.
"Sudah sana cepat siap-siap. Sampa jumpa nanti"
Cup
Chanyeol mengecup bibir Baekhyun singkat, sangat singkat sebelum berjalan menjauh menuju pantai. Menyisakan Baekhyun yang diam membatu. Tak berlangsung lama yeoja itu segera tersadar saat suara seorang instruktur memanggil namanya, akhirnya ia juga buru-buru menuju bibir pantai. Dengan semangat yang menggebu-gebu tentu saja.
...
Papan selancar itu meliuk-liuk dengan indah mengikuti arus lautan yang sedikit bergelombang. Seorang profesional bahkan berani memecah gelombang yang begitu besar. Tapi Baekhyun masih tidak berani membuka matanya ia terlalu takut jika harus terjatuh dan terjungkal di air. Tidak, itu menyeramkan.
Baekhyun memegang tali yang berada ditangannya itu erat-erat kemudian sayup-sayup ia mendengar seseorang meneriakinya.
"Baekhyunnnnn! Buka matamu... Ini mengasyikkaaaaannn wuhuuuuuu"
Itu suara Chanyeol, walau masih takut tapi sedikit membuat ia penasaran, perlahan-lahan ia membuka matanya. Objek yang pertama kali ia lihat adalah Chanyeol yang agak jauh darinya berselancar menggunakan wakeboard terlihat sedang menantang gelombang besar. Ia tersenyum sekilas melihat suaminya lihai bermain selancar. Ia ingin balas berteriak tetapi tenggorokannya terlalu kering.
Namun tak berapa lama tatapannya berubah cemas setelah mendapati kalau Chanyeol termakan arus besar itu. Baekhyun pun refleks panik tidak karuan, ia lupa kalau ia sedang diatas ski sekarang. Baekhyun bergerak asal yang akhirnya membuat keseimbangannya oleng. Yeoja itu berteriak tetapi boat yang membawanya tetap melaju kencang. Akhirnya Baekhyun terpental dan jatuh ke air, ia berusaha berenang namun naas pelampungnya bermasalah. Dan tidak berfungsi dengan benar. Alhasil Baekhyun berteriak-teriak saat suaranya teredam oleh air yang semakin menenggelamkan tubuhnya.
Chanyeol merasakan kepuasan yang amat sangat saat berhasil melewati gelombang besar yang menghadangnya tadi. Namja itu bersorak gembira, dan tertawa lebar. Lalu menolehkan kepalanya kebelakang. Bermaksud melihat keadaan Baekhyun. Matanya segera membulat setelah mendapati bahwa boat yang membawa Baekhyun melaju kencang tetapi tidak terlihat Istrinya disana. Chanyeol panik bukan main, Ia berteriak memanggil nama Baekhyun namun tidak ada jawaban. Dia juga menoleh ke berbagai arah tetap tidak menemukan yeoja itu, sampai akhirnya Chanyeol melihat papan ski yang ia yakini milik Baekhyun mengapung jauh dari tempatnya. Tanpa pikir dua kali namja itu melompat dari Bboard nya dan berenang mendekati ski milik Baekhyun. Chanyeol tidak berharap Baekhyun kenapa-napa tetapi instingnya mengatakan jika Baekhyun dalam bahaya. Matanya sempat mendapati sebuat tangan melambai di dalam air itu, Akhirnya Chanyeol berenang semakin kencang ke arah itu.
"Baekhyun Bertahanlah!"
...
Setelah berenang hampir sepuluh menit akhirnya Chanyeol berhasil menemukan tubuh Baekhyun, tubuh yeoja itu sudah lemas tak berdaya. Tanpa menunggu lebih lama lagi segera Chanyeol menarik tubuh lemas Baekhyun ke tepi pantai.
Chanyeol tidak berteriak-teriak meminta bantuan, namun orang-orang disekitarnya yang melihatnya sudah mengerti apa yang harus mereka lakukan.
Namja itu cepat-cepat membuka kaos basahnya. Ia tidak sabar jika harus menunggu bantuan datang, lalu dengan instingnya sendiri ia menekan-nekan dada Baekhyun lalu melakukan CPR juga nafas buatan berkali-kali. Namja itu hampir putus asa karena tidak menemukan tanda-tanda Baekhyun akan sadar, Chanyeol terus menekan dada Baekhyun berharap jika istrinya segera bangun. Chanyeol menangis, ia menyesali semuanya. Pikirannya sudah berkecamuk, karena lemas ia menghempaskan tangannya dan menggenggam erat pasir disamping tubuh Baekhyun. Namja jangkung itu menangis sesenggukan lalu mengguncang tubuh Baekhyun.
"Baekhyun, bangunlah. jebal. Bangun"
Ia memukul kan tangannya yang mengepal ke arah pasir dengan kasar Chanyeol sudah tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Tapi Ia masih yakin Baekhyun tidak akan meninggalkannya. Lagi, dengan keyakinan penuh ia menekan dada Baekhyun sekali lagi ...
...dan akhirnya berhasil, Baekhyun menunjukkan kesadarannya dengan terbatuk-batuk dan memuntahkan banyak air dari perutnya. Yeoja itu mulai membuka matanya dan menggumam nama Chanyeol pelan. Tanpa perlu menunggu waktu lama Chanyeol segera menerjang Baekhyun dan memeluk istrinya erat. Demi Tuhan ia tidak mau kehilangan yeoja ini. Chanyeol menangis sesenggukan dalam dekapan Baekhyun. Ia menyesal, sangat menyesal.
Sedangkan Baekhyun, walau sempat merasa pening dikepalanya, tetapi gadis itu menyunggingkan senyum di balik bahu Chanyeol. Baekhyun hanya merasa...
... senang!
"Baekhyun maaf kan aku. Aku memang bodoh! Aku sudah mencelakai mu. Aku bodoh! Tolong maafkan aku" Ucap Chanyeol meminta maaf berulang ulang disela-sela isakan kecilnya. Membuat Baekhyun tersenyum semakin lebar. Pelan-pelan yeoja itu menegakkan tubuhnya untuk bangun dan menyebabkan pelukannya terlepas.
Baekhyun menatap Chanyeol yang masih tetap menangis dengan gemas.
"Park Chanyeol, apakah kau mencintaiku?" tanyanya lirih. Tiba-tiba ia ingin sekali mendengar dan melihat dengan mata kepalanya sendiri Chanyeol menyatakan itu padanya.
Ia berharap Chanyeol memang tulus mencintainya.
"Ne, Naega Neol Saranghaeyo Byun Baekhyun" Tanpa ia duga bahwa Chanyeol mengangguk cepat dan menyatakan dengan sangat percaya diri.
Baekhyun ikut tersenyum lebar melihatnya, segera ia mencium bibir Chanyeol cepat. Melumat, menjilat dan menghisap akses lebih seakan ialah profesional, yeoja itu mendominasi untuk pertama. Chanyeol sempat tersentak dan kaget, namun tak lama ia juga membalas ciuman dari istrinya itu. Tak mau kalah, kini sang namja berusaha mengambil alih permainan ia memiringkan kepalanya agar semakin dalam menjelajah rongga hangat milik Baekhyun. Membuat Baekhyun melenguh disela-sela hisapan pada bibir atas nya.
Tapi ciuman itu tidak berlangsung lama. Karena Baekhyun lebih dulu melepaskan tautan mereka untuk menatap manik Chanyeol dalam.
"Baiklah Park Chanyeol, mulai sekarang...YOU'RE MINE!" lalu kembali menghempaskan tubunya memeluk Chanyeol.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu!"
.
.
.
.
.
One Year later...
...
Hari ini Chanyeol kembali ke Seoul setelah tiga bulan lamanya ia pergi mengurus bisnis bersama mertuanya di Jepang. Ia sudah sangat merindukan istrinya yang paling cantik di Seoul ini. Berpisah selama itu, suami mana coba yang tidak merindukan istrinya sendiri. Maka dari itu hari ini ia meminta Baekhyun yang menjemputnya di Bandara.
Ya, sekarang Baekhyun sudah bisa mengendarai mobil sendiri. Jika bukan karena paksaan dan ancaman untuk namja jangkungnya itu, mungkin Baekhyun masih tetap tidak bisa menyetir. Berbulan-bulan ia membujuk Chanyeol sampai akhirnya usaha Baekhyun berhasil membuat Chanyeol luluh dan mengijinkan belajar mengendarai mobil.
Namja itu sedang berbicara pada sambugan telepon, beberapa kali Chanyeol mengucapkan "hati-hati dijalan" atau "jangan menyetir ugal-ugalan" dengan nada tegas. Ia masih was-was dengan tingkah ceroboh istrinya.
Tidak bisa dipungkiri Chanyeol sangat khawatir dengan keadaan Baekhyun, apa lagi setelah Baekhyun mengalami keguguran untuk ke dua kalinya sekitar 6bulan yang lalu. Chanyeol hancur melihat Baekhyun kembali terguncang karena mengalami hal serupa dengan 2 tahun lalu. Kasus yang hampir sama kembali terjadi lagi, Baekhyun tidak menggubris kesehatannya karena terlalu fokus pada pekerjaannya saat itu. Akhirnya ia jatuh sakit dan harus menerima kabar buruk (lagi) bahwa kandungannya yang baru berumur 4minggu tidak bisa diselamatkan. Walau masih meninggalkan bekas luka yang dalam, namun sekarang baik Chanyeol maupun Baekhyun sudah mulai menerimanya.
Namja itu menarik kopernya menuju pintu keluar. Chanyeol baru saja selesai menghubungi Baekhyun dan sedang memasukkan ponselnya kedalam saku, yeoja nya tadi bilang sudah menunggunya di luar Gate. Tanpa babibu lagi Chanyeol segera menarik kopernya dari sana.
Karena tidak hati-hati Chanyeol malah menabrak seorang yeoja mungil yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya, dan juga menarik koper besar miliknya. Alhasil yeoja itu limbung dan terjatuh. Chanyeol yang melihatnya segera menolong nya berdiri. Namja itu membungkuk berkali-kali sambil mengucapkan maaf.
"Mianhae, jeongmal Mianhae, aghassi"
"Gwenchana" yeoja itu membalas sambil mengambil tasnya dilantai.
Setelah membantu yeoja itu bangun, Chanyeol masih menunggu disana, hingga yeoja itu mengangkat kepalanya dan mengakibatkan pandangan mereka bertemu, Chanyeol terbelalak kaget. Matanya yang bulat itu semakin melebar penuh, ia merasa tubuhnya kaku semua, apa ia terkena stroke mendadak!? Oh Demi Tuhan, ia tidak pernah menyangka ini...
"K-Kyungsoo..."
.
.
To Be Continued..
Thanks all for Your Love, Your Time and Your Review #saranghaeyoo
...
Thanks you so Much :
rikamaulina94 | nelishawolslockets | IYou | AphroditeFaust | CussonsBaekBy | hunharakaisoo | welcumebaek | Parkbaekyoda | GIRLIEXO | younlaycious88 | baeksounds | ruixi | exoel |irrohsajja | baekkiepyeon | saturnusXOXO | ChanBaekLuv | thestarsbaek0506 | chanbaeklopers | Shin Yo Young | dodyoeleu | rillakuchan | JungYongie | fanoy5 | septhaca | Guest | Syifa Nurqolbiah | Guest | Rina972 | KCON | chanbaekshipp | Guest | wolfire88 | Guest | rachel suliss | KkmKAI44526 | Guest | dan Guest
Saran buat "Guest" kasih nama donk, biar bisa saya mention yaks? :)
bytheway ada yang ketinggalan kah?
...
If you interesting, so~ keep Read and Review
Annyeong!~
