Chapter 10 : Mordred
.
.
5 bulan setelahnya, usia kandungan Arthuria sudah bisa di hitung jam. Selama ini ia bersabar dalam merawat kandungannya hingga hari ini pun tiba, hari kelahiran yang sudah di tetapkan dokter spesialis kandungannya.
Pagi itu Arthuria dan Gilgamesh sudah stay di rumah dengan beberapa dokter yang akan membantunya bersalin. tapi sayang hari itu berlalu tanpa tanda-tanda akan melahirkan, bahkan ia masih menunggu sampai jam 2 pagi esoknya. Arthuria di buat kecewa.
"Maaf jika saya lancang, saya sudah memprediksi hari ini tapi sepertinya prediksi saya melesat, hari kelahiran bisa saja meleset sampai 2 atau 3 hari.. anda tak perlu khawatir nona Arthuria.. tuan Gilgamesh.." jelas sang dokter yang juga khawatir akan kondisinya. Padahal selama ini Arthuria tidak memiliki masalah dalam mengandung dan normalnya ia akan melahirkan hari ini.
Gilgamesh menghela nafas, andai Arthuria tidak di sini mungkin ia sudah memaki habis sang dokter yang sudah menipunya. Arthuria yang masih gelisah pun memilih untuk tidur sejenak di kamar yang sudah di rancang khusus untuk persalinannya, Gilgamesh hanya duduk di samping ranjang sambil menggenggam erat tangannya. Lalu suasana tegang itu dipecahkan saat ponsel pintar milik Gilgamesh berdering, ia segera mengangkat telepon yang berasal dari wakilnya itu.
"Gil! Apa proses persalinannya lancar?!"
"Dia belum melahirkan, dia tidak mersakan tanda-tanda keluar hari ini.. ada apa?!"
"Bisakah kau ke kantor sebentar? Ada beberapa dokumen yang harus kau urus untuk besok.. aku tidak berwenang untuk menandatanganinya, sebentar saja.." pintanya dengan berat hati. Gilgamesh mengerut alis, jika ia pergi dan anaknya akan keluar bagaimana?!
"Tunda saja! Aku tidak akan pergi!"
"Tunggu Gil! Ini sangat penting, jika aku tidak menyerahkan dokumen ini segera, harga saham kita bisa jatuh!"
Gilgamesh mendecih kesal, kenapa harus di saat seperti ini.
"Bagaimana kalau kau saja yang bawa kemari? Aku tidak bisa meninggalkan istri ku bukan?!"
"Eh? Tapi..."
Sebuah tangan yang lembut mendorong Gilgamesh, Arthuria yang mendorong punggungnya.
"Pergilah.. aku akan baik-baik saja.." ujarnya dengan tegar. Gilgamesh menggeleng cepat.
"Tidak akan.. aku tidak akan meninggalkanmu di kondisi seperti ini.."
"Jika kau tidak pergi.. perusahaan kita bisa kacau.. cepat pergi dan segera kembali.."
Gilgamesh bungkam, ia tidak bisa berpikir lebih lama. Ia pun memutuskan untuk segera pergi ke kantor untuk menangani dokumen itu. Sebelumnya ia mengecup kening Arthuria serta perut buncitnya, lalu segera berlari ke luar hendak pergi ke kantor. Arthuria hanya bisa melepas kepergiannya sambil menatap punggungnya yang sudah menjauh dan hilang.
"Hati-hati..." Gumamnya lalu kembali memejamkan mata. Namun di saat itu pula sebuah tekanan terasa di dalam perutnya, sepertinya bayi yang di kandungnya benar-benar akan keluar. Arthuria merintih sambil memegangi perutnya.
"No-nona! Oh tidak! Hei! Panggil semua orang! Nona Arthuria akan melahirkan sekarang! Cepat!" Seru dokter yang bersiap dengan sarung tangan di pakaiannya.
"Tapi.. tuan Gilgamesh baru saja pergi.. apa kita perlu menyuruhnya kembali?"
"Jangan!" Arthuria membantah ucapan dokter itu.
"Jangan.. dia harus pergi untuk mengurus perusahaan.. jangan beritahu dia sebelum dia kembali.."
"Ba-baik nona.."
.
.
.
Gilgamesh sudah tiba di gedung perusahaan miliknya. Ia segera berlari ke ruang Enkidu untuk detail dokumen yang di maksud.
"Gil, kau cukup berikan stempel mu di kertas ini.. sisanya biar ku urus.." ujar Enkidu sambil menyodorkan beberapa lembar dokumen yang belum selesai seutuhnya.
"Maaf Enkidu! Kuserahkan sisanya padamu.." sahutnya sambil mengeluarkan stampel yang hanya bisa digunakan olehnya. Ia menempelkan stempel itu dengan cepat ke seluruh kertas yang menumpuk, sambil menstempel ia juga harus menjawab pertanyaan Enkidu seputar apa yang akan di kelolanya. Melakukan itu cukup menyita waktu yang banyak.
Lalu di sisi Arthuria yang bertarung melawan maut, mendorong tenaga dalamnya sekuat tenaga. Para dokter spesialis membantu dengan sebisa mungkin, para pelayan rumah itu juga sibuk menyediakan berbagai macam kebutuhan yang dibutuhkan untuk itu.
Setelah selesai menstempeli semua dokumen, Gilgamesh di hadang akan masalah perusahaan lain yang rumit, ia bersama Enkidu pun segera menuntaskannya segera.
"Sial! Jangan di saat seperti ini!"
"Mau bagaimana lagi.. nasib perusahaan tergantung pada kerja kita malam ini.."
4 jam berlalu, hari juga sudah pagi, Arthuria masih belum menuntaskan masalah persalinannya. Keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya, rambutnya yang indah kini sangat kusut. Ia tak kuasa menahan sakit, lelah dan gerah yang dirasakan.
"Nona.. anda harus istirahat sebentar.. 10 menit dan kita harus mulai lagi.. dokter yang lain tolong pijat perutnya.." titah dokter itu. Yang lain mengiyakannya. Arthuria bernafas tersengal-sengal, rasanya ia akan mati saja setelah ini. Tidak! Ia tidak mau mati! Ia masih ingin terus hidup dan melihat anaknya yang pertama. Arthuria berteriak sekuat-kuatnya, mengeluarkan seluruh tenaga yang ia miliki dan berjuang menantang maut.
"Arthuria!" Gilgamesh pun akhirnya datang, ia sangat kaget saat baru pulang sudah mendengar kabar kalau Arthuria sedang melahirkan 4 jam yang lalu. Tepat setelah ia pergi.
"Kenapa kau tidak bilang padaku dari awal?!" Serunya sambil mengenggam tangan Arthuria dengan kedua tangan. Ia sangat menyesal telah meninggalkannya yang melawan maut sendirian.
"Sekarang kau kembali.. syukurlah.. berarti masalah perusahaan sudah selesai.. "
"Jangan pikirkan masalah itu! Sekarang kau berusahalah!" Gilgamesh makin erat menggenggam tangannya. Arthuria tersenyum kecil, lalu manarik nafas dalam, dan melepasnya tenaga yang kuat. Tangan Gilgamesh yang menggenggamnya sudah memberikan kekuatan yang besar, ia hampir merenggut nyawanya sendiri untuk sisa tenaga yang ia miliki hingga anak yang berada dalam perutnya pun keluar dengan normal dan selamat. Suara tangisan bayi mengakhiri perjuangan terberatnya, Arthuria mulai mengatur nafasnya kembali. Gilgamesh menekukkan kepalanya dalam di genggaman tangannya sambil mengeluarkan air mata, tangan Arthuria mulai melemah, terasa dingin. Gilgamesh mengangkat kepalanya dan mendapati Arthuria yang pingsan seketika.
"Arthuria.. Arthuria.. kau baik-baik saja kan? Jawab aku Arthuria?!" Serunya sambil memeluk kepalanya yang terkulai lemas.
"Tuan Gilgamesh, mohon tenang dulu. detak jantung nona saat ini tidak stabil, kami akan segera menanganinya. mohon anda keluar dulu"
"Oi! Kau kira kau ini siapa beraninya menyuruhku keluar! Apa kau mau mati?!"
"Maaf tuan, kami tidak bisa menuruti permintaan tuan, kalau tidak nyawa nona tidak bisa kami selamatkan.."
"Lalu! Bagaimana dengan anakku?!"
"Dia selamat, jantungnya berdetak normal"
Gilgamesh diseret paksa oleh orang-orang yang ia sewa sendiri. Gilgamesh masih menangis, ia sangat takut jika Arthuria mati sekarang. Itu adalah ketakutan terbesarnya.
Sesaat kemudian Enkidu datang dengan nafas terengah-engah karena baru saja berlari kesini, saat melihat Gilgamesh yang berlutut di depan ruang bersalin pun sempat bersimpati padanya, pasti terjadi sesuatu pada Arthuria.
Lalu tak lama setelahnya, Arthur sang kakak juga baru datang dari London. Ia mendengar kabar bahwa Arthuria akan Melahirkan sekarang dan sudah secepatnya datang ke sini. Tapi sepertinya ia terlambat, setelah melihat Gilgamesh yang menangis terisak-isak di dada Enkidu. Enkidu menepuk-nepuk bahunya untuk segera tenang.
"Hei.. Gilgamesh! Apa yang terjadi pada Arthuria dan anaknya?! Mereka baik-baik saja kan?"
"Arthur! Kau juga harus tenang! kita belum tahu kondisi Arthuria sekarang, tapi anaknya lahir selamat.." jawab Enkidu pelan. Arthur menggertakkan giginya kesal, lalu memukul dinding dengan kuat untuk meluapkan emosinya. Suasana jadi hening, hanya isak kecil Gilgamesh yang terdengar. Sampai akhirnya seorang dokter keluar dari ruangan itu, sontak Gilgamesh buru-buru menghampiri dan menjambak kerah bajunya.
"Katakan apa yang terjadi pada istriku!"
"M-m-maaf tuan Gilgamesh sudah membuat anda khawatir.. sekarang nona sudah baik-baik saja dan kini tengah tertidur karena lelah.. tadi detak jantungnya sempat melemah, lalu kami sudah mengembalikan kondisinya dan kini anda boleh menemui-" belum sempat dokter itu menjelaskan, Gilgamesh sudah mendorongnya menjauh dari pintu dan segera menghampiri Arthuria yang tertidur pulas diatas ranjang. Nafasnya juga mulai teratur walau wajah dan rambut sudah kusut dan acak-acakan, tapi masih belum mengurangi kecantikannya yang sangat besar.
Gilgamesh berlutut padanya, membelai rambutnya dengan lembut sambil bernafas lega. Enkidu dan Arthur yang sudah mengikutinya juga ikut bernafas lega. Seorang pelayan wanita di rumah itu memasuki ruangan, sambil menggendong bayi yang sudah bersih dan di balut dengan kain putih yang bersih.
"Tuan Gilgamesh.. silahkan gendong bayi anda.." ujarnya lalu menyerahkan bayi itu padanya. Gilgamesh seketika terkesima dengan bayi yang masih merah tengah tertidur lelap, helaian rambut yang cuma di hitung jari berwarna pirang, hidung mungil dan matanya yang besar sangat menyerupai Arthuria.
"Jadi.. ini anak yang selalu ku dambakan kehadirannya.. yang selalu ku mimpikan setiap malam akan sosoknya.." lagi-lagi air mata jatuh dari pelupuk matanya. Ia sangat bahagia saat melihat anak pertamanya, mulai sekarang ia sudah resmi menjadi seorang ayah. Memikirkannya saja sudah membuat jiwanya terbang tinggi, ia masih menitikkan air mata di depan anaknya.
Enkidu dan Arthur saling pandang, lalu menatap Gilgamesh dengan senyum yang tulus.
"Akhirnya aku bisa melihatnya telah menjadi seorang ayah.. jika aku mati sekarang mungkin aku tidak akan menyesalinya"
"Ya.. walau aku benci mengakuinya, tapi aku yakin Arthuria akan bahagia jika bersama orang sepertinya.." mereka pun tersenyum kecil kepada Gilgamesh yang begitu haru menangis sambil menggendong anaknya.
.
.
.
2 hari setelahnya, Arthuria akhirnya bangun dari komanya. Ia masih merasa sakit dan lelah, berbagai alat seperti saluran infus, kantong darah, dan pendeteksi detak jantung masih menempel di tubuhnya. Ia menatap ke sekeliling ruangan, ia hanya mendapati 2 orang pelayan yang sibuk mengganti infusnya lalu mengelap keringat yang mengalir di pelipisnya.
"Hei.. dimana anakku?.." tanya Arthuria dengan suara serak dan lemah.
"Anda tidak perlu khawatir nona, Saat ini anak anda sedang bersama tuan Gilgamesh.." jawab pelayanan yang satu, dan yang satunya lagi bergegas keluar mencari Gilgamesh.
Tak lama pelayanan itu kembali dengan Gilgamesh bersamanya, yang berjalan pelan sambil menggendong bayi kecilnya. Arthuria pun tersenyum lembut, lalu memaksakan diri untuk duduk. Dua pelayan itu pun segera pergi meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.
Gilgamesh memberikannya kepada Arthuria, membiarkan sang ibu yang susah payah melahirkannya untuk memeluknya.
"Bayi yang sehat dan cantik.. lihatlah wajahnya yang seperti duplikat dariku.." pujinya sambil menatap lembut bayinya yang masih terlelap. Gilgamesh pun duduk disebelahnya, merangkul bahunya lalu mencium pucuk kepalanya lembut.
"Kau benar.. tapi matanya mirip dengan ku.. lalu bibirnya.." Gilgamesh tak mau kalah, Arthuria terkekeh pelan.
"Gil.. apa kau sudah memikirkan nama untuk anak gadis kita?" Tanya Arthuria kemudian. Gilgamesh pun tersenyum kecil.
"Sudah.."
"Benarkah? Siapa?"
"Mordred Pendragon"
Arthuria terdiam, Gilgamesh menggunakan nama keluarganya untuk anaknya. Gilgamesh tidak memiliki nama keluarga, jadi ia menggunakan nama keluarga Arthuria untuk anaknya. Arthuria tersenyum kecil.
"Seperti nama laki-laki saja.."
"Eh?! Tapi itu nama yang keren, bahkan aku sudah memikirkannya sebelum lahir.. jadi bisa ku gunakan untuk laki-laki juga.."
Arthuria tertawa lepas. Lucu sekali alasan Gilgamesh memberinya nama Mordred padahal ia tahu kalau yang lahir adalah perempuan, tapi itu adalah nama yang bagus dan terdengar kuat. Kelak anak ini akan menjadi anak yang tangguh dan berani serta cantik seperti namanya.
.
.
.
.
.
.
.
6 tahun kemudian. Di kediaman bak istana negara, hidup sebuah keluarga kecil yang sangat harmonis. Arthuria kembali ke jabatannya sebagai wakil direktur utama, Enkidu kembali keluar negri dimana ia sekarang bekerja di perusahaan milik Arthur. lalu Gilgamesh yang menjadi direktur utama, tapi hari ini mereka berdua memilih menghabiskan waktu di rumah untuk beberapa hari hanya karena ingin melihat anaknya yang akan memasuki taman kanak-kanak. Sang gadis kecil anak mereka, Mordred, tumbuh menjadi gadis cantik jelita yang sangat periang. Rambut pirangnya indah, iris emerald yang tajam, lalu sikapnya tak jauh beda dengan sang ayahnya. Arthuria cukup kerepotan dengannya.
"Ayah! Ibu! " Panggilnya kepada Gilgamesh dan Arthuria yang tengah duduk berdua di ruang keluarga sambil menikmati teh siang itu.
"Ada apa sayangku?!" Sahut Gilgamesh sambil memeluk Mordred yang sangat ceria.
"Ayah tahu tidak!? Tadi aku menghajar anak SD yang jahat pada teman-temanku. Mereka terlalu lemah untuk berhadapan dengan Mordred ini!." ujarnya bangga. Arthuria tersendak teh saking kagetnya.
"Moo-chan! Kau tidak boleh berkelahi! Kau itu perempuan ingat?!" Serunya.
"Ehh?! Tapi mereka jahat ibu! Mereka memukuli Gawain jadi aku marah dan memukulnya juga.. aku gak salah kok.."
"Tidak boleh! Kau harus tenang menghadapi masalah.. kalau Gawain di pukul, yang perlu kau lakukan adalah melaporkannya kepada guru.. mengerti?!"
"Ngak! Kalau aku lapor ke guru itu kelamaan, nanti Gawain malah mereka pukul lagi.. akan cepat jika aku pukul mereka.. kan ayah?!"
"Kau benar anakku! Mereka itu anak lemah yang tidak tahu siapa anakku! Hahahaha"
Mereka berdua pun tertawa lepas, Arthuria menggeleng kepala, ini anak sama bapak gak ada bedanya.
Mordred yang di harapkan tumbuh menjadi anak yang elegan pun berubah menjadi anak yang tomboi dan tidak mengakui statusnya sebagai perempuan, Arthuria ngidam apa sampai punya anak seperti itu. Tapi Gilgamesh berbeda, dia sangat bangga ternyata anaknya tumbuh sesuai dengan keinginannya, menjadi anak yang kuat, tangguh dan pandai membela diri.
Walau Mordred seperti itu, tapi ia masih memiliki sisi yang baik. Ia suka menolong teman-temannya, suka bergaul dengan laki-laki maupun perempuan, memiliki banyak teman di usianya yang belum memasuki jenjang sekolah dasar. Arthuria juga harus mensyukuri itu, walau Mordred mewarisi seluk beluk wajahnya, tapi sifatnya mewarisi seluk beluk sifat ayahnya. Arthuria hanya bisa menarik nafas panjang.
"Ayah! Aku boleh main bola bersama teman-teman ku?!"
"Boleh, pulangnya jangan sore ya.."
"Ibu?!" Mordred menatapnya dengan wajah yang berbinar-binar. Arthuria menarik nafas lalu melepasnya berat.
"Ya.. tapi jangan berkelahi lagi.."
"Yeeyy!" Seru Mordred girang lalu berlari meninggalkan mereka. Arthuria memijat pelipisnya capek. Gilgamesh pun menghiburnya dengan memijat-mijat bahunya.
"Jangan terlalu kaku padanya, kau tahu Mordred sangat menyayangimu lebih dari siapapun.. jangan buat dia kecewa karena kau memaksanya menjadi orang lain.." ucapnya lembut, sosoknya kini seperti seorang Ayah yang baik.
"Kau benar Gil.. aku hanya tidak tega jika suatu hari dia pulang dengan wajah babak belur.."
"Jika itu terjadi, biarkan saja.. itu adalah pelajaran baginya agar jadi lebih kuat lagi.."
Arthuria terdiam, kata-kata Gilgamesh memang ada benarnya.
"Tunggu, kau berkata seolah ingin anak kita tumbuh menjadi lelaki?!"
"Ahahaha, kau bilang apa?! Kalau dia maunya begitu ya biarkan saja.." Gilgamesh berhenti memijatnya, ia mendekatkan kepalanya ke leher Arthuria lalu menjilati lehernya, tangannya sudah meraba-raba bagian bawahnya. Gilgamesh juga menjilati daun telinganya dengan lidah yang liar. Arthuria mendesah geli.
"Kau mau memberikan Mordred seorang adik ya?" Ujar Arthuria dengan senyum centil lalu mencium bibirnya. Gilgamesh terperangah akan ciuman itu.
"Kali ini pun aku akan pakai kondom, pokoknya aku tidak mau melihatmu bertaruh nyawa lagi seperti dulu.." tukasnya. Walaupun ia berkata begitu, tapi disisi lain ia sangat menginginkan anak yang banyak darinya. Arthuria tersenyum kecil lalu menjerumuskan diri ke pelukannya.
.
.
.
.
TBC
Tenang.. saya masih hidup kok :'
Terimakasih udah baca komik ini.
Sebenarnya udah tamat di bagian ini sih cuma masih ketagihan lanjut, lanjut aja deh hehe.
