Disclaimer : I do not own Naruto.

WARNING : RATE M! NC-17.

Words : 3.075. One-shot.

KONTEN MULAI DEWASA. YANG DIBAWAH UMUR DILARANG BACA! I WARNED YOU!

DONT LIKE, DONT READ. DONT COMMENT!


Knot.

By VikaKyura.

- Midnight -


"Kenapa harus gelap-gelapan?" tanya Sasuke penasaran.

"Supaya lebih bisa menghayati saja." Ino terkekeh. Safir birunya berpendar saat merefleksikan cahaya televisi yang merupakan satu-satunya sumber penerangan di ruangan itu.

Keduanya sedang duduk lesehan di atas karpet. Punggung Sasuke bersandar pada sofa, sementara kedua lengannya mendekap tubuh Ino yang sedang menyender nyaman pada dada bidangnya.

Lelaki itu menunduk untuk memperhatikan adiknya. Si gadis masih asik mengunyah camilan sambil terus menonton tayangan film yang sedang diputar di layar kaca sedari tadi. Sasuke mengerutkan kening. Si adik terlalu serius pada tontonan dan makanannya, sampai-sampai sang kakak merasa terabaikan.

Maka, ketika Ino hendak mengangkat tangannya lagi sejajar mulut, Sasuke segera menahan suapan tersebut.

Sontak gadis itu mendongak, seraya sedikit memutar kepalanya ke arah sang kakak.

"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya suara maskulin Sasuke.

"Hn?" Alis pirang Ino sempat terangkat. "Ah, ini?" Ia mengacungkan sebutir cokelat di tangannya. "Aku sedang makan cokelat, memangnya nii-chan tidak lihat?"

Sasuke menatap gadis itu datar. "Bukannya kau punya pantangan untuk tidak makan camilan malam-malam?"

Diingatkan seperti itu, Ino malah menyeringai tanpa beban. "Nonton film tengah malam tidak akan lengkap tanpa ngemil." Jawabnya enteng, masih memamerkan sederetan gigi putihnya. "Lagipula besok weekend, kau jadi bisa menemaniku berolahraga seharian kan. Hehe."

Dilihat Ino, sang kakak merengut. Untuk urusan tersebut, entah mengapa Sasuke selalu diikut-sertakan. Tetapi lelaki itu tidak pernah menolak, hanya diam saja sambil mengerutkan keningnya. Berterimakasih pada adiknya yang gemar berolahraga itu, kakaknya jadi ikut terkena imbasnya. Badan Sasuke jadi ikutan tegap dan atletis.

Ekspresi Sasuke membuat Ino lanjut terkikik geli. "Mau?" tawarnya, sengaja mengangkat tangannya mendekati mulut kakaknya.

Sasuke mendelik singkat ke arah cokelat berbentuk bulat yang sedang teracung itu. Kemudian diraupnya makanan tersebut tanpa ragu, membuat Ino tertawa kecil melihatnya. Namun, bukannya segera mengunyah dan menelannya, Sasuke malah menekukkan kepalanya untuk mendekati wajah Ino. Lelaki itu menyuapkan cokelat tersebut pada adiknya, langsung lewat mulutnya.

Sasuke sengaja mengemut lama-lama bibir ranum si adik dan butir cokelat itu secara bersamaan.

"Upft," Ino dibuat kaget dengan suapan dadakan tersebut. Ia segera mengunyah makanan yang telah masuk di mulutnya itu dengan cepat, dan menelannya sekaligus.

Gluk.

Setelah mulutnya kembali kosong, sontak gadis itu menggembungkan pipinya. "Huh. Kalau tidak mau ya sudah." Gerutunya, masih agak kaget tapi sama sekali tidak terdengar jengkel. Sebersit garis merah mulai muncul di pipinya, karena barusan bibir sang kakak mengecup miliknya.

Kini Sasuke yang terkekeh melihat adik tirinya itu sedang cemberut menggemaskan.

Ketika Ino hendak kembali menarik kepalanya, Sasuke segera menahan dagu gadis itu agar Ino tetap mendongak kepadanya. Si lelaki kembali menurunkan kepalanya, sekarang untuk meraup lembut bibir si gadis. Kali ini benar-benar mencium bibir adiknya itu.

Meski sedikit dibuat terkejut, si gadis merespon dengan memejamkan mata. Ia tak menolak lumatan pelan mulut Sasuke di bibirnya. Sepertinya Ino tak akan pernah bisa menolak.

"Aku mau." Bisik Sasuke sesaat setelah melepas ciumannya. Jemarinya mengusap bibir lembab milik adiknya. "Ini manis. Aku suka." Lanjut lelaki itu, entah merujuk pada cokelat atau bibir Ino. Yang jelas si lelaki sedang menjilati noda cokelat yang sekarang menempel di bibirnya.

Ino merona. Ia segera meluruskan kepalanya ke depan dengan gerakan canggung, tiba-tiba saja merasa gugup. "Eerr, mau lagi?" tanya gadis itu, kembali mengacungkan butiran cokelat selanjutnya. Tanpa menoleh lagi.

"Hn," gumam Sasuke, kali ini benar-benar memagut cokelat tersebut dan memakannya.

Lelaki itu menyandarkan kepalanya di sebelah sisi kepala pirang si gadis, dan memeluk tubuh mungil itu lebih erat lagi. Membuat Ino meringsut nyaman. Gadis itu terus menyuapi kakaknya sampai camilannya habis tak bersisa.

Seterusnya mereka lanjut menonton film komedi romantis itu dalam diam. Ralat, tepatnya Sasuke yang diam kebosanan, sementara Ino terus-terusan terkikik melihat serangkaian adegan konyol di layar kaca.

"Kalau bosan mendingan nii-chan tidur saja." Ujar Ino saat merasakan pundaknya berangsur memberat akibat menumpu kepala Sasuke. Jemarinya membelai pelan rambut raven sang kakak.

Sasuke tak menyahut. Ia memang sudah bosan menonton, tetapi memeluk manja adiknya seperti ini sama sekali tak membuatnya mengantuk. Lelaki itu malah asik mengendus-endus leher Ino. "Memangnya, siapa yang memaksa untuk ditemani nonton film tengah malam begi—"

"Ah!"

Ucapan Sasuke terpotong saat Ino mendadak memutar tubuhnya menghadap lelaki itu, dan bangkit bertumpu di lututnya. Si gadis cepat-cepat menempatkan telapak tangannya untuk menutup kedua mata Sasuke.

Si lelaki agak tersentak. "Apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya. Penglihatannya tiba-tiba berubah gelap. Tapi adiknya tak menjawab. "Lepaskan tanganmu, Ino."

Masih menengok ke arah televisi, gadis itu berucap. "Tidak bisa, Kak. Kau dilarang untuk melihat."

"Hm?" Sasuke mencoba menarik lengan Ino, tapi si gadis tetap berusaha menutupi penglihatannya. "Kenapa?" tanya Sasuke lagi.

"Adegannya tiba-tiba berubah panas."

Sasuke merengut. "Lalu?"

"Umm, kau bisa berpikiran mesum kalau lihat."

Mendengar jawaban polos adiknya itu, refleks Sasuke mendengus geli. "Aku bukan anak kecil." Ia menggenggam kedua pergelangan tangan Ino, dan menurunkan paksa lengan gadis itu dari matanya.

Si gadis berjengit. Spontan ia kembali menghalangi Sasuke untuk melihat, tapi kali ini menggunakan dadanya. Ino menenggelamkan wajah Sasuke di sana.

Sial. Ino meringis. Adegan di layar televisi sedang panas-panasnya. Malahan suara pekikan akh uuhkh, desahan ah aahh bahkan erangan mnn eeumhh sudah mulai terdengar.

Demi apa! Hinata tak pernah bilang kalau film komedi yang direkomendasikannya ada adegan vulgar sampai separah ini! Sengaja menyuruh Ino menonton film tersebut dengan kakaknya segala. Gadis jahil itu pasti sudah ketularan mesum dari pacarnya. Kubunuh kau nanti, Hinata.

Sambil masih menyumpah dalam hati, Ino mendecak ngeri pada televisi. Tapi kini tangannya sedang digenggam sang kakak, jadi Ino tidak bisa meraih remote untuk mematikan tayangan porno itu.

"Filmnya benar-benar berubah erotis sekarang. Lebih baik nii-chan jangan menonton." Ujarnya berusaha tetap kalem. Kini tangannya mencoba untuk menutup paksa telinga si lelaki.

Pelipis Sasuke berkedut. "Dan kau bebas untuk menontonnya?" suaranya serak akibat teredam dada Ino.

Ino agak melonjak saat merasakan nafas hangat Sasuke menyentuh kulit di dadanya ketika lelaki itu bicara, yang memang daerah tersebut selalu lebih sensitif dari pada area lain tubuhnya. Tapi gadis itu tetap berusaha menata diri.

"W-well, riset mengatakan otak wanita tidak akan langsung terkoneksi pada pikiran mesum, beda dengan laki-laki. Jadi aku bisa tahan."

Sasuke mendenguskan kekehan lagi. Lalu tanpa aba-aba, kedua tangannya yang semula menggenggam lengan Ino, kini mulai pindah mendekap erat punggung gadis itu. Si gadis memekik.

"Asal kau tahu," bisik Sasuke, "Posisimu sekarang ini saja cukup bisa membuatku berpikiran seperti itu."

Dirasakannya, badan si gadis mulai menegang.

Seketika Ino melepaskan wajah kakaknya dan segera merenggangkan tubuhnya. Ia menunduk untuk menatap kaget Sasuke yang sedang mendongak padanya. Safir biru beningnya melebar. "N-nii-chan juga bisa berpikiran mesum?"

Sasuke balik menatap adiknya datar. Memangnya gadis itu menganggapnya apa, eh? Bocah ingusan? Lelaki suci? Pria yang kelewat polos?

Kheh. Sasuke tertawa. "Hn. Sedari tadi." Bisiknya sensual. "Aku sudah memikirkan hal-hal mesum yang bisa saja kulakukan padamu, sejak tadi." Ulangnya, sambil onyxnya menelusuri kulit mulus adiknya yang hanya terbalut oleh gaun malam minim berwarna putih susunya yang biasa.

Ino membulatkan aquanya lagi. Seolah tak pernah menyangka kakaknya yang so cool itu ternyata memang bisa berpikiran kotor, seperti lelaki kebanyakan. Ditambah, Ino tak pernah menduga sang kakak bisa mengaku semudah itu.

Si gadis masih tampak syok, namun belum juga memundurkan tubuhnya. Ia hanya menelan ludah.

Sasuke menyeringai. Lugu sekali, adiknya itu. Tapi benarkah gadis yang biasa bertingkah nakal itu bisa sepolos ini?

"Kau fikir tubuhmu tidak akan membuatku terangsang?" tanyanya, perlahan kembali menarik tubuh Ino mendekat.

Si gadis berjengit lagi saat merasakan wajah Sasuke kembali tenggelam di belahan dadanya. Ino masih kehilangan kata.

Sasuke sengaja mengecup kulit di sekitar lembah dada gadis itu, memberinya peringatan. "Jadi, jangan menggodaku seperti ini lagi." desisnya. "Lain kali aku tidak akan tahan . . dan bisa kelepasan."

Lelaki itu mulai merenggangkan tubuh Ino. Sudah cukup main-mainnya.

Si gadis menghela nafas dalam. Ia gugup sekali. Jantungnya berdebar kencang.

Ino memang sedikit jahil dan nakal, tapi nyatanya gadis itu masih polos secara praktek. Disentuh begini saja oleh Sasuke, sudah bisa membuat seluruh bulu kuduknya berdiri. Tapi berakting selalu menjadi keahliannya. Sang kakak tidak boleh tahu bahwa dirinya memang sedang sangat grogi saat ini.

Jadi, bukannya cepat-cepat menarik badannya untuk menjauh, Ino malah mencengkram masing-masing pundak sang kakak.

"Apa kau tidak suka?" tanyanya, memiringkan kepala. Gadis itu mengerucutkan mulutnya saat benaknya tiba-tiba kembali mempertanyakan tipe wanita kesukaan sang kakak.

Sasuke menaikkan pelipisnya.

"Biasanya juga kau senang jika dinyamankan memakai ini." Ino sengaja membusungkan dada. "Apa kakak tidak suka dengan dada besarku ini?" Ulang si gadis bertanya manja.

Sontak Sasuke melebarkan mata. Sedetik selanjutnya ia merengut. "Aku suka semua yang melekat pada tubuhmu." Jawabnya segera.

"Hhmmm?" Alis pirang Ino terangkat. "Lalu mengapa kau tampak enggan dipeluk olehku seperti tadi?"

Dalam keremangan itu, safir biru Ino menatap tajam obsidian hitam Sasuke. Tatapan yang mengundang. Di belakang mereka, adegan demi adegan film terus berputar. Namun keduanya tidak mempedulikan.

Sasuke balik memandang gadis itu intens. "Sudah kubilang, aku bisa kelepasan kendali."

"Kendali untuk apa?" tanya Ino lagi, memperkuat cengkramannya. Menantang.

Untuk apa, katanya? Sasuke terdiam sejenak. Ia yakin gadis itu tahu apa yang ia maksud, dan akan mengarah kemana pembicaraan mereka selanjutnya. Namun Ino tetap saja memancingnya untuk meneruskan. Gadis itu sedang sengaja menggodanya, kah? Atau benar-benar tidak paham? Yang pasti Sasuke harus kembali memberinya peringatan.

"Untuk tidak menyerangmu." gumam Sasuke. Ia kembali mengangkat lengannya untuk meraih tengkuk Ino, lalu menekukkan kepala gadis itu. "Seperti ini." lanjutnya berbisik.

Selanjutnya, Sasuke memagut lembut bibir Ino. Melumatnya pelan. Mengulumnya lama-lama. Semakin dalam, tapi gadis itu tak menolak ciumannya. Kepala mereka mulai bergerak secara berirama. Si gadis merangkul erat kepala belakang kakaknya.

Saat Sasuke mulai menggunakan lidahnya untuk membasahi bibir gadis itu, Ino melenguh. Otomotis ia merenggangkan bibirnya. Maka Sasuke terus melesakkan lidahnya ke dalam mulut Ino. Memainkannya di sana, menjelajahi setiap inci mulut si gadis. Rasanya menakjubkan, lembut dan licin. Membuat adiknya mengerang lebih keras.

"Mmnn."

Sasuke merasa rambutnya mulai dijambak. Ia hanya menyeringai di antara ciuman panasnya, belum berniat untuk berhenti. Tapi Ino mulai kehabisan nafas, maka ia terpaksa melepas bibir empuk, kenyal dan basah milik gadis itu.

Ino terengah. Salivanya menjuntai keluar, membasahi dagunya. Wajahnya memerah dan memanas bersamaan. Ia memandang kakaknya penasaran. Ini pertama kalinya mereka melakukan ciuman bergairah seperti itu.

Tapi kemudian Sasuke kembali melakukan ciuman panas tersebut untuk kedua kalinya. Ia sengaja membelaikan lidahnya pada lidah Ino, menyesapnya, mendominasinya. Membuat gadis itu mengerang lebih dalam. "Nnnmm."

Nafas Ino menderu lagi.

Kini sang kakak mulai menciumi garis sepanjang rahangnya, lalu turun untuk mengecupi batang lehernya untuk menghisap, menjilat, menggigit dan mencumbu kulitnya di berbagai titik. Meninggalkan beberapa noda merah di sana. Ino menggeliat sembari memejamkan matanya erat-erat. Merasakan kenikmatan yang menjalari tubuhnya.

"Hhh." Ino menghela nafas dalam.

Sasuke kembali menurunkan wajahnya, mulai menjilati tulang selangka si gadis. Lidah nakalnya terus turun sampai ke daerah lembah dada Ino yang sedang naik-turun secara sensual akibat engahan nafas beratnya.

Membuat Ino menggelinjang. "Uhh . ."

Sampai akhirnya, kedua tangan Sasuke mulai menangkup pinggul Ino, dan meringsutkan tubuh gadis itu mendekat ke pangkal pahanya. Ia sengaja menekankan pinggul si adik tepat di atas kejantanannya yang sudah menegang sedari tadi.

Merasakan itu, Ino memekik sambil melonjak. "Ahh!"

Kali ini Sasuke berhenti. Tapi ia belum mau memindahkan tubuh adiknya. Menahan posisi mereka. Sasuke hanya mendongak.

Ino mulai membuka matanya, melihat sang kakak sedang menyeringai ke arahnya.

Aquamarine itu mulai beriak.

"Lihat? Begini saja, kau sudah gemetaran." Bisik Sasuke.

Ino menggigit bibirnya. Matanya tergenang. Ia pasti sedang terlihat konyol sekarang. Si gadis segera mengangkat badannya dari pangkuan sang kakak. Membuat posisi pinggulnya merenggang lebih aman.

Kemudian, Ino langsung menyondongkan tubuhnya untuk merengkuh pundak sang kakak. Menyembunyikan wajahnya di sana, memeluk erat leher lelaki itu. "Nii-chan curang." Gumamnya pelan. "Selalu bisa mengaturku seperti ini."

"Karena kau selalu perlu diperingatkan." Timpal Sasuke, mengelus lembut rambut pirang si adik. Dirasakannya tubuh Ino masih sedikit tegang. Ah, mungkin ia sudah keterlaluan.

Namun tak disangka, Ino malah kembali mendudukkan pinggulnya di atas pinggul sang kakak. Membuat Sasuke sedikit melonjak. Ia kembali menegang.

Tiba-tiba Ino terkekeh nakal. "Aku mencintaimu." Bisiknya seduktif tepat di telinga lelaki itu. "Kau selalu terlihat berusaha keras menahan dirimu. Tapi kenapa? Apa kau tidak lelah?"

Sasuke menahan diri untuk tidak mengerang. Gesekan di kejantanannya mulai membuat kepalanya pening akibat berusaha menahan nafsunya yang kembali nyaris hilang kontrol. Sepertinya si adik berencana untuk membalas perlakuannya barusan. Buruknya, keremangan ruangan memperparah keadaan benaknya.

"Berhenti bergerak seperti itu, Ino." Titahnya.

Tapi si gadis mengabaikan. Ia malah menempelkan payudaranya erat di dada Sasuke. Membuat lelaki itu membuang nafas dalam.

Ino menjadi gemas sekali rasanya. Ia sudah terlanjur bertingkah nakal, dan kakaknya sampai menggodainya seperti barusan. Kenapa ia harus berhenti sekarang?

"Apa aku . ." Bisik gadis itu lagi. "Belum cukup dewasa untuk membuatmu melihatku sebagai seorang wanita?" Kini Ino mulai mendongak. Kedua tangannya menangkup sisi wajah Sasuke. Bibirnya mulai menekan kuat sebelah pipi lelaki itu. "Mmmnch." Nafasnya dihembuskan pelan-pelan, sengaja menyapu lembut kulit wajah Sasuke. "Apa aku kurang seksi?" desisnya, kini mengecupi leher sang kakak lambat-lambat. "Apa kau benar-benar tidak tergoda?"

Sasuke hanya bisa mengatupkan mulutnya kuat-kuat, berusaha menahan diri.

Gadis itu kembali mendongak.

Aquanya menatap lurus onyx si lelaki, intonasinya mengundang. "Padalah Onii-chan boleh menyerangku kalau kau mau . ." bisiknya manja dengan raut seduktif.

Onyx sang kakak melebar. Pertahanan Sasuke . . buyar sudah.

Bruk.

Sedetik selanjutnya, tubuh si gadis diputar dan dihempaskan pelan ke atas karpet berbulu lembut yang menjadi alas lantai ruangan itu.

Ino memekik kaget. Kini Sasuke sudah merangkak di atasnya.

"Kau paham apa yang sedang kau lakukan?" suara Sasuke memberat.

Lelaki itu mulai menurunkan badannya untuk menindih tubuh mungil gadis yang sedang terbaring pasrah di bawahnya. "Kau tahu apa yang barusan kau katakan?" desisnya.

Ino kembali memekik nikmat.

"Sudah kubilang jangan mencoba untuk menggodaku." Lelaki itu balik berbisik. Ia mulai menghujani bibir Ino dengan serangkaian kecupan. Dari pelan sampai mendalam, dari manis sampai menuntut. Dari hati-hati sampai liar.

"Hnnnn."

". . atau kau akan tahu akibatnya." Lanjutnya. Kini mulutnya mulai menghisap leher si gadis, kedua lengannya memeluk erat punggung adiknya itu.

"Mmnn," Mulut Ino kembali meloloskan desahan.

Sasuke menggeser tangannya ke bagian depan, kini mulai meremas pelan perut Ino. Gadis itu melenguh lagi.

Lalu, si lelaki mulai menyingkap gaun malam Ino untuk menelusupkan satu tangannya masuk menelusuri kulit di bawah pakaiannya. Tangannya terus digerakkan naik sampai meraba sebelah payudara Ino, refleks gadis itu mengangkat punggungnya.

Ino melebarkan mata. "Uhh, nii-"

Tapi Sasuke kembali membungkam mulutnya dengan ciuman.

Tangan nakal sang kakak kini sedang asik meraba, menekan, memijat dan meremas pelan buah dada Ino secara bergantian. Memanjakan area sensitif itu lambat-lambat. Jemarinya menikmati sensasi kenyal dan empuk sepasang payudara yang berukuran cukup besar itu.

"Eeemhh," Lenguhan Ino teredam bibir sang kakak. Lidah lelaki itu sedang menari-nari di dalam mulutnya.

"Puhaa." Ino menarik nafas dalam-dalam sesaat setelah sang kakak melepaskan bibirnya.

Lalu Sasuke mengangkat kepalanya. Tangannya berhenti bergerak liar, hanya mengelus-elus lembut sebelah payudara adiknya yang masih terbalut bra. Namun sentuhan itu masih cukup untuk bembuat Ino menggeliat.

Sasuke menilik ekspresi yang sedang dipasang wajah cantik Ino.

Gadis itu menatapnya dengan wajah merah padam. Matanya tergenang. Bibirnya digigit. Ekspresinya dipenuhi nafsu.

Sasuke menyeringai.

Ia segera melepaskan punggung gadis itu dan membuat satu tangannya yang lain untuk ikut bergabung memainkan kedua gundukan empuk dan kenyal milik si gadis.

"Euuphhfthhhhh." Ino mendesah panjang.

"Kau menyerah?" Sekali lagi Sasuke mengingatkan.

Ino menggeleng cepat-cepat. Ia tak mau kalah.

"Kheh. Keras kepala." Komentar si lelaki, namun ia tampak senang.

Sasuke kembali merendahkan wajahnya, sekarang menggigit bagian kenyal telinga Ino.

"Eemmnn,"

Ino meremas kuat rambut Sasuke. Ia tak pernah disentuh seperti ini. Ia tak pernah merasakan sensasi segila ini. Seluruh badannya terasa panas. Namun respon yang diberikan tubuhnya terhadap sentuhan liar kakaknya memberikan dampak yang sangat menyenangkan. Membuatnya hilang akal. Membuat tubuhnya kecanduan, seperti ekstasi. Benaknya menjadi berkabut dan fikirannya buyar. Jika bisa, pasti Ino sudah meledak sedari tadi.

Di bawah kain busana malamnya, tangan Sasuke masih betah meraba-raba buah dadanya.

Lalu tiba-tiba, gadis itu melonjak ketika satu tangan si lelaki mulai menyusup ke dalam bra-nya, menyentuh langsung kulit payudaranya.

"Nii-chan . . haahh . ."

Terasa hangat. Tubuh adiknya. Sasuke tidak mau berhenti menggerakkan tangannya.

Kemudian tangan penasaran itu mendorong bra tersebut ke atas, membuat kedua payudara Ino bebas. Sasuke berhenti sejenak.

Si gadis menahan nafas. Pelan-pelan ia menunduk, dan melihat Sasuke sedang memandangi payudaranya yang masih tertutup kain sifon gaunnya, namun sudah tanpa bra. Puncak dada si gadis sedang menonjol jelas di sana. Putingnya yang mengeras tampak mengundang.

Ino kembali menggigit bibirnya.

Sejurus kemudian, Sasuke menurunkan kepalanya lagi, lalu meraup sebelah puncak payudara gadis itu dengan mulutnya.

Si gadis menghela nafas dalam.

"Ohh!" Ino menengadahkan kepalanya ke belakang.

Dirasakannya, tangan sang kakak masih memijat dan meremas lembut sebelah buah dadanya di dalam sana. Puncak payudaranya yang lain sedang dihisap kuat. Lidah sang kakak menjilat pelan putingnya yang masih tertutup itu secara melingkar, membuat kain yang melapisinya basah, menyesap puncaknya lagi, lalu menggigitnya.

"Uunhh," Ino membusungkan dada. Refleks ia menghisap punggung tangannya sendiri untuk meredam erangan. Tubuhnya menggeliat nikmat akibat perlakuan Sasuke.

Ditambah lagi di bawah sana, kejantanan Sasuke masih menggesek-gesek pinggulnya. Ino merasa area kewanitaannya sudah becek sekarang.

"N-nii-chan." Lenguh Ino. Kenikmatan ini bisa membuatnya gila. "Ah . . ahh,"

Sasuke masih betah menyedot puting susu kenyal milik si gadis di mulutnya.

Jujur saja, ia menyenangi kegiatannya saat ini. Tubuh seksi adiknya yang memang sudah mencapai masa kedewasaan dari sejak beberapa tahun lalu itu, selalu membuatnya tergoda. Namun selama ini Sasuke harus berusaha keras untuk menahan diri, tak bisa menyerang adiknya begitu saja. Atau Ino akan berakhir takut padanya. Namun sekarang, sudah tak ada yang membatasinya lagi, kan?

Lagipula, gadis itu malah bersikap seolah memintanya . . diperlakukan demikian.

Membuat kendali sang kakak menghilang. Hasrat sedang benar-benar mengontrolnya sekarang. Tapi Sasuke akan berhenti jika si gadis memintanya untuk berhenti, mencegahnya berbuat lebih jauh dari ini.

Jika Ino menunjukkan penolakan, meski hanya sedikit keengganan, maka Sasuke akan berhenti.

Di bawahnya, Ino masih menggeliat keenakan. Suara lenguh, desahan, pekikan dan erangannya semakin terdengar seduktif dan sensual. Peluh sudah mulai mengucuri tubuh keduanya. Membuat Sasuke semakin tergoda, dan tidak bisa menahan diri.

"Nii-chan, uhh, k-kau haahhh . . mesum, eemmh!"

"Hemm," Si lelaki mengakui. Ia menahan geramannya. Tubuhnya pun sedang tersalur oleh kenikmatan.

Namun seperti yang ia bilang, gadis itu keras kepala. Lebih tepatnya, tidak mau kalah. Karenanya, kegiatan panas mereka di tengah malam itu terus berlanjut.

Tak ada yang bisa berhenti. Tak ada yang menginisiasi untuk mengalah. Tak ada yang mau menyerah duluan.

Keduanya sama-sama keras kepala . . dan terlanjur keenakan.

Meski kedepannya sentuhan yang semula berupa peringatan itu, harus dihentikan sesaat sebelum kegiatan ini semakin berbahaya.

Itu pun jika mereka bisa . . berhenti.

-TBC-


ahh, aahh! unnhh, emmhh—! That's hot enough, right? *lime buat pemanasan nyahahaahahahaha *DITABOKINMASA/

Sasu kok sama adik sendiri begitu amaaat XD

Rate M aka Mature alias Mesum detected. Jadi buat yg merasa belum Matang silakan undur diri baik-baik karena KONTEN CERITA SUDAH SEMAKIN DEWASA :)
Well, aku udah 21+ jadi bebas ngeres (?) *DIGAMPAR/ btw, ini masuknya NC-17 atau NC-19 atau NC-21 ya?

WARNING (sampai ditulis dengan BOLD dan CAPSLOCK) udah tertera di awal, jadi kalo ada yang masih nakal baca berarti ya . . tanggung jawab sendiri.

Ada yang mau berkomentar di kotak review? ditunggu :) :)

Updated : 28.01.2017


oyaa panggil aku vika ajaa, salam kenal buat semuanya makasih udah baca, fav, alert dan review.

Betuul Layla hamilton itu yang di kaleido stage, anime lama XD
sasu emang sayang pake banget sama ino, apalagi ino cantik seksi gemesin siapa sih yang ga bakal kelelep sama dia XD

Terus karena ceritanya udah mau nyampe akhir, ga bakal ada orang ketiga lagi, kan kemarin udah dimunculin jeles2nya dikit XD

Muahahaahah HAYATI BISA TEWAS EMANG KALO SERUMAH SAMA SI SASU mah LOL

BlendXBond udah diapdet btw, *promosi eheheh. See you!