UNFORGIVEN HERO (REMAKE)

Chapter 10

Cast:

Zhang Yixing as Elena

Kim Junmyeon as Rafael Alexander

Kang Seulgi as Victoria

Kim Minseok as Donita

Jung Seoyun as ibu Rahma

Genderswitch. OCC

Sorry for the typo. Story milik Santhy Agatha. EXO milik SM kecuali Zhang Yixing #dihajar

WARNING: Rate M, GS, Remake

Yixing tak pernah tahu, ada sosok dibalik kenyamanannya itu. Kim Junmyeon, pria yang sudah membunuh ayahnya. Dia berusaha membayar kesalahannya dengan menjadi guardian angel bagi Yixing. Masalahnya adalah, Junmyeon jatuh cinta pada Yixing. Dia begitu terobsesi pada gadis itu. Hingga dia berusaha membuat sebuah jalan agar Yixing berjalan ke arahnya

.

.

.

SULAY

Cerita remake dari novel Santhy Agatha

.

.

=CHAPTER 10=

Yixing termenung di dalam kamarnya, masih bingung memikirkan perkataan Sulli tadi. Perempuan itu bilang kalau Junmyeon selalu membayangkannya ketika bercinta, selalu menyebut namanya…. bagaimana mungkin? Yixing kan tidak mengenal Junmyeon sebelum ini? Apakah Yixing yang dibayangkan oleh Junmyeon adalah Yixing yang lain?

Jantung Yixing serasa diremas. Mungkinkah itu? Mungkinkah pernikahan impulsif, dan semua hal yang dilakukan dengan terburu-buru ini disebabkan Junmyeon menginginkan seorang pengganti untuk Yixing yang dicintainya. Toh kalau dengan Yixing, Junmyeon tidak perlu repot-repot seperti dengan Sulli, karena namanya sama. Jadi Junmyeon tidak perlu menjelaskan apa-apa dan Yixing juga tidak akan tahu kalau dia digunakan sebagai pengganti.

Yixing mendongak ketika Junmyeon memasuki kamar, mengernyit ketika melihat Yixing duduk melamun di ranjang,

"Sayang, kenapa? Aku menunggumu di bawah untuk makan siang, tetapi kau tidak turun."

Jawaban Yixing hanya berupa desahan napas yang berat, bingung apakah dia harus menanyakan hal ini kepada Junmyeon atau tidak.

Junmyeon ikut menghela napas, dengan lembut dia melangkah dan berlutut di depan Yixing yang sedang duduk di atas ranjangnya,

"Tentang Sulli lagi, apakah dia mengganggumu?"

Yixing menatap Junmyeon, mencoba mencari kedalaman hati suaminya itu di balik tatapan matanya yang lembut. Apa sebenarnya yang ada di benak Junmyeon? Kenapa dia tidak pernah tahu?

"Sulli mengatakan kepadaku, bahwa kau selalu memanggil nama "Yixing' ketika bercinta….bahwa kau selalu membayangkannya sebagai 'Yixing…" Yixing mendesah, "Dan aku berpikir, tentu Yixing yang kau bayangkan itu bukan aku, karena kita baru saling mengenal…"

Ekspresi Junmyeon tidak terbaca. Tetapi lelaki itu dengan lembut merengkuh tangannya dan menggenggamnya dengan erat,

"Kau lebih percaya Sulli atau kepadaku sayang? Aku… Suamimu."

Yixing mencoba percaya. Sungguh dia mencoba. Tetapi cara Sulli mengucapkannya tadi, perempuan itu sungguh-sungguh tampak terluka. Mungkinkah Sulli hanya berakting untuk menyebabkan kesalahpahaman di antara Yixing dan Junmyeon?

"Percayalah kepadaku dan jangan hiraukan apa yang dikatakan oleh Sulli. Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu, bahwa apapapun yang terjadi seburuk apapun yang dikatakan orang, kau bisa pegang satu hal yang pasti, bahwa aku mencintaimu. Amat sangat mencintaimu…" Junmyeon menundukkan kepala dan mengecupi jemari Yixing, "Rasanya sangat sakit, ketika kau mencintai seseorang, tetapi tidak dipercaya. Rasanya seperti cintamu ini sampah dan dibuang begitu saja."

"Junmyeon… tidak… bukan begitu…." Yixing menggenggam jemari Junmyeon, "Aku tidak akan membuang cintamu. Aku, maafkan aku mungkin aku sedikit terpengaruh karena cara Sulli mengungkapkannya tadi begitu meyakinkan." Yixing menghela napas panjang, "Mulai sekarang aku tidak akan mendengarkannya lagi."

"Terima kasih Yixing." Kedua mata mereka sejajar, Junmyeon yang berlutut dan Yixing yang duduk di atas ranjang, lalu mereka berciuman dengan lembutnya. Bibir Junmyeon melumat bibir Yixing dengan penuh perasaan, membuatnya terlena. Lidahnya menelusur pelan kemudian, mencecap rasa yang sudah lama dirindukannya, rasa yang sangat dikenalnya. Yixing mendesah ketika Junmyeon mendorongnya terbaring di ranjang, dengan kaki menjuntai di bawah dan Junmyeon yang berdiri membungkuk di atasnya,

"Kita tidak bisa melakukannya sekarang. Ini waktunya makan siang. Alfred akan mencari-cari kita…" Yixing berbisik dalam napasnya yang sedikit tersengal.

"Alfred sudah mencari sejak tadi, lebih tepatnya mencarimu. Itu sebabnya aku menyusulmu kemari, karena kau tidak turun untuk makan siang." Junmyeon mencumbu leher Yixing yang menyimpan aroma khasnya yang manis, "Aku rasa Alfred akan mengerti, kita kan sedang berbulan madu."

Jemari Junmyeon membuka ritsleting gaun Yixing dan menurunkannya, dia menarik gaun itu melewati pinggul Yixing dan membuangnya ke lantai. Pakaian dalamnya menyusul kemudian, hingga Yixing berbaring telanjang dan pasrah di bawahnya.

Junmyeon tidak terburu-buru, lelaki itu dengan pelan membuka kancing kemejanya dan melepasnya, memamerkan tubuh indah dan kerasnya yang bahkan masih membuat Yixing merasa kagum setiap melihatnya, bahkan setelah berkali-kali jemarinya menyentuhnya di sana, menikmati kehalusannya.

Lalu Junmyeon menurunkan celananya dan kemudian telanjang sepenuhnya di depan Yixing, kejantanannya mengeras dan sudah siap. Lelaki ini amat bergairah.

Dengan lembut lelaki itu menunduk di atas Yixing, jemarinya bergerak menelusuri tubuh Yixing dan menemukan kewanitaan Yixing yang sudah hangat dan basah,

"Aku belum menggodamu, tetapi kau sudah basah di sini…" Junmyeon menggerakkan jemarinya lembut, "Kau pasti sangat merindukanku di sana."

Dengan lembut Junmyeon mengangkat kedua kaki Yixing dan menyandarkan masing-masing di pundaknya, membuat posisi Yixing begitu pas untuk dia masuki.

Lelaki itu melakukan penetrasi dan mengerang parau. "Astaga… kau begitu sempit sayang, begitu sempit dan nikmat…"

Yixing mengikuti semua ritme yang dibawa oleh Junmyeon. Posisi ini membuat titik-titik sensitif yang tidak disadarinya ada tersentuh dan bangun, membuat seluruh tubuh Yixing menggelenyar dalam kenikmatan yang luar biasa. Jemari Junmyeon bergerak dan menyentuh titik nikmat di atas kewanitaannya, memainkannya. Membuat Yixing seakan dihantam oleh dua kenikmatan bertub-tubi.

"Junmyeon…" Yixing mengerang, menyebut nama suaminya, karena sudah tidak bisa menahan diri.

"Ya sayang, ya…." Junmyeon membalas erangan Yixing dengan suara parau tertahan, ritmenya semakin cepat, semakin tak tertahankan membuat Yixing tidak mampu lagi, sehingga akhirnya membiarkan dirinya dibawa oleh arus deras kenikmatan yang memenuhi seluruh sarafnya. Junmyeon mengerang di sana dan mereka mencapai orgasme bersamaan.

.

.

.

"Apakah dengan begini kau yakin bahwa aku mencintaimu?" Mereka masih berbaring telanjang dan puas di atas ranjang. Yixing meringkuk membelakangi Junmyeon dan Junmyeon memeluknya dengan posesif dari belakang, kaki mereka saling bertautan. Kulit mereka saling menghangatkan,

"Tanpa sekspun aku yakin bahwa kau mencintaiku." Yixing menjawab pelan, setengah mengantuk.

Sesaat hening, dan Yixing merasakan jantung Junmyeon berdebar, lelaki itu menghela napas sebelum bertanya,

"Apakah… apakah kau juga mencintaiku, Yixing?"

Yixing tertegun dengan pertanyaan itu. Jauh di dalam hatinya dia sudah tahu jawabannya. Ya. Dia mencintai Junmyeon, dia sangat mencintai suaminya ini. Dan Junmyeon sudah berkali-kali menyatakan mencintai Yixing. Amat sangat tidak adil kalau Yixing tidak mau mengungkapkan perasaannya kepada suaminya. Mungkin inilah saat yang tepat.

"Ya…" Yixing menjawab pelan, jantungnya berdebar, "Ya… Aku juga mencintaimu, Junmyeon…"

Junmyeon mendesah pelan, menyebut nama Yixing dengan khidmad, "Yixing…." Lalu lelaki itu memalingkan muka Yixing supaya menoleh menghadapnya, dan menciumnya dengan sangat bergairah.

Yixing merasakan kejantanan Junmyeon mengeras lagi di sana, menyentuh bagian belakang tubuhnya, Jemari lelaki itu sudah menangkup payudaranya dan memainkannya dengan lembut, menggoda putingnya, merayunya, jemarinya lalu turun dan memainkan titik sensitif di pusat kewanitaan Yixing, dengan lembut dan menggoda.

Yixing mendesah dan mencoba membalikkan tubuhnya, tetapi Junmyeon menahannya.

"Jangan, kita akan mencoba seperti ini." Dengan lembut Junmyeon mengangkat sebelah kaki Yixing yang masih berbaring miring membelakanginya, kemudian dari belakang, Junmyeon menyelipkan kejantanannya yang terasa keras dan panas, memasuki pusat kewanitaan Yixing yang lembut dan basah.

Yixing setengah menjerit merasakan penetrasi Junmyeon ini. Gaya bercinta Junmyeon ini membuat titik-titik yang biasanya tidak tersentuh oleh kejantanan Junmyeon menjadi tersentuh semua, membangunkan sarafnya dan merangsangnya.

Junmyeon membimbing Yixing supaya mengikuti ritmenya, mereka bergerak dengan lembut, tidak terburu-buru, menikmati setiap detiknya dengan bahagia. Dan kemudian mencapai orgasme bersama.

.

.

.

Suamiku. Yixing menelusurkan jemarinya di alis Junmyeon, membuat alis itu sedikit berkedut. Barusan Yixing terbangun dan mendapati Junmyeon masih tidur pulas di sebelahnya, sesuatu yang jarang terjadi, karena selama ini lelaki itulah yang selalu terjaga sebelum Yixing kemudian menggoda Yixing dengan kecupan-kecupan kecil untuk membangunkannya.

Yixing mengamati wajah kokoh suaminya itu. Darah Spanyol sangat kental di sana, menciptakan wajah latin yang khas dengan mata yang dalam dan tajam, dan bibir yang luar biasa menggairahkan. Alis dan rambutnya berwarna gelap. Suaminya ini luar biasa tampan, bagaikan pangeran dari negeri antah berantah. Dan lelaki ini mencintainya

Dada Yixing dipenuhi oleh perasaan hangat. Mengingat bagaimana mereka semua bisa mencapai titik saling mencintai di pernikahan ini. Yixing juga mencintai suaminya. Dan dia bertekad, mulai sekarang, apapun yang terjadi, dia akan mempercayai suaminya. Junmyeon begitu mencintainya, dan yang pasti tidak akan membohonginya. Yixing percaya itu.

.

.

.

"Jadi dia jatuh dari tangga dan terkilir, lalu kau tidak jadi mengusirnya dan malahan merawatnya?" Seulgi hampir berteriak di seberang sana. Membuat Junmyeon sedikit menjauhkan ponselnya.

"Ya, dia setuju untuk pergi dan akan berkemas, ketika kecelakaan itu terjadi."

"Terdengar seperti kesengajaan bagiku." Nada suara Seulgi tampak mencela, "Apa kau yakin dia sungguhan? Jangan-jangan dia berakting sakit."

"Kakinya benar-benar bengkak dan dokterkulah yang memeriksanya, jadi dia memang benar-benar terkilir." Junmyeon mendesah, "Walau aku tidak bisa menebak apakah dia sengaja menjatuhkan dirinya atau tidak."

"Mengingat sifat Sulli, dia mungkin saja melakukannya." Seulgi tampak cemas, "Lalu bagaimana dengan kau dan Yixing?"

Junmyeon tersenyum mengenang ketika nama Yixing disebut. Yixing, Yixingnya. Perempuan itu mengatakan mencintainya, dengan begitu lembut. Yixing mencintainya! Oh astaga. Rasanya seperti semua bebannya terlepas dan tubuhnya menjadi ringan. Begini rasanya ternyata ketika mencintai seseorang sepenuh hati, ketika cinta itu terbalas, seluruh tubuhnya terasa melayang.

"Kami bisa menghadapinya." Junmyeon masih tersenyum ketika berbicara, mengenang percintaan mereka yang panas dan bertubi-tubi setelah pengakuan cinta itu. "Dan dia mengatakan dia mencintaiku."

"Oh." Seulgi tampak tertegun, "Selamat oppa, meskipun aku meragukan ada perempuan yang tahan menolak cintamu kalau kau sudah mengerahkan segala pesonamu." Seulgi terkekeh, "Kau pasti sangat bahagia."

"Sangat." Junmyeon tersenyum. "Aku sudah memikirkan cara untuk mengatasi Sulli, kau harus datang ke sini."

"Aku?" Seulgi mengeluarkan nada memprotes, "Bagaimana mungkin aku bisa kesana? Kau meninggalkan tanggung jawab atas perusahaan di tanganku ketika kau pergi."

"Aku akan memegangnya kembali. Aku akan mengajak Yixing pulang."

"Dan meninggalkan Sulli di pulau itu sendirian dan sakit?"

Junmyeon mengangkat bahunya, "Karena itulah kau harus datang kemari, pura-pura mengatakan bahwa ada hal urgent di perusahaan yang harus aku urus. Lalu kau yang tinggal di sini sampai Sulli pulih, demi kesopanan."

"Kau akan tinggalkan aku di pulau itu dengan perempuan jahat seperti Sulli?" Seulgi menaikkan nada suaranya, "Kau memang tidak pernah tanggung-tanggung memanfaatkan kasih sayang adikmu oppa"

Junmyeon terkekeh, "Suatu saat nanti, kalau kau sedang terlibat masalah cinta yang pelik, aku berjanji akan membantumu sekuat tenaga."

"Aku akan mencari pasangan yang tidak pelik." sahut Seulgi segera, lalu mendesah dan menghela napas, "Aku akan berangkat besok."

"Terima kasih adikku."

.

.

.

Mereka sedang makan malam ketika suara perahu boat terdengar mendekat. Yixing mengernyit, tamu lagi? Diliriknya Junmyeon, lelaki itu tampak tenang-tenang saja.

Mereka makan malam bertiga, Junmyeon, Yixing dan Sulli yang sudah mulai bisa berjalan meskipun masih harus mengenakan penyangga badan. Suasana makan malam dingin dan kaku, Sulli tak banyak bicara seperti biasanya. Meskipun Yixing sempat melihat perempuan itu berkali-kali menyentuh Junmyeon seolah tanpa sengaja.

Seorang pelayan masuk, mengantarkan tamu yang baru tiba itu,

"Seulgi." Junmyeon berseru dan meletakkan makanannya, "Kejutan tak terduga, kenapa kau datang kemari?" lelaki itu berdiri, mengajak Yixing dan memeluk adiknya.

Seulgi mengibaskan rambutnya yang sedikit berantakan, dia memeluk Yixing dengan hangat, lalu melirik ke arah Sulli sambil lalu dan melangkah duduk di kursi di meja makan itu. Junmyeon dan Yixing kembali duduk.

Para pelayan dengan sigap langsung mengantarkan hidangan untuk tamu tambahan mereka itu.

Seulgi melirik ke arah Sulli dan tersenyum kaku. Mereka memang saling mengenal, tetapi tidak begitu akrab.

"Hai Sulli, kudengar dari koppa kau sudah di sini beberapa hari dan mengalami kecelakaan, bagaimana kondisi kakimu?"

Sulli mengangkat alisnya dan tersenyum manis, "Masih sakit dan bengkak, aku tidak bisa berjalan kalau tidak pakai penyangga."

"Wah sepertinya penyembuhanmu akan memerlukan waktu lama." Seulgi sekuat tenaga menyembunyikan nada sinis di dalam suaranya.

Sulli mengangguk, melirik Junmyeon, seolah ingin menebak apa rencana Junmyeon dengan kedatangan Seulgi yang mendadak ini. Apakah Junmyeon menyuruh Seulgi datang untuk melindungi Yixing dari serangannya?

"Ya. Kakiku sepertinya memerlukan waktu lama untuk sembuh." Sulli menyentuh lengan Junmyeon dengan lembut dan tersenyum penuh arti, "Maaf Junmyeon, sepertinya aku harus berada di rumah ini lebih lama, aku tidak bisa kemana-mana."

"Tidak masalah." Junmyeon menjawab datar. Yixing yang sedang mengamati Junmyeon mengernyitkan alisnya, Junmyeon tampak berusaha sekuat tenaga untuk fokus kepada makanannya dan menahan diri untuk tidak tertawa. Kenapa suaminya tampak begitu geli? Apa yang ada di dalam benaknya?

Seulgi sendiri tampak menahan senyum, dia menyendok satu suap penuh sup krim asparagus kental dengan kepiting di dalamnya, dan memutar bola matanya senang,

"Wow, masakan Alfred yang luar biasa. Aku merindukannya, kurasa ini sepadan dengan tinggal di sini beberapa lama sementara oppa pergi."

"Apa maksudmu?" Sulli langsung menyela, merasa waspada.

Seulgi melirik Sulli tidak peduli, lalu menatap Junmyeon,

"Oh aku belum mengatakan maksud kedatanganku kepada kalian ya? Oppa, aku mengalami masalah dengan negosiasi dengan pihak Jepang. Mereka tidak percaya kepadaku, dan ingin pelaksanaan nego diwakili oleh kau langsung." Seulgi menghela napas panjang, "Itu tender yang yang besar dan mereka menahannya sampai kau pulang. Kita akan rugi besar kalau sampai proyek itu tertahan lama, karena itu dengan baik hati, aku menawarkan diri untuk menggantikanmu menjadi tuan rumah di rumah ini untuk tamu kita." Seulgi melirik Sulli dengan sinis, "Sementara kau dan Yixing pulang untuk mengurus tender itu."

"Apa?" Sulli hampir menjerit, lupa akan sikap datar dan menahan diri yang dipertahankannya, "Tidak! Kau tidak bisa melakukannya kan Junmyeon? Masa kau akan tega meninggalkan aku yang sedang sakit sendirian di sini?"

Seulgi mengedipkan matanya nakal kepada Sulli, "Kau kan tidak sendirian Sulli, ada aku di sini menemanimu."

Sulli melirik Seulgi dengan marah, lalu mengalihkan pandangannya kepada Junmyeon, "Junmyeon… aku … "

"Aku terpaksa harus pergi Sulli. Dan sementara kau masih sakit. Seulgi akan menunggu di sini, memastikan semua kebutuhanmu terpenuhi dan kau baik-baik saja."

"Aku…aku akan ikut pulang denganmu….aku sudah merasa agak baikan…"

"Tadi kau bilang kau tidak bisa kemana-mana dan harus tinggal lama di sini." Seulgi menyela gemas, "Sudahlah Sulli, kau tinggal di sini denganku. Para pelayan dan aku akan memastikan kau pulih dengan baik sebelum pergi dari sini."

"Seulgi benar Sulli.' Junmyeon melanjutkan sebelum Sulli sempat membantah, "Aku dan Yixing akan berkemas untuk pergi nanti malam. Maafkan aku atas keadaan ini. Semoga kau lekas sembuh dan sehat kembali."

Dan pembicaraanpun ditutup. Kali ini Yixing yang menelusuri piringnya dengan sikap geli. Mendadak dia mengerti kenapa Junmyeon tadi sepertinya menahan tawa. Lelaki itu sengaja, dia sudah merencanakan semua ini bersama Seulgi. Membuat Sulli tidak dapat berkutik lagi.

.

.

.

Mereka meninggalkan pulau itu siang harinya, dan setelah mendarat di Pulau Dewata, mereka melanjutkan dengan pesawat untuk pulang.

"Kau pasti senang." Junmyeon menggenggam tangan Yixing yang duduk disebelahnya, tersenyum jahil.

Yixing menatap Junmyeon dan tertawa, 'Kau sangat licik Kim Junmyeon."

Junmyeon ikut tertawa bersama Yixing dan mengecup dahi Yixing dengan sayang.

Mereka mendarat di bandara dan langsung dijemput oleh supir pribadi Junmyeon. Tengah malam mereka baru tiba di rumah Junmyeon. Rumah itu masih sama, seindah ingatan Yixing dulu ketika pertama kemari di pesta itu. Pesta yang menghasilkan sebuah insiden yang mendorong Yixing dan Junmyeon akhirnya bersatu ke dalam pernikahan.

Mungkin sekarang Yixing akan mensyukuri insiden itu. Karena sekarang dia menemukan kebahagiaan bersama suaminya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu dan menatap Junmyeon dengan serius.

"Malam itu malam setelah pernikahan kita adalah malam pertama kita. Aku tahu karena rasanya sakit."

Junmyeon tersenyum lembut, "Aku juga tahu karena aku harus menembus penghalang yang kuat, sebelum bisa memasukimu."

Pipi Yixing memerah mendengar kata-kata vulgar Junmyeon yang diucapkan dengan santai,

"Kalau malam itu adalah malam pertama kita, berarti waktu itu kita tidak berbuat apa-apa di sini."

Junmyeon mengangkat bahu, "Aku memang tidak ingat. Tetapi mungkin kita hanya mabuk dan tertidur di ranjangku."

"Tetapi waktu itu kita telanjang bulat." Yixing mengerutkan dahinya.

Junmyeon tertawa, "Mungkin kita bercumbu sedikit lalu tertidur." Ingatannya melayang kepada Yixing yang meninggalkannya tidur ketika dia mencumbunya waktu itu. Yah setidaknya Junmyeon tidak sepenuhnya berbohong.

"Padahal kejadian itu adalah alasan kita menikah." Yixing menghela napas, "Kalau kau tahu kita tidak berbuat apa-apa, kau bisa tidak menikahiku."

"Hei aku tidak peduli apa alasan yang mendorongku menikahimu. Kalau bukan karena isiden di malam itu, kurasa aku akan menemui cara untuk menikahimu pada akhirnya." Junmyeon mendekap Yixing ke dalam pelukannya, "Dan aku selalu mensyukuri karena aku menikahimu. Kau adalah sumber kebahagiaanku Yixing."

Yixing membalas pelukan Junmyeon sambil tertawa,

'Kau juga Junmyeon, Aku mencintaimu dan aku mempercayaimu sepenuh hati."

.

.

.

Bagaimana kalau kepercayaan Yixing tiba-tiba dihancurkan olehnya?

Junmyeon terbangun di tengah malam. Karena mimpi buruk yang menghantuinya. Mimpi itu datang lagi. Kecelakaan itu. Lalu anak perempuan yang mengusirnya dari rumahnya dengan tatapan mata penuh kebencian. Kebencian yang menghujam dan masih tetap membuat jantung Junmyeon berdenyut perih sampai sekarang. Dan kemudian mimpi itu berlanjut dengan dia kehilangan Yixing. Yixing hilang begitu saja dan dia tidak dapat menemukannya di mana-mana. Membuatnya menggila, membuatnya seperti ingin mati saja.

Napasnya sedikit terengah dan dadanya terasa sesak oleh mimpi yang menakutkan itu. Dengan lembut diliriknya perempuan yang terbaring manis di sebelahnya. Yixingnya. Istrinya. Yang mencintainya dan mempercayainya.

Mempercayainya.. Yixing sangat mempercayainya, dengan tanpa prasangka, perempuan itu meletakkan hatinya di tangan Junmyeon, pasrah dan percaya kepadanya.

Sementara Junmyeon membangun sebuah pernikahan yang didasarkan pada kebohongan. Cintanya kepada Yixing bukanlah suatu kebohongan, dia sungguh-sungguh mencintai Yixing, dari lubuk hatinya yang paling dalam. Yixing adalah sumber kebahagiaannya yang paling dalam, begitupun dia ingin menjadi sesuatu yang sama bagi Yixing. Tetapi semua selain cinta itu adalah sebuah kebohongan. Sebuah kebohongan yang terjalin dan membentuk dinding rapat yang menutup rahasia masa lalu mereka.

Rahasia itu, rahasia tentang kematian ayah Yixing. Junmyeon tidak pernah bisa lari dari masa lalunya, dia adalah pembunuh ayah Yixing. Bagaimana dia menjelaskannya kepada isterinya itu, kalau suatu saat Yixing mengetahui kebenarannya? Akankah cinta yang mereka bangun saat ini hancur begitu saja?

Junmyeon tidak mau kehilangan Yixing, dia akan mati kalau sampai itu terjadi.

.

.

.

"Aku sudah pulang." Yixing menelepon Minseok segera keesokan paginya, dia sedang di sendirian karena Junmyeon sedang bekerja untuk mengurus proyeknya. Seulgi ternyata tidak berbohong tentang yang satu itu.

Minseok memekik senang di seberang sana, 'Kau harus datang ke sini."

"Ya aku akan datang ke rumahmu siang ini." Yixing tertawa, dia tadi sudah bilang kepada Junmyeon akan mengunjungi Minseok siang ini, dan Junmyeon mengizinkannya dengan syarat Yixing harus mau diantar jemput oleh supir pribadinya, dan Yixing tidak keberatan dengan syarat itu.

"Jadi begitu ceritanya." Yixing menyelesaikan ceritanya, dari awal sampai akhir, dari insiden malam pesta itu sampai akhirnya mereka jatuh cinta. Yixing sedang menggendong puteri kecil Minseok yang masih bayi, dia membuai anak perempuan cantik yang sedang terlelap itu dengan penuh kasih sayang.

"Wow sebuah kisah yang tak terduga tapi sangat indah." Mata Minseok berbinar-binar. "Dari ceritamu, aku yakin Mr. Suho sangat mencintaimu Yixing. Sudah sekian lama aku menjadi asistennya, dan dia begitu dingin, begitu menutup diri. Aku dulu membayangkannya akan menjadi penyendiri seumur hidupnya, aku tidak menyangka dia akan menikah dan jatuh cinta kepada seseorang." Minseok tersenyum lembut, "Aku turut bahagia untuk kalian berdua."

Yixing tersenyum juga, "Yah aku sendiri tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Tetapi aku bahagia." Senyumnya melebar, membuat Minseok tertawa.

Tetapi kemudian ekspresi Minseok berubah serius,

"Kau tidak mencari tahu kabar Leo akhir-akhir ini?"

Yixing menggelengkan kepalanya, "Buat apa? Setelah insidennya dengan perempuan bernama Hyuna di kamar waktu itu, aku sudah melupakannya. Dia tak pantas untuk kupikirkan."

'Kau bilang nama perempuannya Hyuna?" Minseok menyela cepat, rupanya Yixing lupa menyebutkan informasi itu di ceritanya tadi.

Yixing menganggukkan kepalanya, "Ya. Leo memanggilnya dengan nama Hyuna."

"Hyuna adalah sahabat Junmyeon, dia sahabat Seulgi dan menjadi sahabat Junmyeon juga. Tetapi dari yang kutahu, Leo dulu pernah mengejar-ngejar Hyuna dan perempuan itu menolaknya mentah-mentah. Hyuna sendiri dengan tegas mengatakan bahwa Leo bukan tipenya, dan dia tidak tertarik sama sekali dengan Leo."

Yixing termenung. Dari kenangannya waktu itu, mengingat begitu bergairahnya Hyuna mencumbu Leo di kamar, tidak kelihatan kalau Hyuna tidak tertarik kepada Leo, perempuan itu malahan tampak bersemangat dan menggoda.

"Mungkin mereka berdua sedang mabuk malam itu."

"Mungkin juga" Minseok menimpali, "Tetapi Leo jadi berubah sejak kau tinggalkan. Dia tidak ceria lagi, menjadi pemarah dan pemurung. Terakhir dia selalu mencari-cari informasi tentangmu. Kapan kau pulang dan sebagainya. Bahkan dia menelepon ke rumahku."

"Benarkah?" Yixing mengernyit,benarkah Leo masih belum menyerah terhadapnya? Bagaimana mungkin? Tetapi kemudian setelah menelaah Yixing menyadari bahwa itu mungkin saja terjadi. Perpisahannya dengan Leo waktu itu berakhir buruk, dan penuh permusuhan. Leo mencoba menjelaskan dan Yixing tidak mau mendengarkan, lalu Leo mulai menuduh Junmyeon dan sebagainya. Mungkin sekarang Leo tidak terima karena pada akhirnya Yixing menikahi Junmyeon. Mungkin jika ada kesempatan bertemu nanti, Yixing bisa berbicara dengan Leo dari hati ke hati, Mengurai kesalahpahaman di antara mereka dan saling memaafkan.

Ya… mungkin dia akan mencari kesempatan untuk menemui Leo.

.

.

.

Bos sudah pulang. Itulah yang dikatakan para pegawai sejak tadi. Semula Leo masih tidak percaya, tetapi kemudian Junmyeon muncul dan membiarkan beberapa pegawai menyalaminya, memberinya selamat atas pernikahannya dengan Yixing.

Leo melihat lelaki itu tertawa ramah, sesuatu yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya dan menjanjikan acara pesta pernikahan yang mengundang para pegawainya.

Leo mendengus kesal. Lelaki itu telah mengatur segalanya seakan-akan dia itu Tuhan. Leo telah melakukan penyelidikan secara menyeluruh dan dia menemukan bahwa semua sisi kehidupan Yixing setelah kematian kedua orangtuanya terkoneksi dengan Junmyeon.

Junmyeon yang mengatur segalanya untuk Yixing, dari fasilitas pendidikan, tempat tinggal bahkan pekerjaannya. Yixing diarahkannya ke sini, masuk perusahaannya bagaikan sebuah mangsa tidak berdaya siap disantap untuk kesenangan Junmyeon. Leo menahan kemarahan di dalam dadanya, Dia tidak akan membiarkan Junmyeon berjaya. Yixing harus tahu kalau selama ini dia dibodohi dan dimanfaatkan oleh lelaki yang menjadi pembunuh ayahnya. Junmyeon telah merencanakan semuanya, dia menjebak Leo dan kemudian entah dengan cara apa dia menjebak Yixing untuk menikahinya.

Lelaki itu lelaki sempurna dan yakin bisa mendapatkan apa saja yang dia mau. Leo mencibir. Tetapi kali ini, dia akan memastikan Junmyeon menerima ganjarannya. Dia hanya harus mencari tahu di mana Yixing, dan mengatur pertemuan dengannya. Setelah itu dia akan melemparkan semua bukti yang dimilikinya tentang rahasia gelap yang disimpan Junmyeon selama ini.

Mata Yixing akan terbuka. Dan Leo akan menawarkan diri menjadi penopangnya. Yixing akan kembali ke dalam pelukannya lagi, Leo yakin itu. Dan Junmyeon…seluruh rencana lelaki itu akan hancur…Leo tersenyum jahat, membayangkan seluruh rencananya. Junmyeon akan menyesal telah main-main dengannya

.

.

.

=TBC=