Author's Note:
Telatkah diriku Frei?? TT^TT
Disclaimer:
I don't own Naruto.
Bulan separuh itu bersinar terang. Di desa Konoha, tak terdapat neon-neon kota yang senggak dan menantang cahayanya. Angin berhembus pelan, sungguh pelan. Tetapi dengan rendahnya suhu udara malam seperti ini, para angin telah cukup ganas untuk membuat seseorang kedinginan.
Seorang pemuda merapatkan jaket berbahan jeans berwarna biru tua miliknya. Pemuda berambut hitam dengan mata yang berwarna sama ini berjalan pelan menyusuri rerumputan, sebuah ladang yang berbatasan tepat dengan 'Hutan Terlarang' Desa Konoha. Sejak kecil, setiap kali berlibur ke desa kakeknya, Sasuke selalu diperingati untuk tidak mendekati hutan itu. Entah untuk alasan apa, orang-orang dewasa bahkan menyebut hutan itu dengan nama Hutan Terlarang… Sasuke kecil, maupun Sasuke sekarang, bertanya-tanya apa alasan dari nama panggilan itu… Karena sejak dulu ia selalu berpikir, pastilah selalu ada alasan dibalik sesuatu. Termasuk nama aneh untuk sebuah hutan sekalipun. Mungkin, tak lama lagi… Sasuke akan tahu apa alasannya.
Kaki-kaki jenjangnya melangkah di atas rumput, meski tak menjejak. Ia semakin dekat dengan batas antara ladang dan hutan tersebut. Sang Uchiha terakhir sedang mencari seseorang, seseorang yang sedari tadi entah berada di mana… pemuda bermata biru jernih dan berambut keemasan… Ya, sang Kitsune. Dia tak bisa menemukan Naruto di rumah kakeknya. Dan entah kenapa… mengingat kejadian beberapa minggu lalu, saat ia mendapati pemuda itu sedang memandang bulan dari halaman rumahnya, Sasuke yakin… pemuda itu ada di suatu tempat di desa ini. Tempat yang sepi—mengingat sang Kitsune tak begitu suka keramaian, juga tempat yang luas… dimana ia bisa melihat benda langit malam itu bersinar dengan jelas.
Benar saja.
Sasuke mendapati pemuda itu sedang duduk di atas sebuah batu besar, tepat di ujung hutan yang ia tuju. Sang Namikaze mengenakan jaket hitam polosnya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam jaket tersebut. Mata birunya yang indah itu tengah memandang ke langit, tepat pada sang rembulan.
"Naruto…" panggil Sasuke.
Nampaknya sebelum dipanggilpun pemuda itu telah menyadari kedatangan pemuda yang satu. Ia hanya menoleh dengan pelan. Tak ada senyum di wajahnya… sedikit mengecewakan sang Uchiha, mengingat ia memang sangat menyukai senyuman pemuda itu.
"Sasuke," panggil Naruto datar. Pemuda pirang itu lalu menatap tajam pada pemuda yang satu.
Sasuke terhenyak dengan tubuh gemetar. Tatapan tajam ini, bukan sekedar tatapan a la Kitsune… Tatapan ini persis dengan saat sang pemuda dengan kulit berwarna tan itu memerintahkannya untuk menyiapkan Kyuubi menghancurkan Akatsuki.
Apa maksudnya tatapan ini? Ia tak suka… ia sama sekali tak suka tatapan tajam penuh dendam sang Kitsune itu… bukan sekedar tak suka, ia bahkan ketakutan saat melihatnya, terlebih ditatap langsung oleh tatapan yang dimaksud…
Apa?
Kenapa?
Mengapa ia ditatap seperti itu?
Dengan kedua mata onyxnya, dilihatnya pemuda pirang itu berdiri. Naruto terus menatap kepadanya… dan kemudian tersenyum. Sasuke memang mengharapkan senyuman Naruto… selalu ingin melihatnya lagi dan lagi. Tetapi senyuman ini sama sekali berbeda dengan senyuman yang pernah dilihatnya, diharapkannya. Senyuman ini… senyuman ini masih dilengkapi dengan tatapan penuh amarah itu. Dan senyuman ini… seakan meruntuhkan semua pertahanan batin Sasuke. Merenggutnya dalam kegelapan iblis. Menariknya untuk terjatuh dalam lubang gelap yang mereka sebut ketakutan.
"Apa kau tahu kenapa aku mengikutimu?"
Sasuke tak menjawab. Ia bahkan tak mampu untuk menggeleng. Ia tak tahu… dan ia tak mau tahu. Sejujurnya ia takut. Ia takut pemuda berambut pirang itu mengikutinya hanya karena kasihan, hanya karena simpati, bukan karena keinginan hatinya sendiri… Dan, yang paling ia takutkan adalah pemuda itu…
"Aku mengikutimu hanya untuk membunuhmu."
Mata onyx Sasuke melebar dalam kejut. Kalimat itu… kalimat itu yang paling ia takutkan keluar dari mulut sang Kitsune. Tapi kenapa…
"Semua keluarga Uchiha harus mati."
Pemuda berambut hitam ini terjatuh. Kakinya tak mampu menahan beban jiwanya. Ia berlutut tepat di hadapan sang Kitsune.
Sang Kitsune mengeluarkan tangannya dari jaketnya… mengacungkan pistol Heckler Koch USP-nya tepat ke dahi Sasuke. Dan sedetik setelahnya, ia berkata,
"Selamat tinggal, Sasuke…"
Welcome to The Real World
Chapter 10
"Forgive"
"SASUKE!!"
Panggilan itu menyadarkan sang pemuda dari mimpi buruknya. Mata onyxnya terbuka lebar, mata itu basah. Layaknya malam-malam sebelum ia bertemu dengan Kitsune, ia menangis dalam tidur… sama sekali tanpa sadar. Kamarnya gelap, ia hampir tak dapat melihat apa-apa… tapi tentu ia masih bisa melihat pemuda yang telah membangunkannya itu… Naruto.
Mata biru langit Naruto terarah tepat ke wajahnya, tepat ke matanya. Mendapati air mata yang tak henti keluar dari sana meski sang pemilik telah terbangun dari tidurnya. Mendapati ketakutan yang amat sangat terpancar dari kedua bola mata beriris hitam itu. Mendapati luka mendalam tertoreh di sana. Serta mendapati mata itu… balas mengarah padanya.
"Sasuke…" panggil Naruto lagi, kali ini lebih lembut ketimbang tadi. Ia tak lagi perlu membangunkan pemuda berambut hitam itu dari mimpi buruknya. Tapi dari mata mereka yang bertemu, ia juga sadar… pemuda ini… pemuda berambut hitam ini masih amat labil… sangat labil. Tak ada topeng stoic di wajahnya. Tak ada wajah tanpa ekspresi di sana. Karena itulah, saat ini sang pemuda pirang bisa membacanya dengan sangat jelas… semuanya. Tangisannya. Ketakutannya. Lukanya. Dan ini semua menyakiti hatinya sendiri.
Naruto mungkin hampir tak sadar, tangan kirinya yang ia pakai untuk membangunkan Sasuke tadi kini tengah menjadi tempat pemuda itu bergantung. Tempat Sasuke menggantungkan dunia nyatanya, membuatnya menyadari mana sesungguhnya yang mimpi dan mana yang nyata. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia memang telah terbangun saat ini. Tangan kiri itu tengah digenggam erat oleh sang Uchiha, sangat erat, mungkin sampai terasa sakit. Tapi Naruto tak menyadari itu. Ia terlalu terfokus pada mata Sasuke saat ini. Mata yang menceritakan segala perasaannya saat ini, segala efek dari mimpi buruknya beberapa menit lalu.
Naruto tahu… Karena namanya yang terucap oleh pemuda itu dalam tidurnya, Naruto akhirnya tahu, dialah penyebab mimpi-mimpi buruk Sasuke. Ia baru sadar, sebenarnya dialah sang pembuat cerita menyeramkan dalam pikiran pemuda itu. Dialah yang merangkai semua adegan demi adegan mengerikan di dalam otak pemuda itu.
Apa yang lebih menyedihkan… ketimbang menyakiti orang yang paling berharga dalam hidupmu berulang-ulang kali?
Sasuke berniat membuka mulutnya, tapi belum satu katapun bisa terucap, bibirnya telah ditutupi oleh sesuatu… kedua bibir Naruto. Naruto… mengecup bibirnya.
Mata onyx melebar dalam kejut. Pegangannya di tangan Naruto semakin erat. Bukan karena takut—atau mungkin memang karena takut… takut bahwa kecupan ini pun salah satu bagian dari mimpinya. Tapi ia sadar, bibir hangat itu… telapak tangan kekar yang menyentuh pipi dan lengannya ini… ini bukan mimpi. Bukan mimpi.
Meski tak mampu membalas, Sasuke membiarkan bibirnya terus disentuh oleh bibir hangat Naruto. Tak sedikitpun ia ingin menghentikan ciuman ini—meski mungkin bagi beberapa orang, sentuhan lembut kedua bibir ini belum pantas di sebut ciuman. Naruto memang hanya menyentuhnya, tidak berusaha untuk mengganggu bibirnya yang tertutup rapat, ataupun memperdalam ciuman itu. Hanya sebuah sentuhan… sentuhan lembut dari bibir Naruto, yang bisa mengalirkan semua kata-kata hati pemuda pirang itu. Kata hati yang belum mampu diucapkannya detik ini. Sang Uchiha mulai memejamkan matanya, membiarkan lebih banyak lagi air mata keluar dari sana. Entah kenapa, air matanya belum bisa untuk dihentikan. Belum sudi untuk mengering dari sana.
Ciuman itu tak lama, bahkan kalau mau jujur, terasa amat cepat. Entah karena Sasuke yang memang belum sadar benar… ataukah memang hatinya yang menginginkan ciuman itu untuk bertahan lebih lama lagi? Sasuke tak tahu. Yang pasti, setelah kedua bibir mereka terlepas, Naruto segera menarik tangan Sasuke yang sedari tadi memegang lengan kirinya erat. Dilepaskannya telapak tangan itu dari sana… hanya untuk menggenggamnya dengan lebih erat. Naruto mempertemukan kedua telapak tangan kanan mereka, sementara tangan kirinya sendiri ikut menggenggam punggung tangan Sasuke… erat. Sangat erat. Seakan Sasuke akan pergi jauh. Seakan Sasuke akan meninggalkannya. Seakan Sasuke… tak akan lagi ada di sisinya. Namun tak sedikitpun Sasuke merasakan sakit… bukan sakit, hanya kehangatanlah yang bisa dirasakannya saat ini.
Kedua mata biru itu tak memandang pada Sasuke. Wajah Naruto tertunduk. Sedangkan sang pemuda berambut hitam ini berusaha untuk bangkit dan duduk. Selain mencoba membuat otaknya lebih sadar lagi, ia juga ingin melihat langsung ekspresi pemuda pirang di hadapannya. Tapi Naruto tak kunjung mengangkat wajahnya. Hanya genggaman tangannya saja, yang disentuhkannya di keningnya. Hanya tangan kanan Sasuke yang bisa menyentuh langsung dahi Naruto. Dari tangan itu… dari kedua tangan mereka yang bersatu erat, Sasuke bisa merasakannya… merasakan tangan Naruto yang bergetar. Entah mengapa, tanpa perlu melihat bagaimana ekspresinya, Sasuke sudah bisa membayangkan bagaimana wajah Naruto saat ini.
"…maaf," kata pemuda pirang itu lirih, sangat lirih. Sampai-sampai Sasuke sendiri hampir tak mampu mendengarnya. Kalau saja mata onyx hitam yang terus basah oleh air mata ini tak memandang ke wajah Naruto, tak mendapati gerakan bibirnya, mungkin ia tak akan tahu Naruto mengucap kata itu.
…maaf?
Naruto lalu membuang napas panjang. Kemudian ditolehkan kepalanya untuk menatap Sasuke. Mata mereka kembali bertemu pandang. Saat itulah, Sasuke mendapati sesuatu yang terpancar di mata biru itu. Sesungguhnya ini bukan pertama kalinya Sasuke mendapatkan pandangan semacam itu dari mata biru Naruto. Agaknya tatapan Naruto sekarang mirip dengan detik-detik saat sang Kitsune baru saja mendapatkan berita tentang kematian Kakashi, mirip dengan saat Naruto berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan Sasuke dan memberi perintah. Tatapan itu persis dengan tatapan yang keluar dari matanya beberapa detik sebelum tatapannya berubah kembali menjadi tatapan tajam penuh dendam sang Kitsune. Ini… tatapan terluka… tatapan penyesalan. Dan mungkin, tatapan yang menyiratkan marah terhadap dirinya sendiri, kemurkaan terhadap kelemahan Naruto sendiri. Tatapan ini, adalah tatapan yang bahkan hampir tak mampu Sasuke jabarkan dengan kata-kata. Dan kini, tatapan itu tengah terarah padanya…
Naruto kembali menggerakkan bibirnya, hanya untuk mengucapkan dua kata…
"Maafkan aku."
Setelah mengucap kata itu, pemuda pirang ini kembali menutup kedua matanya. Rasanya tak mampu menatap pada pemuda berkulit putih pucat di hadapannya.
Akhirnya… akhirnya ia mampu mengucapkan kedua kata itu. Kedua kata yang sangat ingin dikeluarkannya sejak detik dimana ia mendengar Sasuke adalah anak itu… sang Uchiha terakhir.
Naruto tidak mungkin tidak tahu ada seorang anak lelaki dari keluarga Uchiha yang berhasil melarikan diri hari itu. Ia tahu ada seorang bocah lelaki berumur sepuluh tahun yang tidak mati hari itu… Tertinggal, sendirian. Ia tahu… tapi tak mau tahu. Dengan angkuhnya ia berpikir, bocah itu harus bersyukur masih bisa hidup setelah terancam akan terbunuh oleh Kyuubi. Tapi di satu sudut hatinya yang terdalam—sudut hati yang harus ia musnahkan jika ingin menjadi seorang pemimpin Kyuubi yang benar-benar kuat, di sudut hati yang ia sembunyikan mati-matian dari semua orang itu… ia sadar, ia telah menghancurkan seseorang. Dia telah menghancurkan seseorang lebih dari membunuhnya. Naruto sekalipun masih kanak-kanak saat itu… tentu ia bisa membayangkan, tentu ia bisa mengimajinasikan… bagaimana kalau tiba-tiba kau tak punya keluarga lagi? Bagaimana kalau dalam beberapa jam saja semuanya terrenggut darimu? Semuanya. Keluargamu. Orang tuamu. Kakakmu. Tempat tinggalmu. Kebahagiaanmu. Kebebasanmu. Semuanya, kecuali jiwamu. Jiwa yang bahkan begitu sulit untuk kau jaga sendiri, dan terancam hilang kapan saja.
Bukankah… bukankah lebih baik kalau saat itu ia ikut terbunuh ketimbang terus hidup dalam kesendirian? Dalam kesepian? Dalam ketiadaan? Dan dalam kehancuran? Bukankah lebih baik mati saat itu?
Naruto sadar, sangat sadar, ia telah menghancurkan seseorang. Ia telah menghancurkan hidup seseorang, bertingkat-tingkat di atas membunuh seseorang itu. Jauh lebih baik membunuhnya, ketimbang menghancurkannya seperti ini.
Tapi Naruto tak pernah membayangkan… tak sekalipun ia pernah membayangkan, orang itu akan terus hidup… dan datang ke hadapannya. Tak pernah dibayangkannya orang itu akan bertahan hidup dengan niat membalaskan dendam keluarganya. Tak pernah dibayangkannya orang itu masih hidup… dan akan mengambil hatinya. Tak pernah… tidak pernah sekalipun.
Ia tahu… kata maaf tak akan cukup. Ia tahu.
Karena itu, ia belum pernah mampu mengucapkannya… sampai beberapa detik lalu.
Masih terus digenggamnya erat kedua tangan pemuda berambut hitam itu. Ditariknya genggaman erat itu untuk bertemu dengan kedua bibirnya. Dikecupnya punggung tangan Sasuke tanpa kata-kata. Ia sudah tak mampu berkata-kata. Hanya air mata saja yang mulai membendung di pelupuk mata birunya saat ini. Sungguh… kalau saja ia tahu ia akan menyakiti orang yang paling dicintainya sampai seperti itu… ia rela mati bersama ayahnya. Ia rela mati dan terkubur bersama ayahnya jauh sebelum ia memimpin Kyuubi. Jauh sebelum ia mengeluarkan perintah laknat itu.
Terus ia kecup punggung tangan itu. Mengalirkan kata-kata maaf yang tak mampu keluar dari bibirnya kepada Sasuke. Maaf demi maaf terus ia ucapkan dalam bisunya.
Kini air mata Sasuke telah berhenti mengalir. Entah keajaiban macam apa yang dikeluarkan oleh dua kata Naruto tadi dalam tubuhnya. Hampir ia tak mampu berucap… tapi ia tahu, kalau ia tak mengatakan sesuatu Naruto tak akan berhenti menyesali semuanya. Naruto tak akan berhenti meminta maaf padanya.
Ditariknya tangan itu dari bibir Naruto.
Selama beberapa detik pemuda dengan kulit berwarna tan itu terhenyak, takut Sasuke tak suka diperlakukan seperti itu. Tapi hanya beberapa detik. Karena detik berikutnya, Sasuke melakukan hal yang sama dengan punggung tangannya. Mengecupnya. Mengecupnya dengan penuh kasih, dengan kedua mata onyx yang tertutup rapat.
Napas Naruto bagai tercekat. Tak pernah ia sangka Sasuke akan melakukan itu padanya. Bukan kecupan lembut itu. Melainkan sesuatu yang tak diucapkannya, tapi teralir lewat satu kecupan lembut itu.
Maaf.
Sasuke memaafkannya.
"…berjanjilah," ucap pemuda berambut hitam itu lirih, dengan mata yang masih terus tertutup, tak mampu memandang pada pemuda di hadapannya. Ia genggam erat tangan pemuda pirang itu dan melanjutkan pelan, "berjanjilah… kau tidak akan kembali pada Kyuubi, dan," ia terhenti lagi, mengumpulkan keberanian hatinya dan meneruskan, "…terus berada di sisiku."
Entah malam yang dingin ataukah adegan yang baru saja terjadi ini yang membuat Naruto hampir tak mampu berpikir. Butuh beberapa detik baginya untuk memahami arti dari kata-kata yang Sasuke ucapkan.
Tapi segera setelah pemuda bermata biru ini mengerti, diucapkannya kata-kata ini,
"…aku bersumpah."
-
To Be Continued…
-
.
.
.
Hiks, gagal atau tidak yang penting jadi dah. Megu gak butuh pulsa Frei, yang penting jangan dikasih challenge babak kedua lagi... *pundung di bawah meja*
Gomen, Megu gak sempat membalas review kawan... BTW, Megu cuma mo tanya... chapter berikut bagusnya ada lemon atau tidak?
Kalau ya, kenapa, kalau tidak kenapa?
Bukan bermaksud plin-plan, (walau Megu memang plin plan) cuma, Megu ingin memberikan yang terbaik untuk pembaca... kebahagiaan reader, kebahagiaan Megu juga! XD
.
.
Review, if you don't mind.
