Warning : OOC, Semi canon, i lope typo, i lope flame?/N.O:v

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Kuro no Unmei

--

Masih Hari pertama ujian Chunin

Jam tengah menunjukan pukul 1 siang, para Kage dari luar desa Konoha sedang beristirahat di sebuah penginapan khusus yang telah disediakan.

Disaat semua kage tengah beristirahat sebelum mereka akan melakukan acara tour keliling desa, sang tuan rumah yakni Hokage Yondaime-sama justru terlihat bersitegang dengan seorang Jounin elit sekaligus orang yang sangat ia percayai.

Tempatnya di atas atap gedung Hokage. Yondaime, membaca berkas dari formulir pendaftaran para peserta ujian Chunin yang bersatus ilegal.

"Sesuai dengan penyelidikan dari Anbu, ini benar-benar sangat diluar dugaan Hokage-sama.. beberapa dari peserta ujian Chunin ada yang berasal dari desa yang memang tidak terdaftar sebagai desa yang memiliki pasukan ninja.." Hatake Kakashi melaporkan kejanggalan yang ia temukan setelah mengamati dan memeriksa keabsahan dari status ninja yang dipegang oleh beberapa shinobi muda yang berasal dari desa terpencil.

"Kenapa kau baru melaporkan ini sekarang hah!? mereka ini berstatus ilegal, kita sudah terlambat untuk mendiskwalifikasi mereka.. karena orang-orang ini sudah mengikuti ujian Chunin di babak pertama!.." Minato mengibas-ngibaskan kertas formulir itu didepan wajah Kakashi dengan sedikit kasar.

Laporan dari mantan muridnya ini cukup membuat darah Minato mendidih, pasalnya ia sangat kecewa dengan kinerja dari tim penyeleksi peserta ujian yang pastinya tim devisi penyeleksi itu diketuai oleh Kakashi sendiri.

Jika ada warga desa lain yang mengetahui masalah ini. Maka bisa dipastikan ujian Chunin ini tidak akan mendapat pengakuan yang resmi dari para Kage dan juga Damio penguasa negri. Singkatnya para peserta yang sudah mengikuti ujian ini dengan susah payah, tidak akan benar-benar dinyatakan lulus menjadi Chunin meskipun mereka berhasil menyelesaikan ke tiga babak ujian.

"Maafkan kami dari tim devisi penyeleksi, karena kurang teliti untuk memastikan apakah peserta itu berasal dari desa yang benar-benar memiliki pasukan ninja atau tidak... ini memang murni kelalaian kami.." Kakashi membungkuk hormat, meminta pengampunan. Sayangnya Minato sudah dalam mode tegas, kali ini Yondaime tidak akan memaafkan perkara yang dibuat oleh devisi penyeleksi dengan mudah.

"Iya, ini memang kelalaian devisi penyeleksi!! dan Aku tidak akan menerima permintaan maaf yang seperti ini darimu!!.."

Kakashi mengangkat kepalanya, karena nada bicara Minato semakin tegas dan menuntut. ia pasrah jika akan dimarahi oleh mantan gurunya itu. Sungguh sial!

"Dengar Kakashi!! kesalahanmu ini sudah sangat fatal.. tidak hanya satu orang peserta yang berhasil menyusup ke desa Konoha melainkan ada puluhan tim genin ilegal yang ikut di ujian Chunin kita tahun ini... Situasi desa mungkin saja sekarang dalam bahaya... kita tidak tau apa maksud dari penyelundupan semua peserta ujian ini..." Minato menambah volume suaranya. Tak puas hanya dengan bentakan melainkan Minato mulai berteriak.

Kemalasan Kakashi dalam mengurus ratusan lembar formulir peserta ujian rupanya membawa petaka buruk untuk dirinya sendiri. Kasihan sekali kau Kakashi!!

"Sekali lagi, saya mewakili tim devisi penyeleksi meminta maaf yang sebesar-besarnya pada anda Hokage-sama.."

Minato menatap datar Kakashi lalu ia pun menyambung kembali kata-katanya setelah terdiam beberapa saat.

"-Kalau sudah begini, Aku minta sebagai gantinya.. sekarang tim devisi penyeleksi harus mengawasi selama siang-malam semua orang Genin gadungan ini.. Karena kita tidak mungkin langsung mendiskwalifikasi mereka, sebab hasil dari ujian tertulis dan beberapa pion dari ujian sparring sudah keluar.. peserta pasti sudah mengakumulasikan sendiri beberapa nilai yang mereka dapat... jika kita langsung menunjuk mereka untuk gagal! Maka ujian ini akan terlihat tidak adil bagi mereka, yang memang sudah lulus dengan nilai tinggi..."

Kakashi menatap paham dengan pekerjaan barunya yaitu sebagai mata-mata peserta ujian ilegal ini.

"Apa kau mengerti?!.."

"Haik dimengerti Hokage-sama.."

Sebelum ia benar-benar akan pamit dari hadapan Hokage, sekali lagi Kakashi merendahkan dirinya untuk Minato.

Usai Kakashi undur diri, Minato mencekal lembar formulir pendaftaran milik Genin-genin ilegal itu. Matanya tertuju pada foto peserta ujian bertopi kupluk di tangannya. "Orang-orang ini... sebenarnya apa tujuan mereka...!" Geram Minato tertahankan.

--

--

--

Di arena bertarung kelompok besar nomor 3

Wasit dari partandingan ini sedikit menautkan alisnya ketika ia melihat penampilan Naruto. "Nak apa kau tidak terganggu dengan rambutmu itu? hmm.. maksudku apa kau bisa bertarung dengan rambut yang menutupi matamu?" Ninja Jounin asal Konoha yang bertugas sebagai wasit, baru kali ini melihat peserta ujian yang sebegitu berani melakukan pertarungan jarak dekat dengan mata tertutup seperti itu.

Naruto menoleh dengan wajah datar, dan jawabannya pastilah "Aku tidak terganggu dengan rambutku, karena aku sudah terbiasa seperti ini..." dustanya.

Nara Shikamaru berjalan sangat santai sampai-sampai memerlukan waktu 10 menit baginya untuk sampai di hadapan wasit.

"Kau Nara Shikamaru!?" Ketika namanya dipanggil lelaki bertampang malas itu justru menguap sangat lebar setelahnya ia mengangguk lemah.

"Iya itu aku.." Jawab Shikamaru seadanya. Wasit tadi hanya menghela nafas lelah, untungnya pertarungan ini merupakan pertarungan terakhir dari peserta ujian di kelompok 3. Jadi setelah ini wasit dengan ciri selalu memakan tusuk jerami di mulut itu bisa segera beristirahat.

Setelah Naruto dan Shikamaru mengambil posisi bersiap. Wasit merentangkan tangannya ditengah-tengah.

"Peraturannya masih sama, yaitu kalian hanya dilarang untuk saling membunuh!..-"

Wasit memandang Naruto dan Shikamaru secara bergantian setelah itu ia berteriak memberi aba-aba bahwa pertandingan bisa dimulai.

"-MULAI...!"

Naruto menyeringai, dengan sudut bibirnya sedikit mengerucut. Jika diteliti lebih dekat, bocah berambut nanas yang menjadi lawannya itu kelihatannya tidak memiliki level jutsu yang tinggi. Lihat saja perangainya yang kelewat santai dan acuh-tak acuh. Atau mungkin ekspresinya itu hanya sebuah topeng semata?

"Orang ini, kelihatannya berbahaya.." Didalam hatinya sebenarnya Shikamaru merasa panik. Kelihatannya lawannya kali ini berasal dari kelas berat. Apa perlu ia langsung menyerah saja? rasanya Shikamaru benar-benar malas untuk bertarung. Tapi jika ia menyerah, sebelum bertanding. Maka ada kemungkinan tim-nya akan tereliminasi karena kekurangan poin. Shikamaru sendiri tidak bisa mempercayakan pencurian poin sparring ini kepada dua rekannya yang lain. Sebab perlu dicatat jika kemampuan dua rekannya itu belumlah cukup kuat.

"Ahh.. merepotkan!.. aku harus bertarung dengan orang ini.. sekarang jutsu apa yang harus aku gunakan? sial.. rasanya malas sekali harus menghabiskan cakraku disini.." Shikamaru masih sibuk dengan batinnya. Tapi beberapa rencana telah tersusun rapi didalam otaknya untuk menjebak musuhnya tanpa harus membuatnya terbunuh. Iya itu benar, kemampuan berpikir Shikamaru memang di atas rata-rata karena dia adalah anak yang jenius.

"Kenapa mereka berdua hanya diam!..." Peserta diatas balkon dibuat bosan menunggu. Baik Naruto dan Shikamaru mereka berdua belum ada yang mau menyerang terlebih dahulu. Sepertinya mereka berdua saling menunggu.

"Kau benar.. apa-apaan mereka!! menghabiskan waktu saja.." Protes seorang ninja muda asal Sunagakure.

Dari balkon kiri, Uchiha Sasuke menyipitkan matanya kearah bawah. Dua objek yang saling membisu itu membuatnya jengah, untuk menatapnya terlalu lama. "Tcih..! dasar rendahan.. memangnya pertarungan seperti apa yang bisa mereka pertontonkan disini.." Cemooh Sasuke tanpa dosa. Seolah-olah pertarungannya tadi sudah menjadi pertarungan yang paling luarbisa karena telah mampu membuat lawannya tumbang dengan luka bakar hampir 30 persen di sekujur tubuhnya.

Iya harus diakui, dari puluhan sparring yang sudah berlangsung diarena ini. Hanya pertarungan Sasuke lah yang paling berkelas untuk ditonton, Sisanya para peserta yang lain hanya mencari poin aman dengan mempertontonkan Sparring tanpa membuat lawannya cidera atau luka. Jadi wajarlah jika Sasuke merasa dirinya adalah shinobi muda yang paling kuat dan berbakat di kelompok tiga ini.

Kembali ke arena, terlihat Shikamaru mulai menautkan jarinya. "Kagemaneno jutsu.." Setelah bersuara lantang untuk nama jutsunya, bayangan dari kakinya bergerak cepat menuju tempat Naruto berdiri.

Bocah berambut merah itu sama sekali tidak melihat jika saat ini dirinya menjadi incaran sebuah bayangan. Tapi sayang sekali dengan jaraknya yang hampir 10 meter jauhnya rentangan bayangan Shikamaru tidak sampai menyentuh bayangan milik Naruto.

"Aihh.. sial dia terlalu jauh.." Umpat Shikamaru begitu pelan.

Naruto, mulai mengeluarkan satu kunai dari kantung senjatanya, ia rasa hanya dengan satu kunai itu sudah cukup untuk membuat manusia pemalas didepannya itu tumbang.

Tak perlu waktu banyak Naruto langsung melesat maju. Shikamaru dengan sigap meladeni pertarungan jarak dekat ini.

TRANG...

Suara kunai beradu diantara keduanya. Tangan Shikamaru begitu gemetar dan deretan giginya terkatup kuat untuk menahan tekanan dari lawannya. Naruto menghempaskan dengan kuat kunai hitam milik Shikamaru ke atas dan secepat kilat tangan kanannya meraih serta membringsut kerah baju lawannya. Setelah cengkraman itu Naruto dengan tenaganya membanting dan menghempaskan tubuh Shikamaru, hingga bocah pemalas itu membentur dinding beton arena yang kokoh.

SRATTT...

BRAAKKK...

"Atataa.. Iteee... kau lawan yang cukup agresif rupanya.." Shikamaru meringis dengan memegangi bahunya. Rasanya lengan kanannya berdenyut nyeri setelah membentur dinding dengan kuat.

Mata penonton yang didominasi oleh peserta ujian cukup terpukau oleh aksi cepat yang diperlihatkan oleh Naruto tadi.

"Anak berambut merah itu boleh juga.. Sepertinya dia cukup kuat, aku jadi ingin bertarung dengannya final nanti.." Ninja dari Suna, dengan perawakan berbaju hitam dan menggendong sebuah boneka dipunggungnya terlihat tersenyum menantang ke arah Naruto.

"Kau bercanda Kankuro!? dia itu sepertinya lebih kuat darimu! aku sarankan sih lebih baik kau mencari lawan yang setara atau dua level dibawahmu, agar kau bisa menang lebih mudah.. dasar payah..!" Seorang ninja mencemooh keinginan Kankuro untuk bertarung dengan Naruto. Tentu saja itu menyulut amarah dari salah satu putra kage dari negara pasir itu.

"Apa katamu!! aku ini tidak payah.. yang payah itu kau! dasar pengecut!!"

"Apa kau bilang!?... akan aku cekik kau!.."

Dan seterusnya adu mulut diantara kedua ninja muda itu tak terelakkan. Sasuke sendiri yang berdiri dekat dengan mereka memilih untuk pergi dan mencari tempat bagus untuk menonton pertandingan terakhir ini dengan damai.

--

Shikamaru bangkit sedikit tertatih, wasit menghampirinya namun remaja pemalas itu tidak mau pertandingan ini selesai begitu saja. Yang benar saja! mereka kan baru mulai bertarung!! Masak harus menyerah sampai disini!.

Walaupun terlahir sebagai manusia pemalas tapi Shikamaru itu memiliki harga diri tinggi yang cukup menyamai seorang Uchiha.

"Kau masih bisa bergerak rupanya?" Naruto berujar datar, ia memainkan kunainya dengan memutarnya di salah satu jarinya.

TAK... *putaran kunainya berhenti.

"Hahaha.. ini baru permulaan kau tenang saja, aku akan memberikan perlawanan yang setimpal untukmu..-"

Shikamaru terlihat menepuk-nepuk bajunya yang kotor kemudian ia menyambung kembali penggalan katanya yang tertinggal "-Iyah itupun jika cakraku masih belum habis, kau tau.." lanjutnya dengan malas.

"Aku akan menunggu dengan sabar.."

Dari sanalah, Shikamaru mulai serius. Sebenarnya ia bingung harus melawan Naruto dengan jutsu apa, jujur saja di usianya yang sudah menginjak 13 tahun Shikamaru tidak pernah berlatih jutsu turun-temurun yang dimiliki oleh klannya. Berbekal banyak senjata, akhirnya Shikamaru hanya melemparkan beberapa kunai dan shurikennya ke arah Naruto, tentu saja arah lemparannya sudah diperhitungkan oleh Shikamaru. Sedangkan Naruto tidak tahu-menahu apa maksud dari Shikamaru yang menyerangnya dengan puluhan kunai yang tak tentu arah nya itu.

TANG...

SWERRR...

Itu kunai terakhir, Naruto berhasil menghalau satu kunai itu melesat jauh diatas kepalanya. "Coba kita mulai dengan ledakan kecil disini.." Shikamaru menautkan jari telunjuk dan jari tengahnya keatas. Kemudian "-Kai!!.."

Puluhan shuriken dan kunai yang mengelilingi Naruto rupanya telah terhubung dengan sebuah benang tipis dan sudah tertempeli oleh sebuah kertas peledak berukuran sangat kecil dan tentu saja transparan.

DUAR... DUAR... DUAR... DUAR... DUAR... DUAR... DUAR...

Shikamaru melindungi wajahnya dengan membentangkan tengannya. Efek ledakan kertas itu cukup membuat atmosfir di arena seperti terkena badai topan.

Setelah asap menghilang, manik Shikamaru terbelalak sempurna. Bagaimana tidak lawan bertarungnya ternyata masih berdiri tegap di tempatnya semula. hanya bajunya sedikit robek dan topi kupluknya terhempas keatas lalu mendarat sempurna 3 meter didepan Naruto.

"Wah... itu tadi hanya seperti sengatan semut kecil untukku!.. bisakah kita mulai bertarung dengan serius sekarang?" Balas Naruto, ia berjalan santai untuk memungut topi kupluknya. Karena rambutnya sedikit tersibak ke atas kini semua penonton bisa melihat mata shappire Naruto yang tajam dan mendominasi.

"Hahaha.. dasar tidak berguna.." Tawa hambar Shikamaru keluar sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Ibu sepertinya hari ini anakmu akan mati.." Batin Shikamaru sangat sedih dan pasrah.

--

"Matanya!... apa mungkin dia orang yang di jembatan Kanzai itu..." Sasuke Uchiha tergagap saat melihat rupa asli Naruto. Ia lupa siapa nama bocah yang bertarung dengannya di jembatan Kanzai, tapi yang jelas Sasuke ingat betul bagaimana rupa wajahnya.

"Tidak salah lagi!!.. itu pasti dia, kenapa dia bisa mengikuti ujian Chunin ini?.." Sasuke terus saja bergumam. Banyak pertanyaan yang ingin ia ketahui jawabannya mengenai anak berambut merah yang sedang bertarung dengan Shikamaru ini. Hingga tanpa sadar karena pikirannya melayang jauh, tangan Sasuke mencengkram kuat pembatas besi di balkon atas.

Tak terasa sore hari telah tiba, lukisan langit orange begitu indah mewarnai pemandangan desa Konoha. Dengan kedatangan sore, maka berakhir sudah Ujian Chunin babak pertama hari ini.

Para panitia Jounin Konoha telah menyiapkan 3 papan pengumuman besar berisi nama-nama peserta Genin yang lulus ke babak dua. Tim Genin dari 5 Negara shinobi saling berdesakan untuk melihat pengumuman itu.

"Waaaahhh!!! tim kita luluss!!..." Genin asal Kirigakure bersorak gembira setelah melihat namanya tertulis di papan pengumuman itu.

"Ahh syukurlah kita lulusss..."

"Yaampun, aku tidak siap untuk mengulang lagi ujian ini di tahun depan.."

"YOOSHH!.. SEMANGAT MASA MUDA TIDAK AKAN MENGHIANATI HASIL... NEJI, TENTEN KITA LULUS.."

Plakkkk...

"SUDAHLAH LEE JANGAN MEMBUAT AKU DAN NEJI MALU!!.."

"Dasar kampung, hanya berhasil lulus ujian semudah ini saja, mereka riuh sekali..." Suigetsu mengorek kupingnya yang mendadak tuli akibat teriakan absurd dari manusia Konoha.

"Hei Kau, coba lihat nama kita di papan itu..!" Naruto melipat tangannya didepan dada, remaja merah itu menyender di bagian paling belakang kerumunan anak-anak Genin tersebut. Orang yang diperintah oleh Naruto adalah Kimimaro. Si manusia tulang itu sih mau-mau saja diperintah oleh Naruto, tanpa ada perlawanan.

"Kau tidak perlu khawatir Naruto, kita pasti lulus kok.. " Naruto langsung memicing tajam ke arah Suigetsu, sepertinya Sui lupa jika saat ini mereka masih di Konoha jadi nama Naruto tidak boleh disebut.

"Kenapa menatapku begitu?" Suigetsu mundur satu langkah. Wajahnya mendongkak meminta penjelasan dari Naruto. "Bodoh, kau lupa kalau aku sekarang adalah Nerro?"

"Asshhh...! aku lupa, lagi pula kau sih yang salah.. kenapa kau tidak pakai topi kuplukmu payah!.."

Naruto blushing karena kesal dan malu. Ia lantas mengeluarkan kupluk abu-nya dari saku pantatnya. Menepuk-nepuk sedikit topi lusuh itu kemudian Naruto mulai memakainya lagi.

"Nah begitu.. ini baru Nerro.." Seru Suigetsu, bersemangat.

"Diam kau Sui..!" Bentak Naruto.

Disela-sela suara teriakan dan tangisan para peserta ujian. Seseorang mendekat dan berseru lantang pada Naruto. "Hei kau..!"

Sui dan Nerro serempak menoleh ke sudut yang sama. Nerro tersenyum samar, ketika Sui menyikut perutnya.

"Pstt.. itu Uchiha Sasuke kan?" bisik Sui, sedangkan Nerro cuma mengangguk kecil.

"Kenapa, apa kau bicara padaku?" Nerro berujar santai kepada putra bungsu Uchiha itu.

Sasuke berdiam dihadapan Nerro, kepalanya sedikit mereng mengamati jeli wajah Nerro yang memakai kupluk kumalnya. "Aku ingat sekarang, kau orang yang dijembatan Kanzai kan?"

Nerro mengibaskan tangan, dari menyender santai di tembok kini ia menyender lebih tegap dan kedua tangannya tersimpan disaku celana. "Iya.."

"Memang dia!" batin Sasuke penuh benci.

"Aku masih menaruh dendam padamu... akan aku bunuh kau nanti.." Sharingan Sasuke langsung aktif dengan 3 tomoe di bola matanya. Ia mengintimidasi Narro, tapi seperti Nerro tidak terlalu peduli.

"Lakukan saja jika kau bisa.." Balas Nerro tak kalah dingin dengan Sasuke.

Usai papasan singkat itu, Nerro merasa puas. Entah kenapa ada sebuah firasat jika suatu saat nanti anak Uchiha manja itu akan menjadi partnernya yang sempurna.

--

Sakura Haruno menghempaskan sepatu ninjanya ke sembarang arah. Setelah sampai di kediaman Damio, ia ingin segera merendam diri di tub air panasnya. Tak perlu khawatir jika rumahnya nanti akan berantakan jika Sakura melempar sepatu ninjanya atau membuang kunainya secara asal karena ada banyak pelayan yang akan membereskan kekacauan yang dibuat oleh putri tunggal Damio ini.

Saat kaki ringkihnya menapaki lantai dapur. Sang ayah datang dengan berteriak menyambut putrinya. "SAKURA-CHAN~~..."

"Hpptt.. Papa le- lepaskan pelukannya.. aku sesak!!.." Sakura meronta didalam bekapan sayang Papanya.

"Wah putri Mama sudah pulang.." Sambut wanita berambut pirang, silih berganti.

"Yaahh.. putri kita sudah pulang, dia pasti lelah setelah mengikuti ujian Chunin... ayo buat pesta penyambutannya..!!" Kizashi merangkul seluruh pundak anaknya dan menepuk-nepuknya cukup keras.

"Papa tidak usah.." Sakura berusaha menolak ide Kizashi untuk merayakan pesta penyambutan kelulusan babak pertama yang Sakura ikuti. Yaampun kedua orang tuanya begitu norak, sedikit-sedikit mereka langsung membuat pesta atau perayaan untuk hal-hal yang tidak perlu. Sakura bahkan sampai tidak tau harus marah atau bagaimana. Yang pasti semenjak kedua orang tuanya menyandang gelar Damio negeri api, Kizashi dan Mebuki selalu senang hura-hura diatas penderitaan orang lain.

"Iya tidak apa-apa sayang.. kita buat penyambutan kecil saja agar kau tidak menolak lagi.. ya ya ya.." Paksa Kizashi. Sakura mulai jengah, ia melepas rangkulan Kizashi secara paksa. "Papa aku bilang tidak usah! ya TIDAK.. kenapa Papa tuli sih, aku tidak butuh perayaan apapun!"

Semua orang dirumah, terbengong karena bentakan gadis berambut pink itu. Termasuk para pelayan Damio yang berseliweran. Untuk kali pertamanya mereka semua syok melihat putri tunggal Damio Kizashi semarah ini.

"Sa- Sakura-chan?.. kau baik-baik saja?" Mebuki mendorong Kizashi dari sisi anaknya. Kemudian ia memeluk Sakura yang mulai menangis.

"Papa... maaf aku, -aku tidak bermaksud.." Suara Sakura sedikit tertahan. Kizashi hanya bengong menatap kedua perempuan kesayangannya.

"Iya-iya tidak apa-apa Sakura-chan, Papa mengerti.. kita batalkan pesta penyambutannya jika kau tidak suka.."

"Ceritakan pada Mama apa yang terjadi hari ini.." Mebuki membiarkan Sakura mengatur nafasnya. Sedetik kemudian setelah perasaannya membaik. Sakura mulai bicara.

"Aku kasihan pada Tsunami-chan.." cicit Sakura.

"Temanmu itu kenapa sayang?"

"Tsunami-chan terluka saat ujian sparring.. dan Kakashi Sensi bilang lukanya cukup parah.. Aku dan Sasuke-kun tidak sempat menjenguknya tadi ke rumah sakit karena sudah larut malam.."

Kizashi mengangguk paham dengan masalah Sakura. Ia berpikir sejenak, Tsunami? ah itu nama teman anaknya. Anaknya sedih karena temannya terluka. Kizashi cukup cemas bila Sakura akan berakhir sama seperti temanya yang terluka karena memilih menjadi seorang shinobi. Tapi apa boleh buat, Kizashi dan Mebuki sudah lelah untuk membujuk Sakura agar berhenti menjadi seorang ninja. Karena dilihat dari manapun keturunan Damio memang tidak memiliki kapasitas cakra dan bakat yang sebagus milik keluarga dari golongan shinobi.

"Begitu ya, temanmu terluka.. kalau begitu besok kita semua akan menjenguknya dirumah sakit ya.." Kizashi menepuk kepala Sakura sayang. Gadis kecilnya mendongkak dengan mata sedikit sembab.

"Apa Papa dan Mama juga akan ikut menjenguk Tsunami-chan? Tapi bagaimana dengan tugas Damio besok? Papa dan Mama harus berkunjung ke negeri salju kan?

Tik tok tik tok..

Kizashi dan Mebuki saling pandang dan keduanya tersenyum garing. "Ah iya iya.. kita akan batalkan kunjungan ke negeri salju besok, hanya untukmu..."

--

--

Malam hari di penginapan.

Naruto sudah selesai mandi dan kini ia tengah duduk diatas tatami untuk menyantap makan malamnya. Semangkuk nasi, kuah udon dan telur gulung adalah menu makan malam yang disiapkan oleh pihak hotel.

"Aku sudah bilang padamu! Aku yang akan mandi setelah Naruto.. tapi kenapa kau yang masuk kedalam dan menghabiskan semua air hangatnya bodoh!.." Suigetsu memisuh Kimimaro dengan nistanya. Wajah sok polos Kimimaro semakin membuat Sui tambah marah.

"Sudahlah.. aku sudah terlanjur mandi, kau pakai saja sisa dari airku.." Sahut Kimimaro dengan kalem meninggalkan Sui yang tetap mendidih saking marahnya.

"Kauu!!-" Tunjuk Sui ke pada Kimimaro "-jijik sekali jika aku harus pakai air sisa darimu.. dasar bedebah.."

BLAM...

Sui membanting pintu kamar mandi didepan wajah Kimimaro. Naruto yang melihat pertengkaran itu hanya tersenyum mengejek ke arah Kimimaro.

Waktu terus berlalu, panitia ujian Chunin memberikan jeda 3 hari untuk istirahat bagi para peserta ujian sebelum babak ke dua ujian Chunin dimulai.

Dan selama itu juga Naruto sudah terbiasa tinggal di Konoha, bahkan di hari ke kedua libur 3 hari ini. Naruto dan grup Nerro sempat mengunjungi beberapa tempat bagus di Konoha. Seperti akademi ninja, rumah makan enak bahkan onsen pemandian air panas.

Kabuto dan Orochimaru tidak pernah kelihatan semenjak ujian Chunin babak pertama berlangsung, tapi hal itu tidak membuat Naruto pusing. Biarkan saja dua orang aneh itu pergi, hidup Naruto akan semakin damai jika mereka berdua lenyap dari bumi ini.

"Hari ini, kita mau kemana lagi?" Tiga remaja lelaki tengah berbaring malas diatas tatami bambu. Sui menatap langit-langit kamar hotel sambil memainkan jemarinya.

"Lebih baik tidur dan mengumpulkan energi... aku punya firasat buruk tentang ujian babak kedua besok.." Naruto tengkurap menyahuti Sui. Dan sisa satu orang yang irit bicara hanya diam membisu.

"Yasudah kalau begitu... tidur - tiduran saja lah.."

--

--

Yappp.. sampai disini dulu :3

Terimakasih kepada teman-teman semua...

yang sudah sempat mampir sampai membaca semua chapter diffn ini.. kalian yang terbaik..

follow ya ya ya ya.. @nksetiani wkwk..