Touch
Disclaimer: Harry Potter © J.K Rowling
Author: MilesMalfoy
Rated: MA (Please be careful)
Pair: Dramione
Warning: this book has an 18+ content so please be wise. Typo, OOC, Muggle World
Tidak ada keuntungan apapun yang saya ambil dalam pembuatan fic ini.
Summary: Dan ketika Draco menjadi orang yang dipilih oleh Hermione dan teman-temannya sebagai partner s*eks Hermione, Draco mendapati dirinya tak pernah merasa cukup dengan Hermione. Lalu Hermione mulai tak bisa berhenti memperhatikan Draco jika Draco muncul di dibaca dengan bijak oleh mereka yang cukup umur. No judge please.
Touch
Rumah Nic cukuplah besar bagi Hermione. Mata hazelnya menjelajah mengamati bentuk bangunan serta pekarangan rumah yang berdiri di depannya itu. "He's such a rich boy." Komentarnya sambil mengangguk-anggukkan kepala. Bahkan dari luar sini sayup-sayup terdengar suara musik. Hermione membayangkan bagaimana jadinya di dalam.
"He is." Harry yang berada di sebelah Ginny turut mengomentari. Malam ini Hermione datang ke pesta Nic bersama dengan Ginny dan Harry, sementara Astoria sudah datang sejak awal, bahkan sebelum pestanya dimulai.
Hermione tampak cantik dengan casual dress berwarna putih tanpa lengan yang digunakannya bersama dengan tali pinggang kecil berwarna pink di bagian perut. Kakinya dibalut boot setinggi mata kaki dengan hak yang tidak terlalu tinggi. Sementara Ginny menggunakan ripped jeans dan sebuah crop top putih ditambah jaket kulit hitam. Harry menyukai penampilannya malam ini.
Mereka melangkah menuju pagar rumah Nic yang dijaga tiga orang security. Melihat Hermione, Ginny, dan Harry datang mendekat, salah seorang security itu menghadang. "Harry Potter, Ginny Weasley, dan Hermione Granger." Harry sebagai laki-laki mewakili ketiganya bicara.
Security tersebut tampak membaca lembaran kertas yang dibawanya lalu dia mulai menyingkir dan memberika jalan supaya Hermione, Harry, dan Ginny bisa masuk ke dalam.
"Wow." Hermione bergumam kagum begitu dia masuk ke dalam rumah Nic. Pesta sudah dimulai, suara musik terdengar cukup keras, orang-orang telah memenuhi rumah Nic. "Let's find Nic first." Lanjutnya lagi sambil menoleh pada Ginny.
"Ya." Ginny yang bergandengan tangan dengan Harry menarik tangan pacarnya itu untuk mengikuti langkahnya dengan Hermione lebih masuk ke dalam rumah Nic. Melewati ruang santai yang besar dan mewah, menuju dapur. Meja makan keluarga Ellingwood telah berubah menjadi tempat bermain beer pong yang dipenuhi banyak orang.
Melewati dapur, ketiganya melangkah menuju halaman belakang rumah Nic. Halamannya jauh lebih luas dibanding pekarangan di depan, ada kolam renang yang cukup besar juga. Seorang DJ tampak ditempatkan di salah satu sudut halaman. Ada speaker-speaker besar dipasang di beberapa tempat. Lampu-lampu menghias sekeliling kolam dan diletakkan di tempat-tempat tinggi seperti pohon, pembatas balkon, tiang-tiang rumah.
Di halaman belakang sungguh jauh lebih ramai dibandingkan di dalam. Musik lebih terdengar keras dan jelas. Mata Hermione menjelajah mencoba mencari Nic atau Astoria. "Itu Nic." Suara Ginny yang berhasil menemukan Nic membuat Hermione menoleh ke arah dimana mata Ginny tertuju.
Nic tampak sedang menari mengikuti music bersama Astoria. Tanpa banyak bicara lagi, ketiganya langsung mendatangi Nic dan juga Astoria. "HEIIII." Nic dengan gembira menyambut mereka.
"Happy birthday, Nic." Hermione tersenyum pada pacar sahabatnya itu.
"Thanks, Hermione. Enjoy the party." Nic membalas dengan senyuman juga lalu bersalaman dengan Harry dan selanjutnya Hermione tidak mendengarkan. Dia menghampiri Astoria, begitu juga dengan Ginny.
"It's really a nice party." Ginny memulai.
Astoria mengangguk dengan senyuman lebar. "Ya. Come on let's get you both a drink." Tangan anggun Astoria menarik kedua tangan sahabatnya itu dan membawa keduanya kembali masuk ke dalam rumah Nic. Mereka bergerak menuju lemari pendingin lalu Astoria mengambilkan keduanya masing-masing satu botol bir berukuran small.
"Hermione, jangan biarkan orang lain mengambilkanmu minum, oke? Besok hari sekolah, kau sendiri yang bilang tidak ingin mabuk karena tak ingin bolos, jadi kau harus hati-hati. Kulihat Nic tidak hanya menyediakan bir. Ada vodka, dan macam-macam minuman beralkohol tinggi." Astoria berucap mengingatkan sambil menenggak minumannya dari gelas plastik.
"Note it." Hermione mengangguk dan menjawab setelah menelan sesapan bir pertamanya. "Kau tahu siapa saja yang datang?"
"Aku sempat melihat Nott dan Zabini." Ginny menyahut.
Astoria mengangguk membenarkan. "Nate juga sudah datang, dia bersama Debby."
Kening Ginny seketika menunjukkan kernyitan. "Debby? Maksudmu Deborah Fleming?"
"That one." Astoria mengangguk mantap sambil memberikan telunjuknya, menandakan bahwa jawaban Ginny sangatlah tepat.
"Aku tidak tahu dia dekat dengan siswi terseksi di Hogwarts." Ginny berkomentar, merasa heran. Semua murid di Hogwarts tahu bahwa Deborah Fleming dengan gelarnya sebagai the-hottest-girl-in-Hogwarts tidak akan pergi ke pesta dengan sembarang laki-laki. Nate bukanlah siapa-siapa di Hogwarts. Dia hanya terkenal sebagai murid baru yang punya tampang lumayan. "Apa karena dia butuh pamor dari Nate?" Ginny mulai berspekulasi.
"Nate yang mengajaknya. Kupikir Nate-lah yang butuh pamor Debby." Astoria memberikan pendapat yang berbeda.
"Atau mereka saling membutuhkan satu sama lain untuk pamor mereka? Kalian tahu nama Debby sempat menjadi buruk setelah dia putus dengan Oliver Wood. Kalian ingat kejadian itu bukan?" Hermione memberikan jawaban yang lain lagi.
"Kau benar." Timpal Astoria. "Nate mungkin berusaha menyingkir dari drama cinta segitiganya."
"Cinta segitiga?" Hermione mengulang kata-kata terakhir Astoria dengan bingung.
"Kau, dia, dan Malfoy tentu saja." Ginny menjawab kebingungan Hermione. "Apa kau tidak tahu nyaris seluruh murid di Hogwarts tahu bahwa seminggu belakangan ini kau dekat dengan Nate karena menghindari kami berdua, lalu saat pesta api unggun kau justru menarik tangan Malfoy dan pergi dengannya."
Mulut Hermione menganga dengan tatapan tidak percaya. "Gods." Gumamnya terkejut, tidak habis pikir. Mengapa orang-orang itu selalu mengurusi kehidupan orang lain? "Oke, cukup gosipnya. Ayo berpesta!" Astoria menarik tangan Hermione dan Ginny, membuat Hermione buyar dari pemikirannya.
Astoria membawanya kembali ke halaman belakang dan mereka bergabung dengan yang lain. Sang DJ sedang membawakan lagu yang membuat semua orang hanyut dalam tarian. Ketiga perempuan cantik itu mengangkat tangan mereka, saling berseru dan melompat, meliukkan tubuh-tubuh mereka, bergerak, menari seingin mereka.
Hermione bukanlah perempuan yang tidak bisa berpesta. Dia bisa. Hanya saja selama ini dia tidak ingin berakhir seperti teman-temannya. Mabuk, tidur dengan orang yang bahkan tidak diketahui siapa namanya, terbangun entah dimana. Bagi Hermione sebuah pesta bisalah berdampak buruk. Dan dia tidak suka dampak tersebut. Oleh sebut itu Hermione menghindari pesta. Tapi kali ini dia tidak menolak karena ini adalah pesta ulang tahun pacar sahabatnya. Selama Hermione bisa menjaga dirinya, dia percaya dia tidak akan berakhir seperti yang selama ini dia bayangkan.
Hermione bersenang-senang dengan kedua sahabatnya di pesta, hingga tidak sadar bahwa dia telah menunjukkan pada orang-orang bahwa dia bukanlah seorang remaja membosankan yang hanya terpaku dengan buku dan pelajaran. Dia juga bisa bersenang-senang, bergembira, seperti remaja normal lainnya.
Harry memperhatikan Ginny yang sedang menari bersama dengan Astoria dan Hermione dari tempatnya berdiri. Di tangannya ada segelas minuman yang tadi diberikan oleh Nic. "Correct me if I'm wrong, but that's Granger, right?" Suara tersebut muncul tiba-tiba di sebelah Harry bersama dengan tepukan di bahunya.
Sontak Harry menoleh dan mendapati teman satu timnya bertanya. "Ya." Jawabnya singkat. Sejujurnya, Harry mulai merasakan keganjilan setiap kali Cormac McLaggen bertanya tentang sahabat pacarnya tersebut.
"Apa dia benar-benar pacaran dengan Malfoy? Kalau tidak, bisa kau kenalkan aku padanya, Harry? Kau tahu maksudku." Seringai ada di wajah Cormac ketika dia mengutarakan maksudnya. Dan ini sangat sesuai dengan dugaan Harry.
"Jangan Hermione, Cormac. Cari saja perempuan lain."
"Kenapa? Dia cantik, pintar, dan … lihat. That body tho…."
Harry melayangkan tangannya ke wajah Cormac, meletakkan tangannya di sana lalu mengusap dari kening hingga ke dagunya, membuat mata Cormac tertutup karena tangan Harry, sekaligus memutus kontak matanya yang memperhatikan tiap gerak dan lekuk tubuh Hermione. "Kau akan berurusan dengan Ginny dan aku kalau berani menyentuhnya. Sekarang, pergi."
Cormac menggerutu sambil pergi sesuai perintah Harry dan Harry membiarkannya. Tetapi jika dia berani menggerutu pada Harry di lapangan, tentu itu akan jadi masalah panjang baginya karena Harry tidak akan membiarkan siapa pun menggerutu di lapangan selama jam latihan.
Harry akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Ginny dan dua sahabat pacarnya, menari di bawah iringan kerasnya music sambil tangannya memegang kedua pinggan Ginny dari belakang. "Hei, ayo kita ambil gambar." Teriak Ginny pada ketiganya.
Harry, Hermione, dan Astoria mulai merapatkan diri dan menatap ke arah kamera lalu Ginny mengambil gambar mereka yang sedang tersenyum gembira dibarengi dengan kilat flash.
Selesai mengambil gambar, Hermione mulai merasa lelah dan perlu menarik nafas sejenak setelah beberapa saat dia menari. Bersenang-senang nyatanya juga melelahkan. "Aku ambil minum lagi, oke?" ujarnya pada Astoria di telinga dengan suara agak nyaring. Suara musik yang keras tidak memudahkannya untuk bicara dengan normal.
"Oke." Astoria menjawab sedikit berteriak sambil mengacungkan ibu jarinya. Hermione tersenyum dan mulai melangkah keluar dari kerumunan manusia yang sibuk menari menikmati pesta dan alunan musik. Sambil melangkah masuk untuk mengambil bir keduanya, matanya menjelajah ke sekeliling. Ada banyak sekali yang datang ke pesta Nic.
Hermione menggelengkan kepalanya melihat orang-orang yang masih asik bermain beer pong. Dia mendekati lemari pendingin, lalu berhenti karena ada orang lain yang juga sedang mengambil beer. Hermione mengamati punggung dan penampilan orang yang ada di depannya dan merasa tampaknya mengenal orang ini. Kakinya bergeser ke kanan sehingga dia bisa melihat siapa yang sedang mengambil bir untuk membuktikan tebakannya.
"Nate." Ucap Hermione begitu berhasil membuktikan perkiraannya.
Kepala Nate seketika menoleh dan dia tersenyum saat sadar siapa yang memanggilnya. "Hai Hermione." Hermione membalas senyuman Nate. "Kau mau?" Nate memberikan bir yang baru saja diambilnya.
"Thanks." Hermione mengambil bir dari tangan Nate lalu meminumnya dan menyandarkan lengannya pada dinding ruangan. "Kudengan kau datang dengan Fleming."
Nate menutup pintu lemari pendingin setelah mendapatkan birnya juga. "Ya, aku mengajaknya untuk datang bersama. Apa kau datang dengan Malfoy?"
Hermione menggelengkan kepalanya. "Aku datang dengan Harry dan Ginny. Kenapa kau pikir aku datang dengan Draco?"
"Wow, kalian sudah saling memanggil dengan nama depan?" Perhatian Nate teralih begitu mendengar Hermione menyebut nama Draco Malfoy dengan panggilan Draco dan bukan Malfoy seperti beberapa hari yang lalu.
"Um, ya…." Hermione menjawab dengan nada menggantung. "Kau belum jawab pertanyaanku."
"Kau pergi meninggalkan pesta api unggun dengan Malfoy, lalu pagi tadi juga kau dengan Malfoy. Kupikir kalian sedang dekat."
"Um…" Hermione sekali lagi menggantungkan suaranya. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia dan Draco tidak pernah bicara tentang cinta atau kencan atau sebuah proses kedekatan. Tapi mereka juga tidak pernah bicara tentang menjadi teman dan sebagainya.
Suara tawa dari banyak orang mengalihkan perhatian keduanya. "Apa itu?" Hermione bertanya.
"Ayo kita lihat." Nate mengajak, memutar tubuhnya kea rah depan lalu melangkah menuju ruang tengah rumah Nic. Hermione mengikuti Nate di belakang. Di ruang tengah, orang-orang menduduki seluruh sofa. Sebagian bahkan berdiri. Arah mata mereka semua tertuju pada seorang laki-laki yang duduk bersila di karpet sedang mengoceh tentang suatu hal dan membuat mereka semua tertawa.
"Hei, ada apa?" Hermione bertanya pada orang di sebelahnya. Orang tersebut menoleh pada Hermione sambil masih tertawa.
"Itu, Klaus Feldstein dia sedang mabuk dan kami menanyakan banyak hal padanya. Jawabannya lucu."
Mata Hermione seketika tertuju pada Klaus Feldstein yang sedang tertawa. Salah seorang dari mereka yang berkumpul di ruangan itu mengajukan pertanyaan pada Klaus setelah melihat Nate dan Hermione bergabung untuk melihat. "Klaus, jika kau ada di antara Hermione Granger, Astoria Greengrass, dan Ginny Weasley, siapa yang akan kau ajak kencan?"
Klaus tampak menggarukkan kepala, terlihat bingung. Keningnya mengernyit. "Uh, pertanyaan yang sulit. Tapi aku akan pilih Hermione Granger. Yah, dia cantik dan pintar. Aku pernah satu kali ingin minta dia jadi tutorku karena nilai biologiku jelek, tapi aku batal melakukannya karena di hari aku hendak melakukan niatku, Sara Hallberg menumpahkan minumannya di celanaku. Dan itu tepat di sekitar penisku," Klaus berdiri, menggambar pola lingkaran mulai dari bagian di bawah perut hingga daerah paha dan selangkangan laki-laki itu.
Sebagian disana tertawa mendengar kesialannya, sebagian berseru 'oh' dengan nada iba. Hermione sendiri sedikit tertawa. "Yah, aku akan jadi orang bodoh jika masih nekat menghampiri Hermione dengan celana basah, bukan?"
"Selain cantik dan pintar, apa lagi yang menarik dari Hermione, Klaus?" Nate mengajukan pertanyaan itu, membuat Hermione menoleh padanya dengan kelopak mata yang lebar seolah berkata mengapa-kau-bertanya-padanya. "It would be fun, trust me." Nate menjawab Hermione demikian.
"Hmmm," Klaus mengusap dagunya, berpikir di antara kesadarannya yang tersisa. "Matanya. She has a gorgeous eyes. Kau tahu, aku akan katakan sesuatu yang romantis jika aku jadi pacarnya."
"Spill it out."
"Yeah, spill it out, Feldstein."
Suara orang-orang bersahutan di telinga Hermione. Mereka sama-sama menyuruh Klaus untuk mengatakannya. "Someone asked me what I saw in you to love you so much, and my only answer was 'everything'."
"Ohhh." Beberapa perempuan bergumam tersanjung, tersentuh dengan kata-kata Klaus barusan. Sementara Hermione menganggap ini lelucon orang yang mabuk. Sejujurnya dia terkejut, tapi dia tahu ini tidaklah serius.
"Kau memang bajingan kecil, Feldstein." Beberapa anak laki-laki menyebut Feldstein bajingan kecil karena kata-kata romantis yang dia lontarkan barusan. Pintar sekali Klaus merangkai kata indah itu bahkan ketika dia sedang mabuk. Entah karena anak ini memang berbakat merangkai kata atau memang itu adalah kata-kata khayalannya yang terpendam.
"Aku perlu udara segar." Kata Hermione pada Nate.
"Oke, aku akan kembali ke belakang." Nate mengangguk lalu tersenyum pada Hermione. Mendengar jawaban Nate, Hermione melangkah, berjalan melewati kumpulan orang-orang yang sedang merokok. Asap mereka membuat Hermione semakin merasa sesak dan gerah. Sebelum benar-benar keluar, Hermione meninggalkan botol birnya di salah satu meja.
Begitu dia berada di pekarangan rumah Nic, Hermione menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya keras. Tangannya mengipas-ngipas wajahnya. Keadaan yang tidak terlalu ramai disini membuat Hermione merasa dia bisa bernafas sejenak. Matanya melihati para tim security yang senantiasa berjaga di depan pagar, lalu melirik beberapa orang yang mengobrol di bawah pohon. "Kalau kau mencari Malfoy, dia datang terlambat." Suara itu datang dari belakang Hermione.
Hermione sontak menoleh ke belakang dan mata karamelnya menemukan Theodore Nott berjalan ke arahnya. "Nott." Ujar Hermione begitu Theo berdiri di sebelahnya, menatapnya tepat di mata dengan senyum yang merekah. "Apa yang kau lakukan disini?" lanjutnya.
"Just Theo, please. Aku melihatmu berjalan keluar, jadi aku mengikutimu." Senyum Theo masih senantiasa merekah dan entah mengapa itu mengganggu Hermione. Theo seperti menyimpan sesuatu di balik senyumnya. "Here." Tangannya mengulurkan satu gelas plastik berwarna merah.
Hermione melirik tangan yang terulur itu. "Vodka?" tanyanya memastikan. Hermione tidak ingin mabuk, jadi setidaknya dia harus tahu apa yang dia minum tapi sayangnya tidak banyak jenis minuman keras yang diketahuinya.
"No." Nott menjawab singkat. Hermione dengan ragu mengambil gelas tersebut. "Karena kau berteman dengan Draco, jadi aku akan memanggilmu Hermione. Oke?"
"Apa? Aku tidak –"
"Kau bergaul dengannya. So, kau juga akan bergaul denganku dan Blaise."
Hermione mendesahkan nafasnya. "Terserah padamu. Dimana Zabini?"
"Sibuk melarikan diri dari Bella Bowers. Mereka bermain hide and seek."
Tawa Hermione seketika keluar. Dia lalu menenggak minuman yang Theo berikan, lantas lanjut tertawa. "Astaga. Dia dengan Bowers?"
"Umm, Blaise terkadang salah memilih perempuan."
"Kau datang dengan siapa?" lanjut Hermione bertanya lagi. Mereka masih senantiasa berdiri di tempat mereka.
"Dengan Blaise. Tapi lalu Bowers mulai mengacaukan Blaise yang sedang berpesta dan terpaksa meninggalkanku."
"Apa kau tidak punya pacar?"
"Aku punya satu di luar Hogwarts, dan sedang mencari satu lagi yang berada di Hogwarts."
Hermione memutar matanya seketika. "Dasar playboy."
Theo hanya tertawa. "Hanya memanfaatkan ketampananku, kalau aku bisa bilang. Aku mulai bosan jika setiap kali berkumpul hanya ada kami para laki-laki. Jika ada perempuan di antara kami, maka itu baru sempurna."
"Kenapa kau tidak ajak pacarmu di luar Hogwarts untuk bergabung?"
"Bukan ide yang bagus. Kami para laki-laki tahu betapa bajingannya kami. Membawa perempuan lain dari luar Hogwarts akan berujung panjang, seperti jika aku membawa pacarku, maka nanti akan ada satu di antara kami yang minta dikenalkan pada teman pacarku, lalu selanjutnya segalanya akan jadi rumit. Aku malas berurusan dengan hal-hal merepotkan seperti itu."
"I see." Hermione tersenyum kecil dan menyesap minumannya lagi. "Kepalaku mulai pusing. Kau yakin ini bukan vodka?" tangan Hermione terangkat ke kepalanya, matanya tertuju pada gelas plastik yang baru saja diminumnya.
"Bukan, Hermione."
"Kenapa rasanya aku seperti mabuk." Hermione menggumam sendiri, tidak mengerti. Matanya lalu tertuju pada Theo. "Aku masuk lagi, oke? Terima kasih untuk pembicaraan kecilnya."
Nott mengangguk dengan senyumnya. "Aku juga akan masuk lagi."
Hermione memutar badannya, lalu dia menghabiskan sisa minuman di gelasnya, menenggaknya hingga habis dan membuang gelas plastiknya ke bawah. Kepalanya semakin terasa pusing, tetapi bukan jenis pusing yang menyakitkan dan menusuk kepalanya. Rasanya seperti pusing yang membuatmu melayang.
"Hei Hermione." Salah seorang yang Hermione lewati menyapa.
"Hei." Jawab Hermione melambaikan tangannya asal tanpa menoleh. Langkahnya terus melaju ke belakang rumah Nic, namun dia memutuskan berhenti dan menuju ke tangga. Hermione mendudukkan dirinya di salah satu anak tangga sambil mendesahkan nafasnya berat.
"Kau baik-baik saja?" Hermione menoleh ketika mendengar suara itu. Theo kembali ada di sebelahnya dalam posisi berdiri, menunduk melihatinya.
"Ya, mungkin aku terlalu banyak minum. Aku akan duduk-duduk sebentar." Hermione menunduk, meletakkan kepalanya di atas kedua tangannya yang bertumpu di kedua lututnya.
Theo yang masih berdiri mengeluarkan ponselnya dan mengambil gambar Hermione. Sekilas kilatan flash yang muncul membuat Hermione mendongak. "Apa kau memotretku?"
"Oh, tidak. Aku salah menekan tombol. Aku tidak sengaja menekan tombol senternya." Theo membolak-balikkan ponselnya.
Jawaban Theo tidak dijawab Hermione lagi, dia kembali menunduk dan memejamkan matanya.
Theo membuka aplikasi messanger-nya, memilih kolom personal chat-nya dengan Draco lalu mengirimkan foto yang diambilnya barusan pada Draco. Setelah gambarnya terkirim, Theo melanjutkan mengirimkannya pesan teks.
Theo: she's drunk. Well, not so drunk but a bit drunk. Take her home before anyone did *smirk*
Setelah pesan itu terkirim juga, Theo tidak begerak dan memperhatikan layarnya. Dia menatap seolah menunggu. Tidak lama kemudian senyum miringnya terkembang setelah melihat tanda bahwa pesannya telah dibaca oleh si penerima.
Lalu muncul balasan dari Draco yang membuat senyum miring Theo lebih terkembang lagi.
Draco: *fuck* watch her. I'm on my way
Theo menyimpan ponselnya kembali ke saku celana lalu bergerak duduk di sebelah Hermione, menjaganya sesuai apa yang sahabatnya inginkan. "Kau bisa bersandar padaku kalau kau mau." Theo membuka suaranya lagi.
Tak ada jawaban yang keluar dari Hermione. "Kau mau aku ambilkan minum lagi?" tanya Theo.
"I'm okay." Jawab Hermione. "Uh." Keluhnya beberapa saat kemudian lalu mengangkat kepala. "Aku mau pipis." Perlahan Hermione berdiri dan menaiki anak tangga menuju lantai atas, mencoba mencari kamar mandi.
Ada banyak pintu, Hermione harus mencobanya satu per satu. Pintu pertama yang dicobanya terkunci, jadi dia mencoba membuka pintu kedua. Dan terbuka, namun itu bukanlah kamar mandi. Pemandangan yang ada di hadapan membuatnya menjerit kecil. "Sorry." Ucapnya lalu kembali menutup pintu.
Hermione menyeberangi ruangan lalu membuka pintu ketiga. Hembusan nafas lega keluar dari dirinya karena berhasil menemukan apa yang dicarinya. Rasa ingin segera buang air kecil sudah tak terbendung lagi. Hermione segera menutup pintu, menguncinya lalu melakukan kegiatannya.
Hermione berjalan kembali turun ke bawah dengan penglihatan yang mulai mengabur. Matanya sayu dan memerah. Tampak sekali bahwa efek alkohol mulai bekerja padanya. Di lantai bawah, kerumunan orang yang menonton ocehan mabuk Klaus telah membubarkan diri. Tersisa Klaus yang tak sadarkan diri terbaring di salah satu sofa.
Hermione kembali ke dapur untuk mencari minuman lagi karena tenggorokannya terasa kering padahal belum lama dia berhenti minum. Ketika Hermione membuka lemari pendingin, tidak ada lagi bir di sana. "Kau cari apa Hermione?" Theo kembali lagi muncul.
"Geez, apa kau akan mengikutiku terus?" Hermione mulai lelah dengan Theo yang selalu muncul di sekitarnya secara tiba-tiba. Dia sedang tidak ingin diganggu siapa pun.
"Aku hanya ingin membantu."
"Aku haus."
Theo lalu memberikan gelas plastik merah lagi padanya dan Hermione langsung menerima. "Apa kau selalu membawa dua gelas? Dimana kau mengambilnya?"
"Aku membawa gelas lebih untuk berjaga-jaga jika lawan bicaraku tidak punya minuman di tangannya."
Hermione mengabaikan jawaban itu lalu menelan minumannya. Matanya mengamati orang-orang di halaman belakang sedang asik melompat-lompat, mengangkat tangan mereka di udara, meliukkan tubuh mereka, menari secara lepas. "This is so fun."
"There you are." Suara lain muncul mendekati dirinya dan Theo. Hermione akhirnya menoleh meninggalkan pemandangan orang-orang yang sejak tadi diamatinya dan mendapati Draco melangkah mendekat.
"Hei mate."
"Come on, let's go." Draco mengabaikan sapaan Theo dan tiba-tiba saja mengambil tangan Hermione, mengatakan hal yang tidak Hermione mengerti.
"Apa?" Hermione bertanya bingung. Keningnya mengernyit sebentar.
"Kau mabuk. Kuantar kau kembali ke asrama."
Senyum Hermione seketika terkembang lebar, kedua tangannya memegang pipi Draco. "You're my hero." Melihat tingkah Hermione yang seperti ini, Draco bisa memperkirakan seberapa sudah Hermione mabuk. Dia sangat yakin jika saja Hermione dalam kondisi yang sangat sadar, dia tidak akan berkata dengan manja dan memberikan ekspresi ini padanya.
Draco menyingkirkan tangan Hermione dari wajahnya lalu mengambil gelas plastik Hermione dan menyerahkannya pada Theo. "See you at school." Ucapnya pada Theo, lalu mulai melangkah sambil menggandeng tangan Hermione, menuntunnya keluar dari rumah Nic.
Draco merasa beruntung karena Hermione belum benar-benar mabuk hingga parah, sehingga mudah baginya untuk membawa Hermione masuk ke dalam mobil. Dia masih bisa berjalan meski sempoyongan dan sedikit tersaruk. Ketika dia berhasil membuat Hermione duduk di bangku penumpang, Draco langsung menutup pintu dan duduk di bangku kemudi.
Tubuhnya membungkuk dan mendekat pada Hermione, membuat Hermione dengan mata sayunya menatapnya tanpa berkedip. "Kau mengharapkan apa? Ciuman?" Tanya Draco dengan wajah datarnya. Dia berhenti bergerak ketika wajahnya ada di depan wajah Hermione.
"No, I just realize that you have a beautiful grey eyes."
Draco menatap lelehan karamel di mata Hermione selama beberapa detik, lalu dia kembali bergerak, melakukan niatan awalnya. Tangannya terulur mengambil sabuk pengaman di ujung bangku lalu menarik sabuknya dan mengaitkannya.
Draco mengeluarkan ponselnya dari saku celana lalu mengirimkan pesan teks pada Astoria. Dia tahu temannya itu pasti akan panik jika Hermione menghilang dari pesta.
Draco: she's with me. I take her back to dorm.
Pft 3491 words. Long chapter, right guys? Kemarin saya dapat komentar yang mengatakan bahwa chapter terakhir yang saya update kurang memuasakan. Jadi, mungkin chapter ini juga demikian. Saya hanya menulis apa yang saya rasa harus saya tulis dan saya rasa harus ada dalam cerita ini. Chapter kemarin memang tidak terlalu memiliki banyak scene dan tidak banyak yang terjadi. Begitu pun dengan chapter ini. Menurut saya, ini chapter selingan dan penghubung untuk chapter-chapter mendatang. Meski mungkin menurut kalian chapter-chapter seperti ini tidaklah penting, tetapi menurut saya penting karena saya memasukkan clue-clue kecil di dalamnya untuk melengkapi keseluruhan isi cerita. Chapter-chapter ini memang ringan karena saya pikir kemarin-kemarin saya sudah mulai memasukkan konflik, jadi chapter-chapter ini adalah untuk melupakan kalian dengan konflik sejenak, supaya tidak terlalu intens. Oke?
Kemarin di author notes saya bilang akan menjelaskan kenapa saya mengajukan pertanyaan kedua pada kalian. Jadi begini, menulis adalah hobi saya yang sudah saya tekuni bertahun-tahun. Dan membuat karya saya dalam wujud sebuah novel/ buku adalah mimpi dan impian saya sejak lama. Tetapi baru sekarang-sekarang ini saya mantap untuk mewujudkannya. Kemarin-kemarin saya mencoba, tapi gagal karena konsep ceritanya kurang memuaskan buat saya dan saya kurang srek. Belum lagi terkena writer's block. It sucks guys. Really. Dan tiba-tiba saja saya punya banyak ide untuk Touch. Jadi saya mulai merasa mantap dan bersemangat. Itu sebabnya saya memilih Touch untuk saya jadikan karya nyata saya. Itu alasan utama. Lalu alasan pendukungnya ini karena pasangan saya. Saya ingin membuat dia bangga. Keluarganya berasal dari keluarga dengan latar belakang pendidikan yang tinggi, sementara saya hanya lulusan SMA (sebenernya ngga ada hubungannya sih). Tapi itu menjadi ada hubungannya karena kok rasa-rasanya hubungan saya dan dia ini agak-agak mengarah ke sesuatu yang serius. Mama saya sering kasih kode tentang masa depan ke doi, tante saya (dari sebelah mama dan sudah mengenal saya sejak bayi) bahkan mengatakan pada sepupu saya (dari pihak sebelah papa) bahwa doi adalah calon saya. God. Saya merasa saya tidak punya hal untuk dibanggakan dalam diri saya. So, saya ingin punya sesuatu yang berarti bagi saya. Dan dia sangat mendukung saya menulis.
Maafkan saya karena jadi curcol dan membaca author note yang panjang ini.
Eh semalam saya mimpiin Draco loh wkwk. Duh so sweet x3 saya bahagia jadinya wkwk.
Terima kasih untuk kalian semua yang sudah me-review. Yang belum pernah me-review, cobalah sesekali me-review. Dan yang selalu me-review, keep doing that, oke? I love every single one of you.
Balasan semua review:
hazelBlonde: wahh bandunnggg jauh tapi dari tempat saya hahaha. Wkwkw kepo sama tori kenapa?
k1ller: sudah dilanjutt hehehe
megisuwari: ehehee iya nih niat banget. Wah baliii *.* enak dong liat bule terus wkwk iyaa nanti ke depannya konfliknya pasti greget hehehe
naruko03: yah di ceritanya ini tentu mereka ngga akan melakukan ons doang. Tetap nanti akan tidur-tidur bareng tapi saya akan skip dan gak menulisnya. Gituu hehe
aquadewi: ini sudah dilanjutt hehehe. Semoga menjawab semua kekepoan kamu ya
SabrinaRiky-chan: jadiannya kapan-kapan hehehe
rikarika: kamu yakin draco begitu karena dia cemburu,hm? Wkwk
hermione granger: thanks udah memaklumi typo nya ya hehe mungkin lemonnya ngga terlalu terkesan seperti porno karena saya sendiri memang nggak menggunakan kata-kata yang vulgar dan adegannya tidaklah liar. Begitu. Dan memang itu yang sama harapkan, seperti kata kamu tiddak berkersan seperti porno, berarti saya berhasil dengan lemonnya dong ya? :D
Riska662: waaa. Jakarta sebelah mananya? Hehe tunggu Touch nya ya nanti kalo missal terbit.
mmalfoy: ini udah update hehehe
Staecia: ini udah dilanjuttt :D
puma178: kamu yakin reaksi draco ke nate itu sebuah kecemburuan? Hehehe. Kalo saya publish pasti akan direvisi dan diperbaiki kok. Akan ada tambahan-tambahan chapter dan lain sebagainya :)
hermione granger: ngga sok menggurui kok :) santai aja. As long as you say it in a polite way, saya selalu menerima saran dan masukan apa pun itu.
Swift: hehehe iya soalnya lagi niat makanya update cepet hehee. Kemungkinan ya, aku ganti. Tapi mungkin hanya ganti nama. Saya akan tetap menggambarkan tokohnya mirip Draco dan Hermione :)
