[Chaptered]
Title : Sasuke itu Kamseupay
Chapter : 10 / ?
By : Gatsuaki Yuuji
Main Cast : Namikaze Naruto & Uchiha Sasuke
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu
Papiku.
Genre : Family, Sad
BGM : Home Made Kazoku - Kimi ga Kureta Mono


"Kalau begitu, boleh kan keluargaku mengadopsinya?",
"Kau...",
"Keluarga kalian memperlakukan dia seperti pembantu",
"Tahu apa kau tentang keluargaku!", kutarik kerah bajunya, "Jangan ikut campur urusan keluargaku! Dimana dia?",

Neji menepis kasar tanganku dari kerah bajunya.
"Dia terlalu lelah, biarkan dia beristirahat",

Tanpa menghiraukan larangannya, aku berlari masuk ke dalam apartementnya.

"Sasuke! Kau dimana!", teriakku.
"Kau sangat tidak sopan!", Neji menarik lenganku, menyeretku keluar dari apartmentnya.

BuuuuG
Aku menendang perutnya hingga dia terjatuh membentur rak sepatu.

Aku kembali berlari mencari Sasuke.
"Kamseupay!", teriakku lagi.

Kubuka salah satu pintu ruangan, di sana ada sosok Sasuke yang sedang terbaring di atas ranjang.

"Hey, Kamseupay! Aku mencarimu, mengapa kau tidak pulang?", kutarik kedua lengan Sasuke yang sedang tertidur agar dia terbangun.

Sasuke membuka kedua matanya.
"Naru?", panggilnya.

Setelah dia sadar sepenuhnya, kutarik lengan kanannya agar dia mengikutiku.

Sasuke melepaskan tarikanku. Aku sedikit terkejut dengan sikap beraninya ini, biasanya dia tidak pernah menolakku.
"Kau tidak ingin pulang?", tanyaku.

Sasuke menggeleng, matanya melirikku dengan waspada sekaligus takut-takut.
"Kau kenapa?",
"Kau jahat!",
"OK! Maafkan aku. Kita pulang ya?", aku menjulurkan tanganku padanya.

Dia mundur perlahan, enggan menyambut tanganku.
"Uang mama rusak...tidak bisa dikembalikan...", lirihnya tertunduk.
"Aku bisa memperbaikinya!",

Dia mengangkat kepalanya.
"Benarkah? Apa bisa diperbaiki?", tanyanya penuh harap.
"Hn! Aku bisa memperbaikinya! Aku juga akan membantumu mengembalikan uang itu pada mama",

Kalau seperti ini, aku terpaksa menuruti kemauannya daripada dia tidak betah bersamaku dan memutuskan untuk tinggal bersama Neji. Masa depanku bisa terancam!

"Tolong bantu aku, Naru!", dia mengeluarkan sesuatu dari kantong hoddienya, sebuah plastik transparan berisi robekan uang.

Aku mengambil plastik itu dari tangannya.
"Akan kubantu! Nah! Sekarang kita pulang, ya?", aku kembali menjulurkan tanganku sambil melontarkan senyuman bersahabat padanya.

Come on! Sambut aku!

"Naru, maaf...tadi aku telah memarahimu", sesal Sasuke.
"Tidak seharusnya kau marah padaku",
"Maafkan aku~ Jangan pukul aku~",
"Aku tidak akan memukulmu", kugerakkan tanganku yang masih terulur.
"Terimakasih, Naru!", dia menyambut uluran tanganku.

Di depan pintu ada Neji yang menatapku datar, dia tidak berani menunjukkan wajah marahnya di hadapan Sasuke. Aku tersenyum padanya, bukan senyuman ramah, tapi senyuman mengejek, karena aku berhasil membujuk Sasuke pulang! Fufufu...

"Kau ingin pulang, Sasuke?", tanya Neji.
"Hn! Sebentar lagi kakek akan pulang, aku ingin menyambut kakek",
"Sampai jumpa besok!", Neji mengusap-usap kepala Sasuke.

Sasuke tertegun menatap Neji yang sedang tersenyum padanya.

Kutepis tangan Neji yang masih mengusap-usap kepala Sasuke.
"Dia bukan guguk yang suka diusap-usap seperti itu!",

Aku menarik Sasuke pulang, tanpa berpamitan pada Neji.


Aku segera mengunci pintu apartement, aku tidak ingin Neji masuk ke sini.

"Aku tidak suka kau bermain dengan dia!", dengusku.

Sasuke menyentuh puncak kepalanya, dia masih tertegun dengan perlakuan Neji barusan.

"Kakak...", lirihnya.
"Hey!", ketepuk bahunya agar dia tersadar dari lamunannya, "Kau kenapa?",

Sasuke menggeleng, dia langsung berlari ke kamar. Kuikuti dia ke kamar.

Dia tengah berbaring di atas ranjang, bersembunyi di dalam bedcover.

"Kau kenapa?", kutarik bedcover yang menutupi wajahnya.
"Jangan lihat, Naru!", protesnya.

Dia mempertahankan bedcovernya, terjadilah tarik-menarik di antara kami. Aku berhasil menarik bedcover itu. Tampak kedua matanya memerah dan berair. Kutarik wajahnya dan kusentuh air di pipinya, untuk meyakinkan bahwa aku tidak salah lihat. Dia menangis, ya, dia menangis.

"Kau kenapa? Apa aku menyakitimu?",
"Kau tidak boleh lihat!", dia mengambil bantal dan membenamkan wajahnya.

Kujambak rambutnya agar dia melihatku, aku tidak suka jika aku bertanya, tidak dijawab.

"Mengapa kau menangis?",

Dia mengusap air matanya.
"Tidak seharusnya seorang kakak menangis di hadapan adiknya", dia kembali tersenyum.
"Apa aku menyakitimu?",

Sasuke menggeleng, mengganti posisi menjadi duduk, dipeluknya bantal sambil menyandarkan dagunya.

"Aku hanya rindu kakak", lirihnya.
"Kakak? Kau punya kakak?", aku berbaring di sampingnya, aku jadi tertarik tentang keluarganya.
"Kakakku sudah meninggal",
"Ow!",

Kata mama, keluarganya sangat miskin, kemiskinan membuat mereka sakit dan meninggal. Tinggallah Sasuke sebatang kara, dia dirawat di panti asuhan.

"Keluargamu dulu seperti apa?", tanyaku yang penasaran, mengapa Sasuke bisa se-kamseupay ini?

Sasuke diam, tidak menjawab.

"Hey!", panggilku.
"Mama bilang, aku tidak boleh mengungkit masa laluku",
"Ceritakan padaku, aku janji tidak akan mengadu pada mama",
"Tidak boleh, Naru", tolaknya halus.
"Huh!", dengusku.

Semakin tidak boleh diceritakan, aku semakin penasaran. Terlebih lagi...

"Hey! Mengapa kau takut gelap?", tanyaku tiba-tiba teringat ritual yang dilakukannya setiap petang.
"Kegelapan bisa menghilangkan siapapun", jawabnya.
"Aku tidak memintamu mengarang lelucon!",
"Aku tidak berbohong! Kakak selalu melarangku untuk pergi ke tempat gelap, di sana ada Kegelapan",

Aku menatapnya, seandainya aku bisa membaca pikirannya, aku tidak perlu mendengar lelucon payah ini.

"Ah! Sebentar lagi akan gelap!", Sasuke langsung melompat turun dari ranjang, menyalakan lampu ranjang, berlari menuju pintu untuk menekan saklar lampu, kemudian menutup jendela kamarnya rapat-rapat, tanpa celah. Setelah kamarnya terang dan tertutup rapat, dia berlari keluar.
"Huf~ Kurasa dia tidak punya otak!", dengsuku.

Kuikuti dia keluar untuk melihat apa yang sedang dia lakukan? Dia menyalakan semua lampu di lorong, di ruangan keluarga dan di dapur, kemudian dia mengunci jendela dan pintu teras, menutupnya dengan gorden hingga tak bercelah juga.

Inilah ritualnya ketika menjelang langit mulai gelap. Ini membuatku ingin menghajarnya kerena dia begitu bodoh.

Kutarik lengannya dan kudorong dia ke sofa.

"Dengar, ya! Kegelapan tidak bisa menghilangkan apapun! Atau siapapun!", tegasku mencengkram pundaknya.

Sasuke menggeleng kuat.
"Kegelapan sangat menakutkan, dia bisa menghilangkan siapapun yang berada di tempat gelap. Kau harus percaya padaku", ucap Sasuke.

PLaaaaK
Kutampar pipinya agar dia sadar dari kebodohannya ini.

"Naru, mengapa kau memukulku?",
"Berhenti berimajinasi! Kegelapan itu tidak seperti yang kau bayangkan!",

Dia menatapku ketakutan sambil memegang pipi kirinya yang kutampar barusan.

"Aku akan menghajarmu jika kau masih saja takut pada kegelapan", aku mengambil ancang-ancang untuk menamparnya lagi.
"Ampun, Naru...Jangan pukul aku lagi..", lirihnya menutupi wajahnya dengan kedua lengannya.
"Kalau kau tidak mau kupukul, kau harus mendengar perintahku! Mengerti?",

Dia mengangguk pelan.
"Maafkan aku... Jangan pukul aku...",

Aku menjauh darinya, kuhempaskan tubuhku di sofa yang lain.
"Mengapa kau selalu melakukan kebodohan yang membuatku muak? Kalau kau sebodoh ini, kau tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Namikaze! Bahkan menjadi kakakkupun kau tidak pantas!",

Dia diam meresapi panas di pipinya, pandangannya lurus menatap langit-langit.

"Ternyata, aku memang tidak pantas",
"Ya! Kau sama sekali tidak pantas!",

Dia bangkit dan menghampiriku, duduk bersimpuh di sampingku.
"Tolong bujuk mama untuk memulangkanku. Aku janji tidak akan muncul di hadapanmu lagi", pintanya penuh harap.

Gawat! Dia sudah tidak betah?

"Aku memang tidak pantas menjadi kakakmu. Aku terlalu kampungan, bodoh dan tidak punya otak. Aku selalu membuatmu dan kakek marah. Tidak seharusnya aku diasuh oleh keluarga ini. Kumohon, Naru...tolong bujuk mama unt...",

"LANCANG SEKALI KAU BEKATA SEPERTI ITU!", teriak kakek dengan suara yang menggelegar, aku bahkan tidak menyadari kepulangan kakek.

Kakek berjalan cepat menghampiri kami, memukul-mukul kepala Sasuke dengan map berisi dokumen yang dipegangnya.

"Kau tidak tahu bahwa kau sangat berharga bagiku!", maki kakek melempar map ke wajah Sasuke sekaligus mengakhiri pukulannya.

Sasuke hanya menunduk diam memunguti dokumen yang tercecer di lantai. Kakek terduduk di sofa, mengaturkan nafas sejenak..
"Apa kakek terlalu kasar mendidikmu sehingga kau tidak betah?", tanya kakek pelan sambil merapikan rambut Sasuke yang berantakan, itu membuat Sasuke menghentikan aktivitas memungutnya.

Kakek tiba-tiba berubah menjadi halus dan penuh kasih sayang. Kau kenapa, kakek?

"Maafkan aku, kakek~ Tidak seharusnya aku berkata seperti itu",
"Kau tidak boleh pulang ke sana, kau sangat berarti untuk Naruto dan juga keluarga Namikaze",

Entah mengapa, perkataan kakek membuatku sesak. Sasuke berharga dan sangat berarti untukku?

Jika Sasuke tahu kebenaran ini, dia pasti akan merasakan hal yang sama, sesak seperti ini...

Mengapa aku bisa sesesak ini?


Di saat Sasuke tengah menyikat kamar mandi, kakek memanggilku ke ruangan kerjanya.

Kakek memarahiku karena aku memukul Sasuke dan mengatakan hal yang membuat Sasuke minta dipulangkan.

Aku memang salah, tapi aku tidak ingin hanya aku yang disalahkan.

"Kakek juga salah. Selama ini, kakek memperlakukannya seperti pembantu, memberinya makanan dan perlengkapan yang murahan, membiarkannya seorang diri di rumah, tidak memberinya uang saku. Kurasa itulah yang membuat dia tidak betah. Sikap kakek juga membuat Neji ingin mengambilnya dariku!",
"Neji? Siapa dia?",
"Bahkan nama anak tetanggapun kakek tidak tahu?",

Kuceritakan pada kakek tentang Neji dan keinginan Neji untuk mengadopsi Sasuke.

"Anak itu benar-benar tidak tahu diuntung! Sudah kupelihara dia, tapi dia malah menjelek-jelekkan aku di belakang!", maki kakek.

Aku tidak tahu apakah Sasuke memang mengadukan kejelekan kakek pada Neji? Atau Nejilah yang terlalu KEPO tentang kehidupan Sasuke?

"Kakek membencinya kan? Mengapa kakek masih mempertahankannya? Mengapa kakek tidak memulangkannya?", tanyaku menojokkan kakek agar kakek berterus-terang padaku.

"Kakek memang membencinya, tapi dia sangat berharga!",
"Apa yang membuatnya begitu berharga?",
"Kau tidak perlu tahu urusan kakek!",
"Apakah ada kaitannya dengan...ini?", tanyaku sambil menunjuk dada kiriku.

Kakek memicingkan matanya, menatapku curiga. Kukatakan pada kakek bahwa aku telah mengetahui rencana kakek dan mama.

Aku meminta agar Sasuke tinggal bersamaku lagi. Awalnya kakek menolak, kakek bilang Sasuke bisa membuat penyakitku kumat. Tapi aku terus memaksa, aku tidak ingin Sasuke tinggal bersama kakek, lebih tepatnya, aku tidak ingin Sasuke dekat dengan Neji.

Kakek tidak bisa menolak. Huf~ Aku seperti membuang sampah dan merebut sampah itu kembali. Ini konyol! Aku terlalu takut kehilangan dia, karena dia masa depanku.


"Naru", panggil Sasuke mulai membuka suara, sedari tadi dia hanya diam berbaring di ranjang menatapi langit-langit.

Aku berbaring sambil membaca manga. Aku tidak bisa tidur sebelum dia tidur terlebih dahulu.

"Apa!", jawabku jutek, sedari tadi aku menunggunya buka suara.
"Aku memang si bodoh yang tidak punya otak dan tidak tahu diuntung",
"Kau memanggilku hanya untuk berkata seperti itu?",

Sasuke berbalik menatap ke arahku.
"Mama menyayangiku, mama mau mengangkat anak kotor sepertiku. Kakek juga menyayangiku, mendidikku untuk rajin dan mandiri. Dan aku merasa, kau mulai menyayangiku, kau mau mengajariku banyak hal yang tidak kuketahui, kau mau main bersamaku. Semuanya begitu baik padaku, tapi aku malah meminta untuk dipulangkan", dia tersenyum kecil, senyumannya tidak seringan biasa, terasa menyesakkan bagiku.

Mataku memang tertuju pada manga, tapi pikiranku sibuk memikirkan ucapannya. Apa benar aku terlihat seperti mulai menyayanginya? Tidak! Aku tidak menyayanginya! Aku hanya takut dia diambil Neji! Titik!

"Kau menyayangi mereka?", tanyaku.
"Hn! Aku menyayangi mereka",

Bohong! Dia pasti berbohong!
Dia tidak mungkin menyayangi orang-orang yang telah menyakitinya.

"Aku sayang mama, kakek dan juga kau, Naru",
"Kalau begitu, jangan tinggalkan mereka!",

Mengapa aku berkata seperti itu?
Kurasa mulutku punya jiwa sendiri, tidak mau sinkron dengan pikiranku!

"Hn! Aku tidak akan meninggalkan mereka! Aku janji!", dia menjulurkan jari kelingkingnya padaku.

Kutepis jauh jarinya dengan manga. Kusimpan mangaku di laci meja dekat ranjang. Aku berbaring membelakanginya, menarik bedcover, bersiap-siap untuk tidur.
"Naru", panggilnya lagi.
"Ada apa lagi?",
"Tolong bantu aku, tolong ajari aku agar aku pantas menjadi bagian dari keluarga Namikaze",
"Mengajarimu?",
"Hn! Aku ingin pintar, aku tidak ingin mereka malu karena kebodohanku",
"Aku tidak akan mengajarimu!",
"Naru, tolong ban...",
"Aku mau tidur! Jangan berisik!", kutarik bedcover menutupi kepalaku.

Aku tidak mungkin mengajarimu karena sejak awal kau tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Namikaze. Kau begitu polos dan bodoh, sedangkan keluarga Namikaze keras dan...licik...

Aku tidak ingin kau berubah, sepertiku.


Keesokkan harinya, kakek melarang Sasuke untuk melakukan pekerjaan membabu, kakek telah menyewa pembantu untuk membersihkan rumah. Kakek juga memperlakukan Sasuke secara halus, tak lupa memberinya uang saku.

Munafik, sama sepertiku..

Kumanjakan dia dengan kemewahan, meskipun dia selalu menolak pemberianku. Kupaksa dia karena aku tidak suka penolakan. Sebisa mungkin menahan diri untuk tidak memukulnya, meskipun sikap bodoh dan kampungannya ini kelewat batas.

Aku juga mengajak Sasuke jalan-jalan atau berkeliling tak tentu arah, asalkan tidak mendekam di apartment kakek. Aku tidak akan membiarkan Sasuke bermain dengan Neji.

Neji adalah ancaman bagiku!


Beberapa hari kemudian, Sasuke menampakkan kecemasannya, dia tidak terbiasa tidak mengerjakan pekerjaan membabu.

"Mengapa kakek menyewa pembantu? Apa pekerjaanku tidak beres? Apa kakek masih marah padaku?", tanya Sasuke yang tidak bisa tidur siang.
"Kalau kakek marah padamu, dia pasti akan memarahimu langsung. Kakek ingin kau bermain bersamaku, bersenang-senang", jawabku asal.
"Bersenang-senang?",

Aku mengalihkan ke topik yang lain. Aku malas membahas tentang kakek.

"2 hari lagi aku akan pulang!",
"Pulang? Cepat sekali?",
"Aku bosan tinggal di sini!",
"Apa kamarku mulai bau? Ah! Aku akan mengganti seprei yang baru!", dia melompat menuruni ranjang.
"Hey!", panggilku, mencegahnya menuju lemari, "Kamarmu tidak bau!",
"Lalu? Mengapa kau bosan? Tidak bisakah kau tinggal bersamaku?",
"Aku akan pulang, dan aku ingin kau ikut denganku",
"Aku ikut?",
"Hn! Pulang ke rumah mama!",
"Rumah mama? Bagaimana dengan kakek? Kakek akan sendiran di sini",

Dia memang bodoh, padahal tinggal bersama kakek itu tidak enak. Kakek terlalu bawel dan banyak aturan!

"Kau tidak ingin tinggal bersamaku? Bersama mama juga?",
"Aku ingin, tapi kakek...",
"Kau tidak perlu cemas dengan kakek! Kakek bisa menjaga dirinya sendiri!",

Sasuke terdiam, dia asyik memikirkan sesuatu.

"Daripada kau tidak bisa tidur, lebih baik kau ajarkan aku melipat ini", kuambil origami berbentuk teratai yang berukuran seruas jari kelingking.

Dia tersenyum dan menghampiriku. Dia mulai mengajariku, awalnya terasa sulit, karena kertasku selalu robek ketika aku menariknya terlalu kuat. Dengan lebih banyak bersabar dan mengulang berkali-kali, akhirnya aku bisa membuat origami teratai tanpa robek sedikitpun.

"Sempurna!", seruku.
"Kau hebat, Naru!", puji Sasuke.
"Yeah!",
"Lagi?",
"Yosh!",

Aku mengambil potongan kertas berwarna hijau, dan mulai melipat lagi.
"Aku tidak menyangka, orang kampung sepertimu bisa membuat origami berbagai bentuk seperti ini", ucapku sambil melirik berbagai macam origami yang berjejer rapi menghiasi meja belajarnya.
"Neji mengajariku membuat burung, bintang, teratai, strawberry, kuc...", dia menunjuk deretan origami yang dibuatnya.
"Kau merusak moodku saja!", selaku.

Aku meninggalkan teratai yang belum selesai kubuat, kujatuhkan tubuhku di atas ranjang.

"Neji. Mengapa kau bisa berteman dengannya?",

Sasuke menghampiriku, dia menjulurkan tangannya padaku.
"Neji menjulurkan tangannya seperti ini, kemudian Neji menawarkanku pertemanan", jelasnya.
"Dan kau menerimanya",
"Hn!", dia ikut berbaring di sebelah kananku, "Aku ingin punya banyak teman",

Huf~ Dia terlalu polos dan bodoh. Apa perlu aku mengajarinya agar lebih pintar sedikit?


2 hari kemudian, Sasuke pindah ke rumahku. Mama menyambutnya dengan gembira, menjamunya dengan hidangan serba tomat. Mama bilang, Sasuke suka tomat. Mama berbisik padaku bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Sasuke. Mama akan memberinya kejutan malam ini.

Huh! Mengapa mama tidak memberi tahuku? Kalau aku tahu, mungkin aku akan menyiapkan kado untuknya.

"Hey! Benda apa yang kau suka?", tanyaku tanpa basa-basi saat dia sedang memindahkan pakaiannya ke dalam lemari, kini dia punya kamar sendiri, jadi aku tidak perlu berbagi kamar dengannya.
"Benda yang kusuka?", dia menghentikan aktivitasnya, berpikir sejenak.

"Apa ya? Terlalu banyak yang kusuka..hehehee...", cengirnya.
"OK! Benda yang kau inginkan saat ini apa?", aku mengganti pertanyaanku, kuharap dia tidak memberiku jawaban yang sama.
"Ah! Buku sketsa! Buku sketsaku hampir habis, tapi aku tidak punya u..",
"OK! Ayo, kita beli!",
"Tapi, aku tidak punya uang",
"Kutunggu kau di mobil!",


Di toko buku.
Aku mencari buku sketsa dan pensil warna yang berkualitas bagus untuknya.

"Jangan yang itu!", seru Sasuke meletakkan kembali buku sketsa yang kuambil, dia mengambil buku sketsa yang lain, "Yang ini, lebih murah",

Dua remaja perempuan menertawakan kebodohan Sasuke. Kuso! Dia benar-benar membuatku malu.

Kuberikan keranjang belanja padanya, kusuruh dia untuk mengambil benda yang diinginkannya. Dia kebingungan karena dia tidak punya uang untuk membayarnya, kukatakan saja bahwa ini hadiah untuknya karena dia telah kembali ke rumah.

"Terimakasih, Naru!", serunya kegirangan, dia mulai mencari benda yang diinginkannya.

15 menit kemudian.
Dia kembali membawa buku sketsa yang lain -yang lebih murah dari tadi-, sebatang penghapus, dan sebatang pensil kayu. Kulihat lebel harganya, semuanya murah meriah, bahkan anak SD pun bisa membelinya.

Huf~ Dia seleranya memang kelewat murahan.

Kuambil keranjang miliknya, kusuruh dia untuk menunggu di depan toko. Sementara itu, aku mencari pensil warna dan crayon untuknya.


"Pegang ini!", kuserahkan paper bag belanjaanku padanya.
"Terimakasih, Naru!", ucapnya disertai senyuman, dia nyaris melompat kegirangan sambil memeluk paper bag.
"Hey! Ini punyaku, aku tidak jadi membelikan buku sketsa untukmu! Aku hanya menyuruhmu untuk memegangnya saja!",
"Bukan hadiah untukku?", tanyanya dengan wajah kebingungan.
"Bukan!", kutarik kembali paper bag yang dipeluknya.
"Hahahaa... Maaf~ Aku terlalu berharap", tawanya sambil menepuk-nepuk pelan puncak kepalanya.

Ini memang hadiah untuknya, nanti sebelum tidur, akan kuberikan padanya. Karena ini ulang tahunnya, boleh kan aku mengisenginya?

"Ayo, ke tempat lain!", ajakku.

Mama menyuruhku untuk mengulur waktu pulang, karena mama sedang menyiapkan pesta kecil untuk Sasuke.

Kubawa dia ke cafe untuk makan ice cream.
"Kau suka?", tanyaku saat melihat dia menyesapi sesendok ice cream vanilla dengan nikmat.
"Hn! Ini enak, Naru!", serunya.

Tidak peduli dengan sikapnya yang kelewat kampungan, aku sudah terlanjur malu bersamanya.

"Kau boleh tambah sepuasmu",
"Benarkah?",
"Hn! Ini gratis!", bohongku, jika kukatakan aku yang traktir, dia pasti tidak mau tambah.
"Terimakasih, Naru!",

Dia begitu senang, dia bahkan tidak marah setelah kuisengi.

Dulu, papa pernah mengisengiku seperti ini. Aku marah dan menangis saat itu. Kemudian papa tertawa dan mengusap-usap kepalaku, sebelum memberikan hadiah yang telah kupilih.

"Kau tidak ingin hadiah?", tanyaku mengungkit kembali, bagaimanapun caranya, aku harus membuatnya marah ataupun menangis.
"Hadiah?",

Mengapa dia tidak bisa memahami maksudku? Apa benar dia tidak bisa berpikir cepat?

"Buku sketsa tadi, apa kau masih menginginkannya?",
"Aku ingin, tapi aku tidak punya uang untuk membelinya",
"Itu salahmu, seharusnya kau menyimpan uang yang diberi mama waktu itu",
"Itu terlalu banyak, Naru",
"Kau bisa menabungnya jika itu terlalu banyak",
"Menabung?",
"Menabung itu menyimpan uang di suatu tempat, jika kau butuh sesuatu kau tinggal mengambil uang itu, jadi kau tidak perlu meminta lagi. Ingat, keluarga Namikaze tidak pernah meminta", jelasku, semoga dia mengerti.

Dia mengangguk pelan.
"Kau mengerti?",
"Hn! Menabung itu menyimpan uang di suatu tempat. Keluarga Namikaze tidak pernah meminta",
"Jadi, jika mama memberimu uang..", aku sengaja menggantungkan kalimatku agar dia menyambungnya, tapi dia tidak mengerti maksudku.

"Jika mama memberimu uang, kau harus menabung! Jangan ditolak, tapi ditabung, OK?",
"OK?",

Kurasa dia tidak mengerti dengan istilah 'OK'.

"Kau mengerti?",
"Jangan ditolak, tapi ditabung", ulangnya.
"Hn! Kau mengerti?",
"Hn!", angguknya.
"Good!",
"Good?",
"Ini namanya 'Good'", aku mengacungkan jempolku.
"Good!", dia mengacungkan jempolnya juga, "Artinya apa, Naru?",
"Baik!",
"O, baik! Naru good!", serunya mengacungkan jempolnya ke arahku.

Aku good?
Tidak, kau salah!

Ah! Aku jadi lupa untuk membuatnya marah ataupun menangis. Kurasa juga percuma, dia tidak begitu peduli.


Hari sudah hampir gelap, aku harus membawa Sasuke pulang, aku tidak ingin dia berteriak histeris saat melihat kegelapan.

Sesampainya di rumah, aku menyuruh Sasuke untuk mandi dan memakai pakaian yang bagus, aku berkata bahwa aku akan mengajaknya bermain bersama temanku. Dia sangat senang bukan main.

Sambil menunggu Sasuke turun, kami -aku, mama, Shizune-san *kepala pengurus rumah*, Iruka-san *supir pribadi*, Kakashi-san *asisten mama*, dan 2 maid lainnya- bersiap-siap menyambut Sasuke. Mama menyuruhku untuk memegang tart berbentuk tomat.

"NARU, AKU TURUN!", teriak Sasuke dari tangga atas.

Aku menyuruhnya berteriak ketika dia telah selesai mandi dan ingin turun. Dia mematuhinya. Lihat, dia mudah sekali diperintah.

"YA!", teriakku.

Tap tap tap..
Dia turun dengan cepat.
"Naru, apa temanmu sudah datang?",

Kami langsung menyanyikan mars ulang tahun untuknya. Setelah lagu habis, dia malah menatap kami dengan ekspresi kaget sekaligus bingung.

"Otanjoubi omedeto, Sasu-chan!", seru kami, tidak termasuk aku, aku tidak sudi memanggilnya dengan panggilan jijik itu.
"Aku...ulang tahun?", tanya Sasuke.
"Hn! 23 Juli!", angguk mama.

Wajah Sasuke tampak tidak senang, apa dia teringat dengan masa lalunya?

"Make a wish!", seruku karena tanganku pegal memegang tart, wajahku panas karena lilin yang masih menyala di atas tart.
"Ayo, Sasu-chan! Pejamkan matamu, ucapkan permintaanmu di dalam hati, lalu tiup lilinnya", mama mengatupkan tangan Sasuke, posisi make a wish.

Sasuke hanya diam, mulutnya bergetar ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa terucap keluar.

"Sasu-chan?", panggil mama.
"Apakah aku boleh ulang tahun?", tanyanya.
"Tentu! Ini pesta kecil untuk ulang tahunmu!", mama menyingkirkan poni yang menutupi mata Sasuke.
"Kau tidak pernah merayakannya?", tanyaku merasa aneh dengan reaksinya, seharusnya dia bahagia atau menangis terharu.

Mama melirikku, isyarat matanya menyuruhku untuk diam.
"Sasu-chan tidak suka?", tanya mama.

Sasuke menggeleng.
"Aku suka.. Sangat suka...", Sasuke tersenyum seperti biasa.

Mama kembali menyuruh Sasuke untuk make a wish. Sasuke mengatupkan kedua tangannya di dada, memejamkan mata dan berdoa di dalam hati.
"Aku sayang kalian. Fuuuuh~", ucapnya sebelum ditiupnya lilin.

Aku sayang kalian.
Siapa kalian yang kau maksud? Apakah aku juga termasuk?

Tidak! Jangan sayang aku! Kau akan mati karena aku.


Terputus


Naruto terkesan plin-plan, jadi bingung saya o_O