Summary: PLAAAAAAAAAAAKK tamparan keras dari Inaho mendarat di pipi Slaine, membuat Slaine malah mengeluarkan senyum sinis saat menyeka darah yang mengalir dari bibir bawahnya.

Disclaimer: Gen Urobuchi, Katsuhiko Takayama

Genre: Romance, YAOI ALLERT

Rate: T

Pairing: Inaho x Slaine

Warning: OOC, typo eperiwer~~~~ , BL, Yaoi, Absurd, gak nyambung dengan summary, bahasa berantakan

DON'T READ , IF YOU DON'T LIKE STORIES ABOUT BL~~

MASIH SEPERTI DULU

(chap 10)

"Permainan Takdir"

"Kau.. datang orenji…" Slaine pingsan saat itu, membuat kedua pria yang sedari tadi memperebutkan Slaine berhenti, lalu meereka mendekati si surai kuning. Dengan sigap Inaho memeluk Slaine, menghalangi Harklight bahkan untuk menyentuh Slaine seujung jaripun

"Tn. Kaizuka kau tidak berhak memegang tunanganku!"

"jadi kau fikir kau berhak membuatnya menangis seperti ini hanya karna status tunangan kalian?"

Harklight terdiam. Kembali memandang wajah Slaine, wajahnya kusut karna air mata. 'apa yang dilakukannya? Setega itu dia membuat Slaine menangis?' Harklight meninggalkan apartemen Slaine yang saat itu pintunya sudah rusak akibat perbuatan Inaho tadi. Tangannya terus mengepal, gginya terdengar bergeletuk karna menahan emosinya sendiri.

Asap berwarna hitam keluar dari panci di depan Slaine, pertanda bahwa masakannya saat ini benar-benar sudah tidak bisa lagi tertolong. Tapi Slaine belum bertindak, tatapannya masih teteap lurus ke arah depan, tidak ada reaksi apa-apa dari tangan kanannya yang saat itu memegang sutil maupun dari tangan kirinya yang tidak memegang apa-apa, Slaine hanya diam terpaku. Langkah kaki keras terdengar berlari dari arah ruang depan. Detik itu juga saat Inaho melihat Slaine sudah mulai dikelilingi asap dengan sigap memeluk Slaine dan menariknya menjauh dari kompor, mematikan kompor di dekat mereka yang masih menyala, membuat asap hitam yang tadi sedikit demi sedikit mulai menghilang.

"Bat? Kau baik-baik saja?" Inaho bertanya panik, sedikit mengguncang-guncang badan Slaine

"ahh..haaah? Orenji? Kenapa pakaianmu berantakan seperti ini? kau mau rapat dengan pakaian kotor sepeti ini?" Slaine memperbaiki posisinya, mengebas-ngebaskan tangan di beberapa titik pakaian Inaho berharap hal itu bisa sedikit membersihkan pakaian pacarnya.

"Apa yang kau fikirkan?" Inaho memukul pelan kepala Slaine

"Sekarang kau sudah main kasar Orenji!" Slaine berdiri, melepas apron yang tadi digunakannya lalu meninggalkan dapur dimana Inaho masih bingung.

"he… Hoi Bat! Aku hanya bercanda!" teriak Inaho, tapi Slaine sama sekali tidak berbalik. Inaho memutuskn mengikuti pacarnya. Bukannya Inaho sudah sering menjitak pelan Slaine? Tapi kenapa sekarang dia semarah itu? Inaho membuka pintu kamar mereka, melihat Slaine yang sudah berganti pakaian di depan lemari.

"Bukannya hari ini kau tidak ada shift kerja Bat?"

"Yah, tapi ada temanku yang tidak bisa datang. Aku harus menggantikannya. Maaf sarapannya, hari ini bisakah kau sarapan di luar saja?" jawab dan tanyanya dingin secara bersamaaan kepada Inaho. Slaine melanjutkan membereskan barang-barang untuk keperluan kerjanya, mengacuhkan Inaho yang masih berdiri memperhatikannya dengan ekspresi datar. Slaine merasakan tangannya sedikit tertarik saat hendak meninggalkan kamar itu.

"Ku antar" 2 kata terlontar dari mulut Inaho. dengan sigap Slaine malah menepis tangan Inaho

"Aku bisa sendiri"

~O~O~O~O~O~O~O~

Inaho duduk di mobilnya, jaraknya cukup dari Slaine yang tengah duduk di sebuah café dan tampak seperti menunggu seseorang. Seketika senyum sumringah terlihat di wajah Slaine, saat seorang wanita berambut kuning panjang memakai dress berwarna putih menghapirinya. Slaine terlihat berdiri, menarik ke belakang kursi lalu mempersilhakan wanita itu duduk. Ponselnya yang berdering dari tadi menampilkan nama Marito tidak bisa mengganggu konsentrasi Inaho mengawasi Slaine. 'Siapa wanita itu?' genggamannya erat ke setir mobil semakin kuat saat wanita itu terlihat menempelkan tangannya ke pipi Slaine diikuti tangan Slaine yang kemudian memegang tangan wanita itu.

Inaho yang sudah kehabisan kesabaran lalu menelpon Slaine, matanya masih belum beralih dari kaca jendela café yang menampilkan dua sosok pirang yang terlihat sangat mesra di sana.

"Bat aku ingin makan siang denganmu" Inaho langsung berucap begitu mendengar bahwa panggilannya dijawab Slaine

"Maaf Orenji, hari ini ada pasien yang harus kuoperasi, aku sedang sibuk sudah dulu yah.. jaa" tuuuut tuuut tuuut

Inaho membanting ponselnya ke jok di sebalahnya. Operasi katanya? jelas-jelas dia sedang bermesra-mesraan dengan seorang wanita. Inaho memutuskan menemui Slaine, meminta penjelasan tentang kebohongannya tadi dan tentang tingkah anehnya tadi pagi. Kurang dari 5 menit Inaho sudah berdiri tepat di samping 2 orang itu. Mata Slaine sempat membesar terkejut melihat Inaho yang berada tepat di sebelahnya, lalu dengan satu tarikan nafas ekspresinya menampilkan ekpresi 'tidak terjadi apa-apa', membuat Inaho semakin marah melihat tingkah pacarnya itu.

"ini yang kau sebut operasi?" tanya Inaho datar

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Menunggu penjelasanmu"

"kukira tidak ada yang perlu ku jelaskan"

"Bat. Kau berhutang banyak penjelasan padaku. Siapa wanita ini? apa yang kalian lakukan di sini?"

"Dia Asseylum, teman kuliahku dulu. ahh sebenarnya dia manta pacarku. Beberapa hari lalu kami bertemu. Dan seperti yang kau lihat ini, kami memutuskan mencoba kembali menjalin hubungan….."

PLAAAAAAAAAAAKK tamparan keras dari Inaho mendarat di pipi Slaine, membuat Slaine malah mengeluarkan senyum sinis saat menyeka darah yang mengalir dari bibir bawahnya.

"Ba.. Slaine.. maafkan aku, aku tidak bermaksud" Inaho yang sudah kembali sadar dengan perbuatannya barusan langsung memeluk Slaine, seperti yang diperkirakannya reaksi yang diterimanya adalah reaksi penolakan Slaine. Beberapa pengunjung di café itu sempat terpaku menyaksikan pemandangan yang ada di hadapan mereka.

"Slaine, kamu baik-baik saja?" Asseylum mengeluarkan sapu tangan putih dari tasnya, membersihkan darah yang masih keluar dari bibir Slaine. "Apa yang Anda lakukan? Anda tidak tau kalau Slaine ini…" kalimat Asseylum terpotong saat merasa tangannya digengam oleh Slaine siikuti gelengan Slaine.

"Slaine kenapa?" Inaho berbalik bertanya kepada Asseylum, menuntut lanjutan dari kalimatnya tadi yang terpotong.

"Asseylum-san, ayo kita cari tempat yang lebih tenang" Slaine menarik Asseylum meninggalkan café itu. Sementara itu Inaho masih sibuk menyesali perbuatan kasarnya kepada Slaine tadi. Kenapa dirinya dengan muda bisa menampar Slaine. Slaine bukan orang yang dengan gampangnya bertingkah seperti itu tanpa ada sesuatu yang benar-benar dia sembunyikan. Yah pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan.

~O~O~O~O~O~O~O~

Inko meletakkan 2 buah cangkir bersisi kopi di meja, tepat di depan meja itu duduk saling berhadapan Inaho dan Yuki-nee yang terlihat sangat tegang. Sebenarnya Inko penasaran apa yang terjadi pada suaminya setelah hampir 2 bulan tidak pulang karna kerjaannya, tapi aura mencekam di anatar keduanya membuat Inko memutuskan meninggalkan ruangan itu.

"Inko duduk di sini! Ada yang ingin ku katakan padamu" sergah Inaho saat melihat Inko akan meninggalkan ruangan itu.

"KAU GILA NAO-KUN!" bentakan Yuki-nee membuat Inko sedikit kaget, baru kali ini dia melihat Yuki-nee seperti itu.

"a..aku.."

"Inko dengar, setelah kau melahirkan anak-anak itu, aku akan menceraikanmu. Semua biaya anak-anak itu aku yang akan tanggung. Kau bisa memelihara mereka jika itu maumu. Sejujurnya aku bahkan tidak menginginkan mereka" Ucap Inaho dalam satu kali tarikan nafas.

Membuat Inko shock, tidak percaya dengan apa yang didengarnya ini. apa dia sudah berbuat kesalahan fatal sampai Inaho ingin menceraikannya? Apa? Inaho bahkan tidak menginginkan anaknya sendiri? Inko tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kedua tangannya menutup mulutnya berusaha menghentikan isakannya di depan Inaho, berusaha terlihat kuat di depan Inaho.

"Kau sinting! Orang itu yang menyuruhmu berkata seperti itu di depan Inko?" Tanya Yuki-nee marah sambil menyiramkan secangkir kopi tepat di wajah Inaho.

"Yuki-nee.. orang itu? Siapa? Apa yang kau bicarakan? Yuki-nee ada apa ini?" Inko memukul-mukul lengan Yuki-nee yang duduk di sampingnya, meminta penjelasan dari kakak iparnya itu, tapi Yuki-nee tidak menjawab. Tatapan marahnya masih ditujukan kepada adik kandungnya yang sudah bermandikan kopi. Emosinya semakin memuncak saat melihat adiknya malah meninggalkan ruangan itu.

"Ku pastikan kau dan orang itu tidak akan bisa bahagia! TIDAK SELAMA AKU MASIH HIDUP NAO-KUN!" teriakan keras Yuki-nee tidak membuat Inaho mengentikan niatnya meninggalkan rumah itu. Semua yang ingin dikatakannya kepada Inko akhirnya terucap, tidak ada lagi yang harus disembunyikannya.

~O~O~O~O~O~O~O~

Berkali-kali Inaho mencoba menghubungi Slaine, tapi tak ada satupun jawaban dari Slaine. Saat ini dirinya sedang menunggu orang, dengan harapan dirinya bisa mendapatkan jawaban tingkah Slaine tadi. Dari arah pintu terlihat wanita yang tadi bersama Slaine memasuki restoran, sedikit menengok ke kanan dan ke kiri seperti mencari orang. Wajahnya tersenyum sumringah saat melihat Inaho dengan wajah datarnya yang menatapnya duduk di pojok restoran. Dengan sedikit berlari, merasa tidak enak sudah membuat orang itu menunggu

"Maafkan saya, saya sedikit terlambat" katanya sambil mengatur nafas. "perkenalkan saya adalah Asseylum saat ini bekerja sebagai dokter spesialis penyakit dalam di salah satu rumah sakit di kota ini.

"Inaho Kaizuka" katanya sambil menyambut uluran tangan Asseylum "silahkan duduk"

"benar-benar seperti yang dikatakan Slaine. Anda benar-benar orang yang dingin" Asseylum tersenyum manis kepada Inaho, yang disambut dengan tatapan kosong Inaho dengan wajah datar sedatar tembok rumah sakit.

"Apa yang sebenarnya terjadi pada Slaine?"

"tidak ada. Dari awal dia memang tidak memiliki perasaan apapun kepadamu. Kau tau? Aku, Slaine dan Harklight yah tentu saja kau pasti mengenal Harklightkan? Kami bertiga taruhan. Yah taruhannya muda, membuatmu menyatakn cinta kepada Slaine dan kalu kau bisa memukul Harklight demi Slaine maka Slaine akan mendapatkan bonus taruhan. Yah sekarang dia menang. Kukira kau tidak akan muda ditaklukan, tapi siapa sangka kau semuda itu ditaklukan." Asseylum kembali memamerkan senyumnya

"Apa maksudmu?"

"beberapa bulan lalu, tepatnya saat pertama kali istrimu memeriksakan diri ke rumah sakit di mana Slaine menjadi dokter kandungan, Slaine dengan gampangnya menawarkan taruhan itu kepada kami. Kami, aku dan Harklight dengan bodohnya ikut permainan Slaine, kukira kau sudah melupakan Slaine karna sudah beristri dan sudah akan menjadi ayah, tapi ternyata Slaine tau betul bagaimana cara mempermaikan hati seseorang."

"Kau kitra aku percaya dengan semua yang kau ucapkan?"

"Percaya dan tidak itu terserah padamu. Aku menceritakan yang sebenarnya! Permisi, aku harus pergi dari sini." Asseylum meninggalkan Inaho yang masih diam seribu bahasa mencerna semua yang dikatakan Asseylum kepadanya beberapa detik lalu.

~O~O~O~O~O~O~O~

Slaine duduk di sofa ruang nonton, lampu ruang itu sengaja di setel tidak terang malah lebih ke remang. Slaine membuka beberapa lembar kertas, membaca setiap kalimat yang ada di sana. dirinya kembali menangis saat melihat tulisan 'stadium 2'.

Flashback

"Bat, ada apa?" Inaho memeluk Slaine yang sedang menangis sambil menyembunyikan wajahnya di antara lututnya

"Orenji, aku benci obat!"

"Kau kan tidak lagi sakit, jadi kau tidak akan berurusan dengan obat"

"Aku baik-baik saja, tapi ayah selalu memaksaku meminum obat yang sangat banyak!" Slaine kembali menangis. Inaho mengelus kepala bersurai kuning itu pelan

"mungkin itu vitamin, kau tau Yuki-nee juga selalu menyuruhku meminum banyak sekali vitamin sejak ku bilang aku harus lebih tinggi darimu!"

"vitamin rasanya tidak pahit Orenji!"

"Siapa bilang? Vitamin yang kuminum pahit kok!"

"Uso!" Slaine tersentak, mengankat mukanya yang tadi disembunyikan di antara lutut lalu memandang Inaho.

Chuuuuuuuu. Dan dalam sekejam Inaho kecil sudah mencium bibir Slaine, menimbulkan semburat merah di wajah Slaine, air matanya sudah berhenti, wajahnya kini berubah menjadi merah kontras dengan warna kulitnya yang putih pucat.

"Bat. Suki…!"

"urusai!"

"Suki"

"ba..baka"

"Suki.."

"Ahhhh mouuuuu..." Slaine menutup kedua kupingnya lalu menggeleng. Inaho yang melihat hanya tersenyum, merogoh sesuatu dari saku celananya lalu memegang tangan Slaine dan meletakkan sebuah cincin dari anyaman rumput di jari manis Slaine.

"Sejak hari ini Slaine adalah milik Inaho."

~End of flashback~

Darah hangat mengalir dari hidungnya, membuat Slaine kembali tersadar dari ingatan-ingatan masa kecilnya bersama Inaho 15 tahun lalu. Sedikit berlari ke arah dapur untuk menyiram kepalanya, menyumbat hidungnya dengan tisu agar darah tidak terus keluar.

Sementara itu Inaho yang baru pulang ke rumah tanpa sengaja membaca semua kertas yang tadi dibaca Slaine. Rasa sakit seketika menderu di dadanya, jantungnya seperti baru saja terhantam palu dengan dengan keras. Benarkah yang dibacanya ini?

"Bat, kau di rumah?" teriaknya mencoba santai. Itukah alasan Slaine?

"Ya…" suara Slaine sedikit bergetar dari arah dapur

"Kau sudah makan?" Tanya Inaho sambil bersandar di pintu kamar mandi

"i..iya.. kau sendiri?" di dalam kamar mandi Slaine juga bersandar di daun pintu, posisinya kemudian merosot, kakinya seketika lemah membuatnya duduk bersandar di pintu. Berharap dalam hati Inaho tidak membaca kertas tadi.

"Belum. Aku tidak berselera jika tidak melihatmu saat aku makan!" Inaho menutup matanya dengan tangan, sebelah tangannya mengepal. Haruskah dirinya berpura-pura tidak tau seperti ini? "Bat, maafkan aku yang sudah menamparmu tadi"

"ah.. ha ha ha.. aku akan melakukan hal itu jika jadi kau Orenji"

….

Mereka berdua sama-sama diam, tidak ada dari mereka yang berbicara, sibuk dengan pemikiran masing-masing. Mereka berdua sama-sama menangis dalam diam..

~TBC~

OWARI

Akhirnya buat yang chap 10.. maaf kalo feelnya rada kurang nyambung dengan 9 chap sebelumnya. Terima kasih suportnya selama ini, berkat suport kalian diriku jadi punya motivasi untuk cepat-cepat sarjana (ceileeee) 'pokoknya harus bisa lulus periode ini dan bisa lanjut buat fanfic!' percaya ato gak itu salah satu motivasi terbesarku di sebulan terakhir ini hahahahai

Spesial thx buat jeng Ririn yang setiap hari mau berbagi kebaperan, plz jangan bosan yah karna diriku tiap hari baper mulu :3.. see yaaa next chap