Seminggu setelah kejadian dimana Zabuza menyerang mereka, kini Tim 7 sedang berkemas untuk pulang setelah pulih dari luka mereka.

"Apalah kalian akan kembali secepat ini?" Tsunami berkata dengan mimik muka sedikit sayu menatap Kakashi. Tapi Kakashi hanya membalas nya sambil menatap jalanan.

"Misi kami sudah selesai, jadi kami sudah tidak ada keperluan lagi disini. Dan terimakasih sudah menerima kami dengan baik." Ujar Kakashi.

"Maaf sudah membohongimu beserta tim mu." Tazuna mengamati lekat ekspresi Kakashi. Ia menakutkan adanya sebuah mimik yang ia tidak suka dari wajah Kakashi. Namun yang ia temukan hanyalah sebuah senyuman dan mata yang menyipit.

"Tidak apa. Kalau begitu kami pergi dulu." Kakashi berjalan menyusul timnya yang sudah duluan didepan sambil melambaikan tangan kepada ayah dan anak yang masih berdiam di daun pintu. Namun ia sedikit gugup dikarenakan tatapan kagum dari beberapa warga desa yang dilayangkan langsung kepada Kakashi. Ia juga sedikit memberi lambaian tangan kepada warga yang menatap kagum dirinya.

...

...

"Ini dia, silahkan dinikmati." Asap panas mengepul dari mangkok berisi ramen. Meski sudah agak malam di kedai Ramen Teuchi masih sdikit ramai. Naruto sedang duduk disalah satu kursi yang disediakan, mengambil sumpit dan mematahkannya menjadi dua bagian di bagian yang sudah digarisi. Memakan dengan perlahan mie itu, menikmati setiap sulur tepung panjang yang dilapisi kuah daging tersebut.

"Yoo, Naruto!"

"Uhuk!"

Naruto sangat terkejut dengan tepukan pelan dipunggungnya. Mengambil gelas berisi air putih dan meneguknya rakus sampai sedikit mengenai kaos putih yabg ia kenakan yang sama saat misi tempo lalu. Selesai dengan urusannya ia menoleh kepada pelaku yang membuatnya tersedak.

"Kiba? Apa yang kau lakukan?" Naruto melihat Kiba dan Shikamaru sedang berdiri dihadapannya. Shikamaru dengan wajah bosannya dan Kiba dengan senyuman yang sedikit khas dipadukan tato dikedua pipinya.

"Hanya menyapa teman lama." Senyuman itu semakin mengembang setelah mendapat respon dari Naruto.

"Teman apanya, kau bahkan selalu mengatainya waktu di akademi." Shikamaru melipat tangan dibelakang kepalanya. Dengan wajah malas dsn mengejek ia mengatakan kalimat yang sedikit sarkas ditelinga Kiba.

"Apa?! Diam kau kuncir nanas. Aku mencoba memperbaiki keadaan." Pelipis ki ba agak berkedut mendengar ocehan Shikamaru.

"Ya ya, kau dengan tujuanmu."

"Apa kau bilang?!" Kiba sedikit memuncak emosinya. Temannya yang satu ini memang sering membuatnya naik darah.

"Kalian, sudahlah. Ini tempat umum jangan membuat keributan." Mendengar perkataan Naruto, Kiba langsung diam dan duduk dibangku depan konter tepat disamping Naruto.

"Paman, aku pesan satu. Udkuran kecil dengan topping naruto." Teuchi sedikit berkedut mendengar Kiba yang memesan dengan nada yang sedikit membentaknya. Tapi sebagai penjual maka ia tahan itu. Pembeli adalah raja, bukan?

"Baiklah, silahkan tunggu."

"Paman, aku juga sama dengan inu ini."

"Oke."

Shikamaru juga ikut bergabung dengan dua orang disana. Naruto hanya diam saja dan melanjutkan makannya. Setelahnya, mereka bertiga dilanda kesunyian dan tidak berbicara sedikitpun sampai mereka selesai dan kembali pulang.

Saat perjalanan menuju apartemennya, ia mendengar suara kegaduhan dari komplek milik Klan Uchiha. Ia memang sengaja melewati karena ingin berkeliling dahulu.

Ia mencoba mendekati arah kegaduhan yang terus tercipta. Saat ia ia mengintip dari gerbang ia melihat Sasuke dicekik oleh seorang berseragam Anatsu Buntai. Lantas Naruto mengeluarkan panah cahayanya meski sedikit riskan karena pendar itu akan dilihat. Lalu mengarahkan bidikanya kepada ornag yang mencekik Sasuke, dari ujung busur tersebut muncul anak panah keemasan.

Melihat sebuah anak panah yang meluncur, orang itu langsung menebas anak panah tersebut dan hancur berkeping-keping.

"Na-Naruto?" Guman Sasuke tersendat saat ia mengetahui seseorang yang mencoba menyelamatkannya, kemudian pingsan. Orang yang mencekiknya langsung melemparnya ketanah saat mengetahui korbannya pingsan.

Naruto sedikit tidak suka karena serangannya dipatahkan sebegitu mudahnya. Ia mencoba sekali lagi namun kali ini berbeda, setelah ia menembakkan anak panah, dengan cepat mengganti busurnya menjadi sebuah pedang dan langsung merangsek maju untuk menyerang.

"Percuma." Orang itu menggumam. Kemudian ia kembali menebas anak panah itu dan bersiap. Namun saat menebasnya ia dikagetkan dengan anah panah tersebut yang berubah semakin terang dan meledak. Ia berhasil menghindar dengan melompat. Saat ledakannya hampir menghilang, ia merasakan orang yang menyerangnya datang dengan cepat. Dan benar saja, sebuah pedang yang mengincar kepalanya, namun dengan sigap anbu itu menangkisnya.

TRANGKK.

Binyi dentingan besi begitu keras hingga menyebar hampir ke seluruh desa. Naruto sedikit puas dengan hasilnya, danbia juga melihat tanto milik targetnya memerah panas. Orang itu langsung melompat mundur setelah mengetahui pedangnya memanas bahkan hampir meleleh.

Naruto sendiri juga sama terkejutnya ketika melihat mata merah menyala. Bukankah ia juga Uchiha? Kenapa ia menyerang Sasuke? Ia terus bertanya tanya hal itu didalam kepalanya.

"Kau melamun." Belum selesai dengan keterkejutannya. Naruto harus menghadapi sebuah tanto yang mengincar dirinya. Ia berhasil menangkis serangan tersebut. Pelakunya melumpat jauh ke atas.

"Katon: Gokka no hi." Setelah menyerukan jurus tersebut kemudian dari mulutnya, penyerang itu memuntahkan bola api raksasa yang mengarah ke Naruto.

Barrier tembus pandang langsung tercipta didepan naruto yang mengarahkan tangannya ke bola api tersebut. Dua jurus itu bertabrakan dan mengakibatkan asap yang membumbung. Setelah asap menghilang terlihat Naruto yang sedikit hitam dibeberapa bagian dan baju dilengan kanannya sudah habis terbakar beserta beberapa bagian lainnya.

Penyerang itu hanya diam di atas tiang listrik yang ia pijaki. Kemudian orang itu mendecih kasar dan mulai membentuk sebuah segel serta membuka matanya yang merah delima itu.

Setelah melihat orang itu melakukan jutsu, dunia terasa sangat lambat baginya. Namun ia tetap waspada. Orang tersebut langsung turun dan berniat menebas leher Naruto. Naruto menangjisnya dangan mudah dan menendang penyerang itu sampai terpental menuju dinding hingga retak. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan langsung melakukan gerakan cepat dan menusuk perutnya.

"Kau kalah." Ia menyunggingkan sedikit senyum ketika berhasil menusuk lawannya, namun ia bingung ketika tidak ada respon apapun saat perutnya tertusuk.

"Apa kau yakin?" Ia mendengar sebuah bisikan ditelinganya. Naruto sangat terkejut dan hendak menyerang kembali seseorang dibelakangnya. Namun ia tidak dapat melakukannya karena Naruto merasakan sebuah rasa sakit yang amat di perutnya. Ia melihat sebuah tantoyang sudah menembus perutnya.

"Ka-kau, bagaimana bisa?" Ucap Naruto terbata-bata, ia melihat kembali dimana pedangnya menancap. Pedang itu hanya menancap di dinding yang kosong. Penyerang itu kemudian mencabut tantonya dan membuat Naruto jatuh tersungkur dengan memuntahkan darah.

"Dengan begini tidak akan ada saksi mata." Setelah mengatakanya penyerang itu kemudian menghilang menjadi gagak-gagak yang berterbangan.

.

..

...