Huwaaaa... berapa lama aku sudah menelantarkan cerita ini? Padahal ini adalah cerita yang sering aku update, bagaimana dengan cerita yang lain ? Hueeee... Mianhae chinggu. *nangis di pojokan*

Dan aku ucapkan semoga di tahun yang baru ini semua reader diberi kesehatan dan kebaikan oleh Yang Maha Kuasa *Amiiiinnnn*. God Bless for all my reader

Ucapan terima kasih juga untuk para reader yang telah meluangkan waktunya untuk membaca cerita anehku ini. Cerita yang semakin melantur dari plot awal hehehehe...

Terima kasih juga untuk para reviewer yang telah berkenan menuliskan apa yang kalian pikirkan.

Untuk , Hyurin, .5, Geust, dan Nae, Hontouni Arigatou :)

Semoga chapter ini bisa menjawab pertanyaan kalian dan sebagai ucapan maaf karena tidak bisa update cepat #nyengir.

Present

HEART

Cast : Park Yunhee (OC), Cho Kyuhyun (SJ), Lee Donghae (SJ), Jung Mari (OC), Cerry Walker (OC) , and other

Rate : T

Genre : Friendship, Hurt (maybe)

Warning : Typo, OOC, Alur berantakan, Plot gak jelas, dan kekurangan yang lain

Disclaimer : Their belong to God, Their Parents, and Themselves

RnR

DLDR

Enjoy :)

Previous

Kegelapan yang sangat pekat menyambutku setelah berhasil memasukkan kombinasi yang sudah kuhafal. Wajar jika tidak ada cahaya sedikitpun, mengingat ini sudah sangat larut atau bahkan sudah pagi. Tapi aku dapat melihat sebuah cahaya yang redup di salah satu ruangan. Kudatangi ruangan itu dan berharap bisa sedikit mengungkapkan rasa gundahku kepada sang pemilik ruangan jika dia belum tidur.

Aku benar-benar tidak menyangka saat mendapati seseorang yang tidak seharusnya berada diruangan itu. Seorang yeoja yang berhasil membuatku merasakan sesuatu yang sering disebut dengan cinta. Seseorang yang juga dikasihi oleh sepupuku dengan sepenuh hatinya.

"Yunhee..." lirihku dengan masih berdiri di dekat pintu.

"Kyu..." suaranya yang tercekat menandakan jika yeoja itu juga terkejut atas keberadaanku. Dan tanpa bisa menguasai diriku langsung kudekap 'Yunhee' dengan erat. Berharap jika waktu bisa berhenti dan 'Yunhee' akan selalu ada disisiku.

Chapter 10

"Don't leave me" bisikku padanya tanpa mengurangi rapatnya dekapanku. Dan seolah mengerti maksudku yeoja itu akhirnya membalas pelukankku dan berbisik balik.

"Never, as long as you ask me"

"Thank you" kuurai pelukan kami dan dapat kulihat sebuah senyum yang semakin membuat wajahnya terlihat cantik. Tanpa bisa mencegah perasaan bahagiaku, kucium dia sepert beberapa waktu yang lalu. Aku benar-benar tidak peduli jika akan mendapat sebuah tamparan ulang. Dan yang kembali membuatku bahagia 'Yunhee' membalas ciumanku.

Pengaruh alkohol yang kuminum sebelum ke tempat ini seolah membuatku tidak bisa mengendalikan diriku. Saat ciumanku berbalas aku seperti mendapat ijin untuk melakukan yang lebih dari ini.

"Yunhee" bisikku tepat ditelinganya. Dapat kurasakan tubuhnya menegang dan mencoba menghentikan apa yang baru saja kumulai. Mendapat penolakan seperti itu membuatku tidak bisa mengendalikan rasa marahku. Saat itu aku mengacuhkan segala penolakan dan teriakan yang ditujukan untukku. Bahkan pukulan dan cakarannya sama sekali tidak kupedulikan.

Hari ini aku hanya ingin menjadikannya milikku sepenuhnya. Aku sama sekali tidak peduli jika hatinya masih berat kepada sepupuku. Aku akan menunggu hingga hatinya berpaling kepadaku. Dan saat itu tiba akan menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupku.

Dapat kulihat kesakitan dan kesedihan yang tercetak jelas di netranya yang penuh dengan airmata saat kami menjadi satu. Kuhapus airmata itu dan kucoba membisikkan kata-kata yang menurutku akan meluluhkannya. Bukannya terdiam, isakannya semakin keras hingga dia kesulitan bernafas.

"Tidak bisakah kau diam hah!" bentakku saat dia tidak juga berhenti terisak. Bahkan tanpa segan kupukul wajahnya dengan sangat keras. Setelah itu dia mencoba menghentikan isakannya dengan menggigit bibirnya. Yakin jika dia tidak akan mengeluarkan suaranya lagi, aku mencoba berbaring disampingnya. Karena lelah dan pengaruh alkohol yang tersisa aku dapat dengan mudah masuk kealam mimpi. Tanpa tahu jika yeoja yang berada dalam pelukanku berusaha menahan isakannya hingga pagi menjelang.

Entah berapa lama aku tertidur, hanya saja sinar matahari yang menerobos masuk membuatku terusik. Rasa pening adalah hal pertama yang kurasakan saat mencoba membuka mata. Untuk mengurangi hal itu aku kembali memejamkan mata guna menetralisir rasa pusing yang menderaku.

Setelah merasa lebih baik, kubuka mata dan mencoba bangkit dari tempat tidur. Saat merasakan dinginnya udara pagi yang menerpa kulitku, sontak membuatku merapatkan kembali selimut yang menutupi bagian baawahku. Aku merasa heran dengan keadaanku saat ini. Tidak biasanya aku tertidur tanpa mengenakan apapun seperti saat ini.

Kebingungan itu semakin bertambah ketika sadar jika aku tidak berada di kamarku. Kamar ini sangat familiar bagiku, hanya saja kenapa aku bisa bangun di tempat ini dengan keadaan yang begitu memalukan seperti sekarang? Kuacak rambutku yang masih nerantakan menjadi semakin berantakan.

"Arrrghhhh..." teriakku kesal. Aku berharap pemilik kamar mendengarku dan menjelaskan apa yang telah terjadi. Karena aku sama sekali tidak bisa mengingat apapun yang terjadi semalam. Ingatan terakhirku adalah aku diusir dari Dream Bar karena sudah terlalu mabuk.

Suara alarm dari smartphoneku mengalihkan semua pikiranku tentang apa yang telah terjadi. Kuambil benda itu yang terletak di nakas tak jauh dari tempatku kini terduduk. Dan sebuah pengingat membuatku sadar jika aku tidak boleh terlalu lama berada di tempat ini. Hari ini Yunhee akan pergi, dan aku tidak mau melewatkan pertemuan terakhir kami. Segera kupakai semua bajuku dan setelahnya meninggalkan tempat ini tanpa menoleh. Seandainya saat itu aku menoleh sebentar mungkin aku bisa melihat sang pemilik apartemen dengan airmata yang keluar dari kedua netranya.

Saat menyadari penampilanku yang sangat berantakan dari pantulan di lift aku berusaha mencari toilet di sekitar lobby. Setelah merasa lebih baik aku menuju mobilku dan memacunya menuju bandara. Cukup jauh memang, tapi Yunhee bilang jika dia akan berangkat pukul 11, dan aku masih punya waktu sekitar 3 jam guna sampai di bandara.

15 menit sebelum keberangkatan yeoja pemilik hatiku aku sampai dengan selamat di bandara. Meski tadi sempat mendapat cacian dari beberapa pengemudi lain ketika hampir saja mobilku menabrak kendaraan mereka. Tanpa peduli dengan cacian mereka aku tetap memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Dan sekarang aku harus berusaha menemukan keberadaan Yunhee diantara banyakknya orang.

Jujur aku benci jika harus berdesakan dengan banyak orang seperti ini. Tapi ini semua demi melihat yeoja pujaanku. Dan kali ini sepertinya Tuhan berpihak padaku. Kurang dari lima menit aku telah berhasil menemukan keberadaannya beserta kedua orangtuanya. Aku pikir jika aku juga akan bertemu dengan Donghae hyung, tapi sepertinya namja itu tidak berada disisinya. Dan itu sedikit membuat senyumku terukir dengan sendirinya.

"Hosh...hosh...hosh..., Yunhee mianhae" kataku setelah berada dekat dengan keluarga Park.

"Kyu, kau datang? Aku pikir kau lupa" dengan nada mengejek Yunhee mengatakan hal itu.

"Tsk, kau pikir aku sebodoh itu sampai tidak mengingat janjiku eoh?" sebuah cubitan di hidung kuhadiahkan kepada yeoja yang sangat kucintai ini.

"Yakkk...apa yang kau lakukan" dengan segera Yunhee melepas cubitanku di hidungnya.

"Eh, dimana Donghae hyung?" tanyaku setelah sadar tidak mendapati keberadaan sepupu tampanku itu.

"Dia tidak datang, lagipula aku juga belum memberitahunya tentang kepergianku ini. Dan kau jangan coba-coba untuk memberitahunya, arra?" ada sedikit kesedihan yang kulihat di manik Yunhee, meski itu hanya beberapa detik.

"Eh wae? Bukankah kau sangat mencintai Donghae hyung? Dan dia sangat membutuhkanmu saat ini" aku benar-benar membutuhkan kesabaran yang tinggi saat mengajukan pertanyaan itu kepada Yunhee.

"Ne, aku memang sangat mencintainya. Tapi aku juga tidak ingin Donghae oppa bergantung padaku. Aku harap dia akan mendapat kebahagiaannya saat aku kembali ke Korea"

"Apa kau tahu jika dia sakit?"

"Ada kau, Mari, dan juga Cerry yang akan selalu menjaganya. Dengan berlalunya waktu aku harap semua akan kembali seperti yang seharusnya. Dan mungkin saat itu perasaannya akan berubah padaku. Begitu pula dennganmu Kyu" entah apa maksud dari pernyataan Yunhee barusan. Apa yang sebenarnya terjadi di pesta kemarin malam? Bukankah seharusnya Yunhee telah bertunangan dengan Donghae hyung? Banyak pertanyaan yang ingin kulontarkan, tapi aku rasa ini bukanlah waktu yang tepat untuk menanyakannya.

"Selama apapun kau pergi aku akan tetap menjaga hatiku untukmu Yunhee-ah"

"Jangan bercanda Kyu, hati seseorang sangat mudah berubah"

"Tapi tidak denganku"

"Terserah kau lah. Aku akan ketinggalan pesawatku jika terus melawan statemenmu. Selamat tinggal" setelah berkata demikian Yunhee berlalu.

"Sampai jumpa" teriakku. Aku sama sekali tidak ingin mendengar kata perpisahan seperti itu. Sementara Yunhee hanya membalasnya dengan lambaian tangan dan sebuah senyum. Dalam hati aku berjanji akan menjaga perasaan ini hingga dia kembali dan mau menerima perasaanku. Dan setelahnyanya aku dan orangtua Yunhee pulang bersama.

Aku langsung memacu mobilku menuju rumah setelah mengantar orangtua Yunhee ke rumahnya. Entah apa yang akan menimpaku karena semalam tidak pulang. Hanya berharap tidak ada yang sadar jika aku menghilang. Dan sekali lagi Tuhan menunjukkan kasih-Nya kepadaku. Tidak ada seorangpun di rumah. Dengan langkah riang kulajukan kakiku menuju kamar dan berendam di bathup beberapa waktu akan membuatku merasa lebih segar.

Bukannya kesegaran yang kudapatkan setelah berendam seperti niatan awalku tadi. Tapi sebuah kenyataan yang membuatku seakan kehilangan semua darahku. Aku mengingat semua yang terjadi setelah keluar dari Dream Bar. Bahkan saat aku melakukan 'hal' itu dengan sahabatku sendiri. Parahnya lagi aku menganggap jika yeoja itu adalah Yunhee.

Kuacak rambutku yang masih basah. Aku sama sekali tidak peduli jika akan sakit karena tidak langsung mengeringkannya. Tindakanku semalam lebih buruk dari semua keusilan yang pernah kulakukan. Dan aku tidak akan sanggup bertatap muka lagi dengannya. Aku yakin jika dia akan membenciku setelah ini. Tapi jika itu yang terjadi aku pasrah, karena aku sadar jika akulah yang bersalah.

Ini adalah hari kelima aku sama sekali tidak berinteraksi dengan Cerry. Dia juga tidak pernah menghubungiku. Wajar mengingat mungkin dia masih marah. Sesekali Mari akan mampir kerumah, dia tampak frustasi karena kebaradaan Yunhee yang tiba-tiba raib. Yeoja itu bahkan sudah berkali-kali membujuk orangtua Yunhee untuk mengatakan kebaradaan putri semata wayang mereka, tapi aku yakin jika mereka tidak mengatakannya.

"Hal ini benar-benar membuatku gila. Apa kau tahu jika Donghae oppa tadi pingsan?" tanyanya setelah meminum habis jus jeruk yang disediakan oleh Kim ahjuma.

"Aku rasa Donghae hyung hanya sedikit kaget" balasku dengan masih fokus pada console gameku.

"Ayo kita kerumah sakit, aku ingin menjenguknya" katanya seraya menyeretku paksa. Kebiasaan Mari yang sangat tidak kusuka adalah sikap pemaksanya. Karena tidak tega membentaknya akhirnya aku pasrah diseretnya menuju audy silver miliknya. Tunggu, jika Donghae hyung dirawat bukankah tidak mungkin jika Cerry juga berada disana? Dan sepertinya kali ini aku akan bertemu dengannya. Karena mobil Mari telah melaju tanpa kusadari.

Sepetinya ketakutanku terlalu berlebihan. Di ruangan yang berbau obat ini hanya ada Donghae hyung yang terbaring dengan tatapan kosongnya. Aku benar-benar tidak tega melihat sepupuku ini menderita seperti ini, tapi janji yang telah kuucapkan kepada Yunhee juga tidak mungkin kulanggar.

"Oppa tidakkah kau bosan tinggal di rumah sakit seperti ini?" Mari langsung menayakan hal itu setelah berada disamping Donghae hyung, dan dalam hati aku menyetujuinya. Tapi yang ditanya seolah tidak berada di tempat. Dia hanya memandang keluar jendela dengan tatapan kosong.

"Yunhee..." hanya itu yang dikatakan Donghae hyung sejak dia tidak menemukan keberadaan sang kekasih di rumahnya malam itu. Dan tidak ada yang bisa membuatnya mengalihkan perhatian namja itu dari sang kekasih. Mari menceritakan apa yang terjadi selama kami menuju rumah sakit.

"Orang tuanya tidak mau mengatakan dimana Yunhee saat ini. Sebenarnya apa yang telah terjadi pada kalian oppa?" sebuah suara yang sangat kuhafal dan ingin kuhindari terdengar setelah suara pintu terbuka. Dapat kulihat jika dia baru saja pergi dengan dua sahabat Donghae hyung yang lain.

"Apa maksudmu Cerry? Aku yakin hubungan Donghae oppa dan Yunhee baik-baik saja" Mari heran melihat Cerry yang bisa beragumen seperti itu. Dan sepertinya dia tidak menyadari keberadaanku, atau malah mengacuhkanku. Dan entah kenapa pemikiran kedua itu membuat dadaku sesak.

"Jika tidak terjadi apa-apa, Yunhee tidak akan menghilang seperti saat ini. Yakkk Lee Donghae sampai kapan kau akan menyiksa dirimu seperti ini eoh? Tidakkah kau memikirkan kami yang sangat mengkhawatirkanmu" sepertinya Cerry benar-benar tidak bisa menahan kemarahannya lagi. Diguncang-guncangnya tubuh Donghae hyung agar namja itu sadar akan sekitarnya. Dan sepertinya teriakan Cerry menyadarkan namja penyuka ikan itu.

"Apa jika aku hidup, Yunhee akan kembali padaku?" tanyanya kepada kami semua.

"Tentu saja" jawab Hyukie hyung cepat, aku rasa dia benci melihat sahabatnya seperti mayat hidup.

"Baiklah, mulai saat ini aku akan bertahan sampai Yunhee kembali. Dan saat itu datang aku akan meminta maaf padanya" dapat kulihat kepercayaan diri itu muncul dalam diri Donghae hyung. "Gomawo Ceryy-ah" lanjutnya yang hanya dibalas dengan sebuah senyuman.

Setelah itu Donghae hyung meminta kami semua keluar agar bisa istirahat dan secepatnya keluar dari rumah sakit. Dan tanpa diminta dua kalipun kami langsung keluar. Sungmin hyung dan Eunhyuk hyung berjalan beriringan dengan Mari. Sementara aku sama sekali tidak tahu harus bersikap seperti apa saat berjalan bersama Cerry. Kecanggungan benar-benar dapat kurasakan. Entah ada yang menyadarinya atau tidak.

"Owh Kyuhyun? Lama tak jumpa. Mian karena terlalu kesal aku sama sekali tidak menyadari keberaadaanmu" sepertinya pemikiranku yang pertama tadi tepat. Dapat kulihat keterkejutannya saat sadar jika namja yang berjalan bersamanya adalah aku.

"Bagaimana kabarmu?"

"Baik, kau sendiri?"

"Tidak terlalu baik aku rasa. Apalagi saat Taeyon eonni menghubungiku dang mengatakan jika Donghae oppa pingsan. Saat itu aku benar-benar ingin ikut pingsan". Melihat jika Cerry sama sekali tidak membahas apa yang terjadi malam itu membuatku percaya jika apa yang telah kami lakukan hanyalah sebuah kealpaan. Dan akhirnya aku bisa berbicara dengannya seperti biasa.

Dua bulan sejak peristiwa malam itu, Cerry mengajakku bertemu di kedai ice cream langganannya. Tanpa tahu apa yang akan terjadi aku langsung mendatangi tempat itu. Seperti biasa sebuah ice cream ukuran jumbo sudah tinggal setengah saat aku datang.

"Dasar manusia salju" kataku seraya menyamankan diri di kursi yang berada dihadapannya. Tidak ada balasan seperti yang selalu dilakukan yeoja itu. Cukup lama aku menunggunya menghabiskan makanan favoritnya itu, tapi seakan tidak menyadari jika aku sudah berusaha bersabar dengan sikapnya Cerry kembali memesan ice cream lagi. Dan akhirnya aku ikut memesan secangkir charamel machiato.

Karena bosan hanya memandanginya menikmati makanan dingin itu, kukeluarkan sahabat sejatiku yang selalu bisa diandalkan. Keheningan menemani kami beberapa waktu hingga Cerry mengatakan sesuatu hal yang sangat mustahil. Aku hanya tertawa mendengar pernyataannya, tapi tidak ada tawa diwajahnya saat mengatakan hal itu.

Aku kembali menyangkal dengan semua kenyataan yang datang secara tiba-tiba ini. Kukatakan hal-hal buruk yang aku yakin akan semakin menyakitinya, dan hal yang tak terduga kembali terjadi. Tanpa kami sadari jika Mari mendengar apa yang kami bicarakan. Sebuah tamparan diberikan kepada sahabat baiknya itu. Dan pernyataan Cerry yang terakhir benar-benar membuatku menjadi orang yang sangat jahat. Tapi sebelum bisa membalas pernyataannya, dia berdiri dan pergi meninggalkan kami berdua.

"Selamat tinggal, aku sangat bersyukur karena pernah menjadi bagian dari hidup kalian" itu adalah kata terakhir yang diucapkannya sebelum benar-benar pergi. Dan hari itu adalah hari terakhir aku melihat yeoja bersurai coklat itu.

*Flashback and Kyuhyun Pov End*

"Apa kau tidak pernah mencari dimana Cerry berada?" hanya sebuah gelengan kepala yang didapat Ryeowook atas pertanyaannya itu.

"Aku benar-benar tidak menyangka kau bisa berbuat seperti itu. Dan dari cerita yang baru saja kau ceritakan aku bisa menyimpulkan jika rasamu terhadapa Yunhee hanyalah sebuah obsesi seperti yang dikatakan Cerry. Dan aku yakin kau belum tahu siapa sebenarnya yang kau cintai" setelah mengatakan hal itu namja manis itu beranjak meninggalkan Kyuhyun dalam lamunannya.

"Kyu..."sebuah benda dilemparkan Ryeowook kepada Kyuhyun setelah namja itu memandang dirinya. Dan dengan cekatan sebuah kalung yang dicarinya sejak tadi telah berada di genggamannya.

"Jangan sampai kau menghilangkannya lagi." Katanya dan kali ini benar-benar meninggalkan Kyuhyun yang tengah memandang hadiah yang dibeli dengan uangnya itu.

"Cerry" bisiknya pelan "Bogoshippo" setetes airmata kembali keluar setiap kali Kyuhyun mengingat yeoja itu. Selama ini dia berusaha menghapus ingatannya tentang sahabatnya yang satu itu, tapi usahanya selalu gagal. Dan pada akhirnya Kyuhyun sadar jika dia sangat merindukan sahabat esnya itu melebihi rasa rindunya kepada Yunhee.

Le Blanc Cafe, Paris

Sebuah cafe yang terletak di depan sebuah mesuem ternama di Paris. Tempat yang selalu ramai dikunjungi oleh para pelancong maupun penduduk lokal. Cafe yang terkenal bukan hanya karena kenikmatan hidangan yang disajikan, tetapi juga panorama yang tidak bisa ditemukan ditempat lain di kota mode ini.

Di salah satu meja terlihat seorang gadis bersurai coklat madu tengah menatap pejalan kaki yang hilir mudik melintasi cafe. Secangkir latte dan sepiring cinamom roll menemaninya menunggu seseorang yang mengajaknya bertemu. Sebenarnya gadis itu enggan untuk keluar dalam cuaca yang bisa dibilang sedang tidak bersahabat ini. Tapi karena sebuah alasan akhirnya dia memutuskan untuk menyetujui pertemuan ini.

Menunggu adalah hal yang paling membosankan di dunia ini. Apalagi jika kau harus menunggu seseorang yang telah memaksamu untuk bertemu. Meski waktu baru berjalan lima menit dari waktu yang telah disepakati, gadis itu sudah terlihat bosan. Seharusnya saat ini dia bisa mengerjakan tugas yang diberikan dosennya beberapa waktu yang lalu. Di tengah kebosanannya, tanpa sadar dia memainkan sebuah gantungan handphone yang merupakan hadiah dari seseorang dari masa lalunya.

*Flashback*

*Mari Pov*

"Tadaaa..." Cerry datang mengagetkanku dengan sebuah gantungan berbentuk lumba-lumba ditangannya yang kini ditunjukkan tepat di depan kedua mataku. Dan aku rasa respon yang kuberikan terhadap kejutan anehya itu membuatnya merenggut tidak senang.

"Apa gantungan ini jelek?" tanyanya memastikan pilihannya itu.

"Aniyo, hanya saja aku tidak mengerti untuk apa gantungan itu" jawabku berusaha berkata jujur, karena pada dasarnya aku memang tidak tahu tujuan Cerry menyodorkan benda itu kepadaku.

"Hadiah untukmu tentu saja,"

"Huh? Dalam rangka apa?"

"Apa harus ada sesuatu yang khusus bagi seorang sahabat memberi hadiah kepada sahabatnya? Lagipula aku takut kau iri karena aku membari hadiah kepada Yunhee dan Donghae oppa sementara aku tidak memberimu apa-apa" aku hanya mampu membuka tutup mulutku seperti ikan kehabisan nafas dengan penjelasan Cerry. Lagipula untuk apa juga aku iri kepada Yunhee dan Donghae oppa karena mendapat hadiah darinya. Bukankah ini memang harinya mereka? Secara mereka telah meresmikan hubungan diantara keduanya.

"Dan anggap gantungan ini adalah pengganti diriku saat aku tidak berada disisimu. Lagipula lumba-lumba adalah hewan yang bisa berkomunikasi dengan sesamanya dari jarak yang sangat jauh sekalipun" lanjutnya yang semakin membuatku mengernyit tidak mengerti. Bahkan dapat kulihat jika Kyuhyun juga berbisik kepadanya, dan hanya dibalas dengan senyuman manis dari Cerry.

"Terima kasih" kataku pada akhirnya.

Sejak saat itu hubungan Yunhee dan Donghae oppa semakin mesra. Sementara aku, meski telah mencoba saran Cerry untuk mencari kekasih tetap saja tidak bisa melupakan rasaku kepada Kyuhyun oppa. Meski hubungan kami tidak lagi secanggung dulu, tapi tetap saja ada sebuah jarak tak kasat mata yang membuatku semakin jauh dengan Kyuhyun oppa.

Waktu berjalan dengan cepat, tanpa terasa sudah dua tahun hubungan Donghae oppa dan Yunhee berjalan. Aku senang hubungan keduanya bisa seawet ini, bahkan rencananya malam ini Donghae oppa akan mengenalkankan Yunhee secara langsung kepada keluarga besarnya. Ya, pada pesta yang memang diselenggarakan untuk kelulusan Donghae oppa.

Tapi rencana yang sudah disusun secara rapi menjadi berantakan saat Yunhee tiba-tiba menghilang dari pesta. Dan aku sama sekali tidak menyangka jika malam itu adalah malam terakhir aku bertatap muka dengan Yunhee. Karena keesokan harinya, kami mendapat kabar jika Yunhee sudah tidak berada di Korea lagi.

Keadaan Donghae oppa semakin memburuk setiap harinya sejak menghilangnya Yunhee. Aku, Cerry, Sungmin oppa, Hyukie oppa, dan beberapa teman telah mencari dimana keberadaan Yunhee. Tapi hasilnya nihil. Bahkan kedua orang tuanya juga tidak membantu sama sekali. Mereka bungkam setiap kali kami bertanya tentang keberadaan putri tunggalnya itu. Dan yang paling membuatku kesal adalah Kyuhyun oppa sama sekali tidak mau peduli dengan keadaan Donghae oppa yang semakin memburuk. Dia selalu bersikeras untuk tetap diam meski kami telah membujuknya. Bahkan dia seolah-olah menghindar dari kami.

Lima hari setelah kepergian Yunhee, Donghae oppa ditemukan pingsan dan langsung dibawa ke rumah sakit. Itu adalah kali pertama aku melihat Cerry marah kepada Donghae oppa. Dia bahkan tak ragu memukul namja yang sudah dianggpnya sebagai kakak itu agar tidak terlalu larut dalam kesedihan. Dan sepertinya apa yang dilakukan Cerry membuahkan hasil. Donghae oppa kembali berusaha untuk bangkit dari keterpurukannya. Saat itu juga merupakan kali pertama Kyuhyun oppa menampakkan batang hidungnya sejak Donghae oppa dirawat di rumah sakit. Itupun karena tadi aku yang menyeretnya.

Karena kemarahannya pada Donghae oppa, Cerry sama sekali tidak menyadari keberadaan Kyuhyun oppa. Dan itu membuatku sedikit terhibur saat melihat wajah kagetnya ketika sadar jika dia berjalan beriringan dengan Kyuhyun oppa saat ini.

Donghae oppa menepati janjinya untuk menjalani hidupnya seperti biasa. Dua bulan sejak saat itu aku dapat melihat semangatnya sudah kembali seperti semula. Dia bahkan berencana mengikuti pameran lukisan yang akan diadakan di balai kota, dan hal itu membuatku bahagia. Meski demikian, ada yang berubah dari Cerry. Dia tidak seperti biasanya, seolah dia tengah memiliki sebuah masalah yang sangat besar. Karena takut dikatakan ikut campur, aku berusaha tidak menyinggung tentang masalahnya.

Hari itu, setelah membelikan semua pesanan Donghae oppa untuk keperluan pameran itu, aku berencana membeli ice cream. Sudah lama aku tidak mengunjungi kedai itu bersama Cerry. Lagipula kesibukan kami menyiapkan ujian akhir dan masalah yang tengah dihadapi Cerry yang aku tidak tahu apa itu membuat kami jarang keluar bersama. Tapi sepertinya Tuhan masih menyayangi persahabatan kami. Karena aku bisa melihat Cerry tengah menikmati ice cream di spot favoritnya. Dan tanpa pikir panjang aku menghampirinya.

Sebelum sampai ke meja tempat dimana Cerry tengah menikmati makanan dingin manis itu, dapat kulihat Kyuhyun oppa datang dan mendudukkan diri di depan Cerry. Dan seperti biasa, Cerry sama sekali acuh terhadap segala sesuatu disekitarnya jika sudah menikmati ice cream. Pada akhirnya aku memutuskan untuk tetap berada dimana aku sekarang. Aku ingin membuat mereka terkejut nanti.

Jarak yang cukup jauh membuatku tidak dapat mendengar apa yang tengah mereka bincangkan. Dapat kulihat keseriusan di wajah Cerry, sementara Kyuhyun oppa seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Karena penasaran, aku mencoba untuk lebih dekat lagi.

"Bisa saja itu adalah hasil namja lain" pernyataan Kyuhyun membuatku semakin tidak mengerti arah pembicaraan mereka.

"Apa kau pikir aku serendah itu?" jelas ada nada tersinggung dari pertanyaan Cerry.

"Imposible " Kyuhyun oppa masih menyangkal.

"But that's the truth. I'm pregnant and the baby is yours" pernyataan Cerry benar-benar tidak dapat kupercaya. Dan entah karena rasa marah atau apa aku langsung keluar dari persembunyianku dan melakukan sesuatu yang tidak pernah kubayangkan akan kulakukan terhadap sahabatku itu.

'Plakkkk...' sebuah tamparan yang cukup keras kulayangkan padanya. Aku sama sekali tidak peduli dengan tatapan para pengunjung tentang apa yang baru saja kulakukan. Aku juga yakin baik Cerry maupun Kyuhyun oppa tidak menyangka jika aku berada diantara mereka. Bagaimana mungkin Cerry yang sangat tahu perasaanku terhadap Kyuhyun oppa mengatakan hal menjijikkan seperti itu.

"Mari..." katanya dengan memegang pipi yang baru saja mendapat tamparan dariku.

"What? Tidak menyangka jika aku berada disini eoh?" ketusku. Aku sendiri tidak tahu bagaimana aku bisa bersikap seperti saat ini. Hanya saja rasa kecewa dan marah telah membutakanku.

"Kau mendengar semua?" tanyanya tak kalah dingin. Aku benar-benar tidak menyangka jika dalam kondisi seperti ini dia bisa bersikap sedingin itu. "Jika kau mau aku bisa menjelaskannya"

"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Dan aku tidak menyangka jika selama ini aku bersahabat dengan seseorang yang sangat rendah sepertimu"

"Mari..." sepertinya Kyuhyun oppa tidak begitu suka dengan panggilan baruku kepada Cerry.

"Wae? Itu kenyataannya bukan? "

"Jadi begitu huh? Jika aku adalah yeoja rendahan, lalu bagaimana dengan kalian? Seseorang yang mengaku jika rasa yang dimilikinya adalah cinta, cih. Kalian hanyalah orang bodoh yang sama sekali tidak bisa membedakan mana cinta dan obsesi"

"Kau..." dan kali ini caramel machioto milik Kyuhyun oppa yang tinggal separo telah berpindah ke wajah Cerry.

"Mari..." aku rasa Kyuhyun oppa sama sekali tidak menyangka jika aku akan menyiram Cerry dengan minumannya. Sementara aku sama sekali tidak peduli lagi dengan sopan santun yang selama ini diajarkan appa, aku hanya melampiaskan kemarahanku karena perkataan Cerry barusan.

"Tsk..., annoying" kata Cerry seraya membersihkan wajahnya dari noda kopi. "Fine. Jika kau berpikir bahwa bayi yang tengah kukandung bukan milikmu, it's okay. Tapi aku harap kau tidak berpikir jika bayi ini adalah milik orang lain. The baby is mine, only mine" katanya seraya menatap Kyuhyun oppa. Dan saat itu aku sadar jika ada sebuah kesedihan yang terpancar dari kedua matanya. "Dan kau nona Jung, aku tidak serendah yang kau pikirkan"kali ini dia menatapku lekat. Tidak pernah aku melihat kesedihan Cerry sejelas saat ini, tapi kemarahanku membuatku mengacuhkannya.

"Selamat tinggal, aku sangat bersyukur karena pernah menjadi bagian dari hidup kalian" itu adalah kata terakhir yang diucapkan Cerry sebelum pergi meninggalkan kedai ice cream.

"Apa maksud semua ini Kyu?" tanyaku kepada Kyuhyun oppa yang sama sekali tidak mendapat respon. Dia hanya memandang kosong kearah dimana tadi Cerry pergi. Aku sama sekali tidak menyangka jika persahabatan kami akan mendapat ujian sedemikian besar. Dan hari itu adalah hari terakhir aku melihat seorang Cerry Walker. Dia menghilang seperti Yunhee. Bahkan setiap kali Donghae oppa menanyakan keberadaan atau alasan kepergiannya, baik aku maupun Kyuhyun oppa akan mengalihkan pembicaraan.

*Flashback off*

Dan sampai detik ini aku tidak tahu dimana Cerry berada. Apa dia tetap mempertahankan bayi itu? Jika iya, anak itu pasti berumur sekitar tiga tahun sekarang. Dan wajahnya pasti sangat tampan seperti appanya jika dia seorang namja atau secantik eommanya. Apa anak itu juga jago main game seperti kedua orang tuanya? Atau menjadi penggila ice cream seperti eommanya?

Entah kenapa setiap kali memikirkan hal itu aku sama sekali tidak bisa membendung rasa sedih yang menderaku. Bahkan aku sama sekali tidak sadar jika airmata itu telah menetes. Hingga sebuah usapan ringan dipipiku membuatku kembali ke dunia nyata. Dapat kulihat seorang namja tampan tengah tersenyum menampilkan kedua dimplenya yang semakin membuatnya mempesona.

"Kau menangis lagi" katanya tetap tersenyum.

"Aku sangat merindukannya Andrew" balasku kembali terisak.

"Aku yakin dia juga merindukanmu" bisiknya seraya memelukku. Setidaknya kali ini aku bisa merasakan jika apa yang tengah kurasakan sangat berbeda dengan rasaku terhadap Kyuhyun. Dan aku sadar jika saat itu Cerry memang benar. Saat itu aku hanya terobsesi kepada Kyuhyun, bukan mencintainya. Karena sekarang aku telah menemukan seseorang yang sangat kucintai. Seseorang yang tengah mendekapku erat, Andrew Choi.

*Mari Pov End*

.

.

.

.

.

.

.

T

B

C

Akhirnya...

Mianhae hanya ini yang bisa kuberikan setelah menghilang beberapa waktu #nyengir

Semoga tidak mengecewakan

Salam

Opie ^^