Can I Love Him?

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, saia cuma numpang minjem

Rated T

Genre : Romance, Hurt and Comfort

Pair : NaruHina, slight GaaHina

Warning : Typo, OOC, plus rada-rada gaje hihi~

.

.

.

Cuplikan Cerita Sebelumnya~


Masih terdiam, menatap sendu Naruto yang perlahan-lahan menghilang dari balik kerumunan, bibir gadis itu bergetar menahan tangis.

'Gomen..'

Kenapa dia baru sadar, kenapa bibit yang tak seharusnya tumbuh. Hari ini jadi semakin berkembang, kenapa sekuat apa pun Hinata menolak, dirinya malah terus tertarik dalam permainan pemuda pirang itu, sampai akhirnya kali ini ia benar-benar dan sadar, kalau..

'Aku sudah tidak bisa menganggapmu anak kecil lagi, Naruto-kun.'

Ia, Hinata Hyuga. Menyukai seorang Namikaze Naruto,

Apa ia harus mengubur perasaannya ini dalam-dalam atau membiarkannya berkembang?


Chapter 10 : Kami-sama Help me?!


Di dunia ini perasaan cinta memang tidak bisa di paksakan, sejauh apapun kita mencoba menghindarinya. Kalau yang namanya takdir, kita memang tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menerimanya.

Mungkin itulah yang dirasakan Hinata sekarang, jauh di lubuk hatinya. Ia berusaha keras menepis perasaan suka pada seseorang yang sangat ia kenal dulu, seseorang yang ia kenal sebagai adik kecilnya. Tapi apa daya, gadis itu malah terus terseret tanpa sadar, sampai akhirnya ia tidak bisa berbuat apa-apa,

Menyesal karena sudah bertemu dengan Naruto?

Tidak mungkin kan. Hinata malah senang bisa melihat adik kecilnya itu.

Menghindari Naruto?

Itu lebih tidak mungkin, mengingat betapa keras kepalanya sifat pemuda pirang itu. Membuat Hinata tidak bisa menghindar darinya.

"..."

Jadi apa yang harus dia lakukan sekarang? Setelah mendengar perkataan Naruto tadi padanya, tubuh gadis ini seolah-olah membeku, seolah tersadar dari kenyataannya.

'Naruto-kun..'

OoOoOoOoOoOoOoO

Gaara terus menerus mengamati tingkah laku kekasih indigonya itu, setelah pergi dari pesta tadi. Hinata hanya terdiam, tidak mau berbicara sepatah kata pun, manik Lavendernya malah menatap pemandangan malam di luar mobil. Tentu saja hal itu membuat pemuda merah itu cemas, memang ia tahu permasalahan Hinata dengan Naruto tadi. Tapi sebesar apa permasalahan keduanya?

Tidak tahan melihat sikap pendiam Hinata, tangannya segera menggenggam jemari kekasihnya pelan. Mencoba membuat Hinata kembali sadar,

"Hinata," panggilnya.

"..." masih tidak ada respon.

"Hinata, kau kenapa?" ucap Gaara kembali, sampai..

"Ah, Go..gomen Gaara-kun, tadi aku hanya sedang melamun saja!" merasakan hangatnya tangan Gaara dan panggilan kekasihnya membuat Hinata tersentak kaget, gadis itu cepat-cepat membuat wajah seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

"Kau melamunkan apa?" tanya Gaara lagi.

"E..eto, ti..tidak ada yang penting, ha..hanya masalah kecil saja.." jawab Hinata, terdengar ragu di telinga Gaara.

Pemuda merah itu menghembuskan napasnya panjang, matanya masih terfokus pada jalanan di depan, "Masalah sekecil apa yang membuatmu berwajah ingin menangis seperti itu?"

Lagi-lagi Hinata terkejut, perkataan Gaara benar-benar telak mengenainya. Maniknya langsung tak fokus, dan menatap ke segala arah, mencoba mencari alasan lain. Hinata tidak ingin Gaara tahu tentang masalahnya tadi. Tidak!

"I..itu.."

"Hinata, Kau tahu aku tidak suka saat kau menyembunyikan sesuatu dariku."

Gadis indigo itu makin terpojok, kepalanya menunduk menahan air mata yang akan jatuh di pelupuknya. 'A..apa yang harus kukatakan?! Aku tidak ingin melihat Gaara kecewa, aku tidak ingin Gaara tahu tentang perasaanku ini! Kami-sama,' dalam hati Hinata terus mencoba menenangkan hatinya, menguatkan agar dirinya terlihat baik-baik saja.

Tapi..

"A..aku.."

"Hn,"

"Ga..Gaara-kun, aku benar-benar.." dirinya tidak sanggup. Tangan Hinata mengepal menahan tangis.

Gaara melihat jelas sikap Hinata, gadis itu terlihat memaksakan dirinya. Ia jadi tidak tega, 'Mungkin membiarkannya sekarang ini lebih baik,' pikirnya seraya menghela napas kembali. Ia menekan rasa penasarannya karena tidak ingin melihat Hinata semakin terpojok.

"..."

Plok, tangannya yang tadi menggenggam tangan Hinata beralih ke puncak kepala gadis itu. Menepuknya dengan lembut, membuat Hinata sontak menoleh dan melihatnya.

"Gomen, kalau kau tidak mau menjelaskannya sekarang. Aku akan menunggunya sampai kau siap." Ujarnya pelan,

"Ga..Gaara-kun.."

"Kita akan sampai sebentar lagi, jangan memasang wajah seperti itu Hinata. Aku tidak suka melihatmu menangis."

Lidah Hinata serasa kelu, tidak mampu berbicara apa-apa mendengar pernyataan Gaara. Ia tahu kalau Gaara sebenarnya khawatir dengan dirinya, 'Kenapa Gaara baik sekali denganku? Kenapa semuanya selalu khawatir dengan keadaanku? Baik Naruto atau Gaara, kenapa kalian bisa menyukai gadis sepertiku?!' tanya Hinata terus menerus.

'Aku...aku..aku tidak pantas untuk kalian berdua, aku tidak ingin menyakiti salah satu dari kalian. Aku bukanlah gadis yang baik hati seperti yang kalian kira, aku..aku hanya..'

Tes, tak ayal memikirkan perkataannya tadi membuat setetes air mata jatuh di pipinya tanpa sadar, Hinata benar-benar tidak bisa lagi menahan tangisnya. Pundaknya bergetar, tangannya berusaha menutupi bibirnya agar tidak keluar isakan yang mampu di dengar Gaara.

'Mungkin lebih baik aku tidak berhubungan dengan..' pikiran gadis itu seketika terhenti, saat sebuah tissue kini sudah berada tepat di depannya, tangan kekar pemuda di sampingnya kini sudah menyodorkan benda tipis itu. Hinata sepertinya benar-benar tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari Gaara.

"Jangan pernah berpikir untuk menjauh dariku."

Dan perkataan Gaara kembali menyentakkan Hinata, manik gadis itu terbelalak tak percaya. Apa Gaara punya kekuatan membaca pikiran orang? Kenapa dia bisa tahu apa yang di pikirkannya.

"Kau tidak bisa menyembunyikan wajah dan air matamu." Ujar pemuda merah itu lagi.

Sukses menjawab semua pertanyaan Hinata.

"Ta..tapi, Gaara-kun, aku tidak tahu apa yang terjadi nanti. A..aku takut kalau kau.."

Terdengar dengusan pelan dari pemuda di sampingnya ini, "Bukannya sudah kubilang kalau Naruto mengibarkan bendera perang denganku. Aku tidak akan menyerah dan tetap mempertahankanmu, Hinata."

Tidak tahu harus berkata apa, wajah Hinata kembali tertunduk. Memang ia mengingat jelas apa yang di katakan Gaara saat di pesta tadi, tapi tetap saja gadis itu tidak ingin menyakiti salah satu dari mereka. Hinata menyayangi Gaara, dan dia juga menyayangi Naruto. Egoiskah kalau dia ingin keduanya bahagia di saat yang bersamaan?

"..."

Saat pikiran Hinata masih mengawang-awang, tanpa ia sadari. Kendaraan Gaara kini sudah berhenti tepat di depan rumahnya,

"Kita sudah sampai." ucap Gaara pelan.

"I..iya.." seakan tersadar dari lamunannya, gadis itu mengangguk kecil, segera mengamit tas kecilnya, dan membuka pintu mobil. Berharap ia bisa mengisthirahatkan otaknya malam ini. Tapi..

Grep, tangan Gaara tiba-tiba menggenggam pergelangannya, menghentikan gerakan gadis itu cepat. Membuat Hinata menoleh bingung pada pemuda yang masih terdiam manis di tempatnya.

"Ga..Gaara-kun?"

"Nee, Hinata boleh aku bertanya padamu?" ucapan Gaara membuat kedua alis Hinata mengernyit semakin bingung.

"Ya, te..tentu saja boleh~" ujarnya berusaha menahan rasa gugup yang entah kenapa menyelimutinya.

Sebuah senyuman kecil terlihat di wajah Gaara, "Kalau aku memberimu pilihan, warna apa yang kau sukai. Biru atau Hijau?"

"E…eh? Wa..warna?"

"Hn,"

Tanda tanya besar sekarang sudah muncul di belakang gadis itu, tentu saja Hinata bingung. Gaara tiba-tiba saja menanyakan masalah warna kesukaannya di saat-saat seperti ini?

"A..ano, a..aku suka warna hijau dan biru, me..mereka sama-sama bisa menenangkanku." Jawab Hinata pelan.

"Souka?"

Gadis itu mengangguk ragu, "I..iya,"

"Bisa kau pilih salah satu?"

Oke, Hinata semakin bingung. "Pi..pilih?"

"Ya."

"Em…i..itu.." melihat tingkah gugup kekasihnya, untuk yang kesekian kalinya Gaara menghela napas panjang. Sepertinya pertanyaannya tadi membuat gadis itu bingung, tentu saja bukan~

Plok, tepukan lembut segera ia hadiahkan di puncak kepala Hinata, "Kau bisa menjawab pertanyaanku itu kapan pun~" ujarnya cepat, manik Jadenya menatap wajah Hinata yang masih terlihat tidak mengerti.

"Eh?"

"Hari sudah larut, lebih baik kau segera masuk ke dalam. Aku tidak ingin Basan dan Ojisan marah karena sudah membawa putrinya pulang malam-malam seperti ini~" terdengar sekali nada bercanda dari pemuda merah itu. Membuat lengkungan kecil di bibir Hinata.

"Un, hati-hati Gaara-kun, Oyasumi~" genggaman di tangannya perlahan lepas. Gaara kembali menghidupkan mobilnya, dan melaju pelan tak lupa memberikan senyuman tipisnya pada Hinata.

Sedangkan Hinata yang masih terus memandangi kepergian kekasihnya, sampai mobil itu tak terlihat lagi. Tangannya yang masih melambai perlahan turun, senyumannya tadi pun pudar.

"…"

"Benarkah tidak apa-apa kalau seperti ini, Gaara-kun?" bisik Hinata pelan, entah pada siapa. Udara malam yang mulai menusuk kulit putihnya, membuat gadis itu berjengit dan memilih untuk masuk ke dalam rumah.

.

.

.

.

Krek, pintu berwarna coklat itu perlahan terbuka. Hinata segera membuka high heels yang ia kenakan. Ia ingin segera berbaring di tempat tidurnya, dan karena kebetulan besok hari minggu. Sekolah libur jadi otomatis gadis ini bisa tidur sepuas-puasnya,

"Aku lelah sekali~" bisik Hinata pelan seraya melangkahkan kakinya menuju kamar. Tak lupa, saat manik gadis itu melihat Kaasan serta Tousannya masih berada di ruang tamu. Ia menghampiri mereka,

"Kaasan, Tousan aku pulang," ucapnya pelan.

Membuat kedua orang tuanya menoleh, "Ah, kau sudah datang Hinata, bagaimana pestanya?" Tanya Mizuki, beranjak dari sofa dan mendekati putrinya. Mengusap rambut indigo panjang Hinata lembut.

"Un, me..menyenangkan Kaasan. Sampai-sampai aku kelelahan seperti ini~" jawabnya, berusaha keras tidak mengkhawatirkan wanita cantik di depannya kalau sebenarnya ia sempat menangis tadi.

"Benarkah, tapi wajahmu terlihat kusut seperti itu. Kau baik-baik saja sayang?" Tanya Mizuki, masih terlihat ragu dengan jawaban putrinya.

"A..aku hanya kelelahan saja Kaasan, lagipula besok aku bisa isthirahat di rumah saja." ujar Hinata kembali.

"Mizuki, lebih baik kita biarkan Hinata isthirahat. Dia pasti lelah." Suara baritone Hiashi, membuat wanita itu menghela napas pelan.

"Baiklah kalau begitu, sebenarnya hari ini Kaasan ingin membicarakan sesuatu padamu. Tapi melihat wajah kusutmu, Kaasan jadi tidak tega. Isthirahatlah sayang~" tutur Mizuki lembut.

Gadis itu mengangguk lemah, tersenyum tipis sampai akhirnya ia berjalan kembali menuju kamarnya.

"Oyasumi Kaasan, Tousan~"

"Oyasumi~"

OoOoOOooOoOoOoO

Desahan lega terdengar dari bibir Hinata, tas kecil yang sejak tadi dibawa segera ia letakkan tak jauh dari tempat tidurnya. Gadis itu segera berjalan mendekati sebuah kasur yang sangat empuk kesayangannya. Dan tidak ingin berlama-lama lagi,

Bruk, tubuhnya segera ia baringkan, maniknya terpejam perlahan. Betapa melelahkannya hari ini, banyak sekali kejadian-kejadian yang ingin ia lupakan. Tapi tentu saja tidak semudah itu,

'Apa yang kupikirkan tadi,' batin Hinata kecil, tangan putihnya meremas seprai tempat tidurnya pelan. Ingatannya kembali teralih saat ia hendak pergi dari pesta itu. Saat dimana emosinya tak bisa di kendalikan, dan tanpa sadar Hinata mengucapkan sendiri dalam hati, kalau dia..

"….."

"Aku menyukai Naruto.." bisik gadis itu.

Menyukai,

Naruto, adik kecilnya yang dulu sangat cengeng dan selalu bergantung padanya. Benarkah?

"U…ugh, apa yang harus kulakukan?" Ya, ia menyukai pemuda pirang itu. Entah kenapa wajahnya terasa panas ketika mengingat perkataannya, dan tanpa aba-aba lagi Hinata segera membenamkan wajahnya pada bantal guling kesayangannya. Menahan rona merah yang menjalari pipinya itu kini.

"Dan tadi kenapa Gaara-kun tiba-tiba menanyakan warna kesukaanku?" ujarnya kembali. Dia benar-benar bingung, perasaannya kini campur aduk, sedih, kesal, senang, semuanya bercampur jadi satu.

"Hijau atau biru?"

"…"

Astaga Kami-sama! Hinata tidak mengerti sama sekali, apa dianya saja yang terlalu polos? Lalu tadi Hinata ingat sekali kalau Kaasan dan Tousannya ingin berbicara sesuatu dengannya, bicara tentang apa?!

"U..ughh~ aku tidak tahu," desahnya bimbang, lambat laun kantuk mulai menjalari kelopak matanya. Membuat gadis itu menguap tanpa sadar.

"Apa yang harus aku lakukan kalau nanti bertemu Naruto?" bisiknya kecil, sampai..

"…."

"…."

Kilasan sebuah wajah yang terlihat kecewa, terpampang jelas diingatan Hinata. Maniknya kembali meredup,

"Pasti Naruto tidak akan memaafkanku.." ujar gadis itu untuk yang terakhir kalinya, sampai akhirnya terdengar dengkuran halus dari bibirnya. Ia tertidur~

.

.

.

.

Di tempat lain~

"Arigatou sudah mengantarkan Sensei pulang, Naruto-kun~" seorang gadis berambut pirang pucat tersenyum kecil pada pemuda di depannya.

"…." Tidak ada jawaban, membuat gadis bernama Shion itu mengerutkan alisnya bingung. Memang sejak tadi, murid kesukaannya ini terlihat melamun terus dalam perjalanan pulang. Bahkan sampai pesta berakhir pun ia tetap seperti itu, walau cengiran khas Naruto masih belum menghilang dari wajahnya, tetap saja tidak bisa menyembunyikan pandangan matanya yang terlihat redup. Sebenarnya apa yang terjadi? Dia juga tidak melihat keberadaan Gaara serta Hinata di dalam pesta tadi, apa mereka pulang. Tapi kenapa secepat itu?

Sebuah helaan napas keluar dari bibirnya pelan, perlahan ia menepuk pundak pemuda pirang di depannya. Berusaha mengembalikan kesadarannya.

Plok, "Naruto-kun, kau kenapa melamun terus sejak tadi?" Tanya Shion.

Dan seakan tersadar,

"Ah, Go..gomen Sensei, ahaha tidak apa-apa kok, hanya sedikit lelah saja. Tidak usah khawatir!" Naruto berseru kecil. Menggaruk pipi tannya yang tidak gatal, terlihat sekali wajah kikuk di rautnya.

"Benarkah?" tanya gadis itu kembali.

Naruto mengangguk mantap, "Ya, Gomen ternyata pesta yang di selenggarakan Basan sampai selarut ini~" kini giliran dirinya yang berbicara, mengalihkan topik pembicaraan tepatnya~

"Um, tidak apa-apa, Sensei senang bisa bersama Naru..eh maksudnya Sensei senang bisa datang ke pesta meriah itu!" hampir saja Shion kelepasan bicara, Naruto yang mendengar nada kikuk dari Senseinya menaikkan alisnya sebelah. Yah, pemuda itu ternyata masih belum menangkap makna ucapan Shion tadi.

"Ooh~ syukurlah," ujar Naruto singkat.

"Kalau begitu aku pulang dulu Sensei," lanjutnya, Shion yang mendengar itu merasa sedikit kecewa. Karena kebersamaannya dengan Naruto harus berakhir, tapi mau apalagi~

"Ba..baiklah, hati-hati di jalan Naruto-kun."

"Aa," tangan tan Naruto melambai singkat sampai akhirnya pemuda itu berjalan menuju mobilnya. Dan melaju pergi.

OoOoOoOoOoO

Dalam perjalanan~

"Cih," tak henti-hentinya pemuda pirang itu berdecih pelan, tangannya terkepal keras. Sampai akhirnya perlahan menyibak rambut jabriknya. Memperlihatkan kerutan kecil di antara kedua alisnya.

Ya, senyum serta cengiran yang ia perlihatkan tidak hanya di depan Shion-sensei bahkan teman-temannya tadi hanya kebohongan palsu, inilah wajahnya sekarang. Mata Saphirenya tidak memperlihatkan sinar lagi, dan decakan kesal yang terdengar terus menerus.

"Jadi dia hanya melihatku sebagai anak kecil, kusoo!"

Brak, tangan terkepalnya memukul setir dengan keras. Naruto berusaha menenangkan hatinya yang tengah kacau, Ia tidak ingin terjadi apa-apa saat dalam emosi yang tidak stabil ini.

"Kuso!" Sebenarnya saat ia berjalan menjauh dari Hinata tadi, pemuda pirang itu melihat sekilas pundak Senseinya bergetar pelan, dan isakan kecil yang terus menerus mengatakan 'maaf'

Hatinya luluh melihat dan mendengar itu semua, tapi mau apalagi. Ia sudah terlanjur kecewa dengan Hinata, apa sikapnya selama ini sama sekali tidak membuat gadis itu jatuh cinta padanya? Bahkan untuk satu persen pun?

"Apa memang tidak ada tempat lagi untukku di hatimu, Hinata?" desah Naruto panjang, menyerah mendapatkan Hinata atau tidak?

"…."

Kita lihat saja nanti~

.

.

.

.

.

Cit, cit, cit~ suara burung berkicau tepat di dekat jendela kamar, membuat Hinata bergerak pelan dari tempat tidurnya. Manik gadis itu masih tertutup rapat, sampai sinar matahari yang perlahan menyelinap masuk ke kamarnya lewat celah-celah tirai, sukses membuat Hinata menggeliat tak nyaman.

"Engg~ sudah pagi?" gumamnya masih tak sadar seraya menggerakkan tangannya hendak meraih jam weker yang masih tertata rapi di dekatnya.

"Hoahm~ jam berapa sekarang?" ujarnya lagi, manik Lavendernya menatap jam di tangannya kini, dan ternyata..

10.00 a.m.

"…."

Butuh waktu lima detik buat Hinata sadar saat melihat jam weker miliknya kini sudah menunjukkan waktu sepuluh pagi. "Kyaa! Sudah pukul sepuluh?!" pekiknya kecil. Tubuh gadis itu segera bangkit dari tempat tidurnya meski rohnya masih belum terkumpul sepenuhnya.

"Aku memang ingin isthirahat sepuasnya hari ini, tapi tidak sampai setelat ini~" desah Hinata panjang, Ia dengan perlahan merenggangkan seluruh otot-ototnya yang terasa kaku.

"Hah~ pasti Kaasan dan Tousan akan menceramahiku~" ucapnya kembali,

Memikirkan tidak ada sesuatu yang special akan dia lakukan hari ini, membuat Hinata sedikit lega. Jadi dia bebas, dan tidak perlu terburu-buru. Sekarang untuk menyegarkan dirinya kembali, Hinata berjalan pelan menuju kamar mandinya, mengambil sebuah handuk dan pakaian.

Mandi pagi yang ia tunggu-tunggu~

OoOoOoOoOooOoOoO

"Ohayo Tousan, Kaasan~" setelah beberapa menit ia berdiam diri di kamarnya, gadis itu segera turun menemui kedua orang tuanya. Hal yang sangat jarang ia lakukan, mengingat betapa sibuknya mereka berdua.

"Ah, Ohayo Hinata~" Mizuki tersenyum kecil melihat putrinya datang, dan kembali menyibukkan diri dengan sarapan buatannya, sedangkan Hiashi menoleh Hinata sekilas, mengangguk pelan dan matanya tertuju lagi pada sebuah koran di tangannya.

Aroma masakan serta teh hangat Kaasannya membuat Hinata merasa sedikit rileks, Ia berjalan mendekati wanita indigo di depan sana. "Kubantu Kaasan," ucapnya seraya mengambil sayuran-sayuran dan mencucinya.

"Arigatou~"

"Nee, Kaasan tidak marah aku bangun sesiang ini?" tanya Hinata tiba-tiba.

"Hm~ kemarin kau terlihat lelah sekali sayang, jadi Kaasan dan Tousan bisa memakluminya. Lagipula, kau sudah dewasa, kita berdua tidak bisa mengaturmu terus menerus~" jawab Mizuki.

Yah, satu lagi yang Hinata banggakan dari Kaasannya ini~

"Baiklah kalau begitu~" ucapnya senang, Ia tersenyum lembut menatap wanita di sampingnya ini.

Sampai...

"..."

"Lho? Kaasan membuat cheesecake?" Maniknya menangkap sebuah kue yang terlihat masih hangat di dekat oven. Aroma keju menguar perlahan, membuatnya semakin bingung. Tumben sekali Kaasannya membuat kue sepagi ini?

Sementara Mizuki, menoleh sekilas pada putrinya dan mengangguk kecil. "Iya, Kaasan memang sengaja ingin membuat itu,"

"Untuk siapa? Neji-nii? Atau mungkin akan ada tamu nanti siang?" pertanyaan-pertanyaan segera Hinata lontarkan. Dan hanya di jawab gelengan kepala Kaasannya.

"Lalu?"

"Fufufu~ lihat saja nanti, ayo sekarang bantu Kaasan memotong kentang disana~"

Oke, untuk yang kesekian kalinya alis Hinata mengerut bingung, hah sejak kapan Kaasannya suka bermain rahasia-rahasiaan seperti ini. Gadis itu mengendikkan bahunya, mungkin saja kue itu untuk tetangga di sebelah rumah atau untuk teman-teman Kaasannya.

[….]

"Nah ini~"

"Eh?" manik Hinata sedikit terkejut setelah selesai dengan sarapan paginya, sekarang ia melihat seloyang kue yang tadi masih tersimpan rapi di dekat oven kini sudah berpindah ke tangan Kaasannya. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, wanita cantik itu memberikannya kue itu padanya, atau lebih tepatnya..

"Kau antarkan kue ini ke rumah Naruto-kun~"

"….."

Apa Kaasannya bilang tadi?!

Naruto?!

Maksudnya Namikaze Naruto?!

"Na..Naruto? U..untuk apa Kaasan?!" entah kenapa nada bicaranya kini berubah gugup. Keringat dingin merayap di keningnya tanpa sadar,

"Iya, kau lupa, kalau dulu Naruto-kun itu teman kecilmu. Jadi sebagai ucapan salam karena kita pindah ke Konoha lagi, Kaasan membuat kue ini untuk mereka."

"Ta..tapi bukannya kita sudah lama pindah?"

"Lama? Kaasan tidak memikirkan hal itu, lagipula Kaasan juga baru tahu kalau tempatmu mengajar itu di sekolah Tsunade-baasan, Neji yang memberi tahu. Jadi tidak ada salahnya kan~" ujar Mizuki panjang lebar. Membuat Hinata tidak bisa mengelak, gadis itu meneguk ludahnya ragu.

"Se..sepertinya aku tidak bisa.." ucap Hinata cepat, Ia tidak siap bertemu dengan Naruto secepat ini. Setelah apa yang terjadi kemarin.

"Tidak bisa? Bukannya kemarin kau bilang sendiri ingin diam seharian di rumah~"

Glek, tegukan ludah Hinata makin cepat. Gawat ingatan Kaasannya tajam sekali!

"I..iya, ta..tapi aku ada.." dan sebelum sempat menyelesaikan kata-katanya,

"Onegai~ Kau hanya perlu membawa kue ini ke rumah Naruto-kun. Kaasan ingin sekali, memberikan kue ini pada mereka. Mau kan, sayang?" Keluarlah puppy eyes andalan wanita cantik di depannya ini. Membuat tubuh Hinata membeku, sampai akhirnya.

"…"

"….."

"Baiklah, akan kuantarkan," Dia kalah telak.

Wajah memohon Mizuki langsung berganti senyuman kemenangan, wanita itu menepuk pipi putrinya lembut. "Arigatou nee~ putri Kaasan yang cantik~" ucapnya kecil.

Sementara Hinata hanya bisa merengut dalam hati, 'Hah, aku memang tidak bisa menolak permintaan Kaasan~' desahnya panjang.

"Ha'i, ha'i, aku siap-siap dulu."

"Kau mau di antar Gaara?" tanya Hikari kembali,

'Mana mungkin aku mengajak Gaara ke rumah Naruto Kaasan, dia pasti akan kesal sekali kalau aku mengajaknya kesana~' batinnya dalam hati. Hinata menggeleng pelan,

"Tidak, aku akan berangkat sendiri." Jawab Hinata cepat, seraya melangkahkan kakinya meninggalkan ruang makan. Membiarkan Kaasan serta Tousannya yang masih berada di sana sambil berbincang-bincang.

..

"…"

"Kau yakin dengan semua ini, Mizuki?" suara berat Hiashi akhirnya keluar, saat melihat Hinata kini sudah pergi sepenuhnya dari ruang makan. Laki-laki itu menyeruput kopi hangat yang ia pegang seraya menatap istrinya ragu.

Wanita indigo itu mengangguk mantap, "Baru kali ini aku melihat wajah Hinata, gugup dan memerah, bahkan saat berada di dekat Gaara saja dia jarang bersikap seperti itu. Aku hanya ingin melihat seberapa besar hubungan Naruto dengan Hinata sampai sekarang ini," jawabnya.

"Sikapmu ini hanya akan menyakiti Gaara nantinya, dia itu pemuda yang baik bagi Hinata."

Mizuki menatap sendu suaminya, "Ya, Gaara memang pemuda yang sempurna untuk Hinata, tapi kau tahu sendiri kan sayang, berapa kali Hinata sering mengigaukan nama Naruto dalam mimpinya. Kita berdua sering mendengarnya sendiri. Sejak pergi dari Konoha, sampai kembali lagi, hampir setiap malam putri kita mengucapkan nama Naruto, bahkan kemarin dia mengatakan 'maaf' terus menerus dalam mimpinya."

"…" Hiashi terdiam. Ya, kemarin saat malam sudah larut, keduanya segera beranjak dari ruang tamu. Mereka hendak berjalan menuju kamar, tapi segera terhenti saat mendengar suara kecil Hinata. Keduanya membuka pintu kamar putrinya, melihat keadaan Hinata.

Dan Mizuki sedikit kaget melihat setetes air mata mengalir dari manik Hinata, pipi gadis itu terlihat basah. Bibirnya yang tanpa sadar terus mengatakan nama Naruto dan kata maaf, membuat baik Mizuki maupun Hiashi merasa sedih.

"Aku tahu, tapi ada baiknya kalau kita tidak ikut campur dengan masalah Hinata. Biar dia sendiri yang menentukkan pasangan masa depannya sendiri, dulu kita memang selalu mencoba menekannya, tapi sekarang Hinata sudah dewasa. Dia berhak memilih Gaara, Naruto, atau bahkan orang lain. Kau mengerti kan, Mizuki~" tepukan lembut segera Hiashi berikan pada istrinya.

Mizuki hanya bisa mengangguk paham, "Um, akan kucoba."

.

.

.

.

Sekarang Hinata sudah berdiri tepat di depan kaca miliknya, menatap pantulan dirinya itu lesu. Yah, karena permintaan Kaasannya itu, sekarang dia harus pergi lagi dari rumah dan liburannya hari ini hancur sudah.

"Aku masih belum siap ke sana~" desahnya pelan, tangan gadis itu bergerak dan menguncir rambut indigo panjangnya seperti pony tail.

'Andai saja ada Neji-nii, aku pasti akan meminta tolong untuk menggantikanku mengantar kue~' batin Hinata penuh harap, meski semuanya mustahil. Mengingat kalau kakak sepupunya itu jarang datang ke rumahnya, kalau pun datang mungkin hanya menumpang sarapan seperti pertama kali ia bekerja di Konoha Gakuen.

"Hinata, jangan berlama-lama di kamar!" seruan Mizuki menyentakkan pikiran Hinata, membuat gadis itu mempercepat gerakannya.

"I..iya, sebentar Kaasan!" seru Hinata kecil. Sepertinya tidak ada pilihan lain lagi, selain pergi ke rumah Naruto.

'Aku tinggal mengantar kue itu, memberikannya pada Kushina-basan, pulang dan semuanya selesai~' batinnya, seraya mengangguk mantap.

Tapi sepertinya pikiran gadis indigo ini terlalu simple~

OoOoOoOoOoOoOoO

Mizuki tersenyum penuh arti saat melihat putrinya turun dari lantai dua. Dengan pakaiannya yang sudah berganti dan penampilan gadis itu.

"Ara, ara, seperti biasa putri Kaasan cantik sekali~" ucapnya senang, seraya mendekati Hinata. Tentu saja ikut membawa kue di tangannya.

Sedangkan Hinata hanya bisa merengut kecil, kalau ada maunya pasti Kaasannya ini suka sekali melebih-lebihkan sesuatu. "Ha'i, ha'i mana kuenya Kaasan?"

"Ini dia, tolong antarkan ya. Sampaikan salam Kaasan pada Naruto-kun, Kushina, Minato, dan Tsunade-basan~"

"Ya," tangan Hinata dengan cekatan mengambil kotak kue di tangan Kaasannya, dan segera melangkahkan kakinya keluar dari rumah. "Kalau begitu aku berangkat dulu Kaasan, Tousan." Ucapnya.

"Hati-hati di jalan sayang~"

.

.

.

.

Jantung Hinata tak henti-hentinya berdetak, tangannya meremas kuat kotak kue di pangkuannya sekarang. Gadis itu memilih menaiki bus yang tak berjarak jauh dari rumahnya, selain menghemat biaya. Entah kenapa keadaan yang sedikit ramai di dalam kendaraan ini membuatnya merasa tenang, jarak rumah Naruto juga tidak terlalu jauh. Ia benar-benar berharap kalau pemuda pirang itu belum bangun dari tidurnya karena kelelahan, atau mungkin berharap Naruto tengah pergi bersama teman-temannya. Hinata tidak tahu apa yang bisa ia lakukan kalau bertemu dengan Naruto nanti, tidak tahan melihat wajah kecewa pemuda pirang itu lagi,

"…"

'Semoga saja~' batinnya penuh harap.

[…..]

Dan setelah beberapa menit menempuh perjalanan, disinilah dia berada sekarang. Berdiri di depan gerbang besar yang semalam sempat ia lihat, maniknya masih bisa melihat jelas, banyak petugas-petugas kebersihan merapikan peralatan-peralatan pesta kemarin, ini membuat ia sedikit senang. Kalau suasana seramai ini, bisa saja ia menitipkan kue buatan Kaasannya pada pelayan atau mungkin pekerja di dalam.

"A..aku harus cepat," gumam gadis itu seraya mempercepat langkahnya memasuki gerbang besar itu, serta masuk ke dalam rumah. Lagi~

[…..]

Krek, pintu besar di depannya segera ia buka, dengan gugup kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan. Memastikan kalau maniknya tidak menangkap seorang pemuda berambut pirang di dalam sana.

Beberapa pelayan wanita menatap gadis indigo itu bingung, terdiam di dekat pintu tanpa ada maksud untuk masuk ke dalam.

Sampai..

"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" seorang pelayan menghampiri Hinata, tersenyum ramah padanya.

"E..eh, a..ano apa Kushina-basannya ada?" Hinata segera menanyakan keberadaan wanita merah cantik itu pada seseorang di depannya.

"Kalau boleh saya tahu, nona ada perlu apa dengan Kushina-san?" tanya pelayan itu balik.

'Ini dia!'

"Um, bisa tolong berikan kue ini pada Kushina-basan, bilang saja dari Mizuki Hyuga." Sekotak kue ditangannya tadi segera ia serahkan, berharap pelayan itu mau mengirimkan kuenya ini pada Kaasan Naruto.

"Oh, baiklah kalau begitu~"

Dan Hinata benar-benar ingin menjerit girang sekarang juga, permintaannya terkabulkan! Dia tidak perlu bertemu dengan Naruto, senyum kecil pun segera terlihat di wajahnya. "Ah, Arigatou!"

Setelah sukses memberikan kue, tanpa basa-basi lagi Hinata berniat pergi dari rumah besar itu, "Ka..kalau begitu, saya permisi du.." belum sempat ia menyelesaikan perkataannya…

Sepertinya Kami-sama berkata lain,

"Ohh! Hinata-sensei!" sebuah seruan keras berdengung di telinganya, membuat sontak Hinata menghentikan senyumannya dan menoleh kearah sumber suara itu.

'A..aku kenal dengan suara itu? Ja..jangan bilang..' dan seperti sebuah pukulan besar yang mengenai kepalanya.

"Aaa, Sa..Sakura, Karin, Ino," tiga orang gadis aka murid-muridnya tengah berjalan turun dari tangga dan perlahan menghampirinya.

"Ohayo, Sensei~" sapa Ino.

Masih tidak bisa menyembunyikan kekagetannya, "Ke..kenapa kalian bertiga bisa ada di sini?" tanya Hinata cepat.

"Oh, kami? Kuhsina-basan yang meminta kami untuk menginap di sini, semalam pestanya selesai larut sekali. Jadi daripada pulang jauh-jauh takut terjadi apa-apa, Basan melarang kami pulang~" jawab Sakura lancar.

Dan Hinata hanya bisa melongo mendengarnya, "O..oh, begitu.."

Karin sedikit mengernyitkan alisnya saat melihat Senseinya datang pagi-pagi seperti ini kemari, tanpa basa-basi lagi, "Lalu, Sensei pagi-pagi kemari ada apa?" tanya gadis merah itu.

"…"

"…." Hinata terdiam sesaat.

"E..eto, Sensei hanya mengantarkan kue buatan dari Kaasan sensei untuk Kushina-basan. Itu saja!"

"Kue? Kukira Sensei ingin bertemu dengan Naruto?" pertanyaan Sakura hampir saja membuat Hinata tersedak, tapi segera ia tahan.

Berusaha menutupi sikap gugupnya, gadis itu hanya bisa tersenyum kaku, "Ti..tidak, Gomen mengganggu kalian pagi-pagi seperti ini. Kalau begitu Sensei pamit pulang dulu," Hinata ingin secepatnya pulang dari ini, ia tidak ingin berlama-lama.

"Eh~ kenapa cepat-cepat sekali?" tangan Ino tiba-tiba saja menghentikan gerakannya, gadis pirang itu merengutkan alisnya bingung.

"Sensei ada sedikit urusan.."

"Hee~ Sensei, diamlah sebentar lagi. Kebetulan kami bertiga ingin membuat sarapan untuk teman-teman lain di atas."

Teman-teman lain? Itu artinya bukan hanya ketiga gadis ini saja yang menginap di sini?! Gawat!

"Ta..tapi,"

"Kami yakin kalau skill memasak Sensei pasti lebih bagus dari para koki di dapur, jadi hitung-hitung menambah wawasan bantu kami memasak ya, Sensei?" ketiga gadis di depannya sekarang sudah melihat dirinya dengan tatapan memohon. Persis sama seperti sikap Kaasannya tadi.

"E..eng Sensei benar-benar.."

"Onegai, Sensei~"

"…."

"….."

Oke, kenapa kalau melihat sikap memohon di depan matanya. Ia selalu saja kalah, tidak bisa mengelak dan akhir-akhirnya selalu saja..

"Baiklah, tapi Sensei harap setelah memasak selesai. Sensei bisa pulang." gadis itu mengangguk lesu.

"Kyaa! Arigatou Hinata-sensei!" sebuah pelukan segera mereka hadiahkan pada Hinata, dan tak ingin berlama-lama lagi.

Sret, tangan Hinata kini sudah di tarik berjalan menuju dapur, "Kalau begitu ayo kita mulai, akan kuberikan masakan buatanku pada Sasuke-kun!" seru Sakura cepat.

"Eh! Aku yang akan memberikan makanan buatanku!" Karin juga tidak mau kalah, sedangkan Ino hanya bisa menggelengkan kepalanya geli.

.

.

.

.

.

Tubuh Hinata membeku, maniknya terbelalak tak percaya melihat pemandangan di depannya. Tepat saat ia berjalan menuju dapur besar bersama murid-muridnya, tanpa sadar Hinata mendengar suara langkah kaki dari lantai atas, dan saat ia mengadahkan wajahnya ke sumber suara itu. Lidahnya terasa kelu, ingin berkata sesuatu tapi tidak bisa,

Seorang pemuda berambut pirang yang hendak turun dari sana, kini menyita perhatiannya.

Naruto,

Kenapa di saat seperti ini dia malah bertemu dengan pemuda itu?! Kalau saja dia bisa menolak permintaan murid-muridnya tadi mungkin saja sekarang ia sudah kembali ke rumah dan bernapas lega, tapi kini..

Sepertinya pikirannya tadi terlalu simple, tidak selamanya dia bisa menghindar dari Naruto. Kenapa Hinata harus menghindar kalau ternyata dirinya lah yang sebenarnya salah.

"….." kedua orang itu sama-sama terdiam, membuat baik Sakura, Karin maupun Ino mengernyit bingung. Biasanya kalau Naruto melihat Sensei mereka, pemuda pirang itu pasti tidak akan segan-segan lagi berlari atau bahkan berteriak senang melihat Hinata-sensei.

Dan sekarang, kenapa keduanya malah saling berdiam diri? Apa terjadi sesuatu?

Sakura yang tidak terlalu suka dengan suasana suram seperti ini, segera menepuk pelan pundak Senseinya. "Nee, Sensei kenapa diam?"

"….." Hinata masih diam. Maniknya masih terpaku menatap Naruto di sana. Gadis merah muda itu bahkan dapat melihat jelas sorot mata yang terlihat sendu dari Sensei di sampingnya ini.

Ada yang aneh.

"Naruto! Kau juga kenapa malah diam di sana, sapa Hinata-sensei juga dong!" Ino berteriak kecil memanggil Naruto, berpikir bahwa pemuda pirang itu pasti tersentak dan berjalan turun menghampiri Hinata-sensei,

Tapi ternyata,

"Hm, nanti saja." Jawaban yang sangat amat singkat tiba-tiba keluar dari bibir Naruto. Membuat Ino membelalakan matanya tanpa sadar,

"Lho? Kau kenapa Naruto, tumben sekali?"

Seperti tidak mengidahkan perkataan Ino, pemuda pirang itu malah membalikkan tubuhnya dan melenggang pergi kembali ke lantai atas. Aneh bukan?!

"Hee? Kenapa dengannya? Setahuku kemarin dia baik-baik saja, tapi kenapa sekarang jadi dingin seperti itu?" pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari bibir Karin.

Sementara Hinata,

'Sudah kuduga, Naruto pasti marah denganku. Wajar saja,' batin gadis indigo itu sedih, lagi-lagi wajahnya harus tertunduk menahan tangis. Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan murid-muridnya, jadi…

"…"

"Mi..minna, kita jadi membuatkan sarapan untuk mereka kan? Ayo," tanpa aba-aba, Ia berjalan mendahului ketiga gadis yang masih terdiam tidak mengerti di sana menuju dapur, berharap bisa secepatnya pergi dari sini.

"…"

'Sepertinya kondisi Hinata-sensei juga aneh~' batin ketiganya bersamaan, sampai mereka berpandangan satu sama lain. Mencoba memastikan dugaan mereka.

"….."

"Kalian tidak merasa aneh dengan mereka berdua?" bisik Sakura pelan, Ino dan Karin mengangguk setuju.

"Pasti ada sesuatu yang terjadi kemarin dan tidak kita tahu," ucap gadis merah itu mantap.

"Ya, setahuku kemarin sore sikap keduanya masih seperti biasa, dan pagi ini, berubah total."

"….." ketiga gadis itu terdiam sesaat, sampai akhirnya..

"…"

"Lebih baik kita pastikan sendiri," Sakura berbisik kembali,

Dan dijawab anggukan setuju kedua temannya, "Ide bagus,"

OoOoOoOoOoOoOoOoOoO

Dapur~

"Jadi apa yang ingin kalian buat hari ini?" Hinata menanyakan ketiga muridnya cepat, berusaha menghindari tatapan bingung gadis-gadis di depannya ini.

"E..eh! Kalau begitu kita buat bacon salad saja, dan roti panggang keju," Seperti tertangkap basah Sakura segera menyikut siku Ino di sampingnya pelan, mencoba mengirimkan sinyal.

Dan seolah mengerti, "Ah! I…iya, kita juga buat tamagoyaki!" gadis pirang itu tersenyum kikuk dengan telunjuk kanannya yang bergerak entah kemana. Sedangkan Karin hanya bisa mengangguk setuju.

'Bukannya semua itu gampang di buat? Kenapa sampai meminta bantuanku?' batin Hinata heran, secara ia pikir kalau masakan yang ingin di buat murid-muridnya ini pasti sulit dan butuh bantuannya. Tapi ternyata,

Bacon salad, roti panggang, dan tamagoyaki?

"…." Tidak mau memikirkan masalah larut-larut, gadis indigo itu menggeleng pelan, dan tersenyum kecil pada ketiga remaja di depannya.

"Baiklah kalau begitu, kita buat sekarang~" ucap Hinata,

"Oke!"

Manik Lavendernya segera meneliti isi dapur itu, mencari-cari bahan-bahan yang ia perlukan. Sampai tak lama ia melihat sayur-sayuran, dan olive oil tertata rapi di sebuah kulkas besar di sudut ruangan. 'Itu dia,' Ia tebak kalau kulkas besar itu berisi seluruh sayur-sayuran yang berkualitas tinggi dan bahan-bahan masakan lainnya.

Kaya sekali~

"Sensei bagikan tugas kita juga," suara Karin menginterupsi gerakan Hinata, hampir saja gadis itu lupa kalau dia tidak sendirian.

"Ah, Gomenne, kalau begitu Sakura tolong pecahkan telur untuk membuat tamagoyaki, Ino memotong, mencuci sayurannya nanti, dan Karin siapkan roti juga keju. Sensei akan mengurus bumbu, dan mencari bahan untuk Bacon Salad." Jelas Hinata cepat. Ketiga gadis di sana mengangguk semangat.

"Yosh, ayo bekerja!" seru mereka bersamaan, dan dengan cepat melakukan permintaan Hinata.

OoOoOoOoOoOoOoOoOoO

Sudah hampir lima belas menit keempat gadis itu berkutat di dapur, dengan aroma masakan yang mulai menguar dari sana. Mereka sudah membuat tamagoyaki, dan roti panggang dengan lancar, kini yang tersisa hanya satu masakan lagi.

Bacon salad, sebenarnya Hinata sudah selesai meracik bumbu untuk salad itu, tapi tinggal satu bahan makanan lagi yang kurang.

'Kenapa aku tidak menemukan bacon dimana-mana?' pikirnya, heran melihat dapur sebesar ini tapi tidak ada daging tipis itu.

"Sensei, mencari bacon?" perkataan Ino menyentakan pikirannya, langsung saja Hinata mengangguk kecil.

"Iya, dari tadi Sensei mencarinya tapi tidak ada. Apa kita biarkan saja saladnya tanpa bacon?" ujarnya.

"…"

"….."

Gadis itu sedikit mengernyit bingung saat tidak mendengar satu jawaban pun dari murid-muridnya. Dan yang lebih membuatnya semakin bingung, saat baik Sakura, Ino maupun Karin malah saling melirik satu sama lain.

"A..ano? Bagaimana menurut kalian?" Tanyanya ulang.

Sampai…

Entah apa yang merasuki ketiga muridnya itu,

"Tidak bisa!" mereka menggeleng kepala dan berteriak kecil padanya. Sontak saja membuat Hinata kaget, hampir saja gadis itu jantungan.

"Ta..tapi tidak ada bacon di sini,"

"Ada, ada, ada, Sensei tolong carikan di pantry ya! Bukan bacon salad namanya kalau tidak ada daging tipis itu!" seru Sakura cepat.

"Eh? Pantry? Ke..kenapa tidak kalian saja?" Rumah ini sampai punya pantry segala!

"Eng, ki..kita kan bertugas menjaga masakan ini, lagipula bukannya tadi Sensei yang bilang kalau mengurus pencarian bahan-bahannya~"

Hinata melongo kaget mendengar perkataan Karin, memang dia mengatakan itu. Tapi kalau tiba-tiba di suruh pergi ke tempat yang tidak dia tahu!?

"Sensei tidak tahu letak pantrynya dimana, kalian pasti lebih tahu kan?" elaknya lagi.

Tapi sepertinya tidak berhasil, "Dekat dari sini kok, letaknya di taman belakang, di sana ada rumah kecil berwarna putih. Pasti ketemu!"

"E..eh, Sensei benar-benar.." belum sempat ia berbicara.

"Ayo, ayo Sensei, semuanya pasti sudah menunggu masakan kita~" tiba-tiba saja Sakura mendorong punggungnya berjalan menjauh dari dapur. Sampai akhirnya,

"Kami akan menunggu di sini, Sensei~" ketiga gadis itu tersenyum penuh arti pada Hinata,

"…." Dan merasa tidak ada pilihan lain lagi, mau tak mau Hinata harus pergi.

'Mereka itu,'

.

.

.

.

.

Kembali di dapur~

"Hihihi, ternyata pikiran kita memang sehati~" kikik Sakura geli, Karin dan Ino mengangguk setuju.

"Kebetulan yang menguntungkan, bacon di dapur ini habis." Ujar Ino kembali,

"Sekarang yang perlu kita lakukan, Cuma~"

"….."

Tap, tap, tap, suara langkah kaki yang perlahan berjalan ke arah dapur membuat senyuman di wajah ketiga gadis cantik itu mengembang.

"Seperti yang kita kira," bisik mereka bersamaan.

"Hoahm~" sesosok pemuda berambut pirang berjalan memasuki dapur, Ia menguap lebar. Sampai selang beberapa detik mata Saphirenya seperti meneliti ke seluruh ruangan itu. Entah apa yang ia cari~

Yap, Naruto. Pemuda pirang itu langsung berjalan menuju kulkas kecil yang berisikan khusus minuman. Membuka pintu lemari es itu dan berniat mengambil sekotak jus jeruk, tapi…

"Lho?" alisnya mengernyit bingung saat melihat minuman orange itu tidak ada di sana,

"Mencari apa Naruto?" Sakura berjalan mendekati Naruto,

"Kenapa jus jerukku tidak ada? Kalian ada mengambilnya?" tanya pemuda pirang itu cepat.

"Oh, jus jeruk~" Ino tiba-tiba menepuk dahinya pelan, dan langsung tertawa kecil.

"Ahaha, gomenne Naruto. Tadi kami bertiga haus sekali, jadi kami minum semuanya~" ujarnya.

"Kalian menghabiskannya? Hanya bertiga?" tanya Naruto heran.

"Ya, gomen, gomen, kami tidak tahu kalau kau akan mencarinya, minum saja yang lain~" ucap Karin seraya menepuk pundak Naruto.

"Hah~ tidak, aku cari saja di pantry. Jus jeruk itu minuman kesukaanku." Jawaban Naruto membuat ketiga gadis di sana berteriak girang dalam hati.

'Bagus!'

"Ooh~ baiklah,"

"…" tiba-tiba saja Naruto terdiam, Matanya kembali melirik ke seluruh ruangan lagi.

"E..eng, Hi..Hinata-sensei kemana? A..aku hanya menanyakannya saja, bukan karena apa-apa! Jangan berpikir yang aneh-aneh!"

'Tentu saja aneh, Baka!' seru Sakura, Ino, serta Karin bersamaan dalam hati.

"Hinata-sensei sudah pulang dari tadi, katanya dia ada urusan~" jawab Sakura singkat. Gadis itu berbohong. Dan sukses perkataannya membuat raut wajah Naruto meredup walaupun hanya sekilas.

"Ohh," hanya itu yang keluar dari bibirnya. Sampai akhirnya Naruto berbalik pergi menuju pantry. Jus jeruk memang minuman yang tepat ia pilih untuk saat-saat seperti ini.

"Nanti kami akan memanggilmu kalau masakannya sudah selesai!" seru Ino kecil.

"Aaa~"

OoOoOoOOoOooOoO

"….." setelah yakin kalau Naruto sudah menjauh dari dapur.

"Hah, kalian lihat sendiri kan sifat mereka~" desah Karin panjang.

"Ya,"

"Benar-benar tidak pandai menyembunyikan sifat~"

"Kau benar, Sakura, untung saja kita bisa menyembunyikan minuman kesukaan Naruto di sana~" ucap Ino seraya menunjuk bawah meja.

Hah, mereka berbohong lagi.

"Sekarang tinggal rencana terakhir, kalian bawa benda itu kan?" tanya Karin cepat.

"Ya, aku sudah memintanya pada Kushina-basan untuk jaga-jaga~"

"Bagus, ayo~"

.

.

.

.

Kembali pada Hinata~

"Um, pasti ini tempatnya," Hinata bergumam kecil saat melihat sebuah rumah kecil berwarna putih di depannya. Ternyata memang tidak susah mencarinya,

"Lebih baik aku masuk, dan segera mengambil bahan yang tersisa." Ujarnya kembali, dan dengan langkah cepat ia segera berjalan masuk ke dalam rumah itu. Tanpa tahu apa yang terjadi dengannya nanti~

OoOoOoOoOoOOoOoO

"Hah, jadi dia sudah pulang~" desah Naruto panjang, menatap malas rumah kecil di depannya.

"….."

'Tunggu dulu, bukannya aku masih marah dengan Nee-chan, tidak, tidak, aku tidak boleh memikirkannya terus menerus!' batin pemuda pirang itu cepat. Dan segera masuk ke dalam rumah itu (juga)

OoOoOoOoOoOoOoOoO

Dan entah seperti dejavu, lagi-lagi kedua orang itu harus bertemu, tepat seperti saat di butik empat hari lalu.

"Wah, lengkap sekali bahan-bahannya~" Hinata terpekik kecil saat melihat deretan bahan makanan terjejer rapi dan lengkap. Tak ayal senyumannya pun mengembang,

"Dimana mereka menaruh baconnya?" tanyanya pada diri sendiri. Berjalan menuju lemari es di depannya. Mencari daging tipis itu, sampai..

"…"

"Ah, itu dia!" akhirnya manik Lavendernya menangkap bahan yang ia cari-cari, tidak ingin berlama-lama lagi, tangan gadis itu segera mengambil daging beku dari sana.

"Ah, Kuso!"

DEG! Jantung Hinata mencelos tanpa sadar saat mendengar ada suara lain di tempat itu, suara yang sangat familiar di telinganya. Bahkan sekarang ia bisa mendengar suara langkah kaki yang perlahan berjalan memasuki pantry, jantungnya berdetak tak karuan.

Tangannya membeku seketika.

'Kami-sama, aku kenal sekali dengan suara ini!' pekiknya dalam hati.

"Kenapa jus jeruknya harus habis segala!" suara itu kembali terdengar.

'I..itu, Na..Naruto?!'

Ya, suara Namikaze Naruto kini sudah ada di sana, berdengung terus di telinganya. Dan entah apa yang merasukinya, tanpa ia sadari tubuhnya bergerak sendiri. Berbalik tepat saat,

"Arggh, pokoknya aku harus berhenti memikirkan.." ucapan Naruto seketika terhenti, langkahnya pun mau tak mau membuatnya membeku.

Mata Saphirenya melihat jelas, sekarang di depannya entah mimpi atau tidak. Seorang gadis berambut indigo panjang kini sudah berdiri di sana, menatapnya dengan wajah terkejut, seorang gadis yang sempat membuat perasaannya kacau balau.

"…."

"…."

"…."

Keduanya sama-sama saling terdiam, masih berusaha memastikan penglihatan mereka, sampai…

"…"

"Hinata.."

"Naruto?"

Dan tepat saat mereka saling berbicara,

Ckleck, suara pintu tertutup segera menginterupsi keduanya. "Pintunya!" Sukses membuat mereka terkejut dan segera berlari menuju pintu.

Brak, brak, brak!

"Oi! Siapa yang menutup pintunya!" seru Naruto keras seraya memukul pintu itu.

"….." sedangkan Hinata hanya bisa terdiam takut.

"….." tidak ada jawaban dari luar sana.

"Oi! Jangan bercanda! Buka pintunya!" seru Naruto kembali,

"Ba..bagaimana ini!"

Baik Naruto dan Hinata benar-benar tidak tahu, kalau sekarang senyuman kecil mengembang dari wajah Sakura, Ino dan juga Karin. Siapa yang tahu kalau rencana kilat mereka akan berjalan selancar ini,

Ketiganya saling berpandang satu sama lain, sampai akhirnya tertawa geli, "Jangan salahkan kami, kalau membuat kalian seperti ini. Nanti pasti kami buka kok~" bisik Sakura pelan,

"Kau benar~" ujar Karin dan Ino bersamaan.

"Oi! Buka pintunya!"

"To..tolong buka pintunya!"

Yap, it's time for you two. Talk to each other, Right?

TO BE CONTINUED~


A/N :

Banzaaii! Akhirnya UAS mushi selesai juga! TVT, satu masalah terselesaikan. Langsung buat fic pelepas stresss! XD Maaf beribu maaf karena sudah buat kalian menunggu lama, huaa tapi Mushi bener-bener nggak ada waktu buat fic saat UAS,

Nah, mungkin di chap ini romance NaruHinanya belum kerasa, karena Naruto masih marah sama Hinata kan~ dan entah kenapa mushi nggak suka buat mereka marahan lama-lama, jadi mungkin di chap depan udah baikan lagi, ehehehe 3/

Tapi konfliknya belum selesai sampai di sana lho~, #sok misterius# Buat yang menanyakan ending, sudah pasti NaruHina, kan sudah Mushi cantumkan pairnya di atas. Jadi tidak usah khawatir, always happy ending kok XD

Jadi tunggu chap depan yaa, Mushi kasi spoilernya dikit deh~ #digampar#

OoOoOoOoOoO

Next chap :

"Ini kukembalikan ikat rambutmu, Hinata-sensei."

"E..eh?"

"Tidak ada gunanya aku membawa milik orang yang tidak mungkin menyukaiku terus menerus."

"Gomen Naruto, gomen, aku tidak bermaksud seperti itu, hiks, hiks, hiks,"

Sebuah tangan tiba-tiba memeluknya erat. Merengkuhnya dalam kehangatan, membuat tubuhnya terdiam kaget.

"Jangan menolak ciumanku ini, Hinata."

"Gaara-kun, untuk beberapa hari ke depan aku ingin berangkat sendiri saja."

"Kau yakin?"

"Jadi warna apa yang kau pilih?"

Yak, stoooppp, sampai di sana dulu. Kira-kira siapa yang cium Hinata ya? Gaara atau Naruto? Nyahaha kita liat aja nanti XD

OoOoOoOooOoO

*Bacoon : lemak daging yang di iris tipis sekali, warnanya garis merah putih. (cari di mbah google :D)

*Pantry : Tempat menyimpan cadangan atau bahan-bahan makanan, (seperti di master chef itu lho~ pasti tahu #plak# XD)

Dan berhubung ficnya udah lebih dari 6K, Jadi Mushi nggak ingin manjang-manjangin lagi. Buat yang sudah me review, mem fav, dan mem follow Arigatou buat dukungannya! Gomen Mushi nggak bisa tulis satu persatu, di chap depan akan Mushi usahakan. Tanpa Kalian fic ini tidak akan berjalan sampai sejauh ini, nyahaha XD

Untuk akhir Kata, Mushi nggak akan capek-capek bilang~

SILAKAN RIVIEW~ \^0^/\^V^7

JAA~