Because Of Love
.
.
Main cast :
Cho Kyuhyun.
Lee Sungmin.
Choi Siwon.
Kim Kibum.
.
Author : ChominJoy
Rate : T
Genre : Romance, Hurt/comfort.
Warning : Typo(s) dimana-mana, gaje, abal-abal, absurd, enggak sesuai EYD.
Disclaimer : Kyuhyun milik Sungmin, Sungmin milik Kyuhyun, mereka milik Joyers!
Ff ini murni buatan saya. Don't bash my fic! Don't like don't read! No plagiat, okay!
Summary : Bahagia, hanya itu saja yang Sungmin mau, bahagia bersama orang yang ia cintai. Apa itu begitu sulit untuk mendapatkannya? "Aku hanya ingin bahagia bersamamu, Cho Kyuhyun.."
.
Chapter 10
.
Yeoja manis itu tampak diam. Walau nyatanya sesekali ia memberikan senyuman kepada teman-temannya yang kini sudah mau menyapanya. Sungmin diam bukan melamun memikirkan masalah kemarin-kemarin. Hanya saja ia merasa canggung jika nanti ia bertemu dengan namja tampan itu.
Tapi namja tampan itu belum juga datang. Ah, iya! Kemarin siang saat dirinya menjenguk Kyuhyun, Kyuhyun tak ada disana. Won bilang Kyuhyun sudah pulang. Sempat merasa khawatir, tapi setelah mendengar kata Won, Sungmin bisa bernafas lega. Ia hanya takut Kyuhyun melakukan tindakan yang lebih gila dari kemarin.
Kemarin, Sungmin ingin sekali menjenguk ke rumah kyuhyun. Tapi ia tak tahu rumah Kyuhyun. Belum lagi rumah Kyuhyun yang orang bilang sangat besar dan banyak dijaga oleh pengawal. Ah, rasanya tak pantas dirinya untuk menginjakkan kaki disana. Ia hanya orang biasa, mana bisa ia diizinkan masuk.
Sungmin menggigit bibir bawahnya. Jika nanti ia bertemu Kyuhyun, ia harus bagaimana? Haruskah ia bilang 'Ayo Kyu! Kita mulai dari awal!' Ah.. itu terdengar sangat tak pantas jika harus yeoja dulu yang mengucapkannya.
'Aku memaafkanmu Kyu..' mungkin itu yang akan Sungmin ucapkan nanti pada Kyuhyun. Tapi bahkan bel masuk akan berbunyi sebentar lagi dan Kyuhyun belum juga menampakkan batang hidungnya.
'Apa dia tidak sekolah?'
Dan benar saja, bel masuk berbunyi dan otomatis gerbang sekolah sudah ditutup. Benar, Kyuhyun tidak masuk sekolah.
Sungmin menghembuskan nafasnya. Bangku di depannya lagi-lagi kosong. Ah.. padahal ia sudah mempersiapkan sambutan hangat untuk Kyuhyun karena ia ingin kembali. Tapi sepertinya Kyuhyun juga sedang mempersiapkan dirinya untuk membahagiakan dirinya. Kkk~ itu sangat manis jika dibayangkan.
Tak hayal Sungmin tersenyum sendiri. Bagaimana jadinya jika dirinya dan Kyuhyun nanti.. menikah? Oh astaga! Bahkan Sungmin tak sadar telah berpikir sejauh itu. Kkk~ memalukan. Tapi.. beruntungnya dirinya bisa menjalin hubungan dengan namja tampan yang nyatanya juga dikagumi para yeoja-yeoja di sekolah. Hahaha.. kasihan mereka, Kyuhyun lebih memilih dirinya. Kyuhyun juga..
Kasihan Kyuhyun memilih dirinya yang bahkan tak punya apa-apa dibanding semua yeoja yang mengejarnya..
'Aku hanya orang biasa..'
Sungmin murung. Senyumnya luntur menjadi garis lurus yang datar. Kini Sungmin jadi berpikir dua kali untuk tetap bersama Kyuhyun. Dirinya ini hanya siswi biasa yang bahkan bisa dibilang kurang mampu, sedangkan Kyuhyun.. dia adalah namja tampan yang terlahir dari keluarga berada. Kyuhyun memang bersikap biasa saja walaupun dia hidup ditemani banyak harta, hanya saja yang Sungmin pikirkan kali ini..
Eomma dan Appa Kyuhyun pasti tak menyukainya..
.
.
Dua pria berpakaian serba hitam itu terus mengikuti langkah Tuan mudanya yang tampak sangat tergesa-gesa. Walau nyatanya kedua pengawal itu terlihat gagah, tapi diam-diam mereka sedang khawatir. Mereka khawatir dengan Tuan dan Nyonya Cho disana. Mereka baru tahu saat tiba-tiba Tuan mudanya menyuruhnya untuk mengawal dirinya pergi ke Amerika untuk melihat kedua orangtuanya yang sekarang sedang koma. Hal itu sangat membuat kedua pengawal itu terkejut.
Mereka sudah sampai di Amerika sejak 3 jam yang lalu. Dan sekarang Kyuhyun sedang berjalan terburu-buru di lorong rumah sakit. Mencoba mencari ruangan dimana Eomma dan Appanya dirawat.
Kyuhyun sedikit menyipitkan matanya. Ia melihat di ujung sana terdapat tiga pengawal yang berdiri tegak di depan pintu ruangan. Dan Kyuhyun yakin, itu pasti ruangan Eomma dan Appanya.
Jantung Kyuhyun berdetak dengan cepat. Sungguh, ia sangat-sangat khawatir dengan orangtuanya. Air mata sudah menumpuk di mata tajamnya, tapi ia tetap memasang wajah tegasnya. Tak mau ada seorang pun yang menatapnya dengan tatapan prihatin.
Kyuhyun berlari dan langsung memasuki ruangan itu. Air matanya tak bisa tertahan lagi membuat tetes demi tetes air mata jatuh membasahi pipinya. Kyuhyun berjalan tertatih-tatih menatap seorang wanita paruh baya cantik yang tengah terbaring lemah di ranjang putih itu. Peralatan medis yang banyak menempel pada tubuh wanita itu benar-benar membuat hati Kyuhyun semakin sakit. Tak tega rasanya melihat kondisi sang ibu.
"Eomma.." lirih Kyuhyun. Suaranya benar-benar terdengar pilu.
"K-Kyu.."
Kyuhyun tersentak kaget saat perlahan wanita paruh baya itu menoleh menatapnya dan mengucapkan namanya. Kyuhyun semakin terisak. Sungguh ia sangat bersyukur ternyata Eommanya sudah sadar.
"Eomma.. bagaimana bisa jadi seperti ini?" tanya Kyuhyun di tengah tangisannya.
Luka kecil yang belum mengering dan luka-luka parah yang dibalut perban putih yang menghiasi kulit putih Eommanya benar-benar membuat sang Eomma terlihat semakin memprihatinkan.
"Eomma baik-baik saja Kyu.."
Kyuhyun menggenggam tangan Nyonya Cho. Wanita paruh baya itu mencoba membalasnya walau genggaman pada tangan putranya sangat terasa lemas.
"Kenapa kau disini?" tanya Nyonya Cho membuat Kyuhyun semakin menangis. Apa-apaan Eommanya ini!
"Mengapa Eomma bertanya seperti itu! Kyu kesini untuk Eomma dan Appa.. hiks.. hiks.."
"Anak Eomma sudah dewasa," ujar Nyonya Cho bangga membuat Kyuhyun mencoba tersenyum.
Tapi senyum Kyuhyun tak bertahan lama, ia langsung menatap sang Eomma. "Dimana Appa?"
Nyonya Cho tersenyum, tapi Kyuhyun bahkan tahu itu bukan senyum yang seharusnya ia lihat.
"Eomma jawab!"
"Eomma.. dimana Appa?"
"Eom-"
"Appamu pergi, Kyu.." jawab Nyonya Cho akhirnya.
Kyuhyun menggeleng. "Aku bertanya Appa dimana, Eomma!" sentak Kyuhyun. "Katakan Appa dimana! Hiks.. hikss.."
"Appa ada di surga sekarang.."
"EOMMA!"
"Kyu.. kau-"
"Aku kesini untuk Eomma dan Appa! Bukan untuk mendengar berita gila itu!" bentak Kyuhyun sambil terisak-isak. Sungguh, namja Cho itu terlihat sangat kacau.
"Kau tak boleh seperti itu, Kyu.." lirih Nyonya Cho sambil mencoba mengelus tangan sang putra. "Kita harus menerimanya. Siap atau tidak, semua ini pasti akan terjadi.."
Kyuhyun menerjang memeluk sang ibu. Menangis kencang disana hingga baju rawat yang dikenakan sang ibu menjadi basah. Nyonya Cho hanya bisa mengelus punggung putra semata wayangnya itu.
Dirinya pun sedih. Mengingat ia selalu bersama dengan suami tegasnya itu. Bahkan ia sadar ia terlalu banyak menghabisi waktu bersama dengan suaminya daripada bersama putranya. Sekarang ia sendiri, bersama dengan Kyuhyun, sang anak. Mungkin ini hikmahnya, tuhan memberinya kesempatan untuk lebih sering menghabisi waktu bersama dengan putranya.
"Eomma.. hiks.. hiks.. bahkan aku belum siap, Eomma.."
.
.
"Ayo! Biar aku mengantarmu!"
"Kau seharusnya bersama Kibum, bukan aku."
"Kibum sudah pulang. Ayolah, adik manis.." bual Siwon sambil merangkul bahu Sungmin.
"Baiklah.." Sungmin menyerah.
Siwon pun membukakan pintu mobil untuk Sungmin, Sungmin memasuki mobil sahabatnya itu diikuti Siwon. Siwon menyalakan mesin mobilnya dan mulai menjalankannya.
Di dalam mobil, Sungmin tampak diam, hal itu membuat Siwon merasa sedikit kurang nyaman. Tak seperti biasanya sahabatnya bersikap seperti ini. Memang dulu Sungmin pendiam, tapi bukankah akhir-akhir ini Sungmin menjadi banyak bicara? Lalu kenapa tiba-tiba seperti ini?
"Ada apa?" tanya Siwon memecahkan keheningan.
Siwon melirik Sungmin yang menggeleng. Siwon hanya menghela nafasnya dan kembali fokus menyetir.
'Sedang apa dia?' batin Sungmin bertanya.
Sungmin pun membuka tasnya dan mengeluarkan ponselnya. Mengetik sesuatu kepada nomor yang dulu sering menghubunginya. Kirim. Hanya tinggal menunggu balasannya. Sungmin kembali diam menatapi layar ponsel gelapnya.
"Memikirkan Kyuhyun?" tanya Siwon membuat Sungmin langsung menoleh.
"Huh?"
"Mau menjenguknya?"
Sungmin kembali menatap lurus ke depan dan menggeleng. "Dia sudah pulang.."
"Sudah pulang? Sejak kapan?"
"Kemarin.."
Siwon mengangguk kecil. "Tapi kenapa dia tidak sekolah?"
"Aku tidak tahu.."
Sungmin menyalakan ponselnya lagi. Pesannya untuk Kyuhyun belum juga dibalas. Tadi ia mengetik pesan pada Kyuhyun untuk bertanya apa kabarnya, seharusnya Kyuhyun sudah membalasnya, mengingat dia sangat mencintai dirinya. Apakah disana Kyuhyun senang karena mendapat pesan darinya? Seharusnya iya, dan langsung membalas.
Sungmin pun memutuskan untuk mengirim pesan lagi melalui Line. Setelah selesai Sungmin mematikan kembali ponselnya dan menatapi panjangnya jalanan.
"Lapar?" tanya Siwon.
Sungmin hanya menggeleng dan kembali menyalakan ponselnya. Benar-benar tak ada balasan. Sungmin membuka Line dan melihat pesan yang baru saja ia kirim. Sungmin mengerjab. Disana ada tulisan 'dibaca', tapi dibawah pesan yang ia kirim sama sekali tak ada pesan yang ia terima. Apa? Kyuhyun hanya membacanya?
Sungmin pun mengetik kembali.
Mengapa tadi kau tidak sekolah? Kau sudah pulang 'kan?
Send.
"Kenapa kau terlihat khawatir?" tanya Siwon tiba-tiba.
Sungmin menoleh dan mencoba tersenyum. Senyum yang dipaksakan. "Aku terlihat seperti itu ya?"
"Min.. ada apa?"
"Tak ada.."
Siwon lagi-lagi hanya menghela nafasnya. Benar, Sungmin benar-benar berbeda. Dia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu tapi dia juga terlihat sedang khawatir. Siwon tahu pasti ini bersangkutan dengan Kyuhyun, atau bahkan memang masalahnya dengan Kyuhyun.
Sedang Sungmin, ia mengerutkan dahinya saat lagi-lagi pesannya hanya dibaca. Ini benar-benar aneh. Tapi Sungmin tak peduli, ia tetap mengirim pesan lagi.
Kenapa tak membalas? Kau ada dimana? Jawab aku
Lagi dan lagi. Sungmin melihat hanya tulisan 'dibaca' di samping pesannya. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang ia lewati hingga Kyuhyun yang kemarin sangat memperhatikannya walau dirinya menjauhinya tiba-tiba menjadi seperti ini. Mengapa keadaan sekarang menjadi terbalik? Dirinya yang menghawatirkan Kyuhyun dan sekarang Kyuhyun yang tak merespon dirinya.
Sungmin terus mengirimkan pesan pada Kyuhyun walau hasilnya tetap sama. Sungmin tak habis pikir, apa yang terjadi pada Kyuhyun sekarang? Kenapa dia seakan-akan menjauhinya? Bukankah dia ingin dirinya kembali padanya?
Sungmin memejamkan matanya sesaat dan kembali melihat pesannya yang tak terbalas. Yeoja manis itu menunduk, kini dadanya terasa sakit. Entah kenapa? Ia tadinya sangat khawatir pada Kyuhyun, tapi sekarang ia merasa takut. Takut jika Kyuhyun meninggalkannya.
"Sungmin?"
Sungmin mendongak, lagi-lagi mencoba tersenyum. Apa Sungmin pikir Siwon tak tahu kalau ia hanya mencoba membuat dirinya terlihat tidak apa-apa? Nyatanya Siwon tahu itu.
"Apa yang-"
"Siwon-ah.." Sungmin menatap Siwon. Siwon sedikit kaget melihat mata Sungmin yang berkaca-kaca. "Kenapa dia tak membalas pesanku?"
"Min.. kenapa kau men-"
"Kenapa?"
Siwon benar-benar tak tahu harus bagaimana. Ia pun meminggirkan mobilnya di pinggir jalan. Siwon menatap Sungmin lagi, dan benar ia tak salah lihat. Mata Sungmin berkaca-kaca.
"Aku mengirimnya banyak pesan, tapi dia hanya membacanya.."
"Siapa? Kyuhyun?"
Sungmin mengangguk lemah. Ia menunduk membuat Siwon semakin bingung. Mata Sungmin berkaca-kaca hanya karena 'dia' tak membalas pesannya? Kyuhyun. Sungmin seperti ini karena Kyuhyun.
"Telfon saja!" saran Siwon.
Sungmin pun menuruti ucapan Siwon. Sungmin menunggu Kyuhyun mengangkat telfonnya tapi Kyuhyun tak mengangkatnya. Sungmin pun memutuskan hubungan telfonnya.
"Tak diangkat.."
"Telfon lagi!"
Sungmin mengangguk lemas. Ia kembali menelfon Kyuhyun. Cukup lama menunggu, akhirnya Kyuhyun mengangkat telfonnya. Lega rasanya.
"K-Kyu.." panggil Sungmin. Ia masih merasa canggung.
Kyuhyun diam tak menjawab panggilan Sungmin di seberang sana.
"Kyu.. ada apa denganmu?" Sungmin menahan tangisnya. "Kenapa tak menjawab pesanku? Hiks.. kau ada dimana? Hiks.. hiks.. kenapa tak membalas! Aku khawatir! Hiks.. hiks.. hiks.."
Sungmin tak bisa membendung air matanya. Tangisan yang semula ia tahan, kini pecah. Menangis pilu dengan kencang hingga membuat dirinya tersendak-sendak. Siwon hanya bisa memperhatikan Sungmin, Sungmin benar-benar mencintai Kyuhyun hingga dirinya seperti ini.
Sedang di seberang sana. Kyuhyun menitikkan air matanya, tak percaya pada apa yang ia dengar tadi. Sungmin menangis karena khawatir padanya. Ia kira Sungmin benar-benar pergi dan tak mau memaafkannya. Tapi untuk saat ini, Kyuhyun tak bisa merasa bahagia.
"Kyu.. kau dengar aku? Hiks.. hiks.. kau dimana? Hiks.. hiks.."
Lagi-lagi Kyuhyun diam. Ia memejamkan matanya, berharap jika yang terjadi sekarang adalah kejadian yang indah, bukan menyakitkan seperti ini. Memang, ini harapannya dulu, tapi harapan ini tak berjalan dengan sempurna. Saat dirinya masih mempunyai orang yang disayang, kekasihnya malah pergi. Sekarang, saat kekasihnya kembali, mengapa orang yang ia sayang malah pergi? Ini terasa sama.
"Kau dimana Kyu?" suara serak Sungmin kembali terdengar.
'Pip'
Sungmin diam. Air mata jatuh lagi membasahi pipinya. Mendengar suara putusnya sambungan telfon antara dirinya dan Kyuhyun benar-benar membuat Sungmin tak tahu harus apa. Apa yang bisa ia lakukan? Sementara Kyuhyun sendiri seperti ini padanya.
Sungmin menurunkan ponselnya lemas. Siwon tampak bingung melihat Sungmin terisak diam. Sungmin menutup wajahnya dengan telapak tangannya, menutupi raut kesedihan yang tergambar pada wajahnya, meredam suara tangis pilunya.
"Dia menutup telfonnya?" tanya Siwon. Bahkan suara Siwon yang dibuat lembut tetap membuat Sungmin menangis, bahkan tangisnya semakin keras.
Siwon pun mengambil ponselnya dari dalam saku. Mencari nomor kontak orang yang Sungmin telfon tadi dan segera memanggil nomor itu. Siwon terus menunggu Kyuhyun mengangkat telfonnya. Tapi akhirnya, Kyuhyun mau mengangkat panggilan darinya.
"Kau ada dimana!" sambar Siwon membentak.
Sungmin sedikit menoleh. Ia kira Siwon membentak dirinya, tapi ternyata ia sedang menelfon. Tapi.. apa itu Kyuhyun? Apa Siwon menelfon Kyuhyun?
"Yaa! Jawab aku bodoh!"
Di seberang sana, Kyuhyun tampak diam, menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Air mata yang membasahi pipinya sudah ia hapus. Ia menahan isakannya, ia tak mau orang yang ia anggap seperti musuh itu mendengar tangisannya, Kyuhyun tak mau Siwon berpikir rendah tentang dirinya.
"Cho! Jawab!"
"Aku.."
Siwon menggerutu saat mendengar samar-samar suara Kyuhyun. Tapi, ada yang berbeda dengannya? Mengapa suara namja Cho itu terdengar sangat sendu?
"Ada apa denganmu?" tanya Siwon.
Tak ada suara yang Siwon dengar dari ponselnya, tapi Siwon yakin Kyuhyun masih disana dan mendengarkan apa yang ia ucapkan tadi.
"Kau-"
"Jaga Sungmin.."
Siwon diam, mencoba mengoreksi kembali apa yang ia dengar tadi. Siwon menoleh melihat Sungmin yang masih menangis. Kyuhyun? Menyuruh dirinya? Menjaga orang yang nyatanya Kyuhyun cintai? Ini membingungkan.
"Apa yang kau ucapkan!"
"Aku tidak ada disana untuknya.. dia juga pergi meninggalkanku 'kan? Ini yang ia mau. Aku pergi.."
"Apa yang terjadi padamu bodoh!" sentak Siwon benar-benar terbakar emosi karena mendengar ucapan ambigu Kyuhyun.
"Katakan maaf padanya.."
'Pip'
Siwon menatap layar ponselnya dengan emosi. Dengan kesal ia memasukan kembali ponselnya ke dalam saku setelah itu ia menjalankan kembali mobil hitamnya dengan kecepatan diatas batas normal membuat yeoja manis di sampingnya menghentikan tangisannya.
"Akan kubunuh kau jika kau macam-macam!"
Sungmin mengerjab cemas dan takut. Perkataan Siwon terdengar seperti benar-benar ancaman untuknya walau nyatanya Siwon hanya terbawa emosi hingga bisa mengatakan hal itu. Sungmin juga merasa risih dengan cara Siwon mengendarai mobilnya. Sungmin semakin ingin menangis, tapi ia tahu tak ada gunanya juga ia menangis di saat seperti ini. Sungmin takut Siwon akan semakin marah jika dirinya menangis.
"Hiks.. kita mau kemana?"
"Kekasih bodohmu itu!"
.
.
Siwon membuka pintu mobilnya dan segera turun, lalu menutup kembali pintu mobilnya dengan keras membuat Sungmin yang masih berada di dalam tersentak takut. Siwon berjalan emosi ke arah gerbang mansion keluarga Cho.
"T-tuan muda Choi.." seorang pengawal yang berjaga di luar mendatangi Siwon dan membungkuk hormat pada namja jangkung itu. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Dimana Kyuhyun!"
"Tuan muda Cho pergi ke Amerika, Nyonya dan Tuan Cho sedang koma disana. Tuan muda bilang, ia akan tinggal disana dan merawat Nyonya dan Tuan Cho."
Siwon membelalakan matanya tak percaya. "Amerika! Tinggal disana!"
"Ne, Tuan."
Tanpa sadar Siwon mengepalkan tangannya hingga buku-buku tangannya memutih. Rasa emosi yang ia rasa semakin terbakar dengan besar dalam dirinya. Tak menyangka pada Kyuhyun yang pergi tanpa memberitahu Sungmin, orang yang ia bilang sangat dicintainya itu. Sedangkan disini, Sungmin begitu menghawatirkannya, mencoba menghubungi dan menanyakan kabarnya dan parahnya Kyuhyun sama sekali tidak bicara. Benar-benar tidak bertanggung jawab!
Untuk apa namja Cho itu memohon-mohon pada yeoja manis itu untuk kembali padanya, untuk memaafkannya, tapi jika nyatanya ia pergi, meninggalkan orang yang ia mohon-mohon itu. Siwon paham, Siwon mengerti Kyuhyun pergi karena apa. Disana, di tempat yang entah hanya ia kunjungi saja atau benar-benar akan menjadi tempat tinggalnya itu ada orang yang lebih ia cintai daripada Sungmin dan sekarang keadaan mereka sedang tidak baik. Tapi setidaknya, Kyuhyun mengabarkan dirinya pada Sungmin yang begitu mencemaskannya. Bukan meninggalkannya tanpa penjelasan.
Siwon pun pergi memasuki mobilnya kembali dengan geram. Sungmin yang memang hanya di dalam mobil sedikit penasaran mengapa Siwon semakin terlihat sangat marah. Yeoja manis itu menghapus air matanya dan menatap Siwon.
"Dimana Kyuhyun?" tanyanya membuat dirinya sendiri ingin menangis kembali. Kalimat yang ia ucapkan tadi serasa mengiris hatinya sendiri. Menyakitkan.
Siwon menoleh ke arah Sungmin dan menghela nafasnya. "Dia akan kembali.."
Sungmin mengerjab. "Kyuhyun ada dimana?" tanyanya lagi sedikit kesal karena jawaban Siwon tidak tepat dengan pertanyaan yang ia berikan padanya.
"Hiks.. Kyuhyun dimana!" sentak Sungmin karena Siwon hanya menatapnya. Diam tak menjawab apa yang ia ucapkan.
Sungmin pun kembali menangis. Siwon merentangkan kedua tangannya dan memeluk tubuh sahabat manisnya itu. Sungguh, ini juga sangat menyedihkan untuk Siwon. Ia hanya merasa benar-benar prihatin dengan Sungmin. Sejak dulu, dirinya memang sangat tak suka jika ada orang lain yang berani membuat Sungmin seperti ini.
Tangisan Sungmin semakin menjadi-jadi dalam pelukan Siwon. Siwon mengelus-elus rambut panjang Sungmin, mencoba membuat sahabatnya itu tenang.
"Kau tak perlu khawatir Min, Kyuhyun akan pulang kembali. Aku janji, percayalah padaku, dia hanya pergi sementara.."
.
.
Namja tampan itu menangis dalam diamnya. Menundukan kepalanya agar tak ada yang melihatnya menangis. Ini terlalu berat untuknya, bahkan ia tak tahu apa dirinya bisa menjalani hidupnya tanpa sosok itu. Tapi ini yang sosok itu mau, dia ingin melupakan dirinya bukan? Dan sekarang akan semakin mudah dia melakukannya.
Dirinya pergi juga karena sosok itu pergi. "Berjanjilah kau tak akan pergi saat aku tidur Min..". Benar bukan, sosok itu malah pergi saat dirinya tidur. Yang ia maksud sebenarnya bukan itu, ia hanya ingin tahu apa Sungmin benar-benar ingin kembali padanya. Sungmin benar kembali padanya jika saja ia tetap menunggu dirinya, tapi nyatanya?
"Mianhae.."
"Kyu.. kau kenapa?" sahut seseorang dengan suara seraknya.
Kyuhyun mendongakkan wajahnya, menatap wajah Eommanya yang masih pucat. Untuk kali ini, Kyuhyun tak bisa berbohong untuk bisa tersenyum. Semua yang terjadi membuat senyumannya hilang.
"Kau sudah melihat Appa?" tanya Nyonya Cho membuat Kyuhyun merasakan sakit lagi di hulu hatinya.
Kyuhyun hanya mengangguk lemah. Ingat saat dirinya melihat tubuh sang Appa terbaring lemah tanpa nyawa, wajahnya yang pucat, kuku-kuku jarinya yang sudah memutih, menandakan bahwa yang Eommanya bilang benar. Appanya pergi.
Saat itu Kyuhyun tak bisa apa-apa selain memeluk tubuh dingin sang Appa dan menangis keras disana. Ingin menganggap bahwa ini hanyalah lelucon, tapi tidak masuk akal. Lelucan yang menyakitkan, sangat menyakitkan.
Entahlah, apa dirinya dan Eommanya bisa hidup dengan bahagia tanpa seorang pria tangguh itu. Kyuhyun sangat merasa kecewa dengan dirinya sendiri, ia bisa apa untuk Appanya dulu? Ini semua terlalu cepat. Bahkan ia belum bisa membuat Appanya bahagia. Tak terlintas dalam benak Kyuhyun, dirinya bisa kehilangan pria tangguh itu dengan cepat. Hh.. kita benar-benar tak bisa tahu sedikitpun, karena itu takdir.
"Sebaiknya kita cepat kembali ke Korea. Appamu harus dimakamkan.." ujar Nyonya Cho membuat Kyuhyun sadar.
"Tak bisakah Appa dimakamkan disini saja?"
"Kenapa kau berfikir seperti itu?"
"Kyu tidak bisa kembali, Eomma." Kyuhyun menunduk menahan sakit yang ia rasa.
"Tapi Appa harus dimakamkan disana. Jika memang kau tidak mau tinggal di Korea, kita bisa kembali dan tinggal disini." jelas Nyonya Cho membuat Kyuhyun diam memikirkan apa yang Eommanya katakan.
"Kau ada masalah?" tanya Nyonya Cho membuat namja tampan itu terlihat kebingungan. Bingung untuk menjawab pertanyaan Eommanya.
"Eomma harus cepat sehat agar bisa ikut pemakaman Appa!" ujar Kyuhyun akhirnya mengalihkan pembicaraan.
"Sekarang Eomma harus makan dan setelah itu minum obat." sambung Kyuhyun sembari mengambil semangkuk bubur di meja nakas di samping ranjang.
"Kau sudah punya yeojachingu, Kyu?"
"Huh?"
.
.
Beralih pada Sungmin. Yeoja manis itu sedari tadi hanya diam, menatap langit-langit kamarnya. Bekas air mata masih terlihat jelas di sekitar mata dan pipinya.
"Kyuhyun pergi ke Amerika untuk merawat orangtuanya dan tinggal disana.."
Ucapan sahabatnya kembali terngiang di kepalanya. Masih tak percaya jika orang yang ia cintai pergi meninggalkannya. Padahal baru saja mereka akan kembali seperti dulu, tapi kenapa akhirnya dia pergi?
"Dan tinggal disana.."
Sebulir cairan bening kembali jatuh dari foxy indahnya. Isakan kecil terdengar dari bibir shape M-nya, isakan kecil itu kini terdengar semakin keras. Ingin mencoba tak mengingat kata-kata itu tapi yang ada kata itu terus teringat dalam pikirannya, ingin tak percaya tapi nyatanya memang seperti ini. Menyulitkan. Sangat menyulitkan.
Apa yang tak menyulitkan jika kau dan dia akan kembali bersatu tapi dia tiba-tiba pergi meninggalkanmu tanpa alasan, bahkan hanya untuk alasan kecil pun tidak ada, bagaimana rasanya? Dan kau benar-benar tidak tahu harus bagaimana karena kau tak punya siapa-siapa lagi selain dia.
"Kyu.."
Sungmin Pov.
Aku benar-benar tak tahu harus apa. Lagi-lagi aku hanya bisa diam, diam meratapi alur hidupku yang sulit, sulit hingga aku berfikir tak ada ujung yg bahagia dalam alur ini. Aku tak tahu harus apa selain memikirkanmu, memikirkanmu yang telah jauh.
Kenapa kau malah pergi Kyu? Bahkan kau pergi meninggalkanku sendiri disini, meninggalkanku dan tak kembali lagi. Kenapa Kyu? Bukankah kau menginginkan kita kembali? Lalu untuk apa kau memintaku tapi kau pergi disaat aku ingin memintamu juga. Apa ini hanya sebuah lelucon yang kau buat?
Lulucon apa Kyu? Memangnya ini lucu? Ini sangat menyakitkan, kau tahu. Kau bilang aku hanya perlu percaya padamu, dan aku melakukannya Kyu, tapi kau seperti ini lagi. Aku tak tahu apakah aku yang salah, atau memang kau yang lagi-lagi mempermainkanku.
Salahkah jika aku berharap dapat bersamamu? Karena aku tak tahu harus kemana, Kyu. Kau yang membuatku pertama kalinya jatuh hati dan kau juga yang membuatku pertama kalinya merasakan patah hati, bahkan kau kini menjadi yang pertama di hatiku. Aku tak bisa menyalahkanmu walau nyatanya kau selalu menghianatiku. Aku tak bisa Kyu..
Aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri. Aku menyalahkan diriku sendiri yang begitu diam saat kau memberi harapan yang palsu padaku, aku menyalahkan diriku sendiri karena aku telah bodoh menerimamu, aku menyalahkan diriku sendiri karena aku hanya bisa diam dan menangis disaat kau menghianatiku. Aku selalu menyalahkan diriku sendiri, Kyu..
Aku hanya bisa marah padamu tapi tak bisa menyalahkanmu. Aku hanya bisa menangis tapi tak bisa melawanmu. Aku hanya bisa kecewa tapi tak bisa membencimu. Apa ini tidak adil?
Won Oppa benar, aku hanya bisa memikirkan diriku sendiri. Aku disini menyedihkan, selalu itu yang kupikirkan, tapi nyatanya ada banyak orang yang lebih menyedihkan dari padaku. Apa aku egois? Apa aku egois karena hanya memikirkan diriku sendiri yang harus mendapatkan kebahagiaan?
Tapi nyatanya aku tak bisa mendapatkan kebahagian itu, apalagi dengan kau yang pergi meninggalkanku. Aku sadar kau pergi karena kau kecewa padaku. Iya aku salah Kyu, andai saja saat itu aku memaafkanmu, pasti aku dan kau sekarang sedang bercanda tawa bersama. Dengar, bahkan itulah mimpiku sekarang, bercanda tawa denganmu.
Kau sedang apa disana? Aku tidak tahu.
Kau baik-baik saja? Aku tidak tahu.
Kau sudah makan? Aku tidak tahu.
Kau masih mencintaiku? Aku pun tak tahu itu.
Jika aku mempunyai mimpi untuk bercanda tawa denganmu, aku juga punya keinginan.
Aku ingin kau kembali..
Sungmin Pov End.
.
.
Hari ini hari libur, tapi kota Seoul tetap ramai dengan orang-orang yang berlalu-lalang berangkat kerja. Merasa menganggur, yeoja manis itu pun memutuskan untuk pergi ke suatu tempat.
Sungmin pun keluar dari rumahnya dan tak lupa untuk mengunci pintu. Ia kemudian berjalan menuju halte. Setelah sampai di halte dan menunggu beberapa menit akhirnya bus datang dan Sungmin pun memasuki bus itu.
Panti asuhan. Ya, itu tempat yang akan Sungmin tuju sekarang. Entahlah, ia merasa rindu dengan anak-anak disana, terutama namja kecil yang begitu mirip dengannya. Lagi pula Sungmin merasa terlalu kesepian jika terus memikirkan masalahnya dengan sosok tampan itu. Mungkin ia akan mendapatkan sedikit hiburan dari anak-anak manis disana.
Selang beberapa menit, bus pun berhenti. Sungmin turun dari bus itu dan kembali melanjutkan perjalanannya untuk ke tempat tinggalnya saat ia kecil dulu itu. Sungmin tersenyum pahit saat melewati beberapa pasangan. Mereka terlihat senang dan bahagia.
Terbesit rasa iri pada mereka. Sungmin akui itu. Apa ia bisa seperti mereka? Hh.. lagi dan lagi Sungmin terus berpikiran seperti itu. Itu karena dirinya benar-benar menginginkannya.
Mengingat wajah tampan itu Sungmin kembali merenung dalam diamnya. Sudah dua hari ia tak melihatnya, dan entah sampai kapan dirinya tak bisa bertemu Kyuhyun. Sungguh, ia sangat rindu pada namja itu. Besar harapan Sungmin untuk bisa bertemu dengannya, sangat besar hingga harapan itu malah menyakiti hatinya.
'Tak bisakah kita bertemu, Kyu? Walau hanya sebentar..'
Sungmin menunduk dan mengambil nafasnya untuk mencoba tegar. Sungmin kembali mendongak dan melihat bangunan yang tak begitu besar yang di kelilingi banyak anak kecil.
Sungmin tersenyum melihat tingkah mereka. Mereka juga terlihat sangat bahagia. Hh.. sudahlah, yang ada dirinya terus sedih jika terus memikirkan hal itu.
"Sungminnie Noona!" teriak seorang anak kecil yang sangat dikenalnya. Suara nyaring yang memanggil benar-benar lucu.
Sungmin tersenyum saat Sandeul berlari kearahnya dan langsung memeluknya.
"Noona! Bogoshipo.."
"Nado.."
"Noona kesini sendiri? Dimana namjachingu Noona?" tanya Sandeul setelah melepaskan pelukannya dengan Sungmin. Sungmin diam saat mendengar pertanyaan Sandeul.
'Benar, kau dimana Kyu?'
"Ah, sudahlah ayo kita masuk!" Sandeul menarik tangan Sungmin untuk memasuki panti asuhan itu.
"Dimana yeojachingumu?" tanya Sungmin.
Sandeul berhenti dan menatap Sungmin, karena tinggi badannya yang kecil dari Sungmin, Sandeul harus mendongak tinggi. Sandeul menghela nafasnya dan menatap Sungmin dengan kesal.
"Dia selalu seperti itu."
"Apanya yang seperti itu?" tanya Sungmin bingung.
"Dia selalu marah. Tsk! Wanita.. mereka merepotkan!" gerutu Sandeul sambil kembali berjalan menarik Sungmin.
Sungmin mendengus. "Aku juga wanita!"
Sandeul kembali berhenti dan menatap Sungmin kikuk. "Ehehe.. Mian.."
Mereka pun kembali berjalan memasuki salah satu ruangan bangunan panti asuhan itu. Sungmin duduk di salah satu kursi yang ada disana. Sandeul duduk di depan Sungmin dan berteriak pada seseorang. Lantas orang yang ia teriaki mendekatinya.
Yeoja paruh baya itu tersenyum pada Sungmin lalu menduduki dirinya di samping yeoja manis yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri itu. Wanita paruh baya itu memeluk Sungmin sebentar dan menatapnya.
"Ada apa dengan dirimu?" tanyanya ambigu.
Sungmin mengernyit. "Aku?"
"Ne, kau terlihat murung?"
Sungmin diam lalu menunduk. Hal itu membuat makin merasa heran. Sandeul, si namja kecil imut itu juga terlihat bingung. Dari awal memang Sungmin terlihat berbeda dari biasanya jika bertemu dengannya.
"Noona kenapa?" tanya Sandeul membuat Sungmin mendongak dan tersenyum. Senyum yang dipaksakan.
"Aku baik-baik saja.."
Wanita yang bermarga Park itu hanya bisa menghela nafasnya. Ia tahu ada sesuatu yang terjadi pada Sungmin, tapi sepertinya Sungmin tak bisa memberitahunya. Biarlah, mungkin dia merasa lebih baik menyimpannya sendiri ketimbang menceritakannya pada orang lain.
"Ah ya.. Tunggu sebentar!" Park Ahjumma beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Sungmin dan Sandeul.
Tak lama, ia kembali membawa sebuah amplop. Sungmin yang melihat akan hal itu menjadi merasa tak enak. Ia tahu apa yang wanita itu bawa, apa isi amplop itu, dan amplop itu pasti diberikan untuknya.
"Ini Min.. ini untuk biaya keseharianmu. Jika kurang, kau bilang saja eoh.."
Sungmin menghela nafasnya. "Ne, terimakasih Ahjumma.." Sungmin mengambil amplop putih itu.
Ingin Sungmin menolak, tapi ia yakin Park Ahjumma tak akan menerima penolakannya. Mengingat hal ini juga sudah sering didapatkannya semenjak tinggal sendiri di rumah kecil itu. Asal kalian tahu, rumah itu juga pemberian Park Ahjumma untuknya.
Dulu saat Sungmin masih kecil dan tinggal di panti asuhan ini, Park Ahjumma tinggal bersama suaminya di rumah kecil yang Sungmin tinggali kini. Ia memang tak punya anak karena dirinya mandul. Selang beberapa tahun, suami Park Ahjumma meninggal dan ia tinggal sendiri di rumah itu. Akhirnya ia mengajak Sungmin untuk tinggal bersamanya. Ia merawat dan menyekolahkan Sungmin.
Beberapa tahun kemudian, Sungmin kecil berubah menjadi seorang yeoja remaja yang manis dan cantik. Karena keinginannya untuk tinggal di panti asuhan semenjak dulu, ia pun pergi tinggal di panti asuhan ini. Lagi pula, pemilik bangunan panti asuhan ini sengaja membuat tempat tinggal di samping panti asuhan untuk ditempati dirinya. Akhirnya Sungmin pun tinggal sendiri di rumah kecil milik Park Ahjumma dulu.
Sebenarnya Park Ahjumma ingin sekali tetap tinggal bersama Sungmin, tapi ia benar-benar ingin tinggal di panti asuhan ini, ia ingin lebih jelas memperhatikan perkembangan anak-anak panti asuhan ini karena dirinya yang amat sangat menyayangi mereka.
Tak lepas dari tanggung jawabnya, wanita paruh baya itu terus memberikan biaya untuk kehidupan Sungmin, entah itu sebulan sekali atau sebulan lebih, tergantung jika dirinya mempunyai cukup uang. Untung Sungmin mengerti, yeoja manis itu selalu menabung dan tak mencoba untuk tak membeli hal yang neko, jadi jika Park Ahjumma tidak bisa memberinya uang, ia akan memakai uang yang ia tabung, yang Park Ahjumma beri padanya.
Begitulah yang sebenarnya. Sungmin merasa bersyukur, setidaknya ia bisa merasakan bagaimana perhatiannya Park Ahjumma pada dirinya, merasakan bagaimana rasanya mempunyai seorang Eomma.
"Rajinlah menabung eoh.." wanita itu membelai rambut Sungmin.
Sungmin mengangguk sambil tersenyum. Sebenarnya ia benar-benar merasa tak enak hati pada Park Ahjumma karena dia selalu memberinya uang. Bahkan Sungmin tahu, gaji Park Ahjumma bekerja di panti asuhan ini kurang cukup jika harus dibagi dua dengan dirinya.
'Aku sudah dewasa sekarang, apa tak sebaiknya aku kerja paruh waktu?'
.
.
Sungmin berjalan sambil melamun. Ia tengah berpikir dengan apa yang ia pikirkan semenjak di panti asuhan tadi. Benar, ia seharusnya bekerja untuk menghasilkan uang sendiri agar tak membebani Park Ahjumma.
Sebelumnya Sungmin belum pernah bekerja paruh waktu, mengingat dirinya yang dulu sangat pendiam dan tak bersosial. Tapi mungkin kini waktunya, sebentar lagi ia akan lulus sekolah. Ia pun punya keinginan untuk melanjutkan pendidikannya, dan hal itu membutuhkan banyak biaya. Jadi, keputusan Sungmin sudah bulat.
Ia akan mencoba bekerja paruh waktu!
'Mungkin akan lebih baik lagi jika aku mencari pekerjaan sekarang..'
Sungmin pun berjalan menyusuri kota Seoul. Ia berhenti sejenak di setiap toko. Ya mungkin saja mereka membutuhkan seorang pekerja. Sangat sulit ternyata. Ada toko yang membutuhkan pekerja tapi mereka tak menerima Sungmin karena dirinya masih sekolah, ada toko yang membutuhkan pekerja tapi pekerjaan yang dilakukan untuk seorang yeoja remaja sepertinya sangat berat.
'Hhh.. ini menyulitkan!'
Sudah beberapa toko yang Sungmin kunjungi tapi tak ada satupun yang ia dapat untuk bisa bekerja disana. Sungmin mendengus frustasi. Kakinya terus melangkah sedangkan matanya terus menatap jeli pada pintu masuk setiap toko yang ia lewati.
Mata Sungmin memicing, berusaha memperjelas penglihatannya. Sebuah senyuman terukir manis di bibirnya. Ia pun melangkah mendekat pada toko itu. Ah, lebih tepatnya kedai. Sebuah kedai yang lumayan besar dan cukup banyak pengunjung.
Sungmin berhenti di depan pintu kedai itu. Ia membaca sebuah kertas yang menempel pada pintu kaca kedai itu. Setelah ia benar-benar sudah selesai membacanya, ia pun memasuki kedai itu.
Sungmin berjalan mendekati meja kasir yang ada di dalam kedai itu lalu sedikit bertanya pada seorang yeoja yang menjaga disana. Setelah menunggu yeoja itu untuk memanggil seseorang, akhirnya orang yang dipanggil yeoja itu datang.
"Annyeonghaseyo.." Sungmin membungkuk hormat pada seorang namja paruh baya di hadapannya. "Apa benar disini sedang membutuhkan seorang pekerja?" tanya Sungmin sopan.
"Ne benar."
"Umm.. apa aku boleh bekerja disini? Sejak tadi aku mencari-cari toko yang membutuhkan pekerja tapi sama sekali tak ada yang menerimaku. Bolehkah aku bekerja disini? Apapun akan aku lakukan asal aku bisa bekerja dan mendapatkan gaji.." ucap Sungmin panjang lebar membuat namja paruh baya itu tertegun.
"Berapa umurmu?" tanyanya.
"Aku 18 tahun. Aku memang masih sekolah, tapi kumohon Ahjussi.. terima aku.." mohon Sungmin.
Pria tua itu tampak berpikir sebentar. Kedai miliknya ini memang ramai pengunjung, tapi pekerja yang bekerja disini hanya satu orang yangvmenjadi kasir dan dua pelayan, juga dua orang yang bekerja di dapur. Ia memang butuh pekerja lagi. Belum lagi mendengar permohonan yeoja manis di hadapannya ini.
"Baiklah, kau bisa mulai bekerja menjadi pelayan besok!"
"Benarkah Ahjussi?" Sungmin tersenyum senang. Pria itu mengangguk. "Kamsahamnida Ahjussi! Terimakasih banyak.." Sugmin menundukkan tubuhnya beberapa kali dengan senang.
.
.
Senyum manis masih melekat pada bibir shape M-nya. Kini, yeoja manis itu tengah berjalan untuk pulang. Hari sudah siang dan dirinya pun benar-benar lelah setelah mencari-cari pekerjaan untuknya.
Sungmin terus berjalan. Tapi tiba-tiba dadanya berdetak cepat, darahnya mengalir dengan deras, dirinya tercekat pada obyek yang ada disana. Sungmin berhenti melangkah. Nafasnya seakan habis saat matanya melihat sosok itu.
Sungmin mengerjab tak percaya. Sosok itu tengah membantu seorang wanita paruh baya yang memakai kursi roda untuk memasuki mobil. Sosok itu menganakan kemeja hitam yang sangat cocok dipadukan dengan kulit pucatnya.
Sungmin benar-benar syok sekaligus tak percaya. Sosok itu ada disini! Orang yang ia cintai, orang yang mencintainya, orang yang akhir-akhir ini membuat dirinya kacau karena berita ia pergi. Tapi ia ada disini!
"Kyuhyun.."
.
.
To be countinue..
Chap 10 datang..
Mueee... ini udh hari ke berapa tnpa Sungmin. Tpi gk apalah, mungkin ini lebih baik. Min oppa, hwaiting! #WeWillMissUSungmin
Hayooo.. itu beneran Kyuhyun? Atau cuma halusinasi Sungmin? Apa yooo...
Okey, aku mau bahas review!
Banyak bnget yang bilang stop penyiksaan Kyumin dan cpet satuin Kyumin. Aduh.. gimana yah, aku juga pngen sih, gk tega juga disaat ketik pas scenenya ada yg tersakiti, bahkan akhir-akhir ini chapnya selalu sedih, iya gak?
Tapi ya mau gimana? Klo langsung nyatuin Kyumin, yang ada cpet endnya dan aku punya sasaran end di chap 16/17. Tapi gk lama lagi aku bkal buat Kyumin bersatu kok, tenang aja ne ^^
Makanya terus pantengin ff abal ini ne kkk~
So.. review kalian adek tunggu (kkk~ berhubung aku writer yg lebih muda dri pada readersnya) ^_^
Tinggalin jejak kalian yh..
Mmuuuuaachhhh saranghae all..
