Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

High School DxD © Ichiei Ishibumi

.

.

.

Pairing:

Naruto x Koneko x Rias

Closer

By Hikasya

Rabu, 9 Desember 2015

.

.

.

Chapter 10: Cinta

.

.

.

Chapter sebelumnya:

Lucy menjerit sekencang-kencangnya. Memekakkan telinga orang-orang yang berada di dekatnya. Mereka semuanya sangat panik dan cemas karena telah terjadi bahaya lagi. Kali ini penculikan. Penculikan pertama kali di Sora Academy.

Setelah ini, apa yang akan terjadi selanjutnya?

.

.

.

BRAK!

Naruto dan Rias sangat kaget ketika muncul seseorang yang menggebrak meja dengan keras. Seseorang yang berada di dekat meja di mana mereka duduk berhadapan. Padahal mereka baru saja akan mulai makan siang bersama.

Karena tindakan seseorang yang menggebrak meja tersebut, mengundang perhatian orang-orang yang berada di dalam restoran tersebut. Semuanya menonton adegan yang mulai memanas saat seorang laki-laki berambut coklat sewarna dengan matanya, menatap tajam ke arah Naruto. Naruto dan Rias sangat mengenali.

"Eh? Issei-san?!" tukas Rias ternganga lebar. Sementara Naruto berwajah tenang saat menatap ke arah Issei.

SET!

Issei menunjuk ke arah wajah Naruto dengan tampangnya yang garang.

"KAU!" Issei berkata dengan keras."BERANI-BERANINYA KAU MENGAJAK RIAS-SENPAI BERKENCAN DENGANMU! KAU MASIH SAJA BERANI MENDEKATINYA, PADAHAL AKU SUDAH BILANG PADAMU, KAN? JANGAN DEKATI, RIAS-SENPAI! DASAR, OTAK UDANG!"

Suara Issei sungguh menggelegar di tempat itu. Semua orang menjadi tegang dibuatnya. Sehingga acara makan siang para pengunjung di sana terganggu oleh Issei yang sedang berdiri di dekat meja, tepatnya di tengah ruangan restoran.

Naruto sendiri tetap bersikap tenang saat dibentak oleh Issei. Justru Rias yang marah karena Issei telah berlaku kasar pada Naruto. Dia juga menggebrak meja dengan keras. Dia bangkit berdiri dari duduknya.

"HENTIKAN, ISSEI-SAN!" bentak Rias lebih keras dari suara Issei.

Laki-laki berambut coklat itu, melirik ke arah Rias. Ia menurunkan telunjuknya.

"Ta-Tapi, Rias-senpai. Menma itu sudah membuatmu berpaling dariku. Aku tidak suka kamu berdekatan dengan cowok yang tidak jelas seperti dia."

"Kamu tidak mempunyai hak untuk melarangku untuk berdekatan dengan siapapun, Issei-san. Kamu bukan siapa-siapanya aku. Jadi, berhentilah menggangguku ataupun mengejarku seperti ini."

"Tapi, aku suka padamu, Rias-senpai."

"Aku pun juga tidak suka padamu. Tapi, aku menyukai orang lain. Kamu paham, kan?"

Rias mengatakannya dengan tegas. Issei pun terdiam sebentar dengan muka yang kusut. Dia terperanjat karena Rias sudah menolak cintanya sekali lagi. Padahal sudah beberapa kali, dia menyatakan cintanya pada Rias. Tapi, Rias tetap saja menolaknya.

Sungguh penolakan kali ini sangat membuat hati Issei begitu sakit. Apalagi Rias menolaknya karena ada Naruto di sini.

"Rias-senpai ... Kamu menolakku hanya karena ada si bocah rambut kuning ini, kan? Aku tahu siapa orang yang kamu sukai itu."

Seketika emosi Issei naik secara cepat. Wajahnya menjadi sangat garang. Dia pun melayangkan tinjunya dengan cepat ke arah Naruto sekarang juga.

WHUUUUSH!

Tiba-tiba muncul seseorang yang menahan serangan tinju Issei itu, dengan satu tangannya.

DAP!

Issei kaget setengah mati karena tangannya ditahan oleh seseorang itu. Terlebih bagi Naruto dan Rias.

Suasana semakin tegang saat kemunculan seorang laki-laki berambut raven yang menghalangi usaha Issei untuk menghajar Naruto. Laki-laki berambut raven hitam dan bermata hitam kelam. Dia adalah ...

"Uchiha Sasuke ...," kata Naruto yang ternganga dengan dua mata membulat sempurna.

Ya, Sasuke. Teman satu kelompok Naruto pada saat menjalani misi sebagai ninja, hanya di sekitar desa Konoha saja. Ia dan Naruto beserta Sakura masuk ke dalam kelompok tujuh yang dibimbing langsung oleh Hatake Kakashi, setelah lulus dari sekolah ninja.

Di desa Konoha, sekolah ninja dijadikan sebagai sekolah sampingan setelah di luar sekolah umum. Di sana juga terdapat satu sekolah umum setingkat SD, SMP dan SMA. Hal tersebut sudah dibangun sejak awal Minato diangkat menjadi Hokage keempat. Jadi, desa Konoha semakin berkembang pesat ketika sang Hokage keempat yang memimpin. Bahkan sampai teknologi canggih pun turut masuk ke dalam desa tersebut sehingga para warga desanya tidak ketinggalan zaman seperti desa-desa lainnya.

Inilah dunia yang sangat aneh. Desa ninja berbaur dengan kota-kota besar dan kota-kota kecil. Hal ini terjadi suatu sebab yang tidak diketahui, sehingga para manusia di muka bumi terpecah belah menjadi bermacam-macam ras seiring perkembangan zaman yang semakin modern. Perang besar juga pernah terjadi di dunia ini, tiba-tiba saja saat para manusia bermacam-macam ras muncul di dunia ini. Entah apa yang terjadi.

Sekarang, dunia sudah aman dan damai sejak sekolah langit didirikan yaitu Sora Academy. Sekolah yang mempersatukan semua ras di dalamnya, tanpa membedakan antara satu sama lainnya agar tidak terjadi peperangan besar lagi. Inilah satu-satunya jalan untuk perdamaian dunia yang sudah berjalan sejak 30 tahun yang lalu.

Para generasi muda sekarang yang telah merasakan hasilnya. Maka semuanya bisa merasakan perdamaian dunia yang sesungguhnya. Inilah harapan terbesar bagi semuanya.

Beralih pada adegan Naruto yang ternganga dengan kehadiran Sasuke yang tiba-tiba. Terlihat Sasuke menatap Issei dengan pandangan yang sangat datar.

"Hentikan! Jangan sakiti temanku!" sahut Sasuke dengan nada yang sangat datar.

Otomatis beberapa gadis muda yang berada di restoran tersebut, memasang wajah yang kemerahan dan sangat antusias melihat aksi keren laki-laki tampan seperti Sasuke. Kedua mata para gadis membentuk tanda hati.

"KYAAA! KERENNYA!"

"COWOK ITU BENAR-BENAR KEREN!"

"AKU JADI GEMES!"

"WUAAAAH, AKU PENGEN BERKENALAN SAMA DIA!"

Begitulah komentar-komentar para fansgirl dadakan si Sasuke yang sangat berisik di ruangan restoran tersebut. Membuat Naruto pun tercengang melihatnya.

'Wheh? Bahkan di sini pun si Teme mendapatkan para penggemar yang baru. Hebat juga daya pikat ketampanan wajah si Teme ini. Huh, rasanya jadi sangat menyebalkan,' batin Naruto yang sewot di dalam hatinya.

Lantas Issei menatap tajam ke arah Sasuke.

"Hei, kau siapa hah?" tanya Issei dengan kasar.

"Namaku Uchiha Sasuke," jawab Sasuke yang langsung mempelintirkan tangan kanan Issei yang ditahannya itu."Sebaiknya kau pergi dari sini. Jangan buat keributan atau kau akan habis sekarang juga!"

"Awwww, Ukh ...," Issei mengadu kesakitan saat tangannya dipelintir oleh Sasuke. Ia mendelik ke arah Sasuke.

Tanpa disangka, Issei melayangkan tendangannya ke arah Sasuke. Sasuke menyadarinya.

DUAAAK!

Sebuah tendangan mengenai bagian belakang kepala Issei. Sehingga membuat Issei terkapar dan pingsan begitu saja di lantai.

BRAAAK!

Semua orang pun kaget lagi dengan kejutan serangan diam-diam ini. Terlebih bagi Sasuke, Naruto dan Rias.

Rupanya pelaku yang sudah menendang Issei adalah laki-laki berambut hitam diikat satu. Dia mirip sekali dengan Sasuke. Dia adalah Uchiha Itachi.

Spontan, Naruto dan Sasuke kaget lagi dibuatnya. Kedua mata mereka terbelalak keluar.

"ITACHI-NII/ANIKI!" seru Naruto dan Sasuke bersamaan.

Sampai membuat Naruto bangkit dari duduknya karena mengetahui Itachi juga ada di restoran ini. Bersamaan juga muncul para anggota Akatsuki lainnya. Membuat Naruto semakin kaget dan panik.

'Aduuuh, kenapa semuanya ada di sini?' batin Naruto sekali lagi disertai sweatdrop di kepalanya.

Kemudian, Sasuke bertanya pada Itachi. Ia menajamkan matanya ke arah Itachi.

"Aniki ... Sedang apa kau di sini?"

Itachi menoleh ke arah Sasuke.

"Kebetulan saja, aku datang ke sini buat makan siang bersama para anggota Akatsuki lainnya," jawab Itachi dengan nada yang tenang.

"Itu betul, bocah. Kami mau beristirahat di sini sejenak karena seharian ini kami berjalan-jalan mengelilingi desa Sora ini. Kami sudah capek berjalan kaki bersama-sama," lanjut pria bermata hiu yaitu Kisame.

"Huh, panasnya un. Ayo, kita minum yang dingin-dingin, un!" cetus laki-laki berambut kuning yang bernama Deidara. Dia ikut berdiri di belakang Kisame.

Sementara sang ketua Akatsuki yang bernama Pain itu, datang menghampiri Itachi dan yang lainnya. Naruto dan Rias pun bengong memperhatikan mereka semuanya.

Semua pengunjung di restoran itu tidak jadi makan, malah asyik menonton pertunjukan drama antara Naruto dan murid-murid Sora Academy. Naruto dan teman-temannya menjadi pusat perhatian tontonan menarik di restoran tersebut.

"Hm ...," Sasuke menyipitkan kedua matanya. Ada yang sedang ia pikirkan sebentar.

Lalu pandangan Itachi menyudut ke arah Naruto. Naruto tersentak.

"Eh, ka-kamu, kan? Kamu adalah ..."

Belum sempat Itachi meneruskan kata-katanya. Naruto langsung berlari dan kabur begitu saja dari tempat itu. Meninggalkan Rias yang terbengong-bengong melihatnya. Rias terperanjat karena Naruto malah meninggalkannya.

"MENMA-SAN!" panggil Rias keras sekali sambil mengambil barang bawaannya yang terletak di atas meja. Lalu mengejar Naruto yang sudah keluar dari restoran itu.

Tapi, terlambat. Naruto sudah menghilang di antara keramaian yang memadati jalan desa sehingga Rias kehilangan jejaknya. Gadis berambut merah itu terpojok di antara keramaian orang-orang yang lalu lalang. Wajahnya tersiratkan kekecewaan yang mendalam. Hatinya lesu karena Naruto malah pergi meninggalkan dirinya di sini. Tanpa menarik tangannya ataupun mengajaknya pergi. Naruto tidak terlalu mempedulikannya. Ia baru menyadari hal itu.

"Menma ... Dia pergi meninggalkan aku ... Kamu tega sekali, Menma ...," gumam Rias yang menundukkan kepalanya. Ia terkulai lemas sambil berdiri terpaku di tengah jalan yang dipenuhi orang-orang.

Galau. Galau sendiri. Seakan-akan Rias diterangi lampu sorot putih di tengah kegelapan. Hening. Sunyi. Begitulah keadaannya.

Sementara, Sasuke dan para anggota Akatsuki yang ditinggalkan Naruto begitu saja. Menatap kepergian Naruto dan Rias dengan terpaku. Terlebih oleh Itachi dan Sasuke sendiri.

"Yang tadi itu ... Bukannya temanmu yang bernama Namikaze Naruto itu? Apa itu benar, Otouto-san?" tanya Itachi sambil melirik ke arah Sasuke.

"Hn, aku tidak menyangka si Dobe itu sekolah di sini juga. Padahal aku mendengar dari Ayahnya kalau dia sekolah di tempat lain. Tapi, kenyataannya dia sekolah di tempat yang sama dengan kita," jawab Sasuke tanpa menoleh ke arah kakaknya.

"Oh, begitu. Apa ada misi rahasia untuknya di sini?"

"Entahlah, mungkin saja."

"Hm ... Aku mengerti."

Lalu Sasuke melihat ke arah kakaknya. Itachi tersenyum simpul.

"Huh, aku pergi dulu," ucap Sasuke tiba-tiba melangkah begitu. Membuang mukanya dengan dengusan napas yang pelan.

Itachi dan kelompoknya pun dilewati begitu saja oleh Sasuke. Kedua tangan Sasuke dimasukkan ke dalam saku celananya. Semua orang di restoran itu, masih memperhatikan mereka dengan bengong.

TAP! TAP! TAP!

Sasuke pun keluar meninggalkan restoran itu. Itachi menatap kepergian adiknya dengan wajah yang sangat datar.

'Ternyata ... Dia masih membenciku,' batin Itachi yang merasa sedih di dalam hatinya sekarang.

.

.

.

Di sisi lain, tak jauh dari Sora Academy, seseorang membawa seorang gadis berambut putih dengan gaya bridal style. Seseorang yang tak lain adalah gadis berambut kuning, dikenal dengan nama Lucy. Ia mendarat di atas batang pohon dengan kilatan kuning. Mendadak muncul seperti hantu begitu. Apalagi gadis berambut putih yang digendongnya itu, terheran-heran dengan aksi Lucy palsu ini. Ia bertanya-tanya siapakah orang yang telah membawanya kabur dari gedung asrama?

Tentu saja, setelah itu Lucy palsu menampakkan wujudnya yang sebenarnya. Dengan kepulan asap, Lucy palsu itu berubah wujud sambil menggendong Koneko ala bridal style.

POOOF!

Kedua mata Koneko membulat sempurna ketika mengetahui siapa yang berada di depan matanya. Dia adalah seorang laki-laki berambut pirang jabrik. Bermata biru. Ada tiga guratan di dua pipinya. Kulit yang berwarna coklat. Mengenakan jaket jingga yang melapisi kaos putihnya. Bawahannya adalah celana jeans hitam. Sepatu kets berwarna jingga membungkus kedua kakinya. Dia adalah ...

"NARUTO!" seru Koneko sekeras mungkin. Dia kaget dan sekagetnya. Tapi, bukankah Naruto pergi dengan Rias ke pusat desa Sora? Lalu kalau orang yang menyamar menjadi Lucy palsu itu adalah Naruto, berarti Naruto yang pergi bersama Rias tadi adalah ...

Jadi, apa yang terjadi sebenarnya? Koneko benar-benar bingung.

Sekarang dua insan yang berlainan jenis itu, sedang menatap karena terpaku. Apalagi Naruto masih berdiri di atas batang pohon, menampilkan senyum terbaiknya untuk gadis nekomata itu. Membuat rona merah tipis hinggap di dua pipi Koneko sekarang.

"Kaget ya kalau aku membawamu ke sini?" kata Naruto dengan nada yang lembut.

Koneko pun menjawabnya dengan terbata-bata.

"I-Iya, aku kaget. Ka-kalau kamu ada di sini, jadi yang pergi sama Rias-senpai tadi ..."

"Oh, itu. Naruto yang pergi sama Rias-senpai adalah kloning diriku. Aku yang asli mengawasimu dari jauh. Jadi, kloningku yang menemanimu membuat prakarya kelompok di perpustakaan tadi. Kloning artinya sama dengan kembaran diriku yang kubuat dari jurus ninjaku. Apa kamu mengerti, Koneko-san?"

Koneko pun terpana mendengarnya. Ia mengangguk pelan.

"I-Iya, aku mengerti."

"Bagus ...," Naruto tetap tersenyum sambil memandangi Koneko dengan lama sekali."Berarti kamu tidak suka kalau aku pergi dengan Rias-senpai. Kamu cemburu dan tidak suka jika aku berdekatan dengan gadis lain. Karena kamu suka padaku. Apa itu benar, Koneko-san?"

Koneko membulatkan kedua matanya sekali lagi. Ia kaget. Rona merah tipis hinggap di dua pipinya lagi.

"A-APA? JA-JADI ..."

"Ya, aku sudah mendengar semuanya saat menyamar menjadi Lucy, aku sudah mendengar semua isi hatimu itu. Aku tidak menyangkanya sama sekali. Aku sungguh tidak mengira kalau gadis kasar sepertimu, bisa jatuh cinta padaku. Jadi, katakan sekali lagi kalau kamu menyukaiku sekarang, Koneko-san."

Wajah Koneko memerah padam saat mendengar semua perkataan Naruto. Apalagi Naruto terus tersenyum padanya. Membuat jantung Koneko berdegub kencang. Ia masih berdiam diri dalam gendongan Naruto.

'Ternyata Naruto sudah mengetahui isi hatiku yang sebenarnya. Ia sudah tahu saat ia menyamar menjadi Lucy. Aduh, apa yang harus kulakukan sekarang? Aku malu. Naruto sudah tahu kalau aku menyukainya,' batin Koneko yang sangat panik.

Koneko bungkam. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Justru Naruto menginginkannya untuk mengatakan cinta. Jadi, apa ia harus bilang kalau dia menyukai Naruto sekarang? Koneko benar-benar kaku untuk mengatakannya.

Naruto menunggu berharap Koneko mengatakan suka padanya. Tapi, Koneko kelihatan membeku begitu. Tetap memandang wajah Naruto tanpa berkedip. Wajahnya semakin memerah seiring telinga dan ekor kucing menjelma pada dirinya.

Ya, Koneko berubah lagi menjadi gadis bertelinga kucing karena merasakan jantung yang berdetak dengan kencang. Naruto terus tersenyum padanya. Masih menggendong dirinya dalam posisi bridal style.

"Kenapa diam? Kamu tidak mengatakan kalau kamu menyukai aku," kata Naruto dengan pandangan yang lembut."Hm ... Apa kamu menunggu aku yang mengatakan cinta padamu? Baiklah, jika kamu mau aku begitu, aku akan mengatakannya sekarang padamu. Apalagi kamu sudah mengeluarkan telinga kucingmu lagi. Hehehe ..."

Tawa Naruto merekah. Koneko tersentak dan langsung memegang telinganya. Dapat dirasakan Koneko sekarang, telinganya berbulu halus. Telinga kucingnya keluar lagi. Itu tandanya ia sedang mengalami debaran yang sangat memuncak. Naluri liar kucingnya mulai muncul pada dirinya.

"Eh ... Uhm ... I-Ini ...," Koneko gugup setengah mati. Wajahnya semakin merah saja.

Naruto menyengir lebar. Ia semakin mendekapkan Koneko di gendongannya. Kepalanya menunduk sedikit untuk menatap kedua mata Koneko lebih dalam.

"Jadi ... Kamu mau mendengarnya, Koneko-san?"

Koneko menatap kedua mata Naruto lekat-lekat. Kedua mata biru yang sangat indah dan teduh. Suara Naruto begitu lembut membuat perasaannya melayang-layang. Sungguh, wajah Naruto begitu manis jika dipandang lebih dekat. Mulutnya terkunci rapat. Ia benar-benar terpesona.

"Aku ... Aku menyukaimu, Koneko-san. Aku akui kalau aku jatuh cinta padamu sekarang," lanjut Naruto dengan nada yang lebih lembut.

Hati Koneko bergetar setelah mendengarnya. Ia memandang Naruto tidak percaya.

"Be-Benarkah? Ka-kamu jatuh cinta padaku, Naruto?"

"Ya."

Kepala Naruto mengangguk cepat. Ia tersenyum. Koneko terpana melihat senyuman laki-laki ninja itu. Sekali lagi.

SET!

Tangan Koneko bergerak untuk memegang pipi Naruto. Mengelus pipi Naruto dengan pelan.

'Ternyata ini bukan mimpi. Ini nyata. Di depan mataku, memang Naruto. Aku tidak menyangka kalau Naruto juga menyukaiku,' batin Koneko lagi.

Senang. Senangnya bukan main. Bahagia. Bahagia sekali. Koneko tersenyum sambil memegang dua pipi Naruto. Lalu ...

Terjadilah peristiwa yang tidak disangka-sangka.

Wajah Koneko bergerak makin dekat ke wajah Naruto. Naruto menyadarinya. Senyuman mereka berdua menghilang seketika.

Sedetik kemudian, tidak ada jarak lagi di wajah mereka. Wajah mereka berdekatan.

Naruto semakin erat menggendong Koneko dalam posisi bridal style. Sedangkan Koneko semakin erat merangkul leher Naruto. Mereka semakin dekat dan dekat. Menikmati cinta yang bersemi ini.

Tanpa mereka sadari, di bawah pohon di mana mereka bertengger, telah muncul seseorang yang sedang menyaksikan mereka dengan wajah yang datar. Ia berkacak pinggang dan mulai menyapa sepasang anak manusia yang sedang berciuman itu. Mencoba menegur dengan cara yang halus.

"EHEM! NARUTO!"

Spontan, Naruto kaget setengah mati saat mendengar suara orang yang menyapanya. Pasalnya, dia mengenal suara orang yang menyapanya itu.

'Eh? I-Itukan suara ...,' Naruto panik. Saat bersamaan, Koneko menjauhkan wajahnya dari wajah Naruto. Koneko melihat wajah Naruto menjadi pucat pasi.

"A-Ada apa, Naruto?" tanya Koneko heran.

"Hehehe ... A-Ada yang sudah menegur kita sedang ...," jawab Naruto tertawa ngeles sambil melihat ke arah bawah.

Tampak seorang pria berambut pirang dan bermata biru. Mengenakan pakaian sporty. Ia melambaikan tangan pada Naruto.

"Halo ... Naruto. Sudah selesai bermesraannya, nak?"

Naruto kaget setengah mati. Kedua matanya membulat sempurna ketika tahu siapa yang berdiri di bawah sana. Tanpa sadar, ia mundur dan mundur. Lalu ...

"TO-TOUSAN?! EH?! WUAAAAAAAAAAH!"

Akibatnya Naruto beserta Koneko yang digendongnya, jatuh dari pohon. Mereka jatuh bersamaan sambil berpelukan erat.

BRAK! GEDUBRAAAAK!

Terjadilah gempa bumi yang dahsyat mengguncang tempat itu. Membuat Minato sweatdrop melihat mereka.

"Dasar, Naruto ceroboh!" gumam Minato menepuk jidatnya sendiri.

Kini terlihat Naruto dan Koneko yang terkapar di tanah. Naruto yang jatuh duluan. Punggungnya menghantam tanah dengan keras. Sedangkan Koneko tidak apa-apa. Koneko terbaring di atas tubuh Naruto. Ia mendekap pada pelukan Naruto.

"Naruto ... Ka-Kamu tidak apa-apa?" Koneko tampak khawatir dengan keadaan Naruto.

Naruto menatap Koneko. Ia sedikit tersenyum.

"Tidak apa-apa. Hanya saja punggungku yang terasa sakit. Tapi, aku senang karena sudah mendapatkan cintamu dan sekaligus ciuman darimu. Jadi, apa kamu mau menciumku sekali lagi supaya rasa sakit di punggungku ini hilang? Bagaimana?"

Mendengar hal itu, wajah Koneko memerah lagi. Naruto menyengir lebar.

"JANGAN HARAP! YA-YANG TADI ITU, AKU TIDAK SADAR MELAKUKANNYA. JADI, LUPAKAN SAJA! ADA ORANG, TAHU!" seru Koneko keras. Ia pura-pura marah meskipun senang sudah mendapatkan cinta Naruto. Lalu ia bangkit berdiri sambil melepaskan rangkulan Naruto itu.

"Eh, Koneko-san, kamu mau kemana?"

"Aku mau balik ke asrama. JANGAN IKUTI AKU ATAUPUN MENDEKATIKU LAGI! MENGERTI!"

Setelah mengatakan hal itu, Koneko langsung berlari cepat meninggalkan Naruto. Wajah Koneko memerah padam. Telinga kucingnya ditutupinya dengan kedua telinganya. Ekor kucingnya bergoyang-goyang seiring hentakan kakinya yang terus melangkah ke arah Sora Academy itu.

Entah apa yang dipikirkan Koneko. Ia berbalik marah pada Naruto. Tapi, Naruto dapat memakluminya. Ia hanya tersenyum menatap kepergian gadis nekomata itu. Koneko sudah resmi menjadi pacarnya sekarang.

"Dasar, seperti biasanya. Dia keras kepala. Tapi, aku akan berusaha untuk selalu mendekatinya. Kamu sudah menjadi pacarku sekarang, Koneko-san. Kamu juga sudah menciumku. Itu sudah membuktikan kalau kamu benar-benar mencintaiku. Aku akan membalasmu nanti. Aku akan membuatmu semakin dekat denganku. Aku ingin mengenalmu lebih jauh karena kamu adalah gadisku sekarang," ujar Naruto sambil bangkit dari baringnya.

"Itu benar sekali. Kamu harus membuat gadis itu semakin dekat denganmu. Kalau bisa cintailah dia sampai akhir hayatmu, Naruto," sahut Minato yang tiba-tiba sudah berlutut di samping Naruto. Naruto pun kaget lagi.

"Eh? Tou-Tousan rupanya. Apa kabar Tousan?" Naruto tertawa ngeles sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena malu. Ia memutuskan duduk sebentar di tanah.

"Kabar Tousan baik. Kalau kamu?"

"Ya, seperti yang Tousan lihat. Aku sehat-sehat saja, kan?"

"Hm, Tousan bisa lihat itu."

"Ngomong-ngomong kenapa Tousan ke sini?"

"Kenapa? Tidak senang kalau Tousan datang untuk menemuimu?"

"Eh? Bu-Bukan begitu."

"Hehehe ... Tousan hanya bercanda," Minato tertawa kecil."Tousan datang sendiri lewat jurus hiraishin. Kaasan-mu juga tidak tahu kalau Tousan datang menemuimu."

"Oh ya? Memangnya Tousan tidak kerja?"

"Tousan memilih pulang awal di hari Sabtu ini. Lagian besok, Tousan juga libur. Karena Tousan rindu padamu, makanya Tousan langsung datang ke sini lewat jurus hiraishin. Kebetulan juga Kabuto menelepon Tousan kalau kamu berhasil menemukan gadis pembawa batu permata cahaya itu. Kamu memang hebat, nak. Tousan bangga padamu."

Tangan Minato menepuk pelan puncak kepala Naruto. Naruto hanya tersenyum simpul. Ia senang karena ayahnya datang menemuinya walaupun sesibuk apapun. Apalagi sang ayah mengatakan rindu padanya. Ya, Naruto juga rindu pada sosok ayah yang dikaguminya itu.

"Aku ... Juga rindu pada Tousan."

"Oh ya?"

"Itu benar."

"Hehehe ... Tousan tahu itu. Oh ya, Tousan mau tanya nih. Apa kamu sudah berpacaran dengan gadis pemegang batu permata cahaya itu? Tadi Tousan melihat kalian sedang ..."

"EH? JA-JADI TOUSAN MELIHAT SEMUANYA?"

"Ya, begitulah."

DOOONG!

Wajah Naruto menggelap. Mulutnya ternganga lebar. Minato memasang wajah datarnya.

Betapa malunya Naruto sekarang. Di depan ayahnya, ia sedang bermesraan dengan seorang gadis. Dia membeku. Mulutnya kaku. Kini dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi pada ayahnya.

Namun, sang ayah mengacak-acak rambutnya dengan wajah yang sumringah. Naruto tidak berani menatap sang ayah. Takut dimarahi.

"Tidak apa-apa. Itu wajar. Kamu tidak usah malu," sambung sang ayah."Tousan setuju kok jika kamu berpacaran dengan Toujou Koneko itu. Itulah yang Tousan harapkan di balik misi untuk melindungi Koneko."

Pandangan Naruto menyudut ke arahnya. Ia heran.

"Maksudnya?"

"Maksudnya ... Ya ... Itu. Kalian saling menyukai. Pacaran. Lalu setelah itu ... Kalian menikah. Intinya misi ini bukan hanya untuk melindungi Koneko. Tapi, mendekatkan kamu dengan Koneko sampai saling cinta. Jadi, karena kalian sudah menyatakan cinta dan pacaran sekarang. Ya, akhirnya perjodohan di balik misi ini, berjalan dengan sukses. Selamat karena kalian berdua sudah jadian!"

Benar-benar tidak diduga sama sekali. Kali ini Naruto benar-benar tercengang habis. Pasalnya di balik misi ini, ada maksud yang terselubung yaitu perjodohan. Perjodohan itu berhasil. Naruto dan Koneko sudah berpacaran. Baru dugaan. Jadi, inilah misi dengan dua maksud tersembunyi.

'Sudah kuduga di balik misi ini ada maksud terselubung. Pantas Kaasan mengatakan gadis pembawa batu permata cahaya itu adalah gadis yang manis dan imut. Kaasan ingin sekali menjodohkan gadis itu denganku. Jadi, aku sudah tahu kalau gadis itu adalah Koneko. Aku juga sudah menyukai Koneko sekarang. Kami pun sudah berpacaran. Terus ...'

Naruto tidak sanggup membayangkannya. Ia hanya mampu terdiam dengan wajah yang merona merah. Mulutnya kaku lagi. Ia tidak bisa membantahnya karena sudah terlanjur menyukai Koneko.

Minato tertawa lebar sambil mengacak-acak rambut Naruto sekali lagi.

"Ya, begitulah kenyataannya. Kamu tidak bisa membantahnya lagi. Jadi, Tousan harap kamu bisa melindungi Koneko dengan sebaik-baiknya dari orang-orang jahat. Jagalah dia sampai liburan sekolah tiba. Tousan percaya kalau kamu bisa melawan semua musuh yang akan mengincar Koneko nantinya. Lalu ada pesan Tousan sekali lagi untukmu, kamu juga harus berhati-hati karena ada pengkhianat dari desa Konoha yang akan mengincar Kyuubi. Kamu harus menjaga dirimu juga. Jangan sampai lengah. Kamu mengerti, Naruto?"

Terperanjat. Naruto terperanjat mendengarnya.

"Apa? Ada pengkhianat desa yang akan mengincar Kyuubi? Siapa dia, Tousan?"

Tawa Minato menghilang seketika. Ia menjauhkan tangannya dari puncak rambut Naruto. Pandangannya teralih ke arah yang lain.

"Orang itu adalah ..."

Maka Minato menceritakan semua tentang pengkhianat desa itu sampai tentang keluarga Koneko secara lengkap sekali. Naruto mendengarkannya dengan baik disertai kedua matanya yang membulat sempurna.

'Jadi ... Dia orangnya?' batin Naruto yang benar-benar kaget mendengarnya.

.

.

.

Sementara itu, Koneko terus berlari menuju Sora Academy. Menyusuri pepohonan yang rindang, Koneko benar-benar merasa berdebar-debar. Untung, telinga dan ekor kucingnya sudah menghilang. Wajahnya memerah padam karena malu.

'Apa yang kulakukan? Kenapa aku bergerak ingin mencium Naruto begitu saja? Apa lagi mencium Naruto di depan ayahnya. Waaaaah, harus taruh di mana mukaku ini? Apa yang harus kulakukan kalau bertemu dengan Naruto lagi? Aku malu. Malu. Malu sekali,' batin Koneko di dalam hatinya.

Di telinganya sekarang, selalu terngiang-ngiang dengan perkataan Naruto yang sangat menggetarkan hatinya. Hatinya begitu luluh dengan suara Naruto yang begitu lembut.

"Ya, aku sudah mendengar semuanya saat menyamar menjadi Lucy, aku sudah mendengar semua isi hatimu itu. Aku tidak menyangkanya sama sekali. Aku sungguh tidak mengira kalau gadis kasar sepertimu, bisa jatuh cinta padaku. Jadi, katakan sekali lagi kalau kamu menyukaiku sekarang, Koneko-san."

"Kenapa diam? Kamu tidak mengatakan kalau kamu menyukai aku," kata Naruto dengan pandangan yang lembut."Hm ... Apa kamu menunggu aku yang mengatakan cinta padamu? Baiklah, jika kamu mau aku begitu, aku akan mengatakannya sekarang padamu. Apalagi kamu sudah mengeluarkan telinga kucingmu lagi. Hehehe ..."

"Aku ... Aku menyukaimu, Koneko-san. Aku akui kalau aku jatuh cinta padamu sekarang,"

"Tidak apa-apa. Hanya saja punggungku yang terasa sakit. Tapi, aku senang karena sudah mendapatkan cintamu dan sekaligus ciuman darimu. Jadi, apa kamu mau menciumku sekali lagi supaya rasa sakit di punggungku ini hilang? Bagaimana?"

Mengingat semua perkataan Naruto barusan, membuat Koneko semakin berdebar-debar saja. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.

'Tidak! Tidak! Aku tidak mau mencium Naruto lagi! Meskipun Naruto sudah mengetahui perasaanku yang sebenarnya. Aku tidak akan menganggapnya sebagai pacarku. Meskipun Naruto sudah mengatakan cintanya padaku. Aku tidak ingin dia berdekatan denganku lagi. Aku ini pembawa sial. Aku akan mendekatkannya dengan bahaya besar. Aku ini adalah seorang nekomata. Naruto adalah seorang manusia istimewa, seorang ninja yang misterius. Naruto, maafkan aku. Aku akan membuatmu membenciku. Kamu harus melupakan semua yang terjadi hari ini. Aku tidak ingin kamu mencintaiku lebih dalam. Tinggalkan aku, Naruto. Kamu tidak perlu melindungi aku. Aku akan mengatakan hal ini padamu nanti. Semoga kamu bisa memakluminya.'

Koneko mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Kedua matanya menajam. Larinya semakin cepat. Detakan jantungnya semakin bergerak dengan cepat juga.

SRIIIING!

Tubuh Koneko bersinar keputihan. Dalam sekejap, dia berubah menjadi seekor kucing putih polos dengan kedua mata bulat kuning menyala. Di lehernya terlilit kalung berwarna biru berbentuk setengah hati. Di ekornya terdapat pita merah disertai bel. Larinya pun semakin lama semakin pelan. Pada akhirnya ia berhenti di bawah sebuah pohon rindang.

Koneko yang berwujud kucing sekarang, menundukkan kepalanya dengan muka yang sedih. Ia sedang berpikir keras bagaimana caranya Naruto bisa menjauhinya. Itulah yang diharapkannya saat ini.

'Apa mungkin untuk beberapa hari ini, aku berwujud kucing seperti ini? Supaya Naruto kehilangan aku. Aku tidak mau bertemu dengannya. Aku malu. Aku tidak mau membawanya ke dalam masalahku yang berat ini. Karena aku menanggung penderitaan yang besar. Batu permata cahaya itu berada di dalam jantungku sekarang. Jantungku terus berdetak dengan kencang selama berada di dekat Naruto. Rasa berdebar itu semakin membuatku sakit karena aku akan membuat hidup Naruto semakin terpuruk. Ya, inilah jalan terbaiknya. Aku akan menjadi kucing untuk beberapa hari.'

Setelah itu, Koneko menganggukkan kepalanya. Ia pun memanjat pohon rindang yang berdaun lebat itu. Lantas menghilang begitu saja. Entah kemana perginya. Namun, yang pasti dia akan menyembunyikan dirinya dari Naruto. Dia harus menjauh dari Naruto mulai dari sekarang.

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

A/N:

CHAPTER 10 UPDATE NIH!

Terima kasih atas perhatianmu yang sudah membaca chapter kali ini.

Berikan reviewmu ya!

Salam

HIKASYA

Sabtu, 30 Januari 2016