"My Lovely, Fernandes"

By: Uchiha-Cla/Karura-Clarera

FAIRY TAIL FANFICTION


Disclaimer: Mashima Hiro-sama

Warnings: OOC, Abal, Tidak Menarik, Hasil seorang amatir.

Hogyaa, akhirnya bisa update lagi. Sebelumnya Karu mengucapkan banyak2 terima kasih pada para reviewer yang selalu memberi dukungan, motivasi dan gertakan agar cepet update. Haha. Btw, di chap ini Karu mau pungkas habis saja camping Fairy Tail. Jadi ceritanya terkesan cepat. Maaf jika tidak suka. Tapi ada kabar baik loh, di sini, rahasia Kutukan Gelap akan mulai menemui cahayanya! Hehe

HAPPY READING HAPPY REVIEW! :D


"Entah berapa banyak orang yang akan mencelakaiku, kau akan tetap ada untuk membantuku, kan?"

-Erza Scarlet in MLF (My Lovely Fernandes)


CHAPTER 9:

'Perkemahan Ala Fairy Tail'

PART 3

Seorang aneh bertopi dan berkacamata hitam, bermasker dan bermantel panjang sedang menyusuri jalan menuju pegunungan Pegasus Hills. Ia menengok ke kiri dan ke kanan untuk memperoleh petunjuk.

"Gadis manis. Oh gadis manis~" seseorang yang duduk di bawah pohon mahoni itu sedang bersenandung dengan senangnya. Suaranya tidak merdu sama sekali bagi orang aneh itu.

Orang dengan mantel panjang itu menghampiri pria tua yang sedang bersenandung senang. "Pe-permisi, tuan..." ucap orang aneh itu dengan terbata. Ia berusaha memanipulasi suaranya agar tidak ketahuan, "dimana lokasi kemah Pegasus Hills?" tanyanya dengan perlahan.

Ichiya, pria tua yang bersenandung itu berdiri dan menunjukkan jalan untuk orang aneh yang bermantel itu. "Terima kasih." Ucap orang aneh itu sambil membungkukkan tubuhnya.

Ia pun kembali berjalan meninggalkan Ichiya yang kembali bersenandung itu. "Kek, orang aneh itu siapa?" tanya Eve, cucu satu-satunya Ichiya yang membantu pekerjaan Ichiya dalam merawat Pegasus Hills ini.

"Tidak tahu." Balas Ichiya dengan singkat.

Eve menghela napas, "Kebiasaan kakek." Cetus Eve dengan berdecak lidah. Ichiya hanya tertawa renyah mendengar decakan lidah dari cucunya itu.

Kembali pada orang aneh itu.

Si orang aneh yang mulai merasa lelah dan gerah pun menyerah atas penyamarannya. Dengan kasar ia melepas topi, kacamata dan masker yang ia kenakan. Selain itu ia pun juga membuka kancing mantelnya satu per satu dan mengendurkan mantelnya.

Rambut hitam pria itu pun terlihat. Sorot mata tajamnya membuat hal itu sebagai ciri khasnya. Rogue Cheney, ialah sosok yang menyamar barusan. "Sial, mengapa daerah pegunungan menggerahkan sekali." Gerutunya sambil mengibas-ibaskan topinya di wajahnya.

Setelah mendaki selama kurang lebih 20 menit, Rogue pun mendapati area perkemahan yang dicarinya. Ia melihat hanya beberapa saja anggota Fairy Tail yang ada di area itu. "Aneh, kemana yang lain?" gumam Rogue bertanya-tanya. Rogue bersembunyi di balik pohon beringin yang berada cukup jauh dari area kemah itu.

Sambil menunggu apa yang ingin ia cari, Rogue mengambil sesuatu dari saku dalam mantelnya. Sebuah foto. Itu adalah foto yang diambil oleh Sorano beberapa tempo lalu, foto wajah Erza. "Mengapa setiap melihat foto ini aku jadi tambah rindu padamu?" tanyanya pada foto yang dipegangnya.

Mendadak ponsel Rogue bergetar, membuatnya sedikit panik karena takut kehadirannya disadari oleh Lyon Vastia yang sedang berdiri di depan area kemah itu.

Rogue sedikit menjauh dari pohon lalu ia mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya. "ROGUE-NIISAN,"seru Sting dari ujung sana, "kau sedang dimana? Mengapa kucari-cari tidak ada?" tanyanya sekaligus.

Rogue menepuk keningnya dengan cukup keras. Ia lupa kalau untuk mencapai daerah perkemahan ini memang banyak sekali rintangan. Ia lupa Sting itu sedang ada di rumah dan Sting tidak tahu rencana Rogue ke Pegasus Hills ini.

"E-eh, aku sedang di Kedai Karura. Sedang makan ice cream rasa mocca dengan santapan red velvet pancake." Sahut Rogue dengan dusta. Untung adik polosnya itu percaya.

"Wahhh, sial aku tidak diajak." Gerutu Sting dari ujung sana. Terdengar seperti suara debaman. Rasanya Sting habis meninju dinding hingga bolong lagi. Pikir Rogue.

"Maaf, nanti akan aku bungkuskan untukmu." Ujar Rogue kemudian, "aku akan kembali ke rumah secepatnya." Tambahnya dan dibalas oke oleh Sting.

Rogue pun memutus sambungannya dengan Sting. Ia kembali fokus memata-matai area perkemahan itu. "Dimana Erza...?" kata Rogue bertanya-tanya.

Hasilnya nol. Setelah ia menunggu selama 2 jam, Rogue menyerah karena ia sama sekali tidak menemukan paras gadis itu. "Ah, ini hari sialku." Rutuknya pada diri sendiri. Ia berjalan menuruni gunung lagi dengan lunglai dan wajah ditekuk.

.

.

Kelompok Gray dkk, sampai di tengah hutan rimbun yang terang karena disinari oleh sang surya. Sesekali Jellal dan Gray mengibas-ibaskan kaosnya karena kepanasan. Sedangkan Sheria mengibas-ibaskan tangannya di depan wajahnya. Berbeda dengan Erza yang sedari tadi pucat dan lemah.

"Erza, kau yakin tidak apa-apa?" tanya Sheria pura-pura khawatir, "lebih baik kau kembali ke area perkemahan dan beristiharat." Tawarnya sambil menggandeng tangan Erza yang terasa dingin itu.

Jellal mengangkat sebelah alisnya melihat tingkah aneh Sheria itu.

"Tidak apa." Erza menggeleng kepala, "aku baik, sungguh." Tambahnya. Sebenarnya tubuhnya sama sekali tidak sepemikiran dengan perkataannya. panas di dalam tubuhnya serasa membakar tubuh Erza. Ia tidak menemukan obatnya tadi pagi. Ia sungguh merasa ceroboh karena kehilangan obatnya.

Sheria pun melepas genggaman tangannya pada Erza dan tersenyum palsu pada Erza, "Jangan memaksakan dirimu, Erza-chan..."

"Erza, kau benar-benar bisa bertahan hingga siang nanti? Lihat kau pucat sekali." Sambung Gray yang ikut-ikutan cemas. Jellal memperhatikan tingkah pria berambut hitam itu yang mendekati Erza dan hendak menyentuh Erza untuk mengukur temperatur tubuhnya. Jellal menepisnya dengan cepat.

"Asistenku akan baik-baik saja, baka." Tepis Jellal dan membuat Gray sedikit kesal. Gray pun berdeham.

"Sekarang, berhubung Erza dalam keadaan buruk. Lebih baik kita berpencar dan mencari secara terpisah." Kemudian Gray mengeluarkan sesuatu dari dalam tas pinggangnya, "ini,aku membawa walkie talkie untuk kita berkomunikasi di hutan ini. Tapi aku hanya punya dua, jadi kita berpencar jadi dua saja, ya." Tambahnya.

"Baiklah, Gray." Sahut Sheria sambil mengangguk. Begitu pula Erza, kecuali Jellal yang hanya mendengus tidak jelas.

Gray dengan terpaksa memberikan salah satu walkie talkie-nya itu kepada Jellal, "Kau bersama Sheria dan aku bersama Erza." Ujar Gray dengan dingin kepada Jellal.

Sheria melonjak bahagia di dalam hatinya, sedangkan Jellal mengangkat alisnya karena tidak terima, "Hoh, tidak mau. Aku yang bersama Erza, baka." Ucap Jellal dengan dingin pula. Sheria menggerutu kesal dalam hati.

"Tidak. Erza sedang tidak sehat. Mana mungkin aku percaya kalau kau bisa menjaganya." Balas Gray masih tak mau kalah dan jantung Sheria berdegup keras karena tegang. Ia ingin sekali jika bersama Jellal. Berduaan dengan Jellal. Huaa, ia telah membayangkan hal-hal yang indah.

"Dia asistenku, jangan seenaknya mengatur." Timpal Jellal lagi dengan nada mengancam. Gray tidak segan sama sekali dengan ancaman itu.

"Cukup. Pangkatku di Fairy Tail lebih tinggi, baka. Kau seharusnya menurutiku." Gray ikut mengancam.

"Kau dan Natsu yang memohon padaku untuk bergabung, bukan? Jadi siapa yang lebih penting di sini, aku atau kau?" ucap Jellal dengan penekanan sambil menunjuk Gray dengan jari telunjuknya.

Gray menggertuk giginya karena ia tidak tahu harus membalas apa. Sepintas ia melihat Erza yang tengah duduk lemas di bebatuan itu. "Sial." Desisnya.

Di tengah perang kata antara Gray dengan Jellal, Erza melerai mereka berdua yang sudah siap-siap mau bertarung itu. "Hentikan!" tukas Erza dengan lemah. "Gray, aku ikut Jellal. Tidak apa, semuanya pasti akan baik-baik saja." Utus Erza dengan tegas.

Gray tercengang pada perkataan Erza.

'Erza lebih memilih Jellal... daripada aku...?' ujarnya dalam hati.

Terlihat Erza berjalan mendekati Jellal dan menyikut pelan tepat di perut pemuda itu. Sementara Gray memandang Jellal penuh kedengkian, Jellal memandangnya dengan seulas senyum kemenangan. 'Sial, mengapa aku selalu kalah dengan pria brandal ini.' Rutuk Gray dalam hati.

"Ayo, kita mulai mencari, Sheria."

Sheria dengan langkah gontai mengikuti Gray yang telah berjalan dengan arah berlawanan dengan Erza dan Jellal. "Sial, Erza sungguh beruntung.." gumamnya dengan tatapan benci pada Erza yang memunggunginya itu.

.

.

Jellal berjalan riang tanpa sebab. Wajahnya berseri-seri sepanjang perjalanan hutan bersama Erza ini. "Hoi, benda nomor 27 telah ditemukan. Tinggal 2 benda lagi." Ujarnya di walkie talkie. "aku dan Erza akan menemukan 2 benda itu. jadi kau kembali ke kemah dulu saja." Suruhnya.

"Hn," dengus Gray dari ujung sana. Jellal kembali menaruh walkie talkie-nya di saku belakang celana jeans-nya, lalu ia menoleh pada Erza yang berjalan di belakangnya.

Erza sedari tadi hanya diam sambil menundukkan kepala. Ia hanya sesekali bicara mengenai clue benda yang harus ditemukan, tapi itu pun tidak terlalu banyak.

Sejujurnya Jellal sangat khawatir pada gadis ini, hanya saja ia tidak memperlihatkannya. Meski hubungannya dengan Erza tidak separah dahulu, tapi tetap saja ia harus pura-pura tidak peduli pada gadis itu. walaupun kadang-kadang Jellal keceplosan untuk menunjukan perhatian kepada gadis itu.

Begitu ia melangkah pelan sambil memperhatikan Erza, Jellal sedikit puas begitu ia melihat sebuah aliran sungai besar yang deras. Di tepi sungai itu lah terdapat rumput Magnolia dan lumut Magnolia. Omong-omong sungai itu adalah sungai Magnolia.

"Gray, kami telah menemukan lumut dan rumput Magnolia." Ujar Jellal di walkie talkie-nya.

"Roger. Aku dan Sheria telah tiba di area camping. Kau dan Erza cepat kembali dengan selamat, oke?" sahut Gray dengan datar. Kemudian ia memutus sambungan walkie talkie-nya dengan Jellal.

Jellal membalik tubuhnya ke arah Erza dan bersiap untuk berjalan kembali area kamp. "Kita kembali ke kamp, asisten." Ujar Jellal sambil memasukkan rumput dan lumut Magnolia ke dalam tas plastik.

BRUK!

Jellal langsung memalingkan pandangannya ke sumber suara keras itu. "Erza!" serunya dengan panik. Tas plastik yang dipegangnya langsung dilemparnya dan ia langsung menghampiri Erza yang terjatuh ke tanah itu. Jellal langsung memapah gadis itu dalam pangkuannya dan menepuk-nepuk pelan pipi gadis itu. "Erza, sadar Erza!" kata Jellal dengan panik.

"Aku tidak apa-apa, Jellal." gumam Erza dengan lemah. Syukurlah ia masih sadar, meski wajahnya sangat pucat dan suaranya amat parau. Gadis itu kemudian memaksakan dirinya untuk duduk di tanah.

"Tidak apa-apa apanya!" omel Jellal tidak jelas. Erza memandang ekspresi wajah Jellal yang sangat panik itu. Baru sekali ini Erza melihat pemuda berambut biru ini berekspresi seperti ini.

Kemudian Jellal berjongkok membelakangi Erza. "Naiklah." Ujarnya dengan nada memerintah.

"A-apa?"

"Kubilang, naik ke punggungku!" perintah Jellal lagi masih dengan nada panik.

Erza terkejut setengah mati. Tak disangkanya, pemuda cuek dan tak tahu diri ini ternyata memiliki sisi yang perhatian seperti ini. "Apa kau yakin, Jellal? Aku kan be-..."

"Aku tahu seberapa beratnya dirimu itu, baka. Siapa yang menggendongmu ke UKS waktu itu, hah?" potong Jellal dengan cepat. "Cepat naik, atau aku akan mengangkatmu seperti pengantin baru." Tambahnya dengan nada mengancam.

Erza berdecih sebal, tapi ia tersenyum tipis di wajah pucatnya. Ia pun menyerah dan memutuskan untuk naik ke punggung Jellal lalu menyilangkan ke dua tangannya di depan leher pemuda itu. Kemudian Jellal memegangi kaki Erza dan bersiap untuk berdiri.

Tanpa aba-aba, Jellal pun berdiri dengan menggendong Erza tanpa kesulitan apapun. Erza sedikit kagum karena Jellal begitu kuat menggendongnya. Jellal pun melangkahkan kakinya dengan tegap, memasuki hutan dan menuju ke area kamp Pegasus Hills.

"Terima kasih, Jellal..." bisik Erza tepat di telinga kiri Jellal, lalu ia pun membenamkan kepalanya dan tertidur di punggung Jellal.

"Hn,"

Jellal kemudian terdiam, ia sama sekali tidak berani bergerak lebih. Ia takut semua ini hanya mimpi. Detak jantungnya yang bergemuruh ini membuatnya menghela napas berkali-kali. Di punggungnya ada Erza, ia begitu dekat dengan Erza dan jantungnya tak karuan. Perasaan hangat menjalari dirinya.

Jellal merasa benar-benar sudah gila. "Aku benci Erza, aku benci Erza, aku benci Erza..." gumamnya berulang kali untuk menyingkirkan detak jantungnya yang aneh itu, tetapi sia-sia.

Erza yang belum sepenuhnya tertidur pulas mendengar gumaman Jellal dengan samar. Ia pun tersenyum kecil karena dalam hati ia juga menggumamkan hal yang serupa. "aku benci Jellal..."

.

.

Kini, hujan turun.

Jellal dan Erza sampai di area kamp paling akhir untung saja hujan turun setelah Jellal dan Erza datang. Malapetakanya, Jellal tidak membawa benda temuannya karena ia melemparnya entah kemana saat ia panik tadi. Tapi untungnya Gray tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Syukurnya juga mereka tidak dihukum oleh Lyon dan Sherry karena mengerti keadaannya Erza.

Erza ditidurkan di kemahnya Jellal karena hanya kemah Jellal yang memiliki penghangat. Udara sangat dingin siang ini akibat hujan turun, meski tidak begitu lebat tetap saja angin-angin liar itu menyerbu Pegasus Hills ini dengan brutalnya.

Acara pelatihan tidak dilanjutkan dan semua Fairy Tail sedang berlindung di kamp mereka masing-masing. Di kemah Jellal, ada Jellal dan Sheria yang menjaga Erza yang tertidur pulas itu.

Keduanya hanya diam seperti orang asing. Insiden beberapa menit lalu sangat membuat Sheria ingin marah sekaligus menangis.

SHERIA FLASH BACK.

Sheria tersenyum lega saat melihat Jellal akhirnya tiba di area kamp. Tapi ekspresi bahagianya itu berubah seiring ia melihat Jellal yang kemudian menuju ke matras tempat Droy dan perlahan menurunkan Erza yang tertidur pucat itu dari punggungnya.

"Erza, kenapa?!" seru Lyon dan Gray serempak. Kedua kakak beradik itu langsung berlari menyerbu Erza di matras-nya Droy.

"Ia tidak sadarkan diri setelah aku menemukan rumput dan lumut Magnolia." Jelas Jellal dengan tenang. Rasa paniknya sudah sedikit mereda.

"Haish, sudah kubilang lebih baik ia beristirahat di kamp saja!" ujar Gray sambil mengacak-acak rambutnya. Rasa cemas sangat tersorot di wajahnya. Setelah Gray dan Lyon, Natsu dan yang lain ikut mengelilingi Erza untuk melihatnya.

Berbeda dengan Jellal yang dengan wajah dingin tiba-tiba malah berjalan cepat kepada Sheria yang berdiri dekat api unggun padam itu. Sheria sedikit bingung dan canggung begitu menyadari arah tuju Jellal adalah dirinya.

Begitu di hadapan Sheria, Jellal menghela napas berat lalu menyodorkan telapak tangannya. "Dimana?" tanya Jellal dengan dingin.

"A-apa maksudmu?" tanya Sheria belum mengerti.

"Kembalikan obat Erza."

Sheria terbelalak. Ia tidak habis pikir Jellal mengetahui jika obat itu ada di Sheria. Bahkan Sheria berani bertaruh Erza sendiri tidak tahu dimana obatnya itu.

"Aku tahu kau yang menyembunyikan obatnya, kan. Agar Erza istirahat di kamp dan kau bisa dengan puas dekat dengan Gray." Cetus Jellal lagi dengan dingin. "serahkan obatnya, cepat." Perintahnya kemudian dengan sorot mata tajam.

Hati Sheria serasa tersayat pisau yang amat tajam mendengar ungkapan Jellal itu. Dengan terpaksa ia menyerahkan botol obat milik Erza itu pada Jellal.

Jellal kemudian memeriksa obat tersebut untuk memastikannya dan langsung berlari kepada Erza lagi untuk meminumkan obatnya. Meninggalkan Sheria yang bergeming itu.

SHERIA FLASH BACK OFF!

Gadis berambut pink terang itu menatap Jellal dengan segan. Ia menatap mata pria berambut biru itu dengan cermat. Sorot mata kekhawatiran pada gadis rambut merah yang terbaring tidur itu, Erza.

"Kau salah satu hal... Jellal.." ujar Sheria membuka pembicaraan.

Jellal melirik Sheria lewat ekor matanya dan menunggu kelanjutan kata-kata gadis berambut pink itu. "Aku bukannya ingin dekat dengan Gray..." sambung Sheria dengan perlahan, "aku... ingin dekat denganmu."

Terlihat ekspresi biasa saja dari Jellal. Malahan Jellal malah mendengus dan mengerutkan keningnya, "Apa maksudmu?" tanyanya dengan dingin.

"Aku menyukaimu."

"Apa?"

"Aku menyukaimu!" pekik Sheria dengan mantap, namun Jellal hanya memandangnya dengan sebelah mata.

"Kau sudah gila?" tanya Jellal dengan datar.

"Tidak, aku benar-benar menyukaimu, Jellal..."

Jellal tidak menjawab. Keheningan kembali menyelimuti atmosfer kemah hangat itu. Meski begitu, Jellal tidak merasakan gejolak aneh seperti yang dirasakannya jika bersama Erza.

"Maaf aku..."

"Aku tahu kau sama sekali tidak menganggapku." Potong Sheria dengan cepat, "aku tahu kau memang tak menyukaiku. Ini adalah kesempatan langka bagiku, Jellal." terangnya dengan nada bergetar, "aku tahu... kau menyukai Erza. Di matamu hanya ada Erza."

Jellal tidak dapat mengatakan apapun. Ia sendiri juga sedikit menyetujui perkataan Sheria itu, meski rasanya tidak tepat.

"Itu sebabnya aku bertindak sejauh ini karena aku iri dan cemburu pada Erza." Terang Sheria dengan sebulir air mata yang mulai menetes dari pelupuk matanya.

Jellal sedikit iba. "Aku memang perhatian pada Erza, tapi itu bukan berarti aku menyukainya." Ucap Jellal dengan datar, "ia memang yang terlebih dahulu menghampiriku. Hanya ia yang berani mendekatiku meski ia tahu aku ini seperti serigala liar." terang Jellal dengan mata redup. Kedua tangannya menggenggam sebelah tangan Erza yang dingin bagai es itu. "dari situlah aku menganggap Erza sebagai gadis yang menarik.."

Sheria tertegun mendengar itu. ia baru menyadari akan satu hal. Selama ini, meski ia menyukai Jellal tapi ia tidak pernah berani mendekati pemuda itu. ia takut membuat marah pria itu. Sheria menghapus air matanya dengan cepat. Selama ini ia memang sangat bodoh dan lemah. Ia tidak memiliki keberanian.

Di saat itu juga lah, ia merasa bahwa keiriannya pada Erza telah menguap. Ia merasa bahwa semua kecemburuanya itu hanya membuang waktu dan tenaganya. Ia menyesal. Sangat menyesal...

"Maafkan aku..." gumamnya dengan pelupuk mata yang masih penuh air mata itu. Ia merasa amat rapuh. Lemah. Ia jauh lebih lemah dari Erza.

.

.

Di malam terakhir ini, seluruh Fairy Tail bersama Warrod-sensei duduk mengelilingi api unggun dengan akurnya.

"Aku memang tidak mengerti dan tidak membantu banyak dalam acara perkemahan dan pelatihan ini." Terang Warrod-sensei yang tengah memberikan ceramah untuk anak-anak. "tapi satu hal yang kutahu, Fairy Tail memang kuat dan kompak. Pertahankan rasa kebersamaan kalian, jangan sampai kalian tercecer sendiri-sendiri. Seandainya tercecer maka bersatulah kembali, menjadi sebuah organisasi yang solid dan kuat di Fairy Gakuen. Hidup Fairy Tail!"

"HIDUP FAIRY TAIL~!" balas kesemua Fairy Tail dengan serempak. Semangat mereka memang tidak pernah tertandingi, apalagi ketuanya adalah Natsu Dragneel.

Setelah itu, Fairy Tail makan-makan bersama. Menu makanan hari ini adalah BBQ. Mereka memanggangnya bersama-sama di atas tungku pemanggang yang dipinjam dari Ichiya, pengurus Pegasus Hills ini. Ichiya, Eve dan beberapa orang pengurus Pegasus Hills ini ikut dalam acara malam bersama ini.

Erza yang duduk melipat kedua kakinya dengan berjejal jaket bulu tebal memperhatikan semua yang berbahagia itu sambil senyum-senyum lebar sendirian. Jellal kemudian datang dengan tangan dimasukkan ke saku celana panjangnya.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Jellal berusaha datar. Ia tidak ingin menunjukkan rasa perhatiannya kepada gadis itu.

Erza mendongak pada Jellal yang telah berdiri di sebelahnya itu. lalu Jellal ikut duduk bersamanya. "Aku sudah baikan." Sahut Erza sambil tersenyum tipis. "Meski Sherria yang melakukan hal itu padaku, tapi aku tahu ia adalah orang yang baik." Terang Erza dengan tulus. Setelah terbangun dari tidurnya tadi sore, Erza terkejut karena ada Sherria yang menjaganya tanpa lelah itu. Sherria menangis dan mengucapkan permohonan maaf pada Erza berulang kali. Sherria sungguh menyesali perbuatannya. Tentulah Erza memaafkan Sherria.

"Baka, ia berusaha mencelakakanmu dan kau masih mengganggapnya orang baik?" sahut Jellal sambil mendengus. Ia tidak habis pikir Erza tetap menganggap Sherria orang baik. Kalau Jellal jadi Erza 'sih, pasti Jellal sudah mencap gadis itu sebagai orang jahat dan pasti sudah balas dendam dengan mematahkan kedua kaki ayahnya. *kenapa jadi ayahnya*

"Entah berapa banyak orang yang akan mencelakaiku, kau akan tetap ada untuk membantuku, kan?" gumam Erza yang masih dapat didengar jelas oleh Jellal. Kedua mata gadis itu menatap lurus ke arah teman-teman yang sedang asik dan serunya memanggang daging-daging BBQ itu.

Jellal yang duduk di sebelah gadis itu tertegun. Ia tidak berkedip dan tidak bernapas untuk sesaat karena gejolak aneh hinggap di dadanya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Jellal terdiam sambil menundukkan kepalanya. Rambutnya yang cukup panjang terurai ke bawah dan menutup sebagian wajahnya.

"Eh, ya, kau sakit apa?" tanya Jellal mengalihkan pembicaraan. Nada bicaranya diusahakan senormal mungkin agar Erza tidak mengetahui perasaan canggungnya tanpa sebab itu. "kau pucat seharian dan mendadak tidak dapat berdiri itu karena tidak minum obat, kan?"

Erza yang gantian menunduk. Ia bingung bagaimana menjelaskannya pada Jellal. Gadis itu memang pernah memberitahunya tentang alergi ini itu, tapi Jellal tidak tahu banyak tentang apa saja yang menjadi alergen bagi Erza. "Aku menderita penyakit alergi kronis." Gumam Erza dengan nada rendah.

Jellal menautkan sepasang alis karena tidak mengerti. "Jadi, apa yang membuatmu alergi? Mengapa begitu parah?" tanyanya beruntun. Tumben sekali Jellal tertarik pada banyak hal.

"Aku alergi pada daun pohon pinus." Terang Erza dengan pelan. Jellal memperhatikan setiap kata yang dikatakan gadis itu, "banyak hal lain yang membuatku alergi. Jadi aku harus meminum obat itu, kalau tidak hasilnya seperti tadi siang."

"Mengapa be-gi-tu parah?" tanya Jellal lagi dengan penekanan di setiap kata. Ia tahu Erza enggan menjawab pertanyaan itu. oleh sebab itu Jellal terus mendesaknya.

"Aku lahir di Fase Eight." Terang Erza dengan cepat.

Jellal memiringkan kepalanya, "Apa itu Fase Eight?" tanyanya tidak mengerti.

Gadis itu merapatkan jaket yang melindunginya dari udara dingin dan menghela napas sebelum menjawab, "Seseorang yang lahir pada tanggal 8 bulan 8 dan 2 angka dari belakang tahun kelipatan 8 akan disebut kelahiran Fase Eight. Aku lahir tanggal 8-8-1996, oleh karena itu aku termasuk korban dari Fase Eight." Jelas Erza.

"Apa hubungannya dengan alergimu?"

"Seseorang yang lahir di Fase Eight dipercaya tertimpa Kutukan Gelap." Sambung Erza tanpa menatap Jellal.

"Apalagi itu Kutukan Gelap?" tanya Jellal seolah tidak tertarik. Padahal sebenarnya ia benar-benar mendengarkan dan tertarik pada pembicaraannya dengan Erza ini.

Erza kembali menghela napas sambil memejamkan matanya untuk sejenak. Begitu ia membuka matanya kembali, ia sedikit memiringkan kepalanya untuk melirik Jellal yang terlihat begitu menantikan kelanjutan penjelasan Erza. "Kutukan pembawa malapetaka. Kutukan yang menyebabkan peyakit langka pada siapa saja di seluruh tanah Fiore dan Ishgar yang lahir di Fase Eight. Penyakit ini bukan hanya langka, tetapi juga mematikan." Jelas Erza dengan mata berkaca-kaca. Terlihat dengan jelas bahwa gadis itu merasa sangat terluka dan tidak terima pada nasibnya.

"Mana mungkin, Erza. Tidak ada kutukan gelap seperti itu." sahut Jellal berusaha menghibur Erza. "itu pasti hanya mitos."

Erza menghela napas lagi, "Aku juga berpikir begitu pada awalnya Jellal." terang Erza berusaha mengendalikan emosinya, "tapi.. terlalu banyak bukti yang menyatakan bahwa Kutukan Gelap itu benar-benar ada. Tidak hanya aku, kakakku, Laxus, juga mengalami nasib serupa denganku." Sebulir air mata dari pelupuk mata gadis itu menetes pelan.

"Laxus-niisan juga mengalami penyakit kronis sepertimu?" tanya Jellal memastikan. Erza mengangguk pelan.

Erza sedikit terisak, "Tidak hanya aku dan kakakku. Di Fiore dan Ishgar banyak sekali ditemukan kasus meninggalnya seseorang yang lahir di Fase Eight itu akibat penyakit kronis. Sudah diteliti ada lebih dari 1000 orang di tanah Fiore dan Ishgar yang menderita penyakit mematikan dan 1000 orang itu lahir di Fase Eight."

Jellal terdiam. Ia mengerti bagaimana menyeramkannya Kutukan Gelap itu. "Apa yang terjadi padanya?" tanyanya kemudian dengan perlahan, "apa yang terjadi pada Laxus?"

"Jantungnya tidak sempurna tanpa diketahui sebabnya. Laxus-nii juga harus meminum obatnya setiap hari untuk meredam rasa sakitnya." Jelas Erza sambil mengusap air mata yang menetes ke pipinya itu.

Jellal membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, tapi sesuatu mengganggu benaknya saat ini. Ia teringat akan suatu hal...

Pemuda berambut biru itu teringat... Tanggal lahir almarhum kakaknya, Mystogan, sama dengan Laxus. Mystogan terang-terangan pernah mengatakannya.

'Mystogan-nii.. juga lahir di Fase Eight... tetapi mengapa Kutukan itu tidak menimpanya?' gumamnya di dalam hati.

Jellal merasa sedikit merinding tiba-tiba karena Mystogan tidak memiliki riwayat penyakit kronis apapun. Kakaknya itu meninggal akibat kasus pembunuhan, bukan karena penyakit kronis. "apa yang terjadi di dunia ini sebenarnya..." gumam Jellal pada diri sendiri dengan raut wajah teramat bingung.

CHAPTER 9 END!

Perkemahan Ala Fairy Tail Arc End.

TBC.

Reviewnyaa pleaseeeee!