Disclaimer: not own anything.

Terimakasih untuk yang mau bersedia mereview cerita ini sampai sekarang.

Untuk Pairing,

Resminya adalah NarutoxInoxAyame. Namun mungkin akan bertambah satu atau dua dengan cerita berkembang. Mungkin juga tidak.

Yang meminta saya mencoba untuk membuat Fic lain dengan Naruto sebagai raja iblis. Mohon maaf, karena saya tidak bisa, karena kesibukan saya sehari-hari. Mohon maaf sekali.

Saya gak akan membuat cerita ini terlalu serius, namun juga akan diselingi oleh Drama, romance dan tentu juga Humor. Naruto nggak akan saya buat terlalu angst karena masa lalunya. Namun dia adalah sosok yang kuat untuk menerima masa lalu dan masa depan.


Kenapa kau harus menerima bantuan orang lain. Jika kau bisa menggunakan kekuatan dirimu untuk berdiri sendiri!?

~x~

Naruto berjalan dengan tatapan lurus. Hal seperti biasa.. dengan kedua kantong plastik penuh yang berada di kedua tangannya. Bersenandu dengan riangnya tanpa melihat sekelilingnya. Tatapan dan udara yang tidak nyaman merupakan hal yang biasa bagi dirinya. Haruskah ia beruntung, karena tidak menerima lagi bentuk kekerasan fisik, namun hanya menerima dari maksud dan perkataan.

Apakah ia harus merasa kesal? Karena tidak bisa membalas warga sipil atas apa yang mereka lakukan.

Tentu saja tidak.

Tidak berguna. Apa yang akan di bawa dari pemuasan hasrat kebencian? Yang ada hanyalah rasa kosong.

Naruto kemudian menaiki tangga kecil menuju apartemen kecil miliknya, dan kemudian membukanya.

Tidak ada yang menarik. Biasa, dan juga membosankan. Itulah yang bisa dikatakan mengenai kondisi dalam apartemennya. Foto kecil yang terpampang di dinding membuatnya tersenyum kecil.

Dirinya, Paman Ichiraku, dan juga...Ayame. Senyum lebar yang ia tunjukannya juga...nyata.

Naruto kemudian membuka kulkasnya, berniat untuk memasuk-kan barang bawaan yang telah ia beli dari Mini-market. Dan...dirinya hanya bisa menghela nafas dengan lelah ketika melihat kembali Kulkas yang telah terisi penuh. Kebiasaan yang entah mengapa ia mulai tidak suka.

Pertamanya ia menerima itu dengan senang hati, namun lama kelamaan... rasa bersalah telah menyangkut di hatinya. Karena pada akhirnya ia mengetahui siapa yang memberikan hal ini kepada dirinya..

"Ayame..chan..." Naruto berbisik dengan pelan.

Mengambil buah apel yang telah tersusun rapi di bagian tengah kulkas, dan menggigitnya.

Naruto kemudian menutup kembali kulkas tersebut. Dan sambil berjalan tetap mengunyah Apel itu.

Naruto kemudian membuka lemari kecil yang bergantung di dinding, dan mengeluarkan beberapa gulungan perkamen dan membawanya turun ke lantai. Dan membukanya. Asap kecil mengepul dari gulungan tersebut dan menunjukkan hal yang Naruto inginkan.

Naruto kemudian mengambil tas peralatan dan memasukan persenjataan yang ia perlukan untuk Misi resminya sebagai Genin. Tidak terlalu menegangkan,hanya mengawal seorang Pria tua ke Negaranya. Lagipula misi-misi di luar desa sudah sering ia lakukan.

XXXXXX

Naruto menunggu hingga kedai Ramen itu sepi, Menunggu dan memperhatikan para pengungjung yang datang dan pergi. Ekspresinya perlahan jatuh ketika melihat kondisi kedai tersebut. Entah bagaiamana.. minggu demi minggu, para pengunjung mulai sedikit. Ia tidak perlu mengetahui apa yang akan terjadi. Namun, jika ia bisa melakukan sesuatu, tentu saja akan ia lakukan.

"Ah, Naruto-kun." Ayame dengan senyum ceria kemudian muncul dari balik meja, menatap Naruto dengan senang. "seperti biasa?"

"tentu saja.." Naruto menjawab dengan percaya dirinya. Tidak menunjukkan pemikirannya yang khawatir. Serasa baru menyadari sesuatu, Naruto menatap Ayame yang mulai menyiapkan Ramen pesanannya. Ayame, meskipun tidak selihai Ayahnya dalam membuat Ramen, namun entah mengapa rasa yang di buat oleh gadis itu serasa berbeda. Berbeda dengan arti bagus.

"Paman Ichiraku di mana?"

Ayame terhenti sebentar. Terlihat ragu-ragu...

"Ayah...ia sakit."

"apakah...parah?" Ia tidak tahu harus merangkai kata-kata, jadi ia menanyakan apa yang memang ingin ia ketahui.

"aku tidak tahu, Kata dokter; kesehatan tubuhnya semakin menurun."

Naruto mendengar suara sedih itu dan tatapan yang diberikan Ayame. Dirinya seperti orang dungu di sini.

Ayame yang mau-tidak-mau terpaksa membantu pekerjaan Ayahnya. Ibunya sudah meninggal...

..karena serangan Kyuubi.

Sekolah yang ia jalani juga tertunda karena hal ini. Ayahnya sudah mengatakan agar putrinya itu tetap melanjutkan sekolahnya, namun Ayame menolak dan malah ikut membantu bekerja di kedai Ramen, untuk meringankan beban Ayahnya.

"aku tahu, Ayame..." Naruto menghilangkan kata tambahan nama tersebut. "dan meskipun aku sangat berterima-kasih, tetapi sebaiknya, tolong...berhentilah mengirimkanku kebutuhan sehari-hari."

Ucapan itu membuat Ayame melebarkan pupilnya, dan pasti, namun perlahan, ia kemudian meringankan tubuhnya yang kaku.

"jadi...kau tahu?"

"aku tahu, dan aku ingin kau berhenti. Aku bisa membiayai kebutuhanku." Naruto menatap dengan lembut.."kau menggunakannya dari uang sakumu, bukan?"

Ayame tersenyum sedih.. "itu karena aku ingin melihatmu sehat, Naruto-kun."

"tapi mengorbankan kebahagianmu sendiri?"

"perlukah aku mencari alasan yang lain?" Tatapan Ayame seperti tatapan yang tidak pernah Naruto lihat. Pandangan yang membuatnya merasa aneh di dalam, perasaan dingin-hangat yang berganti dari tatapanitu membuatnya terdiam, membeku tidak bisa mengungkapkan kata-kata.

Naruto terdiam. Menatap tidak percaya. Bukankah gadis atau wanita se umur Ayame melakukan apa yang layaknya dilakukan? Berbelanja, mempercantik diri, dan hidup dengan sepenuhnya? Bagi orang yang memiliki kesejahteraan yang lebih tinggi, memberikan hal itu merupakan hal sepele. Namun bagi Ayame yang datang dari keluarga kurang mampu, tentu saja lain ceritanya.

Naruto kemudian mengambil sebuah amplop yang berada di tasnya, Dan memberikannya kepada Ayame..

"apa ini?"

"untukmu... atau juga untuk Paman, aku ingin membantu kalian juga. Pakailah uang itu untuk pengobatan Paman."

Dirinya tidak bisa mengungkapkan apa yang ia ingin katakan. Ia tidak bisa berbicara bagaiamana hatinya ingin mengekspresikannya. Hanya ungkapan kecil kata itu yang keluar dari bibirnya.

"tapi-"

"sekarang giliranku, Ayame-chan. Aku akan melakukan apa pun yang aku bisa untuk membantu orang yang kusayangi. Uang bukanlah hal yang penting dan berarti padaku. Jika ada seseorang yang lebih membutuhkannya, aku akan langsung memberikannya." Naruto terseyum.

"kau tahu...aku tidak pernah mengharapkan balasan darimu. Aku hanya ingin melihat engkau bahagia ...itu saja. Apakah itu sulit? Menerima apa yang kulakukan dengan senang hati?"

Tatapan itu...

Tatapan yang mulai dimengerti oleh Genin berambut kuning tersebut. Tatapan yang tidak menunjukan bagaimana seseorang Kakak melihat adik, atau seseorang melihat temannya. Tatapan sejajar, memandang meskipun dirinya lebih muda. Tatapan sejajar, tidak menatapnya sebagai anak kecil.

"apapun yang kau katakan, aku akan tetap memberikannya padamu. Jika aku tidak membantu kalian, sama saja aku Monster yang dibisikan oleh orang-orang.." Naruto tersenyum sedih, "tanpa hati. Aku ingin menunjukkan, bahwa aku juga bisa peduli..aku ingin memperlihatkan, aku juga bisa membalas budi.."

Ayame tidak bisa berkata apa-apa, menatap mata berwarna biru itu, merasakan kehangatan dan ketulusan yang diberikan Ninja tersebut. I

"terima kasih..." Ayame tersenyum, meskipun air mata terjatuh dan tenggelam di dalam kuah Ramen tersebut. Naruto hanya membalas senyum itu,

Dan hari itu...Naruto menyantap Ramen dengan rasa asin.

Rasa asin yang tidak ia permasalahkan.

XXXXKristoper21XXXXX

"kalian sudah siap?" Kakashi menatap murid-muridnya dengan tatapan biasanya. Mata setengah terbuka.

"siap."

"tentu saja!"

"hn."

Naruto tersenyum menatap Pria tua yang memegang botol Sake tersebut. Bersikap baiklah pada Klien. Motto utama Naruto dalam misi.

Meskipun bau nafas naga dan juga cara ngomong Pria tersebut membuatnya jengkel.

"mmm... aku tidak sabar berpetualang. Apa yang akan kita temukan? Melawan para Penjahat? Menyelamatkan Putri!? Dan juga tentu saja...mengkawal seorang Pria dengan perut sedikit buncit dan nafas naga." Naruto menaruh jarinya di dagunya "tapi tidak apa-apa. Ini hanya permulaan bagiku untuk menjadi yang terbaik."

"Bodoh. Bisakah kau diam?"

"Sasuke-kun benar. Naruto-baka kau hanya membuat keributan!"

Dan Pria tua yang dimaksudkan hanya meminum Sake-nya kembali. Merasa khawatir, marah atau tidak... Naruto tidak bisa membaca raut wajahnya karena mengetahui efek dari Sake.

Naruto menghiraukan tersebut. Tentu saja... karena hal tersebut tidak begitu berarti di telinganya. "ha...aku tahu kalian masih kesal dengan kejadian itu. Tapi itu kan sudah lewat dua minggu?" Naruto berkata dengan nada tidak bersalah.

"grrr! Gara-gara spidol itu, Wajahku penuh dengan coretan permanen! Dan butuh satu minggu untuk menghilangkan Coretan yang kau buat! Sasuke-kun pun tidak bis melihat lagi wajah cantik yang ia cintai."

"hn." Sasuke mengangguk dengan gaya Uchiha-nya. Dan tentu saja dengan alasan yang berbeda dengan Sakura. Ia tidak suka dengan gadis yang pengganggu dan mempunyai suara bagiakan banteng. Dan juga malu yang harus ditanggungnya ketika menerima sodokan di bokong tersebut. Meskipun merasakan sakit yang amat sangat. Namun entah mengapa...sensasi tersebut masih melekat di pikirannya,.

Naruto menaruh tangannya ke pundak Sasuke. Hal yang membuat Sasuke menatap ke wajah Genin idiot yang sayangnya menjadi rekan tim-nya.

"Sasuke, aku tahu ternyata kamu 'begitu'. Aku tidak akan memperlakukanmu dengan berbeda. Jenis apapun yang kau suka, aku akan tetap menjadi temanmu" Naruto mengangguk dengan sedih.."asalkan aku tidak menjadi incaranmu"

Sasuke mencoba menahan amarahnya. Hal ini bisa ia lakukan. Ledekan dan penghinaan yang dibuat Naruto pasti bisa ia tanggung. Bocah bodoh disampingnya ini membuatnya ingin menghancurkan sesuatu, Kesabarannya di tes disini! Ledekan dan nada bicara yang memperolok itu pasti akan ia balas. Secara resmi... Naruto masuk ke daftar orang yang harus ia bunuh. Tentu saja dengan Itachi di urutan no 1.

Perjalanan berlanjut sebagaimana mestinya. Tidak ada yang menarik selain jalan panjang, matahari terik...sesuatu yang di benci Naruto.

"oi, kamen Sensei, apa masih lama?"

"hm.."

"Paman naga, apa masih jauh?"

"...sebentar lagi, bocah kecil."

.

"hmm apa masih jauh."

.

"masih?"

"masih jauh?"

"masih jauh? Masih jauh?masih jauh?-"

*BLETAK!*

"demi tuhan, Naruto! Bisakah kau diam sebentar sajaaa!, jika Kita hampir sampai pasti Tazuna-san akan memberitahukan kepada kita!" Sakura melihat Sasuke dan nada suaranya yang kasar kemudian berubah menjadi lembut,"ya, kan Sasuke-kun?"

"hn. Lagipula mengapa kau mengulang pertanyaan yang sama? Kau seharusnya tahu kita masih dalam separuh perjalanan. Dan jika kita sudah dekat, tentu akan ada laut dan bunyi ombak yang terdengar." Sasuke mencoba berbicara, memberikan alasan kepada Naruto untuk diam. Kedua telinganya serasa sakit.

"hmm..bukan apa-apa. Aku hanya ingin membuat kalian jengkel. Bukan begitu, kamen sensei?"

"hmm..." Kakashi hanya menjawab dengan datar, dengan tatapan yang masih melekat sama buku bersejarah yang disebutnya porno. Namun meskipun begitu, Kakashi memerhatikan Naruto dari misi ini di mulai. Mencoba mencari sesuatu...

Dan juga matanya tidak lepas dari pandangan genangan air yang berada puluhan meter dari tempat mereka berada. Ia sudah merasakan kehadiran orang yang menunggu untuk menerjang. Namun, matanya kembali melihat ke tiga Genin muridnya. Memutuskan untuk mencoba sesuatu, semenjak musuh yang akan di hadapi hanya sekelas Chunin rendah.

"awas!"

Kakashi kemudian menerima serangan yang diberikan oleh kedua Ninja tersebut, dan langsung melayang belasan meter menuju rimbunan pohon.

"jangan tersinggung, bocah. Ini hanya hari sialmu!"

Sakura tidak bisa bergerak, melihat senjata dan kedua Ninja yang tiba-tiba menyergap mereka. Mencoba berteriak diri, namun tubuhnya menolak untuk bergerak. Gemetar. Tidak bisa berbut apa-apa. Kakinya serasa ingin jatuh. Matanya mencoba mencari Sasuke, dan ia melihat lelaki pujaanya yang mencoba melawan. Ia harus kuat...

Dengan mengambil sebilang Kunai. Ia muncul di depan Tazuna yang ketakutan. Dan memasang sikap siaga..

Naruto?

Hanya diam menatap Ninja berbadan besar itu yang datang. Sakura ingin berteriak memperingatkan Naruto, Meskipun ia tidak suka dengan sifat Naruto, namun ia tidak akan membiarkan rekannya mati begitu saja!

"...bosan."

Dan Naruto menghilang dengan seketika sesaat Rantai panjang dihiasi Shuriken hampir mengenainya.

Mata Gozu melebar.

"jangan tersinggung... karena ini juga hari sialmu." Naruto mengulangi ucapan itu. Tangannya yang sudah dalam posisi jemari yang rapat.

Gozu tidak bisa bergerak lagi. Refleksnya tidak secepat itu untuk menangkis serangan mendadak yang berada dari kepalanya. Terakhir kali yang dilihatnya adalah Darahnya sendiri yang membasahi langit..

Kepala itu jatuh dan berguling di permukaan tanah. Tubuh yang masih berdiri akhrinya kehilangan pengendali dan juga jatuh mengikuti Kepala pemiliknya ke tanah. Darah yang menyemprot dengan keras bagaikan air mancur, dan kemudian menggenangi Mayat segar tersebut..

Naruto melihat darah yang membasahi tangannya. Darah hangat. Dan menggoyangkan tangannya, mencoba menghilangkan darah yang menempel pada jari-jarinya.

"Kakak! Kurang ajar!

Sasuke mencoba menahan tekanan yang diberikan oleh Ninja yang lebih besar darinya, Namun matanya tidak melihat tangan Meizu yang memiliki sarung tangan besi, pukulan keras ke wajah di terima Sasuke akibat sisi tumpul dari serangan. Mungkin itu karena kesalahan diri, karena konsentrasi yang hampir buyar saat melihat pembunuhan secara langsung di depan matanya.

Meizu berlari dengan cepat, tangannya berada di udara. Ia akan membunuh Bocah tengil yang telah membunuh satu-satunya keluarganya yang tersisa!

Naruto bertumpu pada tumit kaki kirinya dan kemudian memutar ke arah kanan. Menghindari serangan Meizu yang cepat. Meizu yang tidak ambil diam juga berputar dan mengambil Kunai dari Kantongnya.

*TRINGGG!* kelima jari Naruto dengan mudah memotong besi tersebut. Dan kemudian mengubah pergerakannya dengan cepat. Naruto menendang tangan Meizu dengan keras ke atas. Dan kemudian melompat dari permukaan tanah. Dan menggunakan tekanan yang diciptakan dengan gerakannya untuk menendang perut Meizu.

"..lamban."

Naruto mengayunkan tangan kanannya. Seperti kasat mata akibat kecepatannya. Meizu menutup matanya. Dan...serangan itu tidak datang.

"sudah cukup Naruto!"

Naruto menatap sebentar Meizu, yang memiliki tatapan takut. Terror. Terbukti dengan pupilnya yang seperti gemetar. Dan kemudian ia melirik pergelangan tangannya, yang dipegang dengan kasar oleh Kakashi.

"oke...sekarang bisakah kau melepaskan pergelangan tanganku? Itu sakit...tau" Naruto menghentikan tekniknya.

Kakashi menatap Naruto di mata sebentar, dan kemudian melepaskan genggaman tangannya terhadap Naruto. Kakashi kemudian melihat keadaan Sasuke dan Sakura. Mereka tidak bergerak, padangan masih di tubuh yang telah jatuh tersebut. Air mata yang keluar dari Sakura juga tidak membantu, sedangkan Sasuke, hanya diam, tidak bergerak, menatap Naruto.

Tentu saja, ini adalah pembunuhan pertama yang dilihat oleh Genin seperti Sakura, sedangkan Sasuke, ini adalah kesekian kalinya orang mati di depannya.

"ba,bagai-mana...bisa... bagaimana bisa kau membunuh orang begitu saja!?"

"Sakura.." Kakashi mencoba menjelaskan. Namun Naruto memotong terlebih dahulu...

Sedangkan Meizu tidak bergerak, berlutut, serasa menerima takdirnya.

"jadi mengapa, aku membunuh orang? Apa kau takut~? Mengapa kau tidak pulang saja, dan mewek sama Ibu tercintamu? Lagipula apa yang harus kulakukan, menerima serangan dari orang itu, dan mati konyol? Tentu saja tidak"kini Naruto yang membalas dengan kesal.

"tapi, membunuh bukanlah segalanya!"

"Sakura, cukup! Ini bukan saatnya kalian bertengkar seperti anak kecil! Kau benar, membunuh bukanlah segalanya, namun membunuh terkadang diperlukan akibat profesi kita. Suatu saat kau juga akan membunuh seseorang... dan itulah kita sebagai Ninja.." Kakashi menatap gadis berambut merah muda itu dengan tatapan sedih. Dan kemudian ia melirik Naruto,

"dan Naruto, cobalah untuk berpikir rasional. Kita harus mengetahui mengapa kita diserang. Dan cara terbaiknya adalah mendengar langsung dari penyerangnya langsung. Dan tentu saja...hidup."

Naruto menatap Kakashi di mata. Waktu terlewat..

"oke... aku mengerti. Sepertinya aku memang harus banyak belajar." Naruto mengurungkan niatnya dan mundur. Membiarkan Kakashi mengurus Ninja dengan lambang Kiri tersebut.

"Dan sekarang, mulailah bicara...atau tidak, kau akan menerima takdir yang sama dengan saudaramu." Suara Kakashi dingin bagaikan es. Namun ini merupakan hal yang memang harus dilakukan oleh harus menunjukan kepada Muridnya bagaimana Ninja bekerja di seluruh Desa.

Dan Meizu hanya mengangguk, menatap takut terhadap Naruto yang bersandar di pohon.

XXXXXXXX

"Tazuna-san, kau tahu apa yang kau lakukan ini sangat berbahaya..." Kakashi memulai dengan serius, menatap dengan satu matanya terhadap Pria yang pada saat ini tidak nyaman.

"kau menyewa jasa Desa kami dengan informasi yang palsu, yaitu hanya untuk mengawalmu kembali, dengan bahaya standar yaitu bandit dan di klasifikasikan sebagai Misi kelas C. Namun musuh yang di hadapi Genin ku sudah jelas merupakan Ninja dengan kelas di atas mereka. Seharusnya kami menahanmu karena aksi ini, dan membatalkan misi ini demi keselamatan Genin Konoha."

Tazuna hanya tersenyum sedih..

"kau tidak mengerti... Ombak saat ini sudah di ujung tanduk. Uang sepeser pun kami tidak punya lagi. Aku ke konoha dengan uang yang ku kumpulkan selama 4 tahun, berharap kalian mempunyai belas kasihan pada kami dan tempat kelahiran kami. Kami tidak bisa berbuat apa-apa, kami bukan Ninja. Pada awalnya aku mengira ninja yang akan ku sewa adalah kelas yang cukup untuk membebaskan kami, namun sepertinya kami salah. Kau tahu? Wanita, dijadikan pelacur, anak-anak mati kelaparan dan kami tidak bisa mengandalkan satu pun. Aku kira Konoha merupakan Desa Ninja yang mempunyai Moral tertinggi...kurasa aku salah" Pria itu menitihkan air mata... "kalian boleh pergi, tinggalkan aku dan Desa kecil kami yang akan mati..."

Kakashi melihat ketiga muridnya,

Sakura serasa hendak menangis setelah mendengar cerita memilukan itu. Dan tatapan mohon yang di berikan gadis kecil itu.

Sasuke? Meskipun tidak menunjukannya, namun sepertinya ia ingin melanjutkan misi ini.

Naruto? Tatapan 'terserah padamu'

Kakashi mengingat kembali informasi apa yang diberikan oleh Meizu. Gato...

Merupakan Pebisnis yang terkenal di seluruh penjuru, baik itu kekayaan maupun keburukannya. Tentu saja dirinya bisa menyelesaikan misi ini dengan waktu yang singkat. Dengan begini, misi yang mereka jalani akan naik ke kelas B. Dengan tingkat bahaya yang cukup tinggi.

"kita seharusnya menerima Misi ini, Kakashi-sensei." Kakashi dengan seketika menetap pemilik suara itu. Akhirnya setelah berminggu-minggu, Naruto telah melepaskan julukan nama itu.

"kau tahu bukan, jika kita menyelesaikan misi ini, keuntungan akan datang ke Desa kita. Mengingat Ombak merupakan pelabuhan pelayaran yang terkenal dan juga Gato sang tiran. Hartanya yang berlimpah tentu saja akan terbagi ke para penduduk dan juga profit yang telah dibuat Gato secara otomatis akan terbagi ke Desa kita. Bukan begitu?"

Kakashi terdiam. Menatap Naruto yang mempunyai wajah serius pada saat ini. Terkadang ia lupa siapa bocah yang didepannya. Mungkin itu karena sikap konyol yang selalu ditunjukan Naruto beberapa minggu sebelumnya. Ia hanya berpura-pura. Membiarkan orang melihat sikap konyolnya dengan tujuan menghilangkan rasa ingin tahu orang akan kebenarannya, membiarkan orang mengetahui dirinya ber otak dangkal untuk meremehkan dirinya dan menganggapnya enteng. Seperti tidak ingin dianggap Membuat orang mengenal kepribadian palsu...

"Naruto-"

"Sakura, kita Ninja. Bukan Biksu! kau tidak perlu mengatur bagaiamana seseorang berpikir. Ambil cermin dan lihat dirimu sendiri, sebelum kau mengatai orang lain! Tidak bisakah kau mengerti?"

Kakashi hanya melihat perdebatan kedua muridnya dengan diam. Pikirannya pun kembali kepada informasi yang telah diberikan oleh Meizu. Salah satu Pendekar Pedang Kabut. Zabuza...

"baiklah. Kita akan melanjutkan misi ini. Namun..." Kakashi kemudian membuat segel tangan dan menaruh telapak tangannya ke permukaan tanah. Asap kecil muncul dan begitu juga bentuk sesuatu. Sebuah anjing kecil dengan tatapan bosan.

"kakashi... tumben kau manggil" Anjing itu kemudian menggaruk telinganya dengan kaki kanannya. Dan kemudian melihat sekelilingnya.

"tolong berhenti melihatku seperti itu, aku tahu aku ini imut. Tapi jangan terlalu lama melihatnya, nanti kau akan membuatku malu.." Pakkun berbicara dengan nada percaya diri sambil melihat Sakura yang saat ini menganga dengan lebarnya sambil menatap Anjing yang berbicara. Ya... anjing yang bisa bicara.

"Bagaimana mungkin!? Aku tidak pernah mendengar ada Anjing yang bisa bicara!" Sakura berteriak dengan tidak percaya.

"aw.. suaranya merusak pendengaranku." Pakkun mengeluh.

"Pakkun, aku ingin kau memberikan ini kepada Hokage kita." Kakashi memberikan Gulungan perkamen yang berisikan permintaan bantuan.

"tapi kau berhutang padaku, Kakashi. Ingat tulang yang kita bicarakan.."

"hmm...aku nggak janji."

"kalau tidak, aku akan membawa Bull untuk menjadikan koleksi pornomu sebagai tempat Pup kami yang baru."

"aku janji"

Pakkkun dengan puas mengambil gulungan yang diberikan Kakashi dan kemudian menghilang dengan asap.

"ah...terkadang aku tidak mengerti dengan cara berpikir Anjing. Lagipula...mengapa mereka suka tulang?"

Pertanyaan yang di utarakan Kakashi tidak ada yang menjawab. Mungkin karena terlalu tidak penting.

"ingat, Sakura, Sasuke dan...Naruto. Ini adalah misi yang berbahaya. Aku mengharapkan kalian tidak terlalu gegabah dengan misi ini. Dan jangan pernah ragu-ragu untuk melakukan sesuatu...jika tidak, kalian akan mati. Kalian yang memutuskan hal ini, namun aku ingin kalian mempersiapkan diri. Dan gunakan kemampuan kalian secara penuh..."

Kakashi kemudian mengambil buku kecil dan menuliskan sesuatu.

"ok, baiklah... formasi Diamond."

Formasi diamond. Formasi yang ditujukan untuk melindungi seseorang dengan posisi Klien di tengah dan dilindung dengan bentuk berlian.

Para genin itu dengan anggukan melakukan apa yang diperintahkan Kakashi.

Perjalanan dilakukan dengan diam. Tidak ada satupun yang berbicara. Sasuke terkadang melihat Naruto. Tidak terasa tangannya telah menjadi kepalan tinju. Cemburu...cemburu akan kekuatan yang dimiliki Naruto. Cemburu akan betapa mudahnya Naruto melawan Ninja yang hampir membunuhnya. Mengapa..mengapa dia lebih kuat? Apa rahasianya!? Apa yang membuat Naruto lebih kuat darinya!?

Ia sudah melakukan semua yang bisa ia lakukan untuk meraih kekuatan. Latihan setiap hari hingga tubuhnya menyerah. Belajar semua yang ditinggalkan Klan-nya. Ia melakukan semuanya dengan kerja keras!

Tapi mengapa Naruto? Naruto yang selalu ia lihat bermalas-malasan. Selalu bersikap konyol..

Dan kini ia ingat kembali. Kembali saat perkenalan sesama Rekan tim. 'aku suka berlatih...' dan juga Tes itu...

Apakah dirinya kurang berlatih? Apa masih kurang? Masih kurang kah semua yang dilakukannya selama ini? Kalau begitu...apa yang harus di lakukan.

"Naruto..."

"hm?" Naruto melihat dari samping pundaknya. Melihat Sasuke dengan tatapan bertanya..

"jika misi ini selesai...aku ingin... aku ingin bertarung denganmu." Suara itu penuh akan percaya diri. Keseriusan yang telah dibuat oleh tekad yang berada di dalam dirinya. Dirinya seorang pendendam. Pendendam yang ingin mengetahui sampai mana batasnya? Jika ia tidak bisa menang dari Naruto yang memiliki status Genin yang sama dengannya...bagaimana bisa ia mengalahkan Itachi yang jauh dari kata lemah!?

"mengapa? Nanti bokongmu ku tendang lagi. Dan Sakura pasti akan komplain..."

"hn. Seperti kau bisa. Aku ingin mengetahui di mana aku berdiri pada saat ini.. aku ingin mengetahui sampai mana aku berada.."

"lihat saja nanti. Aku tidak janji."

"hn."

Sasuke kemudian melihat sekitarnya...

Entah mengapa semakin jauh ia melihat, semakin pekat kabut yang berada di sekitarnya. Padahal tadi cuaca masih cerah. Namun mengapa sekarang di penuhi kabut.

Ia kemudian melihat Kakashi. Berharap bertanya sesuatu. Namun dari tatapan mata yang diberikan Kakashi kepada sekitarnya. Sudah jelas, ini bukanlah sesuatu yang alami. Sesuatu menunggu mereka di sini. Naruto? Meskipun tidak terlihat terlalu merasakan keadaan sekitar, namun Sasuke tahu dari postur tubuh yang diberikan Naruto. Postur tubuh yang siap menyerang jika bahaya mendekat.

Sakura?

Sasuke hanya menghela nafas. Sepertinya ia terlalu berharap berlebihan pada perempuan yang menjadi satu timnya.

"dan...selamat datang di Jembatan yang ku buat. Menakjubkan bukan?" Tazuna berkata dengan nada bangga terhadap masterpiece yang telah ia bangun selama bertahun-tahun. Meskipun penderitaan yang harus diterimanya dan penduduk yang meninggali tempat tersebut.

"Sasuke, jika kau mendengar aba-aba dariku...menunduk secepat mungkin."

Sasuke mendengar apa yang dikatakan Naruto. Suaranya kini penuh akan keseriusan. Nada Naruto lebih berat. Dan juga mata yang tajam yang melihat dirinya. Serasa akan memangsa buruannya.

"Menunduk!"

Dengan seketika Sasuke menunduk dan membawa Tazuna ke permukaan lantai jembatan.

Tangan Naruto bergerak dengan cepat, memegang kerah baju Sakura dan membawa perempuan itu kepermukaan tanah dengan kasar. Meskipun itu tercipta akibat situasi yang mereka hadapi.

Mata Naruto menajam. Dengan refleks yang ia miliki, tangannya pudar di tebalnya kabut.

*SRIITTT!*

Fuma Shuriken yang hampir pada awalnya tertuju pada kepala Tazuna kini telah terpotong dan terlempar ke dua arah yang berbeda.

.

.

"keputusan yang bagus, Naruto. Mengutamakan keselamatan Klien dan memberikan peringatan kepada Rekan tim akan bahaya yang datang." Kakashi menatap Naruto sekilas dan kemudian menatap jauh di kabut yang memenuhi jembatan.

"hehehehehe! Aku tidak menyangka..." Suara bergema dari segala arah, memenuhi pendengaran Para Ninja Konoha. Sakura menutup telinganya. Merasakan betapa kejam dan beratnya suara tersebut. Bagaikan suara Iblis yang ia tonton di Televisi.

"bahwa Hatake Kakashi yang akan kuhadapi. Hatake Kakashi...atau yang lebih terkenal; Sharingan No Kakashi?"

Kakashi tidak berpengaruh akan tekanan dan Killer-intent yang memenuhi udara. Ia tertawa halus. Serasa menganggap situasai yang dihadapinya tidak menegangkan.

"Momochi Zabuza...aku juga tidak menyangka, Salah satu pendekar pedang yang terkenal akan menjadi lawanku." Kakashi kemudian mengubah nadanya bagaiakan memperolok "Namun, aku tidak menyangka, jika orang dengan reputasi seperti dirimu telah jatuh dengan rendahnya, sampai mau menjadi Preman bayaran orang seperti Gato."

"Ha, kau pikir aku peduli akan itu. Harga diri hanyalah suatu kebodohan yang akan membuat seseorang mati terlebih dahulu. Jika demi keberhasilan apa yang kukejar. Menjadi pesuruh pun akan kulakukan"

Kini bayangan samar-samar terlihat dari kejauhan. Dan Kabut yang tadinya cukup tebal menghilang sedikit, dan membuat para Genin dapat melihat sosok yang akan mereka hadapi.

Zabuza hanya melihat Kakashi. Tidak memperdulikan bocah yang ia bawa. Zabuza membawa pedang besarnya kearah Kakashi...

"berikan Pak tua itu, dan tidak akan ada yang mati...tentu saja kecuali pak Tua itu."

"oh...sayangnya aku tidak bisa melakukan itu, karena Ia merupakan Klien-ku."

Zabuza menyeringai dari balik perban yang menyelimuti wajah bawahnya. "maka kau harus menerima konsekuensinya..." Zabuza kemudian membuat segel tangan," dari dahulu, aku ingin mengetes kemampuanku melawan orang sepertimu, Kakashi."

"oh, begitukah? Sayangnya aku tidak berpikiran sama denganmu."

"cukup basa-basinya, aku akan menyelesaikan ini dalam 5 menit" dengan begitu, kabut yang berada di sekitar mereka kembali menebal. Membuat penghlihatan terbatas bagi pandangan mata.

"Kalian bertiga, waspadalah dengan sekeliling kalian. Perhatikan dan bergerak cepat. Karena yang kita lawan saat ini adalah orang yang berbahaya!"

Sakura yang meskipun gugup akan apa yang dikatakan Kakashi, namun menguatkan hatinya, dan mengambil kunai. Memasang sikap bertahan di depan Tazuna. "aku akan melindungimu, Tazuna-san."

Tazuna ragu akan perkataan itu. Namun tetap menganggukan perkataan gadis kecil itu. Ia harus mempercayai nyawanya.

Sasuke juga tidak ambil diam. Ia bersiap, Bersiap menerima serangan dari berbagai arah. Kakinya terbuka lebar dan postur tubuhnya mengeluarkan aura yang berteriak; aku siap! Serang dari mana saja, maka akan ku balas!

Dirinya gemetar, gemetar bukan karena ketakutan. Gemetar karena perasaan yang meluap, karena akan menghadapi musuh yang kuat. Ia memberikan tatapan sekilas pada Kakashi yang pada saat ini telah menunjukkan mata merahnya. Mata Sharingan yang pada saat ini belum ia miliki. Ini bukan saatnya membahas masalah seperti itu!

Naruto hanya mengobservasi sekitarnya dengan kewaspadaan tinggi. Kiragakure No jutsu... jurus yang membuat lawan kehilangan kegunaan penglihatan, lebih mengandalkan indra perasaan, telinga, dan kordinasi refleks yang benar. Orang yang panik akan kehilangan kegunaan matanya, maka akan cepat kalah dalam pertarungan seperti ini. Namun jika orang yang telah melatih indra lainnya selain mata, akan mampu bertahan dan bertarung dengan kondisi yang sama.

Naruto dengan diam-diam mengambil Fuin yang telah ia siapkan jauh harinya. Fuin yang sama ia gunakan pada saat Tes Genin. Dan menebarkan di sekitarnya. Dengan harapan akan bekerja seperti yang telah ia pikirkan.

"Naruto! Menghindar!"

Naruto melebarkan matanya. Dan dengan waktu yang tepat, menghindari sabetan dari Pedang raksasa itu. Matanya hanya berada 2 cm dari bagian pedang tersebut. Ia bisa melihat kedua mata yang ia miliki dari cerminan pedang tersebut. Hampir saja, ia terlalu gegabah.

"kau mempunyai refleks yang hebat, nak. Sayang sekali, namun kau tak akan dapat mengembangkannya kembali"

Zabuza kembali mengayunkan pedang raksasa miliknya, Menggerakan layaknya mainan yang ringan. Naruto dengan serius, dan hati yang tenang, mulai menghindari serangan demi serangan yang diberikan Zabuza. Meskipun begitu, ia tidak keluar dengan selamat, dibagian pipi dan sebagian bajunya robek akibat sayatan tersebut. Meskipun tidak dalam, namun itu tentu saja akan meningkatkan detak jantungnya, akibat dari pengalam hampir mati yang ia hadapi.

Kakashi kemudian muncul dan juga mulai melawan Zabuza dengan Taijutsu. Menghindari dan menangkis menggunakan sebilah kunai. Naruto kagum. Kagum terhadap Kakashi yang mampu menahan pedang besar itu menggunakan kunai. Meskipun tekanan yang diberikan berbeda jauh.

"ha, kau mempunyai Murid yang pecundang, Kakashi. Dia hanya bisa menghindar!"

"lebih baik daripada mati konyol meskipun sudah mengetahui apa yang bisa dilakukan musuh. Aku hanya melakuan menurut kemampuan yang kukuasai. Hanya orang idiot yang melawan musuh yang jelas lebih kuat daripada dirinya tanpa mengetahui konsekuensi apa yang ia lakukan" Naruto membalas dengan mengeraskan rahangnya.

"ha... kata-kata yang bagus, Nak. Kau mempunyai potensial. Berbeda dengan Ninja sekarang yang terlalu panas kepala." Zabuza memuji sambil membalas serangan Kakashi.

Perhatian Zabuza kembali pada Kakashi. Senyum menyeringai kembali menghiasi wajah perbannya.

"Matamu tidak berguna di sini Kakashi. Di dalam kabut, aku adalah musuh yang hanya ada dalam mimpi burukmu!"

"...sayangnya aku tidak pernah mimpi mengenai dirimu. Seingatku, aku kemaren bermimpi tentang gadis-gadis cantik yang tidur denganku."

"hehehehe!" Zabuza kembali menghilang dalam kabut. Sunyi tanpa suara.

"Naruto, Sasuke! Jaga belakangku." Kakashi menatap kedua muridnya yang dalam kondisi siap.

"baik."

"hn."

Naruto menatap sekelilingnya. "Sensei, apa kau mempunyai rencana?"

"sedang kupikirkan. Zabuza merupakan musuh yang berbahaya dan memiliki kekuatan yang cukup mengerikan. Kita tidak bis lengah sedetikpun pada saat seperti ini"

Naruto mengusap darah yang muncul dari pipinya, bekas dari pedang yang hampir menyabet kepala miliknya. "kau benar."

Naruto meluruskan masing-masing jarinya. Baik tangan kiri atau kanan. Aksi yang tentu saja tidak terhindar dari pandangan Kakashi maupun Sasuke.

"dia datang!"

Naruto bergerak dengan kecepatan melebihi manusia. Matanya mencari targetnya, dan kemudian melakukan manuver menurut gaya bertarung yang ia ciptakan beberapa tahun yang lalu.

Jantungnya bekerja semakin cepat, tempo nafasnya semakin bergerak lebih dari normal. Pedang itu datang...

Namun Naruto dapat melihatnya, Gerakan lambat bagaikan bayangan. Naruto mengambil langkah kesamping. Dan mendorong sisi tumpul pedang tersebut denga telapak tangannya.

Melihat pergerakan kaki. Naruto langsung bergerak dengan cepat, menggunakan tangan kanannya untuk mengganti arah dari serangan lutut tersebut. Menggunakan kekuatan lawan untuk menyerang lawan.

"cih!" Naruto kemudian menggunakan tangan kirinya yang bebas setelah menyingkirkan arah pedang dan berusaha memotong perut Zabuza. Namun Zabuza tidak semudah itu untuk dikalahkan. Ia telah menyadari serangan itu, dan menggerakan pingganya beserta kakinya untuk menyingkir. Namun ia juga tidak bebas dengan sempurna.

Goresan kecil tercipta di bajunya kemudian permukaan kulitnya. Dan darah keluar...

"ughkk..." Zabuza menahan sakit sambil melompat menjauhi anak tersebut. Ia melihat perut sebelah kirinya. Lukanya cukup dalam, namun tidak cukup untuk membuat luka yang fatal.

Nafas Naruto semakin memberat, ia tidak menyangka untuk menggunakan teknik itu akan membakar tenaganya lebih cepat. Teknik yang seperti memperlambat waktu, namun sebenarnya mempercepat kerja otak dan tubuh se-maksimal mungkin. Hingga bisa melihat dengan detail seluruh pergerakan yang diterima otaknya.

"seorang Genin? Berhasil memberikan luka padaku. Hebat sekali. Aku kagum..."Zabuza berbicara dengan tawa iblisnya. Menghiraukan rasa sakit yang masih ia rasakan. "oh, Kakashi, aku tidak menyangka kau mengajari murid seberbakat dia."

"oh, haruskah aku terpuji?" Kau salah Zabuza. Kakashi tidak tahu siapa yang mengajari Naruto hingga seperti ini. Pergerakan itu, pergerakan teknik dari suatu gaya bertarung. Tidak menghabiskan tenaga, namun memiliki efisiensi yang tinggi. Semakin kuat kau menyerang, semakin kuat juga balasan yang akan kau terima.

Kakashi juga mulai merasakan efek dari penggunaan Sharingan. Energi dan Chakranya mulai berkurang dengan cepat. Jika dirinya bertarung lebih lama lagi, maka tubuhnya akan kalah dengan sendirinya.

Zabuza dengan cepat dalam posisi bertahan. Dengan pedangnya bertindak sebagai pelindung. Dan ia melihat mata biru yang dingin tersebut. Zabuza bertahan menangkis tekanan dari tendangan kaki kanan Naruto. Namun Naruto yang mengetahui tekanan yang ia berikan belum cukup, kemudian menggunakan kaki kirinya menambah tekanan. Pedang tersebut bergetar begitu juga tangan Zabuza yang berusaha menahan tekanan tersebut.

"Cih!"

Sasuke muncul dengan cepat, melayang di udara dan juga mengelurkan kakinya. Membantu Naruto.

Zabuza yang tidak bisa menahan tekanan tersebut, akhirnya terlempar melewati Jembatan dan jatuh ke laut. Namun Zabuza berputar di udara dan mendarat di air menggunakan chakra yang telah sebelumnya ia kirimkan pada kedua kakinya.

Naruto yang melihat Sasuke hampir jatuh kemudian menarik kerahnnya kebelakang.

"Naruto!" Sasuke melihat kebawah. Namun dengan takjub ia melihat Naruto yang juga mendarat di permukaan air dengan sempurna seperti Zabuza.

Sasuke tidak turun. Karena dirinya tidak tahu harus bagaimana. Di satu sisi ia melihat dengan iri di saat Naruto mengetahui teknik yang belum ia kuasai. Di sisi lain, ia mengerti bahwa pertarungan yang ia hadapi belum mencapai levelnya.

Setidaknya Tazuna aman untuk sementara. Mata Sasuke juga melihat bayangan yang melintasi matanya. Yang ternyata adalah Kakashi yang mengikuti Naruto dan mendarat di air di samping Naruto. 'sial, aku tertinggal'

Sementara di permukaan Laut, yang bergelombang dengan hebat.

"aku meremekan kalian. Ternyata pak tua itu menyewa tim yang mampu membuatku serius." Zabuza kemudian membuat segel dengan kecepatan tinggi.

"suiton: Daibafuku no Jutsu!"

Air laut menderu-deru dari belakang Zabuza. Bagaikan di angkat oleh gravitasi dan kemudian membentuk tinggi. Dan jatuh bagaikan air terjun raksasa.

"Naruto, menghindar!"

"bagaiamana kita bisa menghindar Tsunami, hah!" Naruto membalas dengan sarkastik.

Zabuza melihat Naruto yang jauh di bawa arus. Dan tersenyum sinis. Satu masalah sudah selesai. Sekarang tinggal Kakashi...

"Naruto!"

Zabuza menghindar serangan yang hampir datang. Dan menangkis menggunakan kaki ataupun sisi pedanganya.

Zabuza melompat dan membuat segel tangan dengan kecepatan tinggi. Hal yang sama juga dilakukan oleh Kakashi

"Suiton: Suiryudan no Jutsu!"

"Suiton: Suiryudan no Jutsu!"

Naga air tercipta dengan cepat dan saling menuju masing-masing lawan. Naga air itu saling bertabrakan, mencoba memberikan tekanan siapa yang paling kuat. Namun, kekutan naga air itu sama dengan yang digunakan Kakashi. Dan pada akhirnya, jatuh bersamaan. Membuat Kakashi dan Zabuza dan basah secara bersamaan akibat jurus mereka yang sama-sama jatuh.

"cih, berhenti meniruku Monyet!"

"cih, berhenti meniruku Monyet!"

Sementara itu dengan Naruto...

Ia tidak tahu...entah mengapa nafasnya serasa sesak, entah mengapa ia tidak bisa menarik nafasnya kembali.

semakin dalam,

semakin dalam.

Ia tidak bisa melihat lagi permukaan yang ia cari. Apakah ini akhir hidupnya?

Membosankan...

Tentu saja ia tidak akan kalah begitu saja. Orang akan menertawakan dirinya..

Namun entah mengapa hal itu susah. Dan saat mencoba meregap keatas langit. Mencoba mengulurkan tangan...

Namun tidak ada yang meraihnya...

Ya...dirinya sadar.

'Karena itu, mati hanya untuk orang pecundang! Orang yang patah semangat. Dan aku bukan dari bagian lemah itu! Hidupku terlalu singkat untuk omong kosong seperti ini!' Naruto berusaha menguatkan badannya 'tidak akan ada yang membantuku! Karena itu, aku harus bisa berdiri dengan kakiku sendiri!'

"Uagkk!"

Dan Naruto membuka matanya. Mata biru dengan sinis, berganti menjadi merah.

"bunuh!"


Banyak memang yang komplain karena saya jarang update. Tapi sebelumnya, saya ingatkan... cerita saya ada banyak. Dan juga waktu saya Cuma sedikit untuk menulis. Kalian kan tahu ini mau dekat UN.

Karena alasan itu, paling tidak cerita akan update 1 bulan sekali, atau bahkan bisa lebih. Namun yang lebih dari satu bulan akan saya jamin berkualitas dan juga panjang.

Review. Dengan review anda saya akan merasa cerita ini dihargai, dan juga waktu yang saya gunakan berguna. Meskipun saya menulis di sela Les. Dan bimbel lainnya. Dan katakan, mana cerita yang kalian pengen banget saya update...

Apakh itu Mask of Anbu? Atau Ninja DxD? Atau juga cerita lainnya?

Dan sekian.

Kristoper21 out~

Review

VVVVVV

VVVVV

VVVV

VVV

VV

V