Ohayo, minna kembali lagi di fic buatan sahabat author. Gomen jika updatenya lama soalnya sahabat author sudah sibuk sekarang.
Baiklah silahkan membaca...
Chapter 10
Hinata tidak tahu dimana ia sekarang, yang ia rasakan hanya pening dan yang ditutup membuatnya buta dengan keadaan sekitarnya. Satu-satunya yang ia bis rasakan hanya sakit dipergelangan tangan dan mata kakinya. Sakit, perutnya ikut merasakan sakitnya. Dan saat itu Hinata mulai panik. Ia menggerak-gerakan kakinya hingga menimbulkan suara cukup gaduh untuk mengundang seseorang untuk menghampirinya.
Sekarang telinganya menangkap suara derap kaki mendekat
"Kau sadar, heh?" ucapnya. Suaranya berat dan sedikt menakutkan.
Tak lama mata bulan Hinata menangkap cahaya menusuk ke korneanya. Silau, dan mata indah wanita itu belum terbiasa.
"Lihat siapa yang terikat disini" kata salah seorang pria.
Disana ada sekitar 3 pria dengan pakaian srba hitam. Pria tadi menyeringai menampilkan gigi-giginya yang terlihat tajam.
"Apa kau kelaparan, nona?" tanya yang lain. Kali ini pria dengan rambut kuning dikuncir.
Hinata menatap mereka satu-satu, tak ada yang dikenal oleh Hinata. Oh, tentu saja Hinata tidak kenal mereka kan penculik. Mereka terus memaksa Hinata untuk bicara. Namun naluri ibu hamil tersebut memintanya untuk diAM. IA MERASA TAK TERLALU PENTING DENGAN ORANG-ORANG INI.
"Hei, kau sama sekali tak pernah diajari sopan santun oleh suami polisimu itu yah? Kalau ada yang bicara tatap dia" seru salah seorang pria, namanya Hidan kalu Hinata tidak salah dengar. Pria itu yang ia ingat sebelum tak sadarkan diri.
"Karena kalian bukan hal penting" gumam Hinata pelan namun sayang masih bisa didengar mereka.
"Kau bilang apa?"
Salah satu dari mereka mencengkram leher Hinata hingga wanita itu mengerang kesakitan.
"Hentikan Kisame..."
Suara penuh wibawa dan keangkuhan itu berasal dari ambang pintu ang entah sejak kapan terbuka lebar, menampakkan seorang pria paruh baya dan wanita muda dibelakangnya.
"Tuan!"
Mereka bertiga membungkuk hormat pada orang itu. Sedangkan si pria paruh baya hanya mengibaskan tangannya, memberi sinyal agar pria-pria tadi keluar dari sana. Dam mereka segera menuruti permintaan tuannya.
Masih dengan gaya tinggi hatinya pria paruh baya tersebut_Tuan Shiroshima_ mendekat kearah Hinata yang masih lemas dikursinya.
"Masih berpikir kau akan selamat nona?"
Pria tambun tersebut bertanya sembari megangkat dagu Hinata dengan ibu jari dan telunjukya, membuat Hinata bisa dengan jelas melihat dirinya dan wanita muda yang masih berdiri dibelakangnya. Shion.
"Bagaimana, tak bertemu dengan ayahmu beberapa ulan ini? Apa kau rindu? Kalau kau rindu dengan senang hati aku akn mengirimmu ketempatnya"
Tuan Shiroshima menatap Hinata penuh kebencian. Naun lain dengan Shion, sorot matanya tak bisa diartikan. Bisa sedih, marah, kesal dan lainnya. Tangan besar Tuan Shiroshima merambat menuju helaian lavender hinata, dan dalam sekali tarikan ia membuat kepala Hinata terdongak.
"Ini. Ini balsanmu karena telah berurusan dnegan kami!" ucapnya penuh emosi menatap Hinata tanpa belas kasih.
Tuan Shiroshimapun menghempaskan wajah Hinata, membuat sebagian rambut Hinata menghalangi paras menawannya. Sementara itu pria bertubuh tambun tersebut pergi meninggalkannya.
"Aku tidak tahu apa yang harus ku katakan. Tapi yang jelas, aku tak akan tinggal diam" suara itu, Hinata kenal suara itu. Shion dan tak lama kemudian pintu tertutup kembal, meninggalkan Hinata dalam kegelapan. Menangis. Ia takut. Namun bukan karena takut akan ancaman-ancaman yang ia terima, melainkan ketakutan dengan keadaan anaknya kini. Biarlah ia mati, tapi anknya bisa hidup. Yah, setidaknya hanya itu yang terlintas dibenak Hinata kini.
..
Sementara itu, digedumg lain seorang pemuda tengah berbaring dengan perban membalut dada kanan hingga kelengan atasnya, akibat percobaannya melawan pada kawannya sendiri. Pemuda tersebut diam memandangi langit-langit ruangan tersebut. Tatapannya nanar, penuh luka dan diselimuti kebingungan.
Ruangan tersebut begitu sunyi yang terdengar hanya desiran bunyipenghangat ruangan. Tak banyak perabotan diruangan itu. Hanya sebuah kursi malas, nakas dan singel bed yang kini tengah ia tempati.
Clek!
Mendengar suara pintu dibuka, tentu saja membuat lamunan pemuda tersebut terputus. Ia mengalihkan pandangannya kearah sumber suara.
"Bagaimana keadaanmu Konohamaru?" terlihat seorang pria berkacamata bulat menghampirinya dengan nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air putih.
"Baik" jawab Konohamaru datar.
"Ku harap kau makan yang satu ini" ucap pria tersebut sambil nampan yang ia bawa diatas nakas yang berada disamping ranjang.
"Apa dia sudah di beri makan?"
"Siapa?"
"Nona Hi_"
"Kau masih sudi memanggilnya nona?" pria itu nampak begitu emosi.
"Aku..."
"Apa? Kau masih sudi memanggilnya nona setelah apa yang Naruto perbuat padamu. Dia menginjak-injakmu, tak pernah menganggapmu anggotanya. Aku membawamu kesini untuk menjadi kuat hingga bisa menginjak-injak Naruto. Bukan untuk kembali pada gelar pengecutmu, coba kau tidak bertindak gegabah dengan berusaha melindungi orang itu. Kau tak akan mungkin mendapatkan luka itu" entah apa yang Kabuto rasakan, hanya Konohamaru cukup mengerti tentang gejolak emosi yang Kabuto tunjukan.
Sudah lama ia berteman frngsn laki-laki ini. Hingga ia cukup mengerti tentang rasa sakit yang Kabuto alami. Namun kali ini hatinya menolak mentah-mentah setiap alasan yang Kbuto ucapkan untuk menghabisi Naruto. Perasaannya berkata kalau ini salah, tapi ia tak paham dengan egonya yang selalu mencap Naruto sebagai lelaki jahat yang beruntung.
"Kabuto tapi Hinata sedang..."
Cling!
Kabuto, pria tersebut melempar sebuah kunci hingga mengenai nampan stainless steel.
"Bawa Naruto, jebak dia yakinkan kalau kau memang tak terlibat. Aku tunggu di markas. Ini saatnya kau untuk menghabisinya, Konohamaru" Kabutopun keluar dari kamar Konohamaru menyisakan pemuda tersebut dengan segala pemikirannya. Kembali Konohamaru harus berperang dengan dirinya sendiri dan itu sangat membingungkannya. Hati dan egonya sama-sama kuat.
Ia menarik kusri yang tadi dilempar Kabuto, pria yang mengenalkannya pada dunia hitam berkedok kepolisian. Kabuto juga dulunya seorang staf kepolisian. Namun dia bertindka curang dengan membantu narapidana mengurangi masa tahananya, dan itu diketahui Naruto hingga Naruto mengeluarkan Kabuto.
Tapi disana masih ada Konohamaru. Singkatnya Konohamaru adalah boneka untuk Kabuto yang bisa kapan saja mendorong Naruto pada jurang kehancuran. Namun sebelum itu terjadi ia dan Kabuto terlebih dahulu bertemu dengan Tuan Shiroshima yang ternyata menyimpan dendam pada Hinata. Jadi sekarang lengkap sudah pormasi mereka untuk menghancurkan Naruto.
Konohamaru terdiam, lalu menghela nafas. Dan dengan sisa tenaga yang ia miliki, Konohamaru bangkit menuju kursi santai dimana pakaian barunya terletak disana. Lalu berjalan keluar tak lupa dengan kunci yang diberikan Kabuto.
...
Klinik Sakura kosong, bukan tak ada pasien tapi ia sengaja menutupnya karena pikirannya masih terganggu dengan peristiwa penculikan Hinata. Disini ia sedang duduk dikursinya sambil memandangi selembar kartu. Kartu yang sempat diperebutkan oleh pasangan bar-bar sebelum pergi. Namun dengan sigap Sasuke merebutnya dan menendang keduanya untuk pulang.
Kartunya simple, tak ada hiasan. Hanya selmebar kartu putih polos dengan tulisan tangan yang tampak terburu-buru.
'Kadang yang diperhatikan itu bukan topik utamanya' perkataan Sasuke sebelum ia pergi terngiang-ngiang dipikirannya.
"Ah, akukan bukan Sasuke yang Iqnya selangit" Sakura pusing sendiri memikirkannya hingga ia dengan kesal melempar kartu tersebut dan terlungkap.
Sakura memperhatikan kartu tersebut. 'Ada yang aneh' inernys.
Karena penasaran ia pungut kembali kartu tersebut "Aku baru sadar kalau ada bayangan hitam. Apa mungkin...?"
Sakura membelalakan matanya saat ia ingat kalau kartu itu terasa tebal dibanding kertas lain. Dan saat ia melihat sudut kertasnya, ia mendapati kartu tersebut terkelupas. Dan dengan kuku-kukunya yang agak panjang ia mengelupaskan kertasnya.
"Benar...!" pekiknya saat kertas itu terbagi dua.
'Sion' begitu bunyi tulisan dikertas yang satunya.
"Kurasa aku tahu akan kemana sekarang"
...
Langkah Konohamaru terlihat gontai. Ia baru saja keluar dari gedung kepolisian, ia masih ingat bagaimana pandangan benci Naruto terhadapnya. Dan pandangan itu hilang melihat keadaan dirinya yang penuh luka. Ia tak pernah menyangka kalau Naruto masih masih bisa memberinya belas kasih pada dirinya yang telah mengkhianatinya. Lalu ia sendiri dengan teganya kembali mengulangi kesalahannya.
Ia mengkhianati Naruto lagi?
Jawabannya, iya.
Ia melakukannya lagi dnegan memancing Naruto untuk datang ke markas kabuto dengan dalih bisa menemukan Hinata disana. Dan berkat lukaditubuhnya Naruto percaya. Namun itu hanya kedok. Hal itu tidak pernah ada, itu semua hanya pancingan agar Naruto datang dan masuk kedalam perangkat Kabuto.
Dan entah untuk kesekian kalinya Konohamaru merasa ini semua salah, yang ia lakukan seolah berlainan dengan nuraninya. Lalu sekarang apa? Kenapa ia begitu merasa menyesal dengan apa yang ia perbuat? Rasa puas yang selama ini ia dapatkan saat berhasil mengelabui Naruto menguap begitu saja entah kemana.
Lantas yang tersisa hanya perasaan bersalah. Ia merasa sudah menjadi pengkhianat besar.
"Konohamaru"
Konohamaru refleks membalik kearah suara yang memanggilnya tersebut.
"Paman"
"Akhirnya aku bisa menemukanmu" orang itu berlari kearah Konohamaru dan memeluknya dengan erat dan satar akan kerinduan.
"Paman Asuma"
"Kemana saja kau, tak tahu kah kau kalau paman mngkhawatirkanmu?" sorot mata Asuma terlihat berbinar menatap Konohamaru.
"Paman"
"Paman snagat terkejut saat anggota polisi itu mencarimu. Paman kira kau terlibat hal yang buruk, tapi syukurlah ternyata kau telah menjadi anggota kepolisian yang hebat"
"Apa? Paman, tapi_"
"Aku sudah dengar kalau kalau kau satu-satunya kepercayaan Uzumaki Naruto, kakekmu pasti sangat bangga Konohamaru"
Ya Tuhan apa yang Konohamaru lakukan?
Naruto bahkan masih menyanjungnya didepan pamannya saat ia telah mengetahui kedok dirinya.
Jadi apa yang kau lakukan Konohamaru?
Tbc...
Arigato, sebelumnya buat yang sudah mau menunggu kelanjutan dari fic ini. Dan terimakasih banyak buat yang mereview fic sebelumnya. Jangan lupa review lagi ya. Jaa.
