Selamat membaca~

..

..

Shikamaru koma, Sasuke tahu dari percakapan dokter dan pria tua brewokan itu bersama Sai tadi di dekat ruang operasi. Entah apa yang menimpa kekasih Naruto itu di tempat kerjanya Sasuke sendiri tidak tahu. Kakak laki- lakinya pernah menceritakan tentang pria beranting itu kemarin dulu, pria muda yang gemar mengatakan kata- kata keramat 'merepotkan' itu ternyata adalah teman SMA kakaknya di Suna, juga kekasih Naruto. Bleh, membatin kalimat 'dia kekasih Naruto' membuatnya ingin memukul sesuatu.

Menyedihkan sekali. Gadis culun yang dulu menjadi bahan taruhannya kini membuatnya bingung bukan kepalang. Sasuke cukup menyadari bahwa saat ini kondisinya tak ubahnya dengan menjilat ludah sendiri. Dulu ia memutuskan hubungan dengan Naruto yang ia pikir takkan ia sesali di kemudian hari, namun nyatanya kini ia berbalik mencintai gadis yang dulu ia cemooh di depan teman- temannya, juga Sakura.

Ahh, ya, ia sendiri baru ingat dengan gadis itu. Sakura, gadis berambut merah jambu, idola SMA juga di kampusnya. Ia tahu sejak dulu, Sakura cantik dan memiliki proporsi tubuh yang di idamkan banyak pria yang melihatnya. Tapi perasaannya tidak pernah sedalam ini dengan putri keluarga Haruno itu. Tidak pernah sedalam ia menyimpan perasaannya untuk Naruto Namikaze.

Setelah kepergian Naruto beberapa tahun lalu dari Konoha, diam- diam ia selalu memikirkan gadis culun berambut pirang itu. Gadis dengan kaca mata tebal yang ternyata menyembunyikan manik biru mempesona yang membuat jantungnya berdebar kencang bila menatapnya. Naruto bukan gadis tercantik yang pernah ia temui selama hidupnya. Bukan. Tetapi ia memiliki lebih banyak kelebihan bila dibandingkan dengan gadis- gadis lain. Ia menarik dari sisi yang berbeda. Dan Sasuke baru menyadarinya setelah bertemu lagi dengan bungsu Namikaze itu.

Perasaan bersalah kembali memenuhi hatinya. Ia masih ingat kata- kata kasar yang dulu pernah ia ucapkan untuk Naruto di kelasnya.

Sasuke menghembuskan nafas kasar. Mengusap wajahnya yang tampak kuyu. Pemuda berambut kelam itu menatap telapak tangan besarnya cukup lama.

" Sekarang pun rasanya sulit percaya bahwa aku pernah menggenggam tangannya dulu," lirihnya.

Sasuke berdecak. Pemuda itu mengedarkan pandangan ke sekitar. Ia kini duduk di taman rumah sakit tempat Shikamaru dirawat.

Tangan kokohnya meraih ponsel hitam dari dalam saku celananya. Ponsel milik Naruto bahkan masih ia bawa.

' Sedang apa dia di dalam?' pikirnya sendu.

.

.

HARI YANG MELELAHKAN

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pair : SasuFemNaru

Rated : T

Genre : Family, Romance

By : Lukas "Luke" d'grayson

Warn : AU, OOC, Gender Blend. , Gaje, Garing, Typos

..

..

Naruto duduk sendirian di kursi tunggu di koridor ruang rawat tempat Shikamaru berada. Koridor rumah sakit tampak sepi, hanya beberapa perawat yang berlalu lalang untuk mengecek kondisi pasien di bangsal tempat Naruto kini berada.

Sekotak jus jeruk terulur ke depan wajahnya, Naruto sedikit tersentak. Gadis itu menoleh dan mendapati Sasuke tersenyum kecil padanya.

" Minumlah," ujar pemuda itu kemudiam duduk di sisi Naruto.

" Temanmu bilang kau sendirian di sini,"

Naruto meraih minuman kotak dari tangan Sasuke dengan berat hati.

" Kau belum makan malam," lanjut Sasuke lagi seraya membuka kaleng kopinya.

" Kau juga belum," balas Naruto, merasa tak enak hati sudah merepotkan pria di sebelahnya. Ini sudah larut malam dan mereka belum makan apapun sejak siang.

Sasuke melirik Naruto yang tengah memainkan sedotan dan minuman kotak di kedua tangannya. Gadis itu menunduk dengan mata sembab. Rambut pirangnya yang biasanya terikat rapi kini poninya tampak berantakan.

" Kita berdua sama- sama belum makan," kata Sasuke seraya meraih minuman kotak di tangan Naruto dan menusuknya dengan sedotan.

" Ini. Kau masih suka minum yang seperti ini'kan?" kembali pria itu menyerahkannya pada Naruto.

Naruto mengangguk kaku.

Setelahnya, mereka saling diam. Tidak tahu mau membicarakan apa lagi.

Sasuke menelan ludahnya susah payah. Lidahnya terasa kelu dan suasana hening di sekitarnya membuatnya merasa tidak nyaman. Ia ingin mengobrol banyak hal dengan Naruto, bercerita apa saja yang bisa mengalihkan perhatian gadis itu dari pria berkuncir dengan nama Shikamaru. Mengalihkan perhatiannya untuk waktu yang lama dan mungkin selamanya.

' Amiin. Amiin,' rapalnya dalam hati.

Sasuke nyaris terkekeh dengan pemikirannya. Merasa lucu dengan dirinya sendiri. Seperti pria yang tidak tahu malu. Setelah dulu membuang Naruto, kini ia berharap bisa memiliki gadis itu lagi.

Terdengar tepukan pelan di sebelahnya. Sasuke menoleh, Naruto terlihat sedang menggaruk lengan bawah sikunya yang tampak merah.

' Digigit nyamuk?'

Lama Sasuke menatap Naruto hingga tanpa sadar tangan kokohnya terulur dan menyingkirkan anak rambut gadis bermata biru itu kemudian menyelipkannya ke belakang telinga.

" Kau berantakan sekali," ujarnya.

Naruto terdiam. Gadis itu cukup terkejut dengan tindakan Sasuke.

" Lihat aku, Dobe,"

Dan Naruto lebih terkejut lagi setelah mendengar panggilan itu. Panggilan Sasuke yang ditujukan padanya beberapa tahun lalu.

Naruto menoleh dan mendapati Sasuke menatapnya lekat. Pria tampan itu bahkan belum menarik tangannya dari sisi wajah Naruto.

Mereka saling menatap selama beberapa saat, membuat jantung kedua manusia yang saling berhadapan itu berdebar lebih kencang dari biasanya.

Sasuke mendekatkan wajahnya perlahan. Dia sudah akan menarik dan mengecup bibir mungil di depannya ketika suara dua orang wanita dari ujung koridor membuatnya mengurungkan niat. Dengan gerakan canggung Naruto mengalihkan pandangannya. Menatap pintu yang tertutup rapat tepat di hadapannya.

" Di mana Sai?" tanya Naruto membuka suara.

Sasuke yang sibuk mengumpat dalam hati lantas menoleh.

" Dia pergi mencari minimarket di dekat sini bersama polisi tua itu," balas Sasuke dengan suara berat.

Naruto mengangguk paham.

.

.

.

Sai meraih beberapa cup ramen dari rak, di sebelahnya Asuma tampak memainkan ponselnya.

" Shikamaru akan dibawa ke Suna besok pagi. Lebih baik ia di rawat di kotanya sendiri," kata Asuma diiringi helaan nafas pelan.

Sai menoleh, menatap pria itu beberapa saat.

" Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Anda belum menceritakannya pada kami," Sai berujar.

Asuma tampak berpikir, sedikit lama, kemudian menjawab.

" Aku sendiri tidak tahu pasti. Biarkan hal itu jadi urusan kami –polisi. Kami tidak akan tinggal diam. Tenang saja,"

Sai menghembuskan nafas kasar.

" Kenapa Anda menghubungiku? Anda tidak menghubungi orang tua Shikamaru?" tanya Sai.

" Aku menghubungi Namikaze- san," balas Asuma cepat.

Sai mengerutkan kening tidak mengerti.

" Aku tidak tahu yang mana nomor orang tuanya, aku juga tidak punya nomor telepon mereka. Kemudian aku lihat nomor Namikaze- san ada di urutan pertama pada daftar panggilan cepat di ponsel Shikamaru, dan nomormu ada di urutan ke dua," jelas Asuma. Pria tua itu melirik Sai sebentar.

' Huh?' Sai membeo.

' Kenapa nomor Naruto ada di urutan pertama?' batinnya.

" Aku sudah menghubungi nomor Namikaze- san beberapa kali tapi tidak diangkat. Jadi aku hanya mengirim sms padanya, kemudian aku memutuskan untuk menghubungimu saja," terangnya lagi.

' Ahh, ya, ponsel Naruto hilang' Sai mendengus saat mengingatnya.

.

.

.

Sakura membanting ponselnya kasar. Kamarnya begitu berantakan tapi siapa yang peduli, ia sedang marah saat ini.

" Kalian putus kemarin, kenapa ngamuknya sekarang?" Ino menggumam lelah. Melihat Sakura terus mengamuk sejak siang, sejak di taman dekat pasar kota, juga di café milik Sasuke Uchiha, membuatnya lelah lahir batin. Menyeretnya kembali pulang saja sudah membuatnya kewalahan, sekarang ditambah ia harus mendengarkan celotehan panjang dari sahabatnya itu.

" Dia mematikan ponselnya," desis Sakura tampak geram.

' Uchiha memang cerdas. Putuskan orangnya, matikan ponsel, dan biarkan orang lain yang mendengar teriakan- teriakan marah si mantan pacar' cela Ino dalam hati.

" Dia juga tidak datang ke café nya siang tadi. Ke mana dia!?"

" Sasuke, kau brengs*k!"

Sementara Sakura masih sibuk menggumam dan mengumpat kesal, Ino memilih untuk memainkan ponselnya dan berselancar di dunia internet.

.

.

.

" Aku akan bawakan ini untuk mereka –Naruto dan Sasuke," ujar Sai seraya menunjukkan dua cup ramen di kedua tangannya. Asuma mengangguk paham. Pria paruh baya itu kemudian menghampiri lemari pendingin di sudut minimarket dan mengambil dua kaleng minuman.

Mereka berdua bergegas kembali ke rumah sakit setelah menyelesaikan pembayaran.

Asuma menengok saat menyadari Sai berhenti berjalan. Pemuda berambut kelam itu tengah memperhatikan sesuatu, ahh bukan, melainkan seseorang.

" Sai?" suara seorang wanita menarik perhatiannya. Wanita berambut pirang dengan seorang bocah kecil di sebelahnya.

" Temari- nee- san?," bisik Sai yang masih mampu ia dengar.

.

.

.

Naruto mendesah lelah, sejak tadi ia hanya duduk di sini. Perutnya sedikit nyeri dan pantatnya pun terasa panas.

Gadis itu menggaruk kepalanya yang sedikit gatal. Rambut yang sudah berantakan kini jadi semakin berantakan. Naruto tahu tanpa harus melihatnya di cermin. Tanpa malu bungsu Namikaze itu menaikkan ketiak kirinya dan menciumnya barang sedetik.

' Asem,' desisnya dalam hati.

Mau bagaimana lagi, setelah jalan- jalan siang tadi ia langsung meluncur ke sini, tanpa mandi, tanpa makan, tanpa ganti baju. Begitu paniknya dia setelah mendengar pria yang ia sayangi itu dalam kondisi kritis, ia tidak sempat memikirkan apapun selain segera bergegas ke tempat ini.

Perasaannya campur aduk antara lega, sedih, dan khawatir. Ia bersyukur Shikamaru berhasil melewati masa kritisnya, tapi perasaan sedih juga menggelayuti hatinya. Pria beranting yang sering menggodanya dengan kalimat 'Kau tidak kangen padaku, huh, Naruto?' itu kini hanya terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan kondisi parah. Shikamaru koma, mengingat hal itu membuatnya sedih sekaligus khawatir.

Naruto menghembuskan nafas kasar. Berharap kesedihannya juga ikut menguap karenanya.

Diliriknya Sasuke. Laki- laki muda itu menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi dengan mata terpejam. Naruto merasa bingung kenapa Sasuke ikut menunggu Shikamaru di rumah sakit, seharusnya pemuda itu pulang ke Konoha. Dia tidak punya kepentingan apapun di sini.

' Apa dia belum pulang karena kelelahan mengantar kami kemari?' tebak Naruto.

Pikirannya berjalan, menebak- nebak sebenarnya apa yang dilakukan adik kak Itachi ini di sini.

' Atau dia mau menemaniku?' tebaknya lagi. Gadis dengan rasa percaya diri tinggi itu kemudian menepuk pipinya pelan.

' Sinting. Aku ini mikir apa, sih? Memangnya Sasuke mau repot- repot melakukan itu,'

' Tapi . . Akhir- akhir ini Sasuke bertingkah aneh padaku,'

Naruto mengerutkan kening dan menggeleng pelan. Mengenyahkan pikiran yang mulai melantur. Kemudian ia menoleh, mencoba melihat lebih jelas pemuda yang duduk di sisi kanannya.

Gadis berambut pirang itu terus menatap wajah lelah Sasuke selama beberapa saat. Memandangi gurat kelelahan yang nampak di wajah tampan keturunan Uchiha itu. Mulai dari kening, turun ke hidung, bergeser ke rambut gelapnya, ke telinga kiri, lalu turun lagi ke bibir dan dagunya, kemudian naik lagi ke mata yang sedang terpejam.

" Bulu matanya panjang ya . ." gumamnya berbisik.

' Dia belum mandi sore 'kan? Kenapa gantengnya tidak hilang?' dengusnya dalam hati.

Kemudian terlintas ingatan saat melihat Sasuke melemparkan senyum kecil padanya. Baik beberapa tahun lalu, maupun beberapa hari terakhir.

' Aku tidak bisa lupa, senyumnya bahkan masih sama, si Teme ini tidak banyak berubah,' pikirnya.

Hatinya sedikit tidak nyaman. Memandangi wajah Sasuke lama, membuatnya mengingat banyak kejadian yang ia alami saat bersama laki- laki ini. Ketika Sasuke memintanya menjadi kekasih, ketika bolos bersama, mengobrol dan jalan bersama, juga ketika laki- laki ini membuangnya di depan Sakura, kemudian bertemu lagi setelah 3 tahun berlalu, dan saat kemarin ketika kekasih pria ini mengatakan bahwa mereka akan bertunangan.

Nyut.

Naruto merasakan hatinya berdenyut nyeri. Gadis itu menggeleng, berusaha menyingkirkan perasaan aneh yang muncul di sana.

Kembali ia menatap Sasuke.

' Tapi sekarang penampilannya sudah lebih dewasa,' batinnya. Ia tak bisa membohongi diri sendiri, Sasuke memang tergolong laki- laki ganteng. Sangat mudah baginya untuk membuat banyak gadis terpesona padanya. Bukan hanya penampilan, tapi pria berambut unggas ini juga dari keluarga terpandang, pasti banyak perempuan yang jatuh dalam pesonanya.

" Apa yang kau lihat, Dobe?" suara berat membuatnya berjengit kaget. Dengan kikuk Naruto mengalihkan pandangannya. Buyar sudah lamunannya.

' Sialaaaann,' umpatnya dalam hati. Merasa malu dan jadi salting sendiri.

" Dobe?" panggil Sasuke lagi. Kali ini pemuda itu membuka matanya dan melirik Naruto di sebelahnya.

" Aku punya nama," desis Naruto pelan tanpa menoleh.

Bibir Sasuke berkedut menahan tawa.

" Benarkah?" goda Sasuke.

Naruto melirik Sasuke aneh. Mereka saling melirik selama beberapa detik hingga akhirnya Naruto memutuskan untuk membuang muka. Ia jadi ingat kejadian kemarin malam di kediaman Uchiha, ketika laki- laki muda di sebelahnya ini dengan berani mencuri ciuman saat ia pura- pura tidur.

' Sialan, keningku sudah tidak perawan lagi' batinnya asal.

Dan memutuskan untuk beranjak pergi.

" Tunggu," panggil Sasuke.

Seperti di film- film remaja, Sasuke menarik Naruto agar tidak pergi dan menatap gadis berambut pirang itu dengan mata berkaca, minta dikasihani. Bedanya, ini yang ditarik si Sasuke bukan pergelangan tangan atau pun telapak tangan Naruto, melainkan ujung bajunya.

" Apa?" tanya Naruto dengan nada kesal.

" Perutku sakit. Aku belum makan dari siang karena mengantarmu ke sini,"

Naruto diam. Ia baru ingat sudah merepotkan laki- laki ini tadi. Wah, Sasuke pintar sekali membuat orang merasa berhutang budi, batinnya.

" Lalu?" tanyanya.

" Kau harus menraktirku," jawab Sasuke cepat.

Dan Naruto tak punya pilihan selain menuruti permintaan adik bungsu kakak iparnya.

.

.

.

Asuma memutuskan untuk kembali ke rumah sakit dan meninggalkan Sai yang kini duduk bersisian dengan wanita muda berambut pirang.

" Kupikir kau sedang bersama Gaara di Konoha," kata Temari memecah keheningan.

" Dengan siapa kau di sini?" lanjutnya.

" Ahh, dengan temanku," balas Sai diiringi senyum kecil.

Sai melirik Temari yang tengah membukakan bungkus makanan untuk putra kecilnya. Ia tidak menyangka akan bertemu wanita ini di Ame.

' Kebetulankah?' pikirnya.

Asuma tidak mengatakan apapun tentang Temari, itu berarti wanita ini bukan datang ke sini karena tahu Shikamaru mengalami kecelakaan. Asuma tidak menghubunginya- Temari.

' Ada apa Temari- nee- san datang ke tempat ini?' pikirnya.

" Aku datang ke sini untuk liburan," ucap Temari seolah menjawab pikirannya.

" Tiba- tiba aku ingin mendatangi tempat ini kemarin. Aku sendiri tidak tahu kenapa," lanjutnya.

Sai diam.

" Kanai mengajakku untuk jalan- jalan di sekitar penginapan. Aku tidak menyangka bertemu denganmu di sini," kata wanita itu lagi.

" . . . ,"

" Ada acara apa kau di-"

" Temari- nee- san, ada yang ingin kuberitahukan padamu," potong Sai. Mata kelamnya menatap wanita itu lekat.

Temari menoleh.

" Tentang Shikamaru- senpai."

.

.

.

Naruto ingin sekali membenturkan kepalanya ke tiang listrik terdekat. Ahh, tidak, dinding saja yang lebih dekat. Ia tidak tahu kenapa bisa- bisanya saat ini duduk berdua dengan Sasuke, di meja yang sama, makan dengan menu sama, dan berhadapan pula. Ia sedang tidak terkena santet' kan? Santet si Sasuke.

' Sebenarnya apa yang tadi kupikirkan?' batinnya.

" Ada apa?" suara berat Sasuke membuyarkan lamunannya.

Dilihatnya Sasuke menatap lekat padanya.

Saat ini mereka masih di halaman rumah sakit. Tepatnya di sebuah kantin di sisi gedung besar berwarna putih itu.

Kantin tampak penuh meski malam semakin larut. Beberapa gadis juga tampak sesekali melirik ke arah mereka berdua. Naruto tidak buta untuk melihat ada salah satu dari mereka yang menatap Sasuke dengan mulut menganga. Tapi siapa yang peduli? Ia hanya ingin segera menyelesaikan makannya dan kembali ke dalam. Ckckck, bahkan gara- gara sibuk memikirkan tingkah aneh Sasuke, ia jadi lupa bahwa saat ini ia sedang menunggui Shikamaru yang tengah memperjuangkan hidupnya di dalam.

Naruto memilih untuk melanjutkan acara makannya dari pada menanggapi pertanyaan Sasuke.

Sementara Sasuke sendiri, ia menahan diri untuk tidak tersenyum girang. Bisa makan berdua dengan Naruto saja sudah membuatnya begini senang, apalagi kalau bisa … errr.. bisa apa, Sasuke?

'Bisa macam- macam?' batinnya.

Dan pikiran Uchiha muda itu mulai berselancar ke mana- mana.

.

.

Sasuke terpaku, tidak tahu harus berekspresi bagaimana. Di depannya Naruto tengah berdiri, berhadapan dengan seorang wanita yang menangis sesenggukan di dekat pintu ruang rawat Shikamaru.

' Siapa wanita itu?' pikirnya.

' Seperti pernah melihatnya. Di mana?'

" Maaf tidak mengabarimu," suara Naruto terdengar parau.

" Ponselku hilang," lanjut Naruto. Gadis itu kembali menangis, Sasuke bisa melihatnya.

Uchiha muda itu memasukkan tangannya ke dalam kantong celana, tepat di mana ponsel Naruto berada. Ia lupa memberikannya tadi.

" Maaf, Temari- nee," ulang Naruto.

Wanita yang dipanggil Temari itu menatap Naruto lama. Kemudian memeluknya erat.

" Akulah yang seharusnya minta maaf padamu, juga pada Shikamaru. Naruto, maafkan aku," ujar Temari disela tangisannya.

" Ibu," seorang bocah di gendongan Sai ikut menangis dan memanggil ibunya beberapa kali. Berharap sang ibu segera menggendongnya.

" Maafkan aku, Naruto," isak Temari masih memeluk Naruto erat.

" Tidak, Temari- nee. Jangan katakan itu padaku. Katakan saja pada Shikamaru,"

Temari melepaskan pelukannya.

Sasuke mengerutkan kening. Ia belum paham situasi yang sedang terjadi di hadapannya.

' Sebenarnya siapa wanita ini?' pikirnya lagi.

" Naruto-"

" Temari- nee, aku sudah tidak bisa meneruskan sandiwara ini lagi. Aku tidak bisa," potong Naruto .

" Sai sudah mengatakannya padaku. Aku tahu, Naruto. Akulah yang bersalah sejak awal," balas Temari.

" Aku tahu kalian bukan benar- benar menjadi sepasang kekasih. Itu hanya sandiwara kalian agar aku menyadari bagaimana hidupku tanpa Shikamaru, tapi aku terlanjur merasa kotor dan merasa tidak pantas untuknya," lanjutnya.

Sasuke terkejut bukan main mendengarnya. Pria berambut kelam itu melirik Naruto yang terdiam dengan tangan terkepal erat.

" Naruto-"

" Cukup, Temari- nee. Sekarang bukan waktunya membicarakan itu. Kondisi Shikamaru lebih penting sekarang," potong Naruto cepat.

Temari mengangguk. Dia tampak begitu terpukul. Wanita itu berjalan pelan menghampiri pintu ruang rawat Shikamaru. Menengok ke dalam dari balik jendela kaca yang terdapat pada daun pintu.

" Besok, Shikamaru- senpai akan dipindahkan ke rumah sakit Suna," Sai berjalan mendekat.

" Kanai, lihat ada siapa di dalam," ujarnya pada bocah kecil di gendongannya.

" Paman Chika?" tanya Kanai dengan logat cadelnya.

Temari tampak tersenyum kecil. Berdiri di sisi Sai seraya mengusap kepala putranya sayang.

Naruto ikut tersenyum melihatnya, kemudian berbalik, berniat kembali keluar.

" Dobe," panggil Sasuke saat gadis itu melewatinya tanpa menoleh.

" Hm?" gumam Naruto tanpa menghentikan langkahnya.

" Pria bertindik itu bukan kekasihmu?" tanya Sasuke seraya mengekori gadis berambut pirang di depannya. Ia benar- benar tidak bisa menahan diri untuk bertanya. Tidak peduli nanti Naruto akan menganggapnya sebagai satu- satunya Uchiha yang kepo- nya selangit, asal dapat info apapun tentang gadis ini Sasuke tidak peduli.

" Apa aku pernah bilang kalau Shikamaru itu kekasihku?" balas Naruto tanpa sedikitpun menoleh ataupun menghentikan langkahnya.

Dan Sasuke merasakan kelegaan luar biasa di hatinya. Seolah batu sebesar kepala yang selama ini membuat dadanya sesak hilang tak berbekas.

" Kau mau ke mana?" tanya Sasuke diiringi senyum kecil yang tak bisa ia tahan.

" Mencari wartel. Ponsel Sai dan Shikamaru lowbatt, ponselku hilang. Aku harus menghubungi Utakata dan yang lain," jawab Naruto. Gadis itu terus berjalan keluar gedung rumah sakit tanpa menyadari Sasuke yang kini menggenggam ponsel hitam di sakunya dengan seringai kecil bermain di bibirnya.

" Benar- benar hari yang panjang dan melelahkan," gumam Naruto pelan.

..

BERSAMBUNG

Omake . .

Utakata memutus sambungan telepon, kemudian berjalan mendekati Ibunya.

" Telepon dari siapa?" tanya Kushina. Wanita berambut merah itu tengah membantu sang putra membereskan barang- barang bawaannya selama di Konoha.

" Naruto. Dia bilang besok pagi baru akan kembali ke Suna, bersama Shikamaru dan Sai. Malam ini mereka menginap di rumah sakit tempat Shikamaru dirawat, Inspektur Asuma juga ada di sana,"

Kushina mendesah sedih.

" Naruto, Shikamaru, kasihan sekali mereka berdua, inilah risiko memiliki kekasih seorang detektif," ujar wanita itu.

Utakata tersenyum kecil.

" Kuharap Shikamaru baik- baik saja," ucapnya penuh harap. Kushina tersenyum kemudian mengusap kepala putranya sayang.

" Ibu, aku lupa mengatakan pada Ibu, juga Naruto,"

" Mengatakan apa?" tanya Kushina dengan alis yang saling bertaut.

" Koper Naruto tertinggal di Konoha, di rumah Uchiha," jawab Utakata diiringi dengusan kesal.

" Naruto pasti akan menjambak rambutku lagi," lanjutnya.

Kushina tersenyum geli.

" Biarkan saja. Mikoto pasti bersedia menyimpannya," ujarnya.

" Ahh, ya, Bibi Mikoto sangat memanjakan si cebol itu," dengus Utakata yang dibalas cubitan gemas tepat di hidung mancungnya.

End Omake . .

..

..

Hi~ .. terimakasih sudah membaca chap ini..

Semoga bs menghibur..

Dn terimakasih jg untuk,

lusy jeager ackerman, ayanara47, byakuren Hikaru83, rin Naoko Uchinami, Uzumaki Prince dobe-Nii, Habibah794, SapphireOnyx Namiuchimaki, Aiko Vallery, annisa ajja 39, lusy922, guestnya guest yang sudah me review, Wuahhh, bener- bener review kalian bikin saya pgen cepet2 update, pdhal ceritanya nulis juga belom.. hahaa.. terima kasih banyak pokoknya..

Juga semua yang fav dan follow, serta para pembaca yang budiman, saya mengucapkan terima kasih banyak.. #broke bilang, bhsa saya resmi sekali..emang iya ya? O.o

Semoga chap selanjutnya bisa update lebih cepat..

See U in the next chap, kawan- kawan..

..

..

Salam hangat,

Lukas 'Luke'..